Naruto DxD :: True Longinus.
A Naru DxD Fanfiction by Tobi Tobio.
•
•
•
A/N ::
• Alur tidak sejalan dengan Anime/Light Novel DxD.
• Kejadian di ambil secara acak/tidak berurutan. Dengan sedikit pengembangan sesuai imajinasi Author.
• Naruto pemilik True Longinus, Holy Spear.
• Fraksi Pahlawan dihilangkan dan digantikan Fraksi Uciha.
Rate :: M (untuk kekerasan dan kata yang kurang/tidak pantas untuk diucapkan).
Fict update setiap kamis!
•
•
•
Tobi tidak mampu berkata-kata lagi. Jujur saja 100++ Review dalam 3 Chapter sangat luar biasa, bahkan Follow & Fav yang membludak (juga) tidak pernah Tobi kira. Mengingat ini adalah fanfiction pertama Tobi. Dan Tobi sangat senang dengan itu!
Tapi, Tobi juga masih menunggu Reader-San yang masih malu-malu untuk memberikan Reviewnya. Jangan malu. Karena Tobi sangat mengharapkan itu. Tidak ada yang lebih spesial dari Review yang diberikan pembacanya.
Ada Review yang membuat Tobi penasaran. 'Tenseigan' itu karangan Author Senior atau asli dari Naruto? Karena jujur Tobi tidak tau. Setau Tobi Tenseigan itu nama jurus Ichigo atau nama Zanpakuto di Anime Bleach atau Pedangnya Inuyasha (kalou gak salah).
Mohon pencerahannya Reader-San ...
Dan soal Hogoromo, Ashura dan Indra, Tobi hilangkan dalam fict ini. Kenapa? Karena akan bertabrakan dengan Charakter Indra dalam HS DxD. Tobi memang belum berfikir untuk memasukan Chara ini, tapi mengingat ini fict jangka panjang, bukankah lebih baik kalau sedia payung sebelum hujan?
Tobi hanya mengambil Kaguya Otsutsuki dan Clan Senju dan Uciha sebagai keturunan langsungnya. Jadi tidak akan ada penggabungan DNA Indra-Ashura untuk kekuatan sejati Otsutsuki. Lebih jelasnya akan coba Tobi rincikan pada Chapter ini.
Jika masih bingung, Reader-San bisa bertanya pada kolom Review atau PM.
Wah reapon kemunculan Hinata ternyata cukup bagus. Padahal Tobi fikir sebelumnya, itu adalah perjudian yang beresiko. Dan Soal Iruka, dia hanya manusia biasa tanpa kekuatan apapun, karena tidak ada peran khusus untuknya dalam Fict ini.
Untuk Uciha maupun Senju, dari pada disebut Ninja, Tobi lebih suka menyebut dua Clan itu keturunan Dewa. Uciha adalah 'isi' dan Senju sebagai 'cangkang'. Bukankah Cluenya sudah muncul dari ucapan Sasuke.
Naruto adalah Senju? Bahkan sudah Tobi sampaikan di Chapter 2 kalau Naruto cucu Senju Hashirama. Dan kenapa marganya bukan Senju, akan di jelaskan di dalam fict (Chapter ini juga).
Ada dua hal yang Tobi rasa membingungkan untuk Reader-San, Pairing dan Alur. Baik lah akan coba Tobi jelaskan sesingkat-singkatnya, terlalu bayak ngomong membuat Word membengkak xD
Soal pairing. Rencana awalnya sih cuma Rias dan Sona, Kemunculan Hinata sepertinya membuat Tobi (mungkin juga Reader-San) galau. Tadinya Hinata cuma Tobi jadikan 'kartu trap' untuk Naruto, tapi saat membaca beberapa Review yang menginginkan Hinata masuk daftar Pair Naruto, Tobi mulai bimbang. Mungkin Reader-San bisa membantu Tobi untuk urusan ini? Mumpung perasaan mereka belum terlalu Tobi exspose.
Dan soal Alur. Tobi berkreasi sendiri soal ini. Sudah Tobi sarankan di Chapter 2, jangan samakan Alur di fict ini dengan Anime/Light Novelnya. Itu malah akan membuat Reader-San bingung. Tapi jika dicermati sejauh ini, Tobi tidak merubah alur DxD jauh-jauh amat, Issei jadi Iblis- Kemunculan Asia- Asia jadi Iblis (dalam proses)- Pertarungan dengan Kokabiel (dalam proses). Sejauh ini itulah alur yang Tobi gunakan. Sama saja kan? Yang membedakan cuma penyampaiannya saja. Ada beberapa kejadian yang Tobi Skip (yang menurut Tobi tidak cocok untuk fict ini).
Tentu saja dengan penambahan kemunculan Naruto (dengan segala latar belakangnya yang di perlihatkan secara bertahap) juga kemunculan Iriana dan Xenovia. Mengingat Tobi berencana untuk menggabungkan insiden Asia dan Penyerangan Kokabiel secara musuhnya sama-sama Malaikat Jatuh kan?
