Summary: Selama 28 tahun hidupnya, Sasuke selalu merasa ia akan menikah dengan seorang perempuan lembut seperti ibunya. Bayangan rumah tangga yang tenang, dengan istri penyayang dan penyabar. Tapi bayangan itu pupus. Saat dirinya sadar—wanita itu yang membuatnya gila! Seluruh sel dalam tubuhnya berteriak gila menginginkan wanita itu menjadi miliknya.

.

.

.

Tittle: She Is My True Love-SasufemNaru

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei

Inspirasi: Goddes of The Hunt—Tessa dare.

Story: Cnaru-chan Namiuzukage

Warning: NEWBIE, Romance garing, gender bender,

Bahasa sesuka author,OOC,Typo's,Gaje,DLL.

.

.

No word here from me. Just enjoy the story

.

Chapter 4: It's just a beginning

.

.

.

Ciuman yang memabukkan itu masih membekas di bibir Sasuke, entah setan apa yang menghinggapinya saat itu Ia juga tak mengerti. Hanya satu hal yang dia tahu. Naruto. Gadis itu telah membuatnya gila!

.

.

.

—Cnaru-chan Namiuzukage—

.

.

.

Malam ini seharusnya menjadi malam yang paling membahagiakan bagi Naruto. Pesta dansa yang diadakan oleh kakaknya khusus untuknya. Selama tiga hari penuh semua pelayan sibuk mendekorasi aula di ruang utama kediaman Namikaze. Aula yang megah dengan berbagai ornamen berwana putih yang dipadukan dengan warna merah muda di setiap sudutnya.

Lampu ruangan yang terpasang di langit-langit menambah keindahan aula Namikaze sekarang ini.

Dalam ruangan kamarnya. Berkutat dengan gaun berwarna hijau lembut. Seorang pelayan menata rambut dan seorang lagi memasangkan korset pada tubuhnya.

'Ukh, jika tahu akan merepotkan seperti ini aku pasti akan menolak memakai gaun ini' keluh Naruto.

Memakaikan gaun hijau lembut itu pada Naruto dan membetulkan setiap keliman yang tersemat, juga tak lupa untuk menghias pipi nona mudanya itu dengan sedikit blush-on serta sapuan tipis lipgloss merah muda di bibirnya.

"Anda sungguh mempesona Nona Muda" kata seorang pelayan yang menata rambutnya, tangannya dengan lihai menggelung rambut lembut Naruto keatas, menjepitnya dengan jepit kecil dan menyisakan beberapa helai rambut untuk menjuntai bebas, membingkai wajah Naruto dan membuat gelombang pada rambut yang teruntai bebas itu.

"Benarkah?" rona merah dipipi Naruto bertambah pekat saat pujian itu terlontar.

.

Cklek...

."Hoi, Naru—" ucapan Kyuubi terputus saat dilihatnya sang adik tercinta berdiri di depan meja riasnya bak seorang dewi. Cantik dan menakjubkan. Kyuubi tersenyum lembut, senyum yang jarang sekali di perlihatkannya pada semua orang.

"Ah, Uma-chan"

Twitch. Senyuman lembut Kyuubi memudar dari sudut bibirnya. Huh, adiknya memang tahu benar cara merusak situasi. Tahan Kyuubi, ini hari penting untuk adikmu...

"Naru, kau sudah siap'kan? Ayo, ke aula. Para undangan sudah banyak yang hadir"ajak Kyuubi menekan perasaan kesal pada adiknya itu.

"Ya, sebentar aku pakai sepatu dulu" heels hitam itu melengkapi penampilan Naruto yang memakai long dress hijau muda malam itu. Berjalan mendekati Kyuubi dan menggandeng lengan kakaknya yang malam itu terlihat menawan dengan kemeja merah dan setelan jas putih andalannnya.

.

.

.

—Cnaru-chan Namiuzukage—

.

.

.

Mimik bosan yang kentara jelas diwajah Sasuke, membuat Itachi jengah.

.

Merasakan pundaknya ditepuk, Sasuke menoleh dan mendapati kakaknya menatapnya penuh peringatan.

