Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto. Plot and Storyline belong to me.
Pairing : SaiIno
Genre : Romance, AU
Rating : K+
Warning : Typo(s), OOC, dan Don't like, Don't read, bahasa agak sedikit gado gado, sangat menerima review^.^!
.
.
.
~***~Sherleen10~***~~***~Sherleen10~***~~***~Sherleen10~***~
.
.
TULIP
Sai POV
"Ohayou Sai! Eh, tulip orange lagi? Tanya Shikamaru yang barusaja datang ke studio band kami sambil menenteng bantal tidur kesayangannya yang bergambar rusa.
"Ohayou Shika! Ya, pagi ini ada di atas tuts mi keyboardku." Jawabku tanpa mengalihkan perhatian dari buku sket gambarku.
"Diatas tuts mi? Hey, jangan-jangan kau menggambarnya lagi? Yaampun, kan bisa difoto, mendokusai.."
"Tulip yang kemarin ada di atas tuts re, yang dua hari lalu di tuts do. Entahlah, menurutku lebih menyenangkan jika digambar." Jawabku lalu melempar senyum singkat pada Shikamaru yang menatapku dengan wajah ngantuknya.
"Heeh? Kau dan otak senimu! mendokusai!"
Aku hanya tersenyum menanggapi ocehan Shikamaru yang sedang sibuk menyapu lantai studio. Hari ini adalah giliran piket bersih-bersihnya.
"Oh, Sai, kau dapat tulip orange lagi?" kali ini Neji yang bertanya. Ia baru tiba dari ruang OSIS. Biasa, tugas harian ketua OSIS. Dibelakangnya ada Naruto dan Sasuke yang—lagi-lagi sibuk berdebat entah masalah apa itu.
"Jangan-jangan kau punya secret admirer-ttebayo, selamat ya bro!" jawab Naruto yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku sambil menepuk pundakku dengan bangga.
"Hn, kau sudah selesai melukis kan? Ayo kita mulai latihannya." Perintah Sasuke yang sudah memegang microphonenya
Kalau dipikir-pikir benar juga sih, tidak mungkin ada orang yang menaruh bunga tulip di atas keyboardku selama tiga hari berturut-turut dengan sengaja dan sukarela. Memang, biasanya kami—anggota Five Eagles sering sekali menerima hadiah-hadiah yang sengaja diberikan fans-fans kami tetapi ini baru pertamakalinya aku menerima bunga tulip berwarna orange. Pasti ada arti khusus dibaliknya, Aku harus memastikan ini.
.
.
.
"Dobe kau kelewatan 1 kunci."
"Heh Hongto? Perasaan aku sudah melakukannya dengan benar-dattebayo." Jawab Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sasuke hanya menanggapi tingkahnya itu dengan cuek
"Neji, aku tahu kau agak bersemangat hari ini, tetapi bisa kau pelankan sedikit temponya? Lagu yang kita mainkan ini bukan lagu rock." Kali ini ia beralih ke Neji yang duduk dibalik drum birunya.
Neji hanya merespon kritikan Sasuke dengan anggukan singkat plus ekspresi datarnya.
"Shikamaru, permainan yang bagus. Tapi tolong singkirkan wajah mengantukmu itu!"
"Yah mau bagaimana lagi." Jawabnya lalu menguap. Kurasa ia benar-benar mengantuk.
"Dan Sai, kau kelewatan beberapa melodi. Sepertinya kau tidak fokus hari ini. Ada yang kau pikirkan?"
"Nande mo nai desu."
"Hn, apa boleh buat. Istirahat setengah jam. Kalian harus kembali.. eto, pada pukul 11:30. Wakatta?" akhirnya Sasuke menyerah juga. Biar bagimanapun kerasnya kami berlatih tetapi tidak dalam keadaan fit kan sama saja tidak ada gunanya.
"Akhirnya," ucap kami berempat hampir bersamaan.
Tanpa basa-basi Shikamaru langsung melompat ke sofa biru kebanggaannya, bahkan ia langsung terlelap memeluk bantal rusanya, dasar tukang tidur akut! Neji? Halah, jangan ditanya! Dia sudah ngacir dari semenit yang lalu ke ruang OSIS—mungkin dia juga akan mampir ke ruang jurnalistik, you know lah. Naruto sibuk makan bento yang dibuat oleh Hinata sambil sesekali memanas-manasi Sasuke yang samasekali belum pernah dibuatkan bento oleh Sakura. Untuk ukuran orang yang sudah punya pacar, Sasuke kasihan juga kekeke..
