.
.
.
I GIVE MY HEART TO YOU!
MINYOON! GS!UKE YOONGI AND OTHERS!
RATED T!
TYPO BERTEBARAN!
.
.
.
NOTE:
Sebelumnya aku mau kasih tau. Tadinya cerita vkook side udah aku buat. But, admin ffn sepertinya tidak menghendaki. Fan sempet kaget pas buka udh gaada itu cerita :/
Hmm jadi fan gausah upload ulang deh yaa. Vkook dibuat selingan aj, ok?
.
.
Ch 4
Tepat pada hari ini cafe terlihat sepi, biasanya saat seperti ini adalah saat kesenangan Yoongi karena ia bisa beristirahat dengan bebas, tapi lain hal pada kali ini. Yoongi masih memikirkan bagaimana caranya mengatur pemikirannya yang terus tertuju pada Jimin, terutama senyum berengseknya itu. Tapi, dia itu tampan sekali loh. Sampai-sampai rasanya Yoongi ingin meraih tenguknya lalu melumat bibir tebal nan brengsek itu.
PLAK!
"Haiss apa yang kau pikirkan.. err~ sakit sekali" ucap Yoongi sambil mengelus pipinya yang memerah karena ia tampar.
Seokjin yang melihat Yoongi hanya memiringkan kealanya, bingung dengan sikap Yoongi yang daritadi diam tiba-tiba menampar pipinya sendiri lalu marah-marah tanpa alasan. "Yoongi-ya. Jangan stress begitu dong." Jin sahabatnya hanya menepuk-nepuk pucuk kepala Yoongi dengan gemas.
"Yak! Kau sama sekali tak membantu, menyingkirlah." Yoongi menepis lengan Seokjin. "Ada apa sih? Kau ada masalah dengan Hoseok?" Seokjin tersenyum mengejek.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Hoseok, lagipula.." Yoongi menghela nafasnya singkat.
"...aku tak tertarik padanya, Jin." Yoongi menopang dagunya diatas meja.
"Kenapa memang?! Hoseok kan tampan? Dia juga manis? Dia ramah, sopan, pintar, multi-talent, apa sih yang kurang? Kalau aku jadi kamu.."
Yoongi memutar bola matanya malas, sahabatnya ini bawel sekali. "Kalau gitu kamu saja dengannya." Yoongi mencela.
"Yasudahlah terserah kamu, aku capek melihatmu yang sangat sulit, aku rasa kamu akan lajang selama-lamanya." Seokjin menghela nafasnya, sedangkan Yoongi menatap Seokjin dengan garang.
KRING!
"Selamat da-tang.." kalimat Yoongi menggantung begitu saja kala matanya bertatapan dengan seorang pemuda yang baru saja masuk.
"Hai, Yoongi-noona." Sial bagaimana bisa Jimin datang lagi? Jin yang melihat reaksi Yoongi ketika menatap pemuda yang baru saja datang segera terkejut. 'Mengapa dia mengenal Yoongi? Mengapa juga wajah Yoongi seperti terbakar gitu ketika dia datang?' gerutu Jin dalam hati sambil menatap Yoongi lalu menatap lagi kearah Jimin.
"Ah- emm.. ingin pesan apa?" seketika wajah Yoongi berubah dingin, tapi semburat merahnya tetap tidak menghilang sedikitpun.
Jimin terkekeh manis melihat Yoongi yang bertingkah dingin tetapi wajahnya terlhat gugup. "Pesan minuman yang kau suka."
Yoongi tertegun, "Apa?" dia menatap bingung kearah Jimin.
"Iya, antar pesananku dalam 5 menit." Oh,hell bocah ini memancing emosinya. Seokjin sekarang mengerti, ia tertawa pelan. Rupanya ini orang yang disukai Yoongi.
"Kau layani dia, aku ingin istirahat." Seokjin menepuk pelan pundaknya lalu meninggalkannya.
.
"Pesanan datang." Yoongi meletakan segelas air putih. Jimin mendongak bingung kearah Yoongi. "Apa?" tanya Yoongi dengan wajah datar.
"Aku suka air mineral." Yoongi menjawab singkat.
"Kau bohong noona, kau sangat suka susu coklat." Ucap Jimin dengan sok-tahunya. Tapi ini benar. Yoongi sangat suka susu coklat.
"K-kau tahu darimana?" tanyanya, kali ini rona merah dipipi Yoongi muncul kembali. Yoongi tidak pernah merasakan hal seperti ini kepada pria- kecuali Jimin akhir-akhir ini.
"Ah- aku hanya menebak dan ini benar. Sepertinya kau berjodoh denganku.." Jimin menyilangkan tangannya dibelakang kepalanya.
