Review last chapter :

littlecupcake noona : terimakAsih koreksinya, sebenarnya Masi berarti Kuda, Heechul sering memanggilnya begitu.

Kim YeHyun : memang rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau *lah…apa hubungannya?

RaraRyanFujoshiSN : Siwon memang terlalu pemalu untuk mengakuinya..dan Hyukjae…mereka memang ditakdirkan bersama.

peachpetals : aaaaawwww aku juga blushing membaca komen darimu…terimakasih dukungannya, semoga tidak bosan

hani107 : aaaawwww….kamu juga manis..terimakasih reviewnya

Hitsuru :setujuuu! *angkat tangan sambil jingkrak2…jaewook mengingatkan pada Heechul

Guest : HaeHyuk?Eunhae?tenang…mereka saling melengkapi. Mereka bisa berubah dari Haehyuk menjadi Eunhae dalam waktu 3 menit..apa kamu bingung dengan jawabanku?karena aku juga bingung

TutupBotol : Siwon berkata :YAK! Jangan suka menuduh orang…AKU TIDAK CEMBURU; Heechul berkata : Honey,,,,kamu memang pencemburu; Eunhae : Mereka itu sebenarnya saling mencemburui satu sama lain; SiChul : DIAM EUNHAE! ; Readers : authornya gila…..

.

.

.

Chapter 4 : Just Kiss

"Hyung…..kenapa kau kembali lagi? Apa ada yang tertinggal?"tanya Hyukjae yang melihat Heechul memasuki toko setelah 2 jam yang lalu dia pulang karena memang jam kerjanya hanya sampai jam 4.

"Aku bosan di rumah, jadi aku memutuskan untuk ke sini saja. Selain itu aku mau mengajak kalian ke bar Shindong setelah pulang kerja,"Heechul mendudukkan dirinya di kursi kerja Siwon karena pemiliknya sedang tidak menempati. Heechul mengitarkan pandangan mencari sosok pemilik kursi yang didudukinya namun hanya melihat Donghae yang membersihkan meja di lantai 2. "Kemana Siwon?"tanyanya kemudian.

"Seorang lelaki menjemputnya dan dia pergi dengan wajah sedikit menahan marah,"

"Seorang lelaki?"

"Iya, dia memanggilnya ahjussi. Memakai jas dan berbadan tegap. Kau mengenalnya,"

"Tidak,"Heechul mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan text kepada seseorang.

To : Masi

From : Lady Hee

Kau dimana Masi? Meninggalkan toko tanpa penjaga. Mau toko dirampok ha?

"Hyung, kau disini? Sudah lama?"tanya Donghae yang menuruni tangga. Dia menaruh botol pembersih meja di meja bundar di dekat pintu dapur kemudian berjalan mendekatinya dan berdiri disamping Hyukjae.

"Tidak. Baru saja datang. Sepulang kerja ayo kita minum di bar Shindong,"kata Heechul.

"Okay. Apa kita menunggu Siwon? Atau langsung kita tutup saja,"tanya Hyukjae sambil menyandarkan tangannya di bahu Donghae.

"Kita tunggu sampai jam 9. Jika Siwon tidak datang kita tutup saja. Aku sudah mengirimnya pesan, namun belum dibalas,"kata Heechul.

"Apa Siwon~shi baik – baik saja, hyukkie?"tanya Donghae. "Aku melihat dari atas, tadi Siwon ~ shi sempat marah – marah kepada ahjussi yang membawanya itu. Apa dia ayahnya Siwon ~ shi?"

"Aku juga tidak tahu Donghae,"kata Hyukjae sambil mengelus pipi Donghae dengan punggung jarinya. "Apa kau pernah bertemu dengan ayahnya hyung?"

"Tidak. Tapi aku pernah bicara dengan ibunya di telepon,"

"Wuaahh…ibunya meneleponmu hyung?"mata Hyukjae membulat tak percaya.

