Summary: Dua orang pembunuh bayaran bercode name Thunder dan Wind, menjadi sorotan polisi dan sebuah organisasi yang mengincar mereka. Bagaimana jadinya jika mereka ditugaskan untuk membunuh seorang anak kecil yang sudah dilindungi organisasi itu?
Dan pertarungan pun dimulai...
.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
.
.
Dae Uchiha present
Thunder and Wind
©2011
.
.
Rated: T+(gak bakal melenceng jauh kok!)
Warning: OOC—PARAH, AU, Typo(s), Miss-Typo, etc.
.
.
Satu kalimat yang dilontarkan Hinata mampu membuat sang Uchiha itu membisu. Meski kalimat itu diucapkan dengan terbata dan ada gemetar disana, kalimat itu seolah menusuk Sasuke langsung. Ya, ia memang tak punya hak atas gadis di depannya ini. Tapi, kenapa ia marah saat mengetahui berita itu? Kenapa ia mengklaim Hinata adalah miliknya?
Akhirnya obsidian itu hanya mampu menatap lekat lavender di depannya. Ameythst itu balik memandangnya, tatapan yang seolah menantang kristal kelam Sasuke. Sial. Untuk pertama kalinya, Sasuke mengakui ia terpaku pada tatapan Hinata. Lavender itu... seolah menyimpan sesuatu yang tak tersentuh oleh orang luar yang tak mengenal Hinata.
Perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke arah ameythst Hinata. Kali ini, tanpa kepura-puraan. Tanpa topeng, tanpa paksaan.
Ciuman lembut, tanpa alasan. Karena Sasuke, sama sekali tak menemukan kelogisan saat ia mencium gadis itu.
.
.
.
"Hinata? Kau tak apa-apa?" Sasori memegang pundak gadisnya pelan.
Tindakan kecilnya itu berefek besar pada Hinata. Ia tersentak kaget, sampai menjatuhkan es krim cone yang mereka beli. "Ups, maaf," ia berujar singkat, kemudian mengambil saputangan untuk mengelap tumpahan es krim pada rok seragamnya.
Sasori menghela napas kecil. "Kau berjalan sambil melamun, Hinata," ucapnya ringan, tahu jika ada nada menyalahkan dalam suaranya gadis itu akan sangat merasa bersalah.
"Umm... sedikit tidak enak badan," Hinata mengakui. Tidak. Ia berbohong. Mungkin benar ia merasa kurang enak, tapi itu bukan karena ada sesuatu yang salah dengan badannya. Ia... masih berpikir terus. Tentang kejadian tadi. Tentang ciumannya dengan seorang Uchiha di atap sekolah. Kenapa? Pertanyaan itu terus berputar-putar di benaknya, menuntut jawaban.
"Hime? Kau tampak pucat. Sebaiknya kita pulang saja," Sasori menggenggam tangan Hinata, menuntun gadis itu menyusuri trotoar yang menuju kediaman Hyuuga.
Genggaman tangan Sasori yang hangat membuat Hinata semakin merasa bersalah lagi. Pemuda itu benar-benar serius memperhatikannya. Dan ia? Dalam hati Hinata bertanya-tanya, apakah tindakannya bersama Sasuke tadi... termasuk perselingkuhan? Ukh, Hinata merasa dirinya plin-plan. Apakah... rasanya bersama Sasori masih ada? Ia jadi meragukan hal itu. Atau ia terlalu lemah pada pesona seseorang? Huh, memikirkannya saja membuat Hinata merinding. Yang jelas, pasti ada alasan untuk semua ini. Ya, pasti.
"Kita sudah sampai, Hime."
"Umm... ya, terima kasih Sasori-kun," sahut Hinata pelan. Ia tersenyum pada Sasori.
Sasori melangkah mendekati Hinata, mempersempit jarak diantara mereka. Kemudian ia semakin mendekatkan wajahnya.
Hinata panik. Entah kenapa ia harus merasa panik, ia juga tak tahu. Ayolah, ini hanya ciuman biasa, ia bergumam dalam hati. Otaknya sudah memerintahkan untuk menerima ciuman itu. Tapi ketika bibir mereka hampir bersentuhan, Hinata justru memalingkan wajahnya. Membiarkan Sasori hanya mencium pipinya. "Ma-maaf Sasori-kun." Hinata menunduk. Ia merasa serba salah.
Sasori menghela napas. Bukan karena ia ditolak, tapi karena Hinata tak bertingkah seperti biasanya. "Tidak apa-apa."
Sesaat Hinata tampak canggung.
