~_~Arishima Byun Present~_~

oO~Oo

...

...

Title: Who are you?

Chapter 3

Main cast: Byun Baekhyun, Bian Baixian, Park Chanyeol, Kris

Support Cast : Sehun, Luhan, Kai, Kyungsoo, (cast bertambah sesuai alur)

Length: Chaptered

Genre: school-life, drama, comedy & crime (litbit saya gak yakin)

Rate: T+

Summary:

"Milyaran orang sesempurna apapun takan ada yang bisa menggantikanmu"

.

.

WARN!BOYXBOY!

DON'T LIKE, DON'T READ

.

.

Check it out.

.

.

Semua orang diruangan rapat itu bertepuk tangan menyambut perkembangan saham perusahaan yang melonjak naik. Para pejabat perusahaan itu menatap bangga pada sosok tinggi berkharisma yang satu satunya berdiri didepan layar dengan infokus yang menayangkan hasil pencapaian strategi proyek oleh Kris Wu.

"Tuan Wu, anda benar-benar hebat memiliki putra seperti Kris. Kudengar Kris juga seorang guru. Aku benar-benar iri melihatnya"

Pria berumur setengah abad lebih itu hanya tersenyum puas mendengar pernyataan dari rekan kerjanya itu. Kedua sudut bibir yang sudah keriput itu tersenyum begitu lebar. "Hahaha" pria itu tertawa khas. "aku sendiri tak menyangka anak nakal ini bisa sepintar sekarang" jawabnya bangga seraya menatap Kris yang tengah bersalaman dengan petinggi lain.

"haha. Apa putramu sudah punya seseorang yang mendampinginya? Orang sesibuk Kris harus memiliki seorang istri setidaknya untuk membuatkannya kopi bukan?"

Pria berambut nyaris memutih itu tertawa ringan. "seharusnya begitu." Sahutnya mengangguk-angguk. "tapi aku hanya ingin memasrahkan masalah itu padanya saja. Aku yakin Kris lebih mengerti apa yang terbaik untuknya"

"ya tentu saja." Rekannya tertawa garing. Seharusnya bukan jawaban itu yang ingin dia dengar dari Tuan besar Wu itu. Kedua pria paruh baya itu melangkah keluar diikuti oleh yang lain.

"kau benar-benar bisa melakukannya oh? Aku terkejut"

Kris berhenti tersenyum lalu matanya beralih pada seseorang yang sama tingginya tengah berjalan kearahnya. Para petinggi lain mulai berjalan keluar ruangan. Hanya menyisakan beberapa orang. Hal itu membuat Kris ingin menyamarkan diri agar orang dihadapannya tak menghampirinya seperti sekarang. Setidaknya jika banyak orang, mantan temannya ini tak akan menghapirinya.

"benarkah? Kau kemari untuk memberiku selamat? Memberiku pujian?" tanya Kris setenang mungkin. Kedua tangannya berada disaku celana diam-diam mengepal.

"pujian tidak akan membuatmu kenyang kau tahu?"

"lalu hal lain apa sampai kau berani menghampiriku?"

Pria berambut hitam dengan poni keatas itu tersenyum sinis seraya mengalihkan matanya pada kedua orang yang berusia setengah abad itu yang semakin menjauh. Membuat Kris ikut menolehkan pandangannya kearah dimana ayahnya dan juga ayah dari orang dihadapannya ini tengah berbincang seraya berjalan menjauhi ruangan.

"sore tadi Appa memintaku untuk mengenalkan adikku padamu. Namun aku menolaknya"jelas orang itu. Kris kembali menatap mantan temannya itu.

"baguslah. Aku tak perlu memohon padamu untuk tidak mengenalkannya"

"tapi sepertinya aku harus memohon padamu kali ini" Kris mengernyitkan dahinya –menatap mata bulat itu intens.

"jangan pernah menerima apapun yang ayahku tawarkan tentang Luhan adikku" Kris terkekeh kecil.

"kau tidak perlu memohon pun aku menyanggupi"

"mana bisa aku percaya padamu begitu saja. Setelah apa yang kau lakukan pada dia?"

Kris terdiam. Tangannya semakin terkepal. Jika saja ruangan ini hanya berisi dirinya dan orang dihadapannya ini saja, Kris tak segan-segan memberikan tinjunya.

"aku tak tahu apa yang telah kau lakukan padanya, tapi jelas kau pasti merusaknya. Iyakan?"

"yak Choi Minho!" Kris mendesis pelan. "Kau tak tau apapun tentangnya. Berhenti menyalahkanku karena aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Kau bahkan hanya orang luar yang tak tau apapun. Jadi berhentilah mengungkit masalah itu. Semuanya sudah selesai sekarang" ucap Kris menahan suaranya untuk tindak meninggi. Ia pun berjalan keluar ruangan setelah berpamitan dengan yang lainnya.

Pria tampan berjas itu menatap punggung Kris yang semakin menjauh. Tak ada ekpresi yang diperlihatkannnya. Meski pada kenyataannya ia menekan dalam-dalam rasa khawatir itu.

"semuanya belum selesai Yifan. Kau yang memaksakan ini berakhir"

...

Tuut...

Tuut...

Tuut...

