Tittle : Koiniochiru
Main Cast : Hanbin; Jinhwan
Pairing : BinHwan/BJin and Other
Genre : Romance-School life
Rated : T.
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.
_ By Falcone99_
.
{Chapter 4}
.
Pukul 14.00 KST
Jinhwan duduk dengan kepala menunduk di salah satu sofa besar yang berada di ruang tengah rumahnya. Dihadapannya, nampak seseorang yang tengah duduk dengan kaki menyilang dan mata yang menatap tajam ke arah Jinhwan. Kedua tangannya ia lipat didepan dada, sangat terlihat angkuh dan keren diwaktu yang bersamaan.
Namja mungil itu tidak merasa telah melakukan kesalahan apapun, namun hatinya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi. Mengingat bahwa hyungnya baru saja mempercepat kepulangannya dari Jepang, dan segera menyuruh Jinhwan untuk menemuinya sesaat setelah putera pertama keluarga Kim itu sampai di kediaman mereka.
Jinhwan melirik sekilas namja dihadapannya. Mencoba mencaritahu bagaimana tampang hyungnya saat ini, karena sedari tadi hyungnya itu belum mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya.
'Astaga, kenapa tatapannya horror sekali' Ucap namja mungil itu dalam hati sesaat setelah melihat raut wajah Jiwon. Oh, Jinhwan merasa sedang dihakimi sekarang.
"Hyung, mengapa sudah pulang? Bukankah seharusnya kau pulang besok pagi?"
Akhirnya Jinhwan membuka suara, mencoba berbasa-basi untuk mencairkan suasana menegangkan yang terjadi diantara mereka. Mungkin tepatnya menegangkan bagi Jinhwan.
"Ada yang tidak beres, karena itu aku pulang."
Jiwon menjawab datar pertanyaan Jinhwan, membuat namja bertahi lalat dihadapannya kembali menundukkan wajahnya. Jinhwan tahu betul, arti dari 'Ada yang tidak beres' yang baru saja diucapkan oleh hyungnya itu. Ya, ia akui bahwa dirinya memang melakukan sedikit kesalahan dengan tidak mengabari hyungnya dari semalam. Tapi, apa hanya karena itu hyungnya sampai harus mempercepat kepulangannya dari Jepang? Oh, itu terlalu berlebihan, bukan?
Ah, atau jangan-jangan hyungnya itu mengetahui jika semalam dirinya pergi ke luar rumah, melakukan balapan motor liar dan bahkan tidur di rumah seseorang yang baru saja dikenalnya. Jika benar, maka hidupmu akan berakhir Kim Jinhwan.
'Oh, tidak-tidak!'
Jinhwan menggelengkan kepalanya berkali-kali, mencoba mengusir jauh-jauh pikiran buruk yang baru saja terlintas diotaknya. Melihat hal itu, Jiwon pun terlihat heran akan kelakuan dongsaeng semata wayangnya itu.
"Apa yang kau lakukan?"
"A-anio." Jinhwan menjawab kikuk, membuat Jiwon mengerutkan keningnya semakin heran.
"Sebenarnya apa saja yang kau lakukan selama aku berada di Jepang?" Kali ini Jiwon bertanya dengan tatapan menyelidik.
"Aku hanya pergi ke sekolah dan berdiam diri di rumah, itu saja."
Jinhwan berusaha tetap stay cool, walau nyatanya jantung namja itu tengah berdebar hebat karena baru saja melakukan kebohongan.
"Lantas kenapa kau tidak memberikan kabar apapun kepadaku sejak semalam?"
Lagi, Jiwon bertanya bak Pak Polisi yang tengah mengintrogasi pelaku kriminal.
"Itu karena ponselku hilang, hyung. Sepertinya seseorang telah mencurinya dari saku mantel yang kukenakan ketika aku menaiki bus."
Kali ini Jinhwan tidak merasa berbohong, karena memang itulah yang ada dipikirannya soal ponselnya yang hilang. Namja muda bermarga Kim itu tidak menyadari bahwa poselnya tertinggal di rumah Hanbin.
"Eoh, benarkah?" Jiwon terlihat tak percaya.
"Mengapa kau pulang sekolah dengan menggunakan bus?" Lanjutnya sedikit curiga.
"Memangnya harus menggunakan roket? Kau sendiri tahu kalau Pak Jang masih tidak bisa menjemputku."
