Title: LOVE YOURSELF BTS DRABBLE FF COLLECTION
Cast: Jungkook, Yoongi, Jimin, Namjoon, Taehyung, Hoseok, Jin
Lenght: Drabble Collection
Rating: 15+
Author: Tae-V [Line KTH_V95, Twitter KTH_V95]
Ini adalah cerita kumpulan drabble FF BTS based on my imagination tentang poster-poster comeback BTS di LOVE YOURSELF :)
.
STORY 4 : TRAPPED IN THE LIES (PT.1) - HopeMin FF
"I lied. Because there's no way you'd love someone like me. - Park Jimin"
.
.
2017
Sudah setahun lamanya, Jimin terus berbohong akan jati dirinya kepada Hoseok.
Bukan karena Jimin hobi berbohong, namun karena Jimin yakin, Hoseok tidak akan mau berada di sisinya jika Hoseok mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya.
Mengapa?
Karena bagi Jimin, tidak akan ada yang bisa mencintai seseorang sepertinya.
Jimin merasa, ia tidak layak dicintai oleh siapapun. Tidak ada alasan bagi seorang pun untuk mencintai Jimin dengan kondisi Jimin itu.
.
.
.
2016
"Dasar anak haram! Cepat pergi dari kampung ini!" bentak seorang ahjumma.
"Siapa yang mengijinkanmu masih berkeliaran di kampung ini, huh?" bentak ahjumma lainnya.
"Apa kau tuli? Apa ibumu juga tuli? Mengapa kalian tidak bisa mendengarkan ucapan kami semua?" bentak ahjumma yang lainnya.
Jimin terus berjalan dalam diam, menahan tangis dan kesedihan dalam hatinya, mengabaikan suara cemoohan para ahjumma itu untuknya.
Sudah 21 tahun lamanya, ia dan ibunya bertahan tinggal di kampung itu dengan cemoohan warga sekitar.
Bukannya mereka tidak mau pindah, masalahnya adalah, mereka tidak tahu harus pindah kemana. Mereka tidak punya uang untuk membeli rumah baru karena mereka sangat miskin.
Selama 21 tahun itu, ibu Jimin sudah berulang kali berusaha menjual rumahnya yang tergolong sangat kecil dan kumuh itu, namun tidak ada seorang pun yang mau membelinya.
Semua orang merasa, selain sudah sangat tua dan jelek, rumah itu juga pembawa sial, makanya tidak ada yang mau membelinya.
Apalagi, berita tentang ibu Jimin yang hamil di luar nikah dan melahirkan Jimin tanpa ayah itu sudah tersebar ke seluruh wilayah Busan.
Tidak ada seorangpun di Busan yang tidak mengetahui mengenai jati diri Jimin.
Park Jimin, anak haram yang dilahirkan di Busan pada tahun 1995 dari hasil hubungan gelap antara ibu Jimin dengan seorang pengusaha terkaya di wilayah Busan.
"Eomma jinjja mianhae, Jimin ah..." Ibu Jimin seringkali menangis sambil meminta-minta maaf kepada Jimin karena telah melahirkan Jimin ke dunia ini tanpa ayah.
Dan seperti biasanya, Jimin hanya bisa tersenyum sambil memeluk erat tubuh ibunya. "Mungkin ini memang takdirku, eomma... Setidaknya, kau sudah membesarkanku dengan baik walaupun ada sangat banyak tekakan di sekitar kita..."
Bahkan, tak jarang Jimin yang meminta maaf kepada ibunya setiap ia melihat ibunya dilempari sayuran busuk oleh warga sekitar setiap ibu Jimin pulang dari pasar.
"Maafkan aku, eomma.. Kalau saja aku tidak terlahir di dunia ini, kau pasti tidak akan menjalani hidup seberat ini..." sahut Jimin dalam isak tangisnya setiap ia melihat betapa tersiksa hidup ibunya itu.
Dan ibu Jimin pasti memeluk Jimin sambil berkata, "Justru eomma sangat bersyukur kau terlahir dan tumbuh dengan sehat seperti ini padahal eomma tidak sanggup merawatmu dengan baik..."
.
.
.