Maaf jika God!Like versi Tobi tidak sama dengan yang Reader-San bayangkan. Tobi pastikan Naruto God!Like. Tapi tidak akan sepenuhnya di andalkan. Naruto bukan lah manusia yang dipilih Tuhan untuk mendamaikan dunia, atau anak yang dilatih Dewa Super Pawer. Jadi tidak mungkin dia bisa mengalahkan musuhnya seorang diri. Naruto pastinya membutuhkan bantuan teman-temannya. Dan sejauh ini rencana Tobi, Kelompok Sona dan Rias adalah temannya. Jika ada tambahan untuk ini Tobi pilih Inazuka Kiba, sebagai seorang Beast-Tamer (tapi tidak tau kapan di munculkan), juga Chara yang sudah muncul (jika memungkinkan).
Jujur saja Tobi meniru God!Like versi One Piece. Berapa kali Luffy kalah dari lawannya sebelum ahirnya menang dalam pertarungan final? Meski sangat diandalkan oleh teman dan orang-orang di sekitarnya, nyatanya tidak lah gampang Luffy mengalahkan setiap lawannya. Dan bantuan rekannya sangan di butuhkan bukan?
Dan meski saat ini sudah sangat kuat dengan tiga Hakinya, tetap saja untuk menggulingkan seorang Doflaminggo masih membutuhkan partisipasi teman, bahkan petarung Kolosseum. Itulah yang Tobi suka. Bukan kah itu membuat kekuatan yang di miliki rekan-rekannya jadi tidak percuma? Tapi semua itu Tobi kembalikan lagi pada selera Reader-San. Tobi yakin ada yang suka dengan ini dan ada pula yang tidak.
Satu lagi, Tobi menerima semua Kritik, Saran bahkan Flame (jika itu bagus dan tidak merubah Style Tobi) tapi mohon maaf sebelumnya, gunakan lah bahasa yang berkelas. Percuma kita menuntut ilmu jika tidak digunakan. Ini mungkin sepele, tapi perkataan dan perbuatanmu mencerminkan Kwalitasmu (menurut Tobi). Bukan kah saling menghargai itu indah?! Bahkan seorang preman pun masih tau caranya saling menghargai dengan sesama preman.
Okeh, ocehan Tobi sepertinya sudah menjawab Review yang masuk. Maaf kalau ada yang terlewat. Dan jika Reader-San punya saran untuk cerita dalam fict ini jangan malu-malu untuk menyampaikannya pada Tobi.
Ingin mengenal Tobi lebih jauh silahkan cek ini (ini FB Tobi)
m(titik)facebook(titik)com/profile(titik)php?fref=nf&ref_component=mbasic_home_header&ref_page=%2Fwap%2Fhome(titik)php&refid=8
Kalau begitu silahkan menikmati!
•
•
•
Naruto DxD :: True Longinus.
Chapter 4 :: Senju dan Uchiha.
Langit sudah menguning dan Jam Sekolah sudah berahir satu jam lalu. Kini terlihat Sona dan Rias sedang berdiri di depan Sebuah Rumah Tradisional Jepang dengan halaman yang cukup luas. Tidak terlalu mewah memang, tapi tetap terkesan elegan dengan sebuah Mobil Mewah masa kini terlihat terparkir dengan manis di halaman Rumah itu.
"Benarkah ini Rumah Naruto?" gumam Rias dengan nada yang kurang yakin.
"Tidak terlihat seperti Rumah orang kaya" lanjutnya.
Sementara Sona hanya diam saja mendengar pendapat Sahabatnya itu. Yap, walau bagaimana pun Rumah itu (terlihat) terlalu kuno, dengan gaya Bangsawan Jepang tempo dulunya. Itu terasa aneh untuk orang yang disebut-sebut sebagai Penguasa Eropa seperti Namikaze Naruto.
"Hari sudah senja, dan Sizune-San belum juga kembali. Ah~ harusnya saat itu aku tidak meninggalkannya!" gumam seorang pria dengan luka melintang di wajahnya, saat keluar dari dalam Rumah itu dengan wajah cemas, seraya menatap Layar Ponselnya.
Pria itu, Iruka Umino, terus mencoba menghubungi Sizune berulang kali, tapi panggilannya tidak pernah diangkat oleh si wanita. Dan entah kesekian kalinya Iruka telah melakukan itu, meski hasilnya adalah sama. Tidak ada jawaban dari Sizune. Dan jika diingat-ingat lagi Sizune hilang tanpa kabar setelah seorang pemuda tengil menghampiri mereka pagi ini.
Mungkin saking cemas dan sibuknya dalam upaya menghubungi wanita itu, Iruka nyatanya masih belum menyadari kehadiran Sona dan Rias, meski kedua gadis cantik itu sudah cukup dekat dengannya. Hingga sebuah interupsi dari Rias memasuki Indra Pendengarannya dan mengganggu aktifitas pria bermarga Umino itu.
"Ehem~" Rias berdehem untuk menarik perhatian Iruka.
"Maaf, benarkah ini Rumah Namikaze Naruto?" lanjutnya, bertanya sesopan mungkin setelah lawan bicaranya memberikan perhatiannya pada mereka.
Iruka buru-buru mematikan ponselnya dan memasukan benda itu ke dalam saku celananya, dengan tergesa-gesa. Membungkukan sedikit badannya untuk membalas sikap hormat Rias, dan kemudian tersenyum senang melihat kedatangan Rias dan Sona.
