Lutung Kasarung
a/n: Nah, kali ini cerita dari Sunda yang direquest sama Tenshi-Kamimaru dan zerOcentimeter. Setelah dipikir-pikir, kemungkinan (kemungkinan, lho) fic ini bakal Rika update seminggu sekali, jadi sabar ya..
Disclaimer: Naruto dan cerita Lutung Kasarung bukan punya Rika.
Warning: BL, perubahan pada cerita seperlunya, AU, OOC.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Story Start~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Disuatu tempat didaerah Sunda, tersebutlah sebuah kerajaan yang damai. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja bernama Raja Minato.
Raja Minato berperawakan lumayan tinggi, berkulit sawo matang, dan memiliki rambut pirang serta mata biru yang cerah. Dia juga adalah seorang raja yang baik dan rendah hati, karena itu dia sangat disayangi oleh rakyatnya.
Tapi, sudah beberapa lama ini Minato terlihat gelisah. Tidak ada seorang pun di kerajaan tahu penyebabnya, sampai suatu hari istrinya, Kushina, menanyakan hal tersebut.
"Aku Cuma bingung, sayang. Kamu tahu kan, aku sudah tua, dan anak kita harus menggantikanku nanti." jawab Minato. Kushina Minato menyambung perkataannya lagi, "Aku tahu, menurut tradisi, aku harus mengangkat Deidara, putera pertama kita sebagai Raja."
Kushina menghela nafas. 'Jadi ini masalahnya.' pikirnya. "Minato, aku tahu, kamu sebenarnya ingin mengangkat Naruto sebagai raja kan? Tapi kamu sendiri juga tahu kalau hal itu ditentang oleh tradisi." ujar Kushina.
"Aku tahu, tapi, aku tidak akan bisa tenang kalau Deidara yang memimpin kerajaan kita. Kamu juga pasti tahu kan, kebiasaan buruk Deidara? Pesta, minum-minum, boros, tidak peduli pada orang lain.... sementara Naruto, dia adalah anak baik, peduli orang lain, dan yang paling penting, dia dicintai oleh rakyat kita."
Kushina terdiam. Sebenarnya dia juga sudah tahu kebiasaan buruk puteranya itu. Dan, dia juga sebenarnya khawatir bila Deidara yang memimpin kerajaan mereka. 'Apa boleh buat? Tradisi tetap harus dijalankan.' pikirnya.
Sayang, apa yang ada dipikiran Minato jauh berbeda. Akhirnya dia membuat satu keputusan yang bisa dibilang gila pada masa itu. "Yak, aku sudah memutuskan, aku tidak peduli dengan tradisi macam itu, aku akan menjadikan Naruto sebagai raja." ucapnya.
Kushina terkejut. "Tapi, Minato, bagaimana kalau nanti kita dikutuk?" kekhawatiran terlukis diwajahnya.
"Tenang saja, sayang, tidak ada hal semacam itu. Semua pasti hanya takhayul saja." bisik Minato lembut di telinga istrinya.
Akhirnya, meskipun masih sedikit khawatir, dia tidak berkata apa-apa lagi untuk menentang suaminya, karena dia juga sejujurnya lebih memilih Naruto.
Tanpa diketahui oleh mereka, ada sesosok yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka dibalik pintu.
xXx
Di taman
"Pangeran Deidara! Pangeran Deidara! Gawat!" teriak seorang laki-laki yang dari penampilannya telihat seperti pelayan.
Pria yang berambut pirang yang terlihat sedang berbicara dengan pria yang berambut merah langsung menengok ke arah datangnya suara. "Ada apa sih, Itachi, un? Gak liat apa aku lagi mesra-mesraan sama danna, un?" tanya orang yang dipanggil Pangeran Deidara tersebut.
Itachi langsung berlutut dihadapan mereka. "Maaf atas kelancangan hamba, Yang Mulia Deidara, Yang Mulia Sasori." ucapnya.
