Disclaimer:
Naruto Masashi Kishimoto
Sword Art Online Reki Kawahara
.
.
.
Aqua Drops
By Hikasya
.
.
.
Chapter 4. Ia memang Asuna
.
.
.
Lantai 10, Naruto dan Kirito berada sekarang.
Desa yang indah dengan berbagai jenis bangunan menyerupai belanda dan pepohonan yang menghiasi di sisi-sisi jalan, mereka berdiri di depan sebuah bangunan yang tak terpakai. Bangunan yang hampir menyerupai gudang dan berlambang Laughing Coffin di bagian depannya.
"Di sinilah, mereka berada, Naruto," ungkap Kirito yang berwajah serius. "Aku mendeteksi ada beberapa orang ada di dalam sekarang. Termasuk The Flash itu."
Begitu Kirito menyebut The Flash, menimbulkan rasa yang berdetak di hati Naruto. Naruto menggigit bibirnya, berusaha menahan duka yang mengingatkannya pada pertemuannya dengan Asuna di kota awal waktu itu.
"The Flash...," gumam Naruto seraya maju melangkah terlebih dahulu. "Kita harus menemukannya sekarang!"
Kirito terperanjat. "Eh, tunggu dulu dong!"
Ia segera mengejar Naruto. Terdengar desingan keras begitu Naruto menyabet pedangnya.
SREK!
Pintu yang terbuat dari kayu, ditendangnya dengan keras hingga jebol. Kirito tercengang betapa hebatnya tendangan Naruto tersebut.
Otomatis, aksi yang ditimbulkan Naruto, mengundang perhatian beberapa anggota Laughing Coffin yang kebetulan di ruang utama. Mereka sedang berkumpul sambil duduk di kursi yang mengelilingi meja.
"Siapa kalian?" salah satu dari mereka langsung berdiri.
"Kalian tidak perlu siapa kami. Namun, yang jelas urusanku adalah dia," Naruto dengan wajah garang menunjuk ke arah gadis berambut kastanye yang duduk di belakang meja.
Semua mata tertuju ke arah yang ditunjuk Naruto. "Dia adalah..."
Gadis yang dijuluki The Flash, bangkit berdiri dari kursi. Ia langsung berjalan anggun menuju Naruto.
"Aku tidak mengenalmu, hai Swordman," nada yang dingin keluar dari mulut gadis cantik itu. Cukup mengagetkan Naruto.
Tapi, Naruto tidak menyerah. Ia akan tetap berusaha menyakinkan dirinya kalau ia tidak salah menyangka gadis itu adalah Asuna.
"Asuna, aku ini tunanganmu, Namikaze Naruto. Apakah kau melupakanku?"
Hening. Gadis itu terdiam lalu bersidekap dada sembari menyilangkan kakinya.
"Sudah kubilang,'kan kalau aku ini bukan tunanganmu."
"Aku yakin kau itu Asuna."
"Dasar, keras kepala!"
"Walaupun kau mengelak, aku akan tetap memaksamu untuk mengaku kalau kau itu Asuna!"
"Kau itu..."
SREK!
Gadis itu dengan cepat menyabet pedangnya. Kemudian ia menyerbu Naruto secara langsung.
BETS!
Ia bergerak secepat kilat. Berusaha menusuk Naruto dengan rapier-nya, namun sejauh ini berhasil dihindari Naruto.
Terdengar desingan halus ketika ia memainkan pedangnya dengan gerakan yang sangat cepat seperti sedang menari. Kecepatannya dapat diimbangi Naruto, dan Naruto terus berusaha menghindari setiap serangannya tanpa berniat membalasnya.
Pertarungan pedang ini tidak dipandu dengan sistem. Hal itu sudah termasuk dalam tindakan kriminal. Namun, gadis itu tidak mempedulikan hal tersebut. Fokusnya adalah ingin mengalahkan Naruto dan merebut Aqua Drops yang dimiliki Naruto.
Di tengah-tengah pertarungan berlangsung, salah satu anggota Laughing Coffin berteriak hingga mengagetkan yang lain.
"Wuaaah! Baru aku ingat kalau si rambut kuning itu Namito yang pernah kita buru waktu itu!"
"Oh iya, benar."
"Tidak salah lagi! Itu dia!"
"Kita harus merebut Aqua Drops-nya itu!"
"Ya!"
"Wakil ketua! Izinkan kami membantumu!"
Semua orang yang ada di sana, langsung mengeluarkan senjata masing-masing kecuali Kirito yang kebingungan karena melihat situasi semakin menegangkan.
"Wah! Wah! Ini tidak bagus! Dua orang melawan dua puluh tujuh orang! Itu curang!" Kirito mundur dan bergegas menyabet pedangnya. "Apa boleh buat. Aku harus membantu Namito sekarang!"
