Jarum pendek belum mencapai angka delapan, dan Akashi bahkan belum secara formal membuka kantornya hari itu—seharusnya.

Tapi hari ini berbeda. Hari ini bisa dibilang spesial. Kali ini, Aomine sudah berada di hadapannya, berseragam rapi. Rambutnya yang biasa mencuat ke mana-mana itu sekarang ditata sedemikian rupa hingga menjuntai rapi ke belakang. Samar-samar tercium aroma kolonye bleu chanel.

Seperti biasa, Aomine Daiki memang totalitas—dalam konteks 'menghabisi' perempuan. Ia layaknya serangga yang siap menebar feromon, lalu memakan pasangannya setelah dinikahi.

"Ini hari eksekusinya," kata Akashi tenang. Ujung pena diketukkan ke permukaan meja kerja. "Aku ingin kau bersikap senormal mungkin apapun yang terjadi. Jangan sampai terlihat seperti seorang pelaku kriminal. Tunjukkan kalau kau lebih maju selangkah dari orang lain."

"Tidak mungkin aku membiarkan hal seperti itu terjadi, kan?" dengus Aomine. Rautnya tegang, namun percaya diri. "Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan berhasil, seperti biasa. Dia sudah jatuh hati padaku dengan begitu mudahnya—hanya dengan sekali makan malam di restoran mewah dan kencan 'romantis' di air mancur taman kota—dan aku bisa membuatnya hilang kesadaran dengan mudah."

Sayang, Akashi berpikiran berbeda. "Belum tentu. Polisi sudah memiliki cukup banyak bukti untuk bisa menangkapmu kapan saja. Makanya sudah kubilang untuk bersikap biasa saja." Lebih tepatnya, Akashi-lah yang diam-diam membantu ekspedisi para polisi. Ia sedikit membuat peluang bagi mereka, sehingga proses penangkapan bisa berlangsung lancar. Sebuah kartu yang ia lukis sendiri menjadi salah satu petunjuk yang ia tujukan pada Levi.

Di sini, Akashi berperan sebagai pedang bermata dua. Satu pedang menghancurkan Aomine, dan satu lagi menghancurkan kepolisian—atau lebih tepatnya, Levi. Parahnya, pedang ini bergerak dengan begitu halus dan tanpa cela, dibalut dengan macam-macam ornamen lain, sehingga tak ada yang mampu melihat mata pedang itu.

"Seandainya kau tertangkap, ponselmu otomatis tidak akan bisa digunakan—jangan memprotesku dulu. Kita harus mengantisipasi segala kemungkinan. Mereka pasti akan menghalangimu berkomunikasi." Saku jas dirogoh. Sebuah anting berwarna gelap disodorkan ke arah kliennya. "Pakai ini, dan jangan coba-coba melepasnya."

Aksesori itu berpindah tangan. Dahi Aomine berkerut sendiri, keheranan. "Apa ini?"

"Alat komunikasi darurat, sekaligus alat rekam. Dengan begitu, aku juga bisa mendengar percakapan di sekitarmu. Kalau kedua ujungnya disatukan, otomatis akan langsung tersambung ke ponselku," jelas Akashi. "Setidaknya ini satu-satunya cara kita saling berkomunikasi tanpa perlu takut ketahuan."

Berkat kemampuannya menggaet koneksi—juga karena popularitasnya yang mulai menyebar di saentaro Jepang—Akashi berhasil mengajak ilmuwan-ilmuwan terbaik untuk menciptakan penemuan mutakhir yang sekiranya bisa menghilangkan jejak-jejak criminal. Prosesnya sudah terikat kontrak, sehingga tidak akan ada informasi yang bocor ke pihak pelindung negara. Lagi-lagi, upaya itu menghabiskan cukup banyak lembaran yen dari rekening bank-nya.

Tapi tidak apa-apa. Uang, sebanyak apapun ia dihabiskan, bisa kembali. Sedangkan kakak—ia hanya punya satu di saentaro dunia. Orang ini jauh lebih berharga dari jutaan yen yang sudah ia keluarkan selama ini.

Guratan di wajah Aomine semakin dalam. "Kau tidak percaya padaku, jadi sengaja mengekangku dengan alat ini?"

"Bukan begitu. Aku harus tahu apa yang terjadi di lokasi. Seharusnya ini kulakukan sejak misimu yang pertama—tapi entah kenapa, ide ini baru terpikir olehku sekarang." Alasan sebenarnya adalah karena dia perlu merekam tiap momen menjelang penangkapan Aomine. Mendokumentasi kehancuran seseorang, baginya, adalah ksenenangan tersendiri. Tapi Akashi cukup cerdas untuk memutarbalikkan fakta. "Aku akan memberikan beberapa instruksi tambahan—"

Langsung diputus dengan kasar. "Aku bukan bawahanmu." Kentara sekali sang klien tersinggung.

"Tepat sekali. Kau adalah bosnya. Dan sebagai orang yang membantumu, aku perlu memastikan kalau 'si pimpinan' tetap aman."

Lagi-lagi, oposisi dari Aomine diputarbalik dengan begitu rapi. Seperti yang sudah dipelajari Akashi semasa kuliah—jangan pernah memposisikan diri di atas klien. Perlakukan mereka sebagaimana penasihat melayani seorang raja.