"Kalian teman Bos?" tanya Iruka cepat.
"Bos?"
"Ah~ perkenalkan, saya Umino Iruka. Salah satu pegawai Naruto-Sama". "Sebagai pegawainya, kami terbiasa memanggilnya dengan sebutan Bos" terang Iruka.
"Benar. Kami teman sekelas Naruto ... -Kun" ucap Sona sedikit kagok saat mencoba menambahkan susfik Kun. Agar terkesan cukup akrab dimata pria itu.
"Ah~ saya sangat senang ahirnya Naruto-Sama mau membuka dirinya lagi, kalian tau saat di Inggris dia sangat tertutup dan Individualistis. Apa lagi setelah kejadian itu". "Tapi sebenarnya dia sangat baik. Buktinya dia sangat memperhatikan kesejahteraan pegawainya!" ucap Iruka sembari tersenyum lega.
"Kejadian?!". "Kejadian apa maksud anda, Iruka-San?" tanya Sona.
Rias yang juga memiliki pertanyaan serupa hanya mengangguk, karena pertanyaannya sudah di wakili sang sahabat, Sitri Sona. Tapi bukanya menjawab, Iruka malah buru-buru mengalihkan pembicaraan dengan mengajak mereka masuk. Seakan-akan pria bermarga Umino itu tidak mendengar pertanyaan itu.
"Hahaha~ maaf kan saya. Karena terlalu banyak bicara, saya sampai lupa mengajak kalian masuk". "Baik lah silahkan masuk. Naruto-Sama ada di dalam" ucap Iruka yang mengelak dengan tawa hambarnya.
Tanpa banyak bicara lagi mereka memasuki Rumah itu. Dan kenyataannya, Rumah itu bukan hanya terlihat seperti Rumah kuno khas Bangsawan Jepang tempo dulu, tapi dengan gaya dan segala macam perabotan yang menghiasi Rumah itu, yang benar-benar kuno. Andai saja Rias dan Sona tidak ditemani Iruka, mereka pasti akan sangat membutuhkan denah Rumah itu, mengingat begitu banyaknya ruangan-ruangan yang ada.
Sebuah Foto Keluarga menghiasi salah satu dinding yang mereka lewati. Dan itu agaknya cukup menarik perhatian Rias. Gadis bersurai merah itu terlihat memperhatikan Foto itu cukup lama. Sebuah Foto Keluarga yang di isi oleh pria bersurai cokelat panjang, seorang wanita bersurai pirang, dan seorang gadis kurang lebih berusia sepuluh tahun. Mereka terlihat bahagia dalam busana Tradisional.
"Iruka-San!" ucap Rias itu masih dengan pandangan yang berfokus pada Foto Keluarga itu.
Merasa di panggil, Iruka menghentikan langkahnya dan berbalik menatap gadis bersurai merah itu. Dan secara tidak langsung membuat Sona yang mengikuti Iruka juga terhenti dan menatap Rias dengan pandangan penuh tanya.
"Bisa kah anda menjelaskan siapa mereka?" pinta gadis itu sembari menatap Iruka sesaat lalu kembali fokus pada sang Foto Keluarga. Entah apa yang salah dengan foto itu, tapi nyatanya Rias sangat penasaran di buatnya.
"Itu adalah Foto Keluarga Senju-Sama. Pria itu bernama Senju Hashirama, wanita di sampingnya adalah Senju Stunade-Sama dan gadis kecil itu adalah Senju Kushina-Sama, ibu dari Naruto-Sama" terang Iruka saat berada di dekat Rias.
"Ibu?!". "Berarti ..."
"Benar. Senju Hashirama-Sama dan Senju Stunade-Sama adalah kakek dan nenek Bos. Eumh~ maksudku Naruto-Sama"
"Aku tidak menyangka jika Naruto-Kun adalah keturunan Senju. Mengingat marganya adalah Namikaze, dan bukan Senju" gumam Sona setelah mendengarkan penjelasan Iruka.
"Itu karena beberapa tahun lalu, dia mengganti marganya". "Saya sendiri tidak tau alasan pasti Naruto-Sama melakukan itu, tapi yang jelas nama yang diberikan oleh orang tuanya adalah Senju Naruto, bukan Namikaze Naruto" ucap Iruka mencoba menjelaskan perihal marga Bosnya.
"Katanya ... Itu adalah permintaan terahir dari Minato-Sama, ayah Naruto-Sama" lanjut pria itu dengan raut wajah sedih.
Dan di ujung lorong, terlihat Naruto sedang membaca buku tebal bersampul hitam dengan mimik serius, berjalan ke arah mereka sambil terus membaca tanpa mempedulikan apa pun yang ada di depannya. Pria bersurai pirang itu agaknya cukup serius dengan buku yang di bawanya.
"Kebiasaan buruk. Membaca sambil berjalan!" komentar Sona.
Rias mendelik ke arah sang pewaris Kepala Keluarga Clan Sitri itu.
"Kau bilang apa?!". "Bukan kah kau selalu melakukan itu. Berkeliaran di Koridor Sekolah sambil membaca heh!" ucap Rias dengan nada sinis pada Sona.
