Chapter 4

Desclamier : Naruto punya paman Masashi Kisimoto

Pairing : SasuHina slight GaaHina dan temukan sendiri

Warning : OOC, AU,typo (always) dll

Dont like, dont read

.

.

.

-Butuh semenit saja untuk jatuh cinta pada seseorang. Sejam untuk benar-benar menyukainya, dan sehari untuk mencintainya. Namun butuh seumur hidup untuk melupakannya- (Hinata)

Suasana menjadi sangat hening. Dan Hinata menjadi sangat terganggu dengan kondisi seperti ini. Mereka dalam perjalanan pulang menuju kediaman Hinata. Sasuke mengantar Hinata pulang. Sebenarnya Hinata sudah menolak beberapa kali keinginan Sasuke untuk mengantarnya, mengingat kondisi Sasuke yang begitu pucat beberapa jam yang lalu karena kelelahan berlatih musik. Hinata ingin Sasuke beristirahat. Sebagai seorang manager tentu menjadi tanggungjawabnya jika artisnya sakit. Dan Hinata tidak ingin dicap sebagai manager yang tidak peduli terhadap artisnya apalagi artis yang kini sedang Hinata tangani adalah artis yang sedang naik daun. Tapi sekuat apapun Hinata mencoba, ia tetap kalah dengan Sasuke. Sasuke tetep bersikukuh ingin mengantarnya. Dan akhirnya dengan berat hati, Hinata mengakui kekalahannya dan bersedia diantar pulang.

Namun sejak Sasuke bangun hingga mengantarkannya pulang, Sasuke menjadi pendiam. Bukan Sasuke yang biasanya, yang sering menjahilinya. Beberapa jam ia bersama Sasuke, ia sudah mulai memahami bagaimana karakter seorang Sasuke. Pemuda berambut raven itu memang irit bicara. Bicara seperlunya saja. Kadang jika sudah bicara, perkataannya bisa sedingin es ataupun setajam pisau di dapurnya. Dan jika moodnya sedang baik, ia akan menggoda Hinata habis-habis hingga wajah chubbynya semerah tomat. Namun seirit apapun ia berbicara atau sedingin apapun tatapannya, Hinata tau bahwa saat ini semuanya berbeda. Sasuke menjadi berbeda. Ia berbeda sejak terakhir kalinya ia menanyikan lagu itu. Dan Hinata menjadi cemas akan hal itu. Beberapa kali Hinata melirik Sasuke melalui ekor matanya, berharap bahwa Sasuke baik-baik saja. Kenapa keadaan Sasuke seperti ini membuat hatinya menjadi sakit? Ia lebih memilih melihat Sasuke menjahilinya daripada harus melihat Sasuke seperti ini. Hinata lantas menggeleng-geleng kepalanya untuk mengusir kekhawatirannya yang berlebihan. Mengapa juga ia harus segitu perdulinya dengan Sasuke padahal jelas-jelas mereka tidak memiliki hubungan apapun. Hanya sebatas rekan kerja.

"Kenapa berhenti Sasuke-san?" Hinata bertanya ketika Sasuke menepikan mobilnya. Sasuke keluar dari mobilnya.

Hinata yang tidak mendapat jawaban dari Sasuke kemudian melepaskan seatbeltnya dan menyusul Sasuke.

Hinata tertegun saat menyadari bahwa mereka kini berada di pantai. Mungkin karena tadi ia sibuk memikirkan Sasuke jadinya ia tidak sadar bahwa Sasuke membawanya ke pantai terlebih dahulu sebelum mengantarnya pulang. Hinata melihat Sasuke duduk diantara batu-batu dan sedang mengarahkan pematik ke nikotin yang sedang di isapnya. Asap putih itu mengepul keluar dari mulutnya.

Hinata hanya duduk di samping Sasuke. Sasuke tau keberadaannya. Dan Hinata tidak ingin bertanya terlalu jauh mengapa Sasuke seperti ini. Mungkin Sasuke tidak ingin menceritakan kepadanya tentang apa yang ia rasakan saat ini, dan Hinata tidak akan memaksa itu.

"Arigatou Sasuke-san" Ucap Hinata setelah mereka sampai di depan apartemen Hinata

"Hm" Hanya gumaman Sasuke yang Hinata dengar

"Kau tidak ingin masuk dulu?" Tawar Hinata. Sebenarnya Hinata sudah tau akan jawaban apa yang akan dilontarkan Sasuke, namun setidaknya berbasa-basi sedikit untuk mengurangi kecanggungan tidak menjadi masalah bukan

Tak kunjung mendapat jawaban, Hinata melanjutkan, "Kalau begitu aku turun ya" Hinata melepaskan seat beltnya. Belum sempat ia membuka pintu mobil, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Sasuke. Sasuke memeluk Hinata.