Klik...

"Mwo!"

Kris terkekeh geli mendengar nada rajukan seseorang diseberang sana. Mobil putih mewah yang dikendarainya itu melesat menuju apartemennya bersama dengan seorang muridnya. Ia bahkan tak tau resiko apa yang akan terjadi jika seseorang dari pihak sekolah mengetahui hal itu. Berpisah dengan kekasih mungilnya adalah daftar terakhir dari keinginannya.

"apa kau pulang dengan selamat baobei?" tanyanya dengan lembut. Terdengar decihan dari seberang membuat Kris tersenyum gemas ingin menggodanya.

"berhentilah menyebutku dengan panggilan sayang! Kau bahkan tidak menyayangiku"

Kris mencebikkan bibirnya menahan geli. "hmmm kesayanganku sedang marah eoh? Aihh aku gemas sekali pasti kau tengah mempoutkan bibirmu itu kan? Aku tak sabar ingin mengecupnya"

"aku tutup"

"eit tunggu Baixian-! Baiklah, maafkan aku, maafkan aku sayang."

Tak ada sahutan dari sana. Kris yakin namja mungilnya itu tengah merengut kesal karena acara nonton mereka dibatalkan. Sedikit membuatnya bersalah karena meninggakannya begitu saja dibioskop bahkan ketika mereka barusaja sampai.

"kita bisa nonton film itu lain kali sayang. Appa tadi menyuruhku ke kantor jadi aku tak bisa menolaknya"

"tidak perlu! Aku sudah menonton filmnya"

"kau nonton sendirian?" kris sedikit meninggikan suaranya.

"tentu saja tidak"

"lalu dengan siapa kau nonton?" hatinya merasa sedikit gundah.

"temanku" baixian menjawabnya dengan nada datar.

"siapa?" kris mencoba bersabar. Walau kenyataanya ia bisa saja mencari tau saat ini juga siapa yang pergi dengan anak itu jika saja Baixian tidak menyahut.

"kenapa kau ingin tahu? Kau bahkan tidak peduli aku kesepian sendirian disana. Untuk apa kau menanyakan hal tidak penting seperti itu"

Kris menghela nafas. "baiklah aku minta maaf sayang. Aku janji lain kali aku akan menemanimu kemana pun kau inginkan"

Baixian tak menjawab. Kris membayangkan namja mungil itu tengah memberengut seraya mencibirnya. "hmm"

Kris tersenyum lega. Baixian memang sensitif namun ia tak suka marah terlalu lama. "ayo sekarang jawab aku dengan siapa kau nonton?"

"ish dasar cerewet! kau ini seperti Appa saja sih"

"ooh~? Kau mengelak? Ayo jawab Appa dengan siapa kau nonton?" namja tinggi itu merasa geli dengan dirinya sendiri. Menggoda namja mungilnya selalu membuatnya lupa.

"aku bilang dengan temanku"

"dan apa nama temanmu itu?"

Baixian mendecih lalu menjawab dengan nada kesal "Park tiang"

"hah?"

"apanya yang hah? Cepat pulang! Aku lapar ge~"

Kris tersenyum geli. Kris tak mempedulikan lagi rasa penasarannya setelah mendengar nada rajukan manja itu. Ia pikir toh tak penting juga mempermasalahkan hal sepele ini. Kris terkekeh "baiklah aku pulang sekarang ya. Sekali lagi maafkan aku ehm. Tunggu aku. Bye"

"bbaing"

Kris meletakkan earpod itu di dashboard. Mobil yang ia kendarai masih melesat menuju apartemen mereka. Senyum masih menghiasi wajah tampannya. Berbicara dengan Baixian selalu membuat moodnya membaik. Dan ia bersyukur memiliki namja itu berada didekatnya. Ia hanya tinggal menjaganya jangan sampai miliknya pergi. Ia tak akan pernah membiarkan itu.

...

Air mineral itu habis diteguk ludas oleh seorang yeoja berperawakan tinggi yang baru saja tiba di apatemen miliknya bersama seorang adik laki-lakinya. Gelas kosong bening diletakkannya sedikit kasar. Dadanya naik turun menahan emosi. Yeoja itu mendecih. Melepaskan jaket kesayangannya begitu saja dilantai. Menginjaknya beberapa kali seolah jaket malang itu adalah seorang namja yang baru saja ia temui beberapa menit yang lalu -meninggalkan adiknya yang malang sendirian di bioskop.

Brak.

Suara pintu ditutup mengalihkan atensinya pada si jaket lalu menoleh kearah pintu yang baru saja ditutup seseorang dari dalam. Begitu melihat sosok jangkung yang tengah berjalan kedalam rumah tanpa menyadari keberadaanya, Park Yura segera berlari menghampiri adiknya itu.

"CHANYEOLIE~~!"

"AAAKH! YA TUHAN! AISH NUNA!" namja berperawakan tinggi itu sibuk mengelus dadanya yang serasa melompat keluar saat mendapati seorang yeoja melompat tiba-tiba dihadapannya seraya bersimpuh dengan mata menghitam dan lipstik yang belepotan.

"berhenti membuatku terkejut oh! Aish" gerutunya masih memegangi dadanya yang berdetak dengan cepat.

