THE ACTORS (Capt.4)
Pairing: Sasu/Hina always.
Rating: T
Tags: Romance/ Drama
Disclaimer: All characters in this story belongs to Masashi Kishimoto and the story belongs to imnotevil san
Happy Reading..
##########################################################################
Sasuke menatap lurus kedepan dengan penuh percaya diri seperti biasanya, sementara Hinata justru tengah asyik menatap ujung sendal rumah yang bertengger manis dikakinya. Yup! Gadis itu sedang menunduk, membentengi diri dibalik poni tebalnya dari tatapan menusuk beberapa pasang mata dihadapannya. Terutama iris perak yang kini menatap tajam bagai menguliti dirinya itu.
Diatas meja yang terbentang diantara mereka, terdapat beberapa majalah dengan foto Sasuke, Karin dan seorang gadis berambut indigo yang diblur pada bagian mata dalam berbagai pose. Demi apapun dan siapapun! Semua tentu bisa menebak siapa gadis itu. Hei!Mengapa harus diblur? Hinata kan bukan tersangka pidana? Dia hanya korban dari suatu kejadian karena berada ditempat dan waktu yang salah.
'INIKAH MUARA CINTA SANG PLAYBOY?'
'HN YANG DITENGGARAI SEBAGAI PEMICU KERETAKAN SASUKE DAN KARIN'
'BALADA SANG PELAYAN SEXY. KUTUKAN ATAU KEBERUNTUNGAN?'
'HN SANG PENAKLUK PAPAN TELENAN'
Dan masih banyak lagi. Dan judul – judul penuh nada provokasi itulah yang membuat mereka kini berkumpul disana dengan dahi berkerut.
"Hyuuga san..", Uchiha Fugaku menatap kearah pria paruh baya yang terlihat masih betah menancapkan iris peraknya kearah Hinata. Tangan pria itu perlahan keluar dari lengan kimononya yang semula terlipat. Dengan anggun dia mengangkat tangan, menghentikan kalimat apapun yang akan meluncur dari bibir sang kepala Uchiha.
"Aku hanya ingin mendengar semua dari mulut putriku sendiri, Uchiha san..", ucap Hyuuga Hiashi mencoba bersikap ramah, walau nada dingintetap terdengar dari suaranya.
Siapa yang mengira, Hinata yang selama ini menjadi pesuruh Sasuke ternyata keturunan murni dari bangsawan konserfatif Hyuuga. Putri pertama dari Hyuuga Hiashi, sang pemangku tahta Hyuuga Clan saat ini. Salah satu dari klan bangsawan yang masih berkerabat dengan kekaisaran jepang. Seharusnya para Uchiha itu segera menyadari saat melihat mata perak dan nama keluarga sang gadis yang tidak biasa itu. Jelas sudah sekarang sumber dari segala keanggunan dan sopan santun Hinata.
Hinata merendahkan kepalanya sedalam mungkin melakukan ojigi.
"Ma.. maafkan aku, ayah.. Ta.. Tapi ini semua tidak seperti yang ayah pikirkan.. ini...", Hinata seketika terdiam dan menoleh kesamping saat merasa sebuah tangan meremat jemarinya dengan lembut.
Sasuke menatap Hinata dan tersenyum. "Ayah.. Papa.. Mama.. Aniki dan Naruto jii..", pemuda itu kembali menggulirkan onyx hitamnya menatap dengan mantap sebelum kemudian ikut membungkukkan badannya menyusul Hinata. "Tolong restui hubungan kami.."
Hinata menatap horor kearah Sasuke, apa maksud perkataan Sasuke?!
"U.. Uchiha san.."
"Sasuke!", tegas pemuda itu menatap Hinata, dengan pandangan 'diam! Dan turuti!'
Hiashi menghela nafas panjang, dia sebetulnya tidak mempermasalahkan jika Hinata punya kekasih pilihan sendiri. Siapapun itu. Baginya kebahagiaan sang putri adalah segalanya, karena begitulah janjinya pada almarhum istrinya dulu. Tapi paling tidak 'pemuda' atau 'pria' itu harus benar – benar mencintai putrinya dengan tulus.
Tapi apa – apaan ini? Tingkah Sasuke dan Hinata sungguh membuat kerut didahi Hiashi bertambah lipatan saja. Mereka bukan hanya tidak mencerminkan seperti sepasang kekasih, bahkan pemuda itu lebih tampak seperti sedang memaksa Hinata. Atau jangan – jangan Hinata diancam pemuda kurang ajar ini? Supaya popularitasnya sebagai artis melejit? Bukankah sekarang banyak artis tenar karena skandal? Hiashi memijit keningnya yang mulai terasa berdenyut nyeri. Jika hal itu benar ia harus segera menyelamatkan putrinya.
"Aku mendengar laporan dari Kakashi..", Kakashi adalah ajudan sekaligus tangan kanan Hiashi. "Putriku bukan kekasih seperti yang kau katakan, anak muda. bahkan kau memperlakukannya seperti pesuruh."
"Hyuuga san itu..", Mikoto ingin menjelaskan namun