Rina: Hore! Chapter 4 sudah jadi! \(^ ^)/ Ini sebagai permohonan maaf karena Len tak sempat masuk di chapter 3!

Len: Kupikir aku bakalan RnR author Rina dulu, tapi kali ini aku biarkan!

Rin: Bagianku banyak banget!

Miku: Aku dapat banyak peran lagi!

Rina: Dislaimer Please!

Rin,Len,Miku: Author Rina tidak memiliki Vocaloid, semua merupakan milik dari pemilik mereka masing-masing, namun Author Rina memiliki fic ini!

A/N: If any of you want this story to be translated into English, please PM me, and I will gladly do so...


Normal POV


Jam dinding yang terpasang pada sebuah kamar yang tersembunyi dari publik, berdetak dengan pelan. Rin bersama dengan Miku mengenakan sebuah dress, meskipun Miku menjadi seorang diva pada malam itu, dia tidak meninggalkan Rin sendirian.

Rin mengenakan sebuah gaun berwarna putih bagaikan salju, bagian punggungnya dihiasi dengan pita berwarna biru pucat, di bagian dadanya teruntai sebuah korsase berbentuk bunga mawar berwarna biru, gaun itu memiliki renda berwarna hitam di ujung-ujung gaunnya.

Rambut Rin dia biarkan terurai, membuat rambut Rin yang berwarna Honey Blond seakan-akan berkilauan. Sebuah pita putih diikatkan di bagian belakang rambutnya. Dia juga memakai hiasan rambut berbentuk mawar berwarna biru.

Miku merasa kaget melihat Rin, temannya. Karena Rin tak pernah menghadiri sebuah pesta, Miku tak pernah melihatnya mengenakan gaun pesta seperti sekarang ini. Rin terlihat sangat cantik seperti sebuah boneka porselen yang sangat mahal. Miku tak akan kaget jika banyak orang mengira dia merupakan sebuah boneka terindah dan tercantik yang pernah mereka lihat.


Rin POV


"Miku sudah belum?" tanyaku. Aku berdiri di depan cermin dengan mata yang ditutup oleh Miku. Kenapa? Katanya dia ingin melihatku berdandan pertama kali, memang terkadang Miku sangat aneh!

"Sebentar lagi..." jawabnya. Dia sepertinya sedang menyisir rambutku dengan sangat telaten. Tak lama kemudian dia melepaskan penutup mataku.

Saat aku melihat diriku sendiri di depan cermin. Aku merasa seperti melihat orang lain. Aku merasa bahwa pantulan dalam cermin itu bukanlah diriku. Aku merasa bibirku bergetar saat aku menyentuh permukaan cermin itu.

"Cantik bukan?" ucap Miku. Dia sendiri juga terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna hijau Teal yang mirip dengan warna rambutnya. Miku yang biasa memakai seragam Maid berubah menjadi seorang Diva yang bersinar lebih dari siapapun malam itu.

"Sebentar lagi Kaito-sama akan menjemputmu, karena itu aku pergi dulu!" ucap Miku, dia kemudian berjalan menuju pintu kamarku dan kemudian membukanya.

Saat dia menutup kembali pintu itu. Aku dapat melihat cahaya bulan yang terlihat pucat di langit malam. Saat itulah aku melihat sebuah bayangan yang ada di atasku. Saat aku melihat ke atas...

"L-Len! Kenapa kau ada disini?" ucapku. Aku merasa kaget namun tidak sekaget tadi siang. Dikarenakan kali ini Len tidak mengagetkanku dengan muncul dihadapanku secara tiba-tiba.

"Selamat Malam Rin-hime!" sapanya. Dia memakai sebuah pakaian pesta juga. Kalau saja dia tidak berada di atap kamarku. Orang-orang pasti mengira dia merupakan pangeran. Setelah mengucapkan salam dia turun dari atap dan mendarat di depanku.

Dia tersenyum melihatku. Senyumnya terlihat sangat berkilauan (kecuali fakta bahwa dia merupakan Demon Lord) seakan lebih indah dari bulan yang bersinar di langit. Deg, aku merasakan dadaku menjadi lebih rapat lagi. Dan aku hanya bisa memalingkan wajahku karena wajahku terasa sangat panas sekarang.