"Hmm," napas berat terembus. "Oke. Tapi jangan terlalu sering menggangguku. Aku tidak suka diinterupsi."

Akashi tersenyum. "Karena itulah aku mengaktifkan mode speaker, sehingga aku tahu kapan kau mulai beraksi. Jangan khawatir, aku tidak akan bicara banyak—kecuali kalau dibutuhkan."

Walaupun menggerutu, Aomine mengenakan anting itu di telinga kirinya.

"Sebaiknya kau langsung berangkat sekarang. Jangan lupa belikan bunga untuk gadis itu."

"Aku tahu." Senyum yang lebih menyerupai seringai muncul di wajah sang klien. "Aku seorang gentleman. Sangat tidak sopan kalau tidak membawakan hadiah untuk seorang gadis sebelum dia pergi."

"Aku senang kau sudah belajar banyak." Senyum Akashi masih saja menggantung di tempat. "Kudoakan semoga kau sukses."

Semoga sukses bertemu dengan Levi.

Detak jantungnya pada siang hari itu berlomba dengan bunyi monoton yang terdengar dari jam dinding.

.

.

Akashi sadar, pertemuannya dengan Levi sudah semakin dekat ketika komunikasi virtual dengan Aomine semakin intens terjadi.

Setengah jam sudah berlalu sejak pertemuan keduanya di biro—atau mungkin, sedikit lebih lama dari itu. Aomine kini sudah berada di apartemen Momoi, tidak sabar menunggu kesempatan beraksi—demi apapun, gadis itu ditelepon berkali-kali, entah oleh siapa.

Akashi dengan cermat menangkap suara sekecil apapun yang bisa ditangkap oleh pendengarannya. Tanpa sadar ujung sepatunya mengetuk lantai. Sekali-dua kali, lalu berlanjut hingga membentuk ritme cepat.

"Dia menerima telepon. Haruskah kuinterupsi?" desis Aomine terdengar dari speaker ponselnya. Tidak jauh dari sana, suara wanita terdengar tengah berbisik-bisik. Terdengar samar, namun terasa sekali ketegangan yang menguar di balik suara lembut itu.

"Kau bisa mendengar percakapannya?" tanya Akashi.

"Dia hanya menjawab ambigu. 'ya', 'tidak', 'lalu aku harus bagaimana?'. Mana bisa kupahami, kan?"

Otak cerdas Akashi cepat berasumsi, "Kurasa polisilah yang mengontaknya." Tampaknya mereka sudah mulai bergerak. Akashi menyahut, "Jangan sela pembicaraannya. Tunggu saja sampai dia selesai. Merampas ponselnya sekarang akan semakin meningkatkan kecurigaan polisi."

Sekalipun tidak puas, Aomine menggumam, "Oke."

Dari kejauhan, sambungan ponsel dimatikan. Tampaknya gadis itu sudah selesai menelepon. Akashi berujar tenang, "Semoga berhasil."

Tidak butuh otak yang cerdas untuk menebak adegan selanjutnya. Tangan Aomine langsung menyambar tubuh mungil Momoi Satsuki, memojokkannya ke dinding. Suara deguk ketakutan Momoi memenuhi pendengaran, begitu pula dengan napas agresif Aomine. Ketika gadis itu mengeluarkan decit melengking, itu artinya jemari Aomine sudah mengitari leher.

Seraya menutup mata, Akashi menghitung mundur. Sepuluh, Sembilan, delapan, tujuh—mencapai angka satu, ia bergumam, "Daiki, jangan sampai membunuhnya."

"Apa?" Aomine tampaknya terlalu kaget—sampai-sampai tidak mampu bersuara.

"Kau dengar kata-kataku dengan jelas. Jangan sampai membunuhnya." Jarum jam mulai bergerak ke angka duabelas. Akashi menegakkan tubuh. "Polisi akan datang kapan saja, dan aku tidak mau bertanggung jawab kalau kau sampai menghilangkan nyawa satu orang perempuan lagi."

"Justru itu. Kalau aku membunuhnya, tidak ada saksi mata yang—"

"Daiki." Suara itu tegas, tajam, dan cukup persuasif untuk membuat Aomine patuh. Suara bedebam terdengar beberapa saat kemudian.

"Angkat tanganmu, Tuan."

Tidak, itu bukan suara Aomine. Ada laki-laki lain di ruangan itu, pasti tengah menodongkan pistol kea rah Aomine—sayang, Akashi tak mampu menahan seringai. Polisi datang lebih cepat dari dugaannya. "Ingat kataku. Bersikap tenang. Tidak usah membantah."

Tanpa menunggu respons, atau mendengar konversasi antarpihak, ia langsung menyambar tas kerjanya dan bergegas keluar dari ruang kerja. Ada hal lain yang harus ia urus terlebih dahulu—dan ia tidak boleh keduluan.

.

.

"Selamat siang," senyum Akashi saja sudah berhasil membuat hati resepsionis rumah sakit itu lumer. "Apa Momoi Satsuki dirawat di sini?"

