Setelah pintu kelas 0 dibuka oleh Monoglin saat selesai menjelaskan aturan 'ujian' tersebut, Deuce dan Rem segera mengobati luka Nine dengan obat-obatan yang ada di klinik secara manual tanpa sihir sama sekali, diawasi oleh Machina dan Jack, sedangkan sisanya berpencar mencari jalan keluar Peristylium yang tersisa.

Di klinik sebagai Unit Kesehatan Sekolah peristylium sama sekali tidak ada staf satupun yang menjaga tempat tersebut sehingga mau tidak mau mereka harus mengobati luka Nine sendiri tanpa bantuan sihir sama sekali. Tapi untunglah Rem dan Deuce dapat mengobati luka secara manual dengan baik karena Deuce sebelumnya pernah belajar tentang pengobatan di kelas 4 sedangkan Rem sendiri pernah belajar dari salah satu almarhum bibinya yang merupakan seorang perawat serta sedikit belajar tentang pengobatan di kelas 7. Jack kemudian memuji kemampuan berobat kedua gadis yang kebetulan sama-sama tipe gadis lemah lembut ini setelah selesai mengobati luka Nine.

"Wah! Kalian para gadis memang hebat ya. Tidak salah jika Class Zero punya dua dokter manis seperti kalian meskipun tanpa sihir."

"Ah, jangan memuji kami berlebihan, Jack-san. Kami hanya mencoba saja."

"Hal itu tidak mengherankan mengingat mereka pernah belajar di kelas Geomancer dan kelas White Mage yang notabene sama-sama kelas yang mengajarkan tentang pengobatan meskipun dengan cara yang berbeda, apalagi Rem sebelumnya pernah diajari bibinya cara berobat." jelas Machina.

"Ah, Machina. Itu kulakukan hanya untuk berjaga-jaga saja. Jadi jangan terlalu dibanggakan." ucap Rem merendah.

"Eh, ngomong-ngomong bagaimana bisa kau belajar seperti ini di Class Fourth padahal kau ini berasal dari Class Zero? Apa jangan-jangan kau juga sama seperti kami, murid pindahan dari kelas lain?" Tanya Rem pada Deuce.

"Oh itu... Sebenarnya kami memang berasal dari Class Zero sejak lama bersama dengan kedatangan ibu ke Peristylium. Tapi sebelumnya kami diberi kesempatan untuk berbaur bersama para kadet lainnya dengan cara mengikuti kelas lain secara intensif selama satu bulan. Maka dari itulah aku belajar tentang pengobatan secara manual di Class Fourth." jelas Deuce.

"Ah, begitu ceritanya. Apakah cuma kau saja yang ikut Class Fourth saat itu?"

"Iya... Begitulah... Sisanya mereka berpencar sendiri dalam mengikuti kelas intensif. Contohnya Jack-san mengikuti Class Twelfth."

"Ehehehe... Maksudmu kelas yang ada moogle berpakaian bayi itu ya. Ehehehe... Cukup menyenangkan sih, apalagi orang-orang di kelas itu lucu-lucu kayak badut."

"Ya cocok dengan dirimu yang kayak badut." komentar Nine dengan nada menyindir.

"Kalau Nine Dulu juga pernah belajar di Class Second, sama seperti Machina-san. Pasti Machina-san pernah bertemu dengannya, bukan?"

"Benarkah? Kok aku ngga nyadar dia sebelumnya ya kalau dia pernah belajar di Class Second?" tanya Machina.

"Cih! Mentang-mentang sebagai siswa teladan udah bersikap sombong ya sampai tidak mengenaliku yang pernah belajar di Class Second. Heh, memangnya cuma kau doang yang paling hebat di kelasmu dulu, hah?! Aku juga hebat kok di Class Second! Camkan itu, kora!" ujar Nine ketus karena tersinggung.

Sontak seisi ruangan terdiam dan canggung seketika.

"Nine-san... Jangan bicara begitu..." tegur Deuce hati-hati.

"Aku... Aku bukan bermaksud menyinggungmu atau menyindirmu atau semacamnya. Aku memang benar-benar tidak tahu kalau kau sebelumnya pernah belajar di Class Second. Kamu sudah tahu kan kalau Class Second muridnya paling banyak dibandingkan kelas-kelas lainnya bahkan termasuk Class First. Jadi nggak semua anak Class Second aku ingat semua. Cuma beberapa saja yang aku kenal di sana. Lagipula kau belajarnya cuma sebulan saja. Jadi-"

"Halah, alasan aja. Bilang aja kamu bohong. Emang nyatanya kamu selalu menyindirku dan bicara seolah-olah kau ini paling hebat dan bisa mengalahkanku di kelas kami. Ya kan?" kata-kata pedas Nine seketika membuat Machina tak mampu berbicara apapun. Bukannya ia takut kalau yang dikatakan Nine itu benar, hanya saja ia benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa Nine berpikir negatif padanya semenjak insiden di kelas di mana Ace memberitahukan tentang dirinya itu.

"Yah yah yah... Mulai lagi dia." komentar Jack.

"HAH! Tapi nggak papa. Untungnya aku sendiri juga nggak pernah tahu kalau kau murid Class Second sebelum akhirnya kau menjadi murid Class Zero. Meskipun kau pakai jubah panjang sekalipun tetap saja aku tidak mengenalmu dulu. Malah kupikir aku melihat sosok vampir nyasar di Class Second. Hahaha..." ejek Nine sinis.

"Maafkan kami, Nine. Mungkin terkadang omongannya sedikit pedas. Tapi sebenarnya Machina bermaksud meng-" bela Rem namun langsung dihentikan oleh Machina yang menggelengkan kepalanya megisyaratkan untuk berhenti.

"Aku mengerti. Maafkan aku." Machina menundukkan kepalanya sebentar kemudian segera keluar dari ruangan klinik tersebut, menyisakan keheningan bagi yang tersisa.

Rem merasa bersalah karena dialah yang menjadi biang kerok atas semua ini. Mungkin seharusnya dia tak perlu bilang pada Ace tentang kelebihan Machina sebagai Honor Student nya, mungkin takkan ada orang yang sampai cemburu bahkan membenci Machina seperti itu. Mungkin memang benar apa kata Machina. Dia memang pantas dijuluki si mulut ember.

"Hah! Akhirnya dia pergi juga. Lega rasanya si vampir jadi-jadian yang bikin sakit mata itu sudah lewat. AWW! Sakit! Apa yang kau lakukan, Deuce?!" Nine mengaduh kesakitan setelah Deuce menekan lukanya dengan pinset.

"Kau sama sekali tidak tahu malu, Nine-san. Machina-san itu teman baru kita. Tidak sepantasnya kau memperlakukannya seperti itu. Lagipula ini bukan dirimu yang mudah tersinggung seperti itu hanya gara-gara masalah siapa yang paling kuat di Class Zero."

"Aku tidak mempermasalahkan siapa yang paling kuat di Class Zero. Aku tidak suka cara bicaranya dan sikapnya yang arogan itu seakan-akan dia ini merasa paling hebat dan tak terkalahkan. ARGH! SAKIT, DEUCE! MAUMU APA SIH?!" lagi-lagi luka Nine ditekan oleh Deuce.

"Tetap saja kau salah besar tentang Machina-san. Kau bersikap seperti itu karena kau salah paham. Lagipula kau sendiri bagaimana, Nine-san?! Bahkan kau jauh lebih arogan dan sombong daripada Machina-san sampai kau bertindak bodoh ingin membunuh Monoglin-san seperti itu. Kau tidak kasihan pada Rem-san? Dia teman baiknya Machina-san. Tolong jaga perasaan Rem-san." tegur Deuce setelah melihat kegusaran Rem.

"Kenapa kau begitu membela mereka sih? Itu bukan urusanku. Toh yang bermasalah jelas-jelas si vampir jadi-jadian itu yang sudah bikin kata-kata yang tidak pantas. Lagipula sejak dua anak baru itu masuk Class Zero, semuanya mendadak jadi kacau balau begini. Belum pernah ibu membuat peraturan-peraturan seaneh itu sebelum mereka bergabung bersama kita." kata Nine yang semakin menyakitkan itu malah membuat Rem semakin down dan merasa bahwa kehadiran dirinya dan Machina justru membawa bencana bagi Class Zero itu sendiri. Deuce dan Jack tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh pemegang tombak itu.

"Jangan bilang kau sudah punya target untuk membunuhnya dalam ujian itu? Ya kan?" kata Jack, santai namun serius, bahkan sangat menohok hati siapapun yang mendengarnya, terutama Rem.

"Jack-san! Apa yang kau bicarakan?" bisik Deuce sambil melototkan matanya pada Jack.

"Apa? Aku hanya bertanya saja. Lagian kata-kata Nine terhadap Machina sudah terdengar seperti hate speech. Bisa jadi dia sudah menyiapkan Machina sebagai targetnya. Benar nggak?" tanya Jack sekali lagi. Sepertinya dia tidak peka dengan keadaan sekitar yang semakin runyam.

"Benarkah? Kau mencoba... membunuh... Machina?" Tanya Rem lirih.

"Apa yang kau bicarakan? Jack! Kalau ngomong tuh yang bener! Jelas-jelas aku tidak sudi mengikuti permainan kotor makhluk jelek! Ngapain juga aku mengotori tanganku hanya untuk Menumpahkan darah orang macam Machina? Aku kan hanya nggak suka cara ngomongnya dia yang terkesan arogan itu. Nggak usah peduliin kata-kata anak-anak lainnya. Aku nggak iri sama Machina. Sama sekali TIDAK! Camkan itu, kora!" ujar Nine membela diri.