DEG!
Astaga justru kata-kata 'jodoh' Jimin membuat Yoongi sudah tidak sanggup untuk berdiri lagi, dia hanya menatap kaku kearah Jimin dengan wajahnya yang imut.
"..berjodoh untuk jadi kakak iparku." Jimin terkekeh, dengan cepat Yoongi melebarkan matanya dan memandang Jimin dengan marah.
"Menjauh dari hidupku, brengsek." Ucapnya singkat, lalu meninggalkan Jimin dengan raut wajah yang meledak-ledak.
"Kenapa dia marah-marah? Masa dia cemburu padaku?" tanya Jimin dengan wajah bingungnya lalu menggendikan bahunya, tak peduli.
.
Disisi lain, Jungkook terlihat ragu-ragu mengetuk pintu rumah Taehyung dengan membawa satu piring berisi kue coklat yang dibuatnya. Jungkook berusaha mengontrol nafas gugupnya lalu mengetuk pintunya perlahan tetapi pasti.
'TUK! TUK!'
"Sebelum dia membuka pintunya, kau harus mengatur nafasmu dan jauh lebih baik kau tersenyum. Maka ia akan terpesona denganmu." Jungkook berusaha mengingat ajaran sahabatnya, Hoshi. Ia memang pandai dalam hal seperti ini, maka saat disekolah Jungkook meminta ajarannya untuk mendekati Taehyung.
CKLEK!
"Oh, hai Jungkook. Ada apa?" Taehyung tersenyum singkat dan menatap Jungkook dengan pandangan ramahnya.
.
"INGAT! Dont be agresive. Jika dia menanyakan ada apa? Jawab saja dengan tenang dan simple."
.
"Ini aku sedang melakukan penilaian masak dari sekolah, orang lain harus mencicipinya dan menilainya.. em, jadi Tae-oppa mau mencoba menilai rasa kue ku tidak?" tanyanya dengan wajah polos yang imut, Tae tentu saja mengangguk.
"Masuklah, tidak enak jika diluar."
Setelah dia masuk kerumahnya, Jungkook semakin gugup juga, ia dipersilahkan duduk disofa miliknya. Setelah itu Taehyung menyusul duduk disampingnya, Jungkook dalam hati sudah memekik kegirangan bahkan keringat dingin terus menyucur disekujur tubuhnya.
"Apa cuaca hari ini panas? Padahal sebentar lagi akan memasuki musim dingin loh." Taehyung terkekeh singkat menatap Jungkook yang gugup.
"Ti-tidak kok. Ayo dicoba." Jungkook memberikan sepiring kue tersebut. Taehyung pun mengambil 1 potong kue coklat yang masih hangat dan harum. Ia mulai mengunyah kue tersebut dan wajahnya mengernyit sebentar, Jungkook nampak panik sedikit melihat ekspersi Taehyung.
"Rasanya tidak enak ya? Maafkan aku." Jungkook mempautkan bibirnya, dia menjadi imut seketika. Dan Taehyung merasa seperti kena serangan aegyo.
Taehyung segera menggeleng dan tersenyum lebar, "Enak kok. Aku suka."
"Ah begitukah? Kalau begitu, kau harus membayarnya dengan menulis nilainya disini." Jungkook memberikannya kertas kosong dan pulpen. Sebentar jika ini semacam observasi kenapa tidak ada penulisan apapun? Mengapa hanya kertas kosong?
"Berikan saran dan kritikmu ya, oppa." Jungkook tersenyum girang, oh Taehyung sadar sekarang. Apa gadis imut ini tengah mendekat kedirinya dan menyukainya. Taehyung sebenarnya sadar Jungkook menyukainya sejak awal, hanya saja ia tidak enak hati memberitahu kepada Jimin, terutama dia menyukai Yoongi bukan adiknya.
Taehyung terlihat berpikir, mengerjainya sedikit kelihatannya asik juga. Dia menulis semua saran dan kritik lalu menandatangani, dan juga memberikan gambaran-gambaran kecil sambil tersenyum. "Ini sudah." Taehyung melipat kertas itu lalu memberikannya ke Jungkook.
"Ah terimakasih oppa. Sekarang aku harus pulang." Jungkook tersenyum manis dan beranjak dari posisinya, tapi Taehyung menahan lengannya lalu ikut berdiri dan membalikan tubuh Jungkook.
Mereka saling menatap kedalam manik mereka. Lalu Taehyung mengelus surai lembut rambut Jungkook dan tersenyum sangat manis dan itu berhasil membuat Jungkook hampir mimisan. "Terimakasih, Kookie. Semoga nilaimu memuaskan."