Jinhwan berdecak sebal dengan pertanyaan bodoh hyungnya itu.
Mendengar jawaban dongsaengnya barusan. Jiwon nampak berpikir, sedikit mengingat-ngingat akan sesuatu.
"Ah, jangan-jangan namja itu adalah pencurinya."
Jiwon terlihat bergumam, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Jinhwan yang berada dihadapannya pun, bahkan tidak bisa mendengar apa yang baru saja diucapkannya.
"Apa yang kau katakan, hyung?"
"Sebelum pulang ke Korea, aku sempat menghubungimu. Tapi seseorang bernama Kim Hanbinlah yang menerima panggilanku. Aku rasa, dialah yang telah mencuri ponselmu."
"MWO?!"
Jinhwan membulatkan matanya mendengar hasil analisa dadakkan hyungnya itu. Terlebih, Jiwon baru saja mengucapkan nama Kim Hanbin.
'Astaga, mungkinkah ponselku tertinggal di rumah namja itu?' Pikirnya dalam hati.
Melihat ekspresi wajah Jinhwan yang berubah drastis, Jiwon pun menatap heran ke arah dongsaengnya tersebut.
"Wae? Kau mengenalnya?"
"A-aanio." Jawab Jinhwan sedikit tergagap.
"Kau bercanda, hyung. Lagipula bagaimana mungkin seorang pencuri memperkenalkan namanya sendiri. Hahahaaa…mungkin kau salah sambung."
Lanjutnya mencoba mematahkan hasil analisis hyungnya itu.
"Tidak mungkin! Aku bahkan sudah mengeceknya dua kali dan itu benar-benar nomor ponselmu."
Tak terima, Jiwon pun mempertegas hasil analisisnya.
"Oh, baiklah-baiklah. Anggap saja kau benar, hyung. Karena ponselku dicuri, mau bagaimana lagi? Sudahlah, lebih baik kita makan siang saja, ne?"
"Tidak bisa! Pencuri mana boleh dibiarkan berkeliaran!"
Jiwon menolak keras usulan yang baru saja diberikan oleh sang adik. Kemudian ia pun merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel miliknya. Melihat hal itu, Jinhwan memicingkan matanya curiga.
"K-kau mmau apa, hyung?" Jinhwan mulai terlihat cemas.
"Tentu saja melaporkan namja bernama Kim Hanbin itu ke polisi."
"MWO?! Yak, kau berlebihan!"
Jinhwan segera melompat ke atas meja besar yang menjadi pembatas antara dirinya dengan Jiwon. Kemudian dengan gerakan cepat, ia ambil ponsel yang berada dalam genggaman hyungnya itu dan melemparkannya ke sembarang arah.
BRAKK
Benda canggih berwarna gold itu jatuh menghantam lantai dan hancur berkeping-keping. Jiwon nampak terkejut dengan mulut menganga dan mengedipkan mata sipitnya berkali-kali, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Euu…sepertinya kita harus membeli ponsel baru, hyung. Hehee" Ucap Jinhwan dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"KIM JINHWAN!"
Jiwon berteriak murka. Tindakan dongsaengnya itu benar-benar membuatnya hampir gila.
{}
Kini kedua namja bermarga Kim itu nampak memasuki sebuah toko yang terdapat di salah satu Departement Store terbesar di kawasan Gangnam. Tentu saja tujuan keduanya datang ke sana tidak lain adalah untuk membeli ponsel.
Jinhwan langsung melangkahkan kaki pendeknya mendekat ke arah kaca etalase yang memperlihatkan deretan ponsel-ponsel canggih keluaran terbaru dengan beragam brand ternama. Namja kecil itu mulai mencari ponsel mana yang cocok untuk dirinya, sementara Jiwon tengah menerima sebuah panggilan masuk di ponselnya hingga membuatnya harus sedikit menjauh.
Oh, jangan tanyakan mengapa namja itu masih memiliki ponsel, padahal baru saja ponselnya dirusak oleh sang adik hingga hancur berkeping-keping. Namja bergigi kelinci itu adalah seorang businessman, kalian ingat?
"Ah, Gotcha!"
Jinhwan memekik senang, tangannya tengah menunjuk sebuah iPhone keluaran terbaru dengan wajah berbinar.
"Itu milikku!" Ucap seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri disamping Jinhwan, sontak ia pun mendelik tajam ke arah orang itu.