"Kalau begitu... Aku permisi dulu..."pamit Rem sambil berjalan keluar ruangan, meninggalkan tugasnya merawat luka Nine.

"Lihatlah sekarang. Kalian berdua sama-sama tidak bisa menjaga bicara kalian terhadap dua teman baru kita. Apa kalian masih belum puas menyakiti perasaan mereka apalagi dalam keadaan seperti ini sekarang." tegur Deuce marah.

"Ya gimana lagi, aku kan hanya bisa bicara apa adanya. Aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung Rem dan Machina. Aku hanya tidak habis pikir dengan sikap Nine yang terlihat nyengit sama Machina dan Rem seakan-akan ia menganggap mereka berdua seperti pembawa kesialan bagi kita." kata Jack membela diri.

"Memang benar kan keberadaan mereka justru membuat kita jadi begini. Apalagi Machina yang mengataiku gila karena mengira aku ini sombong. Bukankah itu sudah menunjukkan bahwa ia mencoba menantangku?!" bentak Nine.

"Dia sama seperti kita, berusaha mencegahmu melakukan hal bodoh yang membuat pahamu terluka seperti ini, jangan salah paham tentang itu. Lagipula tidak ada istilah pembawa sial bagi Class Zero. Bukankah kau sebelumnya sudah menyambut baik mereka? Lalu kenapa sekarang kau malah bersikap dingin pada mereka?" kata Deuce.

"Siapa bilang aku menyambut mereka dengan baik? Sejak awal aku tidak suka kedatangan orang-orang baru di kelas kita. Pertama si taichou bermasker sialan itu sampai dua anak baru yang nggak jelas asal-usulnya tapi ibu kita sama sekali tidak muncul dan menjelaskan tentang semua ini sampai akhirnya si taichou itu tiba-tiba menghilang juga tapi malah muncul moogle yang lebih jelek lagi entah dari mana yang katanya menerima perintah dari ibu. Sekarang pikirkan baik-baik. Di mana ibu sekarang dan apa yang ibu lakukan sekarang ini terkait kedatangan orang-orang baru itu, hah?! Apakah benar ini rencana darinya atau justru ada jebakan baru dari orang-orang baru yang mengaku mendapat perintah dari ibu kita, bahkan termasuk juga dua orang baru itu? Bisa jadi mereka berdua itu mata-mata, kan?" tukas Nine panjang lebar.

"Aku tidak mengerti dengan semua prasangka burukmu yang belum tentu benar, Nine. Lagipula bagaimana mungkin ada orang yang bisa melawan ibu yang jelas-jelas memiliki kekuatan sihir yang lebih besar dan lebih hebat dari kita ini, Nine? Kecuali ada sosok yang jauh lebih hebat dari ibu yang bisa melawan ibu." tanya Deuce, seketika membungkam mulut Nine yang mulau kehabisan bahan untuk menyanggah lagi.

"Hah... Sepertinya ini akan menjadi hari-hari yang panjang sekali." komentar Jack sambil menutup matanya.

-epha-

Machina berpapasan dengan Ace saat berpapasan di lorong.

"Bagaimana, Ace? Apa ada pintu yang tidak terkunci?" tanya Machina yang langsung dibalas dengan gelengan kepala Ace.

"Semua pintu manapun telah dikunci dan diborgol semua oleh Monoglin. Bahkan semua jendela yang ada di sini ditutup portal besi seperti di kelas kita." lapor Ace.

"Bagaimana dengan yang lainnya?"

"Yang lainnya masih mencari jalan keluar manapun. Bahkan ada yang berusaha mencari jalan rahasia berdasarkan feeling masing-masing. Tapi tetap saja tidak ketemu." lapor Ace.

"Apalagi yang membuat membuatku benar-benar tidak habis mengerti sampai sekarang ini..."

"Apa itu?"

"Kenapa pintu kantor ibuku dikunci?"

"Maksudmu kantor Dr. Arecia?"

"Iya. Pintunya tidak diborgol tapi dikunci. Aku mencoba memanggilnya tapi tidak ada yang menyahut sama sekali."

"Berarti dokter itu memang telah merencanakan ini semua agar kita benar-benar mati di sini. Sekarang ibumu pasti sudah berada di luar sana untuk menanti satu di antara kita."

"Padahal ibu tidak sejahat itu. Tapi kenapa ibu mengurung kita di sini dan menyuruh kami membunuh satu sama lain?"

"Apa selama ini kau pernah mencari tahu motif Dr. Arecia sesungguhnya selama kau dan Class Zero lainnya dirawat olehnya?" tanya Machina menyelidik.

"Tidak pernah sama sekali. Lagipula kenapa aku harus mencurigai orang yang telah merawatku sejak aku menjadi anak kecil sebatang kara?" kata Ace.

"Iya, kau benar... Hanya saja kita tidak pernah tahu apakah dokter itu benar-benar tulus merawat kalian atau beliau punya tujuan lain untuk memanfaatkan kalian demi kepentingannya sendiri."

"Aku juga tidak tahu itu. Rasa-rasanya sangat kurang ajar jika aku mencurigai ibu apapun alasannya. Lagipula aku sama sekali tidak percaya semua yang terjadi ini berasal dari ibu. Itupun buktinya hanya surat saja. Tapi ibu sama sekali tidak terlihat sama sekali hanya sekedar untuk menjelaskan semua kegilaan ini." kata Ace.

"Iya, kau benar juga. Rasa-rasanya ada orang lain yang mengaku sebagai ibumu mungkin." seketika suasana hening sejenak.

"Emm... Machina..."

"Iya..."

"Bagaimana keadaannya Nine?"

"Nine? Tenang. Dia baik-baik kok. Deuce dan Rem telah menanganinya dengan baik. Hanya saja..."

"Hanya saja kenapa? Lukanya separah itukah?"

"Ah, bukan. Bukan itu kok. Lukanya sedang diperban. Ada kemungkinan dia perlu pakai kuk untuk berjalan dalam masa pemulihan lukanya." Jawab Machina namun terdiam lagi.

Ace perlahan mulai paham maksud Machina yang sebenarnya. Bisa dilihat wajahnya yang tampak muram.

"Maafkan aku, Machina."

"Hah? Minta maaf? Untuk apa?"

"Pasti Nine kembali bersikap dingin padamu gara-gara pernyataanku di kelas saat kubilang kalau kau bisa mengungguli Nine." kata Ace lirih.

"Ah... itu... kau tidak usah merasa bersalah begitu Ace."

"Tetap saja ini salahku. Karena setahuku Nine bukan orang yang seperti itu. Bahkan ketika kami sering menggodanya pun dia terlihat santai saja walaupun dia mudah tersinggung. Tapi belum pernah aku melihat Nine sebegitu bencinya terhadapmu. Maafkan ak-..."

"Ini bukan salahmu, Ace. itu juga salahku karena aku tidak menjaga mulutku dengan baik. Toh hal itu terjadi sebenarnya karena waktunya yang tidak tepat, apalagi tiba-tiba Monoglin itu tiba-tiba mengumumkan ujian kejam itu."

"Hm... kau benar... waktunya saat itu benar-benar tidak tepat. Apalagi aku juga salah karena aku bicaranya terlalu blak-blakan tanpa dipikir-pikir." Kata Machina.

"Hahaha... tidak apa-apa kok. Kau sudah tepat bicara seperti itu. Nine saja yang terlalu bodoh." Ujar Ace sembari tertawa kecil.

"Umm... Ace..."

"Hm..."

"Apakah benar kedatangan kami di Class Zero menjadi penyebab munculnya ujian pembunuhan?" tanya Machina lirih.

"Ke-kenapa kau berkata begitu?" tanya Ace bingung dengan pertanyaan Machina yang terlalu berpikir negatif baginya.

"Jawab saja, Ace. Apa benar keberadaanku dan Rem menjadi penyebab kekacauan ini? Kurasa sedikit masuk akal jika Nine bilang begitu. Sebelum kami masuk ke Class Zero, kalian terlihat damai-damai saja sampai tiba-tiba berbagai kejadian satu per satu bermunculan dan-..."

"Itu tidak benar, Machina. Apa yang terjadi saat ini bukan dikarenakan kemunculan kalian di Class Zero. Seperti yang kau bilang, semua ini terjadi karena waktunya yang sama sekali tidak tepat sehingga apa yang terjadi seolah-olah karena kesalahan kalian. Itu tidak benar sama sekali." Ujar Ace berusaha meyakinkan Machina.

"Pasti Nine yang mengatakan hal sesensitif itu padamu, ya?" tanya Ace memastikan kebenaran.

"Tidak, Ace. Nine tidak membahas itu sama sekali. Aku merasa saja kalau keberadaan kami ini tiba-tiba menjadi faktor munculnya masalah-masalah ini." elak Machina.

"Tapi pada akhirnya dia membahas tentang saat kau sudah keluar, Machina." Tunggu. Itu bukan suara Ace yang berbicara, tapi suara seorang wanita. Seketika Ace dan Machina menoleh ke arah sumber suara itu.

"Bahkan Kurasame-taichou dan Monoglin pun dianggap oleh Nine sebagai biang kerok dari semua masalah ini. Maksudku, semua orang baru di Class Zero selain kalian berdua belas dianggapnya sebagai virus mematikan baginya." kata Rem membalas reaksi terkejut kedua pemuda itu.

"Rem? Kupikir kau sudah selesai mengobati Nine." kata Machina terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Rem.

"Belum. Aku masih belum menyelesaikannya. Kupikir Deuce lebih baik mengobatinya daripada aku. Nine kurang begitu menikmati perawatan dariku sepertinya." Kata Rem yang terdengar seperti sarkasme.