"Rin-hime kenapa anda memalingkan wajah anda?" tanya Len.

Aku masih memalingkan wajahku, tidak berani menatapnya langsung, kemudian aku menjawab, "Ah, ti-tidak ada apa-apa..." jawabku. Jelas sekali suaraku terdengar bergetar.

Saat itu aku menyadari bahwa lenganku dicengkram oleh Len dan dia menarikku, membuatku ada di pelukannya sekarang, wa-wajahnya terlalu dekat!

Aku merasa diriku panik saat wajah Len terletak sangat sangat sangaaaat dekat dengan wajahku, aku sedikit berontak sehingga Len melepaskanku, namun dia tidak melepaskanku. Saat itu aku baru menyadari kalau Len juga lebih tinggi dariku sedikit. Matanya yang juga berwarna Sapphire, dan sama dengan warna mataku, memancarkan cahaya yang lembut, bahkan mata itu membuat pantulan bayanganku menjadi lebih indah.

Sesaat aku menyadari bahwa cengkraman di lenganku menjadi sedikit mengendor, meskipun aku tahu akan hal itu, aku tak melepaskan diri, membuatku dan Len masih dalam posisi berpelukan dan kami masih memandangi sepasang mata yang ada di hadapan kami. Aku merasa seperti terikat sebuah sihir, sihir yang menghanyutkan pikiran, namun entah mengapa aku tak membencinya.

Saat aku merasa wajah Len semakin mendekati wajahku tanpa sadar aku menutup mataku, saat itu aku mendengar pintu kamarku diketuk seseorang dari luar.

"Rin-sama kau ada di dalam?" tanya suara itu. Aku mengenali suara itu, itu merupakan suara Kaito-sama. Sepertinya dia datang kemari untuk menjemputku.

Saat itu aku seakan-akan tersadar dari sebuah mimpi dan kemudian aku menjawabnya, "Ah, iya sebentar!" jawabku. Aku spontan menjauhkan Len dariku.

Saat aku menjawab panggilan Kaito-sama, Len menghilang dari pandanganku, kemana dia pergi? Aku sendiri terduduk di lantai lagi. A-apa yang sebenarnya terjadi tadi?

Saat itu pintu terbuka dan aku melihat Kaito-sama segera berlari ke arahku, "Rin-sama anda baik-baik saja?" tanyanya, saat dia melihatku terduduk di lantai dan terlihat shock.

Aku sendiri tak tahu kenapa aku bisa terduduk di lantai kamarku sekarang. Aku mengingat-ingat apa yang sebelumnya terjadi sebelum Kaito-sama mengetuk pintu kamarku. Aku merasa bahwa Len tadi sudah seperti...dan Bu-bukankah kami... kami tadi akan...

Wajahku menjadi semerah tomat sekarang. Kejadian tadi itu membuatku sangat sangat sangaaaat malu! Dan membuat waktu ini lebih buruk, Kaito-sama, calon tunanganku ada disana. Apa tadi dia melihatnya?

"Rin-sama, mari kita pergi, semuanya sudah menunggu." ajak Kaito-sama. Dia kemudian mengulurkan tangannya kepadaku.

Aku segera mengambil tangannya dan berdiri. Sebelum kami keluar dari kamar, aku menyempatkan diri melihat kembali ke arah beranda. Len sudah menghilang lagi...

"Ada apa Rin-sama?" tanya Kaito-sama dengan suara khawatir.

Aku hanya menggelengkan kepalaku dan kemudian memandangnya, "Ah, tidak, tidak ada apa-apa. Dan Kaito-sama boleh memanggilku Rin." jawabku, yang juga memintanya untuk tidak memanggilku Rin-sama lagi.

"Baiklah, Rin. Kau juga boleh memanggilku Kaito." balasnya kini dia menggandeng telapak tanganku dan menariknya dengan lembut.

"Baiklah Kaito..." tanggapku. Sesaat aku menyadari, Len selalu memanggilku Rin-hime namun aku selalu memanggilnya Len, padahal kami tidak terlalu dekat, meski wajah kami sangatlah mirip. Len adalah Demon Lord, aku tahu itu, namun...