"Kalau begitu, aku pulang dulu," Sasori berbalik, menjauhi Hinata.
"Ya," Hinata menyahut. Setelah Sasori sudah tak terlihat di sebuah tikungan, gadis itu menghela napas keras. "Aku benar-benar merasa bersalah," ia berbisik, entah pada siapa. Dilangkahkan kakinya masuk menuju rumah.
"Nona Hinata," seorang pelayan membungkuk hormat.
"Mana Hanabi?"
"Dia ada di kamarnya nona," pelayan itu menyahut.
"Ya, baiklah. Ayah?"
"Tuan Besar ada di ruang kerjanya."
Hinata hanya tersenyum, kemudian melangkahkan kaki meninggalkan pelayan itu. Ia menyusuri koridor yang menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat ia melihat salah satu kamar dengan pintu yang sedikit terbuka. Ia memasuki kamar itu, hatinya sedikit berdesir. Siapa yang membuka kamar Neji?
Ia mendorong daun pintu, kemudian menyentuhkan jemarinya ke dinding kamar. Dipejamkannya mata itu, menghirup aroma Neji di kamar itu. Aroma Neji... aroma kakaknya yang sangat ia cintai. Kakak yang meninggal dua tahun lalu.
Brukk!
Mata itu langsung terbuka, mencari sumber suara. Rupanya Hinata menyentuh sebuah buku dan membuat buku itu jatuh. Ia berjongkok, mengambil buku dengan sampul cokelat itu. Dibukanya buku itu perlahan. Tulisan Neji.
Lavendernya menelusuri setiap huruf di buku itu, dan semakin lama ia semakin terkejut.
Aku memusnahkannya, dia yang menghalangiku untuk memegang jabatan tinggi di Akatsuki... dia, dan keluarganya...
Dibalik-baliknya halaman buku itu, tangannya bergetar dan matanya berkaca-kaca.
Lima tahun telah berlalu, aku sudah melupakan kejadian itu. Tapi... kenapa ia masih ada? Sial! Pembunuh itu mengincarku! Pembunuh dengan code name Thunder. Thunderbolt...
Jadi, Neji meninggal bukan karena kecelakaan mobil?
Hinata tak tahan untuk tidak menangisi kakaknya itu. Sial, siapapun pembunuh yang bernama Thunder itu, yang jelas ia membencinya. Sangat.
.
.
.
Thunder menghela napas tak kentara. Lagi-lagi ia memikirkan kejadian tadi. Ia bisa gila jika terus-terusan seperti ini. Tidak, ia tak bisa begini terus. Ia harus menghapuskan semua kejadian tadi siang. Dan sikap posesifnya—apa-apaan itu? Ia bahkan bukan teman gadis itu, ia sama sekali tak berhak untuk berkata seperti tadi.
"Hoi teme!"
Satu teriakan itu menyentakkannya ke dunia nyata. Ia menoleh, kemudian menyahut dengan gayanya yang seperti biasa, "Hn, dobe."
"Kakek tua itu memarahiku. Katanya, 'kapan kita akan bergerak? Kenapa lamban sekali hanya untuk membunuh seorang anak kecil? Dasar payah!' Huh! Aku benci dibilang seperti itu olehnya!"
Sasuke terdiam. Tidak—lebih tepatnya berpikir. Kenapa tidak? hampir saja ia melupakan tugas utamanya; membunuh seorang anak kecil yang kini pasti masih asyik dengan kehidupannya itu. Hn. Sepertinya akan menyenangkan. Ia butuh pelampiasan, dan semakin cepat tugas ini selesai, semakin bagus untuknya.
"Baiklah dobe, kita akan bergerak malam ini."
Dan keputusan, telah dibuat.
.
.
.
Gaara menghela napas. Diliriknya gadis berambut pink yang berada di sampingnya, gadis itu asyik mengobrol dengan temannya yang berambut blonde, mengacuhkan pemuda itu.
Gadis itu...
Gadis yang ia cintai...
Ya, ia mencintai Haruno Sakura dengan sepenuh hati.
Namun akhir-akhir ini, ada yang mengganggu pikirannya. Pemuda berambut kuning jabrik yang juga merupakan teman sekelas Sakura. Bisa dibilang... rivalnya.
Rival dalam cinta, dan juga dalam pekerjaannya.
Tentu saja seorang Sabaku Gaara tidak bodoh. Ia tahu bahwa seseorang yang bernama Namikaze Naruto itu bukan sembarang orang. Dibalik cengirannya itu, ia menyimpan semua perbuatan yang dilakukannya.
Perbuatannya sebagai seorang pembunuh bayaran kelas kakap.
