–Foolish Love–
Di sini mereka berempat. Di sebuah meja makan. Hyosi, Seokjin, Hwayoung,Hyoyoung duduk saling tatap – tatapan satu sama lain.
Hyosi memakan makan malamnya tanpa bersuara begitu juga Seokjin.
Sedangkan kakak kembarnya menatap adik nya dan juga Seokjin dengan tatapan yang sulit diartikan. Terlebih lagi Hyoyoung. Sedari dari memasang muka aneh.
"Eheeeemm"
Hwayoung sengaja berdehem memecah keheningan.
"Seokjin— ngomong – ngomong bagaimana kabarmu ?" mau tak mau Hwayoung bertanya. Rasanya sangat aneh di landa keheningan seperti ini.
"Huh " Seokjin menoleh ke arah Hwayoung. "Baik" jawab Seokjin sembari tersenyum.
"Siapa yang memulai ciu—"
"YOUNG"
"EONNI"
Hyoyoung sampai kaget akibat jeritan saudara kembarnya dan adiknya sendiri.
"Kan aku hanya bertanya" sunggut Hyoyoung.
Sedangkan Seokjin melihatnya hanya mengulum senyumnya.
"Sebaiknya kau tidur disini saja, sudah sangat malam untuk pulang"
UHUUKK !
Hyosi dan Hyoyoung sama– sama terbatuk. Kemudian saling bertatapan. Lalu menatap cepat Hwayoung.
"Eonni"
"Hwa"
"Kalian kenapa sih ?"
"Tapi hwa–"
"Young— biar kan saja lah. Toh mereka— kau tau kan ? "
"Dan siapkan keperluan untuk tidur Seokjin malam ini. Aku tidak mau adik ipar ku tidak nyenyak tidurnya" Hwayoung menatap Hyosi dengan kerlingan yang dapat dilihat Hyoyoung yang menatap saudara kembarnya ini dengan tak percaya.
–Foolish Love–
Seokjin dan Hyosi berdiri saling tatap – tatapan satu sama lain dengan kikuk di kamar gadis ini.
"Seokjin akan tidur di bawah" akhirnya Seokjin membuka suara dan tangan nya bergerak mengambil bantal.
"Jangan" Gerakan Seokjin terhentinya saat Hyosi dengan cepat menghentikan tangan Seokjin yang mengambil bantal.
"Di bawah dingin, tidur di atas saja"
"Tapi—"
"Bukan kah kita pernah tidur satu ranjang ?"
Seokjin mengkedip – kedipkan matanya. "Tapi—"
"Sudahlah aku sudah mengantuk"
Gadis ini menarik cepat tangan Seokjin agar ikut menghempaskan tubuhnya ke kasur.
Kini mereka sama – sama sudah terlentang di kasur yang mana satu sama lain saling menatap langit – langit kamar.
Hyosi melirik Seokjin sekilas "Selamat malam".
Setelah mengucapkan hal itu Hyosi membalikan badannya membelakangi Seokjin yang masih terlentang menatap langit – langit kamarnya.
Kasur bergerak. Hyosi tau kasur ini bergerak bukan karena Seokjin membalikkan badannya seperti dia. Tapi lelaki itu bergerak mendekat dirinya ke dia.
Tangan Seokjin melingkar memeluk Hyosi dari belakang.
"Selamat malam juga"
Gadis ini menyunggingkan senyumnya mendengar kata yang keluar dari mulut Seokjin. Kemudian gadis ini membalikan badannya menghadap Seokjin. Dia tatap Seokjin yang sedang menatapnya.
"Tau night kiss ?"
"Huh" Seokjin menatap Hyosi binggung.
Smirk tersungging di bibir Hyosi. Gadis ini semakin mendekatkan tubuhnya ke Seokjin. Tangannya bergerak menangkup wajah Seokjin.
Di tempelkannya bibirnya ke bibir tebal Seokjin.
Di kecup – kecupnya bibir Seokjin membuat Seokjin semakin binggung.
"Apa yang Hyosi lakukan ?"
Tidak menjawab, Hyosi terus memberi kecupan – kecupan singkat di bibir Seokjin. Setelah puas memberi kecupan – kecupan singkat kemudian di kulumnya bibir bawah Seokjin dengan lembut. Membuat si tubuh empunya menegang seketika. Sekilas senyuman terlayangkan dari bibir Hyosi di sela kegiatannya mengulum bibir Seokjin. Sudah puas dengan bibir bawahnya Hyosi beralih ke bibir atas Seokjin. Hyosi sedikit bersyukur Seokjin tidak ikut membalas. Dia yakin dia bakalan yang minta berhenti. Memang ini mau gadis ini menikmati bibir Seokjin dengan sepuasnya. Tak puas hanya dengan bibir atas dan bawah Seokjin, Hyosi menjulurkan lidahnya memasuki bibir Seokjin yang sedikit terbuka. Di absennya deretan gigi Seokjin. Lidahnya bermain bebas di rongga mulut Seokjin. Setelah itu digerakan kepalanya kekiri dan kekanan mengekploitasi bibir Seokjin. Sedangkan Seokjin, diam menikmati perlakuan bibir Hyosi ke bibirnya. Sampai Hyosi mengigit gemas bibirnya dia hanya menahan ringgisannya dan membiarkan Hyosi mengulum dan menghisap kembali bibirnya dengan sepuasnya.
Hyosi melepaskan tautan bibirnya di bibir Seokjin.
Seokjin menatapnya dengan dingin tidak seperti tadi.
"Apa yang kau lakukan" desisnya tajam.
Hyosi sampai kaget mendengar desisan tajamnya. Hyosi menatap pandangan mata Seokjin yang tajam. Sedikit takut dia menatap pandangan mata Seokjin.
"Night kiss" walaupun sedikit takut Hyosi tetap menjawab dengan nada biasanya.
"Tck" lelaki ini berdecak mendengarnya.
Hyosi membelakan matanya "Tidak mungkin– jangan bilang dia di–"belum saja batin dan fikirannya selesai berseteru. Lelaki ini menarik Hyosi yang tadi sedikit menjauh dari dirinya.
"Boleh aku membalikannya ke dirimu"
Jemari panjang Seokjin menusuri surai rambut Hyosi dengan lembut. Hyosi meneguk ludahnya kasar.
Sedetik kemudian bibir Seokjin mendarat dengan lembut di bibir Hyosi. Mengecupi berulang – ulang seperti yang dilakukan gadis ini kepadanya.
Setelah puas mengecupi bibir plum Hyosi, Seokjin menghentikan kegiatannya lalu tersenyum ke arah Hyosi.
"Selamat malam"
Hyosi terperangah, dalam fikirannya Seokjin akan berbuat lebih dari ini. Tapi kali ini dia salah.
"Seokjin– apa kau di berada di titik yang belum pernah kau rasakan sebelumnya ?" Hyosi menatap lamat Seokjin.
"Entahlah— aku rasa aku berbeda. Aku sendiri juga tidak tau apa ini. Tapi aku senang seperti ini" akunya.
"Aku ingin kau seperti ini" Hyosi berucap lirih.
"Aku ingin kau selalu seperti ini"
Seokjin diam tak menjawab. Di tatapnya Hyosi yang menatapnya.
"Apa perasaanku saja, aku merasakan seperti saat bersama mu ?"
"Begitukah ?"
"Hum"
"Kalau begitu aku akan selalu berada di dekatmu"
Hyosi dan juga Seokjin saling melemparkan senyum mereka. Kemudian Seokjin merengkuh kembali Hyosi ke pelukannya. Di belai – belainya rambut coklat Hyosi dengan lembut.
"Seokjin—"
"Ya–"
"Bisa bernyanyi untuku ?"
"Bernyanyi ?"
"Hum "
"Baiklah "
*River Flows In You*
Neoreul wihan gili hana ittdamyeon,
( Ada jalan di dalam hati mu yang dibuat hanya untuk mu)
geugeon jigeum baro neo ane isseo,
( Jangan takut mengambil langkah pertama mu dan kemudian mengambil langkah kedua)
Hyosi memejamkan matanya menikmati suara lembut Seokjin. Di peluknya lelaki ini dengan erat seakan tidak mau melepaskannya.
Geureohkedo gyeondyeonaelsu ittdamyeon,
(Nyeri akan datang tapi aku yakin kau dapat bertahan)
Geugose neoeui modeun geol mat gyeo bwa,
(Lebih jauh menyusuri jalan bahwa baru saja mempercayai itu sedikit lebih banyak).
Hyosi menyelami kata – kata yang keluar dari mulut Seokjin. Menyesapi makna kata yang membuatnya ingin mengalirkan air matanya.