"chan~" yeoja tinggi itu kini berdiri dan menatap Chanyeol dengan matanya yang berkaca-kaca.

"sudahlah aku baik-baik saja. Tidak perlu merasa bersalah sampai menangis seperti itu. Wajahmu terlihat mengerikan asal Nuna tahu" kakinya melangkah menuju dapur. Meminum segelas air mineral dengan rakus.

"untuk apa aku menyesal padamu?"

Chanyeol menghentikan pergerakannya saat minum. Matanya mendelik sebentar. Yah~ seharusnya ia bisa menduga gadis ini.

"lalu apa yang terjadi dengan wajahmu itu? Nuna seakan habis diperkosa seseorang" ucapnya asal seraya meletakkan gelas kosong dengan sedikit keras. Kakinya melangkah menuju tangga. Kamar tempat yang paling dibutuhkannya saat ini.

"memang"

Kakinya terhenti dianak tangga kelima. Ia sontak menoleh –menatap kakak kandung perempuan satu-satunya itu dengan datar. "kau bercanda" itu bukan pertanyaan.

"aku tidak Chan"

Mata bulat milik Chanyeol mencoba menggali kebohongan tatapan terluka yang diperlihatkan kakaknya. Eyeliner dan maskara yang digunakannnya luntur oleh airmata dan lipstik merah itu membias kesegala arah disekitar bibirnya. Bahkan chanyeol baru menyadari bahwa rambut kecoklatan itu berantakan dan sedikit basah.

"nu-nuna bilang di-diperkosa?" rasa marah mengembun dikepalanya. Matanya masih menatap wajah terluka itu yang terlihat biasa saja.

"ya" jawa yeoja itu singkat. Chanyeol merasa dadanya terbakar.

"tapi untung aku segera menendang burungnya yang payah itu. Kalau tidak habislah aku. Dasar bajingan kurang ajar. Aish aku akan mencari yang lebih tampan darinya. Lihat saja!"

Chanyeol terdiam. Mata bulatnya menatap datar kakaknya sedatar-datarnya. Rasa marah itu berubah murka. Untung yeoja itu adalah kakaknya yang paling ajaib. Kalau tidak. Tamatlah perjalanan hidup yeoja itu.

Oh ayolah Chanyeol tidak sekejam itu ngomong-ngomong. Ia hanya sedang kesal.

"nuna kau-" chanyeol menyerah. Ia menutup matanya sejenak menahan emosi lalu menghembuskan nafas dengan keras. "selamat tidur" ucapnya lalu segera berbalik dan menaiki tangga menuju kamarnya.

"yak Chan!"

"mwol?" jawabnya tanpa mengehentikan langkah kakinya.

"apa pekan ini kau mau ke Myoji?"

Lagi-lagi chanyeol mengehentikan langkahnya. Terdiam sejenak sebelum menoleh pada kakaknya lalu mengangguk. "hmm. Tentu saja"

"sampaikan salamku padanya ya." Yeoja itu tersenyum. Menyampaikan rasa prihatin pada adik lelakinya. Chanyeol balas tersenyum pahit. Seberapa ajaib nunanya itu, ia tetaplah yeoja yang paling mengerti dirinya.

Chanyeol kembali melangkah.

Pekan ini ia harus pergi ke Myoji.

Seharusnya ia tidak merasa sesedih sekarang.

Seharusnya ia senang hari itu tiba setiap tahun.

Tapi...

Hari dimana sebelumnya hari itu adalah hari paling membahagiakan untuknya,

Justru menjadi hari paling menyesakkan untuk diingat.

Karena itu adalah hari jadi hubungan asmaranya sekaligus hari peringatan kematian kekasihnya.

Byun Baekhyun.

.

*myoji=pemakaman

...

Line!

Line!

Line!

Line!

Pagi itu adalah pagi yang cerah dengan udara yang sejuk. Seharusnya menjadi pagi terbaik dalam minggu pertama para siswa baru, bukan seperti saat ini. Pagi yang sejuk itu berubah panas seketika ketika sebuah pesan entah siapa yang memulai tersebar dengan sangat cepat dan mulai berdatangan kesetiap ponsel siswa dan siswi di SMA favorite itu serempak. Satu persatu mereka membuka ponsel mereka lalu seketika suasana pagi mulai riuh dengan obrolan seputar pesan yang tersebar.

Begitu juga dengan kedua namja mungil yang baru saja duduk dibangku mereka tengah membaca deretan kalimat yang tertera diponsel mereka. Raut wajah mereka benar-benar terkejut. Bahkan yang bermata bulat semakin membulatkan matanya.

"Heooool~~ ini benar-benar tidak masuk akal! Daeeebaak! Kau juga berpikir ini hanya gosip kan Baek?"

Namja yang ditanya hanya mengendikkan bahu lalu memasukkan ponselnya dengan gerakan tak peduli. "memangnya kenapa kalau si tiang itu memang anak pemilik sekolah ini? Toh tidak ada pengaruhnya padaku"

Kyungsoo menggelengkan kepalanya tak habis pikir pada Baekhyun. Ia memegang kedua pundak namja mungil itu lalu memaksanya berhadapan.