"Mwo? Ini jelas milikku!"
"Itu milikku karena aku yang lebih dulu melihatnya."
Namja asing dihadapannya terlihat tak mau kalah. Melihat hal itu, Jinhwan mulai tersulut emosi.
"Tapi aku yang lebih dulu menunjuknya!"
"Tidak bisa! Pokoknya ponsel ini adalah milikku!" Si namja asing tetap bersikukuh dengan ucapannya.
"Aku tidak peduli! Noona tolong pilihkan yang ini untukku!"
Buru-buru Jinhwan menyuruh si pelayan toko untuk memberikan ponsel itu kepadanya. Kaki pendeknya nampak berjinjit dan tubuhnya hampir menaiki kaca etalase dihadapannya.
"Tidak-tidak! Bungkuskan itu untukku!"
Namja asing itu pun melakukan hal yang sama. Namun bedanya ia tidak perlu berjinjit, karena tubuhnya lebih tinggi dari Jinhwan. Melihat hal itu, Jinhwan pun semakin murka.
"Yak!"
"YAK!"
Namja asing disampingnya balas membentak lebih keras dari bentakkan Jinhwan kepadanya, membuat Jinhwan berjengit kaget dengan sedikit menjauhkan tubuhnya.
'Ya ampun, menyeramkan sekali' Ucapnya dalam hati.
"Ada apa ini?"
Jiwon yang baru saja datang, terlihat tidak mengerti dengan keributan yang tengah terjadi diantara dongsaengnya dengan seseorang disampingnya itu. Sepertinya, namja bergigi kelinci itu juga belum menyadari sesuatu dihadapannya.
"Dia mencoba mencari gara-gara denganku, hyung!"
Adu Jinhwan yang membuat Jiwon mengarahkan pandangannya pada namja yang dimaksud oleh adiknya itu.
"Jiwon hyung?"
Tanpa diduga namja asing itu menyebut nama namja disamping Jinhwan. membuat si pemilik nama terlihat sedikit terkejut.
"Dongie?"
Ucap Jiwon dan sontak membuat Jinhwan mengerutkan keningnya. Namja kecil itu terlihat bingung dengan menatap kedua namja dihadapannya secara bergantian.
"Siapa dia?!"
Tanya Jinhwan dengan menunjuk wajah namja yang dipanggil Dongie oleh hyungnya barusan.
"Siapa dia, hyung?!"
Pertanyaan serupa dilontarkan oleh Donghyuk pada Jiwon dengan menunjuk wajah Jinhwan yang juga tengah menunjuk ke arah wajahnya. Sementara Jiwon terlihat kebingungan untuk mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan yang sama dari kedua namja muda dihadapannya itu.
"Ya, apa kau sedang berusaha merebut kekasihku, eoh?"
Jinhwan membulatkan matanya mendengar tuduhan namja asing itu kepadanya. Ya, Donghyuk tetap orang asing bagi Jinhwan.
"Apa kau bilang? K-kekasih?!" Ucapnya tak percaya. Setelahnya, ia pun memberikan death glarenya kepada Jiwon.
"A-aku bbisa jelaskan." Ucap Jiwon gelagapan yang mengerti akan maksud tatapan Jinhwan kepadanya.
"Aku Membencimu!"
Jinhwan segera pergi berlari, setelah sebelumnya berteriak kepada Jiwon. Ia merasa kesal karena selama ini hyungnya itu tidak pernah sekalipun memberitahunya bahwa dirinya telah memiliki kekasih. Lalu tiba-tiba, Jinhwan harus menerima kenyataan bahwa kekasih dari hyungnya itu adalah namja yang baru saja membuatnya jengkel. Oh, jadi wajar saja jika jiwa namja mungil itu sangat terguncang.
Melihat dongsaengnya pergi, Jiwonpun hendak mengejarnya namun lengannya ditarik oleh Donghyuk.
"Baby jangan salah paham, dia itu adalah adikku. Nanti akan aku jelaskan, ne!"
Jiwon berucap dengan terburu-buru, setelahnya ia pun pergi berlari menyusul Jinhwan.
"Adik? Ck, kau pikir aku akan percaya? Carilah alasan yang jarang orang lain gunakan, Tuan Kim!"
Teriak Donghyuk kesal entah pada siapa, karena nyatanya Jiwon sudah melesat pergi dan menghilang dari hadapannya.
