Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing: Dark!Naruto x Naruto (Haruto x Naruto)
Warnings: TWINCEST, OOC, Typo, Mature content, Teens in heat!
ATTENTION: Dark!Naruto di fanfic ini bernama Haruto Namikaze.
Don't like PLEASE don't read.
-x-
My Bastard Twin
Chapter 4
-x-
Sometimes at the some point I think my self "why do I love him? There's so many guys out there who will treat me better than him" but then I saw his picture and I look at his black bright eyes and everything becomes clear. In that moment I know why I love him dearly, I know why he's something that worth fighting for. I know that he's not just some guys but he is him. – Ratu
-x-
Bukan rahasia umum jika Naruto Namikaze adalah pemalas. Dia tidak suka melakukan sesuatu yang membuatnya berkeringat dan letih. Untuk pergi ke kampusnya saja Naruto sudah malasnya setengah mati. Dia lebih memilih untuk tidur atau sekedar membaca majalah porno. Namun sayangnya, pilihannya itu ditentang keras oleh kedua orang tuanya. Mereka tidak menginginkan anak kembarnya itu menjadi pengangguran di masa yang akan datang. Tanpa ragu, Minato dan Kushina memberikan pekerjaan dari yang ringan hingga yang berat agar Naruto mau bergerak. Seperti saat ini. Naruto tidak percaya, dihari yang genting seperti ini orang tuanya menyuruh atau bisa dibilang memaksa dirinya untuk menyuci mobil. Memang sih, menyuci mobil bukanlah hal yang berat tapi tetap saja dia tidak bisa meninggalkan tugasnya yang dikejar deadline. Lagi pula Naruto adalah pemalas, ingat? Mana mungkin dia mau mengerjakan tugas seperti itu.
"Hah!? Kau tidak mau menjalankan perintah ayahmu!?" seru Kushina. Rambut merahnya terlihat berterbangan sementara matanya berkeliat marah.
Naruto menelan ludah. Ibunya benar-benar mengerikan saat marah.
Terdengar Minato menghela napas. "Sudahlah, Kushina. Jika Naruto tidak mau biar aku saja yang menyuci mobil," timpalnya. Tak lupa memunculkan senyuman lemah. "Aku tidak keberatan menggerakan tubuh yang sudah renta ini untuk melakukan pekerjaan itu, meskipun aku memiliki anak yang dapat melakukannya."
Tatapan tak percaya Naruto berikan pada ayahnya. Perkataan ayahnya barusan bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang dapat memojokan dirinya. Dia melihat Haruto terkekeh geli di pojok ruangan. Bisa dipastikan kembarannya itu menikmati situasinya saat ini.
"Kau masih mau membuat ayah yang melakukannya, Naruto?" pancing Haruto.
"A-Aku tidak—!"
"Baiklah kalau itu maumu, Naruto," potong Kushina. Dia berbalik membelakangi Naruto. "Aku tidak akan memaksamu untuk membantu ibu ataupun ayah lagi."
"Tu-tunggu, bu!" seru Naruto cepat. "Aku akan melakukannya! Aku akan menyuci mobil!"
Langkah Kushina berhenti. Dengan gerakan lambat, ibunya berbalik dan menatap dirinya. Naruto tercengang melihat cengiran lebar terlihat di wajah ibunya. Rupanya dia telah masuk perangkap! Seketika itu suara tawa Haruto pecah. Tidak menyangka adik kembarnya bisa masuk perangkap ibunya semudah itu.
"Dan untuk Haruto. Ibu menugaskanmu untuk menyiram tanaman."
Tawa Haruto terhenti. Dan ketika dia ingin menolak, ibunya telah memberikan tatapan intimidasi padanya. Sontak hal itu membuat Haruto tak bisa berkutik. Dia segera membuang muka sembari berdecih. Dalam hati Naruto tertawa puas. Tentu saja dia senang melihat kembarannya berada diposisi yang sama dengan dirinya.