"itu artinya kita tak boleh cari gara-gara dengan si Chanyeol beserta kawanya itu. Apa kau tidak takut?"

"kenapa aku harus takut? Toh aku dan si tiang itu tak punya masalah apapun"

"aish berhenti menyebutnya tiang! Aku tak mau kau dapat masalah disini baek"

"kyung~ ayolah mereka bukanlah gengster"

"apa kau tidak lihat didrama-drama kalau anak seperti si tiang- ani si Chanyeol itu seperti apa?"

"apa kau ingin bilang Chanyeol seperti Goo joonpyo? Si keriting jangkung bodoh itu?"

Kungsoo mengangguk cepat.

"mirip sih" ucapnya sedikit mendongakkan kepalanya keatas lalu kembali menatap Kyungsoo yang menatapnya penuh perhatian. "tapi itu hanya drama. Lupakan itu"

"aish drama juga kan- shht baek baek si ti- ani! si Chanyeol datang"

Mendengar bisikan Kyungsoo, baekhyun mengalihkan atensinya pada sosok jangkung yang baru memasuki kelas dengan ekspresi bingung mendapati beberapa teman sekelasnya –bahkan ada yang dari luar kelas- memandanginya dengan...apa boleh dibilang memuja? Entahlah. Apa bagusnya berita semacam itu? Kenapa mereka rela datang jauh jauh turun naik dan turun tangga hanya untuk melihat seorang Park Chanyeol yang sebenarnya adalah ahli waris Park CO. Apa mereka pikir Chanyeol akan menurunkan hujan dolar pada mereka?

Heol. Ia tak habis pikir, hanya karena satu pesan tak jelas dari sumber tak jelas membuat seisi sekolah gempar oleh seorang Park Chanyeol yang konon katanya merupakan ahli waris dari Park cooperation yang menaungi sekolahnya tempat dimana ia berpijak sekarang. Ini persis seperti drama yang sepertinya sering Kyungsoo tonton. Dimana ada seorang flower boy kaya raya sebagai penguasa sekolah yang mencari cinta dan yang ia dapatkan dari gadis di toko laundry. Pfffthh. Apa itu tidak terdengar menggelikan? Ayolah itu drama picisan sekali.

Dan yang Baixian lakukan hanya menggerutu,mengapa ia harus terjebak diantara manusia-manusia merepotkan ini? Misinya pun tak akan semudah yang ia kira. Ia bahkan menunda untuk memulai pencarian itu.

Mata bulat itu hanya balas menatap bingung pada orang-orang yang tiba-tiba menyatakan cinta padanya. Bahkan sosok bayangan hitam putih itu hanya teronggok bagaikan kotoran ayam diantara tanah berbunga.

Ayolah~ kapan drama ini berakhir?

Mungkin baixian tak menyadari saat mata itu balas menatapnya. Butuh 3 detik untuk membuat namja mungil ini tersadar hingga akhirnya gelagapan saat namja tiang itu tersenyum tipis padanya. Namun kelewat lebar karena mata kyungsoo yang bulatnya overdosis itu berhasil menangkap senyuman dari sosok jangkung yang kini tengah berjalan menuju bangkunya.

"apa ia barusan tersenyum padamu baek?"sahutnya kelewat heboh sambil sesekali –yang terlalu sering- menyenggol lengan Baixian.

Baixian hanya mengendikkan bahu. Sebenarnya sambil berpikir apa benar yang dikatakan Kyungsoo.

"eiii aku yakin dia memberimu senyuman selamat pagi. Aihh manisnya. Kalau begitu selamat ya kau dapat peran sebagai Geum Jandi"

Baixian mendelik. "Yak!"

"isshh itu manis tau" kyungsoo keukeuh dengan pendiriannya. Dan baekhyun berdecak. Kemudian ia teringat sesuatu.

"yak Kyung-ah, pulang sekolah nanti kau mau mengantarku kan?"

"kemana?"mata bulatnya ikut bertanya.

"ke kantor" dan ia harap Kris tidak berada disana saat itu. Karena Kris tidak boleh tahu tentang ini.

"apa yang akan kaulakukan disana?"

"aku membutuhkan riwayat seseorang"

Kyungsoo mengernyitkan dahinya "nugu?"

"Daejong Kim" baixian merasa dadanya terhimpit menyebut nama itu.

"Daejong kim? Siapa dia?"

Baixian terdiam menatap papan tulis kosong itu.

"dia..."

.

.

"alasanku kembali ke Korea"

.

.

...

Siswa dengan suara cempreng itu mengedarkan pandangannya kesegala sudut kantin untuk menemukan kedua namja mungil yang biasanya terlihat bersama itu. Saat mata untanya itu menangkap kedua sosok yang dicarinya, Chen berlari kecil menghampiri mereka.

"hai~ merindukanku?" sapanya langsung merangkul nahu kyungsoo yang berada didekatnya. Kyungsoo menyingkirkan lengan Chen dari bahunya lalu menunjuk siswa itu dengan sumpit yang tengah dipegangnya.

"yak! Untuk apa kau kesekolah? Sekolah sebentar lagi bubar!" ucapnya sinis seraya mengayun-ngayun sumpit stainless itu dihadapan wajah Chen. Pemuda yang diomeli hanya nyengir bodoh. Sedangkan Baixian hanya menatap mereka tanpa minat.