"Maaf, Tuan. Apa anda jadi membeli ponselnya?" Tanya si pelayan toko, yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia pertempuran sengit dihadapannya.
"Tidak jadi!" Jawab Donghyuk ketus, kemudian ia pun melangkah pergi.
{}
Pukul 20.00 KST
Jinhwan terus memfokuskan pandangannya pada layar LED berukuran 42 inch yang berada di kamarnya. Mulutnya nampak sibuk mengunyah popcorn rasa caramel yang sedari tadi terus ditransfer tangannya tanpa henti dari cup berukuran besar dipangkuannya.
Jiwon menatap lirih namja bertahi lalat disampingnya itu. Semenjak tragedi rebutan ponsel tadi siang, sudah 3 jam dirinya terus saja tak diacuhkan oleh sang adik. Jinhwan benar-benar menganggap Jiwon tidak ada, ia terus saja asik dengan dunianya sendiri yaitu menatap televisi yang tengah menayangkan acara Benteng Takeshi favoritenya.
"Buahahahahaa"
"Wkwkwkwkwk"
"Hohohohohoooo"
Tawa Jinhwan membahana untuk yang kesekian kalinya, membuat Jiwon nampak jengah dengan menghela nafasnya kasar.
"Mau sampai kapan kau akan mendiamkanku?"
Akhirnya Jiwon memilih untuk kembali membuka mulut, setelah sempat menyerah karena Jinhwan terus-terusan tidak menggubris ucapannya.
"Sampai virus Pedophilia dalam jiwamu itu mengilang."
Jinhwan menjawab ketus pertanyaan Jiwon, dengan tetap memfokuskan pandangannya pada layar televisi.
"Bagaimana jika virusnya sudah terlanjur melekat dan mendarah daging?"
Kali ini Jinhwan mendelik tajam ke arah Jiwon karena ucapan hyungnya barusan.
"Kalau begitu aku tidak akan berbicara denganmu seumur hidup!"
Perkataan Jinhwan sontak membuat Jiwon terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Jinhwan akan berucap demikian.
"Astaga, kenapa harus sampai seperti itu? Memang apa salahnya jika hyung menyukai seseorang yang lebih muda? Lagipula usia kami hanya terpaut 7 tahun, itu masih bisa dikatakan wajar."
Jiwon mencoba memberikan pengertian, berharap Jinhwan bisa menerima hubungannya dengan sang kekasih.
"Baiklah, kalau begitu cari namja lain yang usianya terpaut 7 tahun lebih muda darimu. Siapapun, asal bukan namja yang kau panggil dengan sebutan Dongie itu!"
"Wae?"
"Aku tidak suka, dia sangat menyebalkan!"
"Donghyuk tidak semenyebalkan itu, kau hanya belum mengenalnya."
"Aku tidak peduli, pokoknya aku tidak suka! Dan jangan berharap kalau aku akan merestui hubungan kalian!"
Ucap Jinhwan final, kemudian ia pun bergegas pergi keluar dengan membanting kasar pintu kamarnya. Lagi-lagi Jiwon menghela nafasnya kasar, kemudian memijit pelan pelipisnya. Pewaris utama keluarga Kim itu benar-benar terlihat sangat frustasi.
{}
Esok Hari
Hansan High School
"Sugooiii!"
Pekik Daehyun girang, setelah dirinya kembali berhasil mengalahkan Jimin. Kedua namja itu tengah bermain catur untuk menghabiskan waktu istirahat mereka di atap gedung sekolah, dengan ketiga temannya yang lain seperti biasa.
"Akh, sial!"
Jimin nampak kesal dengan mengacak kasar rambutnya.
"Kali ini kau yang harus mentraktir kami! Hahahaa"
Ucap Changkyun excited, kemudian berhighfive ria dengan Daehyun disampingnya.
"Jangan sekarang, aku sedang tidak punya uang!"
"Jangan beralasan! Sejak kapan seorang Park Jimin tidak memiliki uang?"
Daehyun menolak keras ucapan Jimin yang menurutnya tidak masuk akal.
"Aku tidak beralasan. Uang bulananku habis, karena kemarin aku baru saja membelikan Nayeon sebuah berlian."
"MWO?!" Kaget Changkyun dan Daehyun bersamaan.