Demi apa, pengunjung siang ini tampan sekali—barangkali itu yang dibatinkan si resepsionis. "Ah—iya. Dia baru saja dipindahkan dari ruang gawat darurat ke kamar VIP lantai 1." Rona merah begitu kentara mewarnai wajahnya. "Kalau boleh tahu, Anda siapanya?"

"Aku walinya," jawaban Akashi terdengar begitu natural dan tenang. Kekhawatiran palsu berhasil membuatnya terdengar meyakinkan. "Apa aku boleh mengunjunginya sekarang? Kudengar dia dalam keadaan kritis."

"Tunggu sebentar."

Dengan sabar, Akashi menunggu resepsionis itu menghubungi perawat yang berjaga. Menggumam beberapa kali sebagai respons—"Aku mengerti. Akan segera kuinformasikan. Oke."

Jawaban wanita resepsionis kembali tergagap-gagap setelah sambungan di telepon berakhir. "A-anu, Momoi-san baru saja siuman, katanya begitu. Jadi mungkin dia tidak bisa dikunjungi oleh siapapun dalam waktu dekat."

"Aku hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja. Hanya sebentar." Selayaknya seorang aktor profesional, ia mampu mengubah ekspresi wajah menjadi sosok yang patut dikasihani. "Tapi kalau memang tidak diizinkan, aku akan kembali nanti—"

Ekspektasinya, si resepsionis ini mencegah. Memberikan kelonggaran untuk pengacara tampan ini.

Sayang, jawaban yang ia peroleh adalah, "Akan saya informasikan sesegera mungkin. Bisa tinggalkan nomor telepon Anda di sini untuk kami hubungi nanti?"

Senyum Akashi merosot sedikit. "Tentu saja."

Ia tidak bodoh. Nomor yang tertulis di situ adalah nomor telepon lamanya. Akashi tidak mungkin membiarkan informasi pribadinya tersebar—lebih-lebih di pihak yang bersangkutan dengan kasus. Lebih baik melakukan tindakan preventif ketimbang harus mendekam di balik penjara terlebih dahulu.

Otaknya cepat bekerja, berusaha mencari alternatif lain."Kamar mandinya ada di sebelah mana?"

"Lurus saja melewati lorong ini. Kamar mandinya ada di sebelah kanan lorong." Si resepsionis menyunggingkan senyum cantik, walaupun gugup luar biasa.

Akashi mengangguk, balas tersenyum—yang sukses meluluhlantakkan lawan bicara. Kakinya cepat dilangkahkan menyusuri koridor rumah sakit—berharap ia melewati ruang rawat Momoi Satsuki dalam perjalanan ke toilet.

Cermat ia amati nomor ruangan satu per satu, berikut nama yang tertera di bawahnya. Jari disilangkan di belakang punggung, berharap ia selangkah lebih cepat dari polisi.

Baru separuh melangkah—ia baru ingat.

"Daiki?" suaranya merendah. Langkah kakinya diperlambat, selagi jemarinya menautkan earphone tanpa kabel ke telinga. "Daiki, kau bisa mendengarku?"

"Tidak usah panggil dua kali. Aku dengar, kok." Suara malas Aomine kembali memenuhi gendang telinga. "Aku sudah di kantor polisi. Tapi mereka sama sekali belum menginterogasiku. Aku masih boleh buang air, jadi sekarang aku ada di toilet."

"Beritahu aku kalau kau sudah akan diinterogasi," bisik Akashi. "Aku masih punya keperluan lain sebelum bisa menyusulmu."

"Buat apa? Bukannya kau juga bisa mendengar sekitarku?"

"Aku tidak bisa memastikan apakah jangkauan alat ini cukup jauh. Sinyal di kantor polisi juga biasanya tidak begitu bersahabat. Kita tidak tahu situasinya akan seperti apa, kan?" ia mengangguk sopan pada dua orang perawat yang lewat, lalu kembali bicara, "Tapi jangan bicara. Cukup jentikkan jarimu di belakang telinga, atau ucapkan sesuatu yang sekiranya tidak meningkatkan kecurigaan polisi. Itu saja sudah cukup untuk mesinyalirku segera bertempat di lokasi."

"Paham, paham." Sang lawan bicara menguap. "Nanti lagi, ya. Aku sudah selesai buang air."

Lalu sambungan terputus. Mungkin Aomine sengaja melepas anting—atau keheningan ekstrem ini tidak ada bedanya dengan ponsel yang dimatikan—Akashi tidak lagi peduli.

Prioritasnya sekarang adalah Momoi Satsuki.

Tungkainya kembali berjalan cepat menuju destinasi. Mendadak senyum kembali merekah ketika label nama si gadis tertera di pintu—tidak salah lagi, ini kamarnya. Setelah mengamati sekilas dari kaca jendela bahwa tidak ada siapapun selain Momoi yang menempati ruangan tersebut, ia memutuskan untuk 'menemani' korban yang malang itu.

Bersamaan dengan gerakannya membuka pintu kamar si gadis—Momoi Satsuki—kepala korban malang itu tersentak kaget. Iris gadis itu sontak melebar, penuh ketakutan. "A-Anda…"

"Selamat siang," sapa Akashi lembut. "Kau baik-baik saja? Ada yang terluka?"