"Maafkan aku, Machina, Rem. Sebagai perwakilan Nine, dan juga perwakilan Class Zero, aku benar-benar minta maaf atas kelakuan tidak sopan dari temanku. Aku benar-benar minta maaf sekali. Kuharap kalian tidak membencinya." Kata Ace.

"Untuk apa kami harus membencinya? Toh hanya Nine saja yang membenci kami. Untuk apa kami membuang tenaga untuk membencinya? Yang ada kami malah berbuat hal yang jauh lebih bodoh. Tak beda jauh dengan Nine." kata Machina, diiringi anggukan dari Rem.

"Tetap saja aku benar-benar minta maaf dan jangan dimasukin hati soal itu. Lagipula hal itu terjadi karena kesalahanku mengumbar kehebatanmu pada Nine yang terus berkoar-koar tentang kehebatan fisiknya." kata Ace.

"Aku memaklumi, Ace. Kau tak usah khawatir tentang itu. Toh, menghadapimu sama saja seperti ketika aku menghadapi Rem. Kalian berdua cukup mirip dalam masalah mulut ember." Canda Machina yang akhirnya dibalas tawa rendah dari kedua orang tersebut.

"Oh, ya. Nanti kalau teman-temanku sudah selesai mencari jalan keluar, kalian berdua siap-siap ke Lounge Suzaku untuk kita berkumpul. Jangan lupa beritahu tiga orang yang masih ada di klinik itu ya. Aku permisi dulu." Pamit Ace sebelum meninggalkan dua orang tersebut.

"Sepertinya hari-hari baru kita di Class Zero akan jauh lebih berat dari yang kita lalui selama ini di kelas kita masing-masing." Kata Rem masih menatap ke depan melihat langkah Ace yang semakin menghilang dari pandangan mereka.

"Hmm... apalagi pada akhirnya kitalah yang menjadi target yang paling rawan untuk dijadikan kambing hitam. Class Zero akan semakin tidak mempercayai kita." Kata Machina.

_epha_

Di Lounge Suzaku Peristylium

...

Semua anggota Class Zero kini dalam keadaan emosi yang bercampur aduk. Marah, sedih, takut, semuanya menjadi satu tergambar jelas di wajah mereka. Mereka tak punya cara lagi untuk keluar dari peristylium yang terkunci luar dalam itu. Tak ada jalan alternatif yang bisa ditemukan dalam keadaan darurat itu. Sepertinya Monoglin, dan mungkin juga Dr. Arecia, sudah merencanakan penutupan akses keluar masuk peristylium tersebut sejak lama. Pilihan yang ada sekarang ini hanyalah mengikuti ujian pembunuhan tersebut, atau berdiam diri dalam Peristylium tanpa melakukan apapun.

Mereka tidak tahu, apakah berdiam diri saja sudah menjadi solusi terbaik atau hanya akan jadi bumerang bagi mereka sendiri. jika berdiam diri saja dalam waktu yang sangat lama juga akan menyebabkan mati perlahan karena kekurangan oksigen atau kelaparan karena kekurangan pasokan bahan makanan. Tapi jika mereka harus saling membunuh satu sama lain, maka...

Ah... semua ini hanya menambah kegalauan Class Zero saja.

"Bagaimana ini? Kita sudah mencari jalan keluar ke mana, tapi tak ada satupun yang tidak terkunci." Cater.

"Kita benar-benar terjebak di sini..." Cinque lemas.

"Apalagi semua pintu dan jendela ditutup rapat-rapat seakan tak ada jalan udara masuk ke sini." Seven.

"Bahkan ruang ventilasi pun juga ikut ditutup?" Rem.

"Benar. Semua lubang yang ada sekalipun sebagai akses oksigen tertutup semua. Memang benar Monoglin berencana untuk membuat kita mati kehabisan oksigen di sini agar kita menuruti kemauannya untuk mengikuti ujian pembunuhan itu." Kata Seven.

"SIAL! Kalau begini jadinya bagaimana kita bisa keluar dari sini? Apalagi di sini sudah tidak ada siapa-siapa lagi kecuali kita berempat belas ini dan juga si makhluk jelek sialan itu." Ujar Nine sambil memegangi satu kuk untuk membantunya berjalan sementara setelah kakinya diperban.

"Entah kenapa rasanya tempat ini terlihat aneh dan menyeramkan jika tak ada orang-orang berlalu-lalang di Peristylium ini? serasa seperti bangunan berhantu." Eight.

"Hiii... Cinque takut hantu..." Cinque gemetar ketakutan sambil memeluk lengan Trey.

"Apalagi di luar sana tak ada suara apapun yang terdengar. Tidak ada suara keramaian para kadet apalagi suara serangan dari Milites." Deuce.

"Oh ya, aku pernah ingat. Bukankah di Chrystarium ada peta denah Suzaku Peristylium? Di peta itu kan juga ditunjukkan beberapa tempat rahasia yang biasa dilalui oleh tim mata-mata Rubrum dalam menjalankan misi rahasia itu, kan? Mungkin siapa tahu di situ ada jalan keluar rahasia yang selama ini tidak " tanya Machina.

"Iya, tepatnya peta itu ditaruh di ruang kepala divisi khusus misi rahasia dekat chrystarium itu. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Sepertinya sudah diambil oleh Monoglin mungkin." Jawab Trey.

"Bahkan di kantor Komando Pusat?" tanya Machina lagi.

"Juga sudah tidak ada. Apalagi layar monitor yang sering menampilkan berbagai tempat-tempat untuk berbagai misi juga sudah tidak diaktifkan lagi. Kita sepertinya sudah buta tempat sekarang. Kita juga tidak tahu apa yang terjadi sekarang di luar." Jelas Queen.

"Lantas bagaimana ini? Masak kita harus saling membunuh satu sama lain hanya supaya kita dapat keluar dari sini sih?" keluh Sice.

"Itu gila! Itu tidak akan kita lakukan! Bagaimana bisa kita disuruh melakukan hal sekeji itu pada teman-teman kita sendiri? Lantas ke mana semua orang di sini? Apakah mereka sudah diusir dari sini hanya supaya kita mendapatkan tempat khusus untuk saling membunuh? Apalagi kata Monoglin itu merupakan ujian untuk menjadi Agito sekaligus keluar dari sini?"

"Kira-kira menurut kalian, ke mana semua orang itu berada sekarang?" tanya King.

"Mana kami tahu, King? Mungkin saja mereka juga sudah ikut ujian pembunuhan itu." Jawab Sice asal.

"Kalau memang mereka juga ikut ujian itu, ke mana bekas-bekas pembunuhan tersebut? Tidak ada darah berceceran maupun properti-properti yang rusak." Deuce.

"Paling sudah dibersihkan oleh... ARGH! Kenapa pertanyaan kalian bodoh sekali sih?! Jangan tanyakan hal-hal yang kita sendiri juga tidak tahu. Lama-kelamaan aku bisa gila bersama kalian." keluh Sice sambil memegang kepalanya.

"Apakah sekarang ibu sudah mengendalikan semua tempat ini dan menggunakan rencananya agar semua kadet di sini saling membunuh dalam kedok ujian? Lantas kalau begitu ke mana orang-orang lainnya seperti pejabat Consortium 8? Apakah mereka semua sudah tunduk pada ibu sekarang?" tanya Deuce.

"Jangan tanyakan itu lagi, Deuce! Sampai kapanpun kita tak akan bisa menjawab itu semua karena kita sendiri berada di posisi yang sama. Kita benar-benar buta akan hal ini." elak Queen

"Tenanglah kawan-kawan. Jangan terlalu panik seperti itu. Mungkin saja ibu hanya bermaksud mengetes kesetiaan kita, ya nggak?" kata Jack santai.

"Kau ini! Sikap optimisme mu masih aja muncul di saat seperti ini. Kau mau terkurung di sini selamanya atau kau terbunuh oleh salah satu dari kita?" tanya Sice menyinyir omongan Jack.

"Yang dikatakan Jack bisa jadi benar." Timpal Ace menyetujui Jack.

"Hah?! Kau juga mempercayai kata-kata bodoh itu, Ace?" tanya Nine.

"Jangan salah! Yang barusan dikatakan Jack itu bukan tanpa dasar. Ibu sangat menyanyangi kita semua. Kita selama ini selalu dirawat olehnya sejak kita masih kecil dan sebatang kara. Beliaulah yang mengadopsi kita selama ini bahkan mengajarkan kita cara bertempur. Bagaimana mungkin ibu mau melakukan hal sekeji itu pada kita sekarang ini kecuali hanya menguji kesetiaan kita satu sama lain?" jelas Ace.

"Mungkin ada benarnya juga sih? Tapi kenapa harus dengan permainan seperti ini?" tanya Queen.

"Aku tidak tahu apa yang direncanakan ibu saat ini, tapi apa kalian pernah ingat waktu kita masih kecil saat kita harus menentukan pilihan yang sangat sulit?"

"Ah, aku ingat. Itu saat kita memilih antara menerima tawaran ikut bersama ibu ke kebun binatang atau tetap bersama salah satu teman kita yang tidak bisa ikut ke kebun binatang? Ya kan?" tebak Trey.

"Ya, benar. Ingat kan saat kita masih kecil, saat kita mendapatkan tiket ke kebun binatang dari ibu kecuali Cinque?" kata Ace memancing yang saat itu juga diiyakan oleh teman-teman lainnya.

"Iya, saat itu aku benar-benar sedih banget karena aku tidak mendapatkan tiket ke kebun binatang padahal aku tidak pernah nakal seperti Nine." kata Cinque.

"Iya, kau tidak pernah nakal, Cinque. Tapi kau selalu melakukan sesuatu yang tak terduga hingga semua orang takut padamu. Makanya itulah alasannya kau tidak mendapatkan tiket." Timpal Nine mengejek, membuat Cinque semakin cemberut.

