Balasan Review Chapter 4 (Before Re-Update)

Dianarndraha : Iya bakalan lanjut kok, tapi chapter 5-nya bakalan di update pas siang, sekarang Ayame Re-Update Chapter 4, semoga berkenan untuk baca chap 4 lagi ya, soalnya ada lumayan banyak tambahan/perubahan di chap 4.

Suket alang alang : Iya, makasih loh udah ngingetin Ayame soal typo dan penggunaan tanda petik, waktu itu Ayame gak sempet ngoreksi ulang gara2 buru-buru, soalnya waktu itu Ayame dalam masa Ulangan jadi gak bisa leluasa megang Lappy. Tapi Chapter 4 udah ayame update ulang kok, semoga typonya berkurang. Semoga kamu berkenan untuk ngebaca chap 4 lagi ya, ada lumayan banyak tambahan/perubahan di chap 4

nathalie ichino : Mungkin pertanyaan kamu akan terjawab di Chap 5 yang kemungkinan di update nanti siang. Iya semoga saku baik-baik aja xD

ikalutfi97 : Iya di awalnya scene pas Sasori nyanyi itu Ayame buat detail lebih panjang, tapi Ayame takut banyak yang gak terlalu suka jadi Ayame per singkat. Tapi tenang aja, saran dari kamu udah Ayame lakukan dengan mere-update Chapter 4. Semoga suka ya :)

Yue aoi: Umurnya 22 tahun ... Hehehe... Memang terkesan selfish si Sakuranya, tapi sebenernya ada alasan lain kok di balik sifatnya itu :)

Disclaimer :

-All Naruto Chara inside is belong to Masashi Kishimoto

-The Story is belong to Ayame Yumi

Warning :

-Sasori dalam cerita ini warna matanya biru bukan coklat.

-OOC, TYPO, Gaje, DLDR

-Apabila masih banyak kekurangan mohon dimaklumi.

.

.

Enjoy Reading minna-san~

.

.

.

.

The Story of The Second Heir

"Sasori, bos memanggilmu! Sekarang waktunya tampil, jadi cepatlah!" ucap seorang pria sambil menepuk bahu Sasori yang baru saja mengantarkan pesanan ke sebuah meja.

"Ah! Baiklah," ucap Sasori sambil memeberikan nampan yang dipegangnya kepada pria yang tadi menepuk bahunya. Kemudian pria bermarga Haruno itu berjalan dengan tergesa-gesa menuju panggung, ia harus beberapa kali menghindari pelanggan maupun pelayan yang berpapasan dengannya.

"Maafkan aku!" ucapnya sambil menoleh kebelakang, meminta maaf kepada seorang pria tua yang hampir ditabraknya. Ketika ia kembali mengalihkan fokusnya kedepan tiba-tiba saja ia melihat seseorang muncul dari balik tembok yang mengarah ke toilet, tabrakan pun tak terhindarkan. Sang gadis kelihatan kehilangan keseimbangannya, namun Sasori langsung refleks menangkap orang yang hampir terjatuh tersebut dengan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ramping gadis tersebut.

Matanya terbelalak ketika melihat siapa orang yang kini tengah dalam dekapannya. Dilihatnya mata orang tersebut terbuka dan memandangnya dengan tatapan yang sama, kaget.

"Ka-kau..." ucap keduanya terbata-bata.

Gadis yang ternyata adalah Sakura langsung menggelengkan kepalanya lalu ia melepaskan rangkulan Sasori di pinggangnya. Ia memandang Sasori tajam. Tak dapat dipungkiri bahwa ia merindukan pria dihadapannya, namun ia menepis semua itu.

"Terima Kasih untuk semuanya," ucap Sakura memberi penekanan pada kata semuanya. Lalu ia melangkah pergi.

"Tunggu-" Sasori baru saja ingin mengejar Sakura tapi sebuah panggilan membuatnya mau tak mau melangkahkan kakinya menuju panggung.

"Bisakah kita pulang ?" tanya Sakura setibanya ia di hadapan Kimimaro yang sedang memakan sidedish pesanannya.

"Hm ? Kau bahkan belum makan apapun," heran Kimimaro.