Len POV


Sekarang aku terbang dengan sangat cepat, karena sebentar lagi, pesta dansa istana Rin akan segera dimulai. Aku ingin tahu bagaimana Rin jika berdandan, meski dia tidak berdandan pun masih sangat cantik.

Saat aku sampai di kastil kerajaan Sapphire, aku hanya melihat Maid Rin, yang bernama Miku, masih mendandani Rin, tapi sepertinya dia memakai gaun seorang diva. Ups, lebih baik aku segera sembunyi!

Aku sekarang duduk di atas atap beranda kamar kamar Rin, menunggunya selesai berdandan. Aku jadi penasaran apa yang akan dipakainya...

"Miku sudah belum?" tanya Rin, aku mendengar suaranya yang imut itu dari atas atap. Aku semakin ingin tahu apa yang akan dipakai oleh Rin.

"Sebentar lagi..." jawab Miku. Suara milik Miku juga halus meski tidak sebagus Rin. Sepertinya kali ini dia memang menjadi seorang Diva.

Tak berapa lama kemudian aku mendengar langkah kaki Rin yang seperti mendekati sesuatu. Sepertinya dia sedang melihat cermin.

"Cantik bukan?" ucap Miku. Sepertinya itu berarti Rin sudah selesai berdandan. Aku benar-benar ingin melihat Rin sekarang juga! Namun, Miku masih ada disana, dan apabila Miku melihatku sekarang, masalahnya akan menjadi lebih pelik.

"Sebentar lagi Kaito-sama akan menjemputmu, karena itu aku pergi dulu!" ucap Miku, aku kemudian mendengar langkah kakinya yang berjalan menuju pintu kamar Rin, tak lama kemudian terdengar suara pintu yang dibuka. Sesaat kemudian dia menutup kembali pintu itu. Dan kamar Rin menjadi sunyi senyap. Hingga terdengar langkah Rin yang berjalan menuju beranda.

Saat dia sampai di beranda dia melihat sepintas ke arah bulan yang malam ini bersinar dengan pucat. Damn, Rin terlihat seperti seorang Dewi, malam ini. Gaunnya berwarna putih salju, bagian punggungnya dihiasi dengan pita berwarna biru pucat, di bagian dadanya teruntai sebuah korsase berbentuk bunga mawar berwarna biru, gaun yang dia pakai memiliki renda berwarna hitam di ujung-ujung gaunnya.

Rambut Rin di biarkan terurai, sehingga membuat rambutnya yang berwarna Honey Blond itu berkilauan di bawah langit malam. Sebuah pita putih diikatkan di bagian belakang rambutnya. Dia juga memakai hiasan rambut berbentuk mawar berwarna biru.

Saat aku selesai memperhatikan Rin yang sangat cantik malam ini, Rin melihat keatas dan menyadariku yang duduk diatap beranda kamarnya. Wajahnya terlihat kaget meski tidak seperti tadi siang.

"L-Len! Kenapa kau ada disini?" ucap Rin. Dia mendongak ke atas dan memandangiku yang juga sedikit... lebih rapi dibandingkan tadi siang, tentu saja karena aku memakai pakaian selayaknya seorang bangsawan kerajaan mereka. Untuk membuat rencanaku sukses pastinya.

"Selamat Malam Rin-hime!" sapaku pada Rin. Mungkin dia masih merasa bahwa tadi siang itu merupakan mimpi. Setelah aku mengucapkan salamku, aku melompat turun dan berada sangat dekat dengan Rin.

Rin langsung memalingkan wajahnya entah mengapa, mungkin aku terlalu dekat dengannya dan dia malu?

"Rin-hime kenapa anda memalingkan wajah anda?" tanyaku.

Rin masih memalingkan wajahnya saat dia kemudian menjawab, "Ah, ti-tidak ada apa-apa..." jawab Rin. Jelas sekali terdengar bahwa suaranya bergetar. Jadi dia benar-benar malu. Dan aku tak terlalu senang jika Rin memalingkan wajahnya dariku.