"yang benar saja. Aku kan baru saja datang." Belanya. Kyungsoo mencibir mengikuti kalimat Chen. "apa kau baru saja merampok bank chen?"

"hah?" chen menatap Baixian dengan kernyitan didahinya. "kenapa aku harus?"

"karena kau datang kesekolah jam segini"

"apa merampok bank alasan yang masuk akal baek? Ya Tuhan kau lucu sekali" sinis pemuda berwajah kotak itu dengan gemas. Sedangkan Baixian hanya terkekeh. Kyungsoo lagi-lagi mengacungkan sumpitnya diwajah Chen. "lalu apa yang kau lakukan, pemalas?"

"emm aku mengantar ibuku kerumah sakit?"

Baixian dan kyungsoo menatap Chen bersamaan. "ibumu sakit?" tanya kyungsoo dengan mata yang hampir keluar. Secara tersiratsih. Ayolah kalian tau kan jika sedikit saja ia melotot? O.O

"eumm...tidak sih" chen menggaruk tengkuknya.

"lalu...ibumu kerja disana? Dia seorang dokter?" tanya Baixian.

"eung...bukan begitu...ibuku hanya..."

"baekhyun-ssi"

Ketiga orang yang mengerubungi satu meja itu mengalihkan atensinya pada seseorang berdiri disamping meja mereka. Ketiganya membungkuk setelah menyadari pelaku yang memanggil Baixian.

"oh! Selamat siang saem" ucap mereka. Kris mengangguk lalu tersenyum sebagai balasan.

"dijam terakhir, tolong kumpulkan pekerjaan yang sudah saya tugaskan dimeja saya. Para guru akan mengadakan rapat dijam ketujuh." Jelas Kris.

"kenapa harus aku?"

Chen dan Kyungsoo menoleh kaget kearah si namja magenta yang tengah cemberut menatap Kris garang. Kyungsoo bahkan menendang kaki Baixian dibawah meja –memberi isyarat untuk memperhatikan sikapnya.

"bae-baekhyun setuju saem" baixian memasang wajah 'apa-apaan kau ini' pada Kyungsoo yang sedang cengar cengir begitu bodoh.

Kris hanya tertawa dalam hati mengerjai kekasihnya itu. Ia mengangguk lalu segera beranjak dari tempatnya. Mengerjai kekasihnya ternyata menyenangkan juga.

Tanpa mereka sadari, seseorang yang duduk 2 meja dari mereka terus menatap dua orang dari mereka berempat dengan pandangan mencari tau. Salah satu lelaki yang lebih tinggi dari 2 mungil itu kini menarik perhatiannya. Ia menatap mata lelaki itu yang tengah menatap Baekhyun. Lalu ia kembali menyantap makanannya karena tak menemukan jawaban apapun.

"hyung~ umumkanlah aku sebagai sepupumu ya? ya? ya?" ucapan sehun mengalihkan atensinya.

"kau licik!"

"kau sirik?"

Jangan tanya siapa yang tengah berdebat itu. Chanyeol bahkan tak mempedulikan kedua hitam putih itu. Pikirannya saja sedang kalut. Ia tak mau repot-repot mendamaikan dua bocah ini. Nanti juga akan saling merangkul sendiri.

"aku selesai"ucap Chanyeol tiba-tiba seraya mengangkat nampannya.

"kami diam"

Chanyeol yang hendak bangkit menatap dua bocah itu heran. "maafkan kami hyung" ucap mereka bersamaan. Chanyeol terkekeh geli. Lalu melambaikan tangannya mengatakan bahwa ia bukan marah seperti yang mereka sangka.

"lanjutkanlah. Aku benar-benar kenyang. Aku duluan" ucapnya lalu lagi-lagi meninggalkan dua bocah yang tengah saling tatap heran.

"yak! Kau pikir dimana kau letakkan tanganmu?" ucap sehun yang tersadar dari kebingungan pertama kali. Jongin mengikuti pandangannya pada apa yang sehun maksud. Seketika ia bergidik lalu segera melepaskan tangannya yang berada dipaha atas sehun.

"kau memang suka pria, tapi jangan aku juga yang kau incar. Hihh" sehun bergidik lalu mengangkat nampannya.

"yak kau sialan! Memang apa bagusnya dirimu? Haissh dasar olaf raksasa!"

Sehun menggerutu mendengar cibiran jongin. Dan terus berjalan untuk menyimpan nampannya. Disusul jongin yang masih mencak-mencak memikirkan cara menyiksa sehun.

...

"aish! Aku bahkan bukan ketua kelas, kenapa aku harus mengumpulkan ini semua dan jadi babunya? Menyebalkan sekali. Awas saja kuberi pelajaran dia!" namja mungil itu menyeruput susunya.

"kau mau mengancam gurumu Baek? Yang benar saja?" tanya Chen menghentikkan aktifitasnya yang tengah mengaduk sup miliknya.

"aku tak peduli. Oh Tuhan waktuku yang berharga"

Kyungsoo pun datang bersama jus apel ditangannya. Namja mungil bermata bulat itu duduk dimeja paling depan –menonton kedua temannya yang tengah sibuk. "baek, kita jadi ke kantor?" tanya kyungsoo.

