Restart
(When She Call – Sequel)
Naruto Belong To Masashi Kishimoto
Chapter 4
Sakura berjalan pelan menuju ruangannya. Ia tak perlu terburu-buru hari ini, karena ia memang sengaja datang lebih pagi. Bahkan mungkin terlalu pagi, karena dilihatnya belum ada satupun orang diruangannya. Ia sampai ke mejanya dan menghempaskan diri ke kursi. Baru saja ia akan melepas tas dari bahunya, matanya menangkap sebuah gelas plastik bermerk coffeshop terkenal tergeletak diatas meja.
Sisa kopi siapa ini? Sakura membatin.
Tangannya terulur menyentuh gelas kopi, ia sedikit terkejut saat merasakan permukaan gelas yang masih hangat. Tak hanya itu, tampak sebuah kertas persegi kecil berwarna kuning tertempel disisi gelas. Sakura mengangkat gelas tersebut demi melihat lebih jelas.
"Maaf?" Sakura membaca tulisan dikertas itu.
Disudut bawah kertas tampak gambar karikatur asal-asalan wajah seorang lelaki, dengan rambut cepak sedikit jabrik, tiga garis dipipi, sedang melengkungkan bibir kebawah. Sepertinya ia tahu ini dari siapa.
"Kekanakan sekali" Sakura mencibir. Ia berniat mencopot kertas kuning tersebut namun sedetik kemudian ia merasakan sesuatu bergetar disaku blazernya, segera diraihnya ponsel pintarnya yang tersimpan disana.
Sakura mengamati nomor tidak dikenal yang muncul dilayar handphone, sedikit ragu untuk mengangkatnya. Siapa yang meneleponnya pagi-pagi begini?
"Halo?"
"Selamat pagi" Suara baritone terdengar dari ujung telepon.
Mendengar suara yang sangat ia kenali itu, refleks membuat sesuatu didadanya berdegup cepat. Naruto meneleponnya, untuk pertama kali setelah 2 tahun belakangan ini. Bolehkah ia bersorak girang sekarang? Tapi, tunggu dulu. Kenapa ia harus sampai bersorak?
Sakura berdeham kecil sebelum berucap. "Ada apa?"
"Kau menerima memo dariku?"
"Dari mana kau dapat nomorku?" Alih-alih menjawab, Sakura balik bertanya.
"Tentu saja dari berkas lamaran yang kau ajukan" Sang lelaki menjawab tenang.
Sakura mendecih mendengarnya.
"Apa kau sudah sarapan?" Suara Naruto kembali terdengar, seolah mengabaikan decihan Sakura.
Sakura mengerutkan keningnya, sungguh apa sekarang direkturnya sedang bercanda? Perasaan kesal tak terjelaskan kembali menghampirinya.
"Bukan urusanmu. Kalau tidak ada yang penting ku tutup"
"Dengar, aku minta maaf atas kejadian kemarin"
Sakura diam tak merespon, ia memejamkan matanya berusaha menghilangkan potongan kejadian yang terlintas difikirannya saat Naruto menyebut 'kejadian kemarin'.
"Sungguh, aku tak berfikir kau akan marah seserius itu. Maaf ya" Suara Naruto terdengar lirih.
Sakura menghela nafasnya, menimbang-nimbang perasaan yang sedang ia rasakan. "Aku akan mencoba melupakan kejadian itu, dan mungkin akan memaafkan setelah aku lupa"
"Kurasa itu sebanding. Terima kasih"
"Baiklah kututup se-"
"-Tunggu" Naruto menyela kalimatnya.
"Apa lagi?"
"Kuharap selera kopimu masih sama"
Sakura terdiam sesaat. Diliriknya gelas kopi dihadapannya.
"Baiklah, selamat bekerja" Suara Naruto kembali terdengar. Namun belum sempat ia berucap apapun, panggilannya sudah terputus.
Sakura memandang layar handphonenya, dilihatnya lagi nomor yang barusan masuk secara seksama. Menyadari ia sedang menatap deretan nomor tersebut, Sakura lalu dengan cepat menghapus daftar panggilan masuk.