"Yak! Park Jimin, sampai kapan kau akan bermain-main dengan yeoja-yeoja itu? Apa Yoongi tidak cukup untukmu, eoh?"
Changkyun berucap tegas, sudah lama ia jengah dengan kebiasaan sahabatnya itu yang sering kali bergonta-ganti pasangan walau dirinya telah memiliki kekasih.
"Tentu saja Yoongi adalah masa depanku. Aku hanya sedang menikmati masa mudaku saja."
"Aish, kau ini." Ucap Daehyun terlihat sebal.
Jaebum tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ketiga sahabatnya itu. Berbeda dengan Hanbin yang terlihat sama sekali tidak peduli. Namja itu hanya sibuk membolak-balikkan sebuah smartphone berwarna silver dalam genggamannya.
"Kau membeli ponsel baru?"
Tanya Jaebum yang baru menyadari bahwa ponsel yang sedari tadi dimainkan oleh Hanbin nampak terlihat asing.
"Ini bukan ponselku."
"Kalau begitu cepat kembalikan kepada pemiliknya!"
Jaebum berkata santai, namun Hanbin mendelik curiga ke arahnya.
"Kau tahu siapa pemilik ponsel ini?"
"Anya. Kau bilang itu bukan ponselmu, berarti itu milik seseorang."
Jawaban Jaebum membuat Hanbin merasa lega, karena sebelumnya ia berpikiran kalau sahabatnya itu mengetahui bahwa pemilik dari ponsel yang dipegangnya adalah Jinhwan.
Tak lama lonceng tanda jam istirahat berakhir pun berbunyi, hal itu sontak membuat lima sekawan berbeda karakter itu bersiap meninggalkan atap sekolah untuk kembali memasuki kelas dan mengikuti jam pelajaran selanjutnya.
"Ughh!"
Tiba-tiba saja Hanbin meringis, ia merasakan ngilu dibagian belakang tubuhnya ketika hendak berdiri.
"Wae? Kau baik-baik saja?" Ucap Changkyun yang pertama kali melihat hal itu.
"Kau kenapa?" Kali ini Jaebumlah yang bertanya.
"Entahlah, belakangan ini punggungku sering terasa sakit."
"Ya, jangan-jangan kau terkena asam urat."
Celetuk Daehyun, membuat yang lainnya tertawa kecuali Hanbin.
"Sialan." Umpatnya, dan mulai berjalan pelan dengan terus memegangi punggungnya.
{}
Cheonsa High School
Jinhwan dengan ketiga temannya yaitu Jinyoung, Baekhyun dan Yunhyeong baru saja mengikuti pelajaran olahraga. Keempat namja berbeda marga itu terlihat kelelahan, dengan mendudukkan tubuh mereka ditengah lapangan outdoor sekolah setelah melakukan lari estafet sebanyak dua putaran.
Sebenarnya mereka bisa saja langsung pulang, karena olahraga merupakan jam pelajaran terakhir untuk hari ini. Namun keempatnya lebih memilih beristirahat sejenak ditengah lapangan.
"Jinan, cepat ceritakan pada kami apa yang kalian lakukan setelah balapan waktu itu?"
"Tidak ada."
Berbeda dengan Baekhyun yang nampak antusias, Jinhwan malah terlihat malas untuk membahas hal itu.
"Tidak mungkin. Cepat katakan!"
Baekhyun mencoba memaksa Jinhwan untuk tetap bercerita.
"Benar-benar tidak ada yang terjadi, aku tidak berbohong!"
"Lalu kemana dia membawamu pergi?" Kali ini Jinyounglah yang bertanya.
"Euu…itu, dia membawaku ke rumahku. Ya, tentu saja ke rumahku. Dia mengantarkanku pulang."
Lagi-lagi Jinhwan berbohong, setelah hyungnya kali ini teman-temannyalah yang ia bohongi.
"Tapi bibi Ahn bilang waktu itu kau tidak pulang."
Ucap Yunhyeong dengan memicingkan matanya curiga.
'Shit' Jinhwan mengumpat dalam hati.
Ia lupa bahwa sahabatnya yang satu itu, tidak pernah absen menelepon ke rumahnya setiap kali dirinya habis berkencan dengan June hanya untuk bercerita panjang lebar mengenai acara ngedatenya bersama sang kekasih.
"Yak! Kau mencoba membohongi kami, eoh?"