Sabaku Gaara tahu hal itu.
Dan masalahnya, gadis yang ia cintai sepertinya menyukai pemuda itu. Gaara sama sekali tak berhak untuk melarang Sakura menyukai siapapun—ia tahu itu. Ia akan dengan rela menyerahkan Sakuranya pada orang yang dicintai gadis itu.
Asalkan orang itu orang baik-baik.
Dan Namikaze Naruto jelas tidak masuk dalam kriteria itu.
Getar pada ponselnya menyentakkan semua pikiran pemuda itu.
"Moshi-moshi?"
"Hn, baiklah."
Ditutupnya pembicaraan itu, kemudian ia menoleh pada Sakura.
"Sakura, aku pergi dulu."
"Eh? Kenapa?"
"Aku ada urusan."
Dan dengan satu kalimat itu, Gaara pergi meninggalkan Sakura yang masih memandangnya heran.
.
.
.
Suara langkah kaki itu tak terdengar jelas, namun cukup tajam bagi seseorang yang telinganya telah dilatih untuk mendengar bunyi sekecil apapun.
Tap. Tap. Tap.
Pemuda itu mengeluh dalam hati. Ayolah, ini bahkan belum sampai setengah perjalanan, pikirnya kesal. Ia mempersiapkan sesuatu di balik saku jeansnya. Terdengar bunyi cklek pelan.
Thunder dengan cepat berputar, mengarahkan moncong pistolnya pada seseorang yang berada di belakangnya. Sial, organisasi itu sudah tahu pergerakan mereka. Ia menekan sebuah tombol yang berada di telinganya, memberitahukan Wind bahwa pergerakan sudah diketahui musuh.
Jujur, Thunder sedikit heran. Ia yakin mereka sudah bekerja serapi mungkin. Menyuruh anak buahnya mengosongkan kediaman Sarutobi—minus korban mereka, tentu saja—meski ia tak peduli apa yang orang-orang itu lakukan untuk membawa keluarga itu pergi. Yang jelas, anak kecil yang menjadi korban itu sudah tertidur pulas di kamarnya di lantai dua, siap dibunuh dan dilenyapkan.
Sudut bibir pemuda itu terangkat saat ia mengetahui siapa yang kini berada di depannya. Gadis itu masih berada disana, dengan tampang polos dan bola mata yang tampak gelisah.
"A-apa y-yang kau l-lakukan di ru-rumah sepupuku, Uchiha-san?"
Thunder berjalan mendekat, masih mengarahkan pistolnya ke arah sang gadis yang tampak semakin ketakutan. Ia mundur perlahan, beriringan dengan Thunder yang melangkah maju. Hingga akhirnya gadis itu tertahan oleh dinding ruang tamu yang kosong itu.
Thunder mengarahkan moncong pistolnya tepat di dada sang gadis. Perlahan ia menunduk, mendekatkan bibirnya agar menyentuh telinga gadis itu, "hentikan poker face-mu itu, hime... kau tahu, itu tak akan mempan bagiku." Bisiknya, lalu dengan sengaja ia menghembuskan napasnya ke tengkuk sang gadis, meski itu tak berpengaruh sama sekali.
Thunder menegakkan kembali tubuhnya, lalu menyeringai kecil, "atau kau harus kupanggil Rose, hm?"
Gadis itu tersenyum lembut. Perlahan jemarinya menyentuh pistol yang ditodongkan di dada kirinya, menurunkan pistol itu. "Boleh saja, Thunder."
Thunder mengangkat sebelah alisnya. "Darimana, kalau aku boleh tahu?"
Rose tersenyum singkat, "Uchiha Sasuke. Tujuh tahun yang lalu keluargamu terbunuh karena kebakaran. Namun kau sama sekali tidak ditemukan—ah, tidak, anikimu itu telah menyiapkan seorang anak kecil seumuranmu untuk terbunuh bersama mereka. Sialnya jasad anak itu hangus dan menyebabkan tim forensik kesulitan dalam melakukan autopsi. Mereka terpaksa mengambil kesimpulan bahwa jasad anak itu adalah kau. Kemudian, dari dua tahun yang lalu, masyarakat telah dihebohkan dengan kedatangan sepasang pembunuh bayaran, Thunder dan Wind. Korban pertamamu adalah masyarakat biasa, namun korban kelimamu adalah Hyuuga Neji, pewaris utama Hyuuga Group. Semua terkejut, bahkan Hiashi, ayah pemuda itu juga. Banyak yang mengira ia mati bunuh diri, karena tak ada jejak sama sekali tentang siapa pelaku pembunuhan itu."