Seketika ia merutuk dirinya sendiri yang langsung hafal akan nomor itu diluar kemauannya. Salahkan otaknya yang punya kemampuan diatas rata-rata jika menyangkut tentang menghafal. Dengan gusar diletakkannya benda persegi tersebut diatas meja.
Kini ia mencabut kertas memo yang tertempel di gelas. Memperhatikan kembali gambar karikatur yang terukir disana.
"Gambarnya jelek sekali"
Sakura membuka penutup kecil diatas gelas plastik kopi, menyesap aroma yang keluar dari sana. Meniup pelan sebelum mulai meneguk pelan-pelan cairan itu dari dalam gelas. Rasa susu vanilla yang bercampur dengan espresso kental dan sirup karamel langsung memenuhi indra perasanya.
Ia melepas gelas kopi, sebuah senyum merekah diwajahnya.
"Enak sekali~"
Seketika ia merasa lebih baik, tanpa bisa memastikan dengan jelas karena hal yang mana. Karena kopi, memo, atau sebuah telepon. Ia sendiri tak bisa memutuskan.
"Caramel Macchiato. Dia masih ingat".
Sakura tersenyum kecil.
.
.
Sakura kembali meneguk cairan didalam gelasnya. Saat ini ia bersama karyawan satu divisi nya sedang berada disebuah restoran tradisional. Sebuah ruangan vip sengaja disewa untuk acara makan malam bersama. Ini merupakan bentuk perayaan keberhasilan divisi mereka karena program yang mereka ajukan diterima oleh direktur saat rapat tadi siang.
Makanan utama telah habis dari beberapa jam yang lalu, kini diatas meja dipenuhi botol-botol sake dan beberapa kudapan ringan. Obrolan terdengar semakin jauh, dan Sakura sedari tadi hanya mendengarkan dan sesekali bergumam singkat mengiyakan. Sesungguhnya ia sudah cukup lelah, dan bosan. Ia menatap gelasnya yang kosong, ia berhenti menuangkan sake sejak beberapa menit yang lalu. Dan mengharapkan semua segera berakhir agar ia bisa segera pulang dan berendam air hangat.
"Sepertinya mood direktur sedang baik ya hari ini, ia tak menanyai kita dengan kritis seperti sebelum-belumnya" Suara seorang perempuan yang Sakura ketahui bernama Matsuri terdengar.
Sakura kembali mengingat rapat siang tadi, itu adalah pertama kalinya ia mengikuti rapat divisi bersama Naruto. Jujur saja, ia sedikit terkesima bagaimana penampilan Naruto saat tampil dilingkungan kerjanya. Pria itu serius, berwibawa, tegas, namun tetap berkharisma hingga membuat para wanita meleleh. Hampir membuat Sakura lupa bahwa dibalik itu semua, ia tahu. Sangat tahu ada sisi-sisi bertolak belakang dari yang ia tampilkan diumum.
"Iya, kau tahu aku memperhatikannya selama rapat tadi dan ia tampak begitu senang. Dia tampan sekali saat sedang tersenyum apalagi saat tertawa" Sahut perempuan lain bernama, Sara.
Mata Sakura mulai menyipit, jadi seluruh karyawan diperusahaan ini pun sepakat kalau direktur mereka ini –ehem tampan?
Ia kembali mengambil satu botol sake dan menuangkan kegelas, mengisinya hingga hampir tumpah dan menandaskannya hanya dalam sekali teguk.
Selama rapat tadi, beberapa kali –tanpa disengaja tatapannya bertemu dengan mata biru sang direktur. Mau tak mau mati-matian ia menjaga ekspresinya agar terlihat biasa.
"Aku masih tidak habis pikir, kenapa direktur bercerai" Satu orang yang lain yang Sakura ketahui bernama Shizuka berkomentar.
"Apakah istrinya benar-benar melihat ia berselingkuh?" Tenten mulai ikut-ikut.
Beberapa orang karyawan lelaki yang duduk diujung meja menatap sekilas, kemudian kembali melanjutkan pembicaraan mereka. Tak mempedulikan bahan rumpi para wanita.