"Sai, Kau mau ke ruang ikebana lagi?" tanya Naruto dengan mulut penuh
"Hn, Mau ikut?" tawarku sambil mebereskan beberapa peralatan melukisku dan memasukkannya ke dalam tas
"Bukan begitu-ttebayo! Maksudku kenapa kau tidak sekalian saja bertanya kepada si pirang Yamanaka, dia pasti tau sesuatu tentang bunga itu." Sambungnya kali ini dengan muka yang serius.
Eh, Yamanaka Ino? Sebenarnya dia adalah salah satu teman satu SMPku, kami pernah mengobrol beberapa kali tetapi tidak sampai akrab sih dan belum pernah sekelas, orangnya cukup ramah dan cantik. Kuakui dulu aku sempat tertarik dengannya, tetapi karena dulu aku adalah seorang kutu buku-pelukis-berkacamata tebal-yang aneh maka niat itu otomatis kuurungkan—mengingat posisiku yang kurang menguntungkan. Selain itu dia cukup populer di kalangan murid laki-laki.
Pertayaannya, apakah aku akan berusaha mendekatinya lagi? Entahlah, lihat saja nanti, memang saat ini aku sudah merubah penampilanku, seperti beralih dari klub melukis dan mengambil posisi sebagai keyboardist di Five Eagles contohnya, bahkan aku sudah melakukan operasi lasik dua tahun yang lalu untuk mengurangi minus di mataku.
Sebenarnya aku pernah memergoki Ino terpana menatapku waktu festival Bunkasai tahun lalu. Mungkin saja aku salah lihat... Tidak mungkin ia menyukai laki-laki mantan kutu buku sepertiku—dan dia tau itu.
Tapi tumben sih Naruto punya solusi yang masuk akal, mungkin baka mode miliknya sedang konslet tadi.
"Boleh juga usulmu Dobe! Tumben otakmu berfungsi dengan baik." Celetuk Sasuke yang perhatiannya langsung teralih dengan penuh ke usul yang disampaikan Naruto tadi.
"TEMEEE!"
Sendok yang semula ada di tangan kanan Naruto langsung melayang ke arah Sasuke, tapi yang namanya Uchiha Sasuke—yang notabene seorang atlet dapat dengan mudah menghindari serangan mendadak dari Naruto. Bisa ditebak kejadian selanjutnya, sendok naas itu malah melayang dengan mulus ke sofa biru di belakang Sasuke yang kebetulan sedang ditempati Shikamaru, kali ini kepala Shikamaru yang menjadi korban pertengkaran Naruto vs Sasuke.
Naruto dan Sasuke meneguk saliva masing-masing dengan was-was. Tentusaja mereka tau apa yang akan terjadi selanjutnya, pernah dengar pepatah, 'jangan bangunkan singa yang sedang tertidur' kan? Nah, pepatah itu berlaku mutlak untuk Shikamaru, terutama kalau dia lagi meringkuk di sofa biru itu. Kekeke...
"Jaa, selamat bersenang-senang Sasuke, Naruto." Jawabku yang tentusaja dihadiahi death glare gratis oleh manusia pirang dan si pantat ayam itu. Lagi pula itu salah mereka sendiri membangunkan Shikamaru.
Ow, kali ini suara ribut-ributnya lebih keras dari sebelumnya. Sepertinya Shikamaru benar-benar mengamuk kali ini hiihi.. Gumamku dalam hati lalu menggeleng-geleng keheranan. Makanya jangan usil!
.
.
.
Srek,
Eh?