"Bukan. Bukan karena itu, Nine. Cinque tidak mendapatkannya karena saat itu ibu beralasan kalau tiketnya di sana sudah habis. Saat itu ibu cuma mendapatkan 12 tiket termasuk tiket buat dirinya sendiri." jelas Ace.

"Wow. Sepertinya kalian punya cerita yang menarik tentang masa kecil kalian. Ceritakan pada kami apa saja yang kalian alami saat itu." Pinta Rem antusias, seketika melupakan rasa kekhawatirannya, begitu juga dengan yang lainnya.

"Karena itulah ibu kami memberikan pilihan antara tetap ikut bersama ibu ke kebun binatang atau menemani Cinque ditinggal di rumah namun konsekuensinya tidak bisa ikut ke kebun binatang."

"Terdengar sederhana sih. Lantas apa masalahnya? Kalau mau ikut ya ikut aja. Kalau nggak ya nggak usah. Lantas apa masalah kalian dalam hal ini?" tanya Rem bingung.

"Masalahnya tidak sesederhana itu, Rem-san." Timpal Deuce.

"Tidak sesederhana itu? Maksudnya dalam pergi ke kebun binatang atau nggaknya itu..." tanya Machina namun dipotong oleh King.

"Kami harus satu suara." Potong King akhirnya buka suara namun singkat.

"Kami ini bukan hanya sebagai teman sekelas saja, tapi juga sebagai saudara. Sebagai saudara kami harus selalu bersama apapun yang terjadi. Tidak boleh ada yang ditinggal ataupun sendirian."

"Dan jika kami bertindak sendirian, maka kami akan dianggap egois. Bukankah keegoisan itu akan merusak ikatan persaudaraan yang sudah terjalin sejak lama?" kata Eight.

"Lagipula kami juga berimpian bisa pergi piknik bersama ibu kami sejak lama. Ajakan ke kebun binatang itu adalah kesempatan piknik kami untuk pertama kalinya. Kami belum pernah pergi ke mana-mana lagi sejak kami ditinggal mati seluruh keluarga kami yang asli sampai akhirnya ibu yang mengasuh kami semua." Kata Cater.

"Toh yang paling antusias pergi ke kebun binatang kan si Ace. Soalnya dia pengin sekali bisa lihat sekawanan chocobo di kebun binatang. Sejak kecil dia benar-benar chocobo freak banget lho." Kata Cater sambil berbisik dengan tepi tangannya menempel di pipinya.

"Wah! Sama dong kayak Machina. Sejak kecil Machina juga chocobo freak lho. Apalagi kakaknya Machina selain sebagai prajurit dominion juga bekerja sebagai penjaga kandang chocobo. Bahkan dia juga punya hobi memberi nama aneh pada para chocobo. Chocobo milik kakaknya Machina aja juga dikasih nama aneh dari Machina. Namanya Chichi...chi... chichi siapa ya? Aku kok mendadak lupa sih? Yang pasti ada penggalan nama Chichi gitu. Machina. Chocobo kakakmu namanya siapa ya? Beritahu aku, Machina."

"Tidak! Aku tidak akan memberitahukanmu. 'Bocormu' sudah terlalu jauh dan kau semakin mempermalukanku, Rem." Sungut Machina ketus yang ternyata sedari tadi menutup mukanya menahan malu karena Rem selalu saja menceritakan tentang pribadinya tersebut.

"Ah, kau ini pelit sekali sih. Beritahu aku sekali ini saja dong siapa nama chocobo kakakmu." Rajuk Rem.

"Tidak, Rem! Kau semakin memalukan saja. Pikirkan saja sendiri!" bentak Machina.

"Ah, Machina pelit. Ya sudah kalau gitu. Yah, pokoknya yang pasti nama chocobo dari Machina seperti itu deh. Mungkin misalnya, Poko-poko, choki-choki, poporo, dan juga..."

"Chichiri..." kata itu keluar begitu saja dari mulut Ace, sontak membuat Class Zero terpana melihat Ace. Tak terkecuali Machina yang jauh lebih kaget mendengar nama tersebut yang keluar dari mulut Ace. Perasaan dia tidak pernah menceritakan tentang chocobo kakaknya pada Ace meskipun dia tahu kalau dirinya dan Ace sama-sama menyukai chocobo.

Ace sendiri juga tersentak dengan apa yang ia ucapkan. Kata itu keluar dari mulutnya begitu saja, seakan ada yang mengendalikan dirinya.

"Ah, iya benar. Namanya Chichiri. Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana kau bisa tahu tentang Chichiri? Apa Machina yang memberitahumu?" tanya Rem pada Ace.

Ace terdiam seketika. Dia bingung harus menjawab apa. Pasalnya dia menyebutkan nama itu secara reflek di mulutnya padahal dia belum pernah mendengar nama itu sama sekali, bahkan tanpa diberitahu oleh Machina sekalipun. Hal yang sama juga terjadi ketika secara reflek dia mengetahui kalau Machina juga menyukai chocobo seperti dirinya padahal Machina sama sekali tak pernah menceritakannya.

Begitu pula dengan Machina yang tak percaya kalau Ace mengetahui semua itu tentang dirinya. Perasaan Machina sendiri tak pernah menceritakan apapun tentang dirinya. Bagaimana bisa Ace tahu banyak tentang dirinya? Peramalkah dia? Pikirnya.

"Ace... kenapa diam aja? Ditanyain tuh sama Rem." Sahut Cater berusaha menyadarkan Ace dari 'dunia'nya itu.

"I-iya... begitulah... Kebetulan kami sama-sama suka chocobo. Jadi ya kami meluangkan waktu untuk bercerita tentang diri kami dan juga apa yang kami sukai dan tidak kami sukai. Bukankah begitu, Machina?" kata Ace berbohong sambil memberi isyarat pada Machina untuk ikut berbohong pula. Machina yang baru 'nyambung' mulai mengikuti 'permainan' Ace.

"Ah, iya... saat aku keluar dari ruang klinik tapi kau masih mengobati lukanya Nine, aku bertemu Ace dan menanyakan tentang jalan keluar dari Peristylium. Tapi sembari menunggu yang lainnya mencari-cari akses Perislylium, kami berdua meluangkan waktu untuk bercerita tentang kami masing-masing." Jelas Machina setengah berbohong.

"Kuakui, walaupun dari luar Ace terlihat dingin dan cuek, tapi aslinya dia baik dan perhatian banget sama aku. Mungkin karena kami sama-sama menyukai chocobo makanya aku merasa klop sama Ace." tambah Machina, entah dia bohong atau jujur. Tapi tatapannya masih menyimpan rasa penasaran pada Ace yang tiba-tiba mampu menebak apapun tentang dirinya. Ace juga masih belum percaya bagaimana bisa dia mengingat hal-hal tentang Machina dengan mudahnya, padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Mungkinkah benar mereka mengalami de javu tersebut seperti yang dibahas sebelumnya?

"Ah... senangnya akhirnya Acey punya teman sesama penyuka chocobo. Pasti kalian berdua bisa hang out bareng ke kandang chocobo dan memberi makan chocobo bersama serta balapan chocobo. Wah, Acey... kau beruntung sekali..." puji Cinque. Namun Nine tampak muak dengan pembahasan tersebut, apalagi jika sudah berhubungan dengan Machina.

Di antara sekian banyak kadet tersebut, sepertinya hanya Deuce saja yang bisa melihat ekspresi tak biasa dari dua pemuda itu. Sepertinya dia tahu kalau mereka sama-sama berbohong. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan, pikirnya.

"Sudahlah, teman-teman. Hentikan pembahasan tentang duo chocobo freak itu. Sekarang lanjutkan cerita tentang kita lagi, Ace." lerai Queen.

"Ah, baiklah. Ngomong-ngomong sampai di mana tadi pembicaraan kita?"

"Sampai kita dihadapkan pada dua pilihan sulit, mengikuti ibu pergi ke kebun binatang tapi akhirnya Cinque tertinggal sendirian dan kita tak bisa menikmati liburan bersama-sama jika satu orang tertinggal, atau tetap tinggal bersama Cinque namun kesempatan pergi ke kebun binatang hilang mengingat saat itu bertepatan dengan pekan hari raya."

"Terdengar sepele juga tapi dibuat seakan-akan begitu sulit. Apakah Dr. Arecia sesibuk itu hingga ia hanya bisa meluangkan waktunya bersama kalian sekali saja?" tanya Rem.

"Mungkin terdengar sepele bagi kalian, tapi sebagai sesama anak yang sama-sama hidup sebatang kara, hal itu sangat berharga bagi kita karena kita serasa punya keluarga baru." Kata Seven.

"Dan karena itulah akhirnya kami memutuskan untuk tetap tinggal bersama Cinque dan memutuskan untuk menolak tawaran ibu pergi ke kebun binatang karena bagi kami menikmati kesenangan bersama-sama jauh lebih penting daripada menikmati kesenangan itu sendirian." Lanjut Ace.

"Apa akhirnya Dr. Arecia membatalkan ajakan kalian pergi ke kebun binatang?" tanya Rem.

"Untungnya akhirnya terjadi plot twist." Sahut Cater semangat.

"Justru ibu kami tiba-tiba memberikan satu tiket untuk Cinque. Kata ibu saat itu ibu hanya mau mengetes kesetiaan kami terhadap teman sekaligus saudara kami sendiri dalam hal apapun. Karena kebersamaan itu jauh lebih penting daripada sendirian. Jadi kami tetap bisa pergi ke kebun binatang bersama ibu tanpa ada satupun yang tertinggal." Jelas Queen.

