Chapter 3.5 : Prince

Nee.. Sadayasu-sama. Apakah kau ingat pertama kali kita bertemu?

Waktu itu, di saat kau masih memiliki tubuh yang kecil. Wajah riangmu mengalahkan sinar mentari musim panas. Bahkan sengatan darimu mengalahkan dirinya.

Kakimu berlari kencang dan tidak kenal lelah. Bahkan teman-temanmu selalu mengeluh atas kekalahan mereka terhadapmu. Walaupun begitu, uluran tanganmu membuat mereka bangkit dengan berapi-api. Sungguh laki-laki idaman.

Layaknya seorang pangeran di negeri dongeng. Pangeran itu berwajah tampan, kuat, berani, namun rendah hati dan selalu mengukurkan tangan untuk memberi bantuan kepada warga nya. Ketika aku melihatmu lewat jendela gudang lusuh itu, aku dapat melihat sosok pangeran yang aku suka. Apakah kau sedang menyamar menjadi orang biasa, Sadayasu-sama?

"Pangeran?" Tanyamu setelah mendengar cerita karangan dariku. Dulu, Mikazuki-sama senang menceritakan dongeng kepada ku sebelum aku membuat mimpi malamku menjadi lebih indah. Cerita seorang pangeran adalah cerita kesukaanku. Sampai-sampai aku mengulang cerita itu kembali ke pedang Sanjou lainnya sampai mereka bosan dengarnya.

Aku tersenyum ke arahnya. Tak lupa aku tunjukkan gigiku yang rapi. Anak kecil memang menggemaskan ketika mereka tidak sengaja menunjukkan kepolosan mereka. Maafkan aku yang pernah berharap dan mendoakanmu agar kau tidak tumbuh dewasa untuk selamanya.

Aku mengangguk dan menjawab pertanyaan darimu. "Benar. Apakah kau tidak ingin menjadi pangeran yang aku ceritakan sebelumnya?"

Suara kunyahan darimu terdengar. Kau selalu membawa dua onigiri ke gudang dan makan bersama ku. Walaupun aku tidak dapat merasakan lapar, aku masih dapat merasakan lezatnya buatan sang Ibu yang telah membuat bekal untuk anaknya. Mungkin aku belum pernah mengatakan hal ini kepadamu.

Oh, aku lupa menjelaskan bahwa kau memiliki indra keenam yang bahkan dapat melihat sosok roh pedang seperti ku. Namun, kau merahasiakannya dari orang lain terkecuali Ibumu yang kau cinta. Andaikan aku menjadi Ibu untukmu, apakah kau juga akan mencintaiku?

"Yah.. bagaimana ya.. aku tidak memiliki garis keturunan kepala klan. Tidak mungkin aku menjadi sosok pangeran yang terdengar keren itu."

"Belum tentu yang menjadi kepala klan mempunyai keturunan dari kepala sebelumnya." Jelasku mengingatkannya.

"Tsurumaru suka dengan pangeran?"

Suka denganmu, sih. Apakah waktu itu kau mendengar isi hatiku?

"Aku suka. Aneh, ya.. laki-laki menyukai pangeran di negeri dongeng."

Tidak sesuai dugaanku yang biasanya kau selalu tertawa bahkan mengejek menggeleng dan berkata, "enggak kok. Berarti aku harus berusaha agar kau menyukaiku."

Aku menyengir tapi hatiku sudah berdegup dengan tempo tidak tidak boleh menanggapnya berlebihan dengan ucapan dan nada polosmu. "Hee.. aku doakan yang terbaik untukmu."

"Hehe.." Jeda, ia menghabiskan sisa onigirimiliknya. "Oh aku lupa.. bukannya pangeran harus punya tuan putri?" Tanyamu lagi.

"Memangnya kau ingin tuan putri?" Tanyaku balik.

"Iya! Aku ingin Tsurumaru menjadi tuan putriku!"

Dari situlah aku berpikir kalau aku tidak perlu menjadi Ibumu agar kau mencintaiku.

.

.

.

.

Nee.. Sadayasu-sama. Aku masih ingat ketika kau diangkat menjadi kepala klan. Kau sangat bersinar waktu itu.

Ketika kau dinaikkan Tahta nya di usia muda, aku dapat melihat sosok pangeran layaknya cerita dongeng. Dengan wajah tampan, gagah, pemberani, ditambah saat itu usia muyang sangat muda. Layaknya sebongkah berlian bersinar, tidak cuman satu yang tertarik kepadamu.

"Sekarang kau sudah memiliki saingan yang banyak." Pedang Onimaru Kunitsuna yang duduk di sebelahku adalah pedang kedua milikmu. Tidak mungkin kau melupakan bahwa kau memiliki Tenka Goken yang paling dipuja di Jepang. Tampilan roh nya juga sesuai dengan pedang. Kunitsuna memiliki wajah tampan dengan topeng setan yang ia ikat ke samping wajahnya. Badannya pun benar-benar tegap seperti Mikazuki-sama. Aku sempat iri karena nya. Bisa-bisa kau jatuh hati pada pedang kuat itu.