Baekhyun terlihat kesal dengan gerakan seolah akan memukul kepala Jinhwan menggunakan botol air mineral dalam genggamannya, dan hal itu refleks membuat Jinhwan meringis takut.
"Sekarang jawab dengan jujur, apa yang kalian lakukan sampai-sampai kau tidak pulang ke rumah?"
Tanya Yunhyeong memulai interogasinya pada Jinhwan.
"A-aku menginap di rumahnya."
Akhirnya Jinhwan menjawab jujur, dan jawabannya itu seketika membuat teman-temannya nampak terkejut. Melihat reaksi dari ketiga temannya, buru-buru ia menjelaskan agar mereka tidak salah paham.
"Tapi benar-benar tidak terjadi apapun. Waktu itu aku pingsan, dan dia tidak tahu alamat rumahku karena itulah dia membawaku kerumahnya. Itu saja."
"Kau yakin?"
Yunhyeong bertanya dengan memicingkan matanya, yang dijawab dengan anggukkan mantap dari Jinhwan.
"Lalu dimana kau tidur, dan dimana dia tidur? Jangan-jangan kalian tidur bersama?!"
"Yak! Tentu saja tidak! Dasar mesum!
Pletakk
"Aww."
Baekhyun meringis, baru saja kepalanya mendapatkan sebuah jitakan keras dari Jinhwan karena ucapannya yang terlalu vulgar(?). Ya, setidaknya menurut Jinhwan.
"Jinan, berhati-hatilah pada Hanbin!"
Ucap Jinyoung tiba-tiba, yang kemudian membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Apa maksudmu?"
Jinhwan nampak tidak mengerti apa maksud dari perkataan sahabatnya itu.
"Aku memang tidak begitu mengenal teman-teman Jaebum. Tapi setahuku salah satu dari keempat temannya adalah seorang namja brengsek. Dia sering sekali bergonta-ganti pasangan, dan mempermainkan perasaan orang yang menyukainya. Aku rasa orang itu adalah Hanbin."
Ucapan Jinyoung seketika membuat Jinhwan tertegun. Mendengar penjelasan dari sahabatnya mengenai Hanbin, entah mengapa hatinya terasa dicubit.
"Jinyoung-ah, jangan mengatakan sesuatu tanpa bukti! Belum tentu teman Jaebum yang brengsek itu adalah Hanbin." Yunhyeong mencoba memperingati ucapan sahabatnya itu.
"Benar, lagipula bukankah Jaebum masih memiliki tiga orang teman. Jadi belum tentu itu Hanbin!"
Baekhyun berucap yakin untuk memperkuat perkataan Yunhyeong.
"Ah, kalian benar. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Hahaa"
Jinyoung berucap dengan sedikit tertawa, membuat Baekhyun dan Yunhyeong nyaris memukul kepalanya.
"Tapi tidak ada salahnya untuk berhati-hati. Jika benar orang itu adalah Hanbin, setidaknya Jinan bisa berpikir dua kali untuk jatuh cinta kepada namja itu." Lanjutnya mencoba membela diri.
"Jinan, jawab pertanyaanku dengan jujur! Apa kau sudah terlanjur jatuh cinta kepada Hanbin?"
Semua mata menatap penasaran ke arah Jinhwan. Pertanyaan Yunhyeong barusan sontak membuat Jinhwan terlihat salah tingkah. Apalagi mendapat tatapan intimidasi dari ketiga temannya seperti itu, membuat jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya.
"Hah? Euu...Ttentu ssaja ttidak." Jinhwan berucap tergagap, jelas sekali bahwa ia tengah gugup sekarang.
"Ah, sebaiknya aku harus mulai bersiap. Jiwon hyung akan memarahiku habisan-habisan jika aku tidak segera pulang."
Lanjutnya dengan bangkit berdiri, kemudian ia melangkah cepat meninggalkan ketiga sahabatnya yang terus menatap lekat ke arahnya dari tengah lapangan.
"Ia benar-benar payah dalam berbohong."
Ucap Yunhyeong yang kemudian dibenarkan oleh Jinyoung dan Baekhyun.
{}
Kini Jinhwan tengah berjalan pelan menuju pintu gerbang sekolah, setelah sebelumnya mengganti pakaian olahraga yang tadi ia kenakan dengan seragam sekolahnya. Tatapannya kosong, entah apa yang namja berkulit susu itu tengah pikirkan. Sampai hari ini Pak Jang masih belum bisa menjemputnya, mungkin hal itu jugalah yang membuatnya semakin terlihat tidak bersemangat.