Aku sedikit terkejut saat menggeser pintu klub ikebana, bukan karena suasana ruangannya tetapi karena sosok seorang gadis yang berdiri membelakangiku yang sedang sibuk merangkai bunga. Sekedar info, ruangan klub ini adalah salah satu ruangan yang memiliki desain khas Jepang—menyesuaikan dengan jenis klubnya- selain ruangan klub kendo dan klub origami. Rambut pirang sepanjang pinggang miliknya diikat dengan ikat rambut studded ungu tua ala ponytail dan poninya dibiarkan menjuntai menutupi sebagian wajahnya, sedangkan badanya dibalut sweater soft purple untuk melapisi seragam Konoha Academy yang ia kenakan. Dikakinya juga melekat sepasang sepatu uwabaki hitam plus kaus kaki putih bersih yang panjangya sebetis. Selain itu ia memakai jam bercorak paris berwarna putih dan beberapa gelang sebagai aksesoris, benar-benar fashion icon sejati. Tentusaja itu tipikal penampilan si ketua klub ikebana Yamanaka Ino, gadis yang sudah kutaksir semenjak SMP.
"Oh, Sai kun?"
" Kau Yamanaka Ino kan? Satu SMP denganku dulu?" tanyaku memastikan. Kalau sampai salah orang kan malu, apalagi ia termasuk siswi termodis di Konoha Academy yang sangat doyan berganti-ganti gaya pakaian, gaya rambut, bahkan barang-barang yang ia bawa ke sekolah rata-rata selalu diganti seminggu sekali mengikuti mode yang sedang ngetrend sehingga gadis beriris aquamarine ini menjadi salah satu cewek trend setter fashion di sekolah. Setidaknya itu yang kudengar dari bisik-bisik murid perempuan di kelasku yang notabene iri dengan selera fashionnya.
"Tentu saja! Yaampun Shimura Sai! Kau benar masih SMA kan? Jangan bilang kau punya penyakit pikun!?" ucapnya panjang lebar sambil berkacak pinggang. Manik aquamarinenya menatap manik mata onyxku dengan kekesalan tingkat tinggi. Tanpa sadar jantungku mulai berdegup kencang, ternyata gadis bersurai pirang ini masih tetap spesial bagiku biarpun kami jarang sekali bertemu. Bisa dibilang aku mungkin salah satu secret admirernya.
"Iie, bukan begitu.. aku hanya memastikan saja." Elakku. "tapi ngomong-ngomong apa yang kau lakukan sendirian disini?" tanyaku mencoba berbasa-basi
"Ah, aku senang kau bertanya. Masuklah, duduk dimana saja sesukamu. Lagipula aku bosan disini sendirian." Jawabnya lalu tersenyum ramah dan mempersilakanku duduk. "Seperti yang kau lihat, Aku sedang berlatih merangkai bunga untuk lomba ikebana pada festival musim semi Konoha yang diadakan lima hari lagi. Tahun ini aturannya satu sekolah hanya boleh diwakili satu peserta, jadi aku lumayan sibuk akhir-akhir ini." Jelasnya sambil memotong beberapa tangkai bunga
"Ooh, pantas aku jarang melihatmu di ruangan ini selama seminggu terakhir." Aku meraih sketch book dan kotak pensilku lalu mulai melukis bunga yang dirangkai Ino.
"Hmm, aku berlatih di ruangan lain agar lebih mudah konsentrasi. Aku dengar kau sering datang kesini untuk melukis, benarkah?" tanyanya penasaran. Kali ini perhatiannya benar-benar teralih kepadaku
"Hn, beberapa hari terakhir aku memang sering kesini untuk mencari inspirasi. Aku ingin bertanya sesuatu padamu." Aku mengeluarkan ketiga bunga tulip yang kudapat selama tiga hari terakhir. Dua diantaranya sudah agak layu, lalu ku tunjukkan benda tersebut kepadanya.
Alis Ino terangkat bingung, kemudian ia menghampiriku dan duduk di sebuah kursi kosong disebelah kursiku.
"Tulip orange?" alisnya berkerut bingung. "Kenapa yang dua ini lebih layu?" tanyanya sambil mengamati ketiga tulip tersebut. "Tapi baunya masih wangi sih." Lanjutnya lagi lalu tersenyum.
Yaa, terus saja tersenyum Ino chan, lagipula senyumanmu tidak menyebabkan diabetes.
"Aku mendapatkan ini selama tiga hari berturut-turut."