Siang itu, ibu Jimin masuk ke dalam rumah dengan senyuman di wajahnya,
"Jimin ah! Jimin ah! Eomma... Punya kabar baik untukmu!" sahut ibu Jimin.
"Ne? Ada apa, eomma? Apa kau menang undian berhadiah?" tanya Jimin.
"Aniya..." ibu Jimin menggelengkan kepalanya.
"Lalu, apa berita baiknya?" tanya Jimin.
"Apa kau... Mau pindah ke Gwangju?" tanya ibu Jimin.
"Ne?" Jimin membelalakan kedua bola matanya.
"Gwangju.. Apa kau mau pindah kesana?" tanya ibu Jimin lagi.
"Apa maksudmu, eomma?" Jimin memiringkan kepalanya.
"Kau tahu kan pasangan suami istri yang tidak punya anak? Yang tinggal tak jauh dari mini market di jalan utama? Yang rumahnya cukup besar itu.." tanya ibu Jimin.
Jimin menganggukan kepalanya. "Ne, eomma.. Hanya mereka berdua lah yang mau memperlakukan kita selayaknya manusia... Tidak seperti warga lainnya.."
"Mereka... Usaha mereka di Gwangju meningkat pesat! Jadi, mereka akan pindah ke Gwangju minggu depan! Dan kau tahu? Mereka bertanya kepada eomma, apakah kau bersedia ikut mereka ke Gwangju untuk menjadi pelayan di rumah mereka!" sahut ibu Jimin dengan anda begitu antusias.
Jimin terbelalak.
"Apa... Maksudnya, eomma?" tanya Jimin.
"Rumah yang telah mereka beli disana sangat besar! mereka butuh pelayan untuk merapikan rumah dan menyirami kebun mereka! Mereka memintamu untuk menjadi pelayan mereka..." sahut ibu Jimin.
"Lalu? Bagaimana dengan eomma?" tanya Jimin.
Ibu Jimin menatap Jimin. "Eomma tetap akan tinggal disini.. Kau akan diberi waktu setiap dua bulan sekali untuk mengunjungi eomma disini, Jimin ah..."
"Aku mana bisa meninggalkanmu, eomma!" Jimin tidak bersedia harus berpisah dengan ibunya.
"Tenang saja.. Eomma tidak akan tinggal di rumah kumuh ini.. Eomma.. Yang akan menjaga rumah mereka di Busan.. Eomma diijinkan tinggal disana untuk merawat dan menjaga rumah mereka itu.. Mereka bilang, mereka tidak mau menjual rumah itu karena mereka pun juga akan sering bolak-balik ke Busan dan Gwangju.. Mereka akan memperluas perusahaan mereka di Busan ini agar bisa sesukses usaha mereka di Gwangju.." sahut ibu Jimin.
"Aaaaahhh.. Jadi eomma bekerja untuk mereka di Busan, sementara aku di Gwangju?" tanya Jimin.
Ibu Jimin menganggukan kepalanya. "Majjayo.."
Dan setelah mempertimbangkan akan banyak hal, Jimin pun akhirnya bersedia pindah ke Gwangju untuk menjadi pelayan pasangan suami istri yang tidak memiliki anak itu.
Air mata mengalir dengan sangat deras ketika Jimin harus berangkat ke Gwangju dan berpisah dengan ibunya. Selama 21 tahun dalam hidupnya, baru kali ini ia pergi dari sisi ibunya.
"Eomma janji eomma akan menjaga diri dengan sangat baik disini.. Karena itu, Jimin ah.. Kau juga harus bekerja dengan rajin disana, dan jaga kesehatanmu baik-baik, araseo?" sahut ibu Jimin sambil memeluk Jimin dengan sangat erat. Air mata sudah membasahi kedua bola matanya.
Jimin menganggukan kepalanya. "Aku akan menelepon eomma setiap malam, jadi eomma harus selalu mengangkat teleponku ya..." sahut Jimin sambil terisak.
Dan akhirnya, Jimin pun pindah ke Gwangju.
.
.
.
Jimin tercengang ketika melihat betapa besar dan luasnya rumah pasangan suami istri bernama Jung Jihoon dan Kim Taehee itu.