"Itulah yang mendasari kami dalam menjalankan misi. Kami tetap harus bersama meski dalam keadaan apapun dan sebagai saudara kita tidak boleh meninggalkan teman dalam keadaan apapun. Dan itulah kenapa kami selalu bersama bahkan di saat seperti ini." ujar Ace tenang.

"Wah, terdengar sepele sih tapi maknanya cukup mendalam. Tak kusangka Dr. Arecia benar-benar bisa membimbing kalian dengan baik ya." Ujar Rem kagum.

"Tunggu sebentar. Tunggu sebentar. Maaf kalau aku ikut menyela. Tapi apa hubungannya cerita masa lalu kalian dengan yang kita hadapi sekarang ini? Jadi kau benar-benar berpikir kalau apa yang kita hadapi sekarang ini termasuk ujian pembunuhan itu semuanya hanya merupakan tes dari dokter itu untuk mengetes kesetiaan kalian begitu?" sela Machina yang masih belum percaya jalan pikiran Class Zero.

"Benar. Kurasa ibu kami hanya ingin menguji kami apakah kami rela mengorbankan persahabatan kami hanya demi kepentingan diri sendiri atau tetap bersama selamanya meskipun nyawa taruhannya." Kata Ace.

"Tapi kenapa cara mengetesnya kali ini harus melibatkan pembunuhan? Apalagi kita dipaksa membunuh satu sama lain hanya demi keluar dari sini? Tes macam apa ini?" tanya Machina gusar.

"Ya namanya juga kita udah dewasa. Kemungkinan tes kesetiaan ini semakin dipersulit mengingat kita sendiri sudah sering menjalankan misi bersama dan sering menghadapi maut. Jadi kami rasa tes semacam itu sudah tidak terlalu aneh. Toh yang penting kita tidak perlu mengikuti ujian semacam itu. Anggap aja itu hanya gertakan saja. Suatu saat pastinya semuanya akan lewat." Jawab Jack dengan gaya santai khasnya.

"Sudah tidak terlalu aneh? Hanya gertakan saja? Semuanya pasti akan lewat? Kalau gitu pertanyaanku adalah berapa lama kita hanya berdiam diri saja tidak melakukan apapun? Dan satu lagi. Jika memang Dr. Arecia memang bermaksud hanya ingin mengetes kalian berduabelas saja, kenapa kami berdua ini, aku dan Rem, juga ikut dilibatkan di sini? Toh kami kan hanya orang luar saja dan kami belum pernah bertemu dengan beliau secara langsung dan menjadikan kami sebagai anak-anaknya." Tanya Machina.

"Mana kami tahu, Machina? Kau ini banyak tanya deh. Kita ini semua juga mengalami hal yang sama. Kita juga nggak tahu apakah ini benar-benar hanya tes untuk menguji kesetiaan kita apa nggak? Toh ini hanya asumsi kami saja." Jawab Sice muak.

"Hanya asumsi? Tapi kalian mengatakan seolah-olah yang dilakukan ibu kalian sama persis dengan yang dilakukan ibu kalian dulu. Maksudku cara menguji kesetiaan dan apalah aku nggak tahu tentang hal begituan. Tapi kalian hanya membuat reka-rekaan yang mengada-ngada dan nggak jelas seperti ini."

"Kami hanya mencoba berpikir positif saja, Machina. Mungkin siapa tahu semuanya akan segera selesai." Kata Ace.

"Berapa lama? Berapa lama semua ini akan segera selesai tanpa bertindak apapun?" tanya Machina semakin gusar.

"Kami juga tidak tahu, Machina. Entah lama atau cepat waktu akan berlalu, tapi yang pasti kita tetap harus punya pendirian yang teguh untuk menghadapi semua ini." kata Ace.

"Jadi kesimpulannya, kau dan teman-temanmu memilih tidak mengikuti ujian itu sekaligus berdiam diri begitu saja tanpa merencanakan sesuatu untuk keluar dari sini?" tanya Machina.

"Iya. Kami akan tetap tinggal di sini sampai akhirnya Dr. Arecia datang. Kami khawatir jika kami mencoba lari dari tempat ini ibu kami akan kecewa pada kami karena kami tidak menuruti ibu. Tapi jika kau dan Rem ingin keluar dari sini dengan cara apapun kami tidak akan menghalangi kalian. Toh kalian kan anak baru, kuharap kalian tidak akan kena hukuman dari ibu maupun dari Monoglin." Kata Ace dan disambut dengan anggukan dari Class Zero yang lama tanda mereka juga seiya sekata dengan Ace.

"Kami tetap akan tinggal di sini sampai Dr. Arecia datang pada kami." Sahut Class Zero bersamaan.

"Tapi kata Monoglin kami berdua juga harus ikut ujian itu tanpa pengecualian. Bagaimana mungkin kami bisa kabur dari sini begitu saja tanpa kalian? Jadi kami tidak bisa meninggalkan kalian begitu saja karena kami sudah terikat dengan kalian Class Zero." Kata Machina.

"Itu bukan urusan kami mengenai itu. Kalau mau pergi ya pergi saja. Toh kau sendiri juga tak akan bisa menemukan jalan keluar ini lagi. Lagipula yang membuatku heran pada kalian ini, bagaimana bisa kalian masuk ke Class Zero dan menjadi bagian dari kami? Apa ibu kami yang memindahkan kalian berdua? Apakah ini atas ijin darinya? Jelaskan padaku." Sahut Nine menantang.

Seketika Machina dan Rem terdiam. Mereka juga baru sadar bahwa transisi mereka ke kelas lain terkesan dipaksakan, apalagi kelas tempat mereka sekarang ini adalah kelas legendaris, kelas yang memiliki kemampuan bertarung dan sihir yang tak terbatas. Bahkan mereka bisa menggunakan sihir meskipun crystal jammer telah dinyalakan dan mempengaruhi kemampuan sihir mereka. Dan itu juga bukan kelas sembarangan orang saja. Lantas apa yang membuat mereka bisa masuk sebagai murid Class Zero?

"Err... kalau itu... sebenarnya... kami dipindahkan ke Class Zero oleh Pak Khalia. Itupun juga tanpa alasan yang jelas, tahu-tahu kami dipanggil oleh beliau dan beliau memutuskan bahwa kami dimutasikan dari kelas kami masing-masing menuju ke Class Zero. Padahal jika kami pikir-pikir toh sebenarnya kemampuan kami juga biasa saja, malahan kami juga tak luput dari pengaruh crystal jammer. Tapi hal itu pula yang membuatku akhirnya bisa bertemu dengan Machina walaupun dalam momen yang tak biasa ini." jawab Rem.

"Tapi apakah kalian sudah bertemu ibu kami, Dr. Arecia, sebelum kalian bisa masuk ke kelas ini? paling tidak hanya sekedar meminta ijin atau apa gitu?" tanya Seven.

"Tidak. Tidak sama sekali. Kami langsung diijinkan menuju ke kelas kalian saat itu juga. Tapi kami juga bertemu dengan Kurasame taichou saat itu sebelum akhirnya kami diijinkan ke kelas kalian." jawab Rem dengan perasaan cemas.

"Berarti kalian ini mata-mata yang dikirim oleh Consortium 8 itu untuk mengawasi kami. Mungkin kalian berdua 'ada' saat perencanaan ujian pembunuhan itu supaya kalian bisa membunuh kami semua demi tujuan terselubung kalian. Ya kan?" tuduh Nine, sontak membuat semua Class Zero memandangnya tak percaya dengan sikap Nine yang sangat aneh dan mudah curiga akhir-akhir ini hingga tanpa berperasaan menuduh dua teman mereka dengan kejam.

"Apa katamu?" bentak Machina tak terima dengan tuduhan tak berdasar itu. Untunglah Rem menahan lengannya untuk menenangkannya tidak melakukan baku hantam di Peristylium.

"Tenang, Machina. Tenang. Nine, apa yang kau bicarakan? Kenapa kau justru memperkeruh suasana di saat seperti ini dengan menuduh mereka mata-mata? Memangnya apa yang kau pikirkan?"

"Kenapa harus tanya padaku? Tanyakan saja pada mereka. Semenjak mereka datang ke sini kehidupan kelas kita jadi kacau. Bukan hanya mereka, tapi juga taichou masker itu dan si makhluk sialan itu yang membuat kelas ini jadi kacau. Bahkan yang lebih parah lagi yaitu ujian pembunuhan itu." Kilah Nine.

"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Nine. Jika kau benar-benar membenciku karena sikapku dan juga kata-kataku yang terkesan kasar dan memojokkanmu aku benar-benar minta maaf. Tapi tak benar jika kau terus-menerus mencurigai bahkan menuduh kami sebagai biang kerok dari semua kejadian ini. Justru akulah yang seharusnya marah karena kami yang masih baru ini justru dihadapkan dengan ujian aneh seperti itu." Balas Machina.

"Lagipula kau pikir Class Zero Cuma milik kalian dua belas orang saja, hah? Kalau memang begitu kenapa harus ada di Suzaku Peristylium yang notabene sekolah untuk semua orang yang berminat menjadi kadet Agito? Kenapa kami harus minta ijin pada Dr. Arecia? Memang apa hubungannya kelas ini dengan dokter itu? Berarti kelas ini melakukan nepotisme karena cuma orang dalam saja yang bisa masuk ke kelas ini?!" lanjut Machina saking kesalnya tanpa sadar malah menyinggung tentang Class Zero.

"DIAM KAU! ANAK LUAR!" bentak Nine mengamuk, tanpa sadar dia juga menyinggung Machina sebagai anak luar. Bahkan dia sudah bersiap mau menghajar Machina, tapi dicegah oleh Ace yang berusaha menahan tangan Nine agar tidak memukul Machina.