"Aku pernah dengar, katanya direktur lebih dulu mencintai perempuan lain itu sebelum ia menikah dengan istrinya. Karena itulah ia tidak bisa melupakannya" Matsuri berkomentar.
Bisa Sakura rasakan telinganya memanas. Ah tidak, rasanya wajahnya bahkan kerongga-rongga tulangnya ikut memanas.
"Bagaimanapun dia kan sudah menikah, seharusnya dia melupakan perempuan itu. Lagian perempuan itu juga tidak tahu diri, ia pasti tahu kalau saat itu direktur adalah suami orang" Shizuka mencibir.
Mendengar itu, Sakura kembali menuangkan sake kegelas, dan meminumnya dengan rakus.
"Tapi mereka menikah karena perjodohan, jelas saja jadi lebih berat. Iya kan sakura?" Tenten menoleh ke Sakura.
"Ya kurasa begitu" Sakura mengedikkan bahunya, berusaha tampak tak peduli.
"Dia anak baru, mana tahu apa-apa" Shizuka kembali berkomentar.
Sakura memutar bola matanya, jengah. Rasanya pasti menyenangkan jika minuman digelasnya saat ini ia siram keperempuan bernama Shizuka tersebut.
"Ah, sudah sudah. Kurasa sudah cukup malam ini" Kurenai yang sedari tadi diam, bersuara.
"Apa kita akan lanjut ke round two?" Matsuri menatap kepala divisi nya dengan mata berbinar.
"Kurasa tidak malam ini anak-anak" Kurenai tersenyum simpul.
Terdengar keluh kecewa dari beberapa orang yang lain.
"Hei, kalian boleh melanjutkan acara sendiri jika mau. Aku memiliki suami dan anak, ingat?" Kurenai tertawa kecil.
Tak mununggu lama, Sakura segera keluar dari ruangan itu dan dengan cepat mencari pintu keluar. Ia butuh udara segar, kepalanya mulai terasa sakit karena sake. Belum lagi hatinya yang kembali berdenyut karena pembahasan tadi.
Ia tersenyum singkat sembari pamit ke Tenten dan beberapa orang lain dan mulai berjalan menuju halte. Ia duduk disebuah halte dan mengeluarkan handphone dari dalam tasnya sembari menunggu bus. Ditatapnya layar handphonenya dan tanpa ia sadari ia mulai menekan beberapa digit nomor.
Sakura menggigit bibir bawahnya, tanda tak yakin. Ia menekan tombol backspace, kemudian menekan digit nomor lagi. Begitu terus hingga berkali-kali. Sampai akhirnya ia meyakinkan diri dan menekan gambar telepon berwarna hijau di layar. Didekatnya benda itu ketelinga.. dan tersambung!
Ia memejamkan matanya takut. Entah kenapa, kini ia berharap nada panggilan tersebut tak pernah berubah menjadi sebuah suara lelaki. Namun, harapannya melesat. Teleponnya diangkat, sontak membuat mata terpejamnya kembali terbuka kaget.
"Halo?" Suara Naruto terdengar dari seberang sana.
Lagi-lagi Sakura terdiam. Apa yang ia lakukan? Untuk apa ia menelepon lelaki itu?
"Halo, Sakura?" Sakura menelan ludah saat mendengar namanya terlafalkan oleh lelaki tersebut.
"Y-ya" Ia menemukan kembali suaranya.
"Ada apa?"
"Kau dimana?" Sakura memberanikan diri bertanya.
"Diapartemen. Kenapa?"
"Tidak. Hanya bertanya" Sakura menyahut cepat
"Kau dimana?" Naruto kembali bertanya.
"Tidak penting, sudah dulu ya" Sakura secepat kilat memutuskan panggilan. Menjauhkan handphone dari dirinya.
Ia terlonjak kaget saat teleponnya kembali berbunyi. Naruto meneleponnya balik. Dengan cepat ditolaknya panggilan tersebut dan langsung mematikan handphone. Nafasnya terengah karena rasa gugup yang ia rasakan, debar jantungnya terasa tak menentu.
