Melukis Langit

Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.

Rate: T

Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.

Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.

.

.

.

.

.

.

.

IV: Guardian Angel.

.

.

.

.

.

.

.

"An angel bring the sinners tears of joy"

.

.

.

.

.

.

Alibaba berdiri di depan kelasnya, Baritone 2. Ia kelihatan agak gondok, karena tidak diperbolehkan masuk oleh coach Yamuraiha di kelas vokal kali ini. Cowok pirang itu sibuk dengan ponsel barunya yang berbasis Android. Sejak semalam, ponselnya riuh dari Whasapp Mesengger. Bukan karena ponsel barunya, tetapi kasus Hakuryuu yang kehilangan kunci motornya. Cowok dari kelas Tenor itu curhat tentang dia yang dimarahi ibunya dan kakak perempuannya. Biasanya dia menjemput kakak perempuannya di SMA Kou.

Saat ia sibuk main hape, coach Yunan lewat dengan Kepala Sekolah, yang membawa banyak barang bawaan nggak jelas. Alibaba langsung berdiri, menjabat tangan sang Kepala Komite.

"Lho, Alibaba? Kamu kelas Baritone 5, kan?" tanya pria pirang berkepang dengan jas kebesaran itu.

"Saya ada di Baritone 5 hari senin, selasa dan jumat, coach."

"Kok gitu?" tanya sang Kepala Komite agak bingung.

"Kan kelas Baritone 5 itu kelas gitar, coach."

"Jadi, hari ini kamu di Baritone 2?"

"Iya, coach."

"Oalaaaaah." Katanya. "Kok bisa?"

Alibaba bercerita bahwa ada sekitar 60 murid yang mengikuti dua kelas sepertinya, kelas vokal dan kelas instrumental. Dan cuma G.I Sharrkan yang 'bandel' buka kelas instrumental di kelas vokal.

"Kenapa sekarang nggak masuk?" tanya coach Yunan lagi.

"Eh? Anu, saya telat, coach."

"Telat berapa lama?"

"Ada mungkin 45 menit-an."

"Gurunya sekarang siapa?"

"I...itu. Coach Yamuraiha."

Coach Yunan menatapnya dengan penuh iba. Pria itu merangkul Alibaba dengan empati tinggi dan berkata,

"Yang tabah ya, nak! Besok-besok, datanglah lebih pagi."

Alibaba hanya pasang tampang pokerface, dan tersenyum paksa mendengar tanggapan tersebut.

.

.

.

.

.

.

.

"Jafar-san jerawataaaaan!"

Jafar tersenyum kecil mendengar Aladdin berteriak begitu ketika ia datang. Judal sedang sibuk dengan laptopnya, seperti biasa, beberapa bulan ini Jafar akhirnya rutin menjalani terapi hormon, dan minggu kemarin dokter menyatakan hormon testoteronnya sudah dalam ambang normal. Meskipun gejala Sindrom Kallman seperti indera penciuman yang tidak berfungsi baik dan sinkinesis tidak bisa secara sembuh dengan terapi medis, namun Jafar cukup senang karena tubuhnya bisa terasa lebih segar.

Soal suara, ajaibnya suaranya tidak pecah terlalu jauh. Range vokalnya hanya turun satu oktaf. Namun suara aslinya sendiri menjadi lebih serak, terdengar lebih lirih seakan-akan ia terdengar seperti habis menangis.

"Kenapa Jafar-san tiba-tiba mau terapi hormon lagi?" tanya Aladdin.

"Mm? Karena dokterku BBM, ada bahaya lain jika salah satu hormon vital seperti testoteron, tidak bekerja. Katanya, bisa mempengaruhi kerja hormon yang lain."

"Eh? Masa?"

Jafar mengangguk. "Aku tidak begitu mengerti, sih. Waktu aku BBM Aladdin kalau aku sudah lebih dari dua minggu insomnia padahal sudah sudah olahraga, makan dan lain-lainnya itu. ternyata kata dokter aku kelebihan hormon adrenalin."