Baixian mengangguk. "mau apa kalian ke kantor?" Chen menghentikkan pergerakkannya.

"aku mencari sesuatu" jawab Baixian sekenanya.

"mencari apa?" Chen bertanya lagi.

"aku mencari data Kim Daejong. Apa mungkin kau pernah kenal atau setidaknya mendengar nama itu Chen? Kau bersekolah di JHS kan?" baixian menatap Chen –berharap.

Chen terdiam sejenak –menggerakkan bola matanya keatas dengan gerakkan mengingat. "Kim Daejong...Kim Daejong...AH!"

Baixian menatap Chen antusias setelah mendengar namja bermata unta itu memekik seolah mengingat sesuatu.

"wae? Wae? Kau kenal dia?eoh?" Baixian memajukan tubuhnya penasaran. Bahkan mata sipitnya sedikit membola.

"entahlah kupikir aku baru mendengarnya dari mulutmu baek" Chen nyengir lebar.

"mati saja kau!" geram kyungsoo melakukkan gerakkan memukul pada Chen. Sedangkan baixian hanya menghela nafas.

"memangnya kenapa dengan Kim Daejong sampai kau repot repot mencari tahunya?"

Baixian terdiam cukup lama. "dia belum membayar hutangnya padaku"

"kau repot-repot pindah ke Korea untuk menagih hutangnya Baek? Ya Tuhan... memangnya seberapa won dia hutang padamu?" Kyungsoo lagi-lagi membolakan mata doenya. Chen hanya terdiam.

"Banyak..." kyungsoo dan Chen saling tatap.

"banyak sekali. Hingga dia membayar hutangnya dengan nyawanya sekalipun, itu tak akan pernah terbayarkan"

Tanpa Baekhyun sadari salah satu temannya itu menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca.

...

Chanyeol melangkahkan kaki panjangnya kedalam kelas saat ketua kelas menyuruhnya untuk segera pergi ke kantor.

"entahlah Choi saem hanya menyuruhku untuk menyampaikan ini padamu" jawab Jinki saat Chanyeol menyanyakan alasannya.

"baiklah. Terimakasih" jawab Chanyeol dibalas tepukan dipundak oleh namja berkacamata itu. Jinki lantas beranjak dari sana.

Chanyeol masih berdiri didepan pintu kelas. Ia terdiam cukup lama. Masih memikirkan kenapa ia harus dipanggil kekantor. Apa ia melakukan kesalahan? Apa jangan-jangan gara-gara berita itu? Chanyeol mengusak rambutnya kasar. Memikirkan apa yang akan terjadi disana mengingat ia barusaja diberitakan sebagai pewaris perusahaan ayahnya.

Karena tak ada gunanya menolak, ia pun segera mengangkat kakinya menuju kantor. Sepanjang koridor, tak siswa tak siswi saling berbisik saat Chanyeol melewati mereka. Inilah yang ia tak mau jika identitasnya sebagai anak pewaris Park Cooperation terungkap. Ia seakan hidup dikekang. Chanyeol pun hanya menghela nafasnya.

Ruangan kantor sudah dihadapan matanya saat retinanya menangkap siluet seseorang yang paling ia hormati.

"Appa" lirihnya sedikit terkejut.

Sosok jangkung nan gagah disusianya yang tak lagi muda itu berjalan menghampiri anak bungsunya yang terdiam mematung melihat kehadirannya. Wajahnya yang terlihat masih tampan itu sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun. Membuat Chanyeol seakan merasa terintimidasi oleh tatapan ayahnya. Park Siwon.

Saat tubuh yang lebih pendek darinya itu berada dihadapannya, siwon mengangkat sebelah tangannya. Mengisyaratkan orang-orang yang berada dibelakangnya untuk meningggalkan mereka berdua.

"bagaimana sekolahmu?" tanya Siwon menatap Chanyeol yang berdiri menunduk dihadapannya.

"baik Appa"

"aku tak pernah mengajarkanmu untuk berbicara dengan seseorang tanpa menatap, Chanyeol"

Chanyeol perlahan mengangkat kepalanya. Memberanikan diri menatap mata ayahnya langsung.

"apa Appa ada kepentingan disini?" tanya Chanyeol semakin curiga jika kehadiran ayahnya inilah yang membuatnya harus pergi kemari.

Siwon menepuk pundak chanyeol "Appa hanya menitipkanmu pada guru disini. Apa beritanya sudah tersebar?"

Chanyeol membolakan matanya. "Appa yang menyebarkannya?"

Siwon tersenyum samar. Mengalihkan tatapannya kehalalamn sekolah. "appa hanya ingin mereka tahu dimana porsinya. Dengan begitu mereka tak akan berani macam-macam padamu"

Pemuda bermata bulat itu tak mampu berkata apa-apa. Meskipun ia bersikeras menentang tindakkan ayahnya yang seenaknya seperti itu, keputusan tetap sudah mutlak.