Holding you, holding you, it's in you
River flows in you
cheoncheonhi deo, cheoncheonhi nae , mamsoge gangeun heuleugo,
(Memperlambatnya, memperlambatnya Sungai yang mengalir dalam diriku juga)
Dan benar. Air mata Hyosi kini bebas jatuh melewati mata almondnya dan mengalir di pipi mulusnya.
Holding you, holding you, it's in you.
River flows in you
Gidarim geu gidarim ggeuteneun naega isseulgga,
(Menunggu sekarang, menunggu sekarang. Hanya menjadi kuat. Kau dapat melaluinya )
Tidak ! Hyosi tidak bisa menahan air matanya. Di biarkannya air mata nya bebas mengalir. Dada nya terasa sesak. Sangat sesak. Hanya karena cinta dia seperti ini. Sakit. Itulah yang dia rasakan. Gadis ini. Hyosi semakin memeluk Seokjin menumpahkan kesedihannya disela alunan lagu yang di senandungkan lelaki ini.
Neol hyanghan nae mameul deo shimgo shipeo,
(Jika kau membiarkan ku, aku akan memberikan hati ku kepada mu)
Eonjena naega neol neuggilsu ittge,
(Sehingga saya bisa merasakan apa lagi yang bisa saya lakukan)
Dalam hati gadis ini. Dia benar – benar bertekad membuat Seokjin menjadi miliknya bagaimana pun.
Geureohkedo gyeondyeonaelsu ittdamyeon.
( Bisa tunggu sedikit lebih lama )
Geugose neoeui modeun geol mat gyeo bwa,
(Dalam hati mu kau percaya itu)
"Tunggu aku. Tunggu" batin Hyosi dengan tekad kuatnya.
Holding you, holding you, it's in you
River flows in you
Cheoncheonhi deo cheoncheonhi nae mamsoge gangeun heuleugo,
Holding you, holding you, it's in you
River flows in you
Gidarim geu gidarim ggeuteneun naega isseulgga
Tapi lelaki ini. Seokjin. Seokjin menahan air mata nya. Sekuat tenaganya dia menahan air matanya. Lelaki ini dapat merasakan air mata gadis ini membasahi dadanya. Mengeluarkan kesedihan yang selama ini terpencar di matanya. Lelaki ini semakin memeluk gadis ini erat – erat.
Seokjin mengakhiri lantunan lagu nya dengan senyuman miris. Rasanya ia ingin ikut menangis bersama gadis ini bersama Hyosi.
–Foolish Love–
Hyosi rasanya ingin mengutuk habis – habisan relator kelasnya yang seenaknya memasukan namanya ke acara studi tour ke Japan tanpa memberi tahu dia dulu.
Hyosi menatap kesal hotel yang akan di tempati dia bersama teman – teman kampusnya.
"Hyosi kau sekamar dengan Song Ah Mi ya—" sebuah suara yang membuat kekesalan Hyosi semakin memucak.
Dibalikkan badannya menatap seseorang tersebut.
"DIAM ! AKU SUDAH TAU ! AH MI SUDAH MEMBERI TAHU KU!" pekik Hyosi benar – benar kesal membuat relatornya ini sedikit memundurkan langkahnya.
"Ya— kenapa kau menjerit kepadaku ? Aku ini relator mu" pekik relator kelas Hyosi yang bernama Son Donghwa ini.
"Jadi kalau kau relator ku, aku tidak boleh menjerit begitu hah ? Seharus wajar kalau aku marah. Kau seenaknya saja memasukan namaku ke daftar studi tour ini" Hyosi menatap marah Donghwa yang sedang menatapnya ngeri.
"Tck– kau begitu saja marah, aku kan tidak tau. Lagi pula ini rekomendasi . Ya aku sebagai relator kelas bisa apa ?"
"Cih— menyebalkan" Hyosi mendesis kesal.
"Hah– dan ini berkas untukmu, jangan lupa diisi sehabis makan siang kumpulkan kepadaku" titah Donghwa.
Hyosi menarik kasar lembaran kertas dari tangan Donghwa dan langsung meninggalkan relatornya itu yang terpaku melihatnya. Menatap Hyosi yang berubah dari pendiam diruangan kini menjerit hebat di hadapannya. Son Donghwa menggeleng – gelengkan kepalanya heran.
"Wanita memang susah di mengerti"
Dia berbicara sendiri ke dirinya.
–Foolish Love–
Hyosi dan teman – temannya kini duduk di aula di hotel yang di tempati mereka. Hyosi sedari tadi menatap ponselnya yang mana layar ponselnya telah dihiasi foto dia dengan Seokjin. Diusapnya ponselnya dengan lemah. "Baru sehari aku tapi sudah begitu merindukkan mu" desis Hyosi lirih.
Lamunan Hyosi tentang Seokjin terbuyar saat teman – teman wanitanya berbisik satu sama lain membuat keributan kecil di sekitarnya.
"Hyosi lihat tutornya tampan sekali" Song Ah Mi teman sekamar Hyosi menyengol lengan Hyosi membuat si empunya menoleh kedepan.
"Lihat tampan sekali dia" desis Ahmi senang.
Awalnya Hyosi biasa saja melihat tutor di depannya ini tapi kemudian retinanya membesar kaget saat tutornya melihat kearahnya lalu tersenyum
"Barom sunbae" desis Hyois.
"Huh– kau mengenalnya ?" Ahmi menatap Hyosi heran.
"Huh" Hyosi menoleh ke Ahmi. "Dia seniorku saat di smp"
"Benarkah ?" tanya Ahmi kaget.
Hyosi menanggukan kepalanya lalu menoleh kedepan menatap tutornya ini.
"Hai Hyo– " sapa Barom yang seketika itu juga jeritan – jeritan mengggema di aula ini.
–Foolish Love–
Hyosi memanyunkan bibirnya sambil menatap teman – temannya yang bermain di pantai Shirahama, yang terletak di Shirahama cho Jepang. Ya, sehabis pemberian materi mereka dibawa ke pantai untuk refresing.
"Boo—"
"AAAHHH" jerit Hyosi kaget, Hyosi menoleh kebelakang melihat siapa yang mengejutkannya.
"Barom Sunbae—" sahut Hyosi yang masih kaget.
"Hahaha– kau begitu terkejut ya ?" Barom terkekeh melihat raut muka terkejut Hyosi.
"Jantungku hampir saja lepas" canda Hyosi.
"Hahaha—maaf—maaf" ujar Barom meminta maaf.
Kemudian Barom memberikan minuman kaleng ke Hyosi yang disambut cepat oleh Hyosi.
"Kenapa tidak ikut bermain bersama mereka ?"
Hyosi yang meneguk minumnya menoleh ke Barom.
"Ah– tidak– punggungku masih capek akibat duduk tadi"
"Kau tidak suka aku menjelaskan materi ?" Barom menatap Hyosi kesal.
"Hahaha " tiba – tiba saja Hyosi tertawa melihat muka kesal sunbaenya ini.
"Tidak– aku hanya bercanda, lagi malas saja bermain air " jelas Hyosi tersenyum
"Begitu kah ?" tanya Barom.
"Sunbae tidak ingin menikmati pantai ?"
Dengan cepat tangan Barom menjitak kepala Hyosi
"Ya— kenapa memukul ku ?" pekik Hyosi kesal.
"Kau ini jangan panggil aku sunbae HYO" Barom sengaja menekan nama Hyosi.
"Tapi tidak perlu seperti ini" ringgis Hyosi sembari mengelus – ngelus kepalanya.
"Aku akan terus seperti ini kalau kau memanggil ku sunbae" Barom memicingkan matanya menatap Hyosi.
"Jadi aku harus panggil apa ? Barom begitu ?"
"Aaaaaa sakit" Hyosi kembali meringgis. Lagi – lagi kepalanya di jitak sadis.
"Tidak sopan, panggi " Barom sengaja mengeja oppa di hadapan Hyosi membuat Hyosi mencibir.
"Tidak mau"
"Ia Oppa, ia ia ampun— " Hyosi melindungi kepalanya saat Barom ingin mentakbamnya lagi. Kemudian terdengar gelak tawa yang keras dari Barom.
"Hahaha muka mu sangat lucu Hyo hahahahahaha"
"Yaa— kenapa mentertawakanku ?"
"Hahahahahaha"
"Berhenti mentertawakanku" pekik Hyosi gemas, melihat Barom tak bisa diam Hyosi memberi cubitan panas di pinggangnya.
"AW— sakit Hyo—sakit— " ringis Barom.
"Makanya diam" Hyosi mendelik marah menatap Barom.
"Baiklah baiklah aku tidak tertawa lagi" akhirnya Barom menghentikan tawa dengan terpaksa walaupun sebenarnya dia masih ingin tertawa lagi.