"Hemph~" keluh gadis itu sambil membuang mukanya yang cemberut ke arah lain.
"Ah~ Iruka-San, kau sudah kembali. Apa kau sudah bertemu dengan Sizune-San?" tanya Naruto saat dirinya berada tepat di depan Iruka, Sona, dan Rias.
"Dan kenapa mereka ada disini?" lanjut pemuda bersurai pirang itu saat pandangannya menangkap sosok Sona dan Rias bersama Iruka.
"Mengecek keadaanmu, Naruto-Kun" ucap Sona kalem seraya membetulkan letak kacamatanya.
"Kau membolos di hari keduamu bersekolah di Kuoh!". "Itu adalah kesalahan fatal!" desis gadis berkacamata itu dengan tatapan tajamnya, mengingagat Sona sangat menjunjung tinggi sebuah aturan Sekolahnya.
Mendengar penuturan sang Ketua OSIS itu, sedikit banyak membuat Naruto bergidig ngeri melihat gadis itu sangat tegas dalam menjalankan peraturan Sekolah. Sungguh di luar dugaan, mengingat Sona adalah seorang Iblis yang identik dengan pelanggaran dan keburukan lainnya.
'Kepalanya pasti terbentur balok kayu!'. 'Aku yakin!' batin Naruto dengan tatapan horor pada Sona.
•
•
Naruto DxD :: True Longinus.
•
•
Sementara itu di sebuah Apartemen Elit di Tokyo.
Terlihat gadis cantik dengan surai indigo biru kehitaman itu duduk dengan tenang di salah satu sofa. Manik lavendernya menatap Ponsel miliknya yang tergeletak di meja. Meski telah berulang kali berbunyi, gadis itu nyatanya hanya memandangi Ponselnya dalam diam, tanpa berniat sedikit pun untuk menjawab panggilan itu.
Sementara di depan gadis itu, sorang pria setengah baya yang dikenal sebagai sang Gubernur Malaikat Jatuh itu duduk. Menatap si gadis dengan pandangan bosan. Cukup jauh dari mereka, tapi masih di Ruangan yang sama. Sang White One, Vanishing Dragon duduk di lantai mengobati luka-luka di tubuhnya.
"Aku sudah bosan menunggu!". "Ayolah bicara!" keluh Azazel dengan nada dan pandangan malasnya pada gadis itu.
"Benar ayo jelaskan siapa dirimu dan pantat ayam itu. Yang lebih penting bagaimana aku bisa bertemu lagi dengannya!" desis Vali di sela kesibukannya melilitkan perban di tangan kirinya.
"Diam kau Vali!". "Kau pun punya sesuatu yang harus kau jelaskan padaku!" ucap Azazel membentak si maniak pertarungan itu.
"Cih! Gara-gara dia aku jadi ketauan!". "Awas kau pantat ayam sialan!" gumam Vali dengan kesalnya, meneruskan kembali acara mengobati luka-lukanya.
"Tapi, Azazel. Apa kau tidak penasaran dengan kekuatan orang itu?". "Jujur saja, itu bukan kekuatan Sacred Gear atau pun kekuatan Mitologi lainnya yang selama ini kita ketahui. Tapi jika dikatakan itu adalah kekuatan manusia, bukan kah itu terlalu kuat?!" ucap Vali kembali menyerukan pemikirannya.
"Lagi pula luka akibat serangannya terasa sangat fatal hingga Albion pun merasakan kesakitan!" lanjut pemuda bersurai perak itu.
"benar kah?!". "Kalau begitu kita beruntung Dimensi Buatanku tidak mampu menahan kekuatan kalian. Jika kau lebih lama lagi bertarung dengannya, kurasa kau akan mati!" ucap Azazel dengan santainya. Tapi dari mimiknya, terlihat jelas jika dia menanggapi masalah ini dengan serius.
Vali kembali mendecak, mengexpresikan kekesalannya. Meski benci untuk mengakuinya, nyatanya perkataan sang Gubernur Malaikat Jatuh itu benar. Kekuatan pemuda itu, Uchiha Sasuke, berada di tingkat yang berbeda dengannya. Ditambah sumber kekuatan yang belum teridentifikasi sumbernya. Cukup untuk membuat seorang Lucifer Vali cukup kesulitan untuk menghadapinya.
"Jadi mau kah kau bekerja sama dengan kami, Hinata-Chan?" tanya Azazel untuk kesekian kalinya.
Diam ...
Hinata masih tidak berniat untuk mengatakan apa pun, tapi agaknya gadis itu kini berfikir cukup bijak. Dia sudah membuang waktu cukup lama bersama dua orang itu, dan Naruto pasti akan mencarinya, mengingat begitu besarnya perhatian pemuda bermarga Namikaze itu pada setiap bawahannya. Hinata bisa saja melawan, tapi jika itu dia lakukan, tentu saja itu malah membuat posisinya tidak menguntungkan. Mengingat Azazel adalah relasi Naruto yang cukup dekat, pria itu pasti akan menceritakan masalah ini.
"Huh~" Hinata menghela nafasnya.