Bodoh! Apa yang aku lakukan! Kenapa aku mulai mengubungi nya!
Sakura menutup wajahnya, merasa malu dengan apa yang diperbuat. Cukup lama ia merutuk kebodohannya, hingga akhirnya suara sebuah klakon –yang terdengar cukup aneh untuk sebuah bus terdengar. Sakura menurukan kedua tangan dari wajahnya dan melihat sebuah sedan mewah berwarna hitam terparkir didepannya. Ia diam sesaat.
Pintu dari sebelah kemudi terbuka dan menampikan sesosok lelaki tinggi berambut pirang dengan sweter hitam keluar dan berjalan menghampirinya. Debar jantungnya yang tadi sempat mereda kembali menggila.
"Naruto?" Mata Sakura membulat, ia berdiri dari duduknya.
Naruto menatap Sakura dan tersenyum tipis.
"Kuantar pulang, ayo" Dia mengedikkan kepala kearah mobil.
"Tunggu! Dari mana kau tahu aku disini?"
Naruto menarik nafas "Aku tahu, divisimu pasti mengadakan pesta atau makan malam bersama atas keberhasilan program, dan aku langsung menelepon Kurenai setelah kau menelepon. Kebetulan gedung apartemenku berada tepat didepan halte ini. Ayo"
Sakura diam sejenak. "Aku bisa pulang sendiri"
"Kurasa kau mulai mabuk ya? Kau lihat jam ditanganmu sekarang"
Sakura menautkan alis lalu beralih ke jam ditangannya. Ia baru menyadari betapa larutnya saat ini.
"Ini sudah tengah malam. Kau tahu bus sudah tidak beroperasi" Naruto berucap.
"Aku bisa singgah ke club dan bertemu pria lalu memintanya mengantarkanku pulang" Sakura membuang muka.
Naruto yang mendengar itu melipat tangan didadanya.
"Jadi kau lebih percaya lelaki yang baru kau kenal, dari pada aku? Alasanmu tidak bisa diterima" Naruto dengan cepat menggenggam pergelangan tangan Sakura dan menariknya menuju mobil.
"Hei! Aku tidak mau" Sakura menarik lepas tangannya saat tiba didepan pintu mobil.
Naruto kembali menoleh. "Kau meneleponku, lalu mematikan seenaknya, sekarang saat aku datang kau menolakku?"
"A-aku memang meneleponmu. Tapi aku sama sekali tak memintamu datang" Sakura berusaha mengalihkan wajahnya.
"Kalau begitu, ayo ke club. Dan anggap aku adalah lelaki yang baru kau kenal dan minta aku untuk mengantarmu pulang" Naruto membuka pintu mobilnya dan melakukan gerakan dengan tangannya seolah mempersilahkan Sakura masuk.
Sakura menatap tak percaya ke makhluk didepannya. Ia menarik nafas panjang "Baiklah. Antar aku pulang. Sekarang" Emerald nya menatap tajam safir didepannya dan segera masuk kedalam mobil.
Naruto hanya menatap puas dan segera beralih kekursi kemudi.
.
.
Tak banyak pembicaraan yang terjadi didalam mobil. Naruto tampak fokus menyetir, sedangkan Sakura memilih memandang kesisi luar jendela mobil. Ia merasa tidak nyaman dengan kesunyian aneh tersebut namun terlalu gengsi untuk memulai pembicaraan. Beruntung sepertinya Naruto memahaminya dan mulai membuka pembicaraan.
"Jadi, bagaimana pestanya tadi?"
"Membosankan" Sakura tak melepaskan pandangannya dari luar kaca.
"Begitu ya?"
Sakura cuma bergumam mengiyakan.
Hening sesaat. Sakura melirik Naruto dari ekor matanya. Melihat sosok itu dari tampak sampingnya. Benarkah? Benarkah yang selama ini semua orang bilang, bahwa sosok itu teramat tampan. Sakura sepertinya tak bisa lagi menyangkalnya.
"Kenapa? Kau merindukanku?" Naruto menoleh saat menyadari tatapan Sakura.
Mendengar itu,Sakura dengan cepat mengalihkan wajahnya kembali. Semburat merah tipis muncul dipipinya.