Barom melihat – lihat sekeliling pantai ini.
"Bagaimana kalau kita berjalan – jalan, cuaca hari ini sangat cerah" Barom tersenyum menawarkan ke Hyosi.
Gadis ini tampak berfikir, selanjutnya menganggukan kepalanya.
–Foolish Love–
Sudah sekitar 30 menitan mereka berjalan – jalan di sekitar pantai Shirahama, banyak hal yang mereka lakuin dari melihat pernak – pernik di pantai ini sampai mencicipi makanan di pinggir pantai. Sampai akhirnya mereka duduk di pelataran jalan yang menghadap ke pantai, sekedar menikmati udara pantai dan keindahan pantai Shirahama.
"Hyo—"
"Ya sunbae, eh oppa" Hyosi menyelah cepat kata – katanya.
"Hahaha, kau belum terbiasa ya memanggil ku oppa ?" tanya Barom lembut. Dan Hyosi mengangguk pelan.
Barom mengigit bibirnya sendiri, di liriknya Hyosi yang disampingnya duduk sambil menikmati udara pantai yang menyapa lembut wajahnya. Sebuah ulasan senyuman terukir di bibir Barom melihat Hyosi memejamkan matanya menikmati angin pantai.
Barom terkaget karena tiba – tiba saja Hyosi membuka matanya dan menatap Barom.
"Kenapa oppa melihatku terus ?"
"Hahaha tidak– hanya saja aku masih tidak percaya kalau aku disukai gadis pendiam,angkuh,sombong, cuek sepertimu" Barom pun tersenyum melihat gadis ini.
"Cih— oppa percaya diri sekali" Hyosi menjawab angkuh.
"Bukti nya saat kelulusan aku melihatmu menangis sambil memanggil namaku" kini Barom tersenyum mengejek ke Hyosi.
Wajah Hyosi mendadak kaget mendengarnya "Oppa melihatnya ? Oppa mendengarnya ?" pekik Hyosi heboh.
"Hahahah" setelah tertawa kecil Barom menganggukan kepalanya.
"Tapi aku senang, orang yang aku sukai menangisiku"
"Oppa—" Hyosi melongo menatap Barom * ORANG YANG AKU SUKAI *
"Maaf dulu aku tidak menyatakan cintaku padamu. Aku terlalu pengecut"
"Oppa—" lirih Hyosi.
Kalau saja dia di status tidak memiliki siapa ataupun tidak ada ikatan dengan orang lain. Mungkin hati Hyosi membucah bahagia, tapi tidak kali ini—Hyosi sedikit miris mendengarnya. Dia sebenarnya senang tapi di balik kesenangan nya itu dia menolak, karena hatinya yang terdalam sudah di masuki oleh satu namanya yang membuatnya hampir gila. Nama nya membuatnya sedikit banyak nya merubah dia, nama yang membuatnya ingin menyatakan ke dunia bahwa dia milikku, dan aku miliknya. Nama yang membuatnya menangisi hidupnya. Nama yang membuatnya menjungkir balikkan dunia. Kim Seokjin. Nama yang kini menempati posisi hati paling dalam dari seorang gadis bernama Ryu Hyosi. Gadis angkuh, sombong, pendiam, cuek dan tidak mau sekelilingnya.
"Hyo—" Panggilan Barom menyadarkan lamunan fantasi Hyosi.
"Tck— kau melamun ?"
"Hm—" Hyosi mengkerjab – kerjabkan matanya.
"Sudah lupakan saja, kan itu cinta waktu dulu. Lagi pula kau sudah punya kekasih kan ?"
"Kekasih ?" desis Hyosi. Baru saja dia memikirkan Seokjin. Kini Barom bertanya tentang kekasih.
"Coba ceritakan tentang kekasihmu ?"
Hyosi diam. Hyosi berfikir. Apa yang harus dia ceritakan tentang Seokjin ke Barom. Seokjin hanya lelaki biasa yang terbelakangan mental yang sekarang menjalani terapi psikis, Seokjin adalah lelaki yang sangat baik hati, juga polos. Tapi polosnya itu terkikis saat dia berada di titik normalnya. Seokjin adalah lelaki yang membuat hidupnya belakangan ini berwarna. Seokjin lelaki adalah lelaki yang dia cintai.
"Hyo–"
Hyosi tersenyum sekilas "Aku tidak bisa menceritakan banyak tentang dirinya. Dia– "
Hyosi menerawang kedepan melihat deburan ombak yang menerpa karang di ujung sana.
"Dia baik, tidak dia sangat baik. Dia yang membuatku sedikit merasakan senyuman di dunia ini. Dia yang rela mengorbankan nyawa demi hal kesukaanku. Dia yang terlalu ke kanak – kanakan tetapi bisa sedewasa tanpa yang di perkirakan. Dia lelaki polos dengan tutur bahasa yang lembut. Dia– " Hyosi mengeluarkan nafas kasarnya.
"Kau begitu mencintainya ?"
Hyosi tetap menatap kedepan dan mengangguk sembari tersenyum.
Barom yang disamping Hyosi ikutan tersenyum tetapi senyuman miris, dalam hati nya dia berniat menyatakan cintanya yang tertunda sejak lama ke gadis bermarga Ryu ini.
"Oppa— " panggil Hyosi tiba – tiba.
"Bolehkan aku meminta sesuatu kepadamu ?" Hyosi menoleh ke Barom dan menatap lelaki ini dengan tatapan memohon.
"Sesuatu ? Hm— boleh"
"Menari di depanku. Mau ya— " rengek Hyosi.
"Kenapa harus itu ?" Barom menatap Hyosi heran.
Hyosi menghelah nafasnya lesuh. "Dulu saat pertandingan di sekolah aku tidak dapat melihatmu bertanding" keluh Hyosi.
Mendengar keluhan Hyosi Barom kembali tersenyum, dia pun berdiri tepat di depan Hyosi. Di keluarkannya ponselnya dan menghidupkan sebuah lagu hiphop.
Barom pun mulai menggerakan tubuhnya mengikuti alunan lagu tersebut.
"WAH— OPPA HEBAT" teriak Hyosi takjub, Hyosi pun bertepuk tangan memberikan apresiasi ke Barom.
Barom yang nafasnya masih tersenggal – senggal menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal melihat Hyosi bertepuk tangan dengan semangat.
Tiba – tiba tawa Hyosi memudar saat ponselnya bergetar, dilihatnya panggilan di ponselnya. kini raut muka Hyosi benar – benar berubah.
"Oppa sebentar ya" pamit Hyosi dan berjalan menjauhi Barom.
"Kan sudah kubilang 3 bulan. Ini belum 3 bulan"
[Aku tidak bisa menunggu. Kau harus meninggalkan Seokjin sekarang juga]
"Tidak ! aku tidak mau" pekik Hyosi.
[Kau harus mau !]
"Ya Ayah— " suara tinggi Hyosi kini berubah bergetar. Air matanya dengan cepat mengalir ke pipinya.
[Kau memang anak pembantah]
"Kenapa kalau aku membantah ? Aku tidak akan membantah kalau Ayah tidak membuatku seperti ini. Aku punya pilihan. Tidak bisakah aku memilih pilihanku ?" Hyosi mengapus air matanya dengan punggung tangannya.
[Pilihan apa ? Pilihan memiliki lelaki itu hah.]
"Tapi aku mencintainya Ayah— aku mohon beri waktu untuknya" Hyosi memelas pilu.
[Tidak kau harus menurutiku]
"Ayah—" nada suaranya semakin menyedihkan.
Ayahnya memustuskan telfonnya secara sepihak.
Hyosi menjatuhkan dirinya ke jalanan, tubuhnya tak sanggup menahan bebannya sendiri. Rasanya tulang nya benar benar rontok saat ayahnya sendiri mengatakan. Harus meninggalkan Seokjin sekarang juga. Kata – katanya yang membuat sarafnya mati seketika.
Gadisnya ini menangkup wajahnya sendiri dengan tangannya. Menangisi kehidupan cinta yang baru saja dia capai.
–Foolish Love–
Barom melihat Hyosi jatuh di jalanan segera berlari ke arah Hyosi. Barom tertegun melihat Hyosi menangis di tangkupan tangannya. Ragu – ragu Barom mendekat diri ke Hyosi.
"Hyo—" panggil Barom sedikit ragu.
Hyosi mendongakan kepalanya dengan cepat Hyosi memeluk Barom. Kali ini dia butuh sandaran untuk menangis.
"Oppa—" isak Hyosi.
"Kau kenapa ?" tanya Barom dengan nada khwatir.