"Aku akan menjelaskan semua yang kuketahui pada kalian. Tapi ... Dengan satu syarat!" ucap Hinata setelah cukup lama terdiam dan sibuk dengan fikirannya sendiri.
"Jangan beritahu Naruto tentang siapa diriku yang sebenarnya!"
"Heh~ baik lah. Meski aku cukup penasaran dengan motifmu mendekati Naruto dengan berpura-pura menjadi orang lain, tapi saat ini aku lebih tertarik masalah ini" ucap Azazel masih bersikap sok santai.
"Oke~ kami setuju!" lanjut Vali.
"Baik lah. Kekuatan kami berasal dari sang Dewi Kelinci, Kaguya Otsutsuki. Atau yang lebih kalian kenal Trihexa (666)" ucap Hinata.
"Trihexa?"
"Benar. Trihexa (666) adalah seekor Monster yang melambangkan kehancuran dan ahir dunia. Kau yang dulunya berada di Surga pasti lebih tau tentang itu" ucap Hinata menatap Azazel dengan tajam.
"Yap, tapi persisnya sendiri aku tidak tau. Yang kami ketahui adalah, Monster itu sudah Tuhan segel beratus-ratus tahun yang lalu". "Bagaimana mungkin kalian memiliki kekuatan itu dan apa maksudnya dengan Dewi Kelinci?"
"Menurut legenda yang diceritakan turun-temurun dari Clan kami, Bentuk sebenarnya dari Trihexa (666) adalah seorang Dewi yang cantik, yang memiliki telinga menyerupai kelinci, bernama Kaguya Otsutsuki. Itulah sebabnya dia disebut Dewi Kelinci". "Setelah menyerap kekuatan Inti Dunia, yang disebut Shinjuu, Kaguya berusaha menguasai Dunia dengan cara membunuh Pemimpin Dunia Supernatural dan Dewa-Dewa Mitologi lainnya, karena merasa dirinyalah yang paling pantas untuk menjadi penguasa!"
"Dan itulah alasan kenapa dia ahirnya disegel dengan Code-Name Trihexa (666) yang melambangkan Kehancuran dan Ahir Dunia. Sebelum benar-benar tersegel, Kaguya menciptakan dua mahluk yang bernama Otsutsuki Uchiha, leluhur kami, Clan Uchiha, dan Otsutsuki Senju, leluhur Clan Senju!"
"S-sulit d-dipercaya!". "Kalian adalah keturunan langsung dari Trihexa (666)!" gumam Azazel dengan wajah penuh keterkejutan.
"Aku yang pernah tinggal di Surga yang bahkan pernah menjadi Malaikat kepercayaan Tuhan bersama Michael, tidak tau sedikit pun tentang hal itu!" lanjut sang Malaikat Jatuh itu.
"Sayangnya, itulah kebenarannya. Clan Uchiha diberkahi kekuatan Dewi Otsutsuki, dan Clan Senju mendapatkan tubuh Dewa sang Dewi". "Entah sengaja atau tidak, Dewi Kaguya memisahkan kekuatannya pada ke dua Keturunannya. Uchiha sebagai Isi dan Senju sebagai Cangkang. Tapi, itu membuat kedua Clan saling membunuh untuk mendapatkan kekuatan sejati Otsutsuki!"
"Aku mulai mengerti kenapa semua Clan Senju tiba-tiba mati dalam pembantaian masal dan hanya menyisakan Naruto sepuluh tahun yang lalu. Jika perkiraanku benar, itu ulah kalian, Clan Uchiha. Kalian berusaha untuk untuk menguasai kekuatan sejati dari Trihexa kan?" ucap Vali.
Hinata hanya mengangguk tanda membenarkan ucapan sang Lucifer.
"Tapi ... Ada yang mengganjal fikiranku!" guman Azazel. Dan gumaman itu, agaknya berhasil menarik perhatian Hinata dan Vali.
"Kenapa saat ini?". "Maksudku, kenapa di masa ini? Aku sudah hidup ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Tapi jujur saja, generasi kalian sebelum ini tidak pernah terlihat memiliki kekuatan apa pun" lanjut pria itu.
"Itu karena kami hanya menganggap cerita ini sebagai Mitos. Kami menganggap itu sebagai bentuk Strata Clan kami yang lebih tinggi dan jauh lebih terhormat dari Clan lain. Itu lah arti Keturunan Dewa yang kami percayai dari generasi ke generasi. Dan itu pun terjadi di Clan Senju, kurasa ..."
"Kami tidak lagi bertarung untuk saling membunuh satu sama lain, tidak lagi bertarung untuk sebuah kekuatan yang dapat menghancurkan Dunia, tapi hanya bertarung untuk membuktikan Clan mana yang lebih hebat! Baik secara finansial mau pun komersial!"
"Kami bersaing dalam segala hal. Membuktikan siapa di antara kami yang pantas disebut Dewa (bukan dalam arti yang sebenarnya)" ucap Hinata.