Dari balik pagar putih yang menjulang setinggi satu setengah meter di hadapan Jimin, terlihat dengan sangat jelas sebuah kolam renang yang sangat luas di pekarangan rumah itu.
Dan tepat di belakang kolam renang itu, berdiri kokoh sebuah rumah bertingkat dua yang memanjang dan sangat indah.
"Inikah rumah kalian, ahjussi?" tanya Jimin sambil menatap penuh kagum ke arah Jung Jihoon.
Jihoon menganggukan kepalanya. "Majjayo, Jimin ah.. Semoga kau tidak keberatan bekerja mengurus rumah ini.."
"Apa aku.. Hanya seorang diri? Mengerjakan semua pekerjaan rumah?" tanya Jimin. Ia bisa membayangkan, bahwa tak akan ada waktu istirahat baginya
"Hahahaha~ Tenang saja, Jimin ah.. Kau hanya perlu membantu kami mengawasi para pembantu.. Ada dua orang ahjumma yang bertugas menyapu dan mengepel lantai, serta satu orang ahjumma yang bertugas mencuci pakaian dan membersihkan kolam renang... Tugasmu adalah memasakkan makan pagi dan makan malam, mencuci semua piring-piring kotor, serta mengawasi kinerja ketiga hajumma itu selama kami berada di kantor..." sahut Taehee.
"Ahhhh... Aku hanya perlu memasak dan mengawasi?" tanya Jimin.
"Tentu saja~" sahut Taehee sambil tersenyum manis.
"Tapi mengapa aku dibayar cukup tinggi setiap bulannya jika pekerjaanku tidak terlalu berat?" tanya Jimin.
"Memasak adalah hal yang melelahkan, ya kan? Kau harus bangun pagi-pagi untuk berbelanja daging dan sayur-sayuran, lalu kau harus selesai memasak sebelum jam tujuh pagi karena jam setengah delapan pagi kami sudah harus berangkat bekerja.. Lagipula, harga chef di restaurant jauh lebih mahal daripada gaji setiap bulan yang kami bayarkan kepadamu, Jimin ah..." sahut Jihoon sambil mengusap pelan kepala Jimin.
Tubuh Jihoon jauh lebih tinggi dari Jimin, makanya Jihoon senang mengusap kepala Jimin, sejak mereka masih tinggal di Busan.
Apalagi, mereka sudah menikah hampir lima tahun dan belum juga dikaruniai keturunan.
"Semoga kau betah tinggal disini, Jimin ah... Kau bisa mengunjungi ibumu di Busan setiap dua bulan sekali.. Kau bisa ke Busan pada Jumat malam dan kembali kesini Minggu siang.." sahut Taehee.
"Araseo, ahjumma... Gumawo, jinjja..." sahut Jimin sambil tersenyum manis.
.
.
.
Tak terasa sudah dua bulan Jimin bekerja sebagai pelayan dan koki di rumah Jihoon dan Taehee.
Walaupun semua terasa berat, apalagi ia tidak tinggal bersama ibunya lagi, namun ia merasa bersyukur karena memiliki penghasilan tetap setiap bulannya untuk ditabungnya, dan juga setidaknya di Gwangju tidak ada yang mengetahui jati dirinya, dan tentu saja tidak ada yang mengejek ataupun membullynya disana.
Minggu sore itu, Jimin baru saja kembali dari Busan setelah mengunjungi ibunya pada hari Jumat kemarin.
Hujan turun sangat deras sore itu, dan Jimin lupa, ia tidak membawa payung sama sekali.
"Aigoo... Aku tidak bawa payung... Haruskah aku berhujan-hujanan kembali ke rumah Jihoon ahjussi?" gumam Jimin sambil berdiri di pintu depan terminal bus, menatap hujan yang tengah turun deras dihadapannya.
Jarak dari terminal bus ke rumah Jihoon masih sekitar 20 menit lagi jika ditempuh dengan bus. Dan jarak dari terminal bus itu ke halte tempat Jimin menunggu bus yang menuju ke arah rumah Jihoon membutuhkan waktu sekitar 5 menit dengan berjalan kaki.