"Di keyboardmu itu kan? Eh, aku hanya menebak saja.." ucapnya tiba-tiba menyela
"Hn? Tebakanmu benar sih, hari pertama di tus do, hari kedua di tuts re, dan yang tadi pagi di tuts mi." Jelasku
"Besok pasti di tuts fa.." jawabnya dengan asal lalu tertawa renyah
"Mungkin juga," timpalku lalu tersenyum padanya. Gadis ini sangat blak-blakan, masih seperti dulu. "Kau tau arti dari tulip orange ini?"
"Tulip orange? Sepertinya semacam peyemangat. Tunggu sebentar akan kuambil bukunya untuk memastikan." Jawabnya lalu berjalan menuju sebuah rak buku yang penuh berisi berbagai buku tentang bunga dan tanaman. Ia menarik sebuah buku dengan judul, 'Ensiklopedia Bunga Seri Tulip'. Buku itu bersampul biru tua dan bercover kulit sintetis dengan gambar bunga tulip berwarna emas yang tercetak timbul pada covernya. Sepertinya aku melihat buku semacam itu di rumah baachan beberapa bulan yang lalu, bedanya punya baachan tentang bunga mawar.
"Ah, tulip orange artinya penyemangat. Disini tertulis jika seorang memberikanmu bunga tulip orange, orang itu berarti peduli padamu dan ingin menyemangatimu, begitu." Jelasnya sambil menggaruk belakang lehernya dengan gelisah
Penyemangat?
"Souka, arigato Ino san,"
"Eh, eo.. tidak masalah Sai kun."
.
.
.
"Tadaima."
"Okaeri Sai,"
"Hmm, tulip ungu? Tumben kaasan mau membeli bunga." Tanyaku agak heran sambil mendekati vas bunga berisi beberapa tangkai bunga tulip ungu yang terletak di atas meja ruang tamu.
"Ah, itu.. tousanmu yang memberikannya tadi pagi. Hari ini kan ulang tahun pernikahan kami." Wajah kaasan sedikit memerah, eeh, ternyata tousan bisa romantis juga.. "Sudahlah, makan siangmu ada di atas meja makan. Kaasan mau ke atas dulu."
"Hn, arigato kaasan."
Tapi kalau dipikir-pikir, ini sudah hari keenam dan bunga tulip orange itu tadi pagi ada di atas tuts la keyboardku. Yang jelas ini bukan perbuatan orang iseng.
.
Aku duduk di depan canvas putih yang masih kosong, bingung mau melukis apa. Setelah selesai menggambar tulip keenam, tiba-tiba aku ingin melukis sesuatu.
Bau cat akrilik memenuhi kamarku yang agak tertutup. Ayolah, kemana semua ide yang kuperoleh. Ah, sosok gadis bersurai pirang itu tiba-tiba terlintas di benakku, saat itu ia sedang merangkai bunga di dekat jendela ruang ikebana, poni menjuntainya dijepit ke samping kanan.
Tanganku mulai bergerak mencampur berbagai warna dan mengoleskannya ke kanvas yang tadinya kosong itu. Mendadak semuanya menjadi sedikit jelas, tulip orange; keyboard; ikebana; tebakan beruntung yang benar... semuanya sudah jelas.
Sepertinya besok adalah waktu yang tepat untuk membongkar kedok si tulip orange.
.
.
.
PAGINYA DI STUDIO FIVE EAGLES
Tap...tap...tap...
Cklek,..
"Akhirnya kau datang juga, gadis tulip orange."
"S..sai kun?"
"Hanya kau yang bisa melakukan ini, pertama kau selalu datang pagi ke sekolah, kedua kau satu-satunya murid yang berkesempatan membawa bunga karena kau adalah peserta lomba ikebana, tapi itu belum cukup," jelasku sambil berjalan mendekati gadis bersurai pirang itu.
Sebagai respon, ia berjalan mundur menjauh dariku. Tangan kirinya berada di belakang punggungnya menyebunyikan sesuatu, setangkai tulip orange.
"A..apa yang kau bicarakan?" tanyanya dengan gugup sambil tetap menyembunyikan barang bukti itu
"Yang terakhir, kau tau dimana bunga itu ditemukan, padahal aku belum memberitahukannya. Tebakan beruntung itu hanya alasanmu saja, kau sebenarnya kelepasan berkata begitu. Seseorang tidak mungkin menebak suatu peristiwa yang tidak biasa dengan akurat, kalau dia bisa berarti dia tau dan terlibat langsung dalam peristiwa itu." Jelasku panjang lebar sambil mengunci gadis itu dengan kedua tanganku agar dia tidak kabur
"Baiklah, aku mengaku.."