Hyosi bukannya menjawab malah menggelengkan kepalanya lemah.
"Ayo pulang" ajak Barom dan membantu mengangkat Hyosi untuk bangkit.
–Foolish Love–
Hyosi duduk di balkon hotelnya menerawang langit gelap dari balkon. Matanya masih sebab dan bengkak. Padahal kejadian itu sudah berlalu 5 jam.
Barom yang melihat Hyosi murung saat dia memberi materi, mempercepat waktu tutornya. Barom juga ikutan sedih melihat Hyosi yang murung saja menundukan kepalanya menatap ponselnya. Dan saat Barom mengajak Hyosi untuk keluar Barom tidak sengaja melihat wallpaper ponsel Hyosi. Dimana gadis itu bersama dengan lelaki. Yang mana Barom tidak tahu nama lelaki itu tapi Barom yakin itu adalah kekasihnya. Sedikit miris Barom melihatnya.
Lamunan Hyosi terhenti saat sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.
Hyosi melihat pesan singkat tersebut dengan senyuman miring.
[Bagaimana keadaanmu?]
"Aku baik – baik saja oppa"
Hyosi pun membalas pesan singkat tersebut.
Kemudian dilanjutkannya kembali lamunannya. Dia benar – benar merindukan sosok yang selama ini mengisi relung hatinya.
Dengan bertumpu kedua tangannya Hyosi menundukan kepalanya. Air matanya kembali mengalir. Dada nya terasa sangat sesak. "Aku merindukanmu" desis Hyosi lirih.
–Foolish Love–
Hyosi melepaskan nafas leganya saat dia sudah berada di bandara Gimpo. Hyosi sedikit beralasan kalau keluarganya ada acara jadi dia 4 hari pulang lebih cepat ketimbang teman – teman kampusnya.
Sebuah senyuman terukir di bibir Hyosi melihat kedua kakak kembarnya berjalan mendekati dirinya.
"Cepat sekali pulangnya ?" tanya Hwayoung binggung.
"Hmmm— aku sengaja pulang lebih cepat hehehe" tawa Hyosi cangung.
"Kau tidak membawa oleh – oleh apa pun ?" Hyoyoung celingak – celinguk melihat barang bawaan Hyosi, tidak ada bedanya dengan dia pergi 3 hari sebelumnya.
"Eonni macam tidak pernah ke Jepang saja. Buat apa membawa oleh – oleh. Eonni lebih sering pergi ke negeri sakura tersebut ketimbang aku" sunggut Hyosi. Di naikkannya satu alisnya.
"Yasudah ayo pulang, aku sudah menyiapkan makanan" titah Hwayoung.
Selama perjalanan Hyosi diam saja membuat kedua kakaknya binggung dan heran. Hyoyoung yang sedang menyetir memberi kode ke saudara kembarnya untuk menanyakan ada apa dengan adiknya.
Kedua kakaknya semakin kaget saat Hyosi terisak. Hyoyoung maupun Hwayoung saling tatap – tatapan satu sama lain.
Hwayoung pun memberi kode menyuruh membiarkan adiknya begitu. Hyoyoung pun mengangguk dan fokus kembali menyetir.
–Foolish Love–
Hwayoung dan Hyoyoung menatap pintu kamar Hyosi dengan heran. Setelah pulang Hyosi masuk ke kamar dan tidak membuka pintu kamarnya sampai sekarang. Dan Hyosi pun melewatkan makan malamnya.
"Kau masuk duluan " suruh Hyoyoung.
"Kenapa harus aku ? Kau duluan lahir ketimbang aku jadi kau duluan" Hwayoung pun protes.
"Astaga" gadis kembar ini sama – sama terkejut saat Hyosi membuka pintu kamarnya. Penampilannya sangatlah buruk. Rambut kusut, mata bengkak, hidung merah, muka lesu.
"Masih ada makanan ?" tanya Hyosi dingin.
Kedua kakaknya ini mengangguk cepat ke Hyosi. Tanpa babibu Hyosi pun melangkahkan kakinya ke dapur.
"Ada apa dengan dia ?" bisik Hyoyoung.
"Mana aku tau, tapi sepertinya tentang Seokjin" tebak Hwayoung.
"Kasihan Hyo" Hyoyoung berkata lirih menatap punggung adiknya kini yang sudah di dapur.
Hwayoung menatap kasihan adiknya ini.
Hwayoung tersentak saat Hyoyoung menyikutnya. "Cepat katakan" bisik Hyoyoung.
Hyosi menatap dingin kakaknya ini yang saling guit menguit.
"Ada apa ?" Hyosi membuka suaranya.
"Eh—hehehe— begini Hyo— Kau boleh tinggal di apartment kami bersama Seokjin"
Retina Hyosi membesar. "Tinggal berduaan bersama Seokjin ?" tanya Hyosi tak percaya.
"Hhmm— kami rasa kau lebih baik tinggal bersama Seokjin"
"Tapi—"
"Sudah tenang saja, kami akan mengurus semuanya" senyum hangat terpancar di bibir Hwayoung membuat Hyosi juga ikutan tersenyum.
"Terima kasih eonni" Hyosi tersenyum berterima kasih ke kedua kakak nya ini.
"Sama – sama Hyo" balas Hyoyoung.
–Foolish Love–
Hyosi melangkahkan kakinya semangat ke ruangan Seokjin. Wajah berseri saat melihat pintu kamar Seokjin semakin dekat. Sesampainya di depan pintu kamar Seokjin, Hyosi sedikit menghelah nafasnya. Di bukanya pelan – pelan pintu kamar Seokjin berniat ingin mengejutkan Seokjin tapi niat tersebut pupus saat Hyosi melihat Seokjin sedang tertidur pulas.
Dengan langkah pelan Hyosi melangkah masuk ke ruangan kamar Seokjin. Sesampainya Hyosi menatap Seokjin yang tertidur layaknya anak kecil. Muka nya benar – benar lucu. Jemari – jemari Hyosi tergerak membelai pipi mulus Seokjin. Kemudian beralih ke bulu – bulu mata lentik Seokjin, lalu turun ke hidung mancung Seokjin dan semakin turun ke bibir tebal Seokjin. Bibir yang membuatnya candu. Diusapnya bibir Seokjin dengan ibu jarinya. Merasa gemas Hyosi mendekatkan bibirnya ke bibir Seokjin. Awalnya hanya mengecup sekilas tapi sepertinya Hyosi tidak tahan menahan hasratnya melihat bibir Seokjin.
Di kulum nya lembut bibir Seokjin. Hyosi menghentikan kulumannya saat Seokjin menggeliat pelan. Kelopak mata Seokjin perlahan terbuka. Di kerjab – kerjabkannya matanya memfokuskan pandanganya.
"Hyosi—" panggil Seokjin dengan nada suara serak.
"Hmmm"
Antara sadar dan tidak Seokjin tersenyum. Perlahan Seokjin bangkit dari tidurnya. Di tatapnya Hyosi dengan lamat.
Hyosi membelas poni Seokjin saat dia mengucek – ngucek matanya.
"Hyosi kemana saja ?" sunggutnya mempoutkan bibirnya.
"Merindukanku ?" Seperti anak kecil Seokjin mengangguk tapi tetap mempoutkan bibirnya.
"Bersiaplah, mulai hari ini kita akan tinggal bersama"
"Tinggal bersama ?" Seokjin menantap Hyosi binggung.
"Hmm bersama, kau dan aku satu rumah"
"Satu rumah ?"
Hyosi mendecak kesal "Sudah cepatlah bersiap, aku tunggu di luar" diacak – acaknya rambut Seokjin dengan gemas.
–Foolish Love–
"Seokjin makan malamnya sudah siap"
Hyosi berteriak dari arah dapur apartmentnya. Ya mereka berdua sudah di dalam apartment yang sama alias mereka sudah tinggal bersama.
Seokjin yang mendengar itu bergerak cepat dari arah ruang tv menuju ruang makan.
Hyosi tersenyum saat Seokjin sudah duduk dengan senyuman terukir di bibirnya. Hyosi pun mempersiapkan makan malam buat Seokjin.
"Makanlah"
Seokjin mengangguk semangat. Diambilnya sumpit dan mulai memakan makan malamnya.
Makan malam mereka lewati dengan canda tawa. Hyosi baru tau kalau Seokjin ternyata sangat lucu, dari canda yang keluar dari mulutnya, tawa nya, banyolan nya yang membuat Hyosi tertawa lepas.
–Foolish Love–
Setelah makan malam Hyosi dan Seokjin jduduk berdua di depan televisi. Seokjin dan Hyosi tertawa terbahak – bahak menonton kartun larva. Sampai Seokjin jingkrak – jingkrak bangkit dari duduknya sanking lucunya. Begitu juga Hyosi yang berulang kali menepuk – nepuk dadanya karena terbatuk – batuk akibat tertawa.