"Aku harus berjalan dalam hujan sekitar lima menit agar aku bisa ke halte bus untuk menaiki bus ke arah rumah Jihoon ahjussi... Aigoo... Apa aku nekat saja?" gumam Jimin sambil terus menatap hujan deras dihadapannya itu.
Baru saja Jimin hendak melangkah maju menerobos hujan, tiba-tiba saja sebuah payung berwarna pink berada tepat di atas kepala Jimin, membuat Jimin menghentikan langkahnya dan refleks menoleh ke atas, menatap payung pink di atas kepalanya itu.
"Uh?" sahut Jimin. Jimin segera menoleh ke samping kirinya, dan seorang pria berwajah tampan tengah tersenyum ke arahnya.
"Pakai saja payung ini... Nanti kau basah terkena hujan dan bisa sakit..." sahut pria itu.
Jimin tercengang, menatap heran ke arah pria di sebelah kirinya itu.
"Hahahaha.. Jangan bingung begitu! Pakai saja payung ini.. Aku dijemput ayahku naik mobil, sebentar lagi mobilnya akan tiba.. Kurasa kau tidak bawa payung makanya daritadi kau kebingungan kan?" sahut pria itu lagi.
"Mengapa kau tau... Aku kebingungan karena tidak bawa payung?" tanya Jimin dengan wajah polosnya.
"Aku sudah memperhatikanmu sejak tadi, hehehe.." sahut pria itu sambil tertawa kecil.
Dan detik itu juga, untuk pertama kali dalam hidupnya, Jimin merasakan sebuah perasaan aneh dalam dadanya ketika melihat pria tampan itu tertawa kecil.
"Sebuah tawa yang indah... Dan wajah yang sangat tampan.." gumam batin Jimin.
"Sudah, jangan ragu-ragu, pakai saja payungku ini, gwenchana.." sahut pria itu. "Ah, kenalkan, namaku Jung Hoseok.. Kau?"
"Park Jimin.. Imnida..." sahut Jimin, masih dengan eskpresi tercengang.
"Park Jimin? Jiminnie? Nama yang bagus, hehehe..." sahut pria tampan bernama Jung Hoseok itu.
"Jung.. Hoseok?" sahut Jimin pelan. "Namamu juga bagus, Hoseok-sshi..."
TIN!
Sebuah klakson mobil terdengar.
"Ah! Appa sudah datang!" sahut Hoseok sambil menatap ke arah sebuah mobil Lamborghini Aventador berwarna biru.
Jimin, sekali lagi, dibuat terkejut oleh Hoseok, yaitu ketika melihat betapa mahal dan mewahnya mobil ayah Hoseok.
"Jimin-sshi, aku duluan ya! Pakai saja payungku.. Gwenchana..." sahut Hoseok sambil melambaikan tangannya ke arah Jimin, lalu berjalan masuk ke dalam mobil biru mewah itu.
Jimin terdiam sesaat sambil menatap mobil Lamborghini Aventador biru itu berjalan menjauh dari terminal.
"Mwoya... Ternyata ia berasal dari keluarga kaya raya..." gumam Jimin sambil menundukkan kepalanya, menatap ke arah genangan hujan di bawah sana. "Aku... Mana mungkin ia bisa menyukai anak haram yang miskin sepertiku..."
Dan Jimin akhirnya berjalan kaki denga lesu menuju halte terdekat sambil memayungi tubuhnya dengan payung pink pemberian Hoseok.
.
.
.
Entah ini takdir atau apa, dua minggu setelah pertemuan pertama Hoseok dan Jimin di terminal sore itu, kali ini mereka kembali bertemu, di sebuah supermarket di dekat rumah Jihoon.
Malam itu, Jimin sedang membeli beberapa bahan makanan dan buah-buahan. Jimin berpikir, lebih baik ia belanja malam itu agar esok paginya ia bisa langsung memasak sarapan tanpa harus berbelanja terlebih dahulu ke pasar, karena esok pagi Jihoon dan Taehee ada perjalanan dinas ke Hongkong dan harus berangkat jam enam pagi.
Dan ketika Jimin sedang memilih beberapa jenis sayuran di supermarket itu, tiba-tiba saja ada sebuah suara menyapanya.
"Park Jimin-sshi?"