Gemetar, lawan bicaranya menggeleng. Wajahnya, lepas dari cedera ringan di sudut bibir, baik-baik saja. Ada bekas merah yang cukup kentara di sepanjang leher—tampaknya Aomine terlalu ambisius kali ini.

Untuk melenyapkan bukti, menurut apa yang sudah ia pelajari dan praktekkan selama ini, harus dimulai dari korbannya dulu. Pastikan tidak ada jejak criminal apapun pada diri korban. "Gunakan handuk basah ini untuk membersihkan wajah dan lehermu. Kau penuh keringat." Kalimat itu terdengar kasual, namun ada auara menuntut yang besar keluar dari tiap kata.

Tidak berani melawan, Momoi Satsuki melakukan apa yang diminta. Hati-hati diusapkannya handuk itu ke wajah, lalu merintih sedikit ketika tekstur kain itu menyentuh lehernya. Bekas merah itu perlahan-lahan menyamar. Akashi mengamati dalam diam, sedikit lega. Sidik jari Momoi otomatis sudah terhapus. Tinggal menunggu luka itu memudar, dan semua akan baik-baik saja.

"Aku langsung ke sini ketika mendengarmu dilarikan di rumah sakit." Kedua tangan masuk ke dalam saku jas. "Posisimu kali ini bukan sebagai perawat, tapi sebagai pasiennya—bukan kebetulan yang menyenangkan, kan?"

Momoi hanya menatapnya dengan ekspresi ngeri. Tidak berani membantah, tapi juga ingin menjauh.

Akashi juga tidak mungkin pura-pura buta. Ia tahu betul alasan di balik raut ketakutan itu. Selama beberapa hari terakhir, Akashi melakukan "negosiasi" dengan Momoi, membujuk gadis itu untuk mencarikan relasi yang sekiranya mampu mengolah obat-obatan, atau distributor obat gelap minor di Jepang. Selama beberapa hari itu pula, Momoi menolak, dan Akashi berhasil menyengsarakan kehidupannya. Serangan mendadak Aomine sendiri dianggap Momoi sebagai upaya mendesaknya.

Memang sengeri itulah Akashi. Kepribadiannya yang kontradiktif mampu membuat siapapun bertekuk lutut. Dan Momoi hanyalah satu dari sekian banyak orang yang sudah membenturkan lutut di hadapan Akashi.

"Tidak usah takut begitu. Aku hanya mampir sebentar untuk bersilaturahmi." Satu tangan diulurkan ke depan. "Aku hanya ingin meminta 'barang' yang kausimpan selama ini."

Jemari gemetar itu merogoh ke dalam selimut. Mengeluarkan beberapa sachet berisi butiran obat.

"Ini benar-benar obat yang kuinginkan, kan?" matanya beralih dari butir-butir kapsul itu ke wajah Momoi yang pucat pasi. "Kau tidak berupaya menipuku, kan?"

Rambut Momoi mengibas ke kanan dan ke kiri ketika gadis itu menggeleng. Jelas, membohongi Akashi jauh lebih beresiko ketimbang melakukan tindak ilegal—setidaknya, itulah yang ia pelajari.

Senyum Akashi melebar ketika sachet itu berada di dalam genggamannya. "Bagus."

Ketika Aomine sudah berhasil diringkus, ia membutuhkan tumbal lain. Orang lain yang bisa dijadikan batu lompatan untuk tetap bertemu dengan Levi. Kali ini, ia mencari seorang pengangguran, atau orang yang haus kebutuhan finansial. Obat ini—atau lebih tepatnya, narkoba yang ada di tangannya ini—mampu memenuhi kebutuhan itu. Mereka akan menjadi pengedar gelap, lalu kembali dibekap oleh tim yang dibawahi oleh Levi.

Astaga, skenario indah seperti inilah yang membuat Akashi tetap bertahan hidup. Rasanya menyenangkan sekali.

Tentu saja, semua keahliannya sekarang adalah sesuatu yang herediter. Kenny Ackerman memiliki kemampuan analisis yang bagus—sehingga kedua puteranya menjadi sangat ahli di bidang masing-masing. Setelah itu, Akashi yang berada di bawah pengasuhan "paman"nya belajar untuk menciptakan alur cerita sendiri. Belajar untuk mengubah takdir.

Walaupun, sebagai bayarannya, harus ada sesuatu yang dikorbankan.

Akashi belajar tentang kerasnya dunia sejak hari itu terjadi. Hari di mana ia sadar bahwa kakak dan ayahnya tak lagi peduli. Bahkan ketika ia menghilang pun, tidak ada yang mencari. Ia kira, saat itu, kehidupannya sudah bahagia. Ia cukup tinggal di dalam rumah, bersenang-senang bersama sang kakak, menjadi kesayangan keluarga—karena ia paling kecil. Harusnya, kesenangan itu ia peroleh untuk memenuhi masa kecil.

Seijuurou yang polos dan penuh semangat sekarang sudah mati. Sekarang, di bawah nama baru yang ia ciptakan—Akashi—ia belajar untuk menguasai orang lain. Pengkhianatan, baginya, adalah musuh terbesar.

