Naruto dan semua karakter di fanfiksi ini milik Masashi Kishimoto.

AU. OoC

.

.

.

Ketika bus yang ditumpanginya 10 menit lalu—dalam perjalanan ke rumah sakit Azabu—berhenti di depan halte pemberhentian, Sakura langsung keluar setelah mengucapkan terima kasih pada karnet bus.

Perlu waktu sekitar 5 menit dengan berjalan kaki dari halte bus untuk sampai ke rumah sakit Azabu. Semua ini Sakura lakukan lantaran gerakan hatinya yang tanpa sengaja mendorong kakinya untuk melangkah ke tempat Sasuke dirawat.

Saat pembawa acara itu mengatakan peristiwa mobil Sasuke Uchiha menabrak dinding trotoar, yang langsung terlintas dipikirannya adalah pergi ke rumah sakit dan melihat apakah Sasuke sungguh baik-baik saja dari sekedar lumayan baik.

Sakura merasa sangat gamam saat ini. Betapa pun sikap Sasuke yang tak acuh padanya, Sakura tetap menganggap pria itu orang baik. Memang semua manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang paling baik; hanya karena tujuan dan ambisi pada diri sendiri yang merubahnya berada pada jalur beragam.

Pegangan pada keranjang belanjaan yang ia bawa semakin erat. Sakura semakin mempercepat gerakan kakinya, berjalan dengan langkah selebar yang ia bisa. Tidak peduli dengan sekeranjang belanjaan penuh milik ibunya yang seharusnya sudah berada di rumah untuk bahan masakan nanti malam, Sasuke lebih penting dari sup kepiting buatan ibunya.

Tidak seperti biasanya, tempat parkir rumah sakit Azabu penuh dengan mobil mewah, hanya sedikit ambulans yang berada di sekitar area halaman. Sakura mencoba mengingat jika ini adalah hari Rabu; bukan hari pada peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari).

Jika yang sebenarnya terjadi pada kecelakaan Sasuke memakan banyak korban, kemungkinan besar benturan antar kendaraan berkali-kali berlangsung. Secara logika, Sasuke akan mengalami resiko pada kepalanya, atau paling tidak, jika menggunakan sabuk pengaman, tetap saja pria itu mengalami cedera ringan.

Dengan setengah berlari, ketika sampai di depan pintu, Sakura langsung menggeser pintu kaca geser rumah sakit. Sebelah tangan kirinya harus berkonsentrasi dengan keranjangan yang mulai terasa berat ini.

Lobi yang luas sekarang penuh dengan orang-orang yang berdesakan, mengantre di depan resepsionis rumah sakit. Dua resepsionis wanita itu tampak gelagapan, berusaha untuk tidak ikut dalam suasana riuh.

Seharusnya Sakura tahu pada satu fakta yang baru ia sadari sekarang. Sasuke dan populer selalu berdampingan. Ibaratkan sebuah nama, Sasuke memiliki kata populer sebagai nama tengahnya. Tentu saja, sebagai orang yang banyak dikenal masyarakat, begitulah hidup Sasuke yang dikelilingi orang-orang yang menyukainya.

Di sana banyak sekali kaum perempuan yang melakukan protes secara massal. Berteriak, menjerit kesal, mengucapkan kalau mereka harus tahu nomor kamar rawat milik Sasuke Uchiha. Sedangkan resepsionis berwajah oriantal itu berusaha tetap sopan, mengatakan jika untuk saat ini sang aktor tidak bisa diganggu.

Sakura merasa beruntung karena ia tidak tergesa-gesa meninggalkan pintu. Saat berada di ambang pintu, ia langsung melihat jika para perempuan itu ingin menjenguk Sasuke. Mereka membawa banyak bingkisian; pastel makanan dan buah-buahan, serta kotak kado yang tidak Sakura ketahui isinya.

Sakura memang harus belajar dari kalimat pepatah zaman dahulu; berpikir sebelum bertindak. Sepatutnya sebelum pergi ke rumah sakit, ia harus berdiskusi dulu dengan pikirannya tadi, bukan mengikuti instingnya yang egois.

Dan sekarang semua tindakannya adalah hal percuma. Omong kosong belaka yang membuatnya membohongi diri sendiri. Jika Sakura mengkhawatirkan Sasuke, maka ia akan menjadi orang keseribu setelah penggemar-penggemar aktor itu, atau mungkin yang berada paling ujung jauh dari pandang.

Kesadaran yang harus ia ingat adalah mereka tidak memiliki ikatan sama sekali, bahkan untuk menjadi teman rasanya tidak mungkin. Selalu ingatkan Sakura jika Sasuke menganggap hubungan selama ini hanyalah sebatas majikan dan pembantu. Kalaupun Sasuka sedang berlaku baik, mungkin pria itu melupakan sesuatu di otaknya.

Sakura tersenyum miris, apalah arti dirinya dibandingkan penggemar Sasuke yang siap melakukan apapun demi idolanya. Satu melawan satu juta. Tentu saja Sasuke memilih penggemarnya. Tanpa penggemar, seorang publik figur tidak akan sukses.

Yang pasti, Sakura tidak dibutuhkan untuk menjenguk Sasuke. Salah satu alasannya adalah karena ia akan menambah satu masalah lagi, yang pasti akan mengurangi waktu istirahat Sasuke di rumah sakit.

Kenyataannya Sakura seperti orang linglung yang lupa harus melakukan apa. Ia harus menahan rasa malu ketika keluar dari sini, atau paling tidak, berharap saja agar seseorang tidak memperhatikannya.

"Hei, semoga cepat sembuh, ya, Sasuke-san." Sakura bergumam pada dirinya sendiri, berbalik dan siap untuk menggeser pintu untuk keluar.

Sakura tersentak ketika pintu kaca geser itu sudah dibuka duluan oleh seseorang di luar. Bukan terkejut karena ada orang di luar sana—yang kemungkinan melihat tingkah linglungnya—tapi seseorang itu sangat Sakura kenal.

"Matsuri?"

"Ah, Sakura-senpai!" Bagai baru tersadar dengan orang di depannya yang ternyata adalah Sakura, Matsuri terlihat terkejut sekaligus senang.

"Eh?" Sakura sedikit kaget, Matsuri terlihat sangat bersahabat hari ini. "Eh, iya."

"Sakura-senpai, itu, um, soal yang kemarin aku minta maaf." Matsuri tertunduk, memainkan jari-jarinya yang saling bertaut. "Waktu itu, aku terlalu takut."

Sakura terdiam, mengingat kejadian saat dirinya menolong Matsuri. Tentang bagaimana tatapan mata Matsuri, sikap gadis itu yang terlihat kaku, dan saat itu Matsuri memang sangat terguncang hingga tubuhnya bergetar.

Sakura tersenyum, menarik tangan Matsuri keluar dari ambang pintu karena pasti akan menghalangi jalan keluar masuk pengguna rumah sakit jika mereka masih berdiri di sana.

Di halaman depan rumah sakit, Sakura melepaskan pegangan tangannya di pergelangan Matsuri. "Iya, tidak apa-apa. Aku bisa merasakan bagaimana perasaanmu saat itu," ucap Sakura.

Matsuri tersenyum tipis, matanya sedikit menyipit. "Um, dan lagi, saat Sakura-senpai menolongku waktu itu..." Matsuri tidak bisa membendung kedutan di kedua sudut bibirnya. "Di mataku Sakura-senpai sangat keren!"

Sakura kembali dikejutkan antara perasaan senang dan terlalu lega. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi sementara semuanya akan berjalan baik-baik saja untuk Matsuri dan dirinya.

Sakura tidak mengharapkan apresiasi apapun dari Matsuri, tentang bagaimana pandangan dirinya yang terlihat lebih baik di mata hitam itu sekarang. Yang terpenting Matsuri kembali pada dirinya sehari-hari, bagaimanapun senyum itu menggambarkan perasaan hatinya sekarang.

"Syukurlah," ucap Sakura tersenyum lembut, "aku harap semuanya akan terus baik-baik saja. Oh, jangan lupa, jika ada waktu mungkin kita bisa bertemu di perpustakaan sekolah." Beginilah jika Sakura mulai mengeluarkan sifat aslinya yang cerewet.

Matsuri kembali tersenyum, kali ini dengan suara kikih yang ceria. "Baik!" Tiba-tiba wajahnya berbuah bingung ketika melihat sekeranjang belanjaan yang ada di tangan Sakura. "Sakura-senpai baru habis membeli bahan makanan?"