"HAHAHAHAHA"
Gelak tawa mereka menggelegar di seisi apartment ini.
Hyosi yang masih tertawa menoleh ke arah kamarnya yang mendengar dering ponselnya berbunyi.
Dengan masih tertawa Hyosi melangkahkan kakinya ke kamar.
Tawanya berhenti seketika. Gadis ini mendengus kesal.
"Ada apa lagi" Nada suara Hyosi sangatlah dingin.
Sekuat tenaga Hyosi menahan air mata agar tidak jatuh dari mata almondnya. Tangannya bergetar menggempal tangannya.
"Tidak akan. Aku tidak akan melepaskannya"
Hyosi menggeram marah.
Di matikannya secara sepihak panggilan telfonnya.
Hyosi mengusap wajahnya kasar. Di gigitnya jarinya menahan tangisnya. Nafas tersenggal – senggal. Hyosi gadis ini menggeleng – gelengkan wajahnya.
"Tidak. Tidak mungkin. Minggu depan ? Tidak. Tidak" desis Hyosi frustasi.
Dilangkahkannya kakinya menuju ruang tv. Di tatapnya Seokjin yang tertawa dengan senang dari belakang. Kakinya melangkah pelan ke arah Seokjin. Kakinya terus melangkah, melangkah hingga akhirnya sampai tepat di hadapan Seokjin.
"Hyosi tidak nampak" protes Seokjin yang masih tertawa saat Hyosi menutup pandanganya ke arah tv.
Hyosi diam tak bergeming tak menggubris protesan Seokjin.
Di tatapnya Seokjin lamat.
"Seokjin" desisnya tertahan.
Seokjin menghentikan tawanya melihat air mata Hyosi mengalir di pipinya. Seokjin tertegun saat air mata Hyosi semakin deras. Tetapi gadis ini masih kukuh diam menatap Seokjin.
Melihat Hyosi menangis seperti itu. Membuat Seokjin memberanikan dirinya menarik Hyosi ke dekapannya. Di dudukan tubuh Hyosi di pangkuannya.
"Hyosi jangan menangis" tangan kanan Seokjin mengusap air mata yang meleleh di pipi mulus Hyosi. Sedangkan tangan kirinya menopang tubuh gadis ini di pangkuannya.
"Seokjin–" desis Hyosi bergetar.
"Ya—"
"A—aku, aku mencintaimu" lirih gadis ini.
Seokjin diam, lelaki ini hanya menatap Hyosi. Diusapkannya ibu jarinya ke bibir plum Hyosi.
"Sssstttt— aku juga mencintaimu" balas Seokjin.
Tangan Hyosi dengan cepat menggengam tangan kanan Seokjin.
"Jadikan aku milikmu seutuhnya" mohon Hyosi.
"Jadikan aku punya mu Seokjin" sekali lagi Hyosi memohon.
Dia tidak perduli dia dipandang apa oleh lelaki ini. Yang dia inginkan Seokjin menjadi miliknya.
Merasa tak ada jawaban. Hyosi dengan cepat meraup bibir Seokjin. Dikulumnya bibir lelaki ini dengan sedikit kasar. Hyosi tidak perduli lelaki ini membalasnya atau tidak. Hyosi menyalurkan rasa cintanya ke Seokjin melalui ciuman ini.
Hyosi terus mengulum, menghisap dan terkadang mengigit gemas bibir bawah Seokjin. Seokjin membiarkan Hyosi menciumnya dengan sepuasnya. Seokjin dapat merasakan rasa asin yang berasal dari air mata gadis ini. Tapi Seokjin tetap membiarkannya. Membiarkan gadis ini menangis menciumnya.
Hyosi melepaskan ciuamannya. Nafasnya tersenggal–senggal. Ibu jari Seokjin malah terulur mengusap bibir Hyosi.
"Apa yang kau lakukan hum ?" tanya Seokjin ibu jarinya masih mengusap bibir Hyosi dengan lembut.
Hyosi diam dalam isakan tangisnya. Dengan gerakan lembut Seokjin menarik Hyosi untuk memeluknya. Dan gadis ini dengan cepat memeluk Seokjin. Dan lagi – lagi Hyosi menyalurkan rasa sedihnya di tangisnya. Tangis pilunya.
Tangan Seokjin dengan lembut membelas rambut coklat Hyosi. Dan mendekap gadis ini erat. Di kecupnya kening Hyosi dengan lembut.
"Aku lebih dari kata mencintaimu" lirih Seokjin.
Perlahan tapi pasti Seokjin mendekatkan wajahnya ke Hyosi, di kecupnya bibir Hyosi lalu kemudian di kulumnya dengan lembut dan perlahan. Membuat Hyosi menghentikan tangisnya dan membalas ciuman dari Seokjin. Seokjin semakin merengkuh tubuh Hyosi dan menakan tengkuk Hyosi memperdalam ciuamannya. Tubuh Hyosi terjengat saat tangan Seokjin membelai pinggang ramping gadis ini. Jemari – jemari Seokjin dengan nakal memasuki kaos longgar Hyosi membuat gadis ini mencengkram lengan Seokjin.
Hyosi dan Seokjin saling melumat ,menghisap, mengulum satu sama lain. Saling membagi rasa cinta mereka. Kedua tangan Hyosi kini sudah berpindah ke rambut Seokjin. Jemari –jemari tangannya telah di penuhi helaian –helain rambut lelaki ini. Ciuman lelaki ini berpindah dari bibir gadis ini menuju dahunya kemudian mengulum cuping gadis ini dan menurun ke leher putih gadis ini. Membuat gadis ini sontak menggerang saat Seokjin mengigit sedikit kulit leher Hyosi.
"Ah—"
Seokjin terus mengecupi leher putih Hyosi tak lupa juga di hisapnya seperti ini menghisap gemas bibir plum Hyosi. Berbagai bercak kemerahan sudah ada beberapa di leher Hysoi.
"Seokjin—ssshhh"
Hyosi mendesah tertahan saat bibir Seokjin sudah ada di diatas dadanya. Seokjin mengangkat wajahnya sedikit menarik kaos yang dipakai Hyosi kebawah dan mendaratkan kembali bibirnya ke dada Hyosi.
Darah Hyosi berdesir cepat saat lidah basah Seokjin bergerak lihai menjilati dada atas Hyosi dan membuat Hyosi menjengit kegelian.
"Aaahhh–"Hyosi mengelah nafas beratnya dan memejamkan matanya.
Hyosi semakin meremas rambut Seokjin. Kecupan – kecupan singkat yang diberikannya Seokjin seakan membuat gadis ini melayang.
Seokjin menghentikan kegiatannya saat menggeram.
Hyosi membuka matanya saat Seokjin menghentikan aktivitasnya. Hyosi menatap Seokjin dengan tatapan kecewa. Tapi tidak dengan Seokjin, lelaki ini malah menatap gadis ini dengan sangat dingin.
Gadis ini tau lelaki dihadapannya ini dalam titik apa. Titik yang diharapkannya.
Hyosi meneguk ludahnya kasar saat tatapan Seokjin semakin tajam. Perlahan Seokjin mendekatkan wajahnya di singkapnya anak rambut Hyosi ke belakangan telinganya lalu wajahnya bergerak ketelingan Hyosi.
"Bagaimana kalau aku juga menginginkan mu juga"
Hyosi kembali menelan ludahnya kasar. Suara Seokjin benar – benar seksi bagi gadis ini.
Hyosi menoleh menatap Seokjin. Dilihatnya Seokjin sedang tersenyum miring melihatnya.
Entah siapa yang memulai. Kini mereka berdua sudah berciuman kembali. Ciuman yang berbeda dari sebelumnya. Ciuman panas dan terkesan terburu – buru.
Hyosi membenarkan posisinya yang hampir merosot.
Ciuman panas ini membuat kedua insan ini saling mengeluarkan desahannya di tengah – tengah ciuman panas mereka. Saling memagut, menghisap, melumat. Decepan – decapan mereka pun menghiasi ruangan tv yang sepi.
Hyosi tersentak saat Seokjin bangun dari duduknya. Dan juga ikut menarik Hyosi dari pangkuan untuk berdiri. Tak melepaskan kan pelukan dan ciuman mereka. Hyosi mendorong tubuh Seokjin berjalan mundur kearah kamar. Dengan langkah tergesa – gesa mereka melangkah. Padahal tubuh mereka saling menubruk dinding, sofa,meja, bahkan pintu kamar. Tapi tetap Hyosi dan Seokjin tidak melepaskan tautan bibir mereka.