Sasori, sosok yang dipanggil oleh Deidara degan sebutan 'danna' tersebut hanya mengangguk kecil, sementara Deidara menampakkan wajah kesal.
"Ya sudah, un, memangnya ada apa sih? Kok kayaknya penting gitu, un?" tanya Deidara, meski dalam nadanya masih ada kesan tidak senang.
Itachi lalu berdiri dan menatap pangerannya. "Begini, pangeran, tadi saya sedang jalan di lorong istana, lalu saya melewati ruang kerja Paduka Raja. Saat itu, saya mendengar bahwa Paduka Raja akan mengangkat Pangeran Naruto menjadi penggantinya." ujar Itachi.
"APA?! Ayah akan mengangkat bocah itu? Tidak bisa dibiarkan begini, un." luapan emosi terdengar jelas dari suaranya. "Kamu boleh pergi sekarang, un." ujarnya pada Itachi. Itachi langsung pergi setelah sebelumnya memberi hormat ke Sasori dan Deidara.
Setelah Itachi pergi, Deidara langsung bergelayutan di lengan Sasori. "Gimana nih, danna? Bisa gawat kalau nanti Naruto yang jadi raja, un. Aku jadi ga bisa berkuasa dong, un." katanya dengan nada manja.
Sasori terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Tenang aja, Dei, aku punya rencana bagus. Kamu tinggal tunggu aja disini." Lalu Sasori mencium Deidara kemudian bergegas pergi.
"Tunggu danna, kamu mau kemana, un?" tanya Deidara dengan bingung.
Sasori tersenyum manis, senyum yang hanya bisa muncul jika dia berada bersama Deidara. "Aku pergi gak lama kok, kamu tunggu dulu ya? Nanti kalau udah balik baru aku kasih tau."
"OK, un. Tapi janji ya, jangan lama-lama, un."
"Iya, aku janji." ucap Sasori. Dia lalu mencium Deidara lagi dan pergi.
'Hmm... sebenernya danna mau kemana ya, un?' pikir Deidara curiga, tapi setelah beberapa lama akhirnya dia memutuskan untuk menunggu saja lalu pergi ke kamarnya.
xXx
Di sebuah gua
"Sudah kuduga kau akan datang kesini, Yang Mulia Sasori." ucap seorang laki-laki dengan kulit sepucat mayat dan rambut hitam panjang. Meskipun dari nada yang digunakan sudah jelas dia tidak menghormati laki-laki di depannya itu, apalagi menganggapnya mulia.
"Tidak usah banyak bicara, Orochimaru. Aku datang ke sini hanya karena kau adalah dukun terbaik di Kerajaan ini." balas Sasori dingin.
"Hhh... dingin seperti biasa, huh? Baiklah, katakan apa yang kau butuhkan, Sasori."
"Aku mau kau memantrai Naruto."
"Memantrai? Memantrai seperti apa? Kau ingin dia jatuh cinta padamu?" ledek Orochimaru.
"Jangan macam-macam. Aku ingin kau memantrai dia hingga dia bisa diasingkan keluar kerajaan ini."
"Baiklah. Aku akan melakukannya. Tapi kau harus menunggu beberapa hari sebelum mantranya bekerja."
"Bagus, bayarannya akan kau terima bila Naruto sudah terkena mantra tersebut." Sasori lalu beranjak pergi meninggalkan gua tersebut.
xXx
Di istana
Deidara sedang tidur ketika dia mendengar ada seseorang yang membuka pintu kamarnya. "Uhh... danna, un?"
"Ya, ini aku, aku sudah pulang." ujar Sasori lalu mengecup dahi Deidara.
"Selamat datang, un. Kau sudah janji kan, akan memberitahu rencanamu begitu kau pulang, un?" tanya Deidara dengan antusias. Rasa kantuknya seperti hilang begitu saja digantikan oleh rasa penasarannya.