Setelah ia melewati gerbang sekolah, pandangannya kemudian tertuju pada seseorang yang berada tidak jauh dari tempatnya. Jinhwan mempertajam penglihatannya, ketika ia merasa tidak asing dengan sosok itu. Seorang namja jangkung yang tengah berdiri bersandar pada sebuah motor sport berwarna merah menyala berpadu hitam. Namja itu mengenakan seragam sekolah yang berbeda dengannya, jelas dia bukan siswa dari Cheonsa High School.
Perlahan, Jinhwan berjalan mendekat yang kemudian membuat namja itu menatap ke arahnya.
"Kkau? Mengapa kau ada disini?"
Tanyanya tak percaya, setelah menyadari bahwa orang itu adalah Hanbin. Bukannya menjawab, Hanbin malah melemparkan sebuah smartphone berwarna silver kearah Jinhwan yang kemudian secara refleks ia tangkap dengan kedua tangannya.
"Itu tertinggal di rumahku, dasar ceroboh!" Hanbin berucap mengejek, namun Jinhwan tidak merespon ucapannya. Ia malah sibuk menatap lekat wajah namja jangkung dihadapannya itu.
"Wae?"
Tanya Hanbin yang merasa mendapatkan tatapan aneh dari Jinhwan.
"Anio."
Jinhwan menjawab pelan. Kemudian dirinya hendak melangkah pergi dari hadapan Hanbin, namun namja jangkung itu menarik lengannya dan membuat ia menatap kembali ke arah Hanbin.
"Ikutlah denganku!"
Hanbin menarik lengan Jinhwan untuk segera menaiki motornya, namun Jinhwan menolak dengan menahan lengannya.
"Kau mau membawaku ke mana?"
"Kau akan tahu nanti."
Akhirnya Jinhwan pun menurut dan menaiki motor sport milik Hanbin, setelahnya motor sport itu pun melesat cepat meninggalkan kawasan elite, Cheonsa High School.
{}
Hanbin membawa Jinhwan ke daerah Gyeongju, yang terletak tidak jauh dari pusat kota Seoul. Namun daerah Gyeongju jauh lebih tenang dibandingkan daerah-daerah lain yang berada di Ibu Kota Negeri Gingseng tersebut. Keduanya kini tengah berdiri di sisi sungai, tepat di bawah sebuah pohon momiji yang tumbuh tinggi menjulang.
"Ini adalah tempat favoriteku."
Ucap Hanbin sesaat setelah dirinya dan Jinhwan sampai di tempat itu, kemudian Jinhwan pun mengedarkan pandangannya untuk melihat ke sekeliling.
Ya Hanbin benar. Jinhwan akui bahwa tempat dimana ia berada sekarang memang begitu indah. Air sungai dihadapannya mengalir tenang dan sangat jernih, kemudian disekitaran sungai tersebut ditumbuhi ilalang dan bunga kenikir berwarna kuning yang sangat cantik. Selain itu pohon momiji didekatnya berdiri, tumbuh begitu rindang sehingga membuat sejuk dan menenangkan. Pohon itu mungkin telah berusia lebih tua dari usianya, itulah pikir Jinhwan.
"Dari mana kau tahu tempat seindah ini?"
Tanya Jinhwan sambil mendudukkan tubuhnya disamping Hanbin yang telah mendudukkan tubuhnya lebih dulu.
"Ibuku yang pertama kali membawaku kemari." Jawab Hanbin dengan pandangan lurus kedepan. "Lihat, kurasa dia tengah memandang kita dari sana!"
Lanjutnya dengan menunjuk ke arah langit yang kini mulai tampak jingga karena hari semakin sore.
Jinhwan mengikuti arah telunjuk Hanbin, kemudian tatapannya beralih menatap kembali wajah namja disampingnya itu.
"Dia meninggalkanku tiga tahun yang lalu karena penyakit kanker yang dideritanya." Ucap Hanbin mengenang kepergian sang ibu. "Hahh…apa aku terlihat menyedihkan sekarang?"