Hyosi mendorong Seokjin ke tempat tidur. Gadis ini langsung mengangkangi Seokjin dan menekan bibirnya memperdalam ciuman. Hyosi dapat merasakan tangan – tangan dingin Seokjin sudah mengrayangi punggung yang di balik kaos longgarnya. Tapi Hyosi membiarkan tangan Seokjin yang bergerak bebas di punggungnya.
Seokjin bangkit dari tidurnya sehingga posisi Hyosi menjadi duduk. Mereka sama – sama melepaskan tautan bibir mereka sekelak dan mereka satu sama lain saling membuka baju.
Degub jantung Hyosi berdetak kencang saat Hyosi melihat jelas dada bidang Seokjin. Begitu pula Seokjin, nafasnya yang tersenggal – senggal kini semakin tersenggal – senggal melihat dada putih Hyosi walaupun dada tersebut masih di tutupi bra berwarna baby peach.
Seokjin tersenyum lembut kearah Hyosi yang menatapnya. Dengan gerakan pelan Seokjin menarik dagu Hyosi. Dan kembali melumat bibir plum gadis ini yang sudah membengkak. Seokjin kembali melumat dan membelitkan lidahnya dengan lidah gadis ini. Dan gadis ini Hyosi juga membalas ciuman lembut dari Seokjin. Mereka kembali saling melumat dengan lembut. Decapan – decapan dengan tempo lembut keluar dari mulut mereka.
Setelah puas dengan bibir Hyosi, bibir Seokjin bergerak perlahan ke leher putih Hyosi padahal sudah banyak tanda disana yang dia buat.
"Bibir muhh—ssshhh"
Hyosi mendesah saat bibir tebal Seokjin mengecupi kembali area lehernya. Jantung Hyosi kembali berdetak kencang saat lidah Seokjin sudah ada di belahan dadanya.
"Aaaahhh" Hyosi memejamkan matanya. Lidah basah Seokjin kini menjilati belahan dadanya yang masih tertutupi bra.
"Cukup" kata Hyosi. Ditariknya wajah Seokjin menjauh dari dadanya. Kini Hyosi tersenyum miring ke arah Seokjin. Di daratkannya bibirnya ke area leher Seokjin dan menghirup dalam dalam aroma lelaki ini. Seperti yang dilakukan kepada dirinya. Hyosi mengecupi berulang, menghisap kulit lelaki ini dan juga mengigit gemas.
Jakun Seokjin naik turun menahan desahan yang tercekat di tengorokannya. Dengan senyuman jahil Hyosi mengecupi bahkan menjilat dan menghisap kuat jakun lelaki ini.
"Aaaahhh—"
Akhirnya desahan Seokjin keluar juga. Hyosi semakin tersenyum melihat wajah Seokjin sudah memerah. Desah nafas nya terdengar berat di telinga gadis ini.
Setelah itu bibir Hyosi menurun ke dada Seokjin. Di jilat – jilatnya dada Seokjin dan Hyosi gadis ini tidak bisa menahan hasratnya melihat puting Seokjin di kecup bergantian puting Seokjin. Tangan Hyosi yang menganggur juga ikutan bergerak membelai abs – abs kecil di perut lelaki ini merangsang lelaki ini lebih jauh.
"Eeeuuungghhh" Seokjin menahan desahannya dengan meremas paha Hyosi. Hyosi sedikit menoleh keatas melihat Seokjin mendongakkan kepalanya sambil memejamkan matanya.
Hyosi dapat merasakan di bawah dia berpangku ada sesuatu yang menonjol dan semakin mengeras. Hyosi terkekeh kecil melihat Seokjin sudah terangsang.
Dan dengan jahil lagi tangan Hyosi yang tadi membelai lembut perut Seokjin kini bergerak perlahan menuju selangkangan Seokjin. Tangan Hyosi membelai dari luar kepunyan Seokjin. Membuat Seokjin memekik menggerang.
Dengan cepat Seokjin menarik tangan Hyosi yang membelai juniornya. Di tatapnya gadis ini dengan dingin. Tapi Hyosi bukannya takut malah tersenyum dan kemudian mejilat bibir Seokjin.
"Ya—" pekik Seokjin tak terima. Tangannya langsung merabah punggung Hyosi dan mencari penggait bra gadis ini.
Seokjin tersenyum senang dan dengan cepat menggulingkan gadis ini hingga dia diatas dan Hyosi dibawah. Bra yang menutupi dada gadis ini di buangnya kesembarang arah. Seokjin meneguk ludahnya melihat dada putih sintal gadis ini.
Kini wajah Hyosi yang bersemu merah. Seokjin menatap dadanya dengan instens. Detakan jantung Hyosi sangat cepat saat wajah Seokjin semakin dekat ke dadanya.
Gadis ini berjengit saat bibir tebal Seokjin mengecup nipple dadanya.
"Euungg" lenguh Hyosi. Lidah Seokjin basah Seokjin mempermainkan nipple nya yang sudah mengeras. Hyosi meremas kuat sprai tempat tidurnya. Kini Seokjin tidak mempermainkan nipple nya dengan lidah basahnya, tangan lelaki ini sudah berada di dada kirinya membelai lembut dadanya. Sedangkan mulut lelaki ini mengisap dada kanannya. Hyosi semakin meremas sprei ini dua sensasi yang dia rasakan dalam satu waktu. Pinjatan lembut dari tangan lelaki ini dan hisapan didadanya yang tidak menuntut dari mulutnya.
Ingin rasanya Hyosi mengeluarkan desahannya yang sudah mencekat di tenggorokannya. Apa yang dilakukan Seokjin membuatnya mabuk kepayang.
"Akkkhh—pelan—" pintah Hyosi, saat remasan tangan Seokjin yang tadi lembut kini menjadi kasar. Kemudian mulut Seokjin berpindah ke dada gadis ini satu lain. Dilakukan adil seperti sebelumnya.
"Aaaaaaahhhhhh" Hyosi melenguh hebat saat deretan gigi Seokjin menyentuh kulit dadanya. Lelaki ini tidak lagi mengisap lembut melainkan mengigit – gigit gemas dada sintal Hyosi.
Setelah puas menikmati kedua dada Hyosi Seokjin mengangkat wajahnya. Lelaki ini dapat melihat wajah gadis dihadapannya sudah sangat memerah. Di dekatnya kembali wajahnya ke wajah gadis ini. Bibir mereka kembali bertemu. Di raupnya kembali bibir gadis ini dengan cepat. Dan mereka pun kembali berciuman panas. Kepala mereka bergerak ke kanan dan kekiri menghisap, mengulum secara tergesa – gesa.
Tangan Seokjin yang tadi di dada Hyosi kini bergerak menuju kebawah dengan gerakan pelan. Setiap sentuhan yang diberikan Seokjin membuat darahnya berdesir kencang. Jemari – jemari panjang Seokjin membelai lembut setiap inci tubuh gadis ini. Jemari dan tangannya mengitari pusar gadis ini, membuat Hyosi mengeliat kegelian.
Hyosi merasakan ribuan kupu – kupu terbang di perutnya. Lelaki ini benar – benar membuatnya ingin meledak.
Hyosi maupun Seokjin melepaskan ciuman panas mereka, mereka saling bertatapan. Mereka sama – sama tersenyum. Nafas mereka yang tersenggal – senggal menerpa satu sama lain.
Hyosi sontak mendesah kecil saat tangan Seokjin menyelip keselangkangannya. Meraba bagian privat gadis ini yang masih tertutupi hotpans nya. Saat Hyosi ingin memprotes Seokjin dengan cepat membungkam bibir gadis ini.
Tangan Seokjin semakin bergrilya di selangkangan Hyosi. Sedetik kemudian jari – jari Seokjin membuka kancing hotpans gadis ini dan menarik zipper hotpans. Setelah terbuka zippernya. Dengan cepat Seokjin menarik hotpans gadis ini.
Hyosi langsung menyilangkan kakinya yang sudah terlanjang bebas dari hotpansnya.
"Jangan menggodaku" Hyosi memprotes di sela ciuman mereka.
Seokjin tersenyum miring saat Hyosi memprotes. Bibirnya kemudian beralih ke leher gadis ini. Mungkin leher gadis ini menjadi tempat favoritnya.
Seokjin menghirup wangi gadis ini wangi vanilla yang menguar di tubuh gadis ini. Ditariknya perlahan celana dalam Hyosi menurun kebawah. Setelah melepaskan celana dalam gadis ini tangannya meraba kembali kali ini benar – benar ke bagian privat gadis ini. Seokjin dapat merasakan kewanitaan Hyosi sudah lembab dan basah. Jari – jari menggelitik kewanitaan Hyosi.
