Disclaimer: Atas nama bangsa manusia, Masashi Kishimoto.
Bagian 4: Bertemu
...
"Kaa-san, aku akan pergi sebentar."
"Ya! Tapi jangan lama-lama. Nanti makan malamnya akan siap."
"Tentu saja, aku akan pulang tepat waktu kok."
Aku berkata sambil membetulkan tali sepatu kets hitam yang tengah ku kenakan saat ini.
"Kalau kau telah sedikit, aku tak bisa menjamin keadaan lehermu. Fufufu…" sahutnya kembali.
Maaf, tapi apakah itu merupakan sebuah ancaman?!
Sesuai jadwal yang sudah di katakana oleh Shikamaru, aku berusaha ke tempat yang di beritahukannya dari sebuah file yang dikirimkan ke alamat emailku sebelumnya. Aku tahu ini sama sekali tak ada untungnya bagiku untuk dating, tapi rasanya aku Nampak penasaran dari yang telah di katakana oleh Shikamaru sendiri.
"Ah, Oni-chan! Kau akan pergi, ya? Boleh aku titip sesuatu di minimarket?"
Masih membenarkan tali sepatu ku, leher ini pun mencoba menoleh kea rah seseorang gadis belia berumur 14 tahun -lebih mudah 2 tahun dariku- yang notabene adalah adik ku, Fiana, Namikaze Fiana.
"Hah… Memangnya kau ingin aku membelikanmu apa?" saambil ku menghela nafas.
"Um, aku ingin kau membelikanku sebungkus snack keripik kentang ukuran jumbo rasa kari."
"Hah?! Untuk apa membeli sebesar itu?" kataku heran.
"Hm, entahlah… tapi rasanya malam mini aku ingin belajar sambil makan keripik kentang. Ufufufu…"
Aku melirik dengan intens kea rah adikku, dan kemudian aku pun menghela nafas. Hah… Dasar maniak kentang.
"Ah! Te-tenang saja, nanti aku yang akan mengganti uang pembelian keripik kentangnya. Tenang saja kok."
Mendengar apa yang di katakana oleh Fiana, aku hanya berbalik dan tersenyum tipis ke arahnya. Kemudian diriku pun mencoba berdiri.
Lalu aku menepuk serta mengelus-elus rambut merah milik adik ku. Kemudian dia merespon gerakan tanganku dengan memejamkan kelopak matanya.
Manis…
"Jangan khawatir, kalau tujuanmu untuk belajar, maka kau tak usah repot-repot mengganti uangnya, Fiana. Oni-chan mu ini akan membelikannya untukmu."
Dengan wajah yang tertutupi oleh poninya. Raut mukanya pun memerah. Kemudian ia berkata "Te-terima kasih, Oni-chan!." padaku. Yah, meskipun aku tahu dia agak ragu tuk hanya bisa kembali tersenyum dan memaklumi kegugupannya.
"Ara-ara! Lihat apa yang ku temukan hari ini di saini. Sebuah kejutan." Nampaknya Ibu melihat kelakuan kami yang sepertinya telah kelewat batas antara kakak dan adik.
Kami pun kaget dan mencoba bersikap biasa.
"Hahaha.. tak masalah kok, kalian berdua kan tidak memiliki hubungan sedarah. Jadi, menikahlah jika sudah siap. Kaa-san juga ingin cepat-cepat segera menimang cucu. Pffft!"
Dan ibu pun masuk kembali ke arah dapur sambil menutup mulutnya sedikit seraya menahan tawa yang nampaknya sulit tuk ditahan.
"Mou…! Kaa-san jangan menggoda Fiana terus!"
Fiana pun menggembungkan pipinya sambil memeprotes ke arah ibu yang telah masuk ke dapur. Terdengar ibu menahan tawanya hingga suara tawa yang ia tahan pun keluar melalui hidungnya. Ah, ada-ada saja!