"appa, aku bisa menjaga diriku sendi-"

"kau tak bisa melakukan itu. Appa hanya tidak ingin kejadian waktu itu kembali terulang. Berhentilah bertindak sok tahu Chanyeol"

Chanyeol merasa dadanya terhimpit. Ia menatap ayahnya yang tengah menatap datar kearah lain mengalihkan lagi pandangannya kedalam iris chanyeol.

"Tidak ada lagi Byun Baekhyun dan aku tak akan repot-repot mengusir tikus kecil sepertinya lagi. Kau paham maksudku?"

Chanyeol menunduk. Ia sangat tau seperti apa tipikal ayahnya. Ayahnya adalah seseorang yang sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarganya. Atau bahkan berlebihan hingga tak tahu batasannya. Seharusnya Chanyeol melupakan kejadian yang lalu, tapi ayahnya kembali membuka luka lama. Inilah yang membuatnya diam. Ia tak mau membahas apapun tentang kejadian itu.

"Oh! Ahjussi!" Siwon menolehkan kepalanya kebelakang Chanyeol. Mendapati dua orang pemuda hitam putih keponakkan bersama temannya yang dipercayainya untuk menjadi teman Chanyeol.

"annyeonghaseyo ahjussi"sapa Kai seraya membunguk. Siwon hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali menatap anaknya yang masih terdiam.

"kalian kembalilah kekelas" jawabnya.

Chanyeol masih terdiam ditempat. Merenungi perkataan Ayahnya. Saat tiba-tiba seseorang memanggil namanya begitu keras.

"Oiii Park Tiang!"

Mata Chanyeol membola. Bergantian menatap seorang pemuda bersurai magenta yang mulai menghampirinya lalu menatap Ayahnya yang menghentikkan langkahnya hendak menoleh. Saat itu juga jantungnya serasa berhenti.

Tidak ada lagi Byun Baekhyun yang lain jika aku melakukan ini dan aku tak akan repot-repot mengurusi tikus kecil sepertinya lagi.

Tidak. Jangan lagi.

...

Baixian memegangi perutnya yang mendadak sakit. Ia bahkan merutuki ketiga bungkus kotak susu strawberry yang ditenggaknya tanpa sadar. Setelah menuntaskan hasratnya, pemuda bersurai mungil itu menatap kaca dihadapannya. Ia menghela nafas. Merasa ini semua begitu melelahkan. Baixian menepuk kedua pipinya –menyemangati- lalu berbalik saat melihat siluet orang yang kemarin menghabiskan waktu dibioskop bersamanya. Pemuda mungil itu beranjak mengikuti chanyeol yang sudah hilang dibalik belokan. Baixian menggerutu kecil karena kehilangan jejak. Namuan kaki kecilnya tetap berlari kecil mengikutinya. Ia ingin memberitahu Chanyeol kalau ia akan mengganti tiket film itu dengan tiket yang lain. Ia hanya tak ingin berhutang budi okay? Oh atau apa kalian pikir Baixian ingin menonton dengan Chanyeol lagi? Yah...mungkin saja sih. #grin

Ia mengitari halaman sekolah sekitar lima menit dan belum menemukan si jangkung itu. Baixian ingin menyerah saat itu juga jika ia tak melihatsosok yang ia cari dikoridor dekat ruang kantor. ia tersenyum lalu berlari kecil mengahampiri Chanyeol dan kedua temannya.

"Oiii Park tiang!" teriaknya saat berada dikoridor yang sama. Baixian meilhat Chanyeol menoleh kearahnya dengan mata membulat seolah kedatangannya tak boleh terjadi. Lalu chanyeol menoleh kearah yang lain dengan gerakkan waspada. Saat itu Baixian mengikuti arah pandang Chanyeol dan melihat punggung seseorang berjas hitam menghentikan langkahnya berbalik. Dan saat itu juga Baixian seakan berhenti bernafas.

Dia.

Grep.

"jangan bergerak" Baixian tidak bisa mencerna apapun saat dengan gerakkan tiba-tiba Chanyeol memeluk tubuh mungilnya begitu erat seolah membungkusnya agar terlindungi. Ia bisa mendengar detak jantung Chanyeol yang sangat cepat.

Siwon yang barusaja berbalik saat mendengar seruan keras dibelakanya, mengernyit aneh saat Sehun keponakkannya berserta Kai tiba-tiba merentangkan tangannya bersisian lalu menatapnya begitu tegang. Ia melihat anaknya dibelakang mereka tengah menunduk.

"da-dadah ahjusi~hehe" Sehun nyengir lebar.

Kai melirik Sehun lalu dengan ragu-ragu mengikuti gerakkan temannya itu. "ha-hati dijalan ahjussi~hehe-he"

Siwon menggelengkah kepalanya melihat dua anak aneh itu tiba-tiba melambaikan kedua tangannya kearahnya. Lalu siwon melanjutkan langkahnya setelah sedetik sebelumnya berdekham.

Chanyeol yang menyadari ayahnya sudah pergi, masih enggan melepaskan tubuh mungil dalam rengkuhannya ini. Lagi-lagi terasa begitu sama. Perasaan itu. Detak jantung itu. Hembusan nafas itu. Dan jemari lentik yang menapak didadanya terasa begitu tak asing.