Kali ini Hanbin mengalihkan pandangannya ke arah Jinhwan yang sedari tadi terus menatapnya dalam. Namja kecil itu seolah merasakan apa yang tengah dirasakan oleh namja disampingnya. Kehilangan seorang ibu, ia sangat tahu bagaimana rasanya.
"Anio. Kedua orangtuaku bahkan meninggal secara tiba-tiba karena sebuah kecelakaan pesawat, dan aku baru mengetahuinya setelah satu bulan kepergian mereka. Bukankah itu jauh lebih menyedihkan?"
Kini Jinhwanlah yang balik bertanya, dan pertanyaannya itu mampu membuat namja disampingnya nampak tertegun.
"Ah sudah semakin sore, sebaiknya kita pulang!" Lanjutnya dengan bangkit berdiri, namun Hanbin menarik lengan Jinhwan agar kembali duduk disampingnya.
Kemudian dengan gerakan tak terduga, namja jangkung itu kemudian mendaratkan bibirnya tepat dibibir Jinhwan.
Chupp~
Untuk kedua kalinya, Hanbin mencium bibir cherry itu walau hanya sekilas. Jinhwan refleks menutup bibirnya menggunakan punggung tangannya. Tindakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Hanbin terhadapnya, sukses membuat jantung namja kecil itu seketika bergemuruh.
"Aku menyukaimu, Kim Jinhwan. Jadilah kekasihku!"
Hanbin berucap lancar, sama sekali tidak ada raut ketegangan yang biasanya orang lain tunjukkan ketika mengungkapkan perasaannya kepada seseorang yang ia sukai.
Mendengar pernyataan Hanbin kepadanya, Jinhwan merasakan hatinya berdesir. Ada perasaan senang dan juga kecewa yang menyelimuti hatinya saat ini.
Senang, karena baru saja namja dihadapannya itu mengatakan bahwa ia menyukainya. Walau sebenarnya Jinhwan sendiri belum mengakui akan perasaannya terhadap Hanbin.
Dan kecewa, karena mungkin saja apa yang dikatakan Jinyoung itu memang benar. Hanbin adalah namja brengsek yang sering mempermainkan perasaan seseorang. Namja jangkung itu bahkan terlihat biasa saja saat mengungkapkan perasaannya.
"Aku tidak menyangka bahwa kau akan mengucapkannya dengan begitu mudah." Ucap Jinhwan dengan tersenyum lirih. "Apa bagimu, mengungkapkan perasaan suka sama sekali tidak berarti apa-apa?" Lanjutnya dengan menatap dalam kedua manik hitam milik Hanbin. Namun namja itu tidak berkata apapun, dirinya lebih memilih untuk mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Jinhwan.
"Ck, kita bahkan baru saja saling mengenal. Jika kau hanya ingin bermain-main, kau memilih orang yang salah Kim Hanbin!"
Jinhwan berucap tegas, kemudian ia pun kembali bangkit berdiri dan melangkah pergi. Kali ini Hanbin tidak mencoba untuk mencegahnya, namja jangkung itu hanya diam mematung ditempatnya dengan tatapan kosong. Sementara Jinhwan berjalan semakin menjauh dari tempatnya berada.
'Semoga kau tidak menyesal, Kim Jinhwan'
Ucap Jinhwan dalam hati dengan memejamkan kedua matanya. Namja kecil itu terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang baru saja dilakukannya adalah tindakan yang benar.
.
.
.
TBC
Euu...sepertinya ini gaje... -_-
Whoaaaa...apakah konfliknya sudah mulai terlihat?
Jika belum, mari kita lihat di chapter selanjutnya!
*ya kali masih ada yang mau baca* Baiklah... -_-
Oh ya, kalau tidak salah ada reviewer yang menanyakan apa arti dari Koiniochiru.
Nah, arti dari Koiniochiru itu adalah "Jatuh Cinta", itupun jika author tidak salah ingat. Zzz _ _")
Jika ada yang merasa keberatan dengan jawaban author, dipersilahkan untuk segera mengadu kepada pihak yang berwajib! *plakk*
Akhir kata, kembali author ucapkan mohon maaf lahir dan batin, ehh salah. Maksdunya terima kasih sebanyak-banyaknya buat para reader-nim yang telah mereview fanfic ini, review kalian benar-benar berarti walau hanya sebatas menuliskan kata "Fighting!"...Hohohooo *kecup basah* Muachh muachh mmuuuaaacchhhh... :* :* :*
Anyeong!