"Kalau sekarang?" Aladdin membuka kotak bekalnya, menyeruput sekotak jus apel.

"Yah, jauh lebih baik. Cuma aku jadi jerawatan, kumisan, jenggotan, tumbuh bulu di betis dan tempat-tempat lain. Tapi sekarang sih sudah tidak lagi."

"Katanya Kepala Sekolah, dia tidak mencukur bulu ketiak, bulu kaki dan bulu dadanya biar dibilang macho." Kata Aladdin. "Aku dengar waktu dia main futsal sama para coach."

"Ewh," Jafar bergidik. "Jorok ah, Aladdin. Kan setiap orang beda-beda. Aku sih nggak suka buluan. Jadi beli lotion untuk waxing."

"Pantesan sekarang Kepala Sekolah sudah agak bersihan. Jafar-san yang suruh?"

"SHH!" Jafar membekap mulut Aladdin, wajahnya bersemu.

"Oh, iya."

Aladdin memamerkan sebuah buku sketsa ukuran A3, dengan sampul berwarna tembaga dan bergambar macam-macam jam. Di dalamnya, ia mencetak foto-foto Alibaba Saluja dengan berbagai pose dan ukuran, membentuk sebuah mozaik unik.

"Kalau aku berikan ini untuk ulangtahunnya, dia suka atau tidak, ya?"

"Wie weet? Geen kwaad om te proberen." Kata Jafar lembut.

.

.

.

.

.

.

.

Istirahat kali ini, Alibaba berjalan kearah atap sekolah. Ini sebenarnya daerah paling dijauhi di sekolah ini karena sepi, dan akses kesananya lumayan jauh. Namun ia kesini atas undangan seseorang. Saat Alibaba membuka pintu menuju atap sekolah, yang dia lihat hanyalah hamparan luas seperti lapangan yang dikelilingi pagar kawat tinggi, beberapa lusin solar panel dan drum air, serta seseorang yang mengundangnya.

"Judal?"

Si empunya nama menoleh, memberikan isyarat untuk mendekat. Ialah yang tadi mengirimkan pesan singkat kepada Alibaba, bahwa hari ini ia ingin menghabiskan waktu istirahat bersama cowok pirang itu. sudah dua minggu lebih, jurang permusuhan mereka lenyap, tergantikan oleh status 'teman dekat'.

"Ada apa?" tanya Alibaba.

"Berikan ini pada temanmu, Hakuryuu itu. Aku menemukannya di taman belakang kalian."

Jemari panjang Judal yang bengkok-bengkok menjatuhkan kunci motor gigi ke genggaman Alibaba. Judal bercerita, kemarin dari atap ia melihat cowok dari kelas Tenor itu mencium Morgiana, cewek yang selama ini dia sukai. Dan saat bel masuk berbunyi, ia mengeluarkan secarik kertas hafalan dari sakunya, sehingga kunci motornya terjatuh.

"Oh, oke." Kata Alibaba, menyingkirkan rambutnya yang berkibar-kibar tertiup angin dan menghalangi pandangannya. "Kau suka kesini?"

Judal tidak menjawab. Ia menarik tangan Alibaba, menunjuk sebuah hampar kosong yang ternyata adalah pemandangan asli sekolah ini. Lawrence School of Music berbentuk letter J dengan sebuah tower ditengahnya, yang merupakan kelas Instrumental. Tower ini tidak memiliki tangga, dengan jalan meliuk dan menanjak sebagai jalan satu-satunya. Di setiap lantai ada dua buah kelas. Dan di lantai dasar ada perpustakaan yang pernah Aladdin dan Alibaba datangi. Dari puncak tower ini, Judal bisa melihat seisi sekolah dari berbagai penjuru.

"Keren banget, ya!" decak Alibaba, maju beberapa langkah untuk melihat lebih jelas.