"Terima kasih banyak." Obat itu dimasukkan ke dalam saku. Ia kembali menciptakan kontak mata dengan Momoi—untuk yang terakhir kalinya. "Aku benar-benar berharap kau bisa menjadi rekan yang baik—dengan membungkam mulutmu itu."

Ketika ia berjalan keluar dari kamar rawat, tubuh Momoi sudah gemetar luar biasa.

.

.

Sudah lewat lima belas menit sejak Aomine dimasukkan ke dalam ruang interogasi. Mendengar situasi yang ada, sepertinya Aomine berada di bawah pengawasan Eren Jaeger—anak sok yang sempat ingin ia lenyapkan itu—dan Levi sendiri.

Keheranan sendiri karena merasa gugup, Akashi melangkahkan kaki keluar dari mobil Toyota Avalon-nya dan menatap gedung kantor kepolisian pusat yang menjulang sedemikian rupa hingga terkesan menantang. Berbeda dengan bangunan tempat Akashi bekerja—di mana kesannya jauh lebih elegan dan menyenangkan, walaupun cenderung memicu perasaan canggung—gedung ini lebih menampakkan kesan yang dingin dan intimidatif. Didominasi dengan warna biru kusam dan abu-abu gelap, tulisan 'Kantor Polisi Ikeburo' terpampang jelas di langit-langit pintu masuk.

Setelah memastikan bahwa dasinya tepat berada di tengah, ia memantapkan diri untuk memasuki bangunan tersebut. Yang terjadi, terjadilah.

Suara pertama yang menyapa pendengaran ketika ia berada di dalam kantor adalah dering telepon. Rasanya seluruh Jepang tengah berebut menelepon kantor ini, sehingga petugas kepoisian harus bolak-balik mengangkat telepon—mendorong kursi beroda dari satu meja ke meja yang lain, dan mengcapkan baris-baris kalimat yang, tentu saja, sudah dilatih ("Selamat siang, Anda sedang berbicara dengan Kantor Polisi Ikeburo. Ada yang bisa kami bantu?"). Ada puluhan polisi dengan seragam dan atribut yang kurang lebih sama, menghindikasikan bahwa mayoritas petugas di ruangan itu adalah pekerja kelas menengah. Tentu saja Levi dan timnya tidak ditempatkan di sini.

Mata Akashi cukup tajam untuk menemukan jalur yang aman untuk menuju ke ruang interogasi. Beruntung ia telah mempelajari denah pemberian mata-matanya, sehingga ia mengenal area ini sebaik para petugas yang sudah tahunan bekerja di kantor ini. Dengan akting yang luar biasa mengagumkan—seperti biasa, mampu membaurkan diri dengan orang-orang di sekitar adalah keahlian Akashi—ia berhasil melewati petugas keamanan dengan baik.

Ia mau tidak mau mengumbar senyum meremehkan. Ternyata menjebol keamanan di Ikeburo jauh lebih mudah dari yang kukira. Kakinya otomatis bergerak melewati koridor sempit, menuruni tangga melingkar, dan tiba di lantai terdasar bangunan.

Berbeda dengan hiruk-pikuk yang terjadi di lantai atas, bagian ni begitu sepi. Dindingnya tidak dicat, sehingga mengekspos tekstur bebatuan abu-abu gelap yang semakin menekankan aura mencekam. Akashi menghirup udara di sekitar dalam-dalam. Udaranya dingin, bahkan tanpa eksistensi pendingin ruangan. Satu-satunya menjadi

Dari balik pintu, suara-suara mereka begitu jelas dengan bantuan alat bantu dengar. Akashi berusaha mendengarkan tanpa terlihat seperti penguntit—beruntung sekali tidak ada alat dokumentasi apapun yang dapat merekam eksistensinya saat itu. Punggung disandarkan di dinding, dengan kedua tangan saling berlipat.

"Aku akan menunjukkan beberapa lembar foto, dan kau bisa menyatakan apakah kau mengenal sosok di dalam foto itu atau tidak," kata suara bariton. Vibrasi suara itu berhasil membuat otot-otot tubuh Akashi mengejang. Darahnya berdesir begitu cepat. "Kau bisa menggunakan hakmu untuk diam kalau mau."

Tidak salah lagi, itu suara Levi. Hanya mendengar laki-laki itu bicara saja sudah menaikkan adrenalin Akashi.

Mata dipejamkan kuat-kuat. Ia menggeleng sekali. Fokus, Akashi. Sekarang bukan saatnya merasa senang. Ia kembali memusatkan pendengaran pada interaksi di dalam ruang interogasi.

Penelitian mereka sudah sejauh itu. Levi pasti sudah mengumpulkan informasi tentang gadis-gadis yang dibunuh oleh Aomine—dan memojokkan si tersangka perlahan-lahan. Kemampuan investigasi kakaknya memang luar biasa. Akashi mau tidak mau ikut mendengus ketika mendengar tawa Aomine menggaung di saentaro ruangan. Kentara sekali kalau laki-laki itu belum memahami kemampuan Levi.