"Sasuke-san" Teriak Hinata ingin lepas dari pelukan Sasuke

"Sebentar saja, Hinata… aku mohon sebentar saja. Aku berjanji tidak akan macam-macam" Ucap Sasuke parau

"Tapi Sasuke-san"

"onegai…"

Hinata mulai mengendurkan perlawanannya dan melakukan seperti yang Sasuke pinta. Hampir 15 menit mereka berpelukan. Lagi-lagi jantung Hinata dibuat berdegub kencang gara-gara hal ini. Ia berdoa bahwa Sasuke tidak mendengar debaran jantungnya. Berada sedekat ini dengan Sasuke membuat Hinata bisa mencium aroma khas Sasuke. Aroma musk dan peppermintyang mulai Hinata suka. Pelukan Sasuke ternyata begitu hangat. Dan entah mengapa pelukan itu membuat Hinata nyaman. Tanpa sadar, tangan Hinata kini mulai mengusap lembut punggung Sasuke.

"Daijoubu" Ucap Hinata

Mendengar hal itu lantas membuat Sasuke mempererat pelukannya pada Hinata. Hinata tersentak kaget ketika merasakan bahwa pundaknya basah. Apakah Sasuke menangis?

"Arigatou" Ucap Sasuke melepaskan pelukannya. Sasuke sama sekali tidak ingin melihat wajah Hinata. Ia menatap lurus-lurus jalanan di depan apartemen Hinata. Kelakuan Sasuke jelas membuat Hinata yakin bahwa Sasuke tadi menangis. Hinata menjadi gemas melihatnya. Ternyata dibalik wajah cool seorang Sasuke, ia bisa juga menangis. Ingin sekali Hinata mencubit pipi Sasuke. Semua itu terlepas dari alasan apa yang membuat Sasuke menangis.

"Kalau begitu aku turun ya" Jawab Hinata

Hinata melihat mobil range rover milik Sasuke melaju di keheningan malam dengan kecepatan sedang.

Sasuke melaju dengan kecepatan sedang. Jalanan sudah sangat sepi dan hanya beberapa kendaraan saja yang bisa Sasuke hitung dengan jari saat kendaraan itu melewati mobilnya. Kaca mobilnya sengaja ia buka agar asap nikotin yang sedang ia hirup bercampur dengan udara luar. Dalam beberapa jam saja sudah 2 batang rokok yang sudah dihabiskannya. Sasuke sesekali meremas rambut ravennya. Ia merutuki aksi bodohnya tadi di depan Hinata. Bisa-bisanya ia tiba-tiba memeluk Hinata dan menangis di pundaknya. Ia berharap karena kejadian ini Hinata tidak menjauhinya. Sasuke sudah berusaha dengan sangat keras untuk bisa dekat dengan Hinata. Dan ia tidak ingin hanya dengan kejadian kecil seperti tadi membuat ia menjadi jauh lagi dengan Hinata. Ia tidak ingin. Ia lebih memilih untuk mati jika hal itu terjadi.

Hanya kerena Hinata, pondasi kokoh yang sudah ia bangun dengan susah payah hancur seketika. Hanya karena Hinata, Sasuke memperlihatkan sisih rapuhnya. Dan Sasuke kembali mengingat mengapa ia menjadi galau malam ini. Penyebabnya tidak jauh-jauh dari Hinata. Hanya Hinata yang bisa membuatnya seperti ini. Ya, penyebabnya karena lagu yang ia mainkan di depan Hinata. Lagu yang ia ciptakan sendiri. Lagu yang ia ciptakan tentang Hinata.

Tapi… ia sedikit bersyukur. Karena ke galau an malam ini ia bisa memeluk Hinata. Merasakan aroma lavender dari jarak dekat. Sasuke senyum-senyum sendiri mengingat moment yang menurutnya romantis itu. Malam ini ia harus berdoa, mengucapkan syukur dan terimakasih kepada Kami sama bahwa impian sejak SMA kini terwujud. Mimpi Sasuke tidak muluk-muluk. Memeluk Hinata walaupun hanya sebentar saja.

Sasuke berjanji tidak akan mau meninggalkan Hinata untuk kedua kalinya. Walaupun kini Hinata melupakannya, itu tidak menjadi halangan buatnya. Malah ia bersyukur. Karena dengan begitu ia bisa memulai dari awal bersama Hinata lagi tanpa embel-embel masa lalu.