Jimin refleks menoleh ke arah suara itu berasal, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Hoseok tengah berdiri tepat di belakangnya sambil tersenyum. Tangan kanannya tengah dilipat di depan dadanya, sementara tangan kirinya tengah menopang dagunya.
"Uh? Hoseok-sshi?" Jimin sangat terkejut, tak menyangka ia bisa kembali bertemu dengan cinta pertamanya itu.
Cinta pertama?
Ya! Sejak pertama kali melihat tawa di wajah Hoseok sore itu, jantung Jimin selalu berdetak sangat cepat setiap mengingat wajah tampan dan senyuman Hoseok.
Dan Jimin yakin, ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada pria bernama Jung Hoseok itu.
"Whoaaaa~ Ini kebetulan sekali kita bisa bertemu lagi, ya kan?" sahut Hoseok, masih sambil tersenyum.
Jimin menganggukan pelan kepalanya sambil membalas senyuman Hoseok. "Majjayo... Hehehe~"
"Kau... Tinggal di dekat sini?" tanya Hoseok.
Jimin bingung harus menjawab apa, jadi dia refleks menganggukan kepalanya. "Majjayo..."
"Toh, aku memang tinggal di daerah sini kan? Yang ia tanyakan aku tinggal dimana, bukan dimana rumahku, ya kan?" bisik hati kecil Jimin.
"Aaaahhhh..." sahut Hoseok sambil menganguk-anggukan pelan kepalanya.
"Kalau kau? Kau juga tinggal di dekat sini?" tanya Jimin.
Hoseok menggelengkan kepalanya. "Aniya.. Rumahku sekitar dua puluh menit dari sini, ke arah utara.. Tapi, tempat les bahasa inggrisku di dekat sini, dan aku baru saja pulang les dan ingin mencari minuman segar makanya aku kesini.. Aku tak menyangka justru aku bertemu lagi denganmu disini, Jimin-sshi!"
"Aaaahhhh..." kali ini Jimin yang menganggukan pelan kepalanya. menandakan ia mengerti.
Hoseok melihat keranjang belanjaan yang dibawa Jimin. "Kau membeli banyak sayuran dan buah, apa kau akan memasak?"
"Majjayo... Aku.. Uhm..." Jimin terdiam sejenak sambil berpikir, lalu kembali menjawab, "Aku suka memasak, dan aku sering memasak di tempat tinggalku.. Makanya aku belanja banyak bahan makanan untuk kumasak besok~"
"Whoaaaa! Kau suka memasak? Kau yang memasak di rumahmu? Whoaaaa! Kau sangat keren, Jimin-sshi.." sahut Hoseok sambil menatap kagum ke arah Jimin.
Membuat Jimin jadi salah tingkah dipuji seperti itu oleh Hoseok.
"Aku jadi semakin tertarik denganmu, Jimin-sshi! Hehehe.." sahut Hoseok.
Seketika itu juga Jimin nyaris tidak bisa bernafas karena terkejut mendengar ucapan Hoseok.
"Aku kelahiran 1994, kalau kau?" tanya Hoseok tiba-tiba.
"Uh? Aku 1995..." sahut Jimin. Jantungnya masih berdetak tidak karuan karena ucapan Hoseok barusan!
"Jadi aku setahun diatasmu? Kalau begitu, aku boleh memanggilmu Jimin ah? Atau Jiminie? Kau bisa memanggilku Hoseok hyeong! Dengan begitu, kita akan semakin dekat, ya kan? Jiminnie? Hehehe..." sahut Hoseok.
"Uh?" Jimin lagi-lagi terkejut dengan ucapan Hoseok.
"Panggil aku Hoseok hyeong.. Araseo, Jiminnie?" sahut Hoseok sambil menepuk-nepuk pelan bagian atas kepala Jimin
"Uh? Uhhh... Ne, hyeong..." sahut Jimin, masih agak canggung. Dan juga terkejut.
Setelah itu, Hoseok dan Jimin sama-sama berjalan ke kasir untuk membayar belanjaan mereka, dan tiba-tiba saja hujan turun dengan deras seketika.
