Haloo… jumpa lagi…. Ah chappi 3 ceritanya berantakan … mudahan kali ini ga berantakan ya… mohon dukungan dari semua…

Story 4: Marathon…

Pagi hari suasana heboh di kediaman hibiki… Cagalli asik melakukan pemanasan… kira sibuk mempersiapkan banner untuk Cagalli.

"kira." Panggil Cagalli."ga usah bawa gituan ah."

"mana boleh."sahut kira "papa sudah nyaipin ini semua ."

"tapi kan papa ada operasi hari ini, ga mungkin datang. Ga usah ya…" cagalli memasang tampang memelas.

"ayo kira masukkan bannernya ke mobil, kalo mendengarkan Cagalli bisa sesat." Sahut Muu cuek.

"apa?" Cagalli melotot.

"ayo cepat cagalli masuk. Kita jangan sampai telat." Dorong muu cepat-cepat.

Cagali merasa kesal, dia menghempaskan tubuhnya di mobil.

"sudah masuk semua?" Tanya muu sambil melihat kebelakang.

"menurutmu?" kira terjepit diantara Yzak dan dearka.

"oh astaga… ternyata mobil ini sempit ya." Muu tersenyum.

Cagalli juga berdesakan dengan lacus dan stellar dan shiho.

"apa mobilnya Cuma satu? Kalau begini bisa cedera sebelum bertanding." Keluh athrun.

"ah… diam aja deh. Mobil ini jg belum lunas… jadi ga usah rese."

"ayo jalan Muu." Rau menatap muu.

''baiklah… siap go.'' Muu menjalnkan mobil dengan kencang.

Jalan menuju tempat perlombaan macet. Cagalli tampak gelisah. Muu mengendarai mobil seperti pembalap, belok kanan, belok kiri , ngerem mendadak.

Sesampainya ditempat lomba…..

"astaga aku mau muntah." Cagalli membungkuk.

"pusing banget." Stellar mengambil posisi duduk di rumput.

Lacus duduk di sebelah stellar sementara shiho dah muntah.

"waw, keren." Dearka berteriak.

"apanya yang keren, aku mau mati rasanya." Yzak memijat-mijat jidatnya.

"sepertinya aku ga jadi ikut lomba deh." Athrun tampak pucat.

Kira berbaring di jok mobil. "kalian duluan aja, aku mau istirahat sebentar."

"ha… payah." Muu meninngalkan yang lain menuju meja panitia.

"kalian istirahat saja disini." Rau menyusul muu.

Peserta sudah mulai berkumpul di stadion. Cagalli melakukan stretching.

"hey… kalo aku menang traktir aku makan enak ya…" athrun berdiri disamping cagalli.

" oya… baik begitu juga sebaliknya…"

Aedang asik pemanasan tiba-tiba…

"tes…tes… 1…2… cagalli… cagalli hibiki…."

Cagalli bengong mendengar namanya di panggil.

"cagalli hibiki… apa kau di sini?"

Cagalli menatap kepodium… "astaga…"

"hei ngapain disini… ini bukan tempat untuk main-main…" tegur seorang panitia.

"sebentar saja kok…" cowok itu memohon…

"aduh… tapi kamu mengganggu pekerjaan kami…"

"baiklah… kubuat cepat…cagalli hari ini aku ingin menyatakan kalu aku suka padamu… aku akan menunggumu di garis finish…. Karena itu berjuanglah…."

Wajah cagalli merah padam…." Apa-apaan dia itu…. Kenal juga nggak….memalukan." gumam cagalli.

"wah… wah… keren juga dia… lihat kamu gak sepenuhnya di tolak… buktinya ada yang menyatakan cinta padamu… selamat ya… di gak jelek-jelek amat kok sesuai dengan mu." Ryan menertawai cagalli.

"kamu…"

"berlarilah ke garis finis… dan jawablah pernyataan cintanya…"

Cagalli nyaris menampar wajah cowok yang sudah menolaknya ini…tapi athrun memegang tangan cagalli…

"kau…" cagalli kesal.

"orang kaya gitu gak osah di lawanin." Sahut athrun.