"Yak…ibunya meneleponnya dan karena dia sedang tidak ada, maka aku mengangkatkan teleponnya,"

"Aaahh… aku kira ibunya menelponmu,"

"Oh ya Hyung, tadi sepulangmu, Kibum hyung meneloponku, menanyakan kabarmu. Aku mengatakan padanya aku belum bertemu denganmu,"

"Kenapa kau berbohong padanya Donghae? Aku bertemu dengannya beberapa bulan lalu di Busan, kami sempat bertukar nomor telepon namun sayang ponselku hilang diperjalanan kembali ke Seoul,"

Donghae menampakkan wajah terkejut. "Hyung…Kibum Hyung sekarang menjadi tangan kanan Tuan Han,"pernyataan datar Donghae membuat Heechul terkejut. Tapi kemudian dia tersenyum tenang kembali.

"Memangnya apa yang akan dilakukan Han kepadaku Donghae, Han toh sudah menikah dan hidup bahagia dengan istrinya,"

Donghae memandang datar Heechul yang tertunduk tidak memandangnya sibuk memainkan gantungan kunci mobilnya. "Tapi Henri mengabarkan padaku, bahwa mereka sedang dalam proses perceraian,"

.

Siwon duduk dengan muka datar di samping kanan ayahnya. Disebelahnya duduk ibunya dengan muka yang selalu tampak tersenyum apapun yang menimpa dirinya. Di seberang Siwon, duduk istri sah ayahnya dan anak perempuan satu – satunya dari ayahnya dengan istri sahnya atau ibu tirinya. Makan malam kali ini berbeda, karena Tn Choi mengundang serta keluarga besarnya. Siwon merasa tidak nyaman dengan kondisi itu, karena kehadirannya belum diakui sepenuhnya oleh keluarga besar Choi, terutama adik dari ayahnya dan juga kakak dari ibu tirinya yang tinggal satu rumah dengan ayahnya.

"Bagaimana usaha tokomu Siwon? Apa berjalan baik?"tanya ayahnya.

"Ya, aku bersyukur, toko semakin ramai dan mempunyai respon baik,"

"Kenapa kau tidak mencoba membuka gerai di mall kita?"tanya Choi GuRa, kakak tertua ayahnya.

"Uangku belum cukup untuk membuka satu gerai disana paman. Lagipula, kami masih baru, dan belum memiliki manajemen yang baik untuk membuka cabang gerai,"

"Ayolah, kau bisa meminta ayahmu untuk melakukannya,"kata Choi SoMan adik ayah Siwon dengan nada sinis. Matanya memandang ke arah Song Yoona, kakak ibu tirinya seolah meminta dukungan dengan apa yang dikatakannya. Seketika Siwon menghentikan gerakan makannya namun kemudian mengukir senyuman dibibirnya ketika dirasakan tangan halus ibunya menyentuh pahanya dibawah meja.

"Siwon bersikeras untuk tidak menerima bantuan apapun dariku. Toko itu dibukanya sendiri dengan tabungannya,"kata ayahnya membela Siwon seolah mengerti bahwa anaknya merasa tersinggung dengan ucapan pamannya. "Tapi nak, aku khawatir, kau harus meninggalkan bisnismu itu, karena aku membutuhkanmu untuk sesuatu yang lebih besar,"

Siwon mengangkat wajahnya dengan cepat, memandang tepat di wajah ayahnya.

"Apa maksudmu Hyung?"

"Aku ingin Siwon mulai belajar tentang manajemen perusahaan kita, karena mau tidak mau kelak dialah yang akan meneruskan perusahaan ini,"

"Yoebo,"

"APA?!"

Semua yang hadir disitu tak terkecuali Siwon kaget dengan pernyataan Tn Choi. Tn. Choi mengerti, bahwa keputusannya akan mendapat tentangan dari banyak pihak termasuk istri sahnya yang sebenarnya juga telah memberinya 1 anak perempuan. Ny Choi memang tidak menolak kehadiran Siwon di tengah keluarga besar Choi, karena bagaimanpun juga, Siwon adalah darah daging dari suaminya dari seseorang yang dicintainya. Bahkan istrinya juga menerima ketika ibu Siwon juga ikut makan malam satu meja dengannya. Namun bagi istrinya, memberikan wewenang manajemen kepada Siwon masih belum bisa diterimanya.