"Kalian ini percaya diri sekali, ya," katanya congkak. "Baiklah. Aku akan bilang kalau aku memang mengenali perempuan-perempuan itu."

Sejauh ini, semuanya beres. Aomine sudah diingatkan untuk berlaku sewajar mungkin, sehingga tidak ada tuduhan yang mampu disematkan padanya. Ruangan menjadi sepi setelah itu. Dugaan Akashi, sang klien tengah mengamati foto satu demi satu.

Yang didengarnya hanya gumam samar Aomine ketika berujar, "Dia cantik juga."

Gigi-gigi Akashi menggeretak gemas. Daiki, tidakkah kamu tahu kalau kau menggali kuburmu sendiri?

Sekalipun Akashi tidak peduli kalau Aomine ujung-ujungnya berada di balik jeruji besi, ia tetap hati-hati memperlakukan tiap kliennya. Ia sudah memberi mereka kata-kata apa saja yang tabu diucapkan ketika berada di meja pengadilan—atau dihadapkan pada pihak interogasi.

Sayang, Aomine tampaknya lebih memprioritaskan urusan seksualnya ketimbang peraturan tak tertulis tersebut. Sudah terlambat untuk mencegahnya sekarang.

Tanpa melihat pun Akashi tahu—Levi sudah menciptakan dugaan berikut argumen yang kuat bahwa Aomine-lah pelaku pembunuhan berantai itu.

Pembicaraan berikutnya sulit ditangkap pendengaran. Tampaknya terjadi gangguan sinyal atau semacamnya—karena ruangan ini cukup jauh dari tower sambungan pusat (dan, ya, semestinya ruangan ini absen dari eksistensi gawai). Levi bicara dengan nada yang begitu rendah, tampaknya menggumamkan argumen demi argumen. Demi apapun, Akashi penasaran ingin mendengar. Ia ingin tahu sejauh mana kecerdasan sang kakak.

Tapi ia berusaha sabar. Bukan saat yang tepat kalau ia masuk sekarang. Selama Aomine masih bisa menangani semuanya dengan baik, makai a tidak perlu terlibat.

"Tapi aku tahu kalau kau tidak bekerja sendirian," suara Levi akhirnya kembali menembus pendengaran dengan baik. "Ada seseorang yang bergerak denganmu, tapi di belakang."

Jantung Akashi serasa berhenti selama beberapa detik setelahnya.

"Dan aku penasaran—siapa orang yang berada di balik tindakanmu ini." Secara imajiner ia bisa memvisualisasikan sudut-sudut bibir Levi terangkat, walau hanya sedikit. "Kau boleh saja menggunakan hakmu untuk diam, tapi bukan berarti aku berhenti menginterogasimu."

Suara Aomine kali ini terdengar tegang. "Tidak ada orang lain."

"Tapi kelihatannya tidak begitu. Pekerjaan ini terlalu rapi—sehingga kesannya mencurigakan," bantah Levi.

"Itu karena aku selalu bekerja dengan sempurna. Aku melakukan semuanya sendiri."

Di satu sisi, Akashi ingin memuji kemampuannya menangani praduga itu—tapi kenapa di sisi lain ia begitu ingin membantah? Ialah yang sempurna, bukan Aomine. Pria itu hanya boneka, bukan pemeran utama dalam alur ini. Kalimat yang ia dengar barusan terkesan seperti keinginan tersirat Aomine untuk merebut lampu sorot itu darinya.

"Kau boleh bicara dengan gaya seperti itu, tetap saja aku tahu kalau kau bohong." Levi berujar bosan. "Terus terang saja. Siapa yang menyuruhmu?"

Ah, Levi tampaknya tengah menarik tuas yang keliru. Bicara soal suruh-menyuruh—Aomine hanya bersedia berada di posisi 'menyuruh'. Mana sudi ia diperintah-perintah.

Akashi sadar ia harus segera menetralisir suasana. Tangannya yang berkeringat dingin sudah menggenggam pemutar pintu.

"Sudah kubilang, kan?" suara Aomine meninggi. "Tidak. Ada. Yang. Menyuruhku. Tidak ada orang di belakangku! Aku—"

Oke, sudah cukup. Tanpa berpikir lagi, ia langsung membuka pintu, berujar tepat ketika Aomine hampir mengamuk. "Cukup sampai di sini."

Aomine tersedak ludah sendiri. Eren Jaeger begitu cepat memutar wajah. Iris gelap Levi menyipit. Ah, Akashi tidak menyukai tatapan itu. Tatapan yang begitu asing—berbeda dengan apa yang dulu ia lihat. Levi—bukan—Levi yang ia kenal sangat ramah padanya, walaupun sering acuh tak acuh. Sorot matanya selalu lembut, tidak dingin dan kaku seperti sekarang. Tidak ada sama sekali tanda-tanda bahwa sang kakak mengenalinya.

Akashi menarik napas sekai. Berada di ruangan interogasi untuk pertama kalinya jelas bukan sesuatu yang menyenangkan. Ruangan ini didesain sedemikian rupa untuk menciptakan ketidaknyamanan dan perasaan tidak berdaya dari pihak tersangka, sebuah tatanan psikologis yang mampu membuat mereka terpaksa mengaku.