Komplotan penjahat itu menyerbu ganas ke arah Naruto dan Kirito. Gadis itu menghentikan pertarungannya, dan justru menarik tangan Naruto.
"Eh?" Naruto ternganga saat terseret oleh langkah gadis itu.
Lalu Kirito yang berniat ingin maju menghabisi komplotan penjahat itu, ikut kabur juga bersama Naruto dan si gadis.
"Wuaaah! Tunggu! Namito!" Kirito berteriak kencang dan berusaha mendahului Naruto.
Naruto sendiri bingung mengapa si gadis membawanya pergi. Mereka berlari di sepanjang jalan yang dipenuhi orang-orang. Kirito tidak dapat mendahului mereka, namun berbelok ke arah lain begitu menemukan jalan bercabang dua.
Komplotan penjahat masih mengejar mereka. Semua orang di jalan, menepi karena bingung menyaksikan aksi kejar-kejaran yang tidak jelas ini.
Naruto memilih diam dan mengikuti arahan si gadis dengan patuh. Hingga tak lama kemudian, mereka berhenti di sebuah gang sempit di antara dua bangunan berbentuk adat belanda. Mereka bersembunyi di balik drum-drum yang menumpuk di gang sempit itu.
"Kita bersembunyi di sini dulu," pinta si gadis dengan nada yang lembut.
"A-Anu, kenapa kau malah membawaku ke sini?" tanya Naruto yang sangat penasaran.
"Aaah...," si gadis mendesah pelan sembari memasukkan pedangnya ke sarung yang terpasang di pinggangnya. "Ya. Aku memang ingin kabur juga kok."
"Maksudmu?"
"Aku tidak tahan lagi tinggal di sana. Mereka sudah membuatku kerepotan, Naruto."
Gadis itu menyebut nama Naruto di akhir kalimatnya. Naruto terkesiap, bersama pedang yang jatuh dari tangannya.
KLONTANG!
Pedang itu terkapar tak berdaya di lantai ketika Naruto membeku. Bola matanya bergoyang-goyang. Rasa haru menyelimuti hatinya.
"Asuna ... Kau masih mengingatku?"
Gadis itu mengangguk seraya meneteskan air matanya. "Tentu saja aku mengingatmu, Naruto. Karena aku memang Yuuki Asuna, tunanganmu."
Naruto yang sangat senang, langsung memeluk Asuna. "Asuna."
Asuna juga membalas pelukannya. "Maafkan aku karena berbohong padamu."
"Tidak apa-apa."
"Naruto, terima kasih."
Mereka berpelukan dengan erat sembari berlutut. Hanya beberapa menit saja.
Saat seperti ini, tentunya kode peringatan tindakan seksual muncul di dekat Asuna, tapi Asuna tidak menekan apapun karena Naruto bukanlah orang jahat.
Setelah itu, mereka melepaskan pelukan dan menggenggam tangan dengan erat. Senyum kembar menghiasi wajah keduanya.
"Syukurlah. Kau telah kutemukan, Asuna. Kau tahu, aku mencarimu kemana-mana, tapi tidak pernah kutemukan. Hanya pada waktu di lantai satu, aku menemukanmu," Naruto berwajah sendu.
Asuna memegang pipi Naruto dengan tangan yang satunya. "Aku tahu. Maafkan aku ya karena menyakitimu waktu itu. Sungguh, aku terpaksa melakukannya."
"Alasannya apa hingga kau melakukannya?"
"Karena aku berhutang budi pada orang yang telah menolongku."
"Siapa?"
"Kimimaro."
"Dia..."
"Ketua guild Laughing Coffin."
Asuna mengangguk pelan lalu menundukkan kepalanya seraya menurunkan tangannya dari pipi Naruto. Naruto menatapnya dengan serius.
"Kimimaro yang telah menolongku saat aku terpuruk pada saat hari pengumuman bahwa game ini menjadi game kematian. Dia membawaku pergi bersamanya, dan kami pun mendirikan sebuah guild yang bertujuan untuk mengumpulkan semua Aqua Drops. Tapi, ternyata jalan guild yang dirintisnya ini melenceng dari tujuannya."
Asuna mengangkat wajahnya dan mengeluarkan empat buah Aqua Drops dari jendela akun miliknya, dan memberikannya pada Naruto. "Kimimaro mempercayakan aku untuk menyimpan semua Aqua Drops ini. Lalu aku ingin kau yang menyimpannya, Naruto."
Naruto mengangguk. "Baiklah," ia memasukkan empat Aqua Drops itu ke daftar item yang ada di jendela akun-nya. "Dengan begini, aku punya sepuluh Aqua Drops. Sisanya tinggal empat buah lagi."
"Eh? Benarkah?"
"Iya."
"Kalau sudah terkumpul semuanya, tentunya kita bisa keluar dari game ini dan menyelamatkan semua orang."
"Kau selalu tahu apa yang kupikirkan, Asuna."