"Sudah cepat jalankan! Dan pastikan pekerjaan kalian selesai sebelum makan malam."
Naruto memandang awan putih yang bergerak perlahan di langit sembari sesekali menghela napas. Seharusnya sore ini dia berada di kamar dan berkutit dengan tugas kuliahnya. Namun sepertinya takdir berkata lain.
"Heh, Naruto! Jangan melamun!"
"JANGAN SIRAM AKU, BRENGSEK! MEMANGNYA AKU TANAMAN, HUH!?"
Urat kemarahan Naruto menegang saat Haruto dengan seenaknya menyemprot tubuhnya dengan air selang. Ingin sekali rasanya dia menumpahkan air sabun dalam ember pada kembarannya. Baru menyuci mobil setengah jalan tubuhnya sudah basah kuyup. Tentu saja dia tidak bisa seenaknya masuk dan mengganti pakaiannya. Bisa-bisa ibunya kembali berkoar karena lantai rumah akan basah karena dirinya.
"Salahmu sendiri melamun," jawab Haruto enteng. "Kau hanya akan semakin memperlama pekerjaanmu jika begitu terus."
"Apa katamu!?" tanya Naruto tidak percaya. "Kau sadar tidak kau telah membuat tubuhku basah!? Kau ini benar-benar brengsek! Sok keren—!"
Naruto yang meluapkan amarah dengan mengeluarkan berbagai sumpah serapah tidak menyadari tatapan melcuti Haruto padanya. Mata Haruto memancarkan napsu saat melihat putting kemerahan Naruto menonjol dari kaos tanpa lengan yang dikenakannya. Dia pun bisa melihat lekuk kejantanan Naruto yang tersembunyi di balik boxernya. Haruto menelan ludah. Kembarannya benar-benar seksi. Ingin rasanya dia mendorong Naruto ke tanah, meraba tubuhnya, dan menciumi bibir lembutnya.
"HARUTO! Kau dengar tidak!?"
Tubuh Haruto tersentak mendengar seruan Naruto. Dia menerjapkan matanya beberapa kali sebelum menyadari apa yang dipikirannya barusan.
Alis Naruto terangkat melihat wajah kembarannya tiba-tiba memerah, "Hei, kau kena—hatsyuu!"
Naruto bersin dengan cukup keras. Ingus keluar dari hidungnya yang telah memerah. Haruto segera memakaikan sweeter yang dia kenakan pada Naruto dan mengeluarkan saputangan dari kantong celananya.
"Ingusmu keluar tuh," kata Haruto sembari memposisikan sapu tangannya bersentuhan dengan hidung Naruto.
"Bi-biarkan aku sendiri saja yang melakukannya!" cegah Naruto – semburat kemerahan muncul di wajahnya.
"Tidak apa-apa," dengan telaten Haruto membersihkan ingus yang menempel di hidung Naruto, "Keluarkan juga yang masih di dalam, Naruto."
Mata Naruto melebar seketika. Dia melangkah mundur namun dengan cepat Haruto mencegahnya.
"Cepat keluarkan," wajah Haruto terlihat serius.
Merasa terintimidasi dengan wajah dan intonasi dari perkataan kembarannya mau tak mau Naruto melakukannya. Dengan satu hentakan kuat dari hidungnya, ingusnya pun keluar. Haruto dengan senang hati kembali membersihkan ingus yang keluar dari hidung Naruto.
"Sudah semua?" Naruto menjawab pertanyaan Haruto dengan anggukan singkat. Sebuah senyum terlihat di wajah Haruto.
"Haruto," panggil Naruto dengan suara berbisik. Dia memanyunkan bibirnya – merasa telah dipermalukan. "Kau tidak merasa jijik?"
Haruto memiringkan kepala – memandang kembarannya dengan wajah polos, "Kenapa harus jijik?"
"Ya, seharusnya kau jijik karena melihat dan membersihkan i-i-ingusku!"
"Bukankah aku sering melakukannya sewaktu kecil?"