Sasori tersenyum kecil. Tunangannya itu memang tidak sabaran. "Baiklah, jadi begini, tadi aku pergi ke tempat dukun Orochimaru. Aku memintanya untuk memantrai adikmu agar dia diasingkan dari sini." jelasnya.
"Memantrai apa, un?"
"Aku juga tidak tahu dia pakai mantra apa, tapi yang pasti, dia adalah dukun tersakti di kerajaan ini, jadi tidak mungkinn gagal. Lebih baik kita tunggu saja beberapa hari."
Deidara hanya mengangguk, kemudian dia menguap. Sasori yang melihat hal itu langsung merebahkan tubuh Deidara di kasur. "Tidurlah. Tadi kamu lagi tidur kan?"
Deidara menggeleng sambil mencoba duduk kembali dan berkata, "Aku nggak mau tidur, un."
Tetapi Sasori tetap menahan tubuh Deidara, membuat laki-laki pirang itu tidak bisa duduk. "Tapi kamu harus tidur, sayang. Semalam kan kamu nggak tidur gara-gara pesta sama Hidan kan?"
Deidara akhirnya menyerah untuk berusaha duduk akhirnya merebahkan dirinya di kasur. "OK, tapi aku maunya tidur sama danna, un." ucapnya manja.
Sasori, yang tahu bahwa Deidara tidak bakal tidur sebelum dia mengiyakan permintaannya akhirnya melepaskan laki-laki tersebut lalu beranjak ke sisi lain ranjang itu dan merebahkan tubuhnya di kasur, menghadap Deidara. Deidara langsung menyelinap kedalam pelukan sasori. Tidak sampai beberapa menit, keduanya sudah tertidur lelap.
xXx
Beberapa hari kemudian
'Ukh.. kulitku kenapa sih? Kok merah-merah begini ya? Apa aku alergi?' pikir Naruto. Dia memicingkan mata birunya untuk melihat kulit tangan dan kakinya yang tadinya berwarna coklat kini menjadi kemerahan. 'Ah, biar saja deh, paling bentaran juga sembuh.'
Tapi, ternyata tidak. Beberapa jam setelah memerah, ternyata kulitnya juga mulai menghitam dan mengeluarkan bau tak sedap. Melihat gejala yang tidak baik, Naruto melapor ke ayahnya.
"Ayah, aku rasa ada yang aneh deh. Coba lihat kulitku, tadi berwarna merah, sekarang sudah menghitam, mana bau lagi."
Minato, yang saat itu sedang membicarakan sesuatu dengan Deidara langsung menuju ke tempat Naruto. "Kok bisa begini? Emang kamu main dimana aja, Nar?" tanyanya.
"Ih, ayah, kok nanyanya gitu sih.. gini-gini kan aku juga ga mungkin main ditempat yang kotor banget sampe jadi kayak gini, kali. Lagian, seharian ini aku ga kemana-mana kok." jawab Naruto.
Deidara, yang dari tadi diam saja akhirnya angkat suara. "Mungkin ini kutukan kali, un." ujarnya seraya menuju ke tempat Naruto.
"Kutukan?" Minato menaikkan alisnya tanda tidak mengerti.
Sang pangeran sulung lalu menghela napas. "Iya, kutukan, un. Ayah mau mengangkat dia jadi raja kan? Makanya leluhur kita ga senang, un." jelasnya.
Minato terkejut. Seingatnya dia belum memberitahu siapa-siapa tentang hal itu kecuali istrinya, dan istrinya juga tidak mungkin membocorkan hal tersebut.
"Bagaimana kau bisa..."
"Udahlah, yah, aku udah tahu kok, un. Keliatan banget dari sikap ayah, un." sela Deidara.
Ketiga laki-laki pirang itu terdiam. Naruto karena syok baru tahu bahwa dirinya akan diangkat jadi raja, Minato karena sedang memikirkan kata-kata putera sulungnya, dan Deidara... karna dia sedang menunggu ayahnya mengambil keputusan.