"Tn Choi, apa keputusan ini tidak terlalu terburu buru? Siwon masih muda, dan dia masih belum dalam tahap diberi tanggungjawab sebesar itu,"kata ibu Siwon.

"Sudah aku bilang, jangan memnaggilku dengan Tuan," kata Tn. Choi. "Siwon sudah besar, dia harus mulai belajar tentang tanggung jawab. Dia harus belajar mulai sekarang, karena yang kelak dia pimpin bukanlah sekedar perusahaan keluarga kecil. Kau mengerti Siwon,"

"Hyung, anakmu bukan Siwon saja, Sulli adalah anakmu juga, dan SAH," kata So Man.

"Aku tahu, akan ada saatnya nanti dia juga bekerja di perusahaan, tapi sekarang dia harus meneruskan studynya. Bukan begitu Yoebo?"Tn Choi memandang ke arah istrinya.

Siwon mengerti dengan betul, kehadirannya adalah ancaman bagi pewaris Tn Choi kelak, siapapun dia yang akan menerimanya. Sulli, yang seharusnya menjadi anak tunggal Tn Choi, sekarang harus membagi harta yang seharusnya menjadi haknya seutuhnya dengan Siwon. So Man, adik satu – satunya Tn Choi, juga tentu saja merasa terancam dengan kehadiran Siwon, yang mungkin saja bisa mendepaknya dari pekerjaannya sebagai manager di salah satu perusahaan ayahnya dan juga berarti meninggalkan kehidupannya yang royal saat ini. Sedangkan Gu Ra, dia bukanlah orang yang terlalu berambisi seperti So Man. Dia bahkan mencintai Siwon seolah Siwon adalah anaknya sendiri. Dia bahkan mau mengadopsi Siwon, andai ayahnya tidak menginginkannya.

.

Siwon menuang sedikit anggur di gelasnya untuk yang kesekian kali dan meminumnya dalam sekali tegukan lalu mengisi gelasnya lagi. Sudah hampir satu jam dia duduk di sudut meja disebuah café disudut kota. Dia bertengkar dengan ayahnya malam ini. Acara makan malam kali ini terasa sangat salah baginya. Ayahnya bersikeras untuk menariknya ke dalam perusahaan miliknya, namun dia justru menolaknya dengan keras. Siwon tidak ingin kehilangan kebahagiaan yang sekarang dia raih. Saat ini dia sudah cukup bahagia, mempunyai orang tua yang lengkap dan mencintainya. Dia merasa cukup dengan apa yang diberi oleh ayahnya 13 tahun terakhir ini. Dia tidak ingin lebih. Menerima tawaran ayahnya hanya akan menambah panjang ketidaksenangan keluarga besar ayahnya kepada dirinya. Dia tidak suka ketika seseorang membencinya.

Untuk kesekian kalinya dia menuangkan wine ke gelasnya, hingga hampir menghabiskan setengah botol wine. Ini bukan menjadi kebiasaannya membiarkan dirinya dibawah pengaruh alcohol hingga benar – benar tidak sadarkan diri kemudian. Walaupun dia mengalami hal terburuk dalam hidupnya sekalipun, dia tidak akan membiarkan dirinya tidak sadar akan siapa dirinya. Kecuali beberapa saat lalu, saat dia terbangun di kamar Heechul tanpa menyadari apa yang terjadi malam harinya. Dia hanya mengingat malam sebelumnya adalah malam dimana ayahnya mengemukakan ide gila untuknya agar mulai bergabung dengan perusahaan ayahnya. Dia tahu akan dibawa ke mana ide ayahnya itu. Dia tidak sanggup membayangkannya. Tapi kali ini dia tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali. Dia ingin tetap tersadar, sampai nanti dia kembali ke apartemennya.

.