Aku kemudian mencengkram tangan Rin dengan erat dan menariknya sehingga kini aku memeluk Rin. Membuat wajahnya yang indah sangat dekat dengan wajahku. Saat aku menyadari aksiku yang sedikit tiba-tiba (bahkan untuk diriku sendiri) aku merasa bahwa Rin akan membenciku. Bahkan dia juga sedikit memberontak.

Aku tidak melepaskan Rin dan menatapnya di mata miliknya yang berwarna Sapphire, dan memiliki warna yang sama dengan mataku. Aku hanya menatapnya, dan entah sejak kapan Rin berhenti memberontak dan juga memandangku. Matanya terlihat sangat indah, bagaikan lautan yang sangat dalam.

Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, dan Rin tidak memberontak bahkan menutup kedua matanya. Saat itu terdengar ketukan di pintu kamar Rin.

"Rin-sama kau ada di dalam?" tanya suara itu. Aku mengenali suara itu, itu merupakan suara Kaito Shion, salah satu dari dua pembunuh Ted, aku penasaran, apakah Ted menggunakan itu pada mereka. Sepertinya dia datang kemari untuk menjemput Rin karena dia merupakan calon tunangannya.

Aku spontan menjauhkan wajahku dan Rin saat aku mendengar Rin menjawab ucapan Kaito Shion dengan perkataan, "Ah, iya sebentar!" Rin melepaskan pelukanku. Dan aku segera turun ke bawah beranda kamar Rin. Sehingga aku tidak ketahuan.

"A-apa yang baru saja akan kulakukan?" pikirku. Aku menyandarkan tubuhku di dinding istana sementara aku melihat ke arah beranda kamar Rin. Saat itu aku mendengar suara dari langkah kaki Kaito Shion yang mendekati Rin.

Tak lama kemudian aku mendengarnya bertanya pada Rin, "Rin-sama anda baik-baik saja?" tanyanya. Dia terdengar sedikit berbeda dari bayanganku. Jadi Ted benar-benar menggunakan itu pada mereka berdua, setidaknya aku tak perlu khawatir soal mengalahkan mereka berdua sekaligus.

"Rin-sama, mari kita pergi, semuanya sudah menunggu." ajak Kaito Shion pada Rin.

Setelah itu aku mendengar suara kaki Rin yang berusaha berdiri, jadi setelah aku menghilang tadi dia kembali terduduk di lantai kamarnya.

"Ada apa Rin-sama?" tanya Kaito-sama dengan suara khawatir pada Rin.

"Ah, tidak, tidak ada apa-apa. Dan Kaito-sama boleh memanggilku Rin." jawab Rin.

"Baiklah, Rin. Kau juga boleh memanggilku Kaito." Balas Kaito Shion. Mendengarnya memanggil Rin dengan namanya membuatku sedikit... cemburu, karena Rin tidak pernah memintaku memanggilnya dengan namanya, meski aku tetap saja memanggilnya dengan namanya.

"Baiklah Kaito..." jawab Rin. Kemudian aku mendengar langkah kaki mereka berdua dan suara pintu yang ditutup. Sepertinya mereka sudah pergi ke tempat dimana pesta dansa diadakan.

"Saatnya melakukan rencanaku..." gumamku.


Normal POV


Ruangan pesta dansa terlihat sangat ramai oleh bangsawan. Mereka dikejutkan dengan datangnya seorang diva baru dengan rambut berwarna hijau Teal, yang memiliki suara yang sangat indah. Namun tatapan mata mereka tertuju pada sebuah pasangan, yang dimana, laki-lakinya memiliki rambut biru laut sedangkan yang perempuan memiliki rambut Honey Blond, para lelaki yang ada disana memfokuskan pandangan mereka pada si perempuan yang, selain memiliki rambut Honey Blond itu, juga terlihat sangat cantik seperti seorang dewi.

Para wanita, baik bangsawan maupun tidak, menatap si perempuan, yang dekat dengan Hero mereka, dengan tatapan cemburu. Namun, tak ada yang mengetahui siapa perempuan itu, maupun apa yang akan terjadi nanti.


Rin POV


"Kaito, ini pikiranku saja atau semua orang disini memperhatikan kita ya?" bisikku pada Kaito yang berjalan disampingku.