Sayangnya, Minato kelihatannya kesulitan mengambil keputusan, jadi, Deidara memutuskan untu mengakhiri kesunyian tersebut.
"Ayah yakin nih ga apa-apa, un? Sekarang Naruto yang dikutuk, jangan-jangan nanti seluruh kerajaan malah kena kutukan, lagi, un." ucapnya.
Lagi-lagi, Minato memasang pose berpikir, tapi tidak lama. Beberapa saat kemudian, dia menatap Naruto. "Naruto, maafin ayah ya? Kayaknya kamu harus pergi dulu deh dari kerajaan ini, kemungkinan, itu bakal bisa bikin kamu balik kayak semula, ya?"
Naruto tersenyum dan berkata, "Ga apa-apa kok, yah, tenang aja, demi kerajaan kita aku pasti bakal ngelakuin apa aja."
Minato balas tersenyum, hanya saja senyumnya menunjukkan kesedihan, sama seperti mata Naruto. Sementara Deidara sudah bersorak-sorak di dalam hatinya.
"Ayah, gimana kalau ke hutan aja, un?" tanya Deidara.
Minato yang tadinya sedang tatap-tatapan dengan Naruto pun menoleh ke arah Deidara. "Hah? Apanya yang ke hutan, Dei?" Minato balas tanya. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh anaknya itu.
Deidara lagi-lagi menghela napas. "Ayah gimana sih? Kan tadi ayah bilang Naruto mesti keluar dari kerajaan ini kan, un? Jadi aku pikir mending dia ke hutan aja, lebih aman, daripada dia pergi kemana-mana, un." jelas Deidara.
Minato lalu mengalihkan pandangannya kearah Naruto, seakan menanyakan pendapatnya.
"Kayaknya hutan ga jelek juga, pasti seru." kata Naruto tiba-tiba sambil tersenyum lebar, meski matanya tidak dapat berbohong.
"Nar.."
"Tuh kan, yah? Naruto aja setuju, un." sela Deidara lagi.
Minato hanya bisa menghela napas dan menatap Naruto dengan sedih. "Baiklah kalau begitu."
"OK, yah, aku pergi dulu ya." Naruto langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Deidara juga pergi menuju ke pintu. "Dah, un."
Minato tersenyum ke kedua anaknya lalu duduk di kursinya. Naruto....
xXx
Di kamar Naruto
Sekembalinya dari ruang kerja ayahnya, Naruto langsung menumpahkan air mata yang selama ini ditahannya. Semalaman itu dia menangis tanpa henti. Hatinya sakit memikirkan dia akan diasingkan ke hutan, tapi, rakyatnya akan terkena kutukan, dan dia tahu apa yang menjadi tanggung jawabnya, maka itu dia dengan lapang dada menerima kenyataan bahwa sebentar lagi dia akan meninggalkan istana dan orang-orang yang disayanginya.
xXx
Di kamar Deidara
Deidara baru menutup pintu kamarnya ketika dia merasakan tangan Sasori melingkari pinggangnya. "Gimana, sayang? Lancar?" bisik Sasori ditelinga Deidara.
"Lancar, un. Ayah dengan mudahnya setuju buat ngebuang dia ke hutan, un." sahut Deidara.
"Bagus. Berarti rencana kita berhasil, Dei. Tinggal tunggu waktunya sampai kamu jadi raja." bisik Sasori lagi. Kali ini, dia membalikkan tubuh Deidara dan mencium bibirnya. Pertama-tama ciuman yang lembut, lalu, perlahan tapi pasti, ciuman tersebut berubah menjadi ciuman penuh nafsu.
Mereka berciuman cukup lama sebelum akhirnya Sasori memisahkan bibir mereka. Deidara merengut.
"Kenapa berhenti, un?" tanyanya.