"Itu kan waktu kecil!" seru Naruto tambah kesal. Dia tak mengerti dengan jalan pikiran Haruto. "Kita sudah besar, Haruto! Sudah mahasiswa! Jangan melakukan hal memalukan seperti ini lagi!"
Haruto mendengus. Jujur saja dia merasa terganggu dengan perkataan kembaranya, "Aku tidak akan berhenti. Semua yang kita lakukan waktu kecil dulu akan tetap aku lakukan – meskipun aku telah menjadi kakek-kakek sekalipun."
Naruto menggigit bagian bawah bibirnya. Selalu begini. Dia tidak bisa membalas perkataan Haruto jika kembarannya itu dalam mode serius seperti ini.
"Lagipula –" Haruto menghentikan perkataannya sejenak. " – bukankah kita sudah melakukan sesuatu yang lebih dari ini sebelumnya?"
Dahi Naruto mengerut, "Maksudmu?"
"Kau tidak ingat!?" tanya Haruto tidak percaya. "Aku pernah membantumu mastubarsi, Naru-chan," dia tersenyum mengejek.
"Mas—ssssttt! Haruto!" Naruto menutup mulut kembarannya dengan tangan. Dia melirik kanan kiri – takut jika seseorang atau yang lebih parah orang tuanya mendengar perkataan Haruto barusan. "Bukankah kau sudah berjanji tidak akan mengungkit masalah itu, huh!?" katanya dengan suara tertahan.
Haruto terkekeh melihat reaksi Naruto yang lucu, "Baiklah, baiklah. Lebih baik kau cepat masuk dan ganti baju."
"Kau tidak lihat pekerjaanku belum selesai, huh!?"
Haruto tersenyum, "Serahkan padaku biar aku yang selesaikan sisanya."
"Tidak!" tolak Naruto.
"Kenapa?" alis Haruto terangkat – tak mengerti alasan penolakan kembarannya.
Tangan Naruto terlipat di dadanya, "Kau ingin aku membiarkanmu untuk menolongku terus!?"
"Kau tidak mau aku bantu?"
"Tidak!" Naruto membuang muka.
Haruto menyeringai, "Benar tidak mau?"
Naruto melirik Haruto sekilas. Merasa mulai ragu dengan perkataannya sendiri, dia menggelengkan kepala cepat, "Te-tentu saja!"
Haruto mengangkat bahu, "Baiklah kalau kau tidak mau."
Naruto panik melihat kembarannya mulai berjalan masuk ke dalam rumah, "Hei! Mau kemana!?" serunya kemudian.
"Kau tidak lihat pekerjaanku sudah selesai?" terang Haruto dengan tatapan mengejek. "Cepat selesaikan pekerjaanmu sebelum kau jatuh sakit. Bye, Naru-chan."
Darah Naruto mendidih mendengar suara tawa Haruto. Tanpa ragu dia melemparkan kain lap ke pintu yang baru saja ditutup kembarannya. Setelah berhasil meredam amarahnya, Naruto melirik mobil ayahnya yang masih diselimuti busa sabun. Dia mengerang frustasi sembari mengacak-acak rambut pirangnya. Sepertinya pekerjaannya jauh dari kata selesai.
Sementara itu, dibalik jendela rumah Haruto terlihat mengintip dari celah tirai. Dia melihat Naruto dengan tatapan khawatir, "Dasar keras kepala."
-x-
"Ini semua salahmu Haruto."
Haruto tersenyum kecut mendengar tuduhan yang Naruto berikan. Dia memandang prihatin pada kembarannya yang saat ini berbaring lemas di tempat tidur. Haruto masih tak percaya dia menemukan Naruto dalam keadaan demam ke esokan harinya. Tubuhnya terasa panas dan nafasnya terdengar memburu. Biasanya jika salah satu di antara mereka sakit, ayah atau ibunya lah yang akan merawat mereka. Namun kali ini berbeda. Pagi ini ayahnya mengatakan bahwa dia akan kerja lembur sementara ibunya akan menginap di pemandian air panas bersama dengan teman SMAnya. Haruto yang tidak tahu harus berbuat apa menjadi kalang kabut karena tanggung jawab untuk merawat kembarannya sepenuhnya ada padanya.