"Haha, aku melihatnya"
Mau tak mau Sakura menoleh kembali.
"Melihat apa?"
"Wajahmu merona"
"Cih!"
Naruto kembali terkekeh. Sementara itu Sakura kembali sibuk memandang trotoar jalan dan berjanji takkan kembali menoleh melihat ke Naruto.
"Apa kau malu?" Naruto kembali bertanya.
"Aku ngantuk! Menyetirmu payah. Tak bisakah kau lebih cepat lagi?" Sakura mendengus kesal.
Dengan segera, Naruto menginjak pedal gas lebih dalam dan sedan itupun melaju dengan sangat cepat.
"Pelan-pelan, Baka!"
.
.
Sakura mengemas meja kerjanya, merapikan alat tulis kantor yang ia pakai, menyimpan lembar-lembar dokumen kelaci, dan mematikan komputernya. Sekilas diliriknya jam yang melingkar ditangannya -menunjukkan pukul 7 malam. Setelah memasukkan barang-barang miliknya kedalam tas, ia segera melangkah keluar dari ruangannya.
Ia sampai dilantai dasar, dan berjalan menuju pintu utama. Tepat di saat ia masuk kepintu putar menuju keluar, disebelahnya pintu putar yang mengarah kedalam terisi seorang perempuan yang sudah sangat ia tahu, Shion.
Sakura sampai diluar kantor, namun ia tak melanjutkan langkahnya. Untuk apa perempuan itu datang kekantor jam segini? Dengan cepat mata Sakura menelusuri sebuah parkiran VIP yang terletak tepat dihalaman depan kantor, dan perasaannya mencelos saat melihat sebuah mobil sedan mewah terparkir disana. Naruto belum pulang!
Direkturnya itu pastilah sedang lembur, mengingat akhir-akhir ini kantor memang sedang banyak kerjaan. Apa Shion datang untuk menganggunya, lagi? Tidak bisa dibiarkan! Darahnya terasa mendidih. Namun sebelum masuk, ia berfikir kembali. Tunggu dulu, bagaimana kalau Shion datang karena memang Narutolah yang menyuruhnya datang?
Dan juga, kenapa ia harus peduli? Sakura menggelengkan kepala, sungguh ia dibuat bingung dengan perasaan dan fikirannya.
Persetan. Ia tak bisa terus-terusan begini. Sakura sudah teramat muak melihat drama mereka dalam diam. Sakura segera menuju pintu putar yang mengarah kedalam, membiarkan pintu itu menelan dirinya dan mendorong sampai ia berputar masuk kembali ke lantai utama kantor.
Sakura menuju keruangan yang dimaksud dengan tergesa-gesa. Sampai didepan ruangan Naruto, didapatinya pintu ruangan tersebut tidak tertutup rapat, ada cahaya yang berasal dari celah tipis dipintu itu. Benar dugaannya, masih ada orang didalamnya. Dengan berusaha mengatur emosinya, Sakura mendekat ke pintu itu. Samar-sama bisa ia dengar suara dari dalam ruangan itu.
"-kau terus-terusan berkata kalau kau mencintai orang lain. tapi nyatanya kau tak pernah menunjukkan siapa orang itu" Suara Shion terdengar merajuk dibuat-buat.
"Itu sungguh bukan urusanmu, Shion" Suara Naruto menyahut.
"Itu hanya akal-akalanmu menolakku atau orang yang kau maksud adalah mantan istrimu?"
Tak terdengar jawaban apapun dari Naruto.
"Kau bisa mulai menerimaku, Naruto. Aku pasti bisa menyembuhkan luka hatimu" Suara Shion kembali terdengar.
Cukup. Kali ini dia sudah teramat muak. Dengan terburu-buru Sakura mengeluarkan sebuah map dari tasnya, dan melempar tasnya sembarang dibalik meja Shizune.
"Permisi" Sakura membuka pintu didepannya dengan tiba-tiba.
Dan pemandangan didepannya semakin membuat emosinya memuncak. Ia melihat Naruto yang duduk dikursi besarnya, sementara Shion duduk ditangan kursi tersebut dengan sebelah lengan yang merangkul bahu Naruto.