Itu memang benar,antara aku dengan Fiana sama sekali tak memiliki hubungan sedarah. Aku muliai bersaudara dengan fiana semejak ayah ingin menikah lagi. Saat itu aku masih berumur 13 tahun dan fiana berumur 11 tahun. Ayah merasa aku harus memiliki seorang ibu yang bisa mengasuh ku saat di rumah. Awalnya aku menolah karena akumerasa seorang ibu tiri adalah seseorang anggota keluarga yang jahan padaku, namun ternyata kenyataan itu berbalik 180 derajat dari apa yang aku pikirkan. Ternyata ibu baruku ini sangat baik padaku, ditambah lagi aku juga imut dan terlihat malu-malu padaku. Akan tetapi, pada akhirnya aku dan fiana bisa akrab satu sama lain.
Aku merasa senang.
"Kalau begitu, aku pergi!"
"Ah, oni-chan! Cepat pulang, ya?!"
Aku mengangguk mantap.
"Tentu saja!"
Tangan ini memutar knop pintu dan perlahan-lahan membukanya. Kemudian kedua kaki ini melangkah keluar. Fiana hanya menatapku selagi melambaikan telapak tanganku kepadaku.
BRAK!
Aku pun menutup pintu kayu bercat putih tersebut dengan pelan. Setelah itu aku berjalan melewati pagar rumah yang Nampak terbuka.
Aku berjalan kea rah kiri jalan rumahku. Tepatnya menuju daerah Shibuya, kota Tokyo. Ini tertera di Email yang di kirimkan Shikamaru.
Tak perlu berlama-lama berjalan, stasiun kereta pun sudah terlihat. Waktu sudah menunjukkan jam lima sore, jadi aku harus sampai di tempat yang telah di tentukan tiga puluh menit lagi. Oleh karena itulah, kaki-kaki ini segera mempercepat langkahnya menuju checkpoint pertama, yaitu stasiun kereta.
~Psyco Xpress!~
Berjalan pelan, aku Nampak memegang smartphone milikku dan memperhatikan sejenak. Raut wajahku terlihat kebingungan.
"Bukankah di sini tempatnya?"
Aku tetap memperhatikan perangkat berwarna biru secara tak sadar aku menabrak seseorang pengguna jalan lain. Hingga perangkatku tersebut hampir jatuh.
BRUK!
"A-ah! Maaf-maaf… Maafkan saya!"
Aku segera menunduk-nunduk sambil meminta maaf. Namun sial bagiku, aku menabrak mereka…
"Hah! Enak sekali kau hanya minta maaf dengan cara gampang seperti itu!"
Ya, mereka adalah para preman.
"Rasakan ini!"
Mereka mengarahkan telapak tangan tangan kanannyake arahku dan—
BAAM!
WUUSSH…!
Ternyata mereka menggunakan salah satu teknik Activer dasar, yaitu Repell Long Shot. Otomatis diriku pun langsung terpental dengan tekana yang sangat kuat. Meskipun itu adalah teknik dasar dari kekuatan seorang Activer, namun untukku itu adalah sebuah malapetaka.
DUAAK!
Dan akhirnya tubuh ini menghantam pada dinding sebuah toko di dekat kami. Punggung ku terasa sakit dan berat. Sungguh kuat sekali. Mungkin ini dikarenakan aku yang tak memiliki pertahanan Psyco Accel.
Sayang sekali, aku tak mampu membalasanya dengan kekuatan yang sama. Itu karena aku memang bukanlah seorang Activer seperti mereka. Ugh, disaat seperti ini, keadaanku sama sekali tak beguna. Seandainya aku juga termasuk salahsatu pengguna Activer seperti mereka, hal ini tak akan terjadi padaku.
Rasanya aku mulai membenci diriku sendiri.
"Woi…bangun! Cepat berdiri dan lawan aku!" kata preman itu seraya mengacungkan salah satu jari jempol ke arahnya sendiri.