"Ini semua salahmu," ulang Naruto dengan suara lemah. Meskipun tubuhnya telah terselimuti oleh selimut tebal namun tetap saja dia masih merasa dingin.
"Maaf," kata Haruto merasa bersalah. Dia tahu karena kemarin sore dia menyemprot Naruto dengan air membuat kembarannya saat ini menjadi sakit. Haruto mengambil kain yang tertempel di dahi Naruto dan mencelupkannya ke baskom yang berisi air. Dengan telaten dia meremas kain itu dan menempelkannya kembali ke dahi Naruto. "Aku akan beli obat. Kau tidur saja, Naruto."
"Ngg," guman Naruto mulai mengantuk. "Kau tahu kan tipe obat seperti apa yang aku suka?"
Haruto menghela napas, "Kau ini. Jangan pilih-pilih obat. Meskipun obat itu pahit kau harus tetap meminumnya."
Tanpa menjawab perkataan kembarannya, Haruto membalikan badan – memunggungi Haruto, "Cepat pergi dan pulang segera."
Sebuah senyum muncul di wajah Haruto. Dia mencium rambut Naruto sebelum beranjak dari posisinya, "Aku pergi."
"Mm. Hati-hati."
-x-
Sampailah Haruto di sebuah apotek yang tak jauh dari rumahnya. Dia segera masuk dan berjalan menuju penjaga apotek yang telah memasang senyum manis padanya.
"Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?" tanya penjaga apotek bernama Karin – terlihat dari name tag yang dia kenakan.
Haruto mengangguk kecil, "Ada obat penurun panas?"
"Tentu saja ada –" Karin menyebutkan beberapa merek obat pada Haruto. "Anda mau memilih yang mana?"
"Apa di antara obat yang kau sebutkan tadi ada yang cair dan rasanya manis?" tanya Haruto kemudian.
Karin mengangguk, "Ada. Merek X memiliki berbagai varian rasa yang disukai anak-anak. Ada rasa strawberry, jeruk, dan anggur."
Haruto terdiam sejenak, "Apa obat X ampuh menurunkan panas pada orang yang berusia 19 tahun?"
"Eh?" guman Karin terkejut. Dia segera mengecek informasi yang tercetak di bungkus obat X. "Di sini tertulis hanya untuk umur 5-10 tahun. Dan saya kurang yakin obat ini akan dapat menurunkan panas seseorang yang berusia 19 tahun."
"Benarkah?" tanya Haruto memastikan. Dia kembali melihat Karin mengangguk mantap. "Lalu obat seperti apa yang ampuh?"
Karin mengambil obat dari lemari kaca di bawahnya, "Obat yang seperti ini. Ini bentuknya pil. Cocok untuk usia 17 tahun ke atas."
"Apa ini pahit?" tanya Haruto sembari memegang bungkus obat itu.
"Jika sekali telan tidak akan pahit, kecuali rasa pahitnya akan terasa jika digerus."
"Tapi aku ragu apa obat ini mau diminum atau tidak," Haruto menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal.
Karin memandang Haruto yang saat ini terlihat cemas, "Maaf, tapi sebenarnya siapa yang demam?"
Haruto menghela napas panjang, "Kembaranku. Dia berusia 19 tahun tapi dia benci sekali obat pahit. Dia lebih suka minum obat sirup yang manis."
"A – ah," baru kali ini Karin menemukan masalah yang seperti ini. Dia tidak menyangka masih ada orang dewasa yang lebih memilih meminum obat yang manis untuk anak-anak dibanding dengan obat pahit untuk seusia mereka. "Bagaimana kalau dengan kapsul?"
"Kapsul?" ulang Haruto dengan alis terangkat.