"Hyuuga Neji?" Thunder menyela perkataan Rose.
"Itulah alasanku mencarimu, Thunder. Baru tadi sebenarnya. Kau tahu, kau sudah membunuh kakak kesayanganku. Tanpa jejak, dan tanpa bukti. Harus kuakui, kau hebat, Thunder."
Thunder kembali menyeringai. "Yeah, terima kasih untuk pujiannya, hime."
Gadis itu hanya menghela napas kecil, "Tidak ada yang menyadari kau berasal dari keluarga bangsawan Uchiha, karena meskipun kau memakai marga Uchiha, banyak orang bermarga sama di dunia ini. Tak ada seorang pun yang menyadari kalau kau memiliki ciri-ciri fisik yang sama dan juga otak cerdas yang sama dengan Uchiha. Dan berterimakasihlah pada hacker jenius dalam organisasimu, yang sudah mengubah datamu di kantor pemerintah, serta menghapus data-data penting tentang keluargamu. Sayangnya, Akatsuki masih mempunyai data tentang kakakmu yang menjadi anggota organisasi ini. Dan yeah, aku tahu, bahwa Thunderbolt adalah Uchiha Sasuke."
Sasuke kembali mengarahkan ujung pistol pada leher Rose. "Ya, sama sepertimu, Hime. Aku mengetahui kalau kau adalah anggota mereka karena tato di bahumu itu. Tato yang melambangkan code name mu. Tato dengan gambar mawar ungu."
"Bagaimana kau..."
"Setiap anggota mempunyai tato pada salah satu bagian tubuh, seperti anikiku juga, yang melambangkan kesetiaan mereka untuk menjunjung kebenaran. Pemuda bertato 'Ai' itu juga, kan? Darimana aku tahu? Salahkan Hoshigaki Kisame yang berkhianat setelah anikiku dibunuh Hyuuga Neji itu. Oh, dan maaf atas perlakuan kasarku di perpustakaan waktu itu."
Rose mengangkat alisnya. Teringat dengan perlakuan pemuda yang seenaknya saja kepadanya. Membuka bajunya dan membuatnya salah tingkah? Ukh, pemuda ini memang menyebalkan. Dan lagi, ia terjebak. Sial. "Jadi waktu itu... kau ingin memastikan?"
"Ya, karena sewaktu di klub malam, tato itu tak terlihat jelas meski terekspos oleh tanktop yang kau kenakan." Sasuke mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Jadi, kini mana pasukanmu itu?"
"Tidak ada pasukan," Hinata berkata ringan, ia kembali mendorong pistol Sasuke.
"Kau yakin, bisa melawanku sendirian?"
"Yeah, tidak juga sih. Apalagi Neji terbunuh karena melawanmu, kan?"
Sasuke mengerutkan alis. Ia sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran gadis ini. Hinata hanya mengenakan dress sederhana, tak ada tanda ia menyimpan senjata apapun di balik pakaiannya itu. Dan juga, gadis itu sama sekali tak merasa takut. Sasuke bisa merasakan atmosfer tegang yang berada di antara mereka menipis. "Lalu kenapa kau datang dan menyerahkan diri kepadaku?"
"Menyerahkan diri?" Hinata tertawa kecil, "siapa bilang aku menyerahkan diri kepadamu, Tuan Uchiha?" gadis itu menghidupkan lampu ruang tamu, membuat suasana terang-benderang. "Aku hanya ingin tahu bagaimana tampang pembunuh kakakku yang hebat itu."
"Lalu? Kau merasa puas?"
"Tidak, sesungguhnya aku berencana membunuhmu malam ini."
Merasa tertantang, Sasuke menyeringai, "Lakukanlah."
Hinata melangkah maju, kemudian meraih pistol dari tangan Sasuke. Ia menempelkan pistol itu pada pelipis sang pemuda.
"Tidak merasa takut?" ia bertanya balik, senyum lembut terpatri di wajah cantiknya.
"Huh?"
"Jika aku menarik pelatuk ini, kau akan meninggal."
"Sudah kubilang, lakukan saja." Sasuke berkata dengan santai. "Tapi sebelum itu..."
.
.
To Be Continued...
.
.
A/N: Gomen untuk keterlambatan yang amat sangat... Tugas sekolah numpuk, belum lagi ulangan yang terus menerjang... thanks buat semua review, gomen gak bisa disebutin satu-persatu. Buat pertanyaan-pertanyaannya, moga bisa kejawab di chap ini. Gomen untuk alur yang dipercepat, dan segala kesalahan yang lain.
Review, please?