"waw… cagalli marah. Dengar ya cags… aku yang akan membawa tropi juara… tampang seperti mu gak mungkin menang." Ajae ryan.

"hey… dengar ya… aku memang ga cantik… tapi…" cagalli benar-benar marah…." Tapi… jangan remehkan aku dalam hal lari… aku yang akan mengalahkan mu…"

"baiklah berlarilah sampai garis finish… cowok norak itu yang akan menyambutmu…dahh….ganbatte."ryan meninggalkan cagalli yang berapi-api…

"lihat saja ya, aku akan membuatmu menyesal…" teriak cagalli.

Athrun menepuk pundak cagalli.

"sebaiknya kamu berkonsentrasi… aku ga mau terganggu nih.''

"kamu juga… rese banget… "

"iya, tapi…"

"bersiap… siap… mulai…."

Cagalli langsunga lari sekuat tenaga…. Athrun bengong… cagalli mendengar teriakan kira dan yang lain. Muu mengikuti dari pinngir jalan.

"hei… simpan tenaga mu… ini bukan sprint."

Cagalli cuek.

"kalau begini nanti cepat lelah." Teriak muu lagi.

"carewet…" teriak cagalli dan lari makin kencang.

"gak akan berhasil. Dia itu kan keras kepala seperti papanya."

"Via?" muu kaget.

Ini sudah ceck point ke tiga cagalli sudah mulai lelah… dia berlari makin pelan…

"astaga… paman muu benar." Gumammya.

"hai cagalli… berlari yang cepat… pacarmu… atau calaon pacarmu sudah menanti di garis finis…bye…" ryan berlari meninggalkan cagalli.

"sialan…" umpat cagalli.

"cagalli…" panggil athrun." Hah…hah… berusahalah…" athrun meninggalkan cagalli. "atau kau harus mentraktirku makan enak…"

"sialan….." cagalli berusaha lari lebih cepat tapi tenaganya sudah mulai menipis."ayo cagalli jangan sampai kamu kalah dari dua orang itu…."

Di gari finis.

"cagalli…." Yuna menyebut-nyebut nama caglli sambil berharap cagalli muncul dan menjawab.

Cagalli masih berusaha sekuat tenaga untuk mencapai garis finish. Banyak peserta yang menyerah di check point sebelumnya, didepan sudah check point terakhir.

"harus semangat." Ucap cagalli ngos-ngosan.

Cagalli sudah gak kuat berlari, sialan ini akibat salah strategi… seharusnya aku mengikuti paman Muu.

"Cagalli…"

Cagalli menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.

"mama." Cagalli kaget.

"Ayo anak mama pasti bisa…." Teriak via sambil melambaikan tangannya.

Cagalli mulai semangat lagi. Sedikit demi sedikit mulai mengejar athrun.

"itu dia dua orang menyebalkan…" gumam cagalli sambil terus berusaha."ayo cagalli…"

Karena gak kuat lagi cagalli terjatuh.

"astaga cagalli…"teriak Via bergegas mau menolong putrinya.

"Maaf, seali peserta dan panitia dilarang masuk."

"tapi anakkku terjatuh," Via menunjuk Cagalli yang berusaha bangkit.

Athrun menoleh kebelakang. "Astaga."

"aku baik aja kok ma." Cagalli sudah gak sanggup berlari, jadi dia berjalan sambil tertatih-tatih.

Athrun hanya bengong ngeliat kegigihan cagalli. "cagalli…"gumam athrun.

Cagalli benar-benar gak sanggup lari, kali ini jatuh lagi.

Gak ada cara lain aku harus membantunya. Athrum sudah bisa melihat garis finis di hadapannya. Tapi dia berlari melawan arah, untuk menolong cagalli tentunya.

"cagalli…" panngil athrun sambil membantunya berdiri." Aduh jangan dipaksakan."

"kamu bodoh ya, ngapain balik lagi."Cagalli berusaha berdiri.

Athrun memapah Cagalli samil berjalan tertatih. "hei… badanmu berat juga… makanmua banyak ya?"

Cagalli melotot.

Athrun tertawa sinis.

"cagalli.."teriak Kira.

Cagalli sudah gak sanggup menjawab, dia hanya melambai.