"Tentu saja karena Rin, terlihat sangat cantik bagaikan dewi!" jawab Kaito setengah merayu. Dia hanya tersenyum ke arahku, namun anehnya aku tak merasakan apa-apa.

"Terimakasih atas pujiannya." jawabku dengan acuh. Menurutku mereka lebih memandangi Kaito yang seorang Hero dibanding denganku.

Aku mengalihkan perhatianku pada Miku yang sedang menyanyi diatas panggung, suaranya terdengar lebih merdu dari biasanya, sepertinya dia senang karena dirinya bisa menyanyi dengan leluasa di sini, dikarenakan, biasanya dia dilarang menyanyi oleh kepala pelayan istana.

Sesaat aku melihat seorang laki-laki, dia memandangi Miku dengan tatapan yang lain dari tatapan semua orang yang ada disana. Tatapannya pada Miku terlihat sangat hangat, selain itu dia juga sangat mirip dengan Miku, kecuali rambutnya lebih pendek dari Miku dan dia terlihat seperti seorang laki-laki biasa.

Saat itu aku melihat ibuku memanggilku untuk mengajak Kaito ke tempat ayah dan ibu. Sepertinya aku akan dikenalkan dengan seseorang yang dikenal ibu. Aku langsung saja mengajak Kaito untuk menemui mereka, sementara kami masih menjadi pusat perhatian.

Saat aku menemui ibu yang juga bersama ayah, aku melihat seorang gadis yang memiliki rambut berwarna hijau, dan seorang laki-laki yang memiliki warna rambut ungu. Sepertinya aku pernah melihat mereka sebelumnya.

"Rin mari aku kenalkan dirimu pada mereka..." ucap ayahku.

Mereka berdua langsung memberi hormat padaku pada saat yang bersamaan, yang pertama kali memperkenalkan diri adalah yang gadis, "Perkenalkan saya Yang Mulia Putri, nama saya adalah Megpoid Emerald Gumi, Priestess dari Holy Curch, silahkan memanggil saya dengan nama Gumi, senang bertemu dengan nona." kenal gadis itu, yang ternyata merupakan seorang Priestess dari... Hell! Gereja tertinggi di kerajaan Sapphire. Tak lama kemudian yang laki-laki memperkenalkan diri.

"Perkenalkan saya Yang Mulia Putri, nama saya adalah Kamui Amethyst Gakupo, saya merupakan perwakilan Mage dari Barat, silahkan memanggil nama saya dengan Gakupo, senang bertemu dengan nona." kenal laki-laki itu. Dan sekarang aku berhadapan dengan salah satu Mage terkuat dari Mage wilayah barat.

"Ah, sa-saya Rin Sapphire Kagamine, putri kerajaan Sapphire, silahkan panggil saya dengan nama Rin, se-senang berkenalan dengan anda..." balasku sembari memberi hormat kepada mereka. Aku tak tahu apa yang terjadi sehingga aku hanya mengikuti arus saja.

"Mungkin kau tak terlalu mengerti apa yang terjadi disini bukan Rin?" tanya ibu dengan wajah yang lembut. Memang ibuku tidak terlalu menyebalkan, namun ayah merupakan orang yang paling menyebalkan sedunia!

Aku hanya mengangguk untuk menanggapi perkataan ibu, memang aku tidak terlalu tahu dan mengerti. Karena hari ini benar-benar hari yang sangat buruk!

"Aku meminta mereka untuk menjadi orang yang paling bisa kau percaya selain... diva yang sedang menyanyi itu." jawab ayah dengan menekankan kata diva. Apa maksud dari perkataannya itu pada Miku? Dan mengapa? Aku merasakan aura buruk.

"Piko hanya ingin bilang bahwa dia jengkel melihatmu bermain dengan Miku dan tak pernah berbicara dengannya, Rin!" ucap ibuku dengan nada yang ringan.

Aku melihat wajah ayah dari pucuk penglihatanku dan dari reaksi ayah, sepertinya ucapan ibu benar. Kemudian aku tersenyum ke arah 2 orang yang akan bisa aku percayai. Gumi hanya tersenyum ke arahku, sementara Gakupo hanya melihat... tubuhku?