Sepatu hak 7 cm milik Ino menggema di koridor menuju ruang latihan Konoha band. Ino berlari secepat yang ia bisa. Ia harus segera memberitahu Naruto dan Sasuke tentang hal ini sebelum semuanya terlambat. Darahnya sudah diubun-ubun. Ia sangat marah dan sempat mencak-mencak kemudian mengeluarkan sumpah serapahnya ketika tau bahwa client yang mereka tangani selama ini adalah pemuda busuk yang paling Ino benci. Dan sayangnya, pemuda busuk itu salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan ini. Terkadang takdir memang selucu itu.

"Naruto…Sasuke" Panggil Ino saat tiba di pintu ruang latihan. Nafasnya tersengal-sengal

"Ada yang harus ku—" Nafas Ino tercekat ketika melihat Hinata sudah berada di ruangan itu. Ino merasa menjadi orang bodoh sedunia. Bisa-bisanya ia tidak menelpon Hinata terlebih dahulu untuk menyuruhnya pergi ke ruangan lain untuk memperlambat waktu. Kini semuanya menjadi kacau. Nasi sudah menjadi bubur.

Sasuke dan Naruto hanya memasang muka datar, sedangkan Hinata bertanya-tanya. Untunglah di ruangan itu baru hanya ada mereka berempat sedangkan personil yang lain belum datang.

Ino menggigit bibirnya. Ia harus mencari cara agar Hinata bisa pergi dari sini tanpa menimbulkan kecurigaan apapun.

"Naruto… bisa ikut aku sebentar?" Tanya Ino sambil mengedikkan dagunya, mengisyaratkan Naruto untuk ikut keluar bersamanya

"Kenapa tidak bicara disini saja?" Tanya Hinata.

Pertanyaan Hinata sukses membuat Ino menegang. "Iya, kenapa tidak disini saja?" Naruto menimpali. Ingin rasanya Ino menjitak kepala bodoh milik pemuda bersurai kuning itu. Dasar Naruto ternyata ia tidak pernah peka sama sekali. Tidak cukup kah wajahnya yang tegang dan pucat ini menggambarkan situasi yang terjadi sekarang.

Belum sempat Ino berkilah, Sasuke melihat pemuda bersurai merah tiba-tiba datang dan berdiri disamping Ino. Ino dan Naruto seketika menjadi pucat pasi.

"WWOOYYY NARUTO, SASUKE"

Hinata ingin melihat orang yang menyapa Naruto dan Sasuke—posisi Hinata menghadap Sasuke dan membelakangi Ino. Namun tangannya kembali ditarik Sasuke dan membenamkan wajah Hinata ke dada bidangnya.

"Euuuuyyyy… aku datang kemari sengaja ingin bertemu dengan mu tapi kau malah sibuk bermesraan" Protes pemuda bersurai merah semerah darah itu.

Naruto diam seperti patung. Wajahnya sudah pucat pasi.

"Ino-chan… Ohisasibure desu ne" Pemuda itu menyapa Ino

Hinata yang mendengar langsung berusaha melepaskan pelukan yang dilakukan Sasuke terhadapnya. Sungguh ia malu sekali dengan situasi sekarang. Jika pemuda yang baru datang ini mengenal Ino maka secara tidak langsung maka ia juga mengenal Hinata. Apakah orang itu bos mereka? Jika benar, maka Hinata benar-benar tidak sopan jika tidak menyapa orang yang memberinya "makan" di tempat ini.

"Lepaskan aku Sasuke-san" Hinata berusaha dengan sekuat tenaga untuk memisahkan diri dengan Sasuke. Namun semakin kuat ia melawan, Sasuke semakin menekan kepala Hinata didada bidangnya dengan tangan kekar miliknya. Hinata benar-benar risih

"Aku menunggu kalian di atas, Sasuke, Naruto" Ujar pemuda itu kemudian melangkah pergi.

Ino hampir mati lemas menahan nafas saat ia menyadari bahwa pemuda yang paling ia benci berada dalam jarak yang sangat dekat dengan. Dadanya benar-benar bergemuruh. Beruntung Hinata tidak melihatnya. Ia harus mengucapkan terimakasih pada Sasuke kali ini.

"Hinata daijoubu?" Tanyanya saat melihat wajah Hinata memerah

Plakkk!

"SASUKE-SAN! Yang tadi benar-benar tidak sopan" Dada Hinata naik turun menahan amarah.