"Ini pesta Sasuke, nikmatilah pesta ini. Paling tidak jangan memasang wajah menyedihkan seperti itu, kau membuat para gadis takut mendekatimu" ucap Itachi sedikit menggoda adiknya. Mendengar ucapan Itachi membuat Sasuke muak, dengan segera kaki jenjangnya melangkah pergi meninggalkan aula mewah ini.

"Hoi, Sasuke. Kau mau kemana?" tanya Itachi bingung.

"Pergi"Itachi mendengus, itu sih jawaban yang bahkan Itachi sendiri sudah tahu,. yang menjadi pertanyaannya adalah mau pergi kemana otouto-nya itu.

.

.

.

—Cnaru-chan Namiuzukage—

.

.

.

Pernah merasa seperti Cinderella? Kali ini Naruto merasa seperti tokoh dongeng wanita yang cantik itu. Sejak memasuki ruang aula ini bersama Kyuubi, semua mata tertuju padanya. Serangan kegugupan tiba-tiba melandanya, tangannya semakin erat memeluk lengan Kyuubi.

"Tenanglah Naruto, mereka tidak akan menggigitmu!" Kyuubi terkekeh kecil melihat kegugupan Naruto yang jarang sekali terlihat.

"Yeah, mereka tidak akan menggigitku tapi mengulitiku dengan pisau yang sangat tumpul dan berkarat" ujar Naruto sarkastis sambil memutar kedua matanya.

"Jaga sikapmu! Sekarang ini banyak orang yang melihatmu bodoh!"

"Jangan mengataiku bodoh Uma-chan, atau aku akan memermalukanmu disini, sekarang dan saat ini juga!" ujar Naruto lirih dan sarat ancaman.

"Terserahlah." Ujar Kyuubi cuek.

Selanjutnya, seperti pesta dansa pada umumnya Kyuubi berkeliling bersama Naruto memperkenalkan setiap pemuda yang diundangnya. Menemui, menyapa, tersenyum dan bahkan tertawa walaupun omongan orang itu sama sekali tidak nyambung dengan Naruto.

Saat dirasa Kyuubi sudah cukup, ia pun meninggalkan Naruto sendiri. Berharap ada seorang pemuda yang cukup tampan—tapi tidak lebih tampan darinya, cukup pintar—lagi, tidak lebih pintar darinya, dan cukup kaya—sekali lagi tidak lebih kaya darinya juga, mendatangi Naruto dan mengajaknya berdansa.

Naruto benar-benar tak menyangka bahwa ia harus menjaga sikapnya seperti menjadi orang lain, kalau begini bukankah sama saja seperti menipu diri sendiri? Ck, merepotkan saja, jika selanjutnya Kyuubi akan mengadakan pesta seperti ini lagi lebih baik Ia kabur!

Seorang pemuda tampan dengan surai coklatnya berjalan dengan penuh pesona mendekati satu-satunya wanita yang menjadi bintang utama malam ini. Menyapa dengan hangat kepada Naruto.

"Selamat malam nona Namikaze." Sapa pemuda itu sambil mengeluarkan senyum andalannya, berharap gadis dihadapannya ini terpesona padanya.

"Ah, selamat malam juga... ng?"

"Neji, panggil saja aku Neji."

"Aaa, souka? Hyuuga?" Neji—nama pemuda itu—mengangguk membenarkan.

"Senang berkenalan dengan perempuan manis seperti anda Naruto, boleh ku panggil Naruto?" tanya Neji. Naruto mengangguk.

"Terima kasih atas pujian anda Neji-san, anda juga tidak usah sungkan memanggil namaku" ujar Naruto, pipinya memerah mendengar ucapan Neji.

Setelahnya merekapun terlibat dalam sebuah percakapan panjang yang cukup menyenangkan bagi keduanya. Suara gesekan biola yang lembut mulai mengalir memenuhi ruangan tersebut. Bersamaan dengan mengalunnya musik untuk berdansa.

"Shall we?" ajak Neji untuk berdansa dengan Naruto. Mengulurkan tangannya.

"With pleasure." Jawab Naruto sambil menyambut uluran tangan Neji, seiring dengan musik yang mengalun lembut di telinganya.

.

.