Jungkook terdiam, memasang wajah blank-nya yang imut dan pipinya yang merah. Lalu Taehyung melepas pegangannya dan Jungkook tanpa aba-aba lari meninggalkan Taehyung dengan wajah blanknya.
.
'Kritik:
Kuenya sangat manis, mengapa kau membiarkan aku memakan itu didepan wajahmu? Itu terasa seperti aku memakan kue itu dengan madu. Kau terlampau manis sampai aku merasa akan overdosis setelah makan kue itu didepan wajahmu hehehe.
Saran:
Seharusnya kau tidak perlu berpura-pura melakukan observasi, tapi terimakasih Jungkook, aku cukup menyukai kuemu.'
"AHHH! Mengapa dia menulisnya seperti ini? Apa aku ketahuan. Uh- ya Tuhan, aku malu sekali." Jungkook menutup wajahnya yang bersemu merah.
.
.
Yoongi menghela nafasnya dengan lelah, sudah jam 6 sore dia sudah merasa lapar, dia sangat mengantuk dan dia merasa sangat pegal, padahal hari ini pengunjung cafe lumayan sepi. Ia mengganti seragam waiters nya dengan kaus biasanya yang dibaluti dengan jaket kebesarannya dan celana jeans panjangnya. Tiba-tiba ia teringat perkataan Jimin lagi yang tadi.
"Kakak ipar? Cih- tak sudi aku, si brengsek dengan adikku yang manis." Ucapnya datar sambil memutar matanya malas saat mulai keluar dari cafe tersebut.
"Hai Yoongi-noona!" tiba-tiba suara seseorang segera menyadarkan lamunan Yoongi, Yoongi sempat membelak kaget sebelum akhirnya memutar bola matanya dengan malas dan tetap berjalan meninggalkan Jimin.
Merasa diacuhkan, Jimin segera saja mencepatkan pergerakan jalannya. Sekarang dia sudah disamping Yoongi dengan tersenyum aneh kearahnya. "Yoongi-noona mungil sekali, aku gemas."
Yoongi membolakan matanya dan berhenti ditempat. Ia menatap garang kearah Jimin, "mungil kau bilang?" Yoongi mendongak kearah Jimin, tapi Jimin memang tinggi sih, dia hanya sedagunya saja padahal Jimin saja sudah dipanggil bantet oleh Tae, dan Jungkook tingginya sudah sebatas kupingnya Jimin.
'aku memang pendek' Yoongi membatin sambil menghela nafasnya, tidak hanya pendek dia juga pucat dan wajahnya mungil serta pipinya chuby, bibirnya tipis, dan tentu orang-orang akan berpikir dia anak berumur 15 tahun jika orang lain tidak tahu umurnya 23 tahun.
"Terserahmu saja." Lalu Yoongi melangkahkan kakinya meninggalkan Jimin. Jimin tersenyum lalu menyusul Yoongi sambil merangkul bahu sempitnya.
"A-apaan sih?!" Yoongi segera menepis lengan yang bertengger dibahunya.
"Aku kan hanya ingin kita terlihat akrab-" Jimin mengerucutkan bibirnya.
"-noona, apa kau lapar?" tanya Jimin cepat.
"hmm." Yoongi bergumam malas sambil berjalan dengan wajah datar.
"Bagaimana kalau kita makan Hanwoo saja." Jimin menyarankan sambil menunjuk toko yang ada di sebrang jalanan raya, Yoongi langsung saja menatap toko tersebut dengan pandangan laparnya.
"Ti-tidak.." Yoongi menjawabnya dengan ketidakrelaan, sebenarnya dia ingin sekali tetapi melihat yang mengajaknya adalah Jimin dia jadi segan sendiri.
"Kau masih saja gengsi noona." Jimin dengan segera merangkul bahu Yoongi lalu menariknya agar lebih dekat ketubuhnya, Yoongi menatap Jimin dengan wajah blank yang menggemaskan dan tidak melakukan perlawanan apapun. Jantung Yoongi berdetak cepat saat matanya bertatap langsung dengan wajah Jimin saat ia mendongak. Wajahnya? Tidak usah ditanya, sudah terbakar ia rasa.
.
"Bibi, aku pesan Hanwoo 3 porsi dan emm 2 botol soju serta 1 gelas air putih, itu saja terimakasih, bi." Yoongi tersenyum singkat.
"Noona, siapa yang akan makan sebanyak itu? Aku satu porsi saja tidak habis. Lagi tidak baik meminum alkohol setelah memakan banyak daging." Jimin menatap khawatir sebenarnya tidak terlalu khawatir dengan Yoongi tapi-
'nasib uangku' ringis Jimin dalam hati.