"Tidak usah! Nafsu makanku sudah hilang, lebih baik aku pulang sendiri saja kalau begitu," ucap Sakura sambil melangkahkan kakinya pergi. Namun sebuah suara menghentikannya, bukan karena suara Kimimaro yang memanggilnya untuk kembali, melainkan... suara seseorang yang kini berdiri di atas panggung cafe.

"Kumohon jangan pergi hanya karena ada aku disini Sakura," ucap Sasori yang berada di atas panggung. Matanya menatap dalam kedua emerald Sakura yang jaraknya cukup jauh dari panggung.

"Setidaknya dengarkanlah satu lagu dariku sebagai sambutan untuk kembalinya kau ke Jepang, Imoutoku" ucap Sasori sambil tersenyum lembut yang membuat pegawai mendesah terharu.

Sakura membeku di tempatnya, matanya tak lepas dari atas panggung, ia bahkan tak sanggup melawan ketika Kimimaro membawanya kembali duduk.

"Kali ini lagu yang akan aku bawakan adalah lagu dari Flow berjudul Sign, enjoy..."

Sasori memejamkan matanya, mencoba menguatkan dirinya. Setelah menarik nafas cukup dalam lalu menghembuskannya Sasori membuka kedua matanya, ia memfokuskan atensinya ke sepasang emerald yang begitu disukainya. Lalu ia mulai bernyanyi ketika musik mulai dimainkan.

I realize the screaming pain

Hearing Loud in my brain

But I'm going straight ahead with the scar

Pikirannya melayang menuju ingatannya 13 tahun silam. Di mana ketika itu dia membuat sebuah keputusan yang sangat sulit dan tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Saat itu tepat ketika musim semi berakhir, ia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya dan mengejar impiannya sendiri. Hal yang paling membuatnya berat adalah ketika sang adik mengiringi kepergiannya dengan tangisan pilu, begitu miris sampai terasa memenuhi otaknya. Ingin rasanya ia berbalik lalu menggendong dan mengecupi pipi tembem adiknya seperti yang biasa ia lakukan ketika sang adik menangis, namun ia memilih berusaha untuk tak peduli. Ia melangkah terus meninggalkan tempat yang banyak mengukir kenangan berharga selama hidupnya, meninggalkan tempat tersebut dengan rasa bersalah yang seiring berjalannya waktu terasa seperti luka hati.

Wasurete shimaeba ii yo kanji nakunacchaeba ii

Surimuita kokoro ni futa o shitanda

Selama sebulan penuh Sasori mencoba melupakan luka hatinya dengan melakukan pekerjaan, ia banyak mengambil job di luar bersama bandnya, belum cukup kesibukan itu ia juga menerima tawaran menyanyi solo di beberapa kafe, ia juga sempat menjadi guru les privat bernyanyi. Semua ia lakukan untuk mengunci hatinya yang terkikis, mencoba menyingkirkan sebuah hal menyakitkan yang selalu menghinggapi hatinya semenjak kejadian itu.

Kizutsuitatte heiki da yo mou itami wa nai kara ne

Sono ashi o hikizuri nagara mo

Semua hal yang dilakukannya adalah mencoba membuat luka yang dirasakannya menjadi tak terasa sama sekali. Luka memang sulit hilang, namun kau bisa membius sarafnya agar tak merasakan sakit itu. Sasori mencoba berlari dari rasa sakitnya, ia melampiaskannya dengan terus melakukan segala hal yang membuat fokusnya teralih. Tak peduli itu merusak kesehatannya. Menurutnya lebih baik merasakan demam akibat kelelahan, daripada merasakan luka hati yang dibuat sendiri olehnya. Mungkin amnesia adalah jalan terbaik, namun amnesia bukanlah sesuatu yang dapat kita tentukan kapan akan menghampiri kita. Karena penyakit seperti itu sangatlah tidak terduga.

Miushinatta jibun jishin ga

Oto o tatete kuzureteitta

Kizukeba kaze no oto daike ga

Namun usaha yang dilakukannya sia-sia, yang ada malah membuatnya seperti kehilangan jati diri. Sekuat apapun ia berusaha melupakan tangis itu, namun suara pilu itu terus saja menghantuinya, selalu memecah fokusnya.