"Seokjin–jangan seperti itu" Hyosi memanjangkan lehernya menggambil nafasnya yang tersendat.
"Ssshhhhh"
"Seokjin sudah–hentikan"pinta Hyosi benar – benar tak tahan.
Bukannya mendengar pintahan Hyosi, Seokjin semakin menggelitik kewanitaa. Hyosi. Jari telunjuknya diselipkan diantara klitoris Hyosi.
Hyosi tidak memprotes apa yang dilakukan Seokjin terhadapnya. Bagaimana pun juga Seokjin adalah lelaki. Seperti lelaki lainnya. Lelaki yang mempunya nafsu. Seokjin juga seperti itu. Toh ini juga yang dia inginkan.
Hyosi gadis ini benar – benar tak tahan. Seperti ada sesuatu yang akan meledak di dirinya. Hyosi menahan nafasnya.
"Seokjin—aaahh—aku tak—tahan" desah Hyosi tak tahan.
Lalu tubuh Hyosi bergetar saat sebuah gelombang mengalir di tubuhnya. Jari Seokjin kini sudah terlumuri oleh cairan bening Hyosi. Seokjin mengangkat wajahnya menatap Hyosi dan tersenyum manis ke Hyosi.
Nafas Hyosi benar – benar tersenggal. Diliriknya kebawah. Tubuhnya sudah benar polos tanpa sehelai benang pun kemudian diliriknya Seokjin yang masih memakai celana sportnya.
"Tidak adil" desis Hyosi marah.
Seokjin mengangkat tubuhnya dan menopang dengan kedua tangannya. Hyosi pun mengerak turun ke kebawah. Ditariknya celana sport Seokjin sekaligus celana dalam lelaki ini turun kebawah hingga melewati kaki jenjangnya. Setelah itu Hyosi bergerak naik keatas. Ditariknya Seokjin mendekat ketubuhnya. Dikecupnya lagi leher lelaki ini. Padahal sudah banyak tanda yang Hyosi buat di leher jenjang Seokjin. Tapi mau bagaimana lagi. Hyosi sangat menyukai leher lelaki ini. Tangannya pun bergerak teratur dari membelai leher lelaki ini turun kedadanya dan semakin bergerak kebawah sedikit menggelitik perutnya, tangan Hyosi sedikit bergetar saat memegang kepunyaan Seokjin. Hyosi terkejut kepunyaan Seokjin sudah mengerang dan menegang sempurna. Diarahnya junior Seokjin mendekat ke kewanitaan nya.
Seokjin sontak menarik lehernya dari jangkauan bibir gadis ini.
"Aku saja"
Seokjin menatap Hyosi dengan tajam. Manik matanya menggelap. Sampai Hyosi meremang melihat tatapan tajam Seokjin.
Dirabanya paha Hyosi dengan lembut dibukanya paha Hyosi melebar. Hyosi dapat merasakan udara dingin menyapa kewanitannya. Perlahan tapi pasti Seokjin memasukan miliknya ke kewanitaannya Hyosi. Hyosi memejamkan matanya erat menahan sakit.
"Tatap aku"
Nada suara sangat dingin keluar dari mulut Seokjin. Hyosi langsung membuka matanya.
"Yakin ?" tanya Seokjin dengan serius. Entah apa yang di fikiran lelaki ini sampai dia menanyakan apakah gadis ini yakin dengan kemauannya.
"Yakin" jawab Hyosi mantab.
"Baiklah" lalu di kecupnya sekilas bibir Hyosi.
Seokjin kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Dengan pelan dan lembut Seokjin mendorong miliknya masuk ke pusat tubuh Hyosi. Hyosi menahan rasa sakitnya mati – matian saat Seokjin sedikit mendorong kuat masuk kedalam.
Hyosi melepaskan nafasnya. Seokjin kini sudah memasuki Hyosi. Hyosi mau pun Seokjin dapat merasakan bau darah yang menyuruak. Air mata Hyosi pun mengalir. Bukan karena dia sedih. Melainkan dia senang. Seokjin yang pertama kali menyentuhnya. Lelaki yang dicintainya. Bukan orang lain. Hyosi menangis senang. Di tatapnya Seokjin dengan lemah.
"Jangan menangis" jemari Seokjin mengapus air mata yang mengalir dari mata almond Hyosi.
"Aku menangis senang. Kau lah yang pertama" balas Hyosi tersenyum.
"Sakit ?" kini jemari Seokjin mengusap dahi Hyosi yang berkeringat dan mengeyampingkan poni nya.
Hyosi mengangguk pasrah. Seokjin tersenyum melihat gadis nya ini mengganguk. Di kecupnya dahi Hyosi dengan lembut.
Seokjin kembali menatap Hyosi. Matanya seakan berbicara "Apakah kau siap ". Hyosi kembali mengangguk.
Hyosi meringis saat Seokjin mengerakkan pingulnya. Rasa perih itu kembali datang.
"Aaakkk—" rintih Hyosi.
Seokjin tetap menggerakan pinggulnya dengan tempo tetap. Seiring bergeraknya tubuh Seokjin rasa perih yang dirasakan Hyosi berangsur memudar. Ingin sekali Hyosi mendesah sesukanya. Tapi dia masih malu mendesah kepada Seokjin.
Hyosi meremas rambut Seokjin sebagai ganti rasa inginnya untuk mendesah. Tapi tetap saja. Gerakan pinggul lelaki ini membuat desahannya benar – benar tercekat habis di tenggorokannya. Hyosi tetap menahan desahannya. Ini benar – benar nikmat batin Hyosi. Di gigitnya sendiri bibirnya menikmati sensasi dorongan dari Seokjin.
"Biar aku saja yang gigit bibirmu" ujar Seokjin. Lalu di raupnya bibir Hyosi dengan ganas. Hyosi pun membalasnya. Lidah mereka saling membelit. Mereka saling menghisap dan menggulum.
Seokjin pun menambah tempo gerakan pinggulnya. Membuat Hyosi semakin ingin mendesah.
"Aaaahhhh" desah Hyosi di sela ciuman panas mereka. Mendengar desahan Hyosi, Seokjin pun melepaskan ciuman panas mereka dan fokus ke gerakan pinggulnya.
"Sssssshhhhh" tubuh Hyosi menggeliat. Diangkat pinggulnya sedikit keatas agar memperdalam dorong junior Seokjin.
"Lebih dalam Seokjin"
Hyosi merabah wajah Seokjin sambil memohon. Sedikit tersenyum Seokjin menandakan ia mengerti. Di perdalam dorongan pinggulnya dan mempercepat tempo gerakannya. Hyosi merengkuh tubuh Seokjin. Memeluk erat – erat.
Seokjin memejamkan matanya menikmati pijatan junior di kewanitaan Hyosi. Nafas Seokjin juga tersenggal – senggal seperti halnya Hyosi.
Detik berikutnya Hyosi benar – benar mengeluarkan desahannya. Gadis ini tidak sanggup lagi menahan desahannya. Sensasi yang di berikan Seokjin terlalu memabukkannya. Begitu juga halnya Seokjin, awalnya desahan kecil keluar dari mulutya. Tapi saat Hyosi membalas dorongannya pinggulnya Seokjin sontak ikut mendesah juga. Pijatan serta balasan gerakan Hyosi membuat Seokjin tak kuat. Hyosi mau pun Seokjin saling meggerakan pinggulnya. Menciptakan decakan diantara alat kelamin mereka.
Melihat mulut Hyosi yang terbuka sambil mendesah membuat Seokjin tergoda. Di kulumnya bibir gadis ini yang sudah benar – benar merah dan membengkak. Sampai akhirnya Hyosi mengigit bibir Seokjin menghentikan apa yang dilakukan lelaki ini.
Hyosi membusungkan dadanya dan kepalanya menengadah keatas saat dia merasakan sebuah gelombang mendesak tubuhnya. Kepalanya mendadak pusing.
"A—ahku ti—dak—kuaatt"
Gelombang tersebut semakin besar, ingin rasanya Hyosi segera mengeluarkan gelombang tersebut.
"Ssshh—sebentarrhhh" balas Seokjin dan di kecupnya lagi bibir Hyosi singkat.
"Eeeuunnggg—" Hyosi meremas lengan Seokjin kuat. Melihat Hyosi yang tak kuat lagi. Seokjin semakin mempercepat tempo gerakannya. Gerakan yang semakin cepat yang dibuat Seokjin membuat Hyosi mendesah kencang.
Seokjin semakin menambah tempo gerakannya. Dia hampir mencapai klimaks. Dibukanya paha Hyosi sedikit lebih lebar lagi. Semakin di dorongnya kedalam.