Sasori tertawa kecil. Deidara terpesona mendengar tawa dari tunangannya tersebut. Sasori memang sering tersenyum kepadanya, tapi kalau tertawa... Deidara tidak pernah menyaksikan Sasori tertawa, meskipun tertawa kecil. Sebenarnya, Sasori juga tidak tahu kenapa ia tertawa. Mungkin karena mendapat kabar kalau Deidara akan dinobatkan sebagai raja, atau mungkin karena Deidara yang dirasanya hari ini sangat manis? Sasori tidak terlalu peduli dengan alasannya, jadi, dia tidak memikirkannya lagi.
"Maaf, Dei, tapi kamu tuh besok ada acara penting kan sama tamu-tamu dari luar? Apa jadinya kalau nanti sang pangeran mahkota ga dateng gara-gara badannya sakit?" jelas Sasori.
Deidara merengut. Lagi.
"Kan bisa aja, kalau aku yang.." kata-katanya terpotong ketika Sasori meletakkan jari telunjuknya di bibir Deidara.
"Sst.. mending kita tidur aja ya? Besok kamu ga boleh bangun telat lho.."
Karena tahu kalau apa yang dikatakan Sasori itu benar, akhirnya dengn berat hati Deidara lalu pergi tidur. Sasori tersenyum melihat pria pirang itu, sebelum kemudian menyusulnya.
xXx
2 hari kemudian
Di gerbang istana, terliihat seorang pemuda dengan pakaian sederhana. Sebenarnya wajah pemuda tersebut tampan, hanya saja, karena banyak bercak hitam dikulitnya, ketampannannya jadi tak terlihat. Pemuda tersebut sedang dipeluk oleh seorang wanita.
"Naruto, kamu jaga diri baik-baik ya. Jangan lupa makan, jangan main kotor-kotor, hati-hati sama binatang buas, lalu.." kata-kata Kushina belum sempat selesai karena sudah terpotong oleh Naruto lebih dulu.
"Sudahlah, bu. Tenang aja. Aku bisa jaga diri kok, sekarang, aku pergi ya?"
Minato, yang berdiri disamping Kushina memeluk Naruto dan berkata, "Maaf kan ayah ya, Naruto? Ayah bukanlah ayah yang baik."
Naruto hanya tersenyum dan menjawab ayahnya, "Siapa bilang? Ayah itu ayah paling baik sedunia tahu!"
Mendengar perkataan anaknya, Minato tersenyum.
"Ya sudah, aku pergi ya? Dah!" ujar Naruto seraya melambaikan tangannya kemudian pergi.
Sementara orangtuanya sedang bersedih karena adiknya pergi, Deidara malah sedang berada di pesta salah satu temannya.
xXx
Di khayangan
"Sasuke! Apa yang telah kamu lakukan?" terdengar suara bentakan dari salah satu ruangan di dalam bangunan yang sangat megah.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja." jawab seorang pemuda yang sepertinya bernama Sasuke itu.
Pemuda itu memiliki rambut dan mata berwarna senada. Hitam. Kulitnya berwarna putih. Wajahnya cukup tampan, tapi terlihat dingin, meskipun sedang dimarahi seperti itu.
"Tidak sengaja?" terdengar lagi suara bentakan. Ternyata itu adalah suara dari Dewi Tsunade, dewi yang paling tinggi derajatnya di khayangan.
"Ya, tidak sengaja, tadi saya sedang berlatih kekuatan saya dilapangan, tapi tiba-tiba angin bertiup dengan kencang kearah gudang, karena itu sake anda terbakar semua." jelas Sasuke.