Tsutae ni kita yo kizuato tadotte

Sekai ni oshitsubusarete shimau mae ni

Oboeteru ka na namida no sora o

Ano itami ga kimi no koto o mamotte kureta

Sono itami ga itsumo kimi o mamotterunda

Berbulan-bulan seperti kehilangan arah. Yahiko, temannya yang merupakan Leader Band Akatsuki saat itu mencoba membantunya dengan memberinya sebuah saran yang membuat Sasori bagai menemukan Oase di tengah padang pasir yang gersang. Ia mengikuti saran Yahiko, ia mengawasi adik kecilnya dari kejauhan, walaupun hanya dapat melihatnya dari kejauhan namun ia dapat merasakan kehangatan yang sempat lama hilang kembali memenuhi hatinya.

Seringkali ia melihat gadis itu menangis sendirian sambil bermain di ayunan buatannya di halaman depan rumahnya. Tanpa adanya suara dari bibir mungil itu, air mata terus menuruni pipi tembemnya. Selama mengawasi gadis kecilnya, Sasori tau kalau dia bukanlah Sakura kecil yang dikenalnya dulu, gadis itu begitu berbeda terutama sorot matanya yang dulu begitu ceria kini redup.

Saat itu Sasori sadar bahwa hal yang pernah dialaminya ketika kecil kini kembali terjadi kepada Sakura, namun lebih buruk daripada yang dialaminya. Ia ingin sekali menghibur Sakura dengan lagu-lagu yang disenanginya, ia ingin menghapus air mata gadis itu, namun semua itu tak bisa ia lakukan.

Kizutsukanai tsuyosa yori mo kizutsukenai yasashisa o

Sono koe wa dokoka kanashishou de

Sasori pernah berjalan sendirian di Taman Kota, dan ia tak sengaja mendengar seorang pria paruh baya terlihat sedang menasehati seorang pemuda. Pria itu berkata "Pilihlah kebaikan yang tidak dapat melukai dengan kekuatan". Saat mendengar kata-kata pria itu membuat Sasori menyadari beberapa hal. Memaksa kehendak orang tua terhadap anak itu memang tidak baik, merenggut impian anak itu memang tidak baik, namun setidaknya ada hal-hal positif di balik hal tidak menyenangkan itu, yaitu... orang tua hanya menginginkan kita agar tidak mengalami kesulitan dalam perjalanan kehidupan, kebanyakan orang tua sudah mempersiapkan target untuk anak-anak mereka agar tidak mendapatkan banyak kesulitan.

Namun terkadang kebanyakan anak melihat hal tersebut dari segi negatifnya, seperti mereka merasa kebebasan mereka menghilang. Sasori akhirnya menyadari jika saja ia tetap mau bertahan dengan keluarganya, ia mungkin tidak akan seperti ini, walaupun harus mengorbankan cita-cita tetapi kita dapat memiliki sebuah kebahagiaan dengan keluarga, dan itu lebih berharga dari apapun.

Kakechigaeta BOTAN mitai ni

Kokoro karada hanareteita

Mou ichido kokoro o tsukande

Tsutae ni kita yo kizuato tadotte

Sekai ni oshitsubusarete shimau mae ni

Oboeteru ka na namida no sora o

Ano itami ga kimi no koto o mamotte kureta

Sono itami ga itsumo kimi o mamotterunda

Itsuka kiita ano nakigoe wa

Machigainaku sou jibun no datta

Subette wa kono toki no tame ni

Kitto hajime kara wakattetanda

Mou nidoto jibun dake wa hanasanaide

Kizuite kureta kimie no aizu

Ano itami ga kimi no koto o mamotte kureta

Tsutae ni kita yo kizuato tadotte

Sore nara mou osoreru mono wa naindato

Wasurenaide ne egao no wake o

Ano itami ga kimi no koto o mamotte kureta

Ano itami ga kimi no koto o mamotte kureta

Sono itami ga itsumo kimi o mamotte kureta

==Flow – Sign==

(A/N : Recommended banget untuk dengerin lagu + baca translate-annya, mungkin feelnya akan lebih ngena. Btw. Maaf kalau mungkin feelnya kurang ngena, saya sudah mencoba yang terbaik)

Sampai ketika lagu selesai Sasori tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari sepasang iris emerald yang kini deras oleh air mata. Ingin rasanya ia turun dari panggung sekarang juga, memeluk adiknya dengan erat dan melakukan apapun yang diinginkan gadis itu sampai ia berhenti mengeluarkan air matanya, seperti dulu. Namun ia hanya dapat berdiri di sini dan melihat ke arah sang adik. Bahkan ia tak menyadari bahwa air mata juga mengalir deras dari kedua matanya.