"Iya." Sakura sedikit melirik ke sekitar, lalu menatap Matsuri. "Kau sedang apa ke rumah sakit?"

"Mengunjungi nenek yang sedang dirawat, sudah 1 minggu yang lalu," ucap Matsuri tampak sedih, "aku tidak tahu jika nenekku mempunyai penyakit jantung akut. Jadi, setiap sore sepulang sekolah, ibu menyuruh untuk menjaga nenek di rumah sakit."

Sakura ikut merengut. "Semoga nenekmu cepat sembuh, ya."

"Iya," ucap Matsuri kembali ceria, "lalu, Sakura-senpai ada keperluan apa kemari?"

"Eh, itu..." Sakura sejenak berpikir, malah lebih tampak terlihat gugup. "Itu, um, ya begitulah. Aku juga habis mengunjungi seseorang di sini."

"Benarkah? Memangnya kenapa bisa sampai ke rumah sakit?"

Sakura menghela napas, tidak salah jika memberi tahu kepada Matsuri, asal tidak membawa nama Sasuke Uchiha dalam kalimatnya. Lagi pula, Matsuri tidak akan tahu orang yang mana jika Sakura mengarang asal namanya. "Dia baru saja mengalami kecelakan mobil. Aku tidak tahu pasti kapan. Tapi, aku harap dia baik-baik saja."

"Sakura-senpai belum menjenguknya?"

Sakura langsung gugup, menggeleng-geleng dengan cepat, melambaikan kedua tangan di udara. "Ti-tidak. Maksudku, dia tidak bisa diganggu, mungkin masih dalam masa pemulihan."

"Oh, benar juga." Matsuri sejenak berpikir, "semoga kekasih Sakura-senpai cepat sembuh, ya!"

"Hah?" Sakura memasang wajah paling terkejutnya; mata melotot, bibir terbuka dan tertutup, sekejap tubuhnya membeku. "Bukan. Bukan. Dia bukan kekasihku." Sakura tertawa malu, lebih terkesan dipaksakan.

"Huh, benarkah? Wajah Sakura-senpai terlihat memerah ketika menceritakan seseorang itu. Bahkan sekarang semakin memerah."

Sakura menelan saliva-nya dengan sangat terpaksa. Hampir semua orang yang ia temui selalu mendeskripsikan perasan dengan alternatif raut yang terpancar dari wajah. Padahal tidak semua perasaan dapat disimpulkan dari luar.

"Itu, maksudku kami hanya teman. Lagipula dia seorang perempuan." Sakura menggigit bibir bawahnya, berharap Sasuke tidak memdengar melalui suara batin.

Matsuri cemberut. "Hum, maaf, ya, Sakura-senpai. Aku salah ternyata."

Sakura tersenyum canggung. "Tidak apa-apa."

"Ah, kalau begitu aku harus pergi menjengku nenekku dulu, Sakura-senpai," ucap Matsuri membungkuk, lalu melangkah meninggalkan Sakura. "Sampai jumpa lagi."

Sakura membalas lambaian Matsuri. Sepersekian detik kemudian, ia mengingat sesuatu. Sakura langsung berbalik, melihat punggung Matsuri yang semakin menjauh. "Matsuri-chan!" teriaknya.

Matsuri berhenti tepat setelah 15 meter jaraknya melangkah dari Sakura. Ia berbalik. "Huh, Sakura-senpai, ada apa?"

Sakura berpikir sejenak, memandang aspal beton halaman rumah sakit. "Itu, kau bisa dituduh menjadi pembantu aktor itu karena tuduhan dari temanmu sendiri. Apa kau..." Kedua tangannya yang berada di sisi tubuh saling mengepal. "Kau memang ikut seleksi itu?"

"Iya." Matsuri mengangguk, wajahnya tampak biasa saja. "Waktu itu aku peserta pertama yang mendaftar. Tapi, manajer Sasuke-kun bilang, aku harus belajar dan tidak bisa ikut."

Sakura memandang Matsuri dengan bibir yang saling terkatup rapat. Kelopak matanya tak berkedip satu kali pun.

Matsuri melanjutkan, "karena itulah, aku langsung pulang lebih awal, aku sangat ingin menangis."

Secara refleks Sakura menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Rasanya sangat lega mengetahui jawabannya langsung dari Matsuri. Sedikit banyak beban pikirannya mulai luntur dan berjatuhan dari dalam kepalanya. Sakura tidak perlu repot-repot memikirkan Matsuri yang bisa saja mengetahui segalanya.

"Sakura-senpai, apa ingin bertanya lagi?"

"Ah, tidak. Titipkan salamku untuk nenekmu. Semoga cepat membaik."

Matsuri mengangguk dan tersenyum lebar, gadis itu sedikit tergesa-gesa, setengah berlari menuju pintu rumah sakit.

Ternyata benar, Matsuri hanyalah gadis polos yang tidak mengetahui segala fakta yang semestinya terjadi.

Jika memang benar begitu, maka, Matsuri tidak pernah melihat Sakura yang juga berada di sana. Karena saat itu Sakura memang datang agak siang dan hampir berada di urutan terakhir. Lagi pula, Sakura harus membenarkan karena saat itu ia juga tidak melihat Matsuri ada di sana.

Sakura tersenyum, ini bisa menjadi lebih baik, ia akan menjaga Matsuri kalau ada sesuatu yang terjadi; sekalipun harus berhadapan dengan Karin Uzumaki.

Suara dering telepon membuat Sakura harus bersusah payah menggunakan tangan kirinya—yang bebas dari keranjangan belanjaan—untuk merogoh saku celana jeans-nya yang terasa sesak.

"Sasori-san," ucapnya malas ketika melihat nama penelepon.

Walaupun rasanya sangat malas mendengarkan celotehan yang akhir-akhir ini sering mengganggu, Sakura lebih baik mengangkat sambungan telepon dari Sasori ketimbangan harus ditelepon setiap hari. Memangnya pria itu pikir Sakura akan kabur ke luar negeri hanya karena 200.000 yen. Itu bisa terjadi jika Sakura tidak sengaja menemukan tas berisi uang yang tidak bisa habis selama tujuh turunan.

"Halo?"

Sakura segera menjauhkan ponselnya ketika Sasori berteriak memanggil namanya dari seberang telepon.

"Sudah kubilang namaku Sakura, bukan Sakurai, tahu!"

Sakura menghela napas ketika Sasori kembali berbicara, wajahnya berubah cemberut. "Di mana?"

Sasori berbicara sangat cepat, meminta Sakura untuk bertemu di kedai ramen Ichiraku. Katanya ingin memastikan jika Sakura tidak ke mana-mana. Sebenarnya itu pernyataan yang menyinggung, apa perlu Sakura memotret tempat di mana ia berada sekarang. Tentu saja masih di Jepang.

"Tapi..." Sakura ingin menampik, ia berpikir sejenak. Mungkin sekarang bukan waktunya untuk mencari alasan lagi, sudah sering Sakura menolak ajakan Sasori. "Baiklah."

Kedai Ichiraku berada tidak jauh dari rumah sakit Azabu, mungkin tidak lebih dari 300 meter. Jadi, ketimbang harus naik bus dan membuang uangnya, Sakura memilih berjalan kaki. Ada utilitasnya juga Sakura bisa mengenal Sasori dari kejadian miniatur itu; Sakura menjadi orang yang hemat, saking berhematnya ia hampir pelit mengeluarkan uang karena setiap hari harus memikirkan uang ganti rugi.

Walaupun kedai yang menjual masakan khusus ramen ini bentuknya mini dan terkesan kecil, tapi pengunjungnya cukup banyak. Bahkan ketika di dalam sudah penuh, masih ada yang mau menyantap makanannya di luar, di meja yang sudah disediakan.

Sakura menjulurkan lehernya, mencari pria berambut merah darah, tinggi melebihi satu kepala dari Sakura, berwajah imut seperti bocah berumur 7 tahun. Tapi, di luar sini lebih banyak kepala berambut hitam.

Tentu saja pasti berada di dalam sana, dari balik penutup atas kedai, Sakura dapat melihat hanya ada satu pasang kaki di sana.

Sakura menundukkan kepalanya, menghindari penutup kertas yang bertuliskan Ramen Ichiraku sebagai penandai kedai, memasuki ruang bagian dalam sekaligus tempat paman Teuchi—pemilik sekaligus pembuat ramen di Ichiraku—berkutat dengan panci-pancinya.

"Hei, Sakurai!"

Ternyata benar, itu dia si Kepala Merah. Sakura kembali cemberut karena Sasori lagi-lagi salah memanggil namanya.