"Tapi semua itu berubah saat kakakku, Uchiha Itachi berhasil membangkitkan Sharingan. Kami mulai mempercayai bahwa mitos itu benar. Kami mulai melatih kekuatan Clan Uchiha yang dikatakan sebagai Isi. Tapi semua itu tidak berjalan lancar. Kami yang hanya memiliki tubuh manusia biasa tidak mampu menahan kekuatan Dewa Otsutsuki. Dan itu membuat anggota Clan Uchiha berkurang drastis"
"Hingga ahirnya, sebelas tahun yang lalu, kakekku Uchiha Madara menemukan sebuah Kuil peninggalan Otsutsuki Uchiha, yang menjelaskan bagaimana caranya memaksimalkan kekuatan Uchiha dan mendapatkan kekuatan sejati Kaguya atau Trihexa (666)"
"Dengan cara membantai Senju? Begitu?" tanya Vali dengan nada sinis, memotong perkataan Hinata. Walau bagaimana pun pria bersurai pirang itu sudah menganggap Naruto sebagai teman sekaligus rivalnya. Tentu saja pembicaraan ini sedikit-banyak memancing emosinya. Apa lagi cucu dari orang yang selama ini Naruto cari ada di hadapannya.
"Dan kurasa pendekatanmu pada Naruto juga karena kekuatan sejati Otsutsuki kan?" desis Vali yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Bukan. Aku tidak mempunyai hasrat untuk mendapatkan kekuatan penghancur seperti itu. Ada alasan lain kenapa aku ada disini!" balas Hinata seraya menatap tajam sang Lucifer.
"Alasan!" teriak Vali seraya menerjang Hinata yang masih duduk di tempatnya. Aura Iblis pekat terkumpul di tangan kanannya, siap untuk dihantamkan pada sang target, Hinata.
Craakkkk!
Tinju Vali tepat sasaran dan mengarah pada wajah cantik gadis itu, tapi tidak sampai mengenainya, karena Azazel melindungi Hinata dengan Sihir Pelindungnya. Dan suara retakan itu berasal dari Sihir Pelindung Azazel yang retak berat akibat pukulan sang Lucifer.
'Kekuatannya saat emosi sangat mengerikan, tidak salah lagi. Ini kekuatan Lucifer! Kurasa darah Iblisnya berasal dari Clan Lucifer'. 'Jika kekuatan ini digabungkan dengan kekuatan Albion, dia pasti mampu menyaingi bocah itu!' batin Azazel saat melihat efek pukulan si perak pada Sihir Pelindungnya.
"Tenangkan dirimu Vali, dengan kondisimu saat ini kau tidak mungkin mengalahkannya!" ucap Azazel yang kini berada di belakangnya seraya mencengkram tangan kanan Hinata yang telah selimuti Aura Biru Cerah berbentuk kepala Harimau. Terlambat sedikit saja Azazel menahan serangan Hinata, hidup pemilik Devine Deviding itu pasti sudah berahir.
Poft ...
Hinata yang ada di depan Lucifer Vali berubah menjadi asap putih dengan suara yang khas. Entah sejak kapan dia menukar posisinya dengan Bunshin, tapi yang jelas itu cukup membuat pemuda bersurai perak itu mendecak kesal, merasa lebih lemah dari seorang gadis. Agaknya itu membuatnya sedikit tenang, terlihat dari intensitas Aura Iblisnya yang semakin menurun.
Merasa suasana sudah kembali tenang, Azazel melepaskan cengkraman tangannya pada tangan kanan Hinata. Tapi meski begitu, Gubernur Malaikat Jatuh itu tetap waspada di balik sikap santainya.
"Semua yang kuketahui sudah kuceritakan!" ucap Hinata seraya menghilangkan Aura Biru Cerahnya.
"Aku harap kalian menepati janji kalian, karena jika tidak ... Aku pastikan, kalian akan mati!" desis Hinata seraya berjalan keluar meninggalkan Azazel dan Vali yang menampilkan expresi yang berbeda.
Vali terlihat begitu kesal, sedangkan Azazel terlihat santai menanggapi ancaman gadis itu. Berada di urutan terdepan dan menjadi pemimpin dalam sebuah perang besar, tentu saja membuatnya memiliki kontrol emosi yang baik. Dan alasan Namanya tertulis dalam Al-Kitab serta masih bertahan hingga saat ini di posisi tertinggi, membuktikan bahwa dia bukanlah Malaikat Jatuh sembarangan.
"Tenangkan dirimu bocah!". "Saat waktunya tiba, aku yakin kau akan lebih kuat dari Uchiha Hinata atau pun Uchiha Sasuke itu!"
Vali menatap Azazel dengan wajah penasaran dan penuh harap.
"Hahaha~ tidak usah menampilkan wajah seperti itu di hadapanku. Kau terlihat lucu!". "Darah Lucifermu adalah alasannya. Jika kau mampu menggabungkannya dengan kekuatan Albion, kurasa kau akan sangat kuat!" ucap Azazel dengan serangainya yang dipenuhi kepercayaan tingkat tinggi itu.
"Kau memang pantas menjadi pemimpin tertinggi Malaikat Jatuh. Sekali lihat, kau sudah menyadarinya ..." ucap Vali setelah kembali mampu menguasai dirinya kembali.
Ruang Penelitian Ilmu Gaib.