Tapi Akashi, lebih dari siapapun di ruangan itu, tahu—Aomine tidak menyukai perasaan tidak berdaya itu. Alih-alih terdesak mengaku, dia akan berusaha sekuat tenaga menjebol batasan-batasan yang digunakan untuk mengekangnya. Karena itulah, ia harus campur tangan.

"Aku minta maaf karena mengganggu prosedur interogasi kalian," Akashi memaksakan senyum ramah, selagi membungkuk sedikit. "Tapi kurasa aku harus sedikit mendinginkan suasana. Amukan klienku—" ia melirik ke arah Aomine, yang buru-buru membuang muka. "—terdengar sampai di luar. Aku jadi khawatir sendiri."

"Klienmu?" Eren mengulang heran.

"Maaf karena aku tidak memperkenalkan diri sebelumnya." Senyumnya masih menggantung. "Panggil saja aku Akashi. Aku menjadi pengacara Aomine Daiki untuk kasus ini."

Levi masih menatapnya lurus-lurus, berusaha menembus benak sang pengacara.

"Mumpung aku sudah ada di sini, bagaimana kalau kita sekalian saling meluruskan perkara yang ada?" tawar Akashi ramah. "Kurasa ada sedikit kesalahpahaman di sini."

Aomine adalah orang pertama yang membuka mulut. Emosinya masih panas ketika berujar, "Tapi—"

"Daiki sendiri tidak ingin dijatuhi tuduhan yang keliru, kan?" satu tangan mendarat di pundak Aomine, meremasnya dengan lembut. "Sekalipun dia adalah tersangka, bukannya lebih baik kalau kita menerapkan prinsip 'saling menghargai'?"

Levi diam-diam mendengus, seolah berpikir kalau saran Akashi adalah sebuah omong kosong. Sekalipun begitu, dia mengangguk. Matanya sedikit melirik ke arah Eren, memberi sinyal bagi agen polisi itu untuk ambil alih.

Memahami sinyal itu, Eren mengangguk. Ia berdeham sekali. "Baiklah. Aomine-san, kau ditemukan berada di apartemen Momoi Satsuki hari ini, pukul 12.35 siang. Anda dituduh sebagai pembunuh Momoi Satsuki, merangkap pelaku pembunuhan berantai—"

"Aku tidak melakukannya," ujar Aomine. Suaranya jauh berbeda dengan tadi. Tenang dan dalam. "Aku seorang eksekutif di perusahaan besar. Mana mungkin aku melakukan hal serendah itu?"

Akashi menatap Levi dengan ekspresi yang sama tenangnya, namun sarat dengan rasa menang.

Eren membelalak. "Tidak. Tadi kau sama sekali tidak bilang begitu. Kau hanya menyanggah kenyataan kalau kau bekerja dengan orang lain—"

"Sudah kubilang," Aomine menghela napas. "Bukan aku pelakunya."

Alis Levi naik sampai tertutup poni. Mata Eren sampai membola, begitu juga mulutnya. Jelas, keduanya bingung setengah mati—kenapa pengakuannya bisa kontradiktif sekali?

"Apa bisa disimpulkan kalau penangkapan ini terjadi karena ketidakcocokan waktu dan situasi?" simpul Akashi. "Ah, apa kalian punya argumen lain?"

Ia tahu kalau mereka tidak menyelundupkan alat rekam apapun. Bahkan bukti dokumentasi dari CCTV tidak cukup untuk memojokkan Aomine. Sejauh ini, semuanya aman.

"Sebentar lagi aku harus pergi," Aomine memecah keheningan yang dingin itu. "Bagaimana kalau aku menyerahkan semuanya padamu, Akashi?"

Genggaman di pundak sang klien mengendur. Akashi mengangguk. "Serahkan saja padaku."

Barangkali, situasi ini terlalu mengejutkan bagi pihak lawan, sampai-sampai untuk mencegah perginya Aomine pun mereka tak biasa. Eren terpaku di tempat, masih dengan mulut terbuka. Di sebelahnya, Levi—entah kenapa bisa terlihat begitu tenang—membuka pembicaraan, "Yang berhak memberi izin tersangka untuk keluar adalah kami. Bukan kau."

"Oh," Akashi pura-pura memasang ekspresi terkejut. "Kukira tidak ada bedanya—karena aku sendiri berperan sebagai 'wali' dari Aomine Daiki. Apapun yang ingin kalian tanyakan tentang dia, tanya saja padaku."

"Tetap saja, komunikasi dengan pihak tersangka secara langsung itu penting," tukas Levi. "Kau pura-pura tidak tahu—atau memang otakmu hanya penuh muslihat?"

Sudah bertahun-tahun kita berpisah, dan inikah ucapan 'halo' untukku?

Sakit, tapi tidak berdarah. Luka yang tidak tampak itu menggores begitu dalam. Seandainya Akashi tidak cukup profesional untuk menangani masalah, ia pasti sudah mengamuk di tempat—sama halnya dengan yang dilakukan Aomine beberapa menit sebelumnya.