"Namaku Sakura. Sakura Haruno, tuan Sasori." Sakura mendudukkan bokongnya, keranjang belanjaan ia taruh di bawah, wajahnya masih tetap cemberut.

Sasori tertawa. "Ah, baik-baik, aku akan mengingatnya."

"Kau baru saja mengatakan itu tadi."

"Ya, ya, ini yang terakhir," ucap Sasori, setengah bercanda, "bagaimana dengan uangku?"

Sakura mendengus. Ia sedikit memperhatikan paman Teuchi, pria itu masuk ke dalam, sepertinya ingin mengambil lebih banyak mangkok. "Aku belum gajian, tahu. Kau kira aku mendapatkan gaji per hari?"

"Mungkin. Dari kemarin kau tidak mau bilang bekerja apa?" Sasori bertanya, tidak terlalu keras, beruntung suara kendaraan dan orang-orang di luar sana cukup membantu agar suara mereka tidak mesti terdengar yang lain.

"Kau tidak harus tahu."

Sasori menatap Sakura dengan kening berkerut dan mata sedikit membeliak. "Jangan bilang..."

"Sudah kubilang aku tidak bekerja seperti itu, tuan Merah." Sakura segera memotong prasangka Sasori. Ia menjerit, suaranya pelan namun penuh penekanan.

"Aku hanya menebak," kata Sasori santai, "ah, yang pasti uang ganti rugiku harus kembali."

Sakura terdiam, ia baru sadar jika ini yang kedua kalinya pertemuan mereka selama beberapa hari yang panjang dari kejadian miniatur itu. Padahal Sasori sering mengajaknya untuk bertemu, hanya saja Sakura terlalu sibuk memerankan dua kehidupan sebagai siswa dan pekerja.

"Lama tidak bertemu, Sakura-chan," sapa paman Teuchi baru saja keluar dari dalam rumahnya—yang dibuat menyatu dengan kedai, dan menyiapkan dua mangkok.

"Eh, iya, akhir-akhir ini aku memang sering sibuk, Paman." Sakura berdehem, sedikit melirik Sasori di sampingnya.

Sepertinya Sasori baru saja datang, terlihat paman Teuchi yang baru memasukkan mie rebus di dalam mangkok. Tumben sekali pria paruh baya itu sendirian mengurus kedai, biasanya anak gadis paman Teuchi selalu membantu.

"Ya, paman Teuchi, kakak Ayame ke mana?" tanya Sakura.

"Ayame sedang kuliah, baru-baru ini dia sangat bersemangat melanjutkan pendidikannyan," jawab paman Teuchi, memberikan sedikit bumbu pada ramen itu. "Bagaimanapun, sebagai orang tua, tugasku hanya mendukung. Lagipula Ayame sudah berusaha menabung selama dua tahun ini untuk masuk Universitas."

Sakura kembali terdiam, rasanya baru lusa kemarin ia tidak makan ramen di sini, dan saat itu kakak Ayame masih ada; bercerita tentang lelaki misterius memakai masker yang akhir-akhir ini sering makan ramen di sini. Itu berarti, sejak Sakura menjadi pembantu di apartemen, ia tidak pernah lagi makan ramen di Ichiraku.

Benar juga, waktu terasa cepat berlalu, dan tugasnya sebagai pembantu juga akan selesai; hanya satu bulan, lalu Sakura akan pergi. Setelahnya semua masalah akan tuntas, dan ia bisa mendapatkan uang ganti rugi untuk miniatur Sasori, lalu lupakan kisah yang nanti juga akan berlalu. Bahkan, masa depan yang akan berjalan satu detik dari sekarang pasti terlewatkan.

Tanpa sadar, Sakura mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas meja.

"Nah, selamat menikmati ramennya!" Paman Teuchi menyodorkan dua mangkok ramen ekstra.

Sakura memandang ramen itu, masih panas, dan uapnya bahkan menyengat sampai ke rongga hidungnya. "Kau bertemu hanya untuk mengajakku makan ramen?"

"Tidak," ucap Sasori, memainkan sumpitnya sebelum menyantap ramen itu. "Sudah kubilang, aku hanya ingin memastikan."

Sakura menghela napas, wajahnya menekuk, memandang ramen yang masih utuh tanpa tersentuh sumpit. Tidak ada gunanya berdebat dengan pikiran Sasori yang masih seperti anak-anak. Padahal usia Sasori lebih tua tiga tahun darinya.

Hm, tiga tahun, ya.

Wajah Sakura tiba-tiba kentara terkejut, seperti menemukan sesuatu yang tidak terduga. Beberapa fakta terkumpul di pikirannya, bagai puzzle yang digabungkan menjadi satu kesatuan utuh, hingga mendapatkan kesimpulan yang sangat jelas.

"Sasori-san, apa kau merasa kita sedang berdua di sini?" Sakura menahan napas, matanya menatap lurus ke depan, menggigit bibirnya dengan raut yang tak pasti.

Sasori menoleh, mulutnya masih penuh dengan mie ramen, lalu menelannya. "Tidak. Paman itu ada di sini juga."

Sakura segera menoleh. Entah kenapa, ingin sekali dirinya memukul kepala Sasori agar tingkat kepekaan pria itu terhadap lawan jenis sedikit tergerak. "Bukan itu," ucap Sakura pelan.

Sasori menyeruput kuah ramen itu sebentar. "Lalu?"

Sakura tampak gugup. Kesimpulan yang diambil juga berasal dari beberapa bagian yang sedikit banyak ia ketahui; Sakura masih punya utang dengan Sasori, tapi saat ini, fakta jika mereka lawan jenis, tanpa ikatan darah dan umur yang tidak terlalu jauh berbeda, makan bersama hanya berdua, lalu Sasori mengatakan jika ingin bertemu dengan Sakura.

Sakura menutup mulutnya, pipinya tiba-tiba memerah. "Huh, mungkinkah?"

Sakura tiba-tiba membayangkan jika Sasori sedang mengajaknya berkencan, lalu memberinya sake hingga mabuk berat, dan membawa Sakura ke kantor polisi.

Hahahaha!

Tiba-tiba wajah Sasori yang horor sambil tertawa jahat terlintas dalam bayangannya.

Saat itu juga, Sasori yang mulai mengerti dengan sikap Sakura, langsung berteriak sambil berkacak pinggang. "Aku tidak melakukan itu, Bodoh!"

Menatap Sasori yang terlihat sangar, Sakura kembali cemberut. "Habisnya kau memberikan alasan yang tidak jelas."

"Aku saja mempercayaimu," Sasori menghela napas, matanya tertutup. "Bisa tidak sekali saja percaya padaku." Lalu memandang Sakura dengan mata yang meruncing.

"Eh, itu..." Bibir Sakura sedikit terbuka, kepalanya tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. "Iya."

"Cepat makan, nanti ramen itu dingin. Jadi sia-sia saja aku mengeluarkan uang untuk dua porsi ramen ekstra." Sasori kembali melahap ramen miliknya yang sudah tersisa setengah.

Sakura sedikit terkesan, setengah tak percaya. "Kau mentraktirku?"

"Iya," ucap Sasori, sedikit tidak jelas karena mulutnya masih penuh mengunyah makanan.

"Ah, baiklah." Sakura cukup senang, bibirnya tersenyum, hampir nyengir. "Selamat makan!"

Memang mustahil jika dipikirkan secara logika kalau Sasori sedang mentraktirnya sekarang. Padahal Sakura mempunyai utang yang masih belum bisa dibayar, seharusnya Sasori tidak bersikap seramah ini. Tapi, ada baiknya juga, ketimbang Sasori mengajaknya kencan di kantor polisi.

Bahkan saat sedang makan saja Sakura masih memikirkan soal kencan. Jelas sekali ini bukan dirinya. Dahulu, sebelum bertemu dengan Sasori atau bekerja sebagai pembantu Sasuke Uchiha, Sakura tidak pernah memikirkan satu kalipun tentang berkencan. Bahkan untuk sekedar membuka diri berteman dengan anak laki-laki saja tidak pernah ada dalam hidup Sakura.

Menutup diri dengan segala macam ekspansif kehidupan remaja yang penuh lika-liku beragam, dan jujur, Sakura lebih memilih menjadi remaja normal yang biasa-biasa saja tanpa terikat masalah. Soal percintaan, itu hal belakangan setelah pendidikan. Tapi, saat waktu yang tidak diketahui, entah siapa yang merubah Sakura menjadi pribadi yang memperhatikan lawan jenis.