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam dan terlihat Sona, Rias dan seluruh Budaknya berkumpul disana. Beberapa jam lalu kedua Iblis kelas atas itu baru saja kembali dari Rumah sang Namikaze. Dengan sebuah pengajuan pertemanan pada pemuda pirang itu. Karena saat ini sudah tidak ada yang perlu di curigai lagi dari Naruto, kedua penguasa muda itu pun memilih menjadikan Naruto sebagai teman mereka. Yap, karena menjadikan Naruto musuh adalah tindakan bodoh, mengingat kekuatan si pirang yang luar biasa.
Tapi agaknya itu tidak lah mudah ...
"Aku akan memikirkannya jika kalian bisa mengalahkanku!". "Jika kalian menerimanya, tepat tengah malam kita akan bertemu di Kuoh untuk memulai pertarungan!"
Itulah jawaban atau mungkin lebih pada sebuah tantangan, saat dua gadis cantik itu mengajukan pertemanan pada sang Namikaze Naruto. Dan itulah alasan mereka berkumpul di Ruang Penelitian Ilmu Gaib, lengkap dengan Budak-Budak mereka. Segala macam tak-tik telah dirumuskan oleh Sona dan Rias beserta kedua Ratu mereka. Meski ini hanya lah sebuah pertarungan biasa, tapi sebuah harga diri di pertaruhkan disini. Sebagai Iblis kelas atas, akan sangat memalukan jika mereka kalah. Apa lagi hanya melawan seorang manusia.
"Kalian sudah tau kan alasan kita berkumpul disini?". "Masih ada waktu dua jam sebelum pertarungan di mulai. Sisa waktu itu akan kita gunakan untuk mematangkan tak-tik yang telah kita buat!" ucap Sona.
"Eumh~ maaf Kaichou. Seberapa besar kita bisa mengalahkan Naruto-Senpai?" tanya salah seorang budak Sona. Dia atau mungkin lebih tepatnya beberapa Budak lainnya, bahkan termasuk Saji merasa pesimistis untuk pertarungan ini.
"Cukup besar!". "Aku tau dia kuat tapi kerja sama tim kita akan mengalahkannya!" ucap Sona berusaha memompa semangat mereka.
"Lagi pula kita punya Hyoudou Issei dan Genshirou Saji yang sama-sama memiliki Sacred Gear Naga yang kuat. Ddraig dan Vitra! Kita juga memiliki Yuuto Kiba, yang sebelumnya mampu mengimbangi Naruto dalam pertarungan satu lawan satu!" lanjut Rias, menimpali ucapan sahabatnya.
Dan ucapan kedua Raja muda itu agaknya berhasil menambah motivasi pertarungan mereka. Kiba hanya tersenyum menanggapi perkataan sang Buchou, sebelumnya, fikiran sang Kuda Gremory itu sama sekali tidak tertarik dengan pertarungan ini. Mengingat ambisinya adalah menghancurkan Excalibur yang saat ini ada di hadapannya, begitu menggebu-gebu. Tapi perkataan itu memacu keinginan lain dalam dirinya. Membuktikan jika dia lebih hebat dari sang Raja Eropa.
'Akan kubuktikan aku lebih baik darimu, Namikaze Naruto!' batin Kiba mantap.
"Meski pun dibilang seperti itu ..." Sementara Saji masih merasa pesimis.
"Tenanglah. Kita memang masih lemah, tapi ... Kita tidak boleh mengecewakan Buchou dan Kaichou, yang sudah mempercayai kita!" ucap Issei sambil menepuk pundak Saji.
"Issei-Kun ... Mari berjuang bersama sebagai Pion Sitri dan Gremory!" ucap Saji dengan penuh semangat.
Sona tersenyum melihat perkembangan mental Budak-Budak mereka. Dan itu pun yang di lakukan Rias. Semua sudah mereka persiapkan semaksimal mungkin. Dan sekarang, mereka hanya bisa berdoa agar semuanya berjalan sesuai rencana mereka.
"Semoga semuanya berjalan lancar!" gumam kedua gadis itu.
•
•
Naruto DxD :: True Longinus.
•
•
Di sebuah tempat yang minim dengan penerangan.
Momochi Zabuza, sang Devil-Slayer, berjalan memasuki Ruangan itu dengan santai, serangainya mengembang saat melihat dua sosok yang berdiri di hadapannya, bersembunyi di balik bayang-bayang. Pria pertama adalah pria berambut pendek dengan sebuah topeng yang menutupi wajahnya, sedangkan pria satunya adalah pria tua berbadan tegap dengan surai hitam panjang.
"Kalian memanggilku?". "Apa kita akan memulai pergerakan kita?" tanya sang Malaikat Jatuh dengan lima pasang Sayap Gagak itu.
"Ya!"
"Tapi, bagaimana dengan dua cucumu?". "Apa kau akan membiarkan mereka bergerak sendiri?" tanya Zabuza lagi.
Pria berambut panjang menyerangai mendengar pertanyaan sang Malaikat Jatuh itu, sementara satunya terlihat tenang hanya saja matanya yang semula terpejam kini terbuka dan menampilkan dua mata yang berbeda, mata kanan berwarna merah darah dengan aksen aneh yang menghiasinya, sementara mata kirinya berwarna ungu dengan pola riak air di seputar pupilnya.