"Aku tidak peduli! Sengaja atau tidak, kau sudah membakar semua persediaan sakeku, karena itu aku akan membuangmu ke Bumi." Seru Tsunade. Saat itu juga Sasuke terhisap oleh sebuah lubang yang entah sejak kapan ada di belakangnya.
xXx
Di hutan
"Hhh... akhirnya selesai juga aku merapikan gubuk ini. Untung saja ayah masih bisa menyuruh orang membuatkanku tempat tinggal dalam 1 hari, meskipun hasilnya cuma gubuk sih." Naruto bicara pada dirinya sendiri. 'Ayah, Ibu, Kak Dei... mereka sedang apa ya?' pikir Naruto. Tak terasa bulir-bulir air mata terjatuh lagi dipipinya.
"Stop! Ini bukan saatnya nangis! Mending sekarang aku cari makanan dulu." ujar Naruto untuk menyemangati dirinya sendiri.
Ketika sedang mengumpulkan bahan makanan, Naruto melihat sosok berbulu sedang dalam posisi tiduran.
'Apaan tuh?' pikirnya. Lalu dia menghampiri sosok itu untuk melihatnya lebih dekat. "Hah? Lutung?" ucapnya secara tidak sadar ketika melihatnya lebih dekat. Rupanya, suara Naruto telah membangunkan lutung tersebut.
"Lutung-lutung, enak amat kamu ngomong, hah? Aku manusia tau!" ucap lutung itu.
Mata Naruto membulat sempurna. "GYAA!!! Ada lutung bisa ngomong! Ngaku manusia lagi!"
Lutung tersebut menutup telinganya. "Heh, dobe, bisa nggak sih ga usah teriak-teriak gitu? Berisik tau!"
Tapi Naruto rupanya masih kaget, jadi masih kalap. "Lutung bisa ngomong! Lutung ngaku manusia! Aku udah gila!!!!!" teriaknya.
Akhirnya, karena kesal, lutung tersebut menjitak kepala Naruto. Naruto langsung diam.
"Nah gini dong, tenang." Naruto hanya bisa memegangi kepalanya yang benjol.
"Nah, sekarang coba jelasin, kenapa kamu bilang aku itu lutung?" tanya lutung itu.
Naruto sempat bengong sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Habis, kamu berbulu, punya ekor, terus jalan pake 2 kaki sih. Kalo bukan lutung apalagi?"
"Hah? Aku berbulu?" si lutung kaget.
Naruto mengangguk. "Bener kok, kalo ga percaya sini deh aku ajak kamu di sungai."
Setibanya disungai lutung tersebut melihat pantulan dirinya sendiri dan benar-benar syok.
"Aku... jadi lutung? Oi! Dobe!"
Naruto, yang merasa satu-satunya makhluk yang ada disana jelas langsung nengok kearah lutung tersebut.
"Dobe, dobe! Namaku Naruto tau! Bukan dobe, dasar teme!"
"Heh! Brani-braninya mangggil aku teme?! Namaku Sasuke, bukan teme."
"Biarin! Emang aku pikirin? Kamu juga manggil aku dobe kan? Jadi fair dong kalau aku manggil kamu teme."
Lutung yang ternyata Sasuke itu kesal lalu membalas perkataan Naruto lagi, sehingga siang itu meraka habiskan dengan adu mulut.
Sorenya, ketika Sasuke dan Naruto sudah lelah adu mulut, akhirnya mereka ngobrol biasa.
"Teme, kamu kenapa? Katanya manusia, kok bisa jadi gini?" tanya Naruto.
"Aku juga ga tau, pokoknya bangun-bangun gini." jawab Sasuke. Sebenarnya Sasuke menyimpan kebohongan karena dia berkata bahwa dia adalah manusia. Aslinya dia adalah seorang dewa.
Begitulah mereka setiap hari, bertengkar, berbagi cerita, dan sebagainya. Hingga pada suatu hari, karena kasihan melihat kulit Naruto, Sasuke akhirnya membawa Naruto ke danau yang sangat bersih.
"Wah, teme, hebat juga kamu, bisa tau danau sebersih ini." ujar Naruto senang.
"Hn. Sudah, mandi aja sana."