"Jangan langsung menyimpulkan sesuatu lagi, Sakura," ucap Sasori, berhenti memakan ramennya. "Saat pulang dari Fakultas Seni aku tidak sengaja mendapatkan uang 1000 yen di jalan. Jadi, aku harus membelanjakannya sebelum uangku hilang."

Dalam satu detik Sakura cukup senang karena Sasori berhasil memanggil namanya dengan benar. Tapi, semua itu langsung buyar saat mendengar pernyataan lelucon dari pria itu. Seharusnya sejak tadi Sakura berpikir demikian; orang pelit seperti Sasori mana mau mengeluarkan uang untuk mentraktir seseorang yang sedang berutang dengannya.

"Ya, ya, aku baru saja ingin berpikir begitu tadi," ucap Sakura, melahap lagi ramennya.

"Omong-omong, Sakura, cepat juga kau sampai ke sini."

Sakura mengangkat bahunya, berusaha untuk lebih peduli pada sejuta kenikmatan ramen buatan paman Teuchi. "Aku memang berada di dekat sini. Di rumah sakit Azabu."

"Apa yang terjadi?" Sasori bertanya dengan nada yang alami, kentara sekali khawatir, tidak dibuat-buat.

Sakura berhenti memakan ramen. Segera setelah membuka minuman soda kaleng di depannya, Sakura meneguk dalam satu tegukan, tampak takut jika ia akan tersedak kalau menceritakan Sasuke Uchiha, meskipun nama itu ia ganti menjadi kata 'teman'. "Temanku kecelakaan."

"Eh, benarkah? Bagaimana kondisinya sekarang?"

Sakura menggeleng. "Tidak tahu."

"Bukannya kau bilang habis dari rumah sakit?" Sasori bertanya sambil berkacak pinggang, ramen miliknya sudah hampir habis. "Seharusnya, kau memang menjenguk temanmu."

"Aku memang ingin menjenguknya," ucap Sakura, suaranya lebih pelan. "Hanya saja, aku tidak tahu kenapa. Maksudku, lagi pula masih banyak yang mengkhawatirkannya selain aku."

"Kalian bertengakar," ucap Sasori secara cepat. Sifat argumentatifnya yang spontan mulai muncul.

"Eh, tidak begitu, kok." Sakura ingin menggeleng, tapi lehernya tiba-tiba kaku.

"Jangan belagak kuat, Sakura."

Sakura terdiam. Kalimat terakhir Sasori benar-benar menampar dirinya sampai ke hati. Sedikit banyak Sakura membenarkan apa yang sudah dikatakan Sasori. Mungkin, jika pria itu tidak mengajaknya makan sekarang, bisa diramalkan ketika sampai di rumah nanti Sakura akan menangis di kamarnya.

"Aku hanya, tidak ingin mengganggunya." Lagi-lagi Sakura membohongi dirinya sendiri. Sebenarnya ia sangat ingin mengunjungi Sasuke, walaupun sebentar, ia hanya perlu mengucapkan semoga cepat sembuh agar kekhawatirnya sedikit hilang.

"Ya seperti yang kuduga, sekarang aku bisa membaca karaktermu, Sakura."

Sakura mencengkeram sumpitnya, membuang muka ke arah lain. "Memangnya seperti apa?"

"Sudahlah, Sakura, aku tahu dari tadi rautmu terlihat sangat khawatir." Sepertinya Sasori tidak tertarik dengan pertanyaan Sakura yang seolah ingin merubah pokok pembicaraan. "Sesuatu yang sering dipikirkan, jika itu seseorang, berarti dia sangat spesial."

Sakura tidak menyangka jika Sasori bisa berkata serius seperti sekarang. "Sudah kubilang, aku hanya tidak ingin mengganggunya. Lagi pun, aku akan jadi yang paling belakang di antara orang-orang yang mengkhawatirkannya." Sakura kembali menatap ramennya.

"Ah, kau egois sekali, Sakura," ucap Sasori, terkesan biasa-biasa saja dengan ucapannya, "memangnya yang terbaik harus yang pertama?"

Sakura tersentak, tubuhnya membeku. "Aku tidak bilang jika aku yang terbaik." Sakura terbata-bata, hembusan kuah ramen mulai menghilang dari pandangan matanya.

"Bahkan kau tidak sadar ketika mengatakannya sendiri; kau mau menjenguknya, tapi hanya ingin ada dirimu yang ada di sana. Bukankah itu bisa disebut egois?"

Kali ini Sakura tidak bisa berkutik. Hatinya membantin sendiri. Bukan itu yang sebenarnya terjadi. Hanya saja, ia tidak ingin dianggap Sasuke sebagai bagian penggemarnya. Sakura hanyalah Sakura; dirinya yang dulu, yang tidak pernah mengenal Sasuke Uchiha sebelum kejadian beberapa hari lalu dengan Sasori.

"Sakura, mungkin kau tidak tahu, bisa saja di antara semua orang yang ada di sampingnya, temanmu itu malah menginginkanmu di sampingnya."

Sakura menoleh, berusaha keras menahan air matanya, menutupinya dengan tawa hambar. "Kau beranggapan seperti temanku itu memang seorang lelaki. Bisa saja dia seorang perempuan."

"Semua teman, kan, sama saja," ucap Sasori, kembali pada dirinya beberapa menit lalu, santai dan rileks, "ya, kurasa aku mulai mengoceh seperti seorang kakak lagi."

Sakura terdiam, berusaha melupakan celotehan Sasori yang kali ini berbeda dari hari-hari sebelumnya, entah benda apa yang sudah membentur kepala Sasori. Sakura menghela napas, kembali menatap ramen miliknya sejenak lalu melahapnya.

Saat ini suasana terasa canggung untuk Sakura. Bahkan dalam waktu satu detik semua bisa berubah. Sikap Sasori, tidak menentu bagaimana jadinya, terkadang setiap menit sifatnya mudah berubah.

Lebih baik memakan ramen yang sudah dingin ketimbang harus mendengarkan kalimat telak dari Sasori. Pria itu seperti, mengetahui apa yang ada di otak Sakura.

"Hai, hai, paman Teuchi!"

Suara berisik, nyaring dan cempreng. Sakura segera menoleh, memperhatikan pria yang dengan lincah memasuki kedai.

Karena di sini ada 5 kursi—Sasori duduk paling ujung sedangkan Sakura di kursi nomor dua—jadilah pria dengan warna bola mata biru sapir itu duduk di samping Sakura.

"Seperti biasa, Paman." Pria itu nyengir, menampakkan deratan giginya yang rapi, tanda gores tiga di kedua pipinya semakin tampak.

"Ya, ya, Naruto, aku sudah hapal," ucap paman Teuchi, wajahnya menyiratkan rasa akrab kepada pria berpakaian formal itu.

Sakura memandangi pria itu dengan raut mengernyit, mencoba mengingat sesuatu yang terlupakan. Paman Teuchi memanggil nama pria itu Naruto. Terasa familier di telinga Sakura, mungkin beberapa kali masih samar-samar, ia mencoba menggali ingatannya lagi.

Tidak seperti Naruto Uzumaki, bahkan jika aku bisa bertukar nasib dengannya, si Bodoh itu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Kutipan kalimat Sasuke beberapa hari lalu adalah hal pertama yang membuat ingatan Sakura kembali.

Saat itu Sakura baru datang, menutup pintu apartemen dengan pelan, tidak sengaja mendengarkan percakapan privasi antara manajer dengan artisnya. Sasuke yang detik itu tampak seperti bukan dirinya, terlihat penuh beban, wajahnya sendu tidak lagi datar.

Tapi, Sakura tidak terlalu yakin apakah nama yang disebut Sasuke dalam kalimatnya itu memang Naruto yang ini; Naruto Uzumaki

"Naruto kau datang masih berpakaian formal seperti ini? Aku terkesan karena ada pejabat yang berkenan makan di kedai kecilku." Paman Teuchi membuka pembicaraan, mengeringkan mangkok yang baru habis dicuci.

Naruto bersedekap, bibirnya mengerucut. "Aku ini masih Naruto Uzumaki yang dulu, paman Teuchi. Memangnya aku bisa melupakan ramen buatan Paman yang tidak ada tandingannya itu."

Ternyata benar, pria itu Naruto Uzumaki, temannya Sasuke.

"Ya, tapi tidak selalu sama seperti dulu," ucap paman Teuchi menyiapkan mie, "tidak seperti beberapa tahun lalu, bukan? Ah, aku tidak sengaja mendengar di radio kalau Sasuke kecelakaan. Memangnya benar?"