Melihat siapa yang datang, Naruto langsung berdiri dari kursinya secara tiba-tiba. Membuat Shion hampir jatuh terjungkal.
"Kau! Sedang apa kau disni?" Shion berucap duluan, ia memandang kesal ke Sakura.
"Tentu saja aku sedang bekerja disini, lembur lebih tepatnya" Sakura menjawab sinis, ia sudah membuang segala kesopanannya untuk wanita dihadapannya ini.
Belum sempat Shion membalas, Sakura kembali berucap "Maaf menginterupsimu, Tuan Uzumaki. Tapi ada laporan yang tidak kumengerti dan perlu konsultasi denganmu. Mengingat ini adalah laporan penting, dan atasan langsung ku baru saja pulang" Sakura menarik paksa senyumnya.
Melihat Sakura yang menatapnya tajam, membuat Naruto bingung. Apa maksudnya? Namun ia mencoba mengikuti alur Sakura.
"B-baiklah. Shion bisakah kau pulang? " Naruto menoleh ke Shion.
"Cih, kau lebih mementingkan bawahanmu?" Shion menatap Naruto tak percaya.
"Dia sedang melakukan pekerjaannya di jam yang seharusnya ia sudah pulang hanya untuk menyelesaikan kepentingan kantor. Sedangkan kau, kau berada disini sama sekali tak membantu apapun untuk kantor" Naruto berucap dingin.
Shion tercengang mendengar ucapan Naruto. Selama ini ia memang tak pernah mendapat penolakan terang-terangan dari Naruto, namun kalimatnya tadi malah sudah seperti kecaman langsung.
"Sakura, kemarilah" Naruto menatap Sakura..
Sakura berjalan mendekat. Ia menatap Shion dengan dagu terangkat, mengisyaratkan eksistensinya yang diinginkan oleh sang direktur.
Shion tampak semakin kesal. "Aku pulang!" ia berjalan kepintu dan membanting keras pintu ruangan itu.
Naruto menghela napas saat mendengarnya, sementara Sakura kini menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Sebenarnya, ada apa Sakura?" Naruto memandang wajah wanita bersurai merah muda itu.
Sakura melempar mapnya kemeja tanpa melepaskan tatapannya sekalipun dari Naruto. Ia melangkah pasti hingga tiba didepan Naruto. Menatap safir dengan nyalang sembari kedua tangannya bergerak meraih kerah baju Naruto, menariknya kebawah hingga membuat wajah Naruto menunduk, berada tepat didepan wajahnya.
Wajah mereka sangat dekat, hingga mereka bisa saling merasakan deru nafas masing-masing. Rona merah mulai menjalar diwajah Naruto.
"S-sakura? Kau kena-"
Dan belum selesai Naruto berucap, perempuan itu sudah membungkam dirinya dengan sebuah ciuman. Naruto melotot kaget menyadari apa yang dilakukan Sakura. Sakura melumat dalam bibirnya, membuat dirinya seketika kepayang. Dengan membuang rasa kagetnya, Naruto memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman Sakura.
Ciuman itu berubah panas dengan cepat, terasa semakin menuntut dan semakin dalam. Mereka saling menyesap seolah tak ingin ada yang tersisa dari rongga mulut masing-masing. Hingga tanpa disadari Naruto mulai mendesak tubuh Sakura kedinding dibelakangnya. Menghimpit tubuh mungil wanita itu dengan tubuhnya. Tangan Sakura beralih keleher pria didepannya, menariknya semakin dekat. Begitupun dengan Naruto, kedua tangannya kini meremas pinggul Sakura. Dengan tak sabar diangkatnya tubuh perempuan itu hingga kini Sakura menggantung ditubuhnya. Tangan Naruto berpindah ke bokong sintal milik Sakura guna menahannya agar tak jatuh. Kedua kaki jenjang Sakura terangkat, melingkar erat dipinggul Naruto.