Para penonton yang melihat kedua kakak beradik Haruno itu menangis ikut merasakan kesedihan keduanya yang tersirat di dalam lagu tersebut. Beberapa bahkan sampai ikut mengeluarkan air matanya.

Kimimaro memandang ke arah Sakura. 'Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya' pikir Kimimaro.

Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, Sakura segera menyeka air matanya. Ia mengambil tasnya dan melangkah pergi mengabaikan teriakan Kimimaro dan Sasori yang menyuruhnya untuk kembali. Sasori turun dari panggung, ia ingin mengejar adiknya, ia ingin memperbaiki hubungan mereka yang buruk. Namun sebuah tepukan mencegahnya.

"Yahiko ?" gumam Sasori ketika melihat siapa yang telah menepuk bahunya.

"Sekarang bukan waktu yang tepat untukmu menemuinya. Ini mungkin terlalu mendadak baginya, ia hanya butuh waktu, jadi bersabarlah sobat," nasehat Yahiko.

Bahu Sasori melemas, ia mengangguk lemah. Melihat itu Yahiko tersenyum tipis.

"Sebaiknya kau istirahat di belakang, kau butuh ketenangan pikiran. Dan lagi aku juga tidak mau kau membuat semua pelangganku pergi hanya karena suasana hati dan pikiranmu yang sedang kacau ini," candanya.

Sasori tersenyum, ia mengangguk singkat. "Terima kasih,"

"Bukan masalah,"

-o-

Sasuke terlihat baru keluar dari sebuah toko buku, tiba-tiba tubuhnya ditabrak oleh seseorang. Orang tersebut jatuh terduduk, karena orang tersebut menunduk membuat Sasuke tak dapat melihat wajah orang yang baru ditabraknya itu. Namun jika dilihat dari pakaian dan warna rambutnya cukup membuat Sasuke mengetahui siapa orang itu. Ia membantu gadis itu untuk berdiri, ia kaget ketika melihat wajah gadis yang menjadisenseinya di sekolah penuh dengan linangan air mata.

"Apa yang terjadi Sakura ?" tanya Sasuke.

"..." Sakura diam tak merespon, ia terus menundukkan wajahnya, sesekali isakan tangis terdengar dari bibir mungilnya.

"Ayo ikut aku." ajak Sasuke ketika orang-orang disekitarnya mulai menjadikan mereka tontonan.

Sasuke membawa Sakura menuju Konoha Central Park.

"Kau bisa bercerita padaku jika kau mau" tawar Sasuke memecah keheningan yang daritadi tercipta.

Sakura menggelengkan kepalanya. Sasuke terlihat memikirkan sesuatu.

"Aha" ucapnya sambil menjentikkan jari.

Ia mulai merogoh kantung Hoodienya dan mengeluarkan smartphone miliknya. Jari-jarinya mulai bergerak-gerak di atas layar smartphonenya. Tak butuh lama ia sudah menemukan sesuatu yang dicarinya. Pria berambut mencuat kebelakang itu berdiri, yang mau tak mau membuat Sakura melihat kearahnya.

"A-apa.. hikss... yang mau.. hiks... kau lakukan" tanya Sakura dengan sesegukan.

"Diam dan perhatikan baik-baik" ucap Sasuke.

Sasuke memencet smartphonenya dan sebuah musik instrumen dari lagu Happy yang dinyanyikan oleh Pharrell Williams mulai mengalun. Karena rekaman di HP Sasuke hanya berisi versi instrumennya saja membuat Sasuke yang menggantikan suara Pharrel Williams.

It might seem crazy what I'm about to say

Sunshine she's here, you can take a break

I'm a hot air balloon that could go to space

With the air, like I don't care any by the way

Kali ini didepannya, seorang Uchiha bungsu yang menurut cerita Itachi selalu stay cool bertransformasi menjadi seperti orang aneh. Mungkin bernyanyi sambil menari dengan wajah yang err... sulit dideskripsikan akan lebih cocok untuk putra tunggal pasangan Namikaze Minato dan Namikaze Kushina, namun ini Uchiha Sasuke yang demi masker Kakashi yang jarang dicuci selalu berwajah (sok) keren, (sok) cool, dsb (dan saya bingung- eh! Maksudnya dan sebagainya) kini menjadi entahlah.