—Cnaru-chan Namiuzukage—

.

.

"Siapa dia?" tanya Kyuubi dari tempat yang tak berapa jauh dari Naruto.

"Putra sulung dari keluarga Hyuuga, kalau aku tidak salah namanya Neji Hyuuga" jawab Suigetsu yang berdiri tepat disamping Kyuubi.

"Hyuuga ya..." ucap Kyuubi sambil berfikir.

'Dia... tidak lebih tampan dariku.. centang. Tidak lebih pintar dariku...?—'

"Hei, Sui, menrutmu Hyuuga satu itu lebih pintar tidak dariku?"

"Kurasa, tidak. Menurut desas-desus yang kudengar, sekarang ini Hyuuga menduduki peringkat ketiga setelah perusahaan Namikaze dan Uchiha di Jepang. Saingan terberat dari Amaterasu corp. yang di pimpin Sasuke"

'—centang, tidak lebih kaya dariku? Karena urutannya dibawah Uchiha berarti... centang. Ok!'

Kyuubi tersenyum puas seolah mendapatkan hadiah yang tak ternilai harganya. Matanya kemudian berpaling menatap sekitar.

"Mana Itachi dan Sasuke?"

"Sasuke keluar dari aula, kau tahu sendirilah. Dia tak begitu suka acara seperti ini"

"Lalu Itachi?"

"Sedang bersama Sakura di taman belakang, mungkin akan melamarnya." Jawab Suigetsu sedikit menyeringai.

"Heh, kupikir masih lama. Hm? Lalu dimana istrimu yang galak itu?"

"Ooh, dia tidak datang kepesta, dia bilang kepalanya pusing"jawab Suigetsu enteng.

Kyuubi hanya menganggukan kepalanya. Selanjutnya perbincangan itu berlanjut tanpa mereka sadari, seorang gadis yang mendengarkan perckapan mereka berlalu meninggalkan Aula dengan emosi yang mendidih di kepalanya.

.

.

—Cnaru-chan Namiuzukage—

.

.

Saat itu Naruto yang telah selesai berdansa dengan Neji bermaksud untuk mencari Itachi dan mengajaknya berdansa. Tak menemukannya dimanapun, Naruto berniat bertanya pada Kyuubi. Langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Kyuubi dan Suigetsu

.

"Sasuke keluar dari aula, kau tahu sendirilah. Dia tak begitu suka acara seperti ini"

"Lalu Itachi?"

"Sedang bersama Sakura di taman belakang, mungkin akan melamarnya." Jawab Suigetsu sedikit menyeringai.

"Heh, kupikir masih lama. Hm? Lalu dimana istrimu yang galak itu?"

.

.

Percakapan antara Suigetsu dan kakaknya, tak didengarkan lagi oleh Naruto. Pikirannya melayang kemana-mana. Saat tersadar Naruto segera melangkahkan kakinya keluar aula. Ia harus mencegah lamaran Itachi-nii sekarang!

.

.

—Cnaru-chan Namiuzukage—

.

.

.

Mencari udara segar memang yang terbaik bagi Sasuke saat ini. Berada dalam ruangan yang penuh sesak dan berisik seperti di aula itu hanya menambah penat yang dirasanya saja. Setelah puas berkeliling di taman, Sasuke memutuskan untuk duduk di bangku panjang taman yang letaknya sedikit tersembnyi—bukan berarti benar-benar tak terlihat.

Saat Sasuke hendak membaringkan tubuhnya, telinganya menangkap sebuah suara yag mengusiknya. Matanya yang sempat terpejam kembali terbuka. Memastikan suara itu bukan sesuatu yang mengerikan—seperti pasangan yang curi-curi kesempatan untuk bermesraan—atau mungkin tidak...

Itachi berdiri disana dengan segala pesonanya—Sasuke mendengus memikirkan ini—tangannya menggenggam erat namun lembut tangan milik gadis lain, Sakura. Sepertinya sesuatu akan terjadi, karena jarang-jarang seorang Itachi mau repot-repot melakukan hal ini. Sasuke menyeringai.

'Merepotkan katanya? Benar-benar tak punya pendirian.'batin Sasuke geli.