"Iya, ada obat penurun panas berbentuk kapsul. Mungkin saja adik Anda mau menimunnya jika bentuk obatnya kapsul," Karin sembari mengambil obat lainnya.
Haruto mengamati bungkus obat itu dengan was-was, "Baiklah akan aku coba. Aku ambil ini."
"Baik."
Dan Haruto pun kembali ke rumah setelah membayar obat itu.
-x-
Dengan perlahan, Haruto membuka pintu kamar Naruto dan masuk ke dalam. Sebuah mangkok, kantong plastik, dan segelas air terlihat di atas nampan yang dia bawa. Naruto telah tertidur pulas di atas tempat tidur. Haruto mengigit bagian bawah bibirnya saat melihat peluh dan semburat merah padam muncul di wajah Naruto. Dia tidak menyangka yang ditakutkannya menjadi kenyataan – kembarannya jatuh sakit karena kejahilannya. Tentu saja perasaan bersalah menyelimutinya saat ini.
"Naruto, Naruto," panggil Haruto sembari mengelus-elus pipi Naruto lembut.
Merasakan sebuah sentuhan, mata Naruto perlahan-lahan terbuka. Iris biru yang amat dicintai Haruto kini memandangnya tak fokus, "Haruto?" panggilnya dengan serak. "Kau sudah pulang?"
Haruto mengagguk dan menyerahkan mangkok berisi bubur pada kembarannya, "Makan dan setelah itu minum obat."
Dengan dibantu Haruto, Naruto merubah posisi menjadi duduk. Dia melihat bubur itu dengan tatapan tak suka, "Aku tidak napsu makan."
"Jangan seperti itu, Naruto. Cepat dimakan agar kau segera sembuh," Haruto menghela napas saat melihat Naruto menggeleng – tetap berteguh pada pendiriannya. "Kalau begitu cepat buka mulutmu. Akan kusuapi."
"E – eh?" Naruto terkejut mendengar perintah kembarannya. "Ti-tidak mau!"
Tidak memperdulikan tolakan Naruto, Haruto mengambil sesendok bubur dan mengarahkannya ke mulut Naruto – tak lupa memandang Naruto dengan tatapan serius. Naruto menelan ludah dan membuang muka. Ketika Haruto yang jengah dengan sifat keras kepala kembarannya ingin memarahinya kembali, Naruto berkata, "Minum baru makan."
Dengan alasan 'tubuhmu sedang lemas nanti kau tidak bisa memegang gelasnya dengan baik', Haruto meminumi Naruto. Setelah itu dengan sabar dia menyuapi kembarannya hingga bubur itu habis tak tersisa.
"Sekarang minum obatmu."
Dahi Naruto mengerut melihat obat kapsul yang diletakan di atas tangan Haruto, "Tidak mau! Aku tidak mau meminumnya!"
Haruto mendengus. Dia tahu akan seperti ini jadinya.
"Obat sirup tidak cocok untuk seusiamu, Naruto," terangnya. "Lagi pula obat ini ampuh untuk menurunkan panas."
"Tidak! Pokoknya tidak mau!"
Memang dikeluarga Namikaze, Naruto terkenal sebagai seseorang yang susah minum obat dan sifatnya berubah menjadi kekanak-kanakan saat sakit. Biasanya jika ibu yang merawat Naruto saat ini, dia akan melakukan cara apapun untuk membuat Naruto meminum obatnya – meskipun mencekokinya sekalipun. Sebuah ide muncul di pikiran Haruto. Jika ibunya dapat melakukan cara apapun begitu juga dengan dirinya. Setelah meletakan obat kapsul itu di permukaan lidahnya dengan segera dia menarik kepala Naruto mendekat dan menyusupkan kapsul itu ke dalam mulut Naruto. Naruto yang terkejut dengan perbuataan Haruto baru merasakan sesuatu telah masuk ke dalam tenggorokannya. Tidak ingin merasa keenakan di dalam mulut hangat Naruto, Haruto segera melepaskan ciuman penuh makna tersebut.