"Mwoya? Hujan lagi? Yaishhh... Aku tidak membawa payung..." gerutu Jimin.
Hoseok membuka tasnya dan mengambil sebuah payung lipat miliknya. "Ayo, ikut denganku..."
"Uh?" Jimin kembali menatap Hoseok.
"Kau bilang rumahmu dekat sini kan? Biar kuantarkan ke rumahmu dengan payungku... Aku tidak bisa meminjamkanmu payung yang ini, karena ini payung hadiah ulang tahun dari almarhum ibuku untukku.. Mian.." sahut Hoseok.
"Uh? Ibumu.. Sudah meninggal?" Jimin jadi merasa tidak enak mendengar Hoseok mengucapkan hal itu dengan ekspresi sedih di wajahnya.
Hoseok menganggukan kepalanya. "Sekitar tiga bulan yang lalu... Kanker payudara..."
"Aku turut berduka, hyeong.." sahut Jimin.
Hoseok kembali tersenyum. "Gwenchana.. Ayo, kuantar kau ke rumahmu.."
"Tidak usah, hyeong.. Aku bisa menunggu hujan reda saja.. Toh, aku masih berhutang satu payung kepadamu.. Kapan kau ada waktu? Ayo kita bertemu lagi, agar aku bisa mengembalikan payungmu.." sahut Jimin.
"Kelihatannya hujannya masih lama berhentinya, tidak apa-apa, ayo aku antarkan, sekalian aku menunggu ayahku menjemput.. Ia baru bisa menjemputku di tempat les satu jam lagi setelah meetingnya di kantor selesai..." sahut Hoseok.
"Aahhhh..." sahut Jimin.
"Mengenai payung pink itu, itu kuhadiahkan untukmu! Jadi, tak perlu kau kembalikan.. Lagipula, aku tidak suka warna pink, hehehe..." sahut Hoseok.
"Uh? Bukankah kau membawa payung itu waktu itu?" Jimin kembali menatap Hoseok dengan tatapan bingung.
"Kau lupa? Di terminal kan ada mini mart yang menjual payung! Aku sengaja membeli payung itu ketika melihatmu menggerutu terjebak hujan disana sore itu, Jimin ah.. Dan kurasa, warna pink sangat cocok untuk wajah manismu, hehehe.." sahut Hoseok.
"Jadi, kau sengaja membeli payung itu untukku?" Jimin terbelalak.
Hoseok menganggukan kepalanya. "Majjayo.."
"Hyeong..." Jimin tiba-tiba merasa sangat terharu. "Gumawo, jinjja..."
Hoseok tersenyum. "Kalau begitu, ayo, kuantarkan kau ke rumahmu.."
Akhirnya Jimin bersedia berjalan berdua dengan Hoseok di bawah naungan sebuah payung berwarna biru tua itu, menuju ke rumah Jihoon.
Sepanjang perjalanan, mereka berbincang-bincang. Dan setiap kali Hoseok tersenyum atau tertawa, detak jantung Jimin terus berdetak tidak karuan.
Mereka pun bertukar nomor handphone dan berjanji akan saling berkomunikasi.
Dan setibanya mereka di depan rumah Jihoon, Hoseok menatap Jimin. "Ini rumahmu? Whoaaaa, rumahmu sangat bagus! Kurang lebihnya mirip dengan rumahku..Hehehe~"
"Ah, jinjja?" tanya Jimin.
Hoseok menganggukan kepalanya. "Rumahku tidak selebar rumahmu ini, tapi rumahku bertingkat tiga.."
"Ahhhh..." sahut Jimin.
"Bagaimana jika ia meminta masuk?" sahut hati kecil Jimin, cemas jika Hoseok mengetahui bahwa itu bukan rumahnya dan ia hanyalah seorang pelayan disana.
"Baiklah, sudah sampai, sana kau masuk.. Aku harus kembali ke tempat lesku..." sahut Hoseok.
"Huft~ Syukurlah ia tidak meminta masuk!" sorak batin Jimin.
"Araseo.. Gumawo, hyeong... Terima kasih sudah mengantarku pulang... Maaf merepotkanmu.." sahut Jimin.
"Gwenchana... Aku senang bisa berbincang-bincang denganmu, Jimin ah.." sahut Hoseok sambil tersenyum.