Saat itu tanpa sengaja mata Sasuke melihat sosok Naruto yang sedang berjalan tak berapa jauh dari posisi Itachi dan Sakura sekarang. Melangkah kearah Itachi. Seolah tersentak oleh suatu pemikiran, Sasuke langsung terbangun dari posisi duduknya. Berlari mendekati Naruto sebelum bocah itu melakukan sesuatu yang menurutnya akan membawa bencana.

'Shit! Seharusnya aku sudah menduga hal ini!' ucapnya sambil berlari. Nafasnya terengah-engah saat dirinya hampir mendekati Naruto. Sasuke mengambil nafas sejenak dan menenangkan jantungnya—agar tak terlihat seperti habis berlari—saat hampir mencapai Naruto.

"Apa yang sedang kau lakukan disini dobe?" tanya Sasuke sedikit menggeram—sebisa mungkin menahan emosinya.

"Eh? Teme, sedang apa kau disini?" mendengar pertanyaan Naruto membuat Sasuke mendengus.

"Aku yang bertanya duluan Dobe! Sedang apa kau disini? Bukankah seharusnya kau sedang berdansa bak seorang putri di dalam sana?" tanya Sasuke ketus.

"Eh? A-a-no e-eto.. mmm., Hehehe.. ah, Sasuke apa kau melihat Itachi-nii?" tanya Naruto sedikit gugup.

'Cih, sudah kuduga dasar bocah!'

"Hn. Tidak" ujar Sasuke singkat.

"Untuk apa aniki kemari? Dia'kan penggemar berat pesta" lanjut Sasuke.

Sasuke kemudian berjalan mendekati Naruto, menghimpitnya di batang pohan diantara kedua tangannya—berharap Naruto ketakutan dan kabur, tak jadi melihat Itachi—mendekatkan wajahnya pada gadis itu.

"Apa yang kau lakukan Teme!" ujar Naruto, tangannya menahan dada Sasuke agar tidak lebih mendekat padanya.

"Kenapa? Kau takut. Hm?" suara rendah Sasuke terasa menggelitik Naruto.

"Tidak. Untuk apa aku takut pada calon adik iparku sendiri."ujar Narto menyembunyikan nada panik dalam suaranya.

"Benarkah? Tanganmu yang bergetar mengatakan yang sebaliknya padaku" ujar Sasuke datar. Merasa cukup Sasuke hendak berbalik pergi, saat langkahnya terhenti. Sesuatu atau lebih tepatnya tangan Naruto menahannya.

"Kau.. menantangku, heh?" tanya Sasuke sambil menyeringai. Naruto hanya balas menyeringai.

"Kupikr kau akan membunuhku. Makanya aku ketakutan, rupanya kau bermaksud untuk mengajariku ya sensei~" kata Naruto dengan nada sing a song.

'GLEK!' 'sepertinya aku salah langkah' batin Sasuke ngeri berharap kejadian yang lalu—saat Naruto menciumnya paksa—tidak terjadi lagi.

"Kau mau mundur orang tua?"

Twitch.

.

"Aku yakin kau tidak pernah berciuman sebelumnya. Tenang saja~ kakak iparmu ini akan mengajarimu" tangan Naruto bergerak sensual membelai dada Sasuke.

.

.

.

'Sudah cukup! Ini penghinaan. Orang tua katanya? Yang benar saja aku bahkan baru berumur dua puluh delapan tahun. Dasar bocah kurang ajar' batin Sasuke mengumpat.

.

.

Tangan kiri Sasuke bergerak tiba-tiba. Merengkuh tengkuk Naruto yang terbuka—tak tertutup rambut panjangnya—dan sebelah tangan kanannya merangkul pinggang Naruto.

"Kalau begitu.. ajari aku kakak ipar" suara Sasuke yang berat itu adalah hal terakhir yang Naruto dengar sebelum bibirnya bersentuhan dengan sesuatu yang hangat.

Sasuke merengkuhnya semakin erat dalam pelukannya. Meraup bibir mungil Naruto dengan buas. Membelai setiap inchi bibir itu dengan lidahnya. Pelan. Bermaksud untuk menggoda Naruto. Naruto membuka mulutnya dengan semangat, Sasuke menyeringai. Ia sengaja memutar–mutar lidahnya pada bibir Naruto, sama sekali tak berniat untuk memasukkan lidahnya pada mulut Naruto.