Music berdentum keras dari bar Shindong. Heechul, Hyukjae dan Donghae memilih duduk di meja di sudut bar. Hyukjae dan DOnghae turun ke lantai dansa dan mulai menunjukkan keseksian dance battle mereka, sementara Heechul hanya duduk di sofa, menikmati minumannya sambil sesekali mengamati temannya yang asyik bergoyang dan mendapat sorak sorai dari pengunjung. Heechul mengamati layar ponselnya namun masih tidak ada tanda – tanda balasan pesan dari Siwon. Dia bahkan tidak mengangkat teleponnya ketika dia meneleponnya beberapa saat yang lalu. Sepertinya Siwon sedang dalam suatu pertemuan penting dengan keluarganya sehingga tidak bisa mengangkat teleponnya.

"Heechullie…Prince Charming kita…tidak melantai huh?"sapa Shindong dan duduk di sebelahnya. Heechul menjabat tangannya dan tersenyum tipis. "Kau sendirian?"tanya Shindong lagi.

"Tidak. Aku bersama temanku?"

"Pendeta itu?"Heechul mengerutkan dahinya tidak mengerti siapa yang dimaksud Shindong. "Siwon,"

"Ahh…tidak. Aku bersama teman kerjaku yang lain,"Heechul memutar gelasnyakemudian menghisap sedikit isinya. Secepat kilat dia meraih ponselnya ketika ponselnya menyala. Seseorang meneleponnya. Dia membaca nama peneleponnya. Tuan Choi. Senyumnya mengembang seketika. Dia member tanda kepada Shindong dia hendak mengangkat telepon di luar.

"Siwon…aishh…kemana saja kau. Aku hampir saja akan menghapus no ponselmu jika kau tidak membalas juga pesanku. Katakana dimana kau sekarang,"Heechul berdiri di tangga di luar bar.

"Apa anda mengenal pemilik ponsel ini?"tanya seseorang diseberang. Suara yang asing baginya. Heechul melihat kembali layar ponselnya. Nama Siwon yang tertera disana.

"Yak…Kau siapa? Kenapa ponsel Siwon ada padamu?"

"Ah…Tuan, teman anda sedang dalam kondisi mabuk. Bisakah anda menjemputnya?"

Tanpa sadar mulut Heechul ternganga. "Mwo?"kata Heechul. Mabuk? Lagi?.

"Tuan..apa anda bisa menjemputnya sekarang?"

Heechul tersadar dari keterkejutannya. "Baiklah, berikan alamatnya,"

.

"Aku sudah meneleponnya berkali – kali Hyukkie, tapi kenapa hyung tidak mengangkatnya. Aish, kemana dia,"Donghae menekan kembali nomor Heechul. Kali ini suara mailbox yang terdengar. "Hyukkie, hyung mematikan hpnya, bagaimana ini?"Donghae terlihat panic ketika tidak mendapati Heechul di bar di tempat duduk mereka. Dia semakin panic ketika juga tidak mendapati Heechul berada di apartemennya juga. Donghae duduk gelisah di sofa sambil tidak berhenti memandangi layar ponselnya.

"Donghae, Heechul hyung sudah dewasa, dan kau juga dengar kan tadi Shindong shi berkata bahwa Heechul mengangkat telpon dari seseorang lalu pergi. Mungkin dia bersama temannya, atau mungkin Siwon meneleponnya,"kata Hyukjae sambil mengelus punggung Donghae mencoba menenangkannya. "Apa kau sudah mencoba menghubungi Siwon,"

Donghae hanya menggeleng. "Kita tahu Siwon~shi sama sekali tidak membalas text apalagi mengangkat telepon malam ini, jadi tidak mungkin Heechul hyung dihubungi olehnya,"

"Setidaknya cobalah,"Hyukjae bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dapur mengambil air minum dan berjalan kembali kea rah Donghae. Donghae kembali terlihat mendekatkan ponselnya ke telinganya.

"Ponsel Siwon~shi juga mati. Bagaimana ini Hyukkie, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan hyung?"

Hyukjae meletakkan gelasnya di meja dan meraih wajah Donghae. "Dengar Hae, Heechul hyung adalah orang dewasa yang bisa menjaga dirinya. Dia bahkan juga hidup sendirian ketika kau belum datang, dan dia baik – baik saja. Berhentilah mengkhawatirkannya Hae,"Donghae memandang wajahnya, menyimak setiap kata yang dikeluarkan mulutnya. Itu membuat Hyukjae semakin merasa gemas dengan orang yang duduk di hadapannya itu. tiba – tiba Hyukjae mencium Donghae sekilas tepat dibibirnya. Donghae terkaget dan memundurkan kepalanya dan menutup bibirnya dengan punggung tangan ketika menyadari apa yang berusan terjadi.