"Gakupo!" tegur Gumi. Sepertinya dugaanku benar, ternyata Gakupo ini merupakan orang yang sangat mesum! Aku tertawa kecil melihat tingkah laku mereka yang mirip dengan Meiko-san dan Kaito. Mereka kemudian ikut tertawa denganku.

"Ah, perkenalkan saya Kaito Shion, senang berkenalan dengan anda." kenal Kaito. Saat Gumi dan Gakupo melihat Kaito sepertinya mereka menjadi curiga, sama denganku. Kaito langsung merasa tak enak.

"Nah, menurutku lebih baik kalian segera diperkenalkan pada orang-orang yang ada disini..." ucap ayahku sambil berdehem. Sepertinya dia merasa sedikit kesepian ditinggalkan di tengah pembicaraan. Dia kemudian menaiki tangga menuju ke tempat duduk tertinggi, tempat dimana Raja, Ratu, dan Pangeran/Putri duduk.

"I-iya..." jawabku. Langsung saja aku merasa gugup. Sementara itu Kaito ada di sampingku dan menggandeng tanganku, sehingga aku tak merasa gugup dan menuntunku menuju kursi Putri yang selalu kosong selama 17 tahun.

Semua orang yang melihatku naik ke atas tahta berbisik-bisik, seakan-akan bergosip seperti apa yang mereka lakukan seperti yang biasa mereka lakukan.

"Rin, kenakanlah ini, ini adalah milikmu." ucap ibu yang kemudian melepaskan hiasan mawar biru yang kupakai dan memintaku untuk menunduk, sehingga dia bisa memberikanku sebuah tiara. Aku hanya mengikuti apa yang ibuku minta dan menunduk sementara ibu memasangnya di kepalaku.

"Sekarang hadapilah semua orang disini dan dengan bangga ucapkanlah namamu dengan jelas, Rin." ucap ayah. Meski wajahnya masih se-menyebalkan biasanya, aku merasa bahwa dia hanya ingin memberiku semangat.

"Jangan khawatir ada aku disini." tambah Kaito dengan tersenyum. Senyumnya membuatku tenang, namun itu bukanlah perasaan yang sama saat Len tersenyum di hadapanku...

Tapi... apa Len benar-benar berniat membawaku ketempatnya? Untuk membuktikan kekuatan dari Kaito? Aku menarik nafas sedikit, sesaat saja, hanya sesaat, aku ingin melupakan pikiranku itu. Tapi entah kenapa aku selalu mengingat wajah Len... Saat itu aku baru menyadari bahwa semua orang sudah memandangku yang berdiri di depan ayah dan ibu, sekan mereka menunggu.

Aku menatap ke arah para orang yang menghadiri pesta itu, dan kemudian aku berkata dengan lantang, " Nama saya adalah Rin Sapphire Kagamine, putri tunggal Piko Sapphire Utatane dengan Lily Sapphire Kagamine, dan merupakan Putri utama Kerajaan Sapphire..." ucapku dengan suara yang jelas.

Langsung saja semua orang merasa kaget mendengarkanku yang mengumumkan bahwa aku merupakan Putri Kerajaan. Dari pandangan mereka semua, aku juga melihat Miku yang bersama laki-laki yang kulihat tadi. Sepertinya dia merupakan orang yang Miku ceritakan padaku sebelumnya.

Kemudian aku melanjutkan perkataanku lagi, "Pertama-tama, saya mohon maaf karena saya tidak pernah tampil dihadapan publik, itu dikarenakan adanya beberapa hal yang tak bisa saya tinggalkan sebelumnya, lalu..." lanjutku. Aku menarik nafas kembali.

Namun saat aku akan bersuara lagi, aku merasakan seseorang atau sesuatu menggendongku. Saat aku mengetahui apa yang terjadi, Len sedang menggendongku ala Bridal Style dan kemudian berkata, "Lalu, aku membawa Yang Mulia Putri Rin bersamaku!" ucap Len dengan enteng.

Len serius akan perkataannya tadi siang! Setelah itu aku mendengar bisikan dari Len, "Rin-hime tutuplah matamu..." bisiknya. Deg, dadaku berdebar dengan sangat cepat lagi. Namun saat aku melihat sekelilingku, semuanya bergerak dengan sangat cepat, sehingga aku menutup mataku seperti yang dia katakan.