Akhirnya Naruto pun mandi disana. Betapa kagetnya dia ketika selesai mandi dan mendapati bahwa bercak hitam ditubuhnya sudah tidak ada, dan sekarang dia sudah wangi kembali.
"Teme! Ini semua berkat kamu! Makasih ya!" karena terlalu senang, Naruto secara tidak sadar memeluk Sasuke.
"Lepasin! Kamu apa-apaan sih, sesak tau!" omel Sasuke.
"Iya, iya, maaf, aku kan cuma refleks doang."
"Udahlah, mending kita pulang." kata Sasuke. Mereka pun pulang ke gubuk mereka.
Saat itu, tidak sengaja ada seorang pemburu lewat, dan ketika dia melihat bahwa Naruto sudah sembuh, dia segera melapor ke rajanya.
xXx
Di istana
"Apa benar yang telah kamu katakan itu, Neji, un?" tanya Deidara
"Benar, Yang Mulia, saya yakin karena saya melihatnya sendiri. Pangeran Naruto sudah sembuh total, bercak hitamnya sudah menghilang, juga sudah wangi." jawab pemuda yang dipanggil Neji tersebut.
'Ternyat a mantranya sudah hilang ya? Payah.' pikir Deidara.
"Baiklah kalau begitu aku akan menjemputnya." terdengar suara seorang pria. Otomatis, Deidara dan Neji menengok untuk melihat siapa yang datang.
"Eh? Ayah, un?" Tanya Deidara.
"Tunggu apalagi, Dei? Ayo cepat siapkan pasukan untuk menjemput adikmu." Minato berkata.
"Tidak, un. Aku tidak mau, un."
"Deidara, kamu tidak boleh egois begitu. Sekarang cepat jemput adikmu."
"Baiklah, un. Tapi, Naruto baru boleh pulang kalau dia menang lomba sama aku, un."
"Ya sudah, tapi, bawa dulu dia kesini." jawab Minato.
Sekitar 2 jam kemudian, datanglah Naruto dan Sasuke ke istana.
"Ayah! Ibu! Kak Dei!" teriak Naruto senang.
Minato dan Kushina langsung menghampiri anak mereka, sementara Deidara tidak mempedulikannya sama sekali.
"Naruto, jangan seneng dulu, un. Kalau kamu mau tinggal disini lagi, kamu mesti menang lawan aku, un." ujarnya . Sasori yang berada dibelakangnya hanya tersenyum licik.
"Ha? Baiklah, aku terima. Apa pertandingannya?" jawab Naruto. Dia terlihat bersemangat.
"Pertandingan pertama, lomba masak. Siapa masak paling cepat dan enak yang menang. Jurinya adalah rakyat yang sudah berkumpul disini. Siap.. Mulai!" ujar salah seorang pengawal disana.
Naruto yang baru datang terang saja kebingungan sendiri. Dia tidak tahu ingin membuat apa, berapa banyak, dan dia juga hanya sendiri. Berdua kalau Sasuke dihitung, sementara kakaknya bersama puluhan pelayan yang membantunya.
Tanpa diketahui Naruto, Sasuke sudah meminta bantuan bidadari untuk menolong Naruto, karena itu, tanpa Naruto sadari, masakannya sudah berada diatas meja. Sementara Deidara belum selesai. Karena setalah dicicipi ternyata masakan Naruto lebih enak, maka diputuskan bahwa Naruto lah pemenangnya.
"YEY!!! Aku menang, sekarang aku bisa pulang!" ujar Naruto senang.
"Tunggu dulu, un. Siapa bilang pertandingannya sudah selesai? Sekarang baru pertandingan yang sebenarnya, un. Kita tanding pasangan siapa yang lebih cakep!" ujar Deidara lalu dia tertawa.
