Ohayou minna!
Setelah hiatus panjang, Air berhasil mengupload fic yang gaje dan enjel *?* ini.
Oke tidak usah bertele-tele. Langsung saja...
CEK IT OUT!
"AYO LATIHAN!"
"OKEEE..."
Teriakan yang bersemangat datang dari band kesayangan kita ini. Tentu saja minus Sasuke dan Naruto dan plus Deidara yang baru bergabung.
"Oi, jangan teriak-teriak kenapa sih?" tegur Sasuke kesal. Bisa-bisa tensinya bisa naik kalau mereka bertingkah kekanakan seperti ini terus.
"Sudahlah Sasuke, ini latihan pertama kita. Wajarkan kalau mereka bersemangat." Ujar Naruto dengan gaya yang oh... so mature. Oke mungkin gaya Naruto yang dewasa ini tidak membuat Sasuke sama terganggunya dengan yang diperbuat teman-teman se-bandnya tapi justru lebih terganggu. Sasuke bukan orang yang bodoh. Dia bisa melihat jelas sikap Naruto ini bukanlah sifat aslinya.
"Sas? Oi SAS!"
Buak!
Dan terciptalah sebuah benjolan manis dikepala sang Inuzuka Kiba.
"Sakit bodoh!" keluh kiba sambil memegangi benjolan yang bertengger manis dikepalanya.
Dan tentu saja cuma satu kata yang sangat pas untuk sipakai sang rambut raven untuk membalas perkataan si dogy boy. "Hn" sungguh kata yang spektakuler saudara-saudara*dokemplang gara-gara kebanyakan ngomong*
Malas mengurusi Kiba yang masih menggerutu padanya, Sasuke langsung menarik Naruto dan menyeretnya keluar. "Hei, kami mau beli peralatan dulu." Mendengar itu Kiba langsung bangkit. Yah, mumpung tidak ada Sasuke mungkin sedikit menggoda Echo pasti bakal menyenangkan.
Sebelum sampai di pintu, Sasuke langsung berbalik. "Dan kau Kiba, jangan coba-coba mendekati Echo!"dan berlalulah sang Uchiha meninggalkan aura-aura gelap yang seakan sengaja ditinggalkan untuk mengawasi sang Inuzuka. Dan tentu saja membuat semuanya sweetdrop minus Echo.
"Hei Echo, apa yang kau lakukan padanya sampai dia seprotektif itu padamu?" tanya Kiba dengan penuh keheranan dan hanya dibalas oleh tawa kecil oleh Echo.
"Oi teme, pelan-pelan. Berat tau!" omel Naruto. Bayangkan saja, masa dari toko dia harus bolak-balik membawa peralatan band seberat ini. Oke, mungkin barang-barang ini memang akan dibawa ke sekolah menggunakan mobil. Tapi kalau jarak mobil dan toko sejauh 10 meter, siapa juga yang tidak capek?
"Jangan cengeng, ini alat terakhir." Dengan cuek Sasuke menaruh alat terakhir di mobil openkap #apa tulisannya benar?# yang mereka pinjam dari sekolah. "Cepat masuk, mereka pasti sudah lama menunggu."
Perkataan Sasuke membuat Naruto teringat sesuatu. Setahunya, Sasuke itu makhluk dingin kalau didepan wanita. Bahkan sudah banyak wanita yang dibuat patah hati olehnya dan tiba-tiba, Sasuke langsung berubah menjadi over protektif pada Echo, wanita yang bahkan baru dikenalnya. Tentu saja hal ini sukses membuat Naruto penasaran.
"Tanya tidak ya?" gumam Naruto.
"Tanya apa?"
"Huwaaa... Sasuke, jangan mengagetkanku!" wajar saja Naruto kaget Sasuke yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Hn... kau penasaran ya kenapa aku perhatian sekali pada Echo?"
"Iya... hei kenapa kau tau?" tanya Naruto penasaran kenapa Sasuke bisa menebak pikirannya dengan mudah.
"Terlihat tau dari raut wajahmu. Dasar baka." jawab Sasuke lagi-lagi dengan datar.
" Kalau kau tidak mau beri tau ya sudah..." geram Naruto kesal, sebelum Naruto melangkah menjauh Sasuke mencengkram tangan Naruto.
"Echo bukanlah Echo..." dan ucapan Sasuke barhasil membuat mata Naruto terbelak.
"A, apa maksudmu?"
"Dasar baka! Apa kau tidak perhatikan? Echo sepertinya menyembunyikan sesuatu. Dia seperti melakukan segala hal dengan ceria, seperti tidak ada beban. Dan justru membuat sifatnya itu seperti dipaksakan. Bukannya kau yang dekat dengannya? Kenapa malah kau tidak menyadarinya!" baru pertama kali dalam hidup Naruto melihat Sasuke semarah ini. Tapi yang membuat Naruto bertambah syok adalah kalimat Sasuke selanjutnya...