Ternyata paman Teuchi juga mengenal Sasuke; seperti mereka sudah sangat akrab. Jika begitu, mungkin karena Naruto temannya Sasuke, atau Sasuke yang mengenalkan kedai ramen ini kepada Naruto? Sakura memasang telinganya dengan baik.

Naruto menghela napas. "Ah, itu, ya." Sepertinya Naruto selalu tahu lebih dahulu tentang Sasuke. "Si Teme itu sekarang ceroboh. Aku tidak tahu apa dia sudah kelepasan."

Bahkan, sepertinya Naruto sangat dekat dengan Sasuke, sampai-sampai mempunyai nama ejekan.

"Dia banyak menanggung beban selama ini. Tidak semua orang mampu sepertinya." Paman Teuchi langsung menyimpulkan, berbicara seperti orang tua pada anaknya.

"Aku setuju, Paman," ucap Naruto mengangguk. "Sasuke itu, sikapnya sehebat wajahnya yang datar; tidak mau menampakkan perasaan aslinya, meskipun sesakit apa yang dirasakan."

Sakura mengaduk-aduk kuah ramennya, mencoba untuk tetap tenang berada di tengah-tengah dua orang pria yang tidak saling kenal. Ia langsung menyimpulkan jika Sasuke mungkin saja memiliki penyakit kronis, hatinya tiba-tiba sesak.

"Kau sudah mengunjunginya?"

"Tidak. Rumah sakit itu terlalu ketat terhadap pasien." Bibir Naruto kembali mengerucut.

"Memangnya, dia tetap tidak ingin bersikap jujur?"

"Mana mungkin." Naruto menggeleng, mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja. "Teme itu tidak ingin menyakiti perasaan orang lain, apalagi orang yang berharga di hidupnya, meskipun sikapnya memang keterlaluan cuek. Lagi pula, Teme bilang jika hal yang dilakukannya sampai sekarang bukanlah kebohongan, hanya salah satu dari sekian banyak kebahagian yang coba dia lakukan."

"Ya, dia tipe yang sulit di tebak isi kepalanya." Paman Teuchi menyodorkan satu porsi ekstra ramen kepada Naruto.

Wajah pria itu langsung berbinar, berbeda dari rautnya satu detik lalu yang serius. "Hm, hm, mari kita lupakan sejenak masalah yang ada, dan menyantap ramen enak ini. Selamat makan!"

Seberapa dekat Sasuke dan Naruto?

Semakin erat memegangi sumpitnya, Sakura mencoba berpikir keras, terkadang mengigit bibir bawahnya karena pikirannya tidak sampai merumuskan apa yang terjadi.

Sekarang Sakura percaya dengan kalimat yang pernah dikatakan Ino; tidak semua yang kau lihat adalah nyata.

Ada apa sebenarnya dengan seorang aktor terkenal seperti Sasuke Uchiha, yang hidupnya sudah bisa dipastikan selalu diberondong dengan kesenangan.

Jika pada kenyataannya apa yang dirasakan Sasuke berbeda dengan raut yang dipancarkan, setakut itukah kalau orang lain mengetahui perasaannya. Kecuali, hanya orang yang terdekat seperti Naruto Uzumaki itu, mungkin.

Bicara tentang pria di sampingnya ini, Naruto Uzumaki, kedekatannya dengan paman Teuchi juga perlu dipertanyakan. Kalau sampai seakrab ini, dan Naruto sering makan di Ramen Ichiraku, seharusnya mereka pernah bertemu paling tidak dua atau tiga kali. Tapi, baru kali ini Sakura melihat Naruto. Padahal setiap pulang sekolah, atau sore hari, Sakura sering membeli ramen di sini. Mungkinkah waktunya tidak tepat dan ini sebuah kebetulan.

Sakura benar-benar ingin tahu. Tentang semuanya, tentang Sasuke dan segala misteri kehidupan majikannya itu. Entah kenapa, saat mendengar cerita Sasuke yang lebih kompleks dari Naruto, ingin sekali Sakura merengkuh hati Sasuke. Pria itu seperti lilin, rela mengorbankan hidupnya demi kehidupan orang lain, itulah yang coba Sakura pikirkan.

Tapi untuk siapa?

"Sakura, aku duluan," ucap Sasori, yang sudah berdiri duluan, "kau masih mau di sini?"

"Aku ikut." Sakura menjawab cepat, ia langsung melompat dari kursi dan menenteng keranjang belanjaannya.

Sasori hanya mengangguk, lalu keluar dari kedai mendahului Sakura.

Saat beberapa langkah Sakura melewati Naruto, tanpa sengaja mereka saling bertatap muka. Mata bertemu mata, saling memandang beberapa detik, lalu Naruto tersenyum; tanda menyapa tanpa suara, Sakura ikut tersenyum samar sebelum cepat-cepat pergi.

Sumpah demi apapun, Sasori memang bukan pria baik karena telah meninggalkan Sakura saat di halte bus. Di Jepang memang sudah hal yang lumrah jika perempuan berada seorang diri di jalan, karena meskipun pukul 1 malam aksi kejahatan sangat minim. Hanya saja, Sasori tidak bertanggung jawab sekali, tanpa mengucapkan selamat tinggal pria itu langsung bergegas masuk ke bus jalur Shinjuku. Jika saja Sakura tidak memenuhi acara makan dari Sasori, mungkin ia sudah sampai di rumah dua jam lalu.

Sudah dipastikan bagaimana kemarahan dari ibu Sakura, karena saat sore menjelang senja Sakura baru pulang dengan belanjaannya.

"Makanya, kalau Ino mengajakmu ke tokonya tidak usah ikut jika sedang sibuk. Padahal baru kali ini ibu menyuruhmu belanja di pasar, Sakura. Lain kali biar ibu saja."

Walaupun ibunya terus mengomeli Sakura, dengan suara keras dan nyinyir, tapi tetap saja wanita itu dengan andal memainkan perannya di dapur; memasak untuk makan malam.

Rasanya waktu berjalan begitu lambat tanpa adanya Deidara dan Sasuke, terutama ocehan Deidara yang tidak pernah lepas dari omongannya, ceplas-ceplos seperti orang yang ada dihadapannya sudah dikenal dengan baik—kenyataannya baru kenal 1 detik lalu.

Mencoba untuk membunuh waktu yang sekian detik semakin lama, Sakura kembali pada hobinya yang sempat hampa beberapa bulan lalu, yaitu menghias kain dengan cat tekstil.

Sehabis makan malam, Sakura berniat mengganti seprainya yang sudah satu minggu belum diganti, mengubrak-abrik tumpukan baju paling bawah. Tanpa disengaja ia menemukan kain persegi berbahan katun polos. Pikirannya mulai muncul untuk membuat suatu sentuhan dengan kain ini; anggap saja sebagai bagian mengasah ketangkasan tangannya yang dulu.

Beruntung masih ada sisa karton di kamarnya. Sakura masukkan karton tebal dibalik salah satu bahan dari kain yang akan dilukis, sebelumnya sudah dipotong sesuai ukuran.

Sakura tidak tahu apa yang harus ia buat, semuanya berjalan sesuai dengan tangannya yang terkendali, menggambar sketsa yang masih abstrak dengan pensilnya.

Sakura terlalu menikmati dengan apa yang dilakukannya. Hingga detik menjadi menit, dan menit bertransformasi menjadi jam, semuanya terasa menyenangkan entah mengapa sebabnya. Tidak terasa sudah satu jam, Sakura sampai pada mewarnai dengan cat secara pekat pada bagian sebelah dalam dari setiap kelopak bunga sakura. Hingga setengah jam kemudian bunga sakura itu sudah selasi.

Senyum Sakura mengembang, ia menjulurkan tangannya, melihat bagaimana beberapa bunga sakura yang dibuatnya selama 2 jam tidak begitu buruk. "Cantik," ucapnya bersemangat, karena tinggal mengeringkannya dengan hair dryer.

Tiba-tiba Sakura menurunkan tangannya di atas meja, kembali mengingat seseorang yang hampir selalu muncul beberapa jam ini. "Sasuke-san..."

Jika tidak pergi ke rumah sakit sekarang juga, ia tidak akan tahu bagaimana kabar Sasuke, dan bisa dipastikan Sakura terkena insomnia mendadak.

Sasuke itu mengalami kecelakaan, yang mungkin tidak bisa dibilang ringan. Bagaimanapun juga, meskipun mereka tidak begitu dekat, Sakura sangat khawatir dengan keadaan Sasuke. Sampai rasanya ia ingin menangis.

Sakura mendongak, melihat jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 9 malam.