Menyadari kebutuhan akan oksigen, mereka melepaskan ciuman dengan terengah-engah. Dan tanpa menunggu apapun bibir Naruto turun keleher putih Sakura, memulai dengan mengecup pelan, lalu berubah menjadi menghisap dan menggigit penuh tuntut hingga menyisakan ruam kemerahan. Mata Sakura terpejam mendapat perlakuan itu, sebuah desahan lolos dari bibir ranumnya. Naruto memajukan diri mendesak dirinya, membuat ia merasakan sesuatu milik Naruto dibawah sana yang menegang dan menggesek miliknya. Kembali lenguhan terdengar dari bibir mungil Sakura.
Sakura kembali menarik sisi kepala Naruto, mempertemukan kembali bibirnya dengan milik Naruto. Melumatnya dalam seakan tak ingin terlepas. Naruto menggerakkan pinggulnya maju mundur berulang-ulang, membuat keduanya saling mendesah disela-sela pagutan mereka. Ini terlalu gila.
Sakura kembali membuka matanya, mengerjapkan matanya berkali-kali demi berusaha mengembalikan kesadarannya yang nyaris hilang. Mati-matian ia berusaha menekan seluruh hasratnya dan mulai mendorong tubuh Naruto. Mencoba mengabaikan rasa nikmat yang menderanya, ia berusaha melepaskan diri dari pria didepannya.
Menyadari perlakuan penolakan tiba-tiba dari Sakura, Naruto melonggarkan dekapan mereka. Ia melepaskan ciuman mereka hingga menyisakan saliva disudut bibir masing-masing dan menatap dalam ke Sakura. Sakura kembali mendorong tubuh Naruto dan mulai menurunkan kakinya. Dengan sangat terpaksa, Naruto melepaskan tubuh Sakura.
Sakura menatap wajah Naruto yang merah padam sembari mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Seluruh tubuhnya panas, begitupun tubuh Naruto yang menguar hal yang sama.
"Kenapa?" Suara Naruto terdengar parau. Matanya tampak berkilat. Rasanya ia ingin menyesali saat Sakura melepaskannya tepat disaat ia sudah sangat hanyut akan tubuh perempuan itu.
Setelah dirasakan dirinya mereda, Sakura berucap. "Kau. Mulai sekarang, jangan pernah bertingkah untuk tak mengenalku lagi" Sakura menatap tajam Naruto.
"Aku hanya mengikuti maumu" Naruto menatapnya bingung.
"Kalau begitu, ikuti mauku yang ini. Berhenti bertingkah konyol dan berhenti dekat dengan perempuan manapun" Sakura berucap lantang.
Naruto terdiam menatap perempuan didepanya, mencoba mencerna maksud wanita didepannya. Apa maksudnya? Apakah ini berarti.. Sakura sudah kembali seperti dulu? Apakah Sakura memiliki perasaan yang sama sepertinya?
Melihat Naruto yang terdiam, Sakura dengan cepat berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Tunggu, Sakura" Naruto yang seakan baru tersadar, segera menyusul keluar dan mencoba mengejar perempuan itu.
Menyadari Naruto yang mengikutinya, Sakura berbalik tepat ketika sudah berada didepan pintu lift.
"Aku butuh sendiri dulu, Naruto. Mengerti, dan ikuti saja mauku" Sakura kembali menatapnya tajam.
Naruto terdiam sesaat, tak tahu apa yang sepantasnya ia ucapkan. "Baiklah, Kurasa"
Sakura kembali memutar tubuhnya dan segera masuk setelah pintu lift terbuka.
Pintu lift mulai mentutup, namun mata Naruto tak beralih sedikitpun dari sosok dibalik pintu tersebut.
"Aku mencintaimu, Sakura" Naruto berucap tepat saat pintu lift tertutup sepenuhnya.
Tbc
Review Please
Thank You
Terima kasih untuk yang masih menunggu kelanjutan fic ini. Segala review yang masuk bikin author nyempetin update disela-sela kerjaan segunung yang menanti setelah cuti. Huhu :')
Mungkin Ch ini juga mulai menjawab kenapa Rate di fic ini M x) Well, don't forget to review, see you on next chapter guys! – Saski Chan