Baixian hanya terdiam. Masih terkejut dengan apa yang ia lihat. Bahkan ia seolah tak sadar jika Chanyeol tengah memeluknya saat ini. Matanya masih membola. Otaknya mungkin tak bisa menngingat siapa orang berjas itu. Namun perasaan takut itu maih bisa mengenalinya begitu jelas.

"jauhi dia"

"akhh!"

Chanyeol melepaskan rengkuhannya lalu memegang kedua bahu Baixian saat pemuda mungil itu memegangi kepalanya. "kenapa baek?" tanyanya panik. Sehun dan kai segera mendekati penasaran.

"ia akan menderita jika hidup bersama tikus kecil sepertimu"

"hen-hentikan"

"baekhyun! Kau kenapa?" Chanyeol semakin panik saat Baixian menariki rambutnya dengan kuat.

"kau akan tau akibatnya jika menentangku"

"sa-sakit"

Chanyeol mencoba melepaskan lengan Baixian yang menjambaki rambutnya sendiri lalu kembali merengkuhnya. Mengelus punggung sempit itu –mencoba menenangkan sebisanya. Ia menekan dalam-dalam rasa penasarannya. Chanyeol sangat bingung dengan perubahan Baekhyun saat ini. Sehun dan kai hanya bisa terdiam menyaksikan adegan yang mereka tak mengerti ini. Saling tatap adalah tindakan mereka menekan rasa penasarannya tentang hubungan kdeua orang ini.

"tenanglah baek. Aku disini. Jangan khawatir." Chanyeol masih mengelus punggung baixian. Sesekali mengelus rambut baixian dan mengecupnya. Ia hanya melakukan apa yang biasa ia lakukan pada kekasihnya dulu saat sedang ketakutan. Kekasihnya yang serupa dengan sosok yang tengah ia peluk saat ini. Perasaan itu sama seklai tak berbeda. Entah kenapa chanyeol seolah merasakan hal yang sama. Rasa nyaman dan sesak dalam hatinya. Ia semakin bingung dengan sosok yang seolah reinkarnasi dari kekasihnya ini.

Nafas baixian berangsur normal. Namun chanyeol masih merasakan badannya gemetar.

"a-aku" chayeol hendak melepaskan pelukkannya namun namja mungil itu malah meremas seragam Chanyeol dengan erat.

"baekhyun. Apa masih sakit?"tanya Chanyeol seraya mencoba melepaskan pelukan Baekhyun. Baekhyun semkin mengeratkan pelukannya.

"Chan-" baxian merasakan suaranya sulit dikeluarkan. Matanya masih membola tak karuan.

"Chanyeol-"

"hmm?"

Ia masih mencoba melepaskan Baixian untuk membawanya keruang kesehatan karena namja mungil itu terlihat tidak baik.

"ayo kuantar keruang kesehatan baek-"

"a-aku siapa?"

Chanyeol mengehntikan pergerakannya. Paru-parunya seakan kehilangnan fungsinya. Ia tak bisa bernafas. Chanyeol menunduk. Menatap mata Baixian yang masih membola dengan gerakan tak tentu arah. Jemari lentiknya bergerak meremas dada Chanyeol kalap. Mata sipit itu terpejam sejenak. Lalu kembali terbuka dengan airmata yang meleleh.

Chanyeol tak yakin dengan apa yang ia pikirkan. Ia hanya ingin percaya pada apa yang ia pkirkan. Maka dari itu dengan mantap chanyeol menjawab

"k-kau..."

.

.

.

"Byun Baekhyun"

TBC. (Baca Bbiyak-Bbyiak ya)

.

.

.

Bbiyak-Bbiyak:

Akhirnya selesai juga chapter ini yeayy! Menurutku ini chapter yang paling susah diselesain ya ampuuun~~ mungkin kalian kurang ngefeel sama part ini hiks. Tapi dengan segala aegyo (eyak) direview ya readersku. Aku kurang semangat nulis dan lanjutin ff ini kalo reviewnya gak sinkron ama viewersnya. Beda jauhhh anget. Yang gak suka ama FF ini gak papa review kasih aku saran atau kritik dengan bahasa yang sopan yaa...

Yang sudah follow dan favoritin ini FF abal juga mohon kesadarannya buar review ya readersku sayang~ review kalian sumber semangatku.

Buat yang udah nyempatin review makasiiiih banyak. Mau itu yang pake akun atau yang guest aku menghargai banget waktu kalian yang udah repot-repot ngasih aku review dan dukungannya hiks. T.T

Siapa itu Baekhyun, siapa itu Baixian hehe. Sebenernya aku rada bingung juga sih pas nulis #plak. Readersku bisa nebak-nebak jalan ceritanya kok. Jadi bisa bantu aku buat nyelesaiin ni FF.

LoveyDoveynya Chanbaek udah mulai tuhhh. Chap depan moment mereka akan tambah banyak. Jadi tulis harapan kalian buat Chanbaek di FF ini ya saat review hehe...

Aku suka berimajinasi bareng kalian muacchh :*

Yang lupa ceritanya, bisa baca chapter sebelumnya ya... hihi kkk

Readers-nim~ #puppyeyes... hargailah tulisanku jebal kk

BbungBbung-ah saranghae~