"Kumohon tenang, Nine. apa kau sudah gila mau main pukul Machina, hah? Apa kau lupa kalau luka di pahamu masih sakit?" kata Ace.

"Aku tidak peduli. Persetan dengan lukaku. Aku ingin menghajarnya. Kali ini dia sudah kelewatan. Omongannya benar-benar kasar dan biadab. Sekarang berani-beraninya dia menghina kelas kita." Kata Nine.

"Bukan karena Machina-san yang menyinggung kelas kita, tapi kau sendirilah yang memperlakukan mereka seperti orang asing seakan-akan kau menolak mereka terlebih dahulu. Kenapa kau sampai sekarang ini belum juga dewasa berpikirnya?" timpal Deuce ikut menenangkan pertikaian kedua pemuda itu.

"Kau ingin menghajarku? Hajar aja kalau berani." Tantang Machina yang malah semakin menyulutkan api kemarahan Nine.

"Machina! apa yang kau lakukan? Kau malah semakin merusak nama baikmu sendiri di sini." Nasehat Rem.

"Rem, sebaiknya kau urus pacarmu dalam menjaga mulutnya! Dari tadi dia selalu lebih dulu menyulut pertengkaran saja." perintah Sice.

"Di-dia...dia bukan pacarku..." ujar Rem dengan wajah yang sedikit memerah ketika Machina dibilang sebagai pacarnya.

Alhasil beberapa anak Class Zero pun turun tangan menenangkan kedua pemuda tersebut, sedangkan sisanya memilih duduk untuk mengawasi agar dapat mencegah terjadinya pertikaian yang kemungkinan bisa berujung saling membunuh satu sama lain, sesuai yang diharapkan Monoglin.

"Yah yah yah, mereka bertengkar lagi. Tadi di klinik udah adu mulut. Sekarang malah lanjut berantemnya. Kayak kucing dan anjing aja mereka." Komentar Jack yang pada dasarnya selalu bersikap santai bahkan dalam keadaan rumit seperti itu.

"DIAM SEMUANYA!" seru seseorang bersuara berat itu. Seketika pertengkaran antara anak lama dengan anak baru itu terhenti, begitu juga orang-orang yang berusaha menenangkan mereka. Mereka menatap King dengan takjub. Seseorang yang lebih sering diam ini bisa juga bersuara keras dan menggelegar kalau sudah seperti ini.

"Kalian ini benar-benar sudah kerasukan setan ya? Apa sekarang kalian sudah lupa bahwa kita ini masih di Peristylium? Masih dalam pengawasan Monoglin? Kalian memang sengaja dibuat bertengkar dan saling mengungkit masalah-masalah sensitif seperti ini agar mempermudah kalian bisa melakukan ujian pembunuhan serta merusak komitmen kita untuk tetap bersama. Kalau sudah seperti ini pasti semuanya bakal mengikuti apa yang kalian tak peduli segala konsekuensinya. Persahabatan kita ini sekarang sedang diuji, bukan hanya sekedar demi menjadi Agito." Kata King lantang.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau kita sedang diawasi?" tanya Eight.

"Lihat itu!" kata King sambil menunjuk sebuah kamera CCTV yang sedang menyala di pojokan ruangan Longue tersebut.

"Kamera CCTV? Bagaimana bisa ada kamera CCTV di tempat ini?" tanya Cinque mendadak linglung.

"Bodoh! Dari dulu kamera CCTV memang sudah lama sekali terpasang di situ. Di tempat lainnya yang sarat keramaian maupun tempat-tempat yang sepi juga ada CCTV untuk mengawasi keamanan keseluruhan area di Rubrum. Biasanya yang bertugas untuk memonitor keadaan Peristylium adalah staf pengawas di Ruang Komando bagian dalam." Jelas Queen.

"Berarti Monoglin telah menggunakan ruang tersebut untuk mengawasi kegiatan kita sekarang ini?" tanya Machina.

"Opopopo... benar sekali, kupo!" seru suara Monoglin dari speaker di ruangan tersebut.

"Apa? Bahkan speaker pun juga ikut terpasang di sini? Setahuku ruangan ini tidak dipasang speaker sama sekali, cuma alarm saja yang dipasang untuk keadaan darurat maupun misi yang akan kita hadapi." Sahut Trey.

"Benar sekali, kupo. Hal itu memudahkanku untuk bisa berkomunikasi dengan kalian sekaligus menyampaikan informasi dari jarak jauh, kupo." Jelas Monoglin santai.

"Kami tidak butuh informasi darimu! Kami muak dengan segala macam permainanmu itu. Lebih baik kami mati kehabisan nafas bahkan kelaparan sekalipun di sini daripada membunuh teman sendiri." seru Cater.

"Benarkah itu, kupo? Kau yakin dengan perkataanmu sendiri, kupo? Nanti kalau keadaan sudah berubah paling-paling kau berubah pikiran dan diam-diam kau membunuh salah satu temanmu, kupo."

"Jangan coba-coba menggoyahkan iman kami. Kami, Class Zero, ditakdirkan untuk untuk selalu bersatu untuk menghadapi apapun, bahkan termasuk ini juga. Kami tidak akan goyah hingga mengikuti permainan jahat itu. Titik." Kata Eight.

"Dan kau, Monoglin. Daripada kau buang-buang waktu berbicara lewat speaker di situ seakan-akan mau mencoba meneror kami, lebih baik kau tidur saja dan jangan ganggu kami. Masalahnya suaramu itu sudah tidak enak didengar, tauk." sindir Sice.

"Opopopo... begitu juga dengan suara umpatan darimu, Sice, kupo." Sindir Monoglin balik yang semakin membuat Sice kesal.

"Oh ya, tadi kulihat kalian baru saja memulai pertengkaran, kupo. Kenapa sekarang berhenti, kupo? Bukankah itu kesempatan bagus untuk kalian saling membunuh satu sama lain, kupo? Dengan begitu salah satu dari kalian bisa keluar sebagai Agito, kupo. Opopopo..." ujar Monoglin.

"Diam kau! Aku hampir saja terpancing untuk membunuhnya kalau bukan karena permainan licikmu itu. Aku juga tak sudi membunuh orang macam dia. Lagian kau sendiri kenapa tidak mencoba untuk membunuh kami saja daripada mengharuskan kami saling bunuh-membunuh?" tanya Nine sambil menunjuk Machina untuk penekanan 'orang macam dia'.

"Opopopo... aku? Bagaimana bisa aku yang bertugas sebagai guru dan pengawas kalian harus membunuh kalian, kupo? Tugasku kan hanya mengawasi dan mengeksekusi kalian jika kalian terbukti bersalah, kupo. Lagipula aku benar-benar tak berdaya jika harus membunuh kalian yang berbadan besar dan tinggi bila dibandingkan aku yang berbadan kecil, gemuk dan tak berdaya ini, kupo... Bagaimana bisa aku harus membunuh kalian yang memiliki kemampuan bertarung dan sihir yang mumpuni sedangkan aku ini hanyalah makhluk boneka yang hanya bisa kalian permainkan dan lempar begitu saja, kupo... huuhuuhuu..." kata Monoglin dengan suara tangisan yang dibuat-buat.

"Cih! Singkirkan jauh-jauh suara tangisan palsumu dari telinga kami! Kami tidak akan merasa iba padamu, Monoglin! Lagipula sebelumnya kau sudah mencoba membunuh Nine. Jadi bagaimana bisa kami meremehkanmu dan menganggapmu lemah? Nyatanya kau sudah menjelma menjadi makhluk mengerikan yang berusaha meneror kami." seru Cater sambil mencak-mencak.

"Lebih tepatnya terlihat seperti boneka voodoo yang ditambal sulam." komentar Jack dengan cengiran khasnya.

"Moglin-san? Apa kau punya dendam pada kami karena kami sering memperlakukanmu seperti mainan? Jika memang kau melakukan semua ini karena hal tersebut, maka maafkanlah kami. Tapi kumohon jangan jadikan kami mainan pembunuhan seperti ini." mohon Deuce.

"Monoglin. Namaku Monoglin. Bisakah kau mengingat itu, hah? Dan nggak usah memohon-mohon pada hal yang tidak jelas!"

"Lagipula sudah kubilang berkali-kali bahwa ujian ini dari Dr. Arecia. Kenapa masih saja kalian tidak percaya padaku? Aku kan hanya alatnya saja." Kata Monoglin kesal.

"Kami takkan pernah percaya padamu sampai ibu benar-benar datang ke sini dan menjelaskan semua omong kosong ini. Lagipula kami yakin bahwa ibu tidak sejahat itu pada kami." Kata Ace mantap.

"Opopopo... kalian ini begitu percaya sekali pada dokter itu sampai kalian mudah dibodohi olehnya. Bahkan kalian menganggap ujian ini sebagai tes kesetiaan. Padahal sudah jelas ibu kalian tidak mempedulikan kalian selain hanya memanfaatkan kalian saja agar dokter itu mampu menguasai Peristylium." Kata Monoglin entah itu memang kenyataanya atau hanya memanas-manasi saja agar Class Zero semakin marah.

"DIAM KAU! Jangan bicara yang tidak-tidak tentang ibu kami. Justru kaulah yang kami yakini ingin berusaha menguasai Peristylium dengan cara licik. Ya kan? Mengakulah!" kata Seven tidak terima ibunya dibilang telah memanfaatkan mereka.

"Sebaiknya hentikan saja segala ocehanmu yang memang sengaja dibuat untuk meruntuhkan iman kami. Atau hal itu justru jadi bumerang bagimu sebagai karma atas apa yang telah kau perbuat pada kami. Kau mau menutup segala pintu dan jendela untuk memenjarakan kami di sini hingga menakut-nakuti kami pun tidak akan mempengaruhi kami sama sekali." Kata Trey.