"Dan sepertinya dia melakukan itu demi dirimu. Aku memang tidak pernah merasakan hal seperti pengalaman burukmu itu, tapi aku tidak ingin melihat kejadian yang menimpa adikku, Azaela juga terulang pada Echo. Jadi tolong pikirkan sekelilingmu, masih banyak orang yang sayang padamu." Dan setelah perkataan itu Sasuke berbalik pergi, meninggalkan Naruto yang masih mematung dengan berbagai perasaan yang berkecambuk saling bertentangan.
"Huah..." Naruto menghempaskan diri ke kasurnya yang berwarna orange, sangat sesuai dengan imagenya. Bahkan jika seseorang masuk ke kamar ini matanya mungkin akan mengalami gangguan pengelihatan saking bercahayanya ruangan orange ini *?*
Naruto masih kepikiran tentang perkataan Sasuke. Apa benar semua yang dikatakan Sasuke kalau Echo mengubah kepribadiannya demi dia? Mana mungkin kan? Kenal saja baru beberapa hari yang lalu, masa dia sebegitunya mau membantunya?
Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di benak Naruto. Pusing, diapun bangkit berdiri. Seakan dapat melangkah sendiri tanpa perintah, kaki Naruto mulai melangkah. Seakan tau ke mana tuannya ingin pergi. Bukan, bukan telah tau tapi telah terlatih. Disaat kebingungan, hanya satu tempat tujuan Naruto untuk pergi. Tempat pertama bertemunya dia dengan sang pujaan hati...
Atap apartemen...
"Oke teman-teman, hari ini cukup. Besok kita lanjutkan." Kata Sasuke membuat Naruto dkk mulai bersiap-siap pulang. Sudah seminggu semenjak insiden Sasuke dan Naruto. Sasuke terlihat biasa-biasa saja, sedangkan Naruto meskipun terlihat tenang sejujurnya dia menjadi sangat penasaran dengan kebenaran pernyataan Sasuke.
"Nar? Naru? NARU!"
Sebuah suara mengganggu Naruto yang sedang termenung. Ditatapnya sumber suara yang telah mengganggu lamunannya.
"Ada apa Hi- ah, maksudku Echo?" gawat! Keceplosan! Pikir Naruto
"Hi? Siapa maksudmu?" tanya Kiba keheranan, sedangkan Echo justru datar-datar saja seakan Naruto tidak melakukan kesalahan.
"Hei apa yang kalian lakukan? Sudah bilang sama Naruto?" tanya Deidara yang masuk ke ruang musik diikuti Sasuke, mereka baru saja ke tempat penyimpanan alat.
"Eh? Bilang apa?" mendapat pengalihan perhatian yang bagus Naruto langsung megalihkan topik pembicaraan.
"Ini" Echo menyerahkan sepucuk surat untuk Naruto. "Ada orang yang menaruhnya di lokermu. Tapi kelihatannya dia terlalu terburu-buru sampai suratnya bisa jatuh saat Deidara-san terpeleset dan menubruk lokermu."
Penasaran, Narutopun membuka suratnya. Tiba-tiba saja ia langsung berbalik dan mengambil tasnya lalu dengan terburu-buru berbalik pergi.
"AKU DULUAN YA!" teriak Naruto sambil berlalu.
"Ada apa dengannya?" tanya Deidara keheranan. Sayang, ketiga orang yang ditanyanya hanya dapat menaikan bahu tanda tak mengerti...
Naruto POV
Sial! Lima menit lagi! Batinku panik sembari melihat jam orange yang melekat di pergelangan tangan kananku.
Ah, kalian pasti bingung kenapa aku berlarian tidak jelas seperti ini. Ini karena seseorang yang telah memberiku surat ini. Orang yang sama yang mengancam band Dei-nii dan membuatnya hancur. Penyebab kenapa Hinata menyusulku malam itu dan membuatnya celaka. Penyebab segala kekacauan dalam hidupku...
Brak!
Suara pintu dibuka secara kasar menjadi pengantarku masuk ke dalam tempat ini. Tempat awal segalanya. Atap apartemen.
"Hei Naruto, lama tak bertemu" sapaan yang membuatku bergidik jijik. Sapaan dari seorang penghianat yang bernama...
"Tobi..."
To Be Continued
Wuah, selesai juga. Meskipun pendek dan sangat tidak jelas... D:
Balasan review buat yang tidak login/anonimous:
Zzz:
Tentu alasan mereka keluar pasti ada, tenang saja Zzz-chan. Thanks to review :D
No name:
Thanks to review, tapi lain kali kalau mereview sertakan juga nama yg bisa d gunakan. Oh ya, sebenarnya air mau kasih tau fic ini sudah di post lewat sms tapi kok kayaknya nomor yang kamu kasih tidak berfungsi ya?
Sekali lagi trimakasih sudah mereview
Mudah-mudahan masih ada yang mau baca fic enjel ini.
Kehabisan kata-kata, langsung saja...
REVIEW PLEASE!