"Nah, sekarang jelas kan? Aku yang menang, karena danna itu cowok paling cakep se-kerajaan, sementara pasangan kamu itu lutung, un. Hahahahaha.. Itu artinya kamu ga boleh balik ke sini, un. Sana pergi!" usir Deidara.
Saat Naruto sudah putus asa, tiba-tiba dia mendengar suara Sasuke, "Tunggu!" Lalu muncul asap disekeliling tubuhnya dan Sasuke pun berubah menjadi seorang pemuda yang sangat tampan.
"Nah, sekarang, kalian yang memilih, lebih tampan aku atau dia!" kata Sasuke kepada rakyat yang sedang menonton sekaligus jadi juri sambil menunjuk Sasori.
Karena Sasuke adalah seorang dewa dan Sasori manusia, jelas rakyat semua memilih Sasuke yang memang memiliki wajah sangat tampan.
Melihat ketampanan Sasuke dan hasil pilihan rakyat, akhirnya Deidara mau tidak mau mengaku kalah. Tapi, karena kebaikam hati Naruto, Deidara masih boleh tinggal di istana.
"Teme! Kok kamu ga bilang-bilang sih kalau kamu cakep begini?" tanya Naruto setelah perlombaan selesai.
"Hn, buat apa aku bilang? Lagian, kalau dulu aku bilang kamu juga pasti ga percaya."
"Lho? Tapi kan kalau aku ga percaya kamu bisa berubah langsung?"
"Ya nggak lha, dobe. Yang tadi itu kebetulan. Mungkin Dewi Tsunade udah ga marah sama aku."
"Dewi? Kamu kenal sama Dewi? Jangan-jangan kamu sebenernya dewa ya?" tanya Naruto dengan mata berbinar.
Sasuke mendengus. "Tadinya iya, tapi udah nggak, Dewi Tsunade udah menghukumku. Sekarang aku cuma manusia biasa."
"Bagus deh kalau begitu!"
"Bagus?" Sasuke heran.
"Iya bagus. Kalau gitu kamu bisa tetep bantuin aku kan?"
"Dasar dobe, itu sih udah pasti, bahkan biarpun aku jadi dewa lagi, aku ga bakal balik ke khayangan. Aku bakal terus ada disini.."Muka Naruto memerah. "karena kamu itu ceroboh, jadi ga bisa ditinggal." lanjut Sasuke.
Naruto yang sempat tersipu jadi kesal.
"Dasar teme!!!!" Naruto mengejar Sasuke, tapi kemudian justru dialah yang ditangkap oleh Sasuke. Setelah yakin kalau Naruto ada di pelukannya, Sasuke mengecup bibir Naruto lembut.
"Aku cinta kamu, Naruto."
Naruto membeku beberapa saat sebelum akhirnya menarik kerah baju Sasuke dan mempertemukan kembali bibir mereka.
Sejak saat itu, kerajaan yang dipimpin oleh Sasuke dan Naruto berkembang pesat dan sangat disegani.
Tamat
a/n: wkwkwk selesai juga.. kalau ada yang mau nanya: ini perasaan fic SasuNaru, kenapa jadi banyakan SasoDei-nya ya? Mungkin gara-gara author yang tergila-gila sama SasoDei kali ya? Gomen buat yang ngarepin banyak SasuNaru-nya. Terus, di chapter ini, ratenya dinaikin jadi T, soalnya, kayaknya ada bagian yang ga cocok buat anak-anak sih. Btw, ini chapter paling panjang di CRNV lho... sekitar 3000 kata. *bangga* XD
Kayaknya sekian doang author's notenya.
Sekarang, balesan review:
Naru-mania: Iya, aku buatin, karna kamu yang pertama kali request, jadi pertama kali aku buat juga. Eh? Pinter ngembangin cerita? Masa sih? Aku pikir malah jadi aneh *ga pe-de*, tapi, makasih ya. ^^
Chapter ini udah selesai, sampai ketemu di chapter depan, dan jangan lupa, review.=)