"Benar itu, Monoglin. Sebaiknya jangan menakut-nakuti kami seperti kau mau menebarkan teror hantu di sini. Kami benar-benar tidak akan saling membunuh karena kami Class Zero." Kata Cinque kali ini bersuara.

"Popopo... mungkin kalian boleh saja bilang kalau iman kalian masih kuat dan kebersamaan kalian terus terjaga. Tapi waktu akan terus berjalan, Class Zero. Cepat atau lambat iman dan kesetiaan pun bisa berubah tanpa ada yang bisa menahannya. Popopo..." intimidasi Monoglin.

"Cih! Kami tidak takut! Sampai kapanpun Class Zero akan terus bersama selamanya. Jikapun kami mati, maka lebih baik kami mati kehabisan oksigen maupun mati kepalaran bersama daripada saling membunuh." Seru Ace.

"Ya, kami tetap akan bersama sampai kapanpun!" seru Class Zero, plus Machina dan Rem.

"Baiklah kalau begitu... kita lihat saja siapa yang akan memenangkan situasi seperti ini, Class Zero. Mungkin ini baru permulaan kalian, tapi suatu saat, cepat atau lambat, kalian akan berubah menjadi orang yang putus asa sampai kalian hidup segan mati tak mau. Opopopo..." ancam Monoglin seketika suara speaker menghilang, menandakan bahwa Monoglin telah menutup pembicaraannya.

Suasana kembali hening. Class Zero hanya menatap sumber suara ruangan mereka itu dengan nanar.

"Dengarkan aku semuanya. Jangan hakimi Machina maupun Nine untuk sekarang ini. Apa yang terjadi sekarang ini benar-benar di luar dugaan. Entah kaitannya dengan masuknya Machina dan Rem sebagai anggota baru Class Zero serta adanya ujian pembunuhan itu berkaitan atau tidak itu tidaklah penting. Kita ini benar-benar sedang diadu domba sekarang agar kita terpancing untuk saling membunuh." Kata Ace.

"Tentang kedatangan Machina dan Rem tidak ada hubungannya dengan mata-mata atau penyebab munculnya ujian aneh ini. kita tidak pernah tahu apakah ini hanya kebetulan saja atau ada maksud tidak baik dari pihak luar sana, tapi yang pasti kedua teman baru kita ini tidak lebih dari hanya sekedar korban saja, sama seperti kita."

"Jika memang benar kalau Machina dan Rem ikut terlibat pengadaan ujian pembunuhan itu. pasti mereka tidak akan diikutsertakan dalam permainan segila itu. Toh lagipula kalian sudah dengar sendiri dari Monoglin bukan kalau hanya satu orang saja yang bisa keluar dari sini. Dan itu berarti meskipun mereka berdua sudah lolos dari permainan ini tapi mau tak mau mereka harus bertarung satu sama lain sampai satu dari mereka tewas, apalagi mereka ternyata berteman sejak kecil. Apakah itu tidak menyakitkan bagi mereka?" ujar Ace prihatin pada dua teman baru mereka.

"Dan untuk Machina, aku tahu kalau waktu kita benar-benar tidak tepat untuk memulai pertemanan kita apalagi dalam keadaan seperti ini kau sempat berkonfrontasi dengan Nine. Aku tahu sebagai anak baru Class Zero kau cukup tidak nyaman dengan semua ini karena diperlakukan sebagai tersangka kejadian ini mengingat masalah ini muncul tiba-tiba tak lama setelah kau dan Rem menjadi bagian dari Class Zero. Tapi satu hal yang ingin kukatakan padamu. Walaupun memang Class Zero ini muncul di Suzaku Peristylium karena ibu kami Dr. Arecia serta hanya kami berduabelas saja di kelas ini, tapi kelas ini sama sekali tidak melakukan nepotisme. Jika memang benar kepindahan kalian di sini karena direkomendasi oleh Pak Khalia, kurasa itu sudah menjadi keputusan resmi dari beliau. Terkait ada izin dari ibu kami atau tidak kurasa tidak ada hal seperti itu mengingat kelas ini sudah menjadi bagian dari Peristylium ini, jadi otomatis kelas ini terbuka bagi siapa saja."

"Mungkin kalian tahu l'cie Zhuyu? Sebelum menjadi l'cie dia adalah alumni Class Zero tapi tak berhubungan dengan ibu kami karena beda masa saat itu. Berarti kelas ini terbuka bagi siapapun yang memang memiliki kemampuan yang setara dengan kami. Dan kalian berdua kurasa juga punya kemampuan yang setara dengan kami. Jadi tak heran jika kalian bisa masuk ke sini." Cerita Ace panjang lebar sebelum akhirnya dipotong Machina.

"OK, aku mengerti, Ace. Aku mengerti semuanya. Itu tidak penting bagiku sekarang ini. Sebenarnya aku tak marah jika kalian meremehkan kami atau apalah terkait dengan status kami sebagai anak baru, tapi yang membuatku tidak habis mengerti adalah kenapa kau benar-benar memilih untuk diam saja tanpa merencanakan sesuatu agar bisa keluar dari sini? Paling tidak kita benar-benar berusaha bisa mencari jalan keluar secara diam-diam meskipun mustahil. Kalian kan berduabelas, apalagi ditambah kami berdua jadi berempatbelas. Tapi tak ada satupun dari kalian berinisiatif untuk mencoba keluar dari sini tanpa harus membunuh." Ujar Machina.

"Kau tidak lihat kalau Nine sempat mencekik leher Monoglin namun langsung dihujani tombak-tombak hingga dia terluka? Kita tidak tahu apa saja peraturan-peraturan yang dibuat saat ini. Kami khawatir jika kita mencoba kabur pasti kita langsung mati di tempat entah hukuman apa itu. CCTV terpasang di mana-mana dan sekarang telah dikendalikan oleh Monoglin. Bukankah sama saja kita cari mati?" kata Ace seketika membuat Machina terhenyak.

"Iya... kau benar... Kenapa tidak terpikirkan olehku ya?" tanya Machina pada dirinya sendiri.

"Tentu saja. Karena kau berotak udang yang hanya bisa berpikir pendek." Ejek Nine namun mendapat pukulan di kepala dari Queen.

"Bodoh! Otak udangmu malah jauh lebih parah darinya. Tidak usah bikin masalah lagi dengannya." Tegur Queen

"Tapi tetap saja. Paling tidak kita mencoba berusaha untuk mencari cara agar kita bisa keluar dari sini. Paling tidak satu dari kita punya ide bagaimana caranya bisa keluar dari sini."

"Kau sendiri, ada ide tidak untuk keluar dari sini?" tanya Trey.

"Untuk saat ini belum, tapi setidaknya kita bisa berdiskusi tentang beberapa jalan yang kemungkinan adalah jalan rahasia keluar dari Peristylium. Kalau menurutku kemungkinan jalan rahasianya ada di ruang bawah tanah Peristylium."

"Dan kau tahu di mana jalan ruang bawah tanah itu? Kami saja tidak pernah melewati jalan itu. Apa kau pernah?" tanya King.

"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu dari temanku dari Class Second yang kebetulan pernah mendengarnya dari salah satu anggota intelijen. Mungkin saja kita bisa melewatinya diam-diam tanpa ketahuan Monoglin. Kuharap Monoglin tidak mengetahui tentang ini."

"Bodoh! Peta menuju jalan rahasianya sudah diambil. Kemungkinan besar kan Monoglin sudah mengetahuinya kemudian menutupnya. Dan sekarang apa yang kau lakukan jika sudah begitu?" tanya Cater semakin meragukan Machina.

"Bukankah ada banyak jalan rahasia di sini? Aku kan hanya menyebutkan salah satunya saja. Sisanya aku tidak tahu. Untuk itulah kita bekerja sama mencari jalan rahasia bersama-sama tanpa ketahuan. Mungkin beberapa di antara kalian bisa jadi pengalih perhatian agar Monoglin tidak mengawasi kita, dengan begitu-..." penjelasan Machina tiba-tiba dipotong oleh Sice.

"ARRGGHHH! CUKUP SUDAH DENGAN OMONG KOSONGMU. KAU HANYA BICARA NGALOR NGIDUL SAJA TAPI TAK ADA SATUPUN RENCANA YANG BISA KAU LAKUKAN!" omel Sice.

"Aku baru saja ingin membahas rencananya meskipun masih ment-..."

"DIAM KAU! BERANINYA KAU MENGATUR-ATUR KAMI SEKARANG, HAH?! KAU MENDADAK INGIN JADI PAHLAWAN YA?! Berarti benar kata Nine. Kau mulai menyombongkan kepintaranmu, ya kan? Supaya kau ingin mengungguli kami Class Zero dan menjadi lebih hebat dari kami. Mungkin saja benar kalau kau dalang dari semua kekacauan ini?." Kata Sice tapi langsung dipotong oleh Seven.

"Cukup, Sice! Kenapa sekarang gantian kau yang memanas-manasi Machina?! Jangan menyulut pertengkaran lagi. Nanti Monoglin bisa menyoraki kalian untuk saling membunuh."

"Memang kenyataannya benar kok. Machina sedari tadi hanya bikin kekacauan di sini dan berusaha bertindak sok pahlawan padahal dia hanyalah seorang pengacau?!" sindir Nine.

"Kau ingin bilang aku dalang dari semua ini serta seorang pengacau? Bagus! Terima kasih atas pujiannya." Balas Machina sarkasme sambil mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya.

"Tenanglah, Machina. Yang dikatakan Machina memang benar. Apa salahnya kita berusaha mencari jalan keluar dibandingkan hanya diam saja meskipun ujian itu dari Dr. Arecia? Machina hanya berusaha menolong kalian."