"Ka-ka-kau! Apa yang kau lakukan, brengseeeek!" seru Naruto salah tingkah. Dia menutupi mulutnya degan punggung tangan.
"Tapi hanya dengan cara seperti itu kau mau menelan obatmu," jelas Haruto enteng.
Naruto memperhatikan Haruto yang meletakan kembali mangkuk dan gelas ke atas nampan. Dia ingin sekali membalas perbuatan Haruto – atau paling tidak merutukinya – namun tubuhnya terlalu lemas melakukannya. Efek obat itu mulai bekerja. Naruto yang mulai merasakan kantuk segera membaringkan diri ke tempat tidur sedangkan Haruto dengan cekatan menyelimutinya.
"Selamat tidur, Naruto," bisik Haruto sembari mencium kening Naruto.
Naruto tidak menjawab. Kembarannya telah tertidur ditemani mimpi yang telah merekuhnya.
-x-
Suara dering bel terdengar menggema di dalam kediaman Namikaze. Haruto berjalan tergesa-gesa menuju pintu depan. Ekspresi terkejut yang sempat ditunjukan Haruto berubah menjadi datar dan dingin saat mengenali sosok yang berdiri di hadapannya.
"Kiba?" tanyanya memastikan.
Kiba mengangguk ragu, "Se-selamat sore," dia menyadari bahwa sepertinya kembaran Naruto tidak menyukai kedatangannya sore ini.
"Apa yang membuatmu kemari?" Haruto bersandar pada dinding tembok sembari mengamati Kiba dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Na-Naruto. Aku ingin menjenguk Naruto," terang Kiba. Entah kenapa dia merasa takut jika berhadapan dengan Haruto. "Aku dengar dia demam."
"Maaf, tapi Naruto sedang tidur."
Kiba menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "A – ahh begitu… Oh, ya, aku juga datang untuk mengambil barang yang aku pinjamkan padanya."
Mata Haruto menyipit tajam, "Maksudmu dvd porno yang kau pinjamkan pada Naruto tempo hari?"
Kiba tercengang tak percaya. Bagaimana bisa Haruto tahu hal itu?, "I-iya," jawabnya dengan suara sekecil mungkin.
"Tunggu sebentar, akan ku ambilkan."
Kiba melihat Haruto menghilang dari balik pintu. Jujur saja dia terkejut karena Haruto tahu akan hal itu. Apakah Naruto mengadu padanya? Tapi sepertinya tidak. Naruto bukan tipe orang yang akan bilang pada siapapun jika menyangkut dengan pornografi.
"Ini."
Tubuh Kiba tersentak menyadari bahwa Haruto telah kembali. Dengan malu-malu dia mengambil dvd porno miliknya dan segera menyimpannya dalam tas.
"Lebih baik kau cepat pulang. Sepertinya bentar lagi akan hujan deras," usul Haruto dengan nada datar.
Kiba melirik sekilas pada langit yang masih terlihat sangat terang. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukan bahwa hujan akan turun sore ini. Namun sepertinya dia harus menuruti 'usiran halus' Haruto padanya, "Ba-baiklah. Aku pulang dulu. Tolong sampaikan salamku pada Naruto."
Setelah kepergian Kiba, Haruto menghela napas panjang. Jika terus melihat wajah Kiba sudah dipastikan sebuah bogem mentah akan dia layangkan ke wajah orang itu. Sejak kejadian Naruto yang tertangkap basah menonton dvd porno, dia menjadi benci dengan Kiba. Menurutnya, Kiba lah yang membuat pikiran polos kembarannya menjadi tercemari.
"Tenang saja, akan ku pastikan Naruto tidak akan menerima salam darimu, Kiba," sebuah seringai muncul di wajah Haruto sebelum dia menutup pintu.