"A-apa yang kau bicarakan, Kunitsuna?"

"Kau selalu menatap Sadayasu-dono dengan tatapan aneh. Seperti perempuan yang jatuh hati kepada laki-laki lain." Jelasnya sambil tersenyum bangga. Ia suka melihatku salah tingkah.

Aku pukul lengannya dengan pelan. "Hei! Aku laki-laki, tahu!"

"Tidak ada laki-laki yang berwajah cantik seperti ini." Balasnya seraya menangkup segera melepaskan kedua tangannya ketika aku merasakan dia mencoba untuk mencubit pipiku.

"..Tapi, Kuninaga.. jika Sadayasu-donomenikah, kau harus merelakannya."

"Aku tidak bisa." Jawabku cepat.

Kunitsuna menghela napas dan berkata, "jika kau tidak ingin tuan kita bahagia, kau boleh berdoa agar ia tidak menikah untuk selama-lamanya."

Ucapan Kunitsunaku lakukan. Aku tidak rela jika kau menyukai orang lain dibandingkan denganku. Aku tidak peduli kalau kau tidak akan mendapatkan keturunan atau kebutuhan biologismu tidak terpenuhi. Yang penting kau masih seperti dulu, menginginkanku untuk menjadi tuan putri mu.

Tapi aku ingin melihatmu bahagia.. dan kau harus bahagia bersamaku.

.

.

.

.

Aku tidak mau ini teringat. Namun, pikiranku selalu menunjukkan gambar ketika darah keluar dari mulutmu.

Luka tusukannya tepat mengenai jantungmu. Aku tidak tahu pedang apa yang mereka gunakan. Pedang tersebut terlalu tajam bahkan dapat menembus ziarahmu.

Waktu itu, kau sudah terbaring lemah di atas padang rumput luas. Kini warna hijau segar harus dinodai dengan warna dosa. Tidak, ini bukan salahmu. Musuhmu yang membuat padang rumput harus kotor karena darahmu.

Aku hanya memegang tanganmu dengan erat. Aku juga berdoa agar rekan-rekanmu dapat membalaskan dendam mereka.

"Tsurumaru.. se-sepertinya.. aku gagal menjadi pangeranmu." Bisikmu sebelum darah keluar dari mulutmu.

"Jangan berbicara. Nanti darahmu semakin berkurang."

Tapi kau hanya tertawa. Walaupun pelan, aku dapat melihatmu tertawa dengan mendengar suara kekeh pelan darimu. Untuk orang yang sekarat, kau nyali juga untuk tertawa di depan malaikat maut.

"..maaf.. aku terlalu lemah untuk menjadi pangeran."

"Kubilang jangan bicara!" Aku berteriak frustrasi ke arahmu. Kau tidak pernah berubah. Dari dulu, kau adalah orang yang keras kepala. Pantas saja Ibumu selalu memberi hukuman terhadapmu.

Setelah itu, aku masih ingat hangatnya taganmu ketika menyentuh pipiku. Untuk orang yang sekarat, tanganmu masih hidup untuk menghapus air mataku. Telapak tanganmu begitu kasar, tapi kau mencoba mengelus wajahku dengan lembut.

"Nee.. Aku tidak mau bila seorang putri ditinggal pangerannya.

"Jadi.. aku tidak ingin disebut pangeran karena telah meninggalkanmu. Maafkan aku, Tsurumaru Kuninaga."

Kupegang erat tanganmu yang masih menempel di wajahku. Tanganmu tidak dapat membendung kesedihan dariku. Tapi kau tetap berusaha agar wajahku tidak basah.

"Maka dari itu, jangan tinggalkan aku.." Setelah itu, kau sudah pergi dariku. Sekarang, aku tidak dapat menyebutmu pangeran lagi. Sayang sekali, padahal sebutan itu sangat cocok untukmu.

.

.

.

.

Nee.. Sadayasu-sama.. aku menemukan sosok pangeran layaknya cerita dongeng yang aku ceritakan ke kamu dulu.

Dia adalah pedang yang ditempa oleh Awataguchi Yoshimitsu. Pakaiannya seperti seorang pangeran, berwajah tampan, ramah, sopan, dan sayang terhadap adik-adiknya. Tidak hanya itu, dia juga kuat melebihi diriku. Mungkin ia dapat bersaing dengan Tenka Goken seperti Mikazuki dan Kunitsuna.