Ino dan Naruto hanya bisa diam melihat pipi putih Sasuke kini berubah warna.

"Ada apa ini?" Sai dan Shikamaru yang baru datang langsung menyadari ketegangan yang terjadi

"Aku harus mengejar orang tadi! Aku harus menjelaskan yang terjadi, biar semua tidak salah paham" Ujar Hinata

"Jangan Hinata! Jangan" Ino menarik lengan Hinata saat gadis bersurai lavender itu hendak keluar ruangan

"Kenapa Ino chan? Dia pasti bos kita kan? Aaahh… mau taruh dimana wajahku" Hinata menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan kalau orang itu benar-benar bos mereka

"Tidak… dia bukan bos kita Hinata. Dia hanya kenalan ku dan kau tidak mengenalnya. Dia kenalan di desaku, kebetulan dia baru bekerja disini" Kilah Ino

Hinata lalu melirik Sasuke yang masih diam ditempatnya kemudian melirik Ino lagi.

"Oke… aku tidak akan mengejarnya"

Ino sumringah. "Karena formasi sudah lengkap, kalian sebaiknya segera berlatih. Acara akbarnya sebentar lagi" Ino bertepuk tangan memberi aba-aba

"Aku akan mempersiapkan segalanya" Ucap Hinata

Sasuke melihat Hinata yang mondar-mandir mempersiapkan segalanya tanpa melirik ke arahnya sekalipun. Pipinya masih perih, warna merah itu masih berbekas di wajahnya. Siluet tangan Hinata juga. Seperih apapun rasa dipipinya, tidak lebih perih daripada diabaikan oleh Hinata. Ia tidak menjahili Hinata. Tidak bisa melihat pipi chubby itu menggembung seperti ikan kembung. Dan lagi-lagi moodnya langsung berubah drastis. Tiba-tiba ia tidak suka latian musik, tiba-tiba latian musik menjadi sangat membosankan. Waktu berjalan seperti siput. Dan sepanjang hari ini Hinata mendiamkannya. Mungkin ini harga yang harus dibayar Sasuke. Harga yang setimpal untuk pengorbanannya agar Hinata tidak melihat Sasori. Karena agar mendapatkan hasil yang sempurna harus mengorbankan yang terbaik juga kan?

Sasuke berlari sepanjang koridor untuk mengejar Hinata. Ia ingin minta maaf soal kejadian tadi siang. Didiamkan selama berjam-jam oleh Hinata membuatnya frustasi. Ia seperti orang kesurupan mencari Hinata, namun tak kunjung juga ia menemukan gadis bertubuh mungil itu.

Senyum Sasuke mengembang ketika ia sudah menemukan gadis pujaannya. Namun senyum itu mendadak berubah menjadi amarah. Rahang Sasuke kini mengeras, ia mengepalkan kedua tangannya. Jantungnya berdegub dengan kencang. Ia kemudian berlari ke arah Hinata. Hatinya sakit melihat Hinata saat ini. Ia ingin memeluk Hinata.

Tuhan apakah belum cukup kau memberikan luka buat Hinata? Mengapa luka yang belum kering itu disayat lagi?

Sasuke berlari secepat yang ia bisa. Seapik mungkin, sebaik mungkin, semaksimal mungkin Sasuke berusaha agar Hinata tidak pernah bertemu dengan pemuda itu lagi, Sasori. Namun sepertinya takdir berkata lain. Sekeras apapun Sasuke berusaha, toh juga ia tidak bisa melawan takdir. Sebaik apapun Sasuke bersandiwara, waktu tetap menjadi actor yang terbaik. Beberapa jam yang lalu ia berhasil menyelamatkan Hinata. Namun tidak kali ini.

Di ujung lift Hinata bertemu dengan Sasori.

Di ujung lift Sasuke melihat wajah Hinata yang menegang.

Di ujung lift Sasuke melihat tubuh Hinata yang bergetar.

Dan… dari ujung lift sana perjuangan Sasuke akan lebih berat dari sebelumnya.

"HINATA…" Sasori memanggil nama itu dengan tatapan tak percaya

TBC

Mohon maafkan daku hingga chapter 4 ini ceritanya masih belum jelas. Maafkan daku yang alurnya lambat bahkan sangat lambat. Maafkan ilaa sampai chap segini cerita utamanya belum kelihatan juga.

Akhir kata, maukah kalian me review cerita pasaran ini? Review kalian adalah semangat ku..

Mampir ke watty ku yuk… id nya (RyeoNae)

#kiss jauh