"Awas!" Judal tiba-tiba mendorong Alibaba hingga tersungkur.

"Aduh! Apa-apaan, sih?!"

Judal terlihat serba salah. Ia mengelap tangannya ke celananya, lalu membantu memberdirikan Alibaba. Cowok pirang itu menyadari bahwa dia menginjak sebuah garis putih. Sepertinya Judal menggambar diatas hampar luas atap tower yang berlapis beton ini.

"Maaf, aku tidak tahu." Kata Alibaba. Judal hanya diam, lalu mengangguk.

"Ini apa?" Alibaba berdiri disebelah Judal, memiringkan kepalanya.

Lukisan Judal terlihat surealis. Ia banyak menggambar lingkaran tak sempurna dengan banyak segitiga. Yang ia gambar adalah seorang lelaki, yang dikelilingi oleh sesuatu yang banyak dan kelihatan rumit serta bertumpuk hingga nyaris menutupi gambar besar si lelaki tersebut. Ada gambar uang, beberapa jenis kendaraan, emas dan berlian, orang-orang lain, mahkota raja, adegan intim, tempat-tempat mewah seperti gedung besar dan rumah mewah, makanan-makanan mewah, hewan-hewan dan lain sebagainya. Namun pria itu terlihat sedang berlari menuju sebuah tangga panjat, dan diujung tangga itu digambar sebuah tanda panah besar, dan panah itu menunjuk sebuah tanda tanya besar. Lukisan itu tidak sekedar coret-coretan. Bidangnya penuh, dan setiap gambar sangat detail.

"Itu lukisan."

"Kau tidak memberinya judul?"

"Buat apa? Lukisan hanya lukisan. Memberinya judul atau nama tidak akan membuatnya hidup, lalu lari-larian, kan?"

"Kau ini pesimis sekali, ya?" Alibaba menggaruk pipinya. "Boleh aku tahu, apa yang kau lukis, Judal?"

Judal menatap Alibaba sebentar, lalu menengadah ke langit yang cerah dengan cuaca yang tidak begitu panas meski ini pertengahan hari. Ia menunjuk pria yang dia lukis.

"Itu manusia," Katanya. "Manusia dengan kehidupan yang serakah. Ia ingin melepaskan diri dari apa yang selama ini manusia lainnya nikmati."

Judal kembali menarik Alibaba, ke gambar tangga, lalu tanda panah dan tanda tanya besar. Seluruh lukisannya dibuat dengan kapur warna-warni, yang bertebaran di dekat sebuah kotak kecil.

"Kalau begitu, saat dia lepas dari kehidupan duniawinya, setelah itu apa?" tanya Judal retoris.

Alibaba terperangah. "Mm? Mungkin dia ingin lebih dekat dengan Tuhan."

"Memang bisa?" Judal duduk di sebelah tanda tanya besar itu. "Tuhan kan jauh sekali."

"Bisa, tentu saja." Alibaba duduk di sebelah Judal. "Tuhan memberikan kita, mata, hidung, telinga, mulut, tangan, kaki, pikiran dan hati agar kita bisa mendekatkan diri kepada-Nya."

Judal menatap Alibaba datar. "Aku tidak tahu caranya."

"Mau kuajarkan caranya?"

Alibaba bercerita pada Judal tentang apa yang diajarkan mendiang ibunya waktu kecil. Tentang malaikat yang diciptakan dari cahaya untuk melindungi, memberikan rezeki dan membimbing kehidupan manusia agar dia bisa bersyukur kepada Tuhannya.

"Malaikat itu seperti apa?" tanya Judal polos. "Karena aku tidak pernah lihat, aku jadi tidak begitu mempercayai eksistensinya."

Alibaba mengangkat bahunya. "Bisa apa saja. Kau takkan pernah tahu, atau tidak akan pernah menyadarinya."

Judal kelihatan kecewa.

"Eh, tapi ibuku mengajarkan juga, bagaimana caranya berbicara dengan malaikat yang menjagamu."