Sialan, mereka masih belum puas menghajarku. Aku harus melakukan apa? Rasakanlah bertapa pucatnya raut wajahmu sekarang, Naruto! Tenanglah, Naruto… Tenang!
"Aku tidak bisa melawanmu" jawabku pada akhirnya.
Diriku mengatakannya dengan nada datar. Dan nada datar itu mewakili tumpukan kebencianku terhadap diriku sendiri.
"Cih, persetan dengan itu. Perkataan mu itu barusan juga melecehkanku!"
Ah, aku hanya bisa menghela nafas. Ternyata mereka salah paham dengan ekspresi dan nada bicara ku.
BUGH!
Arghhh! Me-mereka… Tidak, akan tetapi salah satu dari mereka tengah menindihku dengan sebelah kakinya. Sepertinya dia adalah bos dari preman preman itu dan dia juga yang aku tabrak barusan. Kemudian ia pun menghentakan kaki kanannya lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Dia juga terlihat menggesekan sepatunya yang di pakai sebagai alas kakinya sekali lagi seakan ia meggesekannya pada karpet 'welcome' seperti yang aku miliki di depan pintu rumah. Sialan…sungguh sialan!
Namun di saat genting seperti saat dengan berpenampilan elegan dengan celana panjang dan jas kantoran yang orang itu kenakan juga dasi berwarna putih dengan corak berwarna merah darah di celah-celah pakaian yang ia kenakan. Dan jangan lupakan topengnya yang juga berwarna merah menutupi seluruh wajahnya.
"Ka-kau siapa?" aku bertanya.
Akh, disaat genting seperti ini aku masih bisa-bisanya berkata seperti itu. Sebenarnya kau makhluk apa, Naruto?
Namun orang asing itu hanya mendesah padaku sebagai balasannya. Ah, sungguh orang yang aneh, begitu pula dengan pakaian yang dia kenakan…atau aku bisa menyebutnya sebagai cosplayer? Hm, itu sebutan yang tidak terlalu buruk…
Ah! Ini bukan saatnya berpikiran seperti itu! Aku yang tengah berada di situasi seperti saat ini…entahaku juga merasa sulit untuk menjelaskannya.
"Khukhukhu… Sepertinya kau sedang berada pada masa-masa sulit, ya, Naruto?"
"Hei, kau siapa? Jangan menggangu urusan ku!" kata sang pemimpin preman.
Pria putih-merah itu pun tersenyum.
"Urusan yang dialami oleh Naruto juga termasuk kedalam urusanku."
Um,entah mengapa kata-katanya tadi itu membuatku berpendapat jikalau pria ini pecinta sesama jenis. Ah, lihat, kulitku mulai merinding.
Kemudian seseorang yang 'semua-serba-putih-merah-itu-sangat-oke' tersebut menoleh sebentar ke arah sang Preman sebelum ia menoleh lagi padaku. Kulirik dengan mata lesu ku ini, ia menjongkok dan meletakkan telapak tangannya di bahuku.
WUUUTT!
Tiba-tiba, bagaikan tersedot pusaran, pandanganku mulai memutih dan perlahan-lahan ikut pudar.
"O-oi! Mereka berdua menghilang!"
"Argh! Mereka menggunakan teknik teleportasi. Kita kehilangan kedua orang itu."
~Psyco Xpress!~
ZRRUUUSSSHHH!
Sebuah pusaran angin berukuran kecil muncul dari suatu tempat. Memunculkan dua orang manusia. Yaitu seorang yang memakai baju Tuxedo putih dan celana putihnya, tak lupa topeng merah yang membuatnya terlihat nampak misterius. Kemudian, aku, seorang yang tampak babak beluh dihajar preman serta pakaian yang kotor nan lusuh. Tunggu, tempat ini? Adalah sebuah atap bangunan yang sangat tinggi, bangunan apa ini?
"Kita sudah sampai."
"Di-dimana ini?"
"Di tempat yang telah ditentukan."