Because I'm happy

Clap along if you feel like a room without a roof

Because I'm happy

Clap along if you feel like happiness is the truth

Because I'm happy

Clap along if you know what happiness is to you

Because I'm happy

Clap along if you fee like that's what you wanna do

Air mata sudah berhenti mengalir dari kedua mata Sakura. Wajahnya yang tadinya memerah karena menangis kini memerah karena menahan tawa ketika melihat Sasuke menari sambil menepuk-nepuk tangannya. Seperti pinguin mabuk, pikir Sakura.

Here come bad news talking this and that, yeah,

Well, give me all you got, and don't hold it back, yeah,

Well, I Should probably warn you I'll be just fine, yeah,

No offense to you, don't waste your time

Here's why

Sakura menggelengkan kepalanya ketika melihat Sasuke menggerakkan jari-jarinya menunjuk-nunjuk dengan random mengikuti irama lagu. Tiba-tiba Sasuke menghampiri Sakura dan menariknya agar berdiri bersamanya.

Because I'm happy

Clap along if you feel like a room without a roof

Because I'm happy

Clap along if you feel like happiness is the truth

Because I'm happy

Clap along if you know what happiness is to you

Because I'm happy

Clap along if you fee like that's what you wanna do

Sasuke mengajak Sakura untuk bertepuk tangan bersama. Menurut Sakura ini adalah hal paling memalukan dan menyenangkan yang pernah ia lakukan. Tidak ada lagi jejak-jejak kesedihan di wajah Sakura yang ada hanyalah ekspresi bahagia diwajah cantiknya. Ia mencoba mengimbangi gerakan Sasuke sambil bertepuk tangan, namun ia tidak ingin ikut bernyanyi.

Bring me down

Can't nothing bring me down

My level's too high

(happy)

Bring me down

Can't nothing bring me down

My Level's too high

Bring me down

Can't nothing bring me down

I said (let me tell you now)

Bring me down

Can't nothing bring me down

My level's too high

Bring me down

Can't nothing bring me down

I said

Mereka berdua terus bernyanyi dan menari bersama, untung saja pengunjung sedang tidak begitu ramai, jadi setidaknya mereka tidak perlu memikirkan rasa malu.

Ketika lagu berakhir kedua makhluk berbeda rambut itu duduk kembali di bangku taman, mencoba untuk mengatur nafas mereka. Meskipun hanya menari ringan, namun cukup menguras tenaga.

Sakura menyandarkan lehernya di bangku taman, ia mendongakkan wajahnya ke arah langit sambil terpejam, angin sepoi-sepoi menyapu halus wajahnya. Seulas senyum tipis terbentuk di bibir pinknya.

Sasuke memperhatikan gadis di sampingnya. "Well, aku tidak tau apa yang membuatmu menangis, tapi setidaknya sekarang kau tersenyum, dan itu terlihat lebih baik untukmu"

"Arigatou," ucap Sakura pelan.

"Tapi aku penasaran, sebenarnya apa yang membuatmu menangis ? Putus cinta ?" tebak Sasuke asal.

Sakura mendelik tak terima. "Enak saja!"

"Kau tau ? Aku lebih suka melihatmu tersenyum daripada seperti dikelas tadi ataupun ketika menangis, kau terlihat manis kalau tersenyum." Sasuke memandang dalam mata Sakura.

Sakura berusaha menahan rona tipis untuk menjalari wajahnya, ia mendengus untuk menetralisir debaran jantungnya yang mendadak menggila. "Apa peduliku kalau kau suka melihat aku seperti apa, lagipula kau bukan siapa-siapaku"

"Memang bukan, tapi entah mengapa walau kita baru bertemu kemarin aku seperti sudah lama mengenalmu, aku menyukai kehadiranmu disini" ucap Sasuke jujur dan Sakura tahu itu. Namun gadis itu mencoba menepisnya.

Sakura mendengus. "Jangan coba merayuku tuan, aku tak sama dengan wanita lain yang suka kau goda itu, Itachi yang memberitahuku soal kebiasaanmu itu"

"Aku memang pandai merayu wanita, tapi kali ini aku berkata jujur" ucap Sasuke.