Miku POV


Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Seorang laki-laki yang sangat mirip dengan Rin datang dan membawa Rin pergi bersamanya. Semua orang di ruangan itu menjadi panik. Aku hanya memeluk kekasihku, Mikuo, yang bersamaku dan menangis di pelukannya.

"A-apa yang harus kulakukan? Rin... Rin... Rin... dia..." ucapku disela-sela tangisku.

"Jangan khawatir Miku, Rin pasti baik-baik saja. Aku yakin sang Raja tak akan membiarkan orang itu lolos. Mereka akan mengejarnya dan membawa Rin kembali, percayalah." hibur Mikuo. Aku hanya bisa mengiyakan perkataannya sementara aku menangis tersedu-sedu di pelukannya.


Normal POV


Suasana di istana menjadi sangat ribut, dikarenakan putri utama diculik. Meiko yang juga berada disana langsung berlari ke arah sang Raja dan sang Ratu.

"Apa itu tadi?" tanya Meiko dengan cepat-cepat. Dia sepertinya tak memikirkan gaun yang sekarang dia pakai dan berlari.

"Aku tak tahu, kejadiannya terlalu cepat!" jawab Kaito yang agak tergoncang juga.

Gakupo dan Gumi mengetahui siapa orang yang menculik Rin, mereka saling menyetujui apa yang terlintas di pikiran mereka, mereka ingin melihat tawa Rin yang mereka lihat tadi, dan kemudian mereka berkata pada Raja Piko.

"Yang Mulia, kami mengetahui dimana Rin-sama dibawa." ucap Gakupo, dengan berlutut pada raja Piko yang memeluk ratu Lily yang menangis.

"Benarkah?" tanya ratu Lily. Dia menyapu air matanya sedikit.

"Benar Yang Mulia, namun kami tak yakin dapat membawa Putri Rin pulang jika hanya kami berdua..." jawab Gumi yang juga berlutut.

"Apa... maksud kalian?" tanya raja Piko.

"Yang Mulia Rin..." ucap Gakupo tanpa melanjutkan perkataannya, dan diteruskan oleh Gumi.

"... diculik oleh Demon Lord Utara." lanjut Gumi dengan wajah yang sendu.

Shock menghantui raja Piko dan ratu Lily. Raja Piko tak merasa bahwa dirinya pernah membuat Demon Lord Utara marah, namun apa alasannya? Raja Piko mengenal dengan sangat baik Demon Lord Utara, teman baiknya dulu, saat dia masih seorang Demon Lord wilayah Timur. (Hah?)

"Kalau begitu kami akan ikut membawa Rin-chan pulang!" tawar Meiko yang juga berlutut pada sang Raja, memohon agar dirinya diizinkan ikut. Dia tak mau kehilangan senyum Rin yang pernah dia lihat.

"Aku juga akan ikut dengan kalian!" tambah Kaito, dia juga berlutut seperti Meiko, dengan keinginan yang sama dengan Meiko, dia tak ingin kehilangan senyum Rin.

"Yang Mulia, jika anda mengeluarkan perintah, kami akan segera berangkat saat ini juga." ucap Gakupo dan Gumi. Keinginan mereka sama, meski Gakupo dan Gumi hanya melihat senyum Rin tadi, mereka ingin melihatnya kembali.

"Baiklah, aku, Raja ke-XII Kerajaan Sapphire, Piko Sapphire Utatane, memerintahkan kalian untuk membawa pulang putri kami, gagal tidak ada dalam pilihan!" perintah Piko yang masih memeluk Lily yang menangis.

"Kami mengerti!" tanggap Meiko, Kaito, Gakupo, dan Gumi.


Rina: Chapter 4 selesai! RnR please! Karena chapter na agak panjang, jika ada typo tolong beritahu saya!

Rin: RnR please agar author Rina melanjutkan ceritanya

Len: RnR untuk lebih banyak adeganku bareng Rin! *cium pipi Rin*

Rin: *blush*

Rina: Review anda tenaga saya untuk menulis! *nglirik Len ma Rin sambil cengar-cengir*