"Hyukkie!"

Hyukjae merasa menyesal dengan apa yang barusan dia lakukan. Dia menyesal tidak bisa menahan diri. Hyukjae menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Donghae. "Maaf, hae… aku hanya ingin mengalihkan kekhawatiranmu…"Hyukjae memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat reaksi Donghae.

Hyukjae tidak bisa melihat wajah Donghae dengan baik, karena wajah mereka terlalu dekat, bahkan sangat dekat sampai bibir mereka saling melekat. Donghae menarik wajahnya kembali dan tersenyum tersipu. Hyukkie memandang Donghae tidak berkedip. Jantungnya terasa berdetak kencang.

"Hae…."

Donghae kembali mendekatkan wajahnya ke arah Hyukjae dan menempelkan bibirnya. Kali ini Hyukjae membalas ciuman Donghae. Hyukjae mengulum bibir atas Donghae. Menjilat habis bibirnya kemudian menggigit pelan bibir bawah Donghae membuat Donghae mengerang membuka mulutnya dan memberi kesempatan Hyukjae memasukkan lidahnya ke rongga mulut Donghae. Donghae merasakan lidah Hyukjae menari di dalam mulutnya, menyentuh setiap sisi dinding mulutnya. Hyukjae menghisap lidahnyanya, membuat dia mengerang. Donghae merasa tubuhnya semakin terbakar setiap lidahnya tersentuh lidah Hyukjae. Tanganya kemudian bergerak menyentuh punggung Hyukjae. Hyukjae mengalungkan tangannya ke leher Donghae, menekan semakin dalam ciumannya. Perlahan dia membaringkan dirinya di sofa, tanpa sejenakpun melepaskan pagutan bibirnya di bibir Donghae.

.

Heechul mendudukkan Siwon di lantai sementara dia membuka pintu apartemen Siwon. Heechul kembali menarik tubuh Siwon agar bangkit dan memapahnya ke dalam kamar. Heechul menghempaskan tubuh Siwon di atas king – bed sizenya. Dia sendiri menjatuhkan dirinya sendiri berbaring disamping Siwon. Nafasnya terengah – engah, mukanya terlihat memerah. Heechul bangkit dari posisi berbaringnya setelah napasnya mulai sedikit normal. Dipandanginya Siwon yang diam tidak bergerak. Ini adalah kedua kalinya dia harus menjemput Siwon dalam kondisi hilang sadar seperti malam ini. Heechul melepaskan sepatu Siwon lalu kemudian melepas jaketnya juga. Heechul menyelipkan tangannya di bawah punggung Siwon untu menariknya lebih ke atas. Tentu saja dengan badan yang setipis itu dia kesulitan menarik badan Siwon yang 2 kali lebih besar darinya. Heechul menghempaskan begitu saja badan Siwon ketika merasa sudah memposisikan badan Siwon dengan benar. Tangannya terkunci dibawah punggung Siwon yang membuat wajahnya hanya berjarak 10cm dari wajah Siwon. Heechul tertegun memandang wajah Siwon yang masih tertidur dengan tenang. Terasa hembusan napas Siwon diwajahnya yang membuatnya sedkit merasa panas. Mata Heechul terpaku pada bibir Siwon yang sedikit terbuka. Siwon sama sekali tidak terganggu dengan kedekatan jarak mereka. Matanya tetap tertutup rapat. Heechul memperdekat jarak mereka, hingga bibir cherrynya bertemu dengan bibir Siwon. Heechul mengulum bibir Siwon dengan lembut, seolah tidak ingin Siwon terbangun. Perlahan dia menutup matanya, mengulum bibir Siwon, merasakan setiap jengkal kelembutan bibir Siwon. Napasnya semakin memburu ketika dirasakannya hembusan napas Siwon juga terasa semakin panas, walau sama sekali tidak ada reaksi balasan dari bibir Siwon. Heechul membuka matanya bersamaan dengan menghentikan ciumannya di bibir Siwon. Mata Siwon masih terpejam.