"Mengapa? Kau menyesal karena uangmu akan habis?" Tanya Yoongi dengan tatapan elangnya.
"Ti-tidak, hanya saja aku tidak bisa menghabiskan itu semua."
"Siapa yang bilang itu untukmu? 2 setengah porsi itu untukku, setengah porsi untukmu, lalu 2 botol itu untukku, air putih untukmu." Ucap Yoongi dengan wajah datarnya.
"Jahat sekali, beri aku satu botol saja noona. Dan beri aku satu porsi."
"Tadi kau bilang 1 porsi saja tidak habis! Lalu kau bilang tidak baik meminum alkohol setelah banyak makan daging!" bentak Yoongi, Jimin sekarang terdiam merutuki perkataannya yang terasa bodoh diucapkan.
.
"Bi, aku minta air putih 2 ge- Ohok!" Yoongi tersedak, Jimin membolakan matanya saat melihat Yoongi tersedak, lalu dengan cepat Yoongi mengambil saja botol soju yang masih penuh lalu menenggaknya sedikit demi sedikit dengan gelas kecil sampai 1 botol tersebut habis. Jimin menggeleng perlahan.
Saat Jimin baru menyelesaikan makannya, Yoongi sudah menyelesaikan makannya yang 2 setengah porsi hanwoo lalu 1 setengah botol soju tersebut. Wajah Yoongi memerah, dia jadi bergumam sendiri, well dia mabuk pada intinya.
"Ayo pulang noona." Jimin yang sadar Yoongi termabuk segera beranjak dari duduknya lalu mendekat kearah Yoongi.
"Aku.. masih mau satu botol.. lagi." Ucapnya sambil sesegukan.
"Tidak, ayo noona." Ajak Jimin sambil mencoba merangkulnya, tetapi Yoongi mendorong Jimin sambil memajukan bibir bawahnya, lalu memasang wajah rengekannya.
"Jimin- euk, aku bisa berdiri sen..di..ri.. kau mengerti?" ucapnya sambil menunjuk-nunjuk wajah Jimin. Sebenarnya saat ini Jimin gemas dengan Yoongi, ternyata Yoongi kalau sedang mabuk manis juga. Lalu dia berdiri dan berjalan sempoyongan, dia hampir saja terjatuh jika tidak Jimin segera menarik bahu sempit Yoongi kearahnya.
"Ayo kita pulang, bibi uangnya sudah kuletakan dimeja." Ucap Jimin dengan nada lantang.
.
Saat dijalanan, Yoongi terus bergumam tidak jelas dengan wajah merahnya dan juga jalan sempoyongannya. Jimin jadi menyesal sendiri ingin mengajaknya memakan direstoran tadi, sebenarnya niatnya hanya untuk meminta Yoongi mendekatkan adiknya tetapi malah berujung begini.
'Tapi, kalau orang sedang mabuk bukankah cenderung lebih jujur' Jimin menyeringai kecil menatap sosok Yoongi yang masih termabuk dan senyum-senyum sendiri bahkan bergumam sendiri.
"Noona, apa kau tahu Taehyung menyukaimu?" Jimin sepertinya terlalu frontal pada Yoongi.
"Aku tahu.. hei bocah! Dia itu pernah memelukku lalu kau pikir aku tidak tahu sikapnya seperti itu karena apa?" Jimin membelak kaget lalu segera menatap manik Yoongi dengan blank.
"Lalu Jungkook menyukai Taehyung! Bukan dirimu, jadi ber..henti mengejar adikku!" Yoongi membentak Jimin dengan tatapan marah yang lucu. Jimin hanya menghela nafasnya dan menatap Yoongi dengan senyuman singkat, ia sudah akan mengira bahwa Jungkook pasti menyukai Taehyung.
"Berhenti menatapku seperti itu.." Yoongi menampar pelan pipi Jimin.
"..hatiku rasanya berdetak kencang saat kau menatapku." Yoongi memukul pelan dadanya sambil tertawa kecil.
"A-apa?" Jimin tetap terkaget dengan pernyataan Yoongi.
"Uh- Jimin. Aku memimpikanmu tiap malam! Dasar bocah sialan! Hiks- kau malah menyukai adikku- hiks." Tiba-tiba saja Yoongi menangis tanpa alasan dan menatap wajah Jimin dengan merengut lucu. Jimin hanya tetap membolakan matanya terkaget-kaget.
"Ha-tiku tiba-tiba sakit hiks-" Yoongi tanpa aba-aba langsung memeluk Jimin dan menyembunyikan wajah merahnya didada bidang milik Jimin.