Tapi ia tidak sama sepertimu. Ia gampang sekali emosinya terpancing. Ia juga tidak segan untuk kasar terhadapku ketika aku melakukan kesalahan di mata nya. Jujur, aku sempat takut terhadapnya. Seperti ada orang lain di dalam dirinya. Mungkin sosok itu adalah Tenka Hitofuri yang sempat tertidur pulas di dalam tubuhnya.

Membencinya? Sempat. Tapi ia melakukannya demi diriku.

Ia pernah berkata kalau ia tidak rela jika aku meninggalkannya. Ia tidak rela jika diriku dekat dengan orang lain. Terdengar mengurung diriku, namun ia juga pernah berjanji untuk tidak meninggalkanku. Ia tidak sepertimu. Ia bukanlah orang yang rela meninggalkanku.

"saya tidak mau menyia-nyiakan nyawa saya dan tetap melindungi diri Anda dan adik-adik saya selama hidup. Bukan meminta Anda untuk tidur bersama mayat yang membisu.

Intinya, saya tidak akan meninggalkan Anda."

Aku senang ketika kalimat-kalimat itu keluar darinya. Tapi, apakah ia mau disebut pangeran?

Di malam hari, ketika daun sudah habis berguguran dan siap untuk menyambut putri salju. Aku mengajak pedang itu minum sake berdua di teras halaman belakang. Tidak peduli dengan suhu dingin yang menusuk. Karena keberadaan Ichigo dapat melindungiku dari hawa dingin sang putri salju. Tidak hanya minum, kami juga berbincang dan membahas lain-lainnya. Tidak mungkin aku membahas masa lalu karena Ichigo sedikit lupa terhadap masa lalunya seperti kedua adik wakizashi nya.

"Sebutan itu selalu saya dapatkan.. apalagi Gokotai yang senang dengan cerita dongeng." Ucapnya ketika setelah mendengar cerita ku tentang cerita pangeran yang aku suka dari dulu. Sudah kuduga ia akan menjawab seperti itu. Pakaian tempurnya membuat semua penghuni terkesima. Bahkan Nihongou langsung mempercayai adanya pangeran di dunia nyata.

"Kau senang dengan sebutan itu?" Tanyaku kepada Ichigo. Aku juga menuangkan cawan miliknya ketika ia sudah menghabiskan sake nya.

"Bukannya pangeran harus punya tuan putri?" Tanya nya balik.

Aku sempat tersedak dengan sake ku sendiri setelah mendengarnya. Pertanyaan itu persis seperti yang kau tanyakan padaku dulu."Ya sudah.. Kau cari saja tuan putri nya." Jawabku sedikit ragu. Jika aku menjawab persis seperti dulu, pasti jawaban yang sama akan membuat jantungku berdegup kencang.

"Dasar sok tidak peka." Ia menarik tubuhku ke dekapannya. Rasa hangat menyelimutiku. Wajahku sudah memerah akibat sake dan tindakannya. Apalagi jantungku berdegup kencang dan aku tahu kalau Ichigo dapat mendengarnya.

"Aku terlalu liar untuk dijadikan tuan putri, wahai pangeran terhormat." Aku ngomong dengan sejujurnya. Aku memang terlihat haus darah dari musuh. Sudah kebiasaanku dari dulu yang dijadikan pedang perang.

"Tuan putri yang kuat menjadikan nilai anggun bertambah, Tsurumaru-dono.. maka dari itu..

"Bantu saya untuk mewujudkan cerita dongeng yang Anda suka, Tsurumaru-dono."

Aku membalas dekapannya. Aku berusaha menyembunyikan wajah terkejutku darinya. Ucapan dari Ichigo selalu tidak dapat ditebak. Mungkin dari situlah aku menyukai pedang tampan itu.

"Bagaimana caranya? Menjadi tuan putri mu?" Tanya ku kepadanya.

"Menjadi tuan putri dan tidak pernah meninggalkan saya. Saya tidak akan menjadi pangeran yang Anda suka jika tuan putri tidak di samping pangeran."

Ah.. andaikan dari dulu aku bertemu dengan pedang ini, aku tidak perlu mencari sosok pangeran dengan susah payah.

Aku benarkan, Sadayasu-sama?

To becontinued

Author'snote :

Halohaaaa... coretankecil balik lagii.. cerita ini aku terinspirasi dengan fanficku sebelumnya. Coba aja cek di akun fanficku, disitu ada cerita IchiTsuru juga lho :D

Aku sengaja buat selingan antara chapter 3 dan 4 supaya ada sedikit riddle di sini. Chapter 4 mungkin akan lebih panjang dan publish nya juga perlu banyak waktu. Apalagi aku sudah masuk kuliah :( (sialnya ku bertemu dengan rumus lagi huhu)

Oke sekian dariku ya! Komen, fav, saran yang membangun danapapun itulah membuat aku semangat untuk melanjutkan cerita nya lho :v

-coretankecil