Judal tidak kelihatan mengerti. Ia mendengus, membuang muka.

"Berikan tanganmu."

Judal menatap Alibaba sesaat, lalu menjatuhkan kedua tangannya saja ke tangan Alibaba. Cowok pirang itu menggenggam tangan Judal dengan lembut, namun sikapnya begitu khidmat.

"Pejamkan matamu. Dengarkan suaraku baik-baik, lalu ulangi dalam hatimu. Oke?"

Judal menurut. Tangan Alibaba besar, telapaknya kasar dan buku-buku ujung jarinya kapalan, khas seorang gitaris. Namun jemarinya yang ramping mentransfer kehangatan tangannya melalu sela-sela jari Judal, hingga sampai ke hatinya.

"Wahai malaikat yang menjagaku, aku berbicara padamu. Terima kasih, telah menjaga dan membimbingku tetap di jalan yang lurus. Semoga kau mendengar dan mengamini doaku. Aku berharap, dapat menjadi hamba Tuhan yang selalu bersyukur."

Angin kencang berhembus melewati mereka berdua. Menerbangkan debu dan dedaunan kering. Membuat rambut dan pakaian mereka berkibar-kibar. Saat Judal membuka mata, ia merasa pelan-pelan dadanya menghangat, seulas senyum secerah sinar mentari yang begitu tulus menyambut pandangan pertama yang membuatnya menitikkan airmata.

"Judal, kau baik-baik saja?" Tanya Alibaba bingung.

Ya,

Judal kini melihat malaikat—yang selama ini tidak dipercayainya.

.

.

.

.

.

.

.

Alibaba sedikit gugup, ia duduk disebuah kursi yang sangat besar, yang bahkan saking besarnya ia mungkin bisa duduk bersebelahan dengan seorang lagi yang seukuran dengan tubuhnya. Di hadapannya terhidang cokelat panas dengan sepoci kecil krim kental dan satu cup kecil berisi gula dan kayu manis bubuk seukuran sachet. Coach Yunan melihatnya dengan pandangan supportif, begitu juga dengan kepala sekolah. Namun tujuh coach dan seorang siswa Countertenor dan seorang Wakil Kepala Komite tidak demikian. Pandagan interogatif-lah yang mereka tunjukkan seakan-akan Alibaba Saluja siap diadili dalam persidangan.

Sidang?

Ini adalah Rapat Komite. Dimana Alibaba adalah ketuanya. Bisa apa bocah 18 tahun menghadapi musisi-musisi kelas kakap seperti mereka? Scheherazade menyodorkan satu gepok printed out yang dijepit dengan staples.

"Ini adalah naskahnya. Angélous kai Daímones. Kau akan mengomposisi lagu yang secara langsung bertolak belakang. Berikan sedikit warna anak muda. Dan juga, jangan terlalu lepas dari pake Opera, karena Opera ini akan ditampilkan didepan para orangtua murid."

"I...Iya." kata Alibaba.

Cowok pirang itu membaca naskahnya. Ceritanya tentang teori konspirasi gereja khatolik. Illuminati, organisasi atheisme, peperangan di akhir dunia. Apa ini? Isinya filososfis sekali. Untuk orang dengan penafsiran pas-pasan macam dia ini sangat sulit dimengerti. Bagaimana dia akan mengarahkan teman-temannya untuk membuat semua ini. Beberapa lagu yang dicantumkan Scheherazade adalah lagu-lagu gospel dalam bahasa Italia, yang Alibaba pelajari bersama coach Spartos di kelas harmoni (meski Alibaba lebih sering tidur daripada memperhatikan) lagu-lagu itu hanya bisa dinyanyikan oleh angel voice alias koor gereja yang rata-rata adalah Tenor, Sopran dan Countertenor yang terlatih.

"Tentukan saja jadwal latihannya. Itu mudah, kan?" kata Scheherazade lagi.