"Ngh..." suara Naruto yang seperti rengekan itu membuat Sasuke tersenyum tipis.

GREPPP...

Diluar dugaan Sasuke, Naruto melingkarkan kedua tangannya yang sejak tadi berada disisi tubuhnya untuk melingkarkannya di tengkuk sasuke. Menempelkan tubuhnya erat pada tubuh Sasuke.

'Deg' dan saat itu juga Sasuke kehilangan kewarasannya. Akal sehatnya lenyap. Niatnya untuk memberi pelajaran pada Naruto hilang digantikan dengan lumatan yang menuntut pada bibir Naruto. Kali ini sasuke tak menolak saat Naruto membuka mulutnya. Memasuki lorong hangat itu dengan segenap gairahnya yang tersulut akibat perbuatan Naruto tadi.

God, ia hanya seorang pria dewasa yang sedang memasuki puncak gairahnya, merasakan tubuh seorang gadis—wanita—menempel erat pada tubuhnya membuatnya gila, entah sejak kapan tubuh Naruto mulai terbentuk sempurna. Lekuk pinggangnya, panggulnya dan pa—

'Shit.. aku harus berhenti' dengan seluruh sisa tenaganya yang tersisa, Sasuke melepaskan lumatannya menjadi kecupan ringan pada bibir Naruto. Mundur selangkah, menghapus salivanya yang menetes disudut bibirnya. Matanya menggelap tertutup kabut gairah.

"Naruto, itu tadi..." ujar Sasuke dengan suara serak.

"Itu tadi latihan Sasuke. Latihan yang sangat hebat!" ujar Naruto riang. Nafasnya terengah-engah dengan mukanya yang merona.

TRRRTT... TRRRTTT...

Ponsel Naruto bergetar disakunya. Tangan tan itu bergerak menuju saku dressnya itu untuk mengambil pmnselnya. Membuka tanpa melihat ID sipenelfon.

"Moshi-mos—"

"..."

"Ah, gomen Kyuu, aku akan segera kembali" ujar Naruto cepat. Mengakhiri percakapannya dengan Kyuubi.

"Well, sepertinya aku akan kembali kedalam, kau mau ikut sasuke?" tanya Naruto. Matanya menatap tepat kedalam mata oniks kelam itu.

"Tidak, kau saja. Aku masih ingin disini" ujar Sauke datar menyembunyikan setiap emosi yang dirasanya.

"Hm baiklah. Jaa-ne"

.

Sasuke menatap kepergian Naruto dalam diam, mataya kemudian beralih menatap langit malam yang cerah. Bintang-bintang seolah menjadi saksi bisu atas tindakannya tadi.

'Cih, sial.' Umpatnya kesal. Tangannya bergerak perlahan mengusap bibirnya sendiri.

"lembut..." gumamnya pelan.

Sepertinya, ia tak'akan bisa tidur nyenyak malam ini.

.

.

.

—Cnaru-chan Namiuzukage—

.

.

.

Tbc.

.

.

.

Yosshhh...

Fiuhhhh.#menghelanafas

Dah mulai deg-degan belum? #ngelapkeringat

Nah, benih-benih cinta sepertinya mulai hadir dihati Sasuke, xixixixi...

Apa yang akan terjadi nanti, ya...

Oia, btw, author mau mulai apdet tiap sabtu or minggu aja ya^^ soalnya waktu author makin dikit nie buat fnfic, tapi tenang aja,, author bakal tetap apdet ok?

.

.

Thanks to:

Ara Uchiha, Aisanoyuri, .777, dwidobechan, Hyull, kirei-neko, Zen Ikkika, minyak tanah, Namikaze Sholkhan, .fariz, Hanazawa Kay.

.

.

Ma'af ya gag da balasan review kali ini... tpi author bener2 seneng kalian ngerivew,.

.

Yosh, silahkan tinggalkan reviewnya untuk author abal ini^_^

Review kalian adalah penyemangatku;)