.
.
.
Waktu terus berlalu, dan komunikasi berjalan lancar antara Jimin dan Hoseok.
Sesekali Jimin dan Hoseok saling bertukar foto-foto selca mereka via kakaotalk. Hampir setiap hari Hoseok dan Jimin mengirimkan foto-foto selca mereka.
Jimin, terpaksa, sering berfoto di dalam rumah Jihoon setiap rumah sedang sepi, seolah ingin meyakinkan Hoseok bahwa Jimin memang tinggal di rumah mewah itu.
Berkali-kali Jimin merutuki dirinya, yang selalu membohongi Hoseok akan jati dirinya. Berkali-kali Jimin berusaha menjelaskan semua kepada Hoseok, namun Jimin tidak pernah berani.
Jimin takut, Hoseok akan pergi menjauh darinya jika Hoseok mengetahui bahwa ia adalah anak haram dan berasal dari keluarga yang miskin.
Jimin selalu merasa tidak layak setiap berdiri bersampingan dengan Hoseok, namun rasa cintanya kepada Hoseok tidak bisa dibendungnya.
.
.
.
2017
Tak terasa sudah setahun Jimin dan Hoseok begitu dekat.
Dan tepat tanggal 14 Februari 2017 itu, Hoseok mengutarakan perasaannya kepada Jimin.
"Park Jimin... Apa kau bersedia menjadi kekasihku? Saranghae, Park Jimin..." sahut Hoseok dengan senyuman di wajahnya sambil menyodorkan seikat bunga ke arah Jimin.
Jimin hanya bisa tercengang, tidak menyangka bahwa cintanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan!
"Mengapa kau terkejut begitu, Jiminnie? Bukankah seharusnya kau sudah tahu akan perasaanku? Selama setahun ini, aku sudah menunjukkan dengan sangat jelas kepadamu betapa aku sangat menyukaimu, imma... Aigoo.." sahut Hoseok sambil mengacak pelan rambut Jimin.
Dan seketika itu juga Jimin tersenyum, sangat manis, sambil berkata, "Ne, hyeong~ Aku bersedia menjadi kekasihmu..."
"Jinjja? Whoaaa, gumawo, Jiminnie..." sahut Hoseok sambil memeluk erat tubuh Jimin.
"Kalau begitu, mulai sekarang kita berkencan, araseo?" sahut Hoseok.
Jimin menganggukan kepalanya sambil terus tersenyum.
Setelah resmi berpacaran, mereka menghabiskan seharian itu dengan menonton bioskop dan makan malam yang sangat romantis. Tentu saja, semua dibiayai oleh Hoseok!
Untung saja hari itu, Jihoon dan Taehee sedang ada pekerjaan di New York sampai seminggu ke depan, jadi Jimin bisa bermain di luar seharian penuh.
Malamnya, Jimin terbaring di atas kasur di kamar yang disediakan Jihoon untuknya.
Jimin, yang tidak berhenti tersenyum sejak tadi siang, tiba-tiba terdiam.
Ia memejamkan kedua matanya sambil bergumam, "Apakah aku... Layak mendapatkan kebahagiaan yang kuperoleh dari kebohonganku ini?"
Dan air mata mulai menetes dari sudut matanya yang terpejam itu.
"Apakah mencintai Hoseok hyeong... Adalah sebuah dosa? Sampai aku... Harus terus berbohong demi bisa bersamanya?"
.
-TBC-
Note : Maafkan saya, niat drabble kok jadi panjang gini, makanya saya bikin 2 part lagi ya FF ini /deep bows/
Silakan ditunggu bagaimana kelanjutan kisah cinta HopeMin yang dipenuhi akan kebohongan ini wkwkw XD
Jangan lupa cek akun wattpad saya untuk liat visualisasi dari FF ini :)
reply for review:
taniaarmy19 : udah ada kan tuh namkook brothershipnya di The Story Of Love wkwkw XD culik sana culik/? yoonkook so sweet ya wkwkw XD
Park RinHyun-Uchiha : ngilu kenapa? XD
ichikawa haru : gumawo for reading :) here ff hopemin nya :)