"Athrun… setelah di garis finis kau harus membayar perbuatanmu karna telah menyentuh cagalli." Teriak kira penuh amarah.

"apa?" athryun kaget. "akukan Cuma nolong kamu."athrun memendang cagalli.

"kok ngeliat aku?" cagalli melotot.

" sih aku harus nolong kamu? Judes."omel athrun.

"aku ga minta bantuan kok, kamu yang balik lagi menolongku."jawab cagalli ketus.

"kau ini…." Sahut Athrun kesal.

"sudahlah... jalan saja." Peerintah cagalli.

"sudah jelek judes tukang perintah. Mana ada cowok yang mau."

"bodo… jalan aja."

Mereka berusa berjalan sampai ke garis finis. Sedikit lagi. Sampai cagalli melihat Yuna dan Ryan berdiri bersebelahan.

"Cagalli …" teriak Yuna.

"dengarnya aku gak mau sampai di garis finis kalo cowok norak itu ada di sana." Cagalli berbisik dengan Athrun.

"seharusnya kamu senang ada yang mengungkapkan perasaannya padamu…" ejek athrun.

"aku gak sefrustasi itu. Walaupun ditolak puluhan cowok. Aku ga sudi jadian ma dia, kecuali dia cowowk terakhir yang hidup didunia ini, dan gak ada pilihan lain."omel cagalli.

"hahahahahaha…. Sudah jelek sombong lagi."

Cagalli melepaskan tangan athrun dan menamparnya. Lalu berjalan sekuat tenaga menuju garis finis sendiri, sementara athrun bengong di tinggsl sendiri.

"Cagalli sayangku…"yuna nyaris memeluk Cagalli.

"jangan pernah menyentuh adikku." Kira menangkap tangan yuna.

Cagalli tersenyum dan pingsan.

"cagalli…."

Cagalli membuka matanya pelan… kabur….

"Cagalli…" suara Via menggema dikepala cagalli.

Wangi aroma terapi menusuk hidungnya.

"Mama…" panggil Cagalli lirih.

"Cagalli…" Via memeluk Cagalli erat.

"Jangan terlalu erat memeluknya." Kata ulen sambil memijat kepala Cagalli.

"Papa…"

"Iya sayang…"

Cagalli menangis…

"cagalli… kok nangis?" Tanya Mama bengong.

"cagalli senang ma, Mama bisa datang."Cagalli sesenggukan. "Cagalli kangen, Ma."

Via juga tak kuasa menumpahkan air matanya. "Cagalli… putri kesayanganku."

Mereka saling menumpahkan rasa rindu. Kira memalingkan wajahnya dari pemandangan mengharukan di hadapannya.

Athrun menepuk pundak sahabatnya.

"Athrun…. Makasih nya sudah membantu Cagalli." Kira menghapus air matanya, "aku…aku…"

"sudahlah…"

"kira…"panggil Lacus. "mama mu memanggilmu."

Kira mengangguk lalu pergi kea rah mama dan cagalli duduk.

"Athrun… aku senang kau bisa membantu cagalli sampai ke garis finis."

"oh ya," athrun mengelus pipinya. "tapi bukannya berterima kasih aku malah di tampar."

Lacus tersenyum. Lalu mengelus pipi athrun.

"kenapa tersenyum?"

Lacus menggeleng. "seharusnya kita pikirkan lagi tentang pertunangan ini."

"apa maksud mu?"

Lacus menggeleng dan pergi…

"oi… lacus…" panggil Athrun.

"hei… sepertinya ada yang cemburu tuh." Ejek dearka.

Athrun melotot. Dearka bergegas kabur sebelum athrun melemparkan botol airnya.

"Cagalli…." Panngil Miri. "Maaf…. Baru datang… maaf…. Ada bedah redaksi tadi…."

"ah… sudahlah… bersukur kamu gak datang… kalo ada tadi pasti aku dipermalukan di sekolah."

"oh ya… memangnya ada apa tadi…"

"Ah sudah, oh ya… foto aku sama mama ya…"

"oh tentu saja…"

End of story 4… gimana? Jelek ya… aku akan berusaha di story berikutnya…. Bye….