"K-kau ini sedang mabuk atau berm-mmim-pi?" Jimin tergugup dan terkaku saat Yoongi memeluknya sambil menangis didadanya.
"Ho-oek!" Yoongi mendadak mual. Jimin terpanik saat merasakan Yoongi mulai mual dan mencoba melepaskan pelukan Yoongi didirinya. Tetapi-
"HOEK!" saat terlepas dipelukan Jimin, ia memuntahkan isi perutnya dibaju dan sekitar celana Jimin.
"Haiss!" Jimin memekik kesal, setelah itu Yoongi hampir terjatuh pingsan kebelakang jika Jimin tidak langsung menarik kedua bahunya dengan cepat.
"Benar-benar merepotkan." Jimin mendengus sebentar dan menggendongnya dibelakang punggungnya. Yoongi masih setengah tersadar, tetapi sepertinya dia mengantuk.
"Sudah makan banyak, mabuk, aku diberi kejutan.." Jimin terdiam sebentar, wajahnya merona 'kejutan' seperti kata-kata Yoongi yang barusan ia lontarkan secara langsung. Membuat hatinya berdesir cepat, sumpah. Lalu Jimin segera menggeleng mengembalikan seluruh pemikiran penuhnya.
"..kau muntah dibaju dan celanaku, sekarang kau tidak bisa jalan dan tertidur." Jimin menoleh sebentar kearah wajah Yoongi yang sedang terlelap dibahunya. Ia menatapi setiap inchi wajah manis yang memerah tersebut, lalu tersenyum.
"Kau galak, tetapi kau imut dan juga manis." Ia tersenyum merona.
"...Kau membuat hatiku tidak jelas begini." Ia merunduk pelan dan menghela nafasnya.
"Tidak-tidak! Kau harus bersama Tae!"
"-Tapi, apa benar kau memiliki perasaan denganku?"
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N:
Maaf untuk lama update. Sibuk sama urusan duniawi.
Oia kalau kalian sempet ada waktu, baca ff yg kmrin Fan buat ya..emm ceritanya ga seru sih tapi Fan Cuma mau tau ceritanya nge-feel ga sih?
.
..AND...
Happy 3rd Anniversary Bangtan Sonyeondan!
Wish Fan cuma mau, kalian.. tetaplah gila dan.. plis jangan ada yang hiatus maupun pergi. /terhura:'D
Because i love them so much! Terutama kau Yoongi! *bias.
Fan Army baru sih, baru kenal sekitar awal Januari, awalnya Fan ga suka BTS soalnya banyak kontroversi tapi sekarang cinta mati. Pokoknya muah muah buat BTS! *yah curhat deh.
.
Thanks for review, Fav and follow.
RR :3
Akmy: Ciyee jugaa, ah ciyein aku juga dong karena kemarin..aku mimpi kawin am Jungkook/gananyaL dan maaf kemarin fan udah buat tapi hilang entah kemana makasih ya reviewnya J, Guesteu: Hai kamu! Iya Cuma mimpi *tonjokdirisendiri. Ini udah banyak minyoon dan vkook disambelin eh sambilin maksudnya, makasih revnya :p, Kamong Jjong: Lebih sulit nanti kalau pada akhirnya sad ending/becanda makasih reviewnya :3, GithaAC: HAY KAMU! *ngelebarinidung MAKASIH REVIEWNYA HAHAH!/Capslockjebol. Mysuga: astaga! Aku lupain part Jeyop sama Yungi dichap ini! Makasih udah ingetin fan dan rviewnya XD. Wonderfulwoo: Ahii makasih, ini udah dilanjut. Makasih reviewnya :* , styli: iya namanya juga sahabat :') makaih ya reviewnya :D, Sugapheromone: aaa- udah dilanjut sayang makasih ya heheh J, vkookhardsip: maafkan fan ceritanya kehapus. Mian :c makasih reviewnya J) , minyoonkids: Noo.. no ence dlu. Nanti dulu ya, takutnya fan yang kepanasan sendiri pas ngetik/alay. Makasih reviewnya :p , Strongfangirls: hahah nggak kok, yaudah kalo gtu semuanya fan buat suka ke fan semua :b maksih reviewnya : , pervelt: hyaa! Reviewnya kamu buat fan tersenyum sendiri*apa tau dah, tapi fan seneng liat review kamu yang panjang banget kaya sungai Amar Zon...ehemm maksudnya Amazon.. annyeong fanfan imnida! Salam kenal juga ne? Gapapa kok. Makasih reviewnya ya :* taekim: hahaha makasih ya, terus ikutin :p makasih ya udah review ;)
.
Review,please? J