"Baiklah terserah kau saja, aku sebaiknya mencari taksi untuk pulang" ucap Sakura sambil beranjak berdiri.

"Kuantar kau pulang" ucap Sasuke, ia menarik pelan tangan Sakura.

Sakura mendengus dalam hati. 'Sepertinya hari ini aku sering ditarik oleh pria dan mendengus, benar-benar hari yang sial, tapi cukup menyenangkan juga' batinnya sambil tersenyum tipis.

-o-

"Terima kasih telah mengantarku," ucap Sakura ketika mereka sudah sampai di depan kediaman Haruno.

"Hn, bukan jumpa besok sensei," ucapnya sambil mengedipkan mata jahil.

'Ck, lama-lama aku bisa kena serangan jantung kalau terus berada di dekatnya,' pikir Sakura ketika ia merasakan jantungnya kembali berdebar-debar hanya karena kedipan mata Sasuke.

Setelah mobil Sasuke tidak terlihat lagi dari pandangannya, Sakura mulai melangkah masuk ke dalam rumahnya.

"Tadaima," ucap Sakura.

"Ah... itu dia sudah pulang," Sakura mendengar suara ibunya dari dalam rumah.

"Okaeri Sakura-chan," sambut Mebuki ketika ia sudah berada di hadapan Sakura.

"Aku melihat ada mobil tou-san di depan tadi, apakah ia pulang awal ?" tanya Sakura.

"Ah... iya tou-sanmu sudah menunggu di ruang kerjanya, kau kesanalah nanti kaa-san bawakan cemilan untuk kalian," ucap Mebuki dengan wajah berseri. Sudah lama Sakura tak melihat wajah kaa-sannya berseri seperti itu. Entah apa yang membuat ibunya sebahagia itu.

Tok tok tok

Sakura mengetuk ruangan tousannya. Setelah mendapat balasan ia masuk ke dalam ruangan itu.

"Tou-san memanggilku ?" tanya Sakura sopan.

Kizashi melirik Sakura sekilas lalu kembali membaca berkas yang sedang dikerjakannya.

"Duduklah," titahnya yang langsung dituruti Sakura.

Suasana hening, yang terdengar hanyalah suara kertas yang dibalik-balikkan, dan juga suara goresan pulpen. Sesekali Kizashi terlihat memijit pelipisnya, ia terlihat lelah. Namun Sakura hanya diam, tak berniat ingin membuka suara, sudah menjadi kebiasaannya untuk menunggu ayahnya siap untuk berbicara.

Kizashi menutup dokumen yang tadi dikerjakannya, ia menyenderkan tubuhya ke sandaran kursi yang empuk, ia merenggangkan otot-otot tubuhnya yang sudah tak sebagus ketika ia masih muda dulu. Mata sapphirenya memandang ke arah Sakura yang duduk diam sambil menatapnya. Ia melepas kacamata yang tadinya bertengger di wajahnya.

"Tentunya kau dapat melihat bahwa tou-san sudah terlalu tua untuk meneruskan bisnis keluarga, jika dilihat dari prestasimu di dunia bisnis, kau tentu sudah lebih dari pantas untuk melanjutkan perusahaan keluarga kita," ucap Kizashi, nada bicaranya pelan namun terdengar tegas.

"Iya tou-san," balas Sakura.

"2 minggu lagi kita akan mengadakan pesta untuk pengangkatanmu sebagi calon presdir, kau sebaiknya mempersiapkan segala hal yang dianggap perlu sebelum pesta," ucap Kizashi.

"Baik tou-san," ucap Sakura.

"Bagaimana hari pertamamu mengajar di Konoha University ?" tanya Kizashi mengalihkan topik.

"Tidak buruk," jawab Sakura sekenanya.

"Aku banyak menemukan anak-anak calon penerus perusahaan besar, seperti Namikaze, Uchiha, dan Hyuuga," lanjut Sakura.

"Hyuuga ?" gumam Kizashi.

"Ada apa dengan Hyuuga ?" tanya Sakura.

"Tidak, aku hanya mengingat calon penerus resmi Hyuuga yang dua tahun lalu melarikan diri untuk menikahi seorang gadis kalangan menengah bawah, dasar kantung hormon tak berguna!" ucap Kizashi disertai dengusan mengejek.