Kurogoh saku belakang celanaku untuk mengambil sesuatu.
"Sebagai balasan, ini..." jawabku sambil memberinya setangkai tulip ungu
"Kore wa? Tulip ungu?"
"Hn, cinta pada pandangan pertama. Ayo kita berkencan, Yamanaka Ino."
"Tentu saja. Dasar kutu buku menyebalkan! Terimakasih sudah membuatku menunggu selama 5 tahun." Jawabnya lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan sedikit kesal. Are are... sudah diajak berkencan masih juga ngambek...
Aku mencintaimu Ino chan, bahkan saat pertemuan pertama kita dulu, sama seperti tulip ungu ini. –Sai
.
.
Note :
Ikebana : seni merangkai bunga di Jepang
Origami : seni melipat kertas di Jepang
Kendo : seni bela diri Jepang
Uwabaki : sepatu yang dipakai murid-murid di Jepang yang digunakan khusus saat belajar di sekolah. *itu loo biasanya di anime kan ada loker khusus buat ganti sepatu, jadi mereka ganti sepatu yang mereka pakai dari rumah dengan sepatu uwabaki*
.
.
A/N
Gomen ne update chap SaiInonya terlalu lama, author lagi sibuk banget buat nyiapin ospek dan berganti status jadi anak kos-_- duuh, untuk chap selanjutnya mungkin updatenya agak sedikit lebih lama, *tapi gak lama-lama banget kok jangan khawatir* masalahnya itu, ide ceritanya udah ada di kepala saya, Cuma waktu buat ngetiknya itu... tapi saya janji ga bakal lama-lama. Hihihi makasi yaa udah mau baca dan ngikutin kelanjutan ff hopeless romance ini,^0^)/
.
.
BALASAN REVIEW
FahChan : yuuhu yuuuhu makasi udah mampir lagii~~ sudah dilanjutkan yaa, ditunggu review selanjutya^.^ )/~~
Quilazla : *aku panggil lazla san ya* hihihi makasi udah mau baca ff pemula bin absurd ini, liat aja judulnya,*judulnya aja udah absurd* btw udah di post ya chap 4nya ditunggu review selanjutya^.^ )/~~
EmikoRyuuzaki-chan : arigatooo udah ninggalin jejak! padahal ff ini lumayan absurd menurut saya haks, udah di post ya chap 4nya ditunggu review selanjutya^.^ )/~~
Berithslies : arigato lies san udah mampir lagi hihihi, chap 4nya udah di post ditunggu review selanjutya^.^ )/~~
Hanamori Hikari : makasi udah mampir Hika san! Sasuke itu luarnya doang dingin, siapa tau dalemnya OOC tigkat dewa? XD*ditimpug sasuke* yosh, chap 4nya udah di post ditunggu review selanjutya^.^ )/~~
Yudi : makasi udah mampir lagi Yudi san! yosh, chap 4nya udah di post ditunggu review selanjutya^.^ )/~~
: makasi udah mampir lagi Hanalzumi san! chap 4nya udah di post yaa, ShikaTemanya masih dalam proses.. ditunggu review selanjutya^.^ )/~~
Dsalss : gapapa senpai, reviewnya udah kayak esay aja panjang bett XD *plak*GANBATTE BUAT MOSNYA SENPAIII! DITUNGGU PAKE BANGET LOH FFNYA SENPAI! *caps jebol* ditunggu review selanjutya yaa senpaiiiiii^.^ )/~~ *kissu back*
Uchiha Raven : SALAM KENAL :D ! makasi udah mampir dan ngefav story saya yang luar biasa abal ini Raven san! Saya juga masih newbie kok *hug* yosh, SaiInonya udah di post yaa ditunggu review selanjutya^.^ )/~~
Next pairing : ShikaTema (udah jelas pairingnya jadi gak seru kalo pake clue lagi hahaha... -_-)*ketawa garing*
.
~***~Sherleen10~***~~***~Sherleen10~***~~***~Sherleen10~***~