"Tentu saja."
Asuna tersenyum dengan wajah berseri-seri. Naruto terpesona melihat senyum malaikat cantik yang sangat memikat jiwanya. Lalu kedua tangannya pun bergerak untuk memegang dua pipi Asuna, bersama wajahnya yang mendekat ke wajah Asuna.
Asuna terdiam ketika Naruto mengecup keningnya. Ia menutup matanya dengan perasaan yang berdebar-debar.
Usai itu, mereka menjauh. Wajah mereka sama-sama memerah.
"Aku ingin kau ikut denganku. Kita akan bersama-sama melawan Laughing Coffin itu."
"Tapi, aku..."
"Jangan pikirkan hutang budi itu lagi. Kimimaro adalah orang yang jahat. Dia dan komplotannya itu harus dijebloskan ke penjara karena sudah membunuh banyak orang."
"Naruto."
Asuna terkesima. Naruto mengusap rambut Asuna dengan lembut.
"Ayo, kita pergi dari sini!"
"Iya."
Asuna mengangguk. Naruto mengambil pedangnya yang sempat jatuh ke tanah. Pedang itu dimasukkan kembali ke sarung yang terpasang di punggungnya.
Dengan menggunakan kristal Koridor, Naruto dan Asuna berteleportasi ke lantai lain. Kristal Koridor pecah di tangan Naruto begitu Naruto menyebut nama tempat salah satu lantai.
Mereka pun menghilang dari tempat itu. Bersama para anggota Laughing Coffin yang kehilangan jejak mereka.
.
.
.
"Apa? Asuna pergi bersama Namito itu?" sembur Kimimaro terkesiap setelah mendapatkan pesan dari anggotanya. Saat ini, ia dan bersama beberapa anak buahnya, sedang mengintai orang yang membawa dua Aqua Drops.
"Eh? Yang benar, ketua?" tanya yang lain.
"Ya."
"Berarti wakil ketua telah mengkhianati ketua."
"Kenyataannya sudah terjadi. Sesuai peraturan guild, yang berkhianat harus dibunuh!"
Nada suara Kimimaro terdengar dingin. Ia menggeram kesal. Wajahnya mengeras.
Dasar, gadis yang tidak tahu terima kasih! Asuna, aku akan membunuhmu meskipun aku juga mencintaimu, batin Kimimaro.
Ia dan anak-anak buahnya tetap berdiri di dekat gang sempit di antara dua bangunan, memantau sasaran yang sedang bernegosiasi dengan penjual.
.
.
.
Di sebuah toko yang ada di kota Algade, Naruto dan Asuna muncul di sana. Sehingga mengagetkan si pemilik toko yang berbadan besar seperti raksasa.
"A-Aduh!" Naruto terjatuh duluan lalu diikuti Asuna. Ia dihimpit Asuna.
"Ah, maaf, Naruto," Asuna kalang kabut dan buru-buru berdiri.
"Tidak apa-apa."
"Tapi, kenapa kau memilih mendarat di sini?"
"Ya. Di sinilah tempat yang paling aman buat sembunyi."
"Ehem!"
Seorang pria berdehem keras. Pasangan itu terkesiap lalu melihat ke asal suara.
Pria tinggi besar itu sudah berdiri di dekat mereka. "Pendaratan yang gagal, Namito."
Spontan, Naruto bangkit berdiri dengan cepat. Ia tertawa cengengesan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah. Agil. Apa kabar? Sudah lama ya kita tidak bertemu."
"Ya. Daripada itu, yang kau tanyakan, apa yang kau lakukan di sini, huh?"
"Ya. Aku mau menginap di sini untuk beberapa hari."
"Boleh saja. Lalu siapa gadis cantik itu?"
Perhatian Agil tertuju pada Asuna. Naruto memegang bahu Asuna.
"Dia ini Asuna yang pernah aku ceritakan padamu."
Asuna tersenyum. "Halo, aku Asuna. Senang berjumpa denganmu."
Agil juga tersenyum. "Halo juga. Aku Agil, pemilik toko ini. Senang berjumpa denganmu, Asuna."
Mereka saling bersalaman hingga Agil melihat bros yang terpasang di jubah Asuna.
"Lambang itu ... Laughing Coffin. Kau termasuk anggota mereka, Asuna."
Asuna terperanjat dan melepaskan bros itu dari jubahnya. "Itu dulu. Sekarang bukan lagi. Aku Asuna, tunangan Namito yang akan berbalik melawan Laughing Coffin."
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Udah mau bulan September ya?
Wah, lama banget saya menunda fic ini. Hampir setahun ya? Maaf.
Pada akhirnya, waktu mengizinkan saya untuk menulis lagi dan melanjutkan fic ini.
Oke, sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya.
Jumat, 31 Agustus 2018
Tertanda
Hikasya