Dia, pria misterius itu pun mulai membuka topeng merahnya sebelum ia menampakan senyuman tipis padaku. Wajahnya itu, setengahnya terlihat buruk. Penuh dengan kulit pucat yang terlihat mengkerut.
Lagi-lagi, dia tersenyum tipis padaku. Meskipunitu Nampak terlihat menjijikkan. Sangat dan sangat menjijikkan.
"Hah? Dimana?! Ditempat yang telah ditentukan?"
Aku mencoba mengulagi pernyataannya. Namun yang menaggapi perkataanku bukanlah pria serba putih-merah itu, melainkan aeorang pemuda yang terlihat seumuran denganku dengan menggenakan pakaian glamour sedang duduk di sofa merah yang Nampak mewah dan secangkir minuman berwarna merah pula. Apakah itu Wine?
"Ya, di lokasi perjajian kita, Naruto-kun."
Maksudmuapa? Aku sama sekalitak mengerti. Tempat yang telah di tentukan? Lokasi perjanjian?! I-ini benar-benar membingungkan bagiku!
Otak ku membproses sesuatu yang telah kulihat disini. Meskipun aku tergolong manusia yanglambat dalam berpikir, akan tetapi pada dasarnya aku masih mampu berpikir secara normal.
Dan akhirnya aku pun mulai mengenal dia, pemuda kaya ini. Tidak kusangka, dia…
"…Shikamaru, kau masih hidup, ya?"
"Hey, apa yang kau katakan, baka! Cih, mendokusai." dia merespon kekagetanku dengan sebuah empat sudut yang terukir di keningnya. Den kemudian setelah itu dia terdiam lalu mulai tersenyum yang nampak merendahkan. Huh! Apa-apaan dia?! Ekspresi itu mencoba melecehkan ku!
"Hm, sudah lama sekali, ya, Naruto-kun? Terakhir kali kita bertemu pada saat wisuda Sekolah Dasar beberapa tahun yang lalu. Seperti dugaanku, kau sudah terlihat berubah."
"Yah, kurasa begitu. Tapi tak sebanyak dirimu yang sekarang, Shikamaru." Aku menimpali perkataannya.
Hening sesaat. Angin malam pun mulai menusuk-nusuk kulit oleh suhu dingin yang dimikinya. Semua orang yang tengahberdiri di tempat ini saling membeku dan terdiam. Demikian pula denganku.
Lalu kata-kata yang keluar dari pria misterius yang telah mengantarkan ku kemari tersebut memecahkan keheningan.
"Bisakah kita memasuki acara inti? Ini sudah waktunya makan malam."
~Psyco Xpress!~
To Be Continued?
Holla minna, ketemu lagi sama saya Author yang tak berguna, cupu, gaje high class, de-el-el. banyak hal yang telah terjadi akhir-akhir ini. oh iya, selamat ya naruto! kalian telah ngalahin si kaguya. namun, WTF! bulan? bakal ada bulan kedua kah?
Aku hanya bisa terangkan penjelasanku buat chapter 3 'kontroversial'ku. begini...
- bukan karena chapternya dipendekin atau aku yang males nulis, tapi di buku tulis naskah ku yang chapter 3 itu cuma adanya hingga 4 lembar.
- alur ceritanya bisa ditebak? iya sih awalnya saja. tapi setelah itu, khukhukhu... aku tak bisa menjelaskannya pada kalian. entar jadi spoiler dah. hohohoho...
- sekolah activer? memang aku akui, IYA. kan dari jalan ceritanya udah ke 'baca' kan?
- sekolah activer semata-mata untuk penelitian? mungkin tidak.
- khusus KEI DEIKEN, baca dulu chapter pertama ya. aku yakin nantinya pasti ngerti kok. namanya juga naskah fic model 'langka'.
- pemberitahuan, ternyata season 1 naskah ini hanya sampek di kisaran minimal 12 chapter. baru aku cek lagi di buku tulisku..
Nah setelah itu, aku ingin kesediaannya buat REVIEW..
DISINI!
VVV
VV
V