"Masih sempat," ucap Sakura pelan, kepada dirinya sendiri.

Tanpa pikir panjang, Sakura kembali melukis di atas kain katun yang dipinggirannya telah dihiasi bunga sakura.

Sakura selesai melukis kainnya saat pukul sepuluh lebih seperempat. Menunggu catnya kering adalah salah satu faktor yang membuatnya semakin lama.

Dengan bermodalkan mantel merah dan celana jeans panjang, Sakura keluar dari rumahnya dengan cara mengendap-endap. Mungkin ayah dan ibunya sudah tertidur pulas hingga pintu kamar mereka dikunci. Jadi, Sakura bisa lebih lama pergi, dan membawa kunci rumah untuk jaga-jaga.

Jika hari sudah larut seperti ini, bus malam sangat jarang singgah di halte. Susah payah Sakura menunggu, duduk sebentar lalu kembali berdiri, seperti itu berulang kaki. Terkadang ia berjongkok saking gugupnya karena akan bertemu Sasuke Uchiha.

Sakura kembali melihat jam yang ada di halte untuk kesekian kalinya. Sudah lewat 20 menit dari pertama ia datang. Hembusan napas kasar beberapa kali keluar, jari-jari tangan dan kakinya bergerak tak menentu, hatinya tidak tenang saat ini.

"Masa bodohlah!"

Tanpa pikir panjang Sakura langsung berlari, melalui jalan trotoar yang diterangi lampu jalan, di mana jalan raya masih ramai dengan mobil yang hilir mudik.

Sakura hampir menangis. Ia memang takut dengan kesendirian, hal m-hak yang berada di luar rumahnya dan kegelapan. Tapi, saat memikirkan Sasuke, luapan adrenalin itu mulai digantikan dengan rasa optimis.

Terkadang Sakura menemukan pejalan kaki yang tidak sengaja berpapasan dengannya, lebih dominan pekerja kantoran yang mungkin habis lembur.

Tidak peduli kepada orang-orang yang menatapnya dengan pandangan penuh tanya; mengapa berlari seperti pencuri yang sedang dikejar-kejar. Sakura tetap melangkah cepat, meski 1 kilometer jauhnya, ia harus pergi ke rumah sakit Azabu sekarang juga.

Sakura tidak tahu letak di mana kesalahannya; entah karena dorongan hatinya sendiri atau ego yang tinggi, rasanya ia sangat ingin bertemu Sasuke, walaupun hanya sekedar tahu bagaimana keadaan pria itu.

Susah payah menelan air liurnya yang hampir membuat tersedak, napas Sakura pendek dan tidak teratur. Dadanya berdenyut sakit, perut bagian perutnya nyeri karena tidak terbiasa berlari terlalu lama.

Sakura berhenti, memberi waktu untuk dirinya bernapas, dengan tangan ditekankan di lutut sehingg punggung dan kepalanya sama rata.

"Sasuke-san..."

Sakura kembali berlari. Hanya perlu beberapa puluh meter lagi, dan rumah sakit yang sudah tampak di ujung sana akan lebih nyata terlihat. Langkahnya semakin cepat walau tenaganya terus berkurang setiap detik; setiap langkah.

"Hah... hah... hah..."

Sakura langsung masuk dari balik celah pagar rumah sakit, tanpa disadari jekat mantelnya tersangkut dengan pola pagar yang runcik.

"Hah... hah... sial!"

Jika sedang gugup seperti ini, sesuatu yang kecil terasa susah dilakukan karena tergesa-gesa. Sakura mencoba melepaskan ujung mantelnya yang tersangkut, tapi tidak bisa karena tangannya terasa kaku dan bergetar. Tanpa pikir panjang, ia langsung menarik mentelnya hingga ujung bagiab belakang itu robek.

Halaman rumah sakit yang lengang membuat Sakura semakin cepat sampai di depan pintu, membukanya dengan kasar.

"A-ada apa?"

Salah satu perawat laki-laki bertanya ketika Sakura berhenti di depan meja resepsionis.

"Hah... hah... hah..." Sakira melambaikan tangannya di udara, memberi tanda tunggu sebelum napasnya benar-benar terhenti. "Sasuke Uchiha. Dirawat di ruangan mana?" tanya Sakura masih dengan napas tersengal.

"Apakah Anda keluarga dari Sasuke Uchiha?"

"Tidak. Tapi..." Sakura sudah bisa berdiri tegak, ia merogoh saku mantelnya. "Ini kartu apartemen milik Sasuke Uchiha. Aku suruhan dari nyonya Uchiha."

"Maaf. Kalau begitu kami tidak bisa—"

"Kau harus bisa!" potong Sakura, berteriak kepada satu-satunya penjaga resepsionis.

"Tapi, maaf, ini peraturan."

Sakura mendecak, langsung mengambil ponselnya. "Aku akan menelepon Deidara-san agar kau bisa dilaporkan dengan atasmu karena sudah melarang suruhan nyonya Uchiha."

Perawat pria itu langsung gelagapan. "Baiklah," ucapnya tercekat, lalu membuka daftar nama pasien. "Sasuke Uchiha berada di ruang rawat inap kelas VVIP, di lantai dua dek—"

"Terima kasih!"

Sakura langsung berlari meninggalkan perawat yang hanya bisa membeku itu.

Di lantai dua ada beberapa ruang rawat inap. Jika salah memilih, mungkin Sakura akan dianggap pencuri mayat rumah sakit. Tapi, pikiran masa bodohnya menguasai, ia langsung membuka ruang rawat inap di pintu pertama.

"Sasuke..." Sakura menggantungkan kalimatnya, seketika suasana rawat inap yang terdiri dari 5 kasur itu langsung senyap. "...san."

Jelas sekali di antara tiga orang pasien yang sedang bermain adu bantal ini bukanlah Sasuke. Sakura salah ruangan.

Tiga orang pasien laki-laki itu memandang Sakura tanpa berkedip.

"Hai?"

"Ma-maaf!" teriak Sakura, langsung menutup pintu hingga terdengar suara berdebam. Ia kembali membaca papan nama ruangan, "sial. Ruang rawat inap kelas 1 ternyata."

Sakura berdecak kesal, namun tetap kembali melangkah, membaca ujung tulisan papan nama ruangan dengan cermat.

"Pasti ini," ucap Sakura optimis, membuka pintu ruang rawat inap kelas VVIP.

Hal pertama yang terjamah di mata Sakura adalah ruangan kosong.

Tempat ini cukup luas untuk satu orang pasien, dan tentu saja seperti hotel berbintang, tidak seperti ruang inap kelas 1. Tapi, di mana Sasuke?

Sakura yakin, ia tidak salah masuk ruangan lagi. Di bagian ujung sisi ranjang pasien sudah ditulis identitas pasien; Sasuke Uchiha, 25 tahun.

Perasaan yang begitu sakit tiba-tiba menerjang hatinya, tercelus, seperti digoresi dengan pisau belati. Ternyata Sakura benar-benar terlambat. Sasuke sudah tidak ada lagi di ranjang, meninggalkan Sakura dengan seribu tanda tanya mengapa dirinya sebegitu khawatir dengan pria itu.

"Sasuke-san." Sakura menangis, untuk pertama kalinya ia sesenggukan, mengeluarkan perasaan yang tertahan saat di halte bus.

Padahal, Sakura ingin lebih lama lagi bersama Sasuke, mengenal pria dengan sejuta misteri itu lebih dalam. Jujur saja, ia tidak tahu mengapa dirinya begitu tertarik dengan sikap datar yang menyimpan banyak rasa sakit sendirian tanpa ingin orang lain tahu.

Sasuke pergi, meninggalkannya dan Deidara.

"Apa yang kau lakukan di sini, Sakura?"

Suara cempreng Deidara.

Sakura segera berbalik. Kelopak matanya melebar, dan pupil itu langsung mengecil. "Sa-sasuke-san?"

"Hei, kau ini—"

"Sasuke-san!"

Sakura langsung berlari kencang, menubruk tubuh Sasuke hingga terdengar suara meringis dari pria itu. Memeluk majikannya sekuat yang ia bisa, walau tinggi Sakura hanya sampai di bawah dagu Sasuke.

Sakura menangis kencang, memeluk Sasuke seolah ini adalah hari terakhir pertemuan mereka. "Sasuke-san. Sa-sasuke-san. Sasuke-san," ucapnya kembali sesenggukan, tidak dapat mengucapkan kata lain selain nama Sasuke.