"Siwonnie, saranghae. Ada apa denganmu? Katakan padaku apa yang terjadi, agar setidaknya aku bisa sedikit membantumu. Jangan menderita sendirian,"gumam Heechul lalu menarik tangannya dari balik punggung Siwon dan bangkit dari duduknya. Heechul tersentak kaget, ketika dia merasakan sebuah tangan kokoh menarik tangannya. Dia memalingkan wajahnya ke arah Siwon. Siwon memandangnya dengan pandangan sedih.

"Heechul~ah, jangan pergi, aku mohon temani aku disini,"

Heechul membulatkan matanya seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Apa dia mengigau? Apa dia sadar dengan ucapannya? Apa ini hanya pengaruh alcohol?

"Jangan pergi Heechul,"

Heechul seolah tersadar dari keterkejutannya kembali duduk di pinggir tempat tidur. "Kenapa Wonnie? Ada apa denganmu?"

Tiba – tiba Siwon terisak, "JAngan pergi Heechul,"

"Yak, panggil aku hyung, aku lebih…"kata – katany terhenti oleh tarikan Siwon yang merengkuhnya ke pelukannya. Siwon memeluknya erat membuatnya sulit bernafas. "Ne,,,aku tidak akan kemana mana, lepaskan aku sekarang,"

Siwon melonggarkan pelukannya. "Peluk aku Heechul, aku tidak ingin sendiri,"bisik Siwon pelan.

Perlahan Heechul merambat naik ke tempat tidur, merebahkan diri disamping Siwon dan membawa kepala Siwon ke dadanya. Siwon meringkuk di pelukan Heechul, membiarkan dirinya menikmati kehangatan pelukan Heechul. Heechul menepuk – nepuk pelan punggungnya sampai dirasanya gerakan tubuh Siwon teratur menghembuskan napas, pertanda dia sudah tidur pulas. Dan dia pun tidak menyadari dia tertidur tak lama kemudian.

.

Siwon membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa pusing akibat alcohol semalam. Siwon merasa napasnya terhenti sejenak ketika mendapati wajah orang tertidur tepat dihadapannya. Ini pertama kalinya dia melihat wajah Heechul sedekat ini. Siwon memandanginya lekat. Matanya yang masih tertututup, hidungnya, kulitnya yang halus dan seputih susu dan bibirnya yang penuh dan berwarna merah. Bagaimana bisa Tuhan menciptakan wajah seorang pria seanggun dan secantik ini. Siwon menelan ludahnya. Jantungnya berdegup kencang. Tanpa sadar, tangannya merayap naik menyentuh matanya yang masih tertutup, menyusuri hidungnya dan mengelus bibir Heechul. Lembut, batinnya. Pelan Siwon mendekatkan kepalanya ke arah Heechul tanpa melepaskan pandangannya dari bibir cherry Heechul. Disentuhnya bibir Heechul dengan bibirnya. Siwon merasakan kelembutan bibir Heechul dan tak bisa berhenti untuk merasakannya. Debaran dadanya yang semakin keras. Siwon membuka mulutnya, mulai mengulum bibir bawah Heechul dengan lembut, sesekali lidahnya menyapu lembut candu barunya itu. siwon menutup perlahan matanya, dan ciuman yang dia rasakan semakin terasa memabukkan. Siwon menciumnya tanpa henti, hingga napasnya terasa berat dan dadanya berdebar semakin kencang. Siwon menarik kepalanya dengan napas yang terengah engah. Dia merasa seperti pertama kali berciuman. Perlahan dia membuka matanya. Jantungnya terasa berhenti berdetak ketika sepasang mata memandang tepat kekedua matanya.

.

.

TBC

Aku meminta maaf karena lambat mengupdate cerita ini karena ada sedikit kesibukan di kehidupan nyataku. Selain itu aku bukanlah penulis yang baik, karena masih sangat malas untuk menulis. Tapi aku berusaha dengan keras untuk menyelesaikan tulisanku ini.