"Ini buatan Anda?" tanya Alibaba.

"Iya, tentu saja. Aku selalu menjadi penulis naskah Opera dari tahun ke tahun. Itu adalah bidangku. Kami semua percaya dengan kemampuanmu. Aku yakin, bagimu ini tidak sulit."

"Oh." Gumam Alibaba. "Tapi anak remaja usia belasan tidak akan mengerti teori konspirasi, Mademoiselle."

"Itu tugasmu." Katanya. "Bagaimana membuat teori itu dipahami anak-anak seumurmu."

"Tetapi," Alibaba menyanggah. "Bukankah jika dengan naskah ini, yang bermain hanya dari kelas Tenor dan Sopran, atau Countertenor? Bagaimana dengan kelas-kelas lain?"

"Menonton." Jawab Scheherazade egois. "Kelas Baritone dan Mezzo-Sopran menurutku terlalu mainstream untuk dijadikan patokan Opera, Monsieur Saluja. Mereka tidak punya karakter."

Alibaba meminum coklatnya yang sudah tidak panas. Ia memikirkan, apakah tidak terlalu rasial jika membiarkan murid-murid lain hanya menonton? Apalagi, jika tamunya adalah orangtua murid sendiri. Bukankah ada suatu kebanggaan jika orangtua melihat anak-anaknya tampil. Naskah coach Scheherazade terlalu sulit untuk dinikmati langsung. Alibaba ingin sekali membuat Opera yang bisa dinikmati siapa saja, dan tidak terlalu rumit,

Bukan yang seperti ini.

"Tenang saja," Scheherazade tersenyum. "Seluruh coach akan membantu. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan teman-temanmu."

Alibaba terdiam, pandangannya berubah menjadi sengit. Ia menarik seulas senyuman miring yang sama sekali tidak seperti dirinya yang biasa.

"Kalau saja," katanya. "Aku lebih membutuhkan bantuan teman-temanku, aku tidak membutuhkan bantuan kalian, kan, para coach?"

Seluruh peserta rapat tercenggang. Scheherazade berdiri dengan raut muka geram. Coach Yunan menatap Alibaba dengan senyum penuh teka-teki.

"Anak egois!" raung Scheherazade. "Opera adalah harga diri dari Lawrence School of Music!"

"Anda sendiri kan yang bilang bahwa kalian semua percaya denganku?" balas Alibaba.

Ia pelan-pelan berdiri, lalu melempar naskah itu begitu saja ke udara. Puluhan lembar kertas berterbangan tidak jelas, berhamburan dimana-mana. Alibaba Saluja mundur, meninggalkan ruang rapat dengan satu desisan penuh dendam dalam Bahasa Perancis,

"Ne sous-estimez jamais votre élève avec un script stupide comme ça, salope. Ils sont encore plus génial que vous avez jamais imaginer. Au revoir."

Blam.

Pintu tertutup dengan damai. Dua detik kemudian, Scheherazade mengamuk.

"ANAK JADAH! BIAR KUPENGGAL KEPALAMU SUPAYA KAU MENGERTI UNTUK TIDAK MELECEHKAN SENI DENGAN CARA SEPERTI ITU!" Teriaknya, yang bahkan membuat para coach yang lain menutup telinga—dan membuat meja serta tembok sedikit bergetar. "Sinbad, tulis surat keterangan bahwa Siswa kelas Baritone 2 yang bernama Monsieur Alibaba Saluja dinyatakan dikeluarkan secara tidak hormat dari Lawrence School of Music!"

Sinbad terdiam. Ia hanya mengeluarkan sehelai surat dengan kop, lalu menyerahkannya berserta pena kepada Sharrkan.

"Kenapa, kau tidak bisa menulis sendiri!?" bentak Scheherazade yang masih terbakar amarah.