Tubuh Sasuke memang terasa beku dan kaku, namun anehnya rasa hangat begitu menjalar. Sakura merasakan jika dirinya telah berada di tempat ternyaman, perasaan cemas itu hilang sirna begitu saja.

Meskipun Sasuke tidak membalas pelukan darinya, karena tangan pria itu tetap diam di kedua sisi tubuh, Sakura tetap bahagia seperti semua masa kebahagian itu datang lebih cepat.

"Sakura, oh, Tuhan." Deidara yang ada di samping ikut menangis karena terbawa suasana. Bahkan mantel Sasuke yang ada di lengannya menjadi korban sasaran ingusnya berlabuh. "Sakura sangat mengkhawatirkan Sasuke ternyata. Manis sekali."

Ketika Sasuke mulai menggerakan tangannya perlahan, mencoba membalas pelukan, Sakura melepaskan lingkaran tangannya di perut Sasuke. Ia menatap pria itu dengan mata yang sembab. "Iya. Karena, kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Sasuke-san, kalau Sasuke-san pergi, nanti siapa yang membayar gajiku?"

Tiba-tiba wajah Deidara berubah suram, ia memandang Sakura seolah ingin memakannya sekarang juga. Sedangkan Sasuke, hanya bisa menghela napas, memutar bola matanya ke samping, bibirnya mengembang ke bawah.

Untuk pertama kalinya Sakura dapat melihat eksprsi Sasuke yang merengut. Ia dapat melihatnya sekarang, mata itu mulai menunjukkan bebannya.

"Sakura, kau ini sedang apa malam-malam pergi ke sini?" tanya Deidara, bersedekap, bibirnya cemberut.

"Aku hanya ingin melihat keadaan Sasuke-san saja," jawab Sakura, melirik sekilas orang yang ia maksud.

"Baik-baik. Sekarang sudah lihat, kan, bagaimana keadaan Sasuke sekarang? Dia tidak apa-apa, hanya kepalanya yang terbentur dan engsel kakinya keseleo. Seharusnya Sasuke memakai lampu sorot pendek saat berangkat ke rumah ibunya pagi-pagi buta. Untuk saja kau memakai sabuk pengamanmu dengan benar, Sasuke."

"Eh, Sasuke-san punya rumah di Jepang?"

"Memangnya kau kira Sasuke warganegara mana?"

"Kalau begitu kenapa dia tidak tinggal di rumahnya saja? Kenapa harus menyewa apartemen?"

Ketika Deidara membuka mulutnya, Sasuke langsung mengambil alih pembicaraan. "Sakura, ini bukan urusanmu."

Sakura menelan saliva-nya. Tiba-tiba rasa sakit itu kembali meluap. "Ma-maaf."

Seharusnya Sakura bertanya seperti itu saat tidak ada Sasuke saja, ketika hanya ada dirinya dan Deidara yang jarang bisa menyimpan rahasia dengan baik. Lihatlah sekarang, raut Sasuke semakin suram saat berjalan melewatinya.

"Hei, Sakura, kau sudah membersihkan apartemen belum?" tanya Deidara yang sepertinya ingin mengembalikan suasana mejadi biasa.

Sakura nyengir. "Aku tidak ke apartemen hari ini."

"Kau ini digaji untuk bersih-bersih, Nona!" Deidara menjitak kepala Sakura. "Sekarang lebih baik masukan barang-barang Sasuke ke koper, kami akan pulang besok," ucap Deidara, lalu mendekatkan kepalanya di telinga Sakura, dan berbisik, "Sasuke tidak suka makanan di rumah sakit ini. Malah dia mengajarkan seorang suster cara memasak bubur supaya ada rasanya."

Sakura mengangguk-angguk sambil mengelus dahinya yang memerah. "Ah, iya-iya, aku mengerti."

Mungkin jika dibilang secara kasar barang-barang Deidara yang lebih banyak Sakura siapkan di koper. Bahkan, hanya satu setel pakaian Sasuke dan beberapa barang yang memang penting untuk pria itu; charger, power bank, dan parfum.

"Ini seperti milik perempuan." Sakura memandang pembalut dengan bungkus berwarna merah muda itu. Berpikir masa bodoh, ia tetap memasukan semua yang ada ke dalam koper.

"Sakura, sebaiknya kalau sudah selesai kau pulang saja. Orang tuanya nanti mencari," Deidara menyarankan.

Ketika jam menunjukkan pukul 12 malam, Sakura baru selesai membereskan koper milik majikannya. Deidara sepertinya tengah sibuk berbicara dengan banyak produser acara tv. Sedangkan Sasuke sudah terlelap dari 1 jam yang lalu, tidur di sofabed dengan kepala yang diperban dan kaki menggunakan gips.

Sakura menaruh kain katun yang sudah ia lukis di rumah tadi dengan tambahan beberapa kata untuk Sasuke, meletakkannya di atas tubuh pria itu. Ia membisikkan sesuatu di dekat telinga Sasuke hingga tidak terdengar oleh Deidara yang sedang di kamar mandi. "Sasuke-san, berjuanglah..."

Malam semakin larut, hari sudah berganti beberapa jam lalu, dan Sakura masih belum menemukan bus untuk pulang. Apalagi atmosfer yang terasa semakin dingin dan malam terlalu suram, mantelnya yang robek kurang efektif menghangatkan tubuhnya.

Sakura menggosok kedua telapak tangannya, meniup beberapa kali, lalu menempelkan di pipi. Setiap malam selalu dingin di luar, tanpa pemanas rumah, rasanya Sakura akan pingsan karena kedinginan.

Seseorang dari kejauhan berjalan mendekat, bayangan hitam itu berubah semakin jelas ketika tertimpa lampu halte. Seorang pria, mungkin di atas 25 tahun, duduk di samping Sakura. Pakainnya lusuh dan kotor, mantel itu sepertinya sudah beberapa minggu tidak pernah dicuci.

Sakura bukannya takut dengan pria berambut hitam ini, yang sepertinya terus memandangi gerak-geriknya. Hanya saja, sikap waspada dari kecilnya selalu muncul ketika bertemu dengan orang asing.

Sakura berdehem pelan, sebaiknya ia jalan kaki saja, dan berhenti di halte selanjutnya. Tidak masalah jika ia bisa menghindari pria yang terus menatapnya itu.

Dengan langkah cepat Sakura meninggalkan pria itu, tanpa menoleh sedikitpun, kedua tangannya berada di dalam saku mantel. Ia terlalu gugup sehingga pandangan matanya tidak bisa bergerak, terus lurus ke depan berharap ada beberapa orang yang bisa ia ikuti.

Tapi, mimpi buruk itu ternyata tidak berhenti saat Sakura meninggalkan pria itu. Suara langkah kaki di belakang sana serentak sama dengan langkah kakinya yang tergesa-gesa.

Sakura sedikit menoleh, melihat apakah orang yang ada di belakangnya ini bukan pria aneh tadi. Saat matanya menangkap hal yang coba ditangkis dalam pikirannya, orang sinting itu memang mengikutinya, seperti mengincarnya.

Jika melangkah saja dirinya masih bisa dikejar, Sakura langsung mengambil langkah seribu, berlari seperti ia ingin menemukan orang normal yang bisa menyelamatkannya.

"Sial sekali, sih!" umpat Sakura.

Orang sinting benar-benar mengincarnya ternyata. Pria itu ikut berlari mengejar Sakura.

"Hei, Gadis Merah Jambu, maukah kau menikah denganku!" teriak pria sinting di belakang Sakura, terus berlari mengejar.

Sakura tidak tahu apa yang ia ucapkan, tapi mulutnya berteriak jijik mendengar ucapan itu. Demi apa pun, Sakura ingin menangis, ia sudah lelah berlari.

Ketika berusaha mengambil jalan pintas, ingin melewati jalan zebra, menyebrangi jalan raya, Sakura hampir tertabrak mobil yang untungnya langsung berhenti tepat setengah meter dari dirinya.

Sakura terduduk saking terkejutnya, ia melupakan jika orang sinting itu masih mengejarnya. Cahaya lampu mobil tidak ia pedulikan meski matanya tidak terbiasa dengan cahaya yang tiba-tiba menusuk matanya.

"Hei, sadarlah! Cepat masuk ke mobil!"

Suara itu. Sakura masih mengingatnya. Ia langsung mendongak, dan ternyata benar, pria yang berdiri di depannya sekarang adalah Neji.

"Hei, jangan ganggu gadis itu, dia milikku!"

Suara pria sinting itu kembali terdengar, bisa dipastikan jaraknya hampir dekat.

Sakura tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena sudah terlanjur syok dengan kejadian beberapa detik lalu.