"Ngomong-ngomong soal menikah, apakah sudah ada pria yang menarik hatimu,"

"Aku belum berpikir untuk mencoba menjalin hubungan khusus dengan seorang pria," tutur Sakura.

"Hm... tapi kupikir kau cocok dengan Itachi, kalian terlihat cukup dekat, apakah kau memiliki ketertarikan padanya ?" tanya Kizashi.

"Tidak, dia sudah seperti seorang kakak bagiku," ucap Sakura, matanya meredup ketika mengucapkan kata 'kakak', ia teringat dengan Sasori yang ditemuinya di cafe siang tadi.

Tok tok tok

Suara ketukan terdengar kembali dari luar ruangan kepala keluarga Haruno tersebut.

"Masuk," titah Kizashi.

Masuklah Mebuki sambil membawa nampan berisikan beberapa muffin blueberry, segelas susu hangat dan secangkir kopi.

"Makanlah dulu, kalian sudah bekerja keras hari ini," ucap Mebuki sambil meletakkan nampan tersebut di sebuah meja santai yang ada di ruangan itu. Kizashi dan Sakura duduk di sebelah Mebuki yang sedang duduk di sofa dekat meja tersebut.

Sakura dan Kizashi mengambil masing-masing satu muffin. "Terima kasih kaa-san, ini enak," puji Sakura.

Mebuki tersenyum manis, ia mengelus sayang rambut putri bungsunya. Ia selalu merindukan momenkebersamaan seperti ini. Dulu sebelum peristiwa itu mereka sering makan muffin bersama di taman. Ia ingat ketika Sakura yang dulu memakan muffin-muffin nya dengan lahap hingga belepotan, Sasori yang mengomeli Sakura karena suka makan belepotan, dan Kizashi yang merangkulnya hangat melihat kelakuan kedua buah hati mereka,setetes air mata meluncur bebas di pipinya ketika mengingat kenangan indah itu.

"Kaa-san kenapa ?" tanya Sakura, ia memandang Mebuki datar, namun sorot matanya menyiratkan kekhawatiran.

"Tidak, kaa-san hanya merasa senang dapat kembali membuatkan muffin untukmu," ucap Mebuki sambil mengelap air matanya yang terjatuh.

"Aa... souka," Sakura mengangguk mengerti, ia kembali memakan muffinnya dengan perlahan.

Mebuki tak henti-hentinya tersenyum haru memandangi Sakura, ia begitu merindukan sosok Sakura yang begitu ceria. Ia tahu sedikit banyaknya apa yang terjadi pada Sakura merupakan kesalahannya, salahnya yang menuruti perintah sang suami untuk tak lagi memanjakan anaknya seperti dulu, itu semua ia lakukan karena tak ingin kehilangan seorang anak lagi.

'Aku memang tak kehilangannya, tapi dia berubah, menjadi sosok gadis yang sulit untuk berekspresi,' pikir Mebuki.

'Tapi setidaknya ia sudah bisa tersenyum tulus, dan sedikit mengutarakan isi hatinya,' batin Mebuki ketika mengingat pertemuannya dengan putrinya kemarin.

"Aku pergi dulu, ada beberapa hal yang harus kukerjakan," ungkap Sakura.

"Jangan terlalu memaksakan dirimu, kau terlihat lelah, nak," ucap Mebuki. Ia berusaha memberikan perhatian kepada Sakura.

"Hn,"

Blam

Suara debuman pintu yang tak terlalu kuat terdengar ketika Sakura menutup pintunya.

"Aku merindukannya," gumam Mebuki yang dapat terdengar oleh Kizashi.

"Siapa ? Sasori ?" tebak Kizashi. 'Tidak mungkin Sakurakan? Lagipula dia disini,' pikir Kizashi.

"Ada banyak hal yang kurindukan, termasuk Sasori," ungkap Mebuki.

Kizashi merangkul bahu Mebuki. "Menangislah jika kau ingin, ungkapkan apa yang ingin kau ungkapkan, kali ini aku akan diam dan menjadi pendengar yang baik, aku tidak akan membentakmu lagi walaupun kau mengucapkan nama anak itu," ungkap Kizashi.

Kemudian suara tangisan memenuhi ruangan kerja Kizashi, sesekali terdengar Mebuki meracaukan isi hatinya. Tangisannya cukup kuat, namun beruntung ruangan tersebut kedap suara sehingga tidak akan ada yang mendengarkan suara tangisan sang nyonya Haruno.