"Untuk apa kami ditolong? Toh kami tidak merasa masalah dengan ini. Kalian hanya perlu diam saja dan tunggu sampai ibu datang. Kalian kan sudah jadi bagian dari kami. Jika kalian tidak terima dengan ini semua, kenapa kalian tidak bunuh diri saja untuk menghindari tes ini?" saran Cater yang justru semakin menyakitkan.

"Cater! Apa yang kau bicarakan? Jangan ikut-ikutan menyulut percekcokan ini." Kata Eight.

"Kenapa? Aku kan hanya berusaha mengatakan yang sebenarnya. Lagipula percuma saja bicara kita harus keluar dari sini tapi tak ada yang bisa dilakukan. Satu-satunya cara agar tidak mengikuti ujian itu ya langsung bunuh diri." Elak Cater entah karena dia memang polos atau hanya berkata sarkasme saja.

"Tenanglah semuanya. Jangan bahas itu lagi. Intinya mau tak mau kita harus menerima kenyataan sesungguhnya kalau kita harus mengikuti 'permainan' ini demi sekedar untuk menguji prinsip kita, apa salahnya? Tapi kita jangan sampai tergoda untuk membunuh satu sama lain demi bisa keluar dari sini. Ingat! Kita harus terus hidup bersama sampai kapanpun." Queen menengahi percekcokan tersebut.

"Untuk kalian berdua, suka atau tidak suka jalani saja ini terlebih dahulu. Kita tunggu saja apa yang terjadi selanjutnya sampai ibu kami datang. Jika memang ujian ini sudah tidak beres lagi, baru kalian bisa mengutarakan pendapat serta rencana untuk kabur dari sini." Kata Queen pada Machina dan Rem.

"Selamat datang di Class Zero di mana murid-muridnya hanya bisa patuh pada Dr. Arecia yang sudah dianggapnya sebagai ibu mereka dan hanya mengikuti segala perintah dan ajarannya." Ujar Jack dengan senyum khasnya namun alisnya menekuk ke bawah menunjukkan ekspresi keprihatinan.

"Baik kalau begitu. Maaf kalau sudah hampir meruntuhkan keyakinan kalian akan ibu kalian. Kalau begitu aku permisi." Ujar Machina sarkastik karena sedari tadi terus menahan emosi atas penolakan terhadapnya kemudian berlalu keluar dari Lounge.

"Tunggu, Machina!" ujar Rem berusaha mengikuti Machina namun ia sempat berbalik pada Class Zero.

"Maaf untuk semuanya jika Machina sempat berbicara kasar pada kalian. Tapi apa salahnya jika dia hanya menyatakan rencananya agar bisa keluar dari sini bersama kalian? Dia hanya berusaha peduli pada kalian meskipun kami baru di Class Zero, bukan berlagak sebagai pahlawan atau semacamnya. Jika memang dia tidak peduli pada kalian buat apa dia mencoba mengutarakan pendapatnya tentang kemungkinan adanya jalan rahasia alternatif? Pasti dia tak perlu repot-repot mengutarakan ini pada kalian dan mendapat hujatan dari kalian semua, sehingga kami berdua saja bisa keluar dari Peristylium ini tanpa kalian. Machina bukan orang yang egois serta selalu mementingkan orang lain, tapi kalian mengatainya seorang pengacau serta dalang dari 'permainan' ini. Sebegitu pentingkah Dr. Arecia bagi kalian dibandingkan keselamatan diri kalian sendiri sehingga kalian menolak tawaran tulus dari Machina?" kata Rem nanar pada Class Zero.

"Dan kau, Ace. Kupikir kau sebagai perwakilan dari Class Zero bisa bersikap bijak dan mampu menengahi semua masalah ini. Tapi tak kusangka semua itu hanyalah kesan pertama tentangmu saja, tapi nyatanya kau lebih memilih diam melihat teman-temanmu menghina temanku." Ujar Rem tak kalah nanar pada Ace yang menatapnya.

"Apalagi karena pendapatmu bahwa ujian pembunuhan ini hanyalah tes kesetiaan dari Dr. Arecia, semuanya malah menelannya mentah-mentah tanpa ada bukti yang jelas sehingga tak satupun dari teman-temanmu selain aku yang bisa menerima baik usul Machina bahkan hanya sekedar mempertimbangkannya saja." Lanjut Rem. Ace mulai merasa bersalah ditandai dengan ia menundukkan kepalanya.

"Lagipula kalian semua juga pasti tidak mau tahu pendapatku tentang bagaimana caranya menemukan peta jalan rahasia dan merampasnya agar kita bisa mengetahui jalan rahasia itu? Kupikir kalian harusnya bisa secerdik dan secerdas itu sebagai murid kelas legenda, bukannya bergantung pada seseorang yang sampai sekarang tidak jelas keberadaanya." Penuturan Rem menjadi akhir dari perbincangannya dengan Class Zero kemudian menyusul Machina keluar dari Lounge.

Setelah keluarnya dua murid baru tersebut, berbagai celoteh mulai bermunculan menanggapi sikap kontra mereka. Ada yang mencibir mereka, ada yang menyukuri mereka dan mengumpati mereka, namun ada juga yang berusaha menghentikan cibiran mereka bahkan ada yang membela pendapat dari Machina dan Rem.

Ace sebagai orang yang bertanggung jawab atas Class Zero hanya bisa menatap pintu keluar Longue dengan tatapan sayu. Mungkin Machina dan Rem benar. Kenapa ia harus peduli pada Dr. Arecia sebagai ibu mereka padahal ibunya sendiri juga tak terlalu peduli pada mereka apalagi di saat sekarang ini. Namun bagaimana lagi, sejak kecil Class Zero sudah lama dirawat oleh Dr. Arecia serta mengajari mereka tentang ilmu kemiliteran dan sihir. Mau tak mau mereka harus patuh pada segala aturan dari Dr. Arecia apapun yang terjadi, sehingga mereka tak mau mendengarkan pendapat dari orang luar meskipun hal itu jauh lebih baik dan meyakinkan dari ibu mereka sendiri.

Belum lagi perasaan kedekatan Ace terhadap Machina yang belum pernah ia temui sebelumnya membuat Ace merasa bersalah dua kali lipat pada Machina karena ia tak bisa membelanya saat dia dicibir bahkan dihujat oleh teman-temannya sendiri. Menurutnya belum pernah ia melihat teman-temannya berkata kasar pada orang lain yang baru saja menjadi temannya. Ah, andaikan saja Machina dan Rem tidak ada di sini, pasti mereka tak perlu mengalami hal semengerikan itu yang sebenarnya hanya ditujukan pada Class Zero yang lama.

Sebuah dilema yang sangat besar bagi Ace.

Sepertinya hari-hari mereka ke depannya menjadi tidak menentu. Akankah iman mereka tetap bertahan atau justru goyah?

Bertahanlah Class Zero. Bertahanlah sampai kalian bisa menemukan kebenaran di balik pengurungan mereka di sekolah mereka sendiri dan ujian bertajuk permainan pembunuhan itu.

TBC


Wow... akhirnya update juga chapter ini. Tapi kok pada akhirnya aku jadi males translate ya.

Btw pendeskripsian tentang Machina sangat sesuai dengan yang ada di cerita game. Bahkan aku pengin jelasin kalau sebenarnya Machina bukan orang bodoh, cengeng, dan egois seperti yang didengungkan oleh fandom bahkan hatersnya. Justru menurutku, Machina orang yang sangat peduli pada siapapun yang dikasihinya. Terbukti pas *spoiler* dia minta kekuatan lcie dari Qunmi sebagai lcie Byakko hanya untuk melindungi Rem, bukan untuk berkuasa atas Rubrum/Class Zero atau agar lebih unggul dari Class Zero (intinya Machina isn't a bad guy like you said).

Cuma kekurangannya dia sama sekali nggak mikirin resikonya kalau udah nolongin orang, seperti yang terjadi ketika jadi lcie berarti harus manut sama kristal, apalagi mintanya dari musuh negara pula. Alhasil lah dia jadi dingin sama Class Zero dan ujung-ujungnya... yah, tahu sendiri lah... nggak usah dibahas. Udah basi. Malah menurutku Machina sih setara ma Kain Highwind di FF IV krna sama2 dibrainwash. Tapi masih mending Machina lah ketimbang si Kain yang sedari awal emang iri dan cemburu sm Cecil sbg si main char yg akhirnya berujung kebencian terus musuhan ma Cecil.

Rem di sini jauh lebih peka dan protektif daripada Rem di game karena dia mau membela Machina pas dicibir Class Zero dan sering khawatir pada Machina. Dan karena di game dia ga bisa berbohong dengan baik, jadinya di sini dia jadi si mulut ember alias suka mengumbar hal-hal yang tak perlu dibicarakan secara luas yang berhubungan dengan privasi temannya sendiri. Jadi intinya terjadi mutualisme persahabatan dua orang itu dan nggak ngebosenin, daripada di game yg terkesan komensalisme, bahkan berujung parasitisme, karena Rem di game hanya diam aja pas Machina ribut ma Class Zero.

Kalo Ace... Masih tetap lah Ace yang tenang dan cool, cuma dia mulai agak OOC deh karena dia mulai ketularan 'mulut ember' nya Rem yang berujung pada permusuhan Nine pada Machina (meskipun Ace nggak bermaksud begitu sih). Dan juga dia bakal mengalami Character Development seiring berjalan nya cerita (sedikit clue ya...)

SIsanya... Ya masih seperti di game tapi bakal ada Character development juga sih.

SO, terus pantengin ceritanya yah...