"Tentu saja tidak. Mata gadis itu adalah mata langka dengan kekuatan yang tidak terbayangkan, aku tidak akan menyia-nyiakan matanya!". "Sedangkan bocah itu ... Aku sama sekali tidak perduli!" jawab si rambut panjang.
"Kau memang kejam. Membunuh anakmu sendiri, orang tua mereka, hanya agar bisa dekat dengan mata itu. Dan kini kau, kau tidak segan-segan untuk mengambil mata cucumu sendiri!". "Kau benar-benar Iblis, Uchiha Madara!" desis Zabuza, meski perkataannya cukup tajam, tapi tidak ada nada menyindir disana. Yang ada malah nada penuh salut, seolah-olah itu adalah perbuatan heroik.
"Apa pun akan aku lakukan demi mendapatkan kekuatan Byakugan!" ucap Madara.
"Kita akan menjemput Hinata saat matanya benar-benar bangkit dan siap untuk jadi milikku!"
"Hey ... Zabuza, kau menginginkan kekuatan Uroboros secara permanen?" ucap Madara dengan serangainya.
"Madara-Sama. Apa perlu aku menghabisinya?" tanya si topeng a.k.a Uchiha Obito. Adik dari Uchiha Mikoto, ibu dari Itachi, Sasuke dan Hinata. Dan dengan kata lain, Uchiha Obito adalah paman mereka.
"Kau terlalu keras pada keponakanmu sendiri, Obito". "Biarkan dia, biarkan dia tau kebenarannya. Kalau aku ... Yang telah membunuh kedua orang tuanya!". "Aku ingin tau tindakan apa yang dia ambil setelah mengetahui ini!" ucap Madara dengan santai dan tanpa beban.
"lagi-lagi ... Kau membiarkan bocah Senju itu hidup untuk membalas dendam padamu, dan sekarang. Kau ingin menempatkan cucumu sebagai musuh!". "Kau gila!" komentar Zabuza.
"Bukan kah itu menarik?!" balas Madara dengan angkuhnya.
Merasa keberadaannya sudah diketahui, Sasuke pun memilih keluar dari tempat persembunyiannya. Berjalan dengan perlahan mendekati mereka. Sasuke sudah pasti mendengar semua ocehan Madara dan yang lainnya, tapi tidak ada raut kekesalan di wajah tampannya meski pun orang yang selama ini dia benci -orang yang membunuh ayah dan ibunya- berdiri di depannya.
"Apa pilihanmu Sasuke?" tanya Madara.
"Aku ..."
"Aku ingin menjadi bawahanmu" ucap Sasuke datar, sedatar wajahnya yang tanpa expresi.
"Hahahaha~"
Madara dan Zabuza tertawa dengan sangat lepas, mendengar jawaban sang Uchiha muda. Menurut mereka itu adalah sesuatu yang lucu. Bagaimana tidak, Sasuke yang jelas-jelas ingin membalaskan dendam kematian orang tuanya dan berlatih sangat keras untuk itu, kini malah ingin menjadi bawahan sang pembunuh. Bukan kah itu sebuah lelucon yang menyedihkan?
"Menyedihkan sekali!" ucap Obito sinis.
Tapi Sasuke tak bergeming. Meski di hina sedemikian rupa, anak itu tetap bersikap tenang dengan exspesi datarnya.
"Terserah kau saja, Sasuke-Chan!" jawab sang kakek dengan nada merendahkan.
"Ayo pergi!" lanjutnya memberi perintah.
Dan Madara, Zabuza serta Obito pun hilang dalam pusaran distorsi yang melahap tubuh mereka, meninggalkan Uchiha Sasuke seorang diri di tempat itu. Wajah tampanya masih telihat datar, bahkan saat menghina dirinya sendiri.
"Kau memang menyedihkan Sasuke!" gumamnya.
Kembali ke Kuoh Academy.
Jam sudah menunjukan tepat tengah malam. Dan seperti yang sudah di sepakati, Naruto akan berhadapan dengan kelompok Sona dan Rias. Mereka sudah bersiap dan saling berhadapan di sebuah tanah lapang di area Sekolah itu, Sihir pelindung juga sudah di siapkan sedari tadi. Naruto dengan Tombak Sucinya, True Longinus, menatap santai pada Sona, Rias dan Budak-Budak mereka, yang juga sudah bersiap dengan Sacred Gear dan kekuatan mereka masin-masing.
"Kalian siap?"
•
•
BERSAMBUNG.
•
•
Note ::
• Rumah Naruto, mudahnya bayangkan saja Kediaman Clan Hyuga (Naruto)
• Senju dan Uciha sudah saya jelaskan.
• Silsilah Naruto pun sudah saya jelaskan. Meski ada satu yang terlewatkan, tapi biar itu jadi kejutan lain dalam Fict ini.
• Mungkin Reader-San juga bisa menebak akan bagaimana ahir dari cerita ini. Tapi jika di cermati, ada sebuah alasan yang belum di utarakan. Apa motif Hinata? dan kenapa dengan Sasuke?
Untuk Hinata Cluenya sudah muncul di Chapter sebelumnya, tapi untuk Sasuke, itu masih samar-samar. Ada yang mau memprediksi/ berspekulasi ?
R&R Please ...
vvvvv
vvv
v