"Aku hanya merasa kalau memancing emosi Daiki tidak akan menguntungkan kalian." Tarik napas, Sei. Kau tidak boleh kalah. "Dia adalah klienku yang sangat temperamental, dan seringkali kehilangan akal sehatnya. Kukira kejadian seperti tadi bukan sesuatu yang ingin kalian ulangi."

Eren Jaeger—sekalipun ketakutan—mengangguk setuju. "Mendapat informasi dari orang yang marah-marah sama saja menguak lebih banyak ketidakbenaran. Kurasa—lebih baik langsung berdiskusi dengan pengacaranya saja."

Ucapan itu dihadiahi oleh tatapan tajam Levi. Perasaan lega sedikit menyusupi Akashi ketika tahu bahwa bukan cuma dia yang diperlakukan tidak menyenangkan. Bukan hanya Akashi yang dikata-katai dengan nada ketus, karena setelah itu Levi berujar, "Kau ini betulan polisi atau bukan, sih? Pelaku—mau setemperamen apapun—adalah aset interogasi utama."

Lirikan mata Eren seolah berujar, aku tahu kau ini jenius, tapi tidak usah menjelek-jelekkan aku juga, kan?

"Maafkan aku yang seenaknya saja." Menekan ego sedemikian rupa, Akashi membungkukkan badan. "Sekiranya kalian tidak nyaman dengan situasi ini, aku akan membujuk Daiki untuk mengikuti interogasi yang kedua. Kali ini izinkan aku mendampinginya dari awal sampai akhir."

"Begitu lebih baik." Levi langsung menyetujui. Tangannya sigap meraih berkas-berkas dokumen. "Kalau begitu, sudah tidak ada gunanya lagi kita berada di sini. Eren, ikut aku."

"Ah, baik."

Begitu saja, tanpa basa-basi, mereka saling mengangguk, lalu melewati Akashi yang terpaku di tempat begitu saja.

"Sebentar."

Tak disangka-sangka, sang profiler berhenti melangkah. Ia memutar tubuh dan menatap Akashi tanpa ekspresi. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Laki-laki itu balas menatap. Apa dia sudah sadar—atau dia mencurigai hal lain? Tidak ada kata-kata terucap di sana selain senyum tipis di wajah. "Menurutmu?"

"Aku yang bertanya." Ia menatap tajam.

Memaksa Levi ingat sudah jelas adalah hal yang mustahil–setidaknya untuk saat ini. Lelaki berambut merah hanya memiringkan wajah. Senyum itu masih ada di sana ketika ia berkata, "Mungkin. Di tempat lain, atau di waktu yang berbeda, barangkali, kita pernah bertemu."—aku adikmu yang hilang itu. Masa kau sama sekali tidak mengenaliku?

Wajah itu masih kaku. Levi memutar otak, berusaha mengingat. Kontak mata antara keduanya terjadi cukup lama—sebuah keheningan yang berhasil membuat Akashi meneguk ludah. Ia menautkan alis ketika tidak sesosokpun bayangan bisa merujuk pada pria di hadapan. "Aku tidak ingat," jawabnya tegas.

Apabila Akashi tidak hadir dalam ingatannya, berarti otak Levi sengaja membuang eksistensi si pria dari memori–dengan kata lain, si rambut merah bukan orang yang penting. Sama seperti lembaran bon yang selalu dibuang di bak sampah setelah diremas, atau debu di sudut-sudut raknya. Mereka hadir untuk disingkirkan, bukan untuk dikenang.

Jadi begitu. Ia menahan helaan napas yang berpotensi membawa rasa sakit berlebih di dada. Dia sengaja membuangku, lalu menyingkirkanku dari memorinya begitu saja.

Sorot mata lelaki itu menggelap. Hanya sepersekian detik sebelum ia kembali mengulas senyum. "Begitu." Ujarnya ramah. "Maaf sudah membuang waktumu yang berharga."

Apakah hanya Levi yang terlalu berprasangka, atau pria di hadapannya terlihat kecewa?

Mereka saling mengangguk. Enggan membungkuk–tidak mau terlihat lebih rendah dari yang lain–lalu berjalan ke arah yang berlawanan.

Levi tidak menyadari kalau sepasang mata itu terpancang ke arahnya sesaat. Ada ekspresi sarat luka di balik kilat kemerahan itu. Akashi terus menatap punggung Levi sampai laki-laki itu menghilang. Energi-energi yang selama ini tersimpan perlahan-lahan mendesak keluar, memanas, lalu merangkak di sela-sela pelupuk mata.

Seandainya ia masih berusia lima tahun, tangis itu bisa saja keluar. Dia bisa langsung melompat ke arah Levi, berteriak "oniisan!" seperti biasa, dan membujuk sang kakak untuk tidak pergi dari sisinya.

Tapi itu dulu. Sekarang, semuanya sudah berbeda. Selama ini, Akashi hidup dalam kepalsuan dan manipulasi. Mungkin, kenyataan pahit yang ia terima saat ini adalah karma yang harus ia ambil.

Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Sosok Levi tidak lagi terlihat. Lepas dari dadanya yang serasa mau meledak, dan bagaimana tubuhnya ingin melepas tremor ini, ia hanya bisa membisikkan kata-kata penguat untuk diri sendiri.

Mungkin lebih baik begini.