-o-

Keesokan harinya.

"Tunggu Sakura-sensei," teriak Kimimaro kepada gadis merah jambu yang berjalan cukup jauh di depannya.

"Ada apa ?" tanya Sakura ketika Kimimaro sudah berada di hadapannya.

Kimimaro mengangkat tangannya, sebagai tanda untuk menyuruh Sakura menunggunya selesai mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena mengejar Sakura tadi.

"Apa yang terjadi padamu kemarin sensei ? Siapa pria itu ? Kau memiliki masalah dengannya ?" tanya Kimimaro ketika dirinya sudah bisa mengatur nafas.

Wajah Sakura yang tadinya datar langsung mengernyit tak suka. Ia membalikkan badannya dan kembali melangkah kedepan.

"Bukan urusanmu," ucap Sakura singkat.

Kimimaro segera mensejajarkan langkahnya dengan Sakura.

"Mau kubantu ?" tanya Kimimaro ketika melihat Sakura kesulitan membawa buku-buku tebal dalam pelukannya.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri," ucap Sakura.

"Sini aku bantu," Kini sebagian besar buku Sakura telah berpindah ke sepasang tangan kekar, bukan tangan Kimimaro, melainkan...

"Sasuke ?" / "Uchiha ?" ucap Sakura dan Kimimaro bersamaan.

"Buku-buku ini mau dibawa kemana sensei?" tanya Sasuke tanpa menghiraukan kehadiran Kimimaro.

"Ke ruangan Kakashi-sense,i" jawab Sakura.

"Hn, ayo!" Sasuke melangkahkan kakinya, diikuti Sakura yang sempat memandang Kimimaro sekilas.

"Sial kau, Uchiha," desis Kimimaro.

"Kau memang bisa mendapatkan hampir setiap gadis di Universitas ini, bahkan seorang senseipun, tapi tidak untuk Sakura," gumam Kimimaro.

"Karena dia adalah targetku," Seringai licik terkembang di bibir tipis milik Kimimaro.

-o-

"Dia memang bisa juga dimanfaatkan sebagai jembatan kehancuran gadis itu, tapi akan lebih bagus apabila kau yang menjadi jembatan awal kehancurannya," ucap pria berambut hitam itu. Kini dia sedang duduk di sebuah kafe sambil memegang handphonenya. Ia memandang ke arah jendela kafe yang menampilkan orang-orang yang berlalu lalang.

"Aku akan lebih berusaha lagi tuan," ucap suara diseberang.

"Hm... lakukanlah yang terbaik," ucap pria itu.

"Baik, Tuan."

Klik! Sambungan kembali terputus. Pria itu terlihat menopangkan dagunya diatas kedua tangannya. Matanya memandang lurus kedepan, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Pesanan anda tuan," ucap seorang pelayan yang datang menghampirinya.

"Hn,"

"Selamat menikmati," pelayan itu membungkuk hormat lalu melangkah pergi. Pria berambut hitam itu melihat kepergian sang pelayan dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Aku akan menghancurkan keluargamu, akan aku balas apa yang telah kau lakukan padaku. Tunggu pembalasanku Sasori, aku akan membuatmu dan keluargamu menderita," gumamnya penuh penekanan. Ia terus memandang punggung sang pelayan yang memiliki surai rambut merah tersebut.Orochimaru or Yahiro Dad?

~TBC~

[REVISED 7/22/2016]

Author's Note

Gimana hasil rombakan di Chapter 4 ? Lebih baik kah dari Chapter 4 yang sebelumnya ? Atau sebaliknya.

Jujur aja Ayame sempet ngerasa down gara2 yang ngereview chapter 4 cuman sedikit, bahkan lebih sedikit dari Chapter 1. Tapi Ayame sadar kalau Chapter 4 kemarin itu banyak kekurangannya. Well gpp lah. Selama masih ada yang mau baca, Ayame udah seneng banget. Tapi lebih bagus lagi kalau makin banyak yang mau baca dan memberikan reviewnya untuk penyemangat Ayame, hehehe...

Ok... Mind to Give Me A Review ? *Kitty Eyes No Jutsu*

N.B : Maaf kalau mungkin gaya penulisan Ayame terlalu berbelit-belit