"Surat keterangan hanya berhak diajukan oleh Supervisor sang siswa, Mademoiselle. Kepala sekolah tidak berhak secara langsung. General Instructor Sharrkan adalah Supervisor Alibaba Saluja untuk tahun ajaran ini." Jawab Sinbad kalem.

"Hanya karena anak itu melempar naskahmu yang membingungkan dan mengataimu perempuan jalang, dan membanggakan teman-temannya, menurutku untuk dikeluarkan rasanya terlalu berlebihan." Ujar Masrur, yang anehnya mau buka suara. "Aku suka idenya. Tetapi ucapannya tadi memang agak keterlaluan."

"Harus agak maklum juga." Jafar mengaduk-aduk kopinya dengan krimer yang banyak. "Supervisornya juga agak kurang ajar, kok."

"Enak saja." Gerutu Sharrkan. "Kenapa sih Alibaba selalu disamakan denganku?"

"Memang sama." Jawab enam coach yang lain, disertai Kepala Sekolah dan Kepala Komite.

"Baiklah." Sharrkan menghela nafas.

Coach Yunan menghela nafas. Mengamuknya Scheherazade membuat kepalanya berdenging. Ia menatap seluruh coach yang ada dihadapannya, lalu melirik satu-satunya siswa Countertenor di ruangan ini, yang kelihatan tidak terlalu tenang. Seperti ada yang mengganjal di langit-langit mulutnya.

"Kau punya sesuatu dalam Bahasa Belanda untuk disampaikan, Jafar?"

"Ik denk dat hijeen talent.Laathij doetwat hij wil." Kata Jafar bijaksana.

Kepala Komite berpikir sebentar. "Kau begitu mempercayainya. Maukah kau menjaganya untuk kami sebagai perwakilan para coach, Jafar?"

"Ik zal over hem waken." Kata Jafar mantap.

Coach Yunan berdehem, mengambil perhatian seluruh peserta rapat.

"Sinbad, aku minta maaf akan merepotkanmu. Tetapi, bisakah kau membuat surat kuasa untuk menyerahkan pertanggung jawaban pembina Opera darimu kepada Jafar?"

"Jafar sendiri?" pekik Sinbad panik. "Tapi...tapi..."

"Hanya pembimbing untuk anak kita Monsieur Saluja. Sisanya, para coach yang membantunya. Tapi, tolong bergerak secara underground, ya." Kata coach Yunan.

"Mengapa Anda begitu mempercayainya, coach?" tanya Jafar.

"Dia percaya pada teman-temannya. Alibaba Saluja akan punya lebih dari 1700 crew untuk Opera ini. Lagipula," Coach Yunan beranjak pergi. "Anggap saja ini tes pelantikan Jafar menjadi seorang coach."

Rapat ditutup dengan keterkejutan semua orang. Para coach keluar dengan pikiran masing-masing. Sementara Jafar, berlari mengejar kemana perginya Alibaba Saluja.

.

.

.

.

.

.

.

A/N:

*Wie weet? Geen kwaad om te proberen: Siapa tahu? Tidak ada salahnya mencoba.

* Ne sous-estimez jamais votre élève avec un script stupide comme ça, salope. Ils sont encore plus génial que vous avez jamais imaginer. Au revoir: Jangan pernah meremehkan murid-murid Anda dengan naskah konyol seperti itu, perempuan jalang bodoh. Mereka bahkan lebih jenius dari anda bayangkan. Selamat tinggal.

* Ik denk dat hijeen talent.Laathij doetwat hij wil: kurasa dia punya bakat. Biarkan dia lakukan apa saja yang dia suka.

* Ik zal over hem waken : aku akan mengawasinya.

Waaaaaaaaaaa akhirnya apdeeet. Thanks to my lovely cute evernote yang bisa membuat saya mengetik naskah bab empat ini. Sepertinya Alibaba bakalan agak repot. Hayo, nanti Aladdin sama Judal berantem looooh #spoiler #duak.

Yosh, segitu ajadeh bacotannya. Jangan lupa RnR yaaaaa!