Seokjin menggeram dia benar – benar merasakan klimaksnya ini.
"Hyo—" desis Seokjin.
Hyosi yang mengerti maksud Seokjin. Dikeluarkanya apa yang ditahan sedari tadi. Begitu pula dengan Seokjin.
"Aaarrghhh"
Mereka sama – sama mengeluarkan cairan mereka. Hyosi merasakan kehangatan dengan cairan lelaki ini.
Seokjin pun ambruk ke atas tubuh Hyosi. Dada mereka naik turun. Hyosi mengelus dada telanjang Seokjin. Ditatapnya wajah Seokjin yang penuh peluh. Dihapusnya peluh yang mengitari wajah tampan Seokjin.
Seokjin menggulingkan tubuhnya kesamping tubuh Hyosi. Ditariknya tubuh Hyosi memeluknya. Diambilnya selimut yang berada di sekitar mereka. Di tutupnya tubuh polosnya dan tubuh polos Hyosi.
Seokjin membalas senyuman Hyosi.
"Lelah?"
"Hmm. Ayo kita tidur" ajak Hyosi.
"Baiklah" dikecupnya dahi gadis ini. Dan Hyosi menenggelamkannya wajahnya di sekitar leher Seokjin.
Hyosi masih tersenyum. Tapi di balik senyumnya ini. Dia masih merasakan kesedihan. Tapi Hyosi mengubris hal itu dengan cepat. Dalam hati Hyosi berdoa. Berharap keinginannya terwujud. Keinginan bersama lelaki ini. bersama Kim Seokjin.
–Foolish Love–
Hyosi
Aku menopang daguku sambil melamun menatap taman di kampusku. Rasanya sangat senang bisa satu rumah dengan orang yang dicintai. Aku masih tersenyum mengingat kejadian 3 hari yang lalu. Ternyata dia benar – benar berbahaya saat di titik normalnya. Tapi aku merindukannya. Ah, mungkin aku sudah gila. Baru saja aku tidak jumpa dengannya sudah merindu seperti ini.
Lamunan ku terhenti saat teman ku ada yang menelfon. Ku ambil telfonku. Senyuman ku memudar seketika. Ku helah nafasku perlahan. Dan ku urungkan niatku untuk mengangkat panggilannya.
Ku masukkan ponselku kedalam tas. Dan aku bangkit menuju ruangan kelas.
"Saya akhiri kuliah hari ini"
Ku renggang kan tubuhku yang sedikit kaku. Ku masukkan buku – buku kedalam tasku. Kuambil ponselku, sedikit terkejut aku melihat nya. 8 panggilan dari Hyoyoung eonni.
"Ada apa ?" pikirku.
Tiba – tiba perasaanku tidak enak. Ku telfon balik Hyoyoung eonni.
"Kenapa tidak diangkat" gerutuku. Apa sebaiknya aku kerumah saja pikirku.
–Foolish Love–
Hyosi berlari memasuki rumahnya. Perasaannya semakin lama semakin tidak enak. Degub jantungnya yang berdetak kencang tak kunjung berhenti normal.
"Eonni "
Suara Hyosi mengudara di dalam rumahnya. Dilihatnya kedua kakaknya duduk di ruang tamu. Hyosi pun melangkahnya keruang tamu. Hyosi melihat kedua kakaknya dengan raut wajah gusar.
"Ada apa eonni ?"
Diam. Kedua kakaknya diam. Hyoyoung maupun Hwayoung saling tatap – tatapan.
Hyosi pun duduk mendekat ke kakak – kakaknya.
"Ada apa eonni ? Kenapa diam saja ? Ada apa ?" nada suara Hyosi semakin meninggi.
Hwayoung menghelah nafasnya. Di keluarkannya sebuah undangan dari balik tubuhnya.
"Di antar tadi siang" Takut – takut Hwayoung menjelaskannya.
Hyosi menatap bingung undangan berwarna merah maron tersebut.
"Undangan ?"
Hyosi pun mengambil undangan tersebut. Dan betapa terkejutnya dia. Di undangan tersebut. Tertera namanya dan nama seseorang lelaki yang dia tidak tau itu siapa.
Tangan Hyosi mendadak gemetaran. Wajahnya menegang.
"Tidak mungkin. Minggu depan ? Tidak. TIDAK" pekik Hyosi.
Hyosi membuang undagannya tersebut dan menutup kedua telinganya dan terus memekik mengatakan tidak.
"Tidak– tidak " pekikan Hyosi kini merubah menjadi nada pilu. Kakak nya yang melihatnya langsung memeluknya.
"Aku tidak mau. Tidak – "
"Hyo— " panggil kedua kakaknya yang sangat khwatir.
"Aku tidak mau " desis Hyosi menahan sakit di dadannya.
"Hyo—hyo—mau kemana – hyo—" kakaknya memanggil Hyosi yang tiba – tiba bangkit dan keluar dari rumahnya.
Kedua kakaknya pun segera menyusul adiknya.
"Hyo—mau kemana—hyo—buka pintunya" Hyoyoung menggedor – gedor pintu mobil Hyosi. Tapi tetap saja tidak mau membuka pintunya.
"Hyo—buka hyo—" Hwayoung juga ikutan menggedor mobil adiknya.
"Jangan pergi Hyo—Hyo—" pekik Hwayoung.
Hyosi tidak mau mengubris titah kakaknya. Di tekannya pedal gasnya memajukan mobilnya.
"Hyosi—Hyoo—Berhenti hyoo " Kakaknya memanggil – manggil namanya yang sudah melaju cepat meninggalkan rumahnya. Dan Hyosi
Hyosi bolak – balik mengusap air matanya yang mengalir. Dia tidak tau tujuan nya ini mau kemana. Pikirannya benar – benar kalut. Di tengah kekalutan pikirannya. Sebuah nama terlintas di pikirannya. Di lajunya mobilnya tersebut semakin cepat.
Di tatapnya pintu kamar apartment nya ini. Sebelum membuka pintu kamarnya. Di hapusnya air mata di wajahnya. Kemudian Hyosi menyungingkan senyumnya.
Tangannya bergetar membuka pintu apartmentnya.
Di carinya Seokjin saat dia masuk. Tak mendapat sosok yang dia cari. Kaki Hyosi bergerak menuju kamar. Hyosi kembali tersenyum. Di dapatnya Seokjin sedang tertidur. Hyosi pun mendekat ke arah Seokjin. Hyosi duduk di sisi tempat tidur ini. Di belainya wajah Seokjin. Air matanya kembali mengalir di pipinya.
"Maaf– Aku benar – benar mencintaimu"
"Maaf kan aku Seokjin"
"Aku sangat mencintaimu"
Dikecupnya bibir Seokjin dengan singkat. "Maafkan aku"
–Foolish Love–
Hyosi tengah berdiri di pelataran sungai Han. Di tatapnya sungai Han di malam hari ini. Dia tengah memikirkan yang akan dilakukan sekarang ini.
Di tatapnya ponselnya yang berisikan pesan yang untuk di kirim ke kakaknya.
"Maafkan aku" desis Hyosi tertahan.
Tangannya bergetar saat ingin menekan tombol send di ponselnya. Dia tidak kuat. Dia tidak tega.
"Hyo ada apa ?"
Barom datang dengan nafas ngos – ngosan ke hadapan Hyosi.
"Oppa sudah datang ?"
"Kau kenapa ? Wajah mu kenapa muram begini ?" Barom menatap wajah Hyosi.
"Ya—apa yang kau lakukan hyo ?" tanya Barom saat Hyosi melemparkan ponselnya ke sungai. Yang sebelumnya sudah mengirim sebuah pesan ke kakaknya.
"Oppa— mau membantuku ?" Hyosi menatap Barom dengan memohon.
"Membantu apa. Selagi bisa ku bantu akan kubantu Hyo" jawab Barom.
Hyosi diam. Dia berfikir yang dilakukannya ini bukanlah keinginannya semata. Tapi – ada alasan yang membuatnya mengambil keputusan ini.
"Bantu aku pergi dari sini ?"
–Foolish Love–
"HWAAAAA"
Teriak Hyoyoung yang melihat pesan yang baru saja dia terima.
"Ada apa ?" tanya Hwayoung cemas,
"Ini Hyo—"
"Kenapa—kenapa ?"
"Ini baca—" Hyoyoung memberikan ponselnya.
"Aku pamit pergi. Jaga Seokjin. Aku sangat mencintainya"
"Dia pergi ? Pergi kemana ?" tanya Hwayoung semakin cemas. Dan Hyoyoung menggeleng tidak tahu. Seperti kembarannya Hyoyoung juga cemas. Sangat cemas.
TBC
Original made at 14/06/2014