"Sial. Baiklah kalau begitu."

Neji langsung memapah tubuh Sakura, membawanya masuk ke mobil sebelum pria sinting itu berhasil menangkap Sakura.

Hampir saja tangan pria sinting itu masuk ke dalam mobil sebelum Neji lekas menutup pintunya dan kontan tangan itu terjepit. Pria sinting mengaduh kesakitan, sambil berteriak meminta tolong.

Neji membuka pintu mobil dan langsung memiting tangan pria sinting lalu mondorong tubuh pria itu hingga terjerembab ke bawah.

Dengan cepat menutup pintu dan menginjak pedal gas mobil.

Neji menghela napas, tubuhnya mengemudi sambil bersandar. "Hampir saja."

"Tadi itu sungguh menakutkan," ucap Sakura, kembali pulih dengan keadaan semula, menatap Neji dengan air mata yang menggenang di pelupuk.

"Tidak apa-apa, yang penting kau selamat. Pria itu memang gila. Dia sering berkeliaran, sudah 2 kali ditangkap polisi karena kasus mabuk berat dan hampir mencelakai orang lain."

"Tahu dari mana kau?" tanya Sakura.

"Aku sering lewat jalan sini ketika pulang bekerja," jawab Neji santai.

Sakura terdiam. Untuk kali ini Neji tidak begitu buruk dari hari pertama pertemuan mereka. Pria ini cukup baik, dan sedikit agak formal.

"Terima kasih." Sakura menunduk, ia harus menahan malu karena selama ini sudah menganggap Neji sebagai pria kaya raya yang sombong dan angkuh.

"Sama-sama," ucap Neji, tersenyum sekilas, "ah, padahal aku belum tahu namamu, tapi sudah berani mengajak masuk ke dalam mobil."

Sakura tersenyum. "Sakura. Sakura Haruno."

Neji mengangguk, walau serius dalam mengemudi dengan mata yang fokus ke depan, namun pria itu tetap tersenyum.

"Apartemen Uchiha-san, kan?" tanya Neji, bermaksud ingin mengantarkan Sakura pulang.

"Tidak. Kau bisa berhenti di halte terdekat saja, aku bisa pulang ke rumah sendiri."

"Jangan konyol!" sergah Neji, melirik Sakura dengan ekor matanya. "Kuantar kau pulang."

Sakura hanya bisa diam. Sikap Neji memang baik, terlampau ramah, dan ia harus mengubah pola pikirnya tentang pria itu.

"Tapi, biasanya kau ke apartemen Uchiha-san." Neji berbicara pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

"Aku pulang kalau semua sudah beres dan bersih," ucap Sakura terlalu cepat. Mulut bodohnya memang tidak bisa diajak kompromi.

"Ah. Kukira kau sepupunya. Tapi, mengingat margamu beda dan matamu yang berwarna hijau, aku mulai berpikir bukan."

Sakura tersenyum lebar, hingga terkikih sejenak. Tidak seperti Sasori, yang tingkahnya terkadang susah untuk ditebak, Neji begitu santai dan bersahabat. Kelihatan tipe orang yang tidak suka banyak omong.

Mungkin lebih baik Sakura mengatakan yang sebenarnya saja. Lagi pula, Neji sepertinya bukan individu yang selalu mengurusi hidup orang, karena pikirannya yang terlihat dewasa dari pancaran wajahnya.

"Aku pembantunya Sasuke-san, makanya aku sering ada di apartemen."

Neji tersenyum menyeringai. "Ah, syukurlah. Berarti tuduhanku saat di lift beberapa hari lalu tidak benar."

Sakura mendengus, bersandar di kursi mobil. "Jangan dibahas," ucapnya, pura-pura cemberut.

Tidak bisa diprediksi, ternyata Neji tertawa, bahkan cukup keras untuk mengisi ruang mobil. "Aku tahu. Aku tahu."

Mungkin ini adalah awal untuk Sakura memiliki teman sekedar bercerita tentang kesehariannya sebagai pembantu di apartemen Sasuke Uchiha. Karena sekarang Ino bukanlah orang yang tepat, ia harus berhati-hati dengan sahabatnya itu. Tapi, ketika dengan Neji, ia seperti menemukan teman yang satu pemikiran.

Neji memang pria baik, untuk sekarang, bahkan semoga ke depannya sikap pria itu tetap seperti ini. Bodohnya Sakura yang kemarin bersikap tak acuh dengan Neji, mengambil pemikiran secara subjektif, dan rasa bersalahnya kembali melanda.

"Di mana rumahmu?" tanya Neji. Sakura memberitahu alamat rumahnya secara lengkap. Neji terkikih dan berkata, "mungkin aku bisa berkunjung sesekali nanti."

Dan Sakura hanya mengangguk sambil tersenyum.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG

: wkwk, sebenarnya aku trinspirasi gegara baca komik Sasuke sd :v taulah itu lucu banget, sumpah! Sasuke nya ooc banget, dan yg paling lucu saat Sasuke nyobain makanan manis :v wkwk sumpah guling2 dah si babang :v yosh! Semoga SasuSaku fell nya kerasa di chp ini:''')

DaunIlalangKuning: uwaaaaa makasihhh... :')))) semoga chapter ini tetap memuaskan(?), yaa ceritanyaa xD wkwk, aku kira gaada yg suka kalau si mbk Dei jadi manajernya si babang Sasu, tapi banyak yg suka juga ternyata karena kocak xD xD

Laifa: klo aku pen gantiin posis mbak Hiyori jadi siluman/wkwkwkeaaah/fans anime noragami mana suaranyaa :v tenang aja, babang Sasu ga apa2, kok :'")))

Dolphin1099: yoshh! Makasih. Sekarang udah update kok. Bacanya pas malem jumat biar tambah degdegan/apaini?#mabok v:

CEKBIOAURORAN: aku juga bingung sama hati babang Yato :'((( #nyerempetkeNoragami :v yosh! Udah update.

Asuka Kazumi: wkwk, biarpun babang Sasu kecelakaan, dia masih idup kok, kan punya susano'o #hahapaini?/itucanonwoi! Yoshh, semoga Asuka-chan ga kelamaan nunggu fic ini yaakk...

raizel's wife: klo aku malah senyum2 pas nulis adegan Sasuke sm Sakura yang lengket(?) #ahay :v berharap ga nyerempet ke adegan nganu :v /udahinsapbikinrateM :v mbk Dei sebenarnya punya ati lembut kayak salju, wkwk :v yosh, udah update.

Kirara967: hmm, sebagai pembaca ternyata kamu orangnya selektif juga ya. Maksudnya, membaca cerita sekaligus pemikir. Yup! pertanyaan kmu bagus juga. Tapi lihat aja chp ke depannya ntar, apa prespektifmu bakal tetap atau berbuah. Hehehehe#ketawajahatalaYato :v

hanazono yuri: udah update, kok^&^

williewillydoo: iya, iya, gapapa hehe... umm? Iyakah? Masa penname-nya sama, siihh :(((( kasih tau dung nama akunnya, hikzzz terpaksa bakal ubah penname nih :''(((

sitieneng4: wkwk, dan lagi2 diriku bikin mbk Dei ternistahkan huhu /maafkuen/ :'"(((

Rachel-Chan Uchiharuno Hime: halo juga. Sebelumnya salam kenal, ya, Rachel :) terims atas sarannya, hehe, sangat membantu sekali. Tapi, sebenarnya bin sejujurnya #eaahh# niatku bikin chap ini, dengan semua hal baru, hanya untuk semata-mata memberikan kosakata anyar buat temen2 semua. Terkadang hampir di setiap fic kosakatanya sudah trlalu sering dipakai, dan, karena aku orangnya cpat bosan, menurutku kosakata yg itu2 aja sudah monoton. Padahal kepinginnya biar teman2 buka sejanak kitab(?) kbbi-nya, atau searching di google biar tau artinya dan berharap supaya menambah pembendaharaan kosakata baru, biar lebih bisa berekspresi lagi^^ oke, sekali lagi makasih sarannya, Chel. semoga chap ini lebih memuaskan, yaa.. makasih :))

imahkakoeni: yosh, let's pray for mama Sakura :''))) hehe makasih, ya, Imah. Semoga chp ini memuaskan dahagamu#eaaahh#/dihajar

Jangan sungkan utk bilang kalau ada typo. Karena tdi cuman dicek setengah2. Ngebet bgt soalnya pen ngelanjutin fic yg masih blum complete—mumpung ada mood—terutama fic Our Baby.

Mind to review?

.

AiSiYA