-x-
Haruto memandang Naruto yang masih tidur sejak tadi pagi. Perasaan lega muncul ketika mengetahui tubuh Naruto tidak panas lagi. Wajah kembarannya pun terlihat lebih baik daripada sebelumnya. Jika Haruto ditanya apa yang menjadi penyebab dia bisa menyukai – ah, bukan – mencintai kembarannya sendiri, dia pun tidak tahu pasti alasannya. Wajah mereka pun hampir sama. Mereka pun hampir identik. *)Kadang kala dia sering bertanya pada dirinya sendiri 'kenapa aku mencintainya? Masih banyak orang di luar sana yang akan memperlakukanku jauh lebih baik darinya' . Namun ketika aku melihat dia dan menatap tepat pada mata birunya, seolah-olah semuanya menjadi jelas. Pada saat itu Haruto tahu kenapa dia sangat mencintainya. Dia tahu ada sesuatu yang pantas pada diri Naruto yang patut untuk diperjuangkan. Haruto tahu bahwa Naruto bukan hanya orang kebanyakan tapi dia adalah dia. Dia adalah Naruto. Naruto Namikaze yang sangat dia pedulikan, yang sangat dia sayangi, yang sangat dia idamkan, dan yang sangat – sangat – sangat Haruto cintai.
"Naruto, Naruto, Naruto," Haruto memanggil nama Naruto bagai mantra. "Cepat sembuh. Aku mohon cepatlah sembuh. Maafkan aku. Maaf," dia berusaha menahan air mata yang keluar dari matanya. Dengan kekuatan yang ada, Haruto mencium bibir pucat Naruto. Menciumnya lama meskipun permukaannya terasa kasar di bibirnya. "Maaf."
-x-
Perlahan-lahan, Naruto membuka mata. Keadaan kamarnya gelap dan cahaya rembulan yang merembet masuk merupakan satu-satunya penerang di kamar itu. Naruto segera memeriksa suhu tubuhnya dan tidak disangka demamnya telah turun. Dia terkejut melihat seseorang tertidur dengan posisi duduk di sampingnya. Setelah menajamkan pengelihatan, Naruto baru menyadari bahwa itu adalah Haruto. Naruto tersenyum lembut. Tak bisa dipungkiri dia sempat marah karena Haruto telah berbuat seenaknya – membuatnya meminum obat dengan cara menciumnya. Namun hal itu tetap membuatnya merasa berterima kasih sekaligus senang karena kembarannya telah bersedia merawat dan menjaganya hingga malam hari seperti ini.
Naruto mengelus rambut Haruto dan mencium keningnya, "Terima kasih Haruto," bisiknya. Dia tidak menyadari senyum bahagia dan lega muncul di wajah Haruto.
-x-
To Be Continued
-x-
Chapter kali ini spesial untuk Himawari Wia yang menginginkan Naruto demam. Maaf jika tidak seperti yang kamu mauu QAQ
Huaaa. Maaf sekali karena sudah beberapa hari tidak mengupdate fanfic ini. Akhir-akhir ini banyak sekali tugas kampus yang deadlinenya menyesakkan. Terus, terus karena keasikan liburan jadinya aku melupakan fanfic ini. Hehehe. Maaf ya. ;;;
Mau sedikit cerita tentang pembuatan chapter kali ini. Sebagian besar isi dari chapter ini aku buat di note hp sambil melihat pemandangan di Kopeng! Hahahay~ Lalu apakah ada yang menyadari kalimat yang aku kasih tanda *) hampir sama dengan kalimat yang berada di kalimat pembukaan – yang inggris itu lho hahaha. Ya, tiba-tiba saat perjalanan pulang dari vacation, Ratu (temanku) mengirim sms galau seperti itu~ setelah minta izin buat menyangkutkannya di fanficku akhirnya aku tulis di kalimat itu dengan beberapa perubahan. Thank you fucking very much Ratu, the whore of novels!
Ah, sudahlah kali ini kebanyakan ngoceh. Terima kasih yang sudah mereview di chapter sebelumnya. Maaf sekali karena sudah menunggu lama. Mohon chapter ini di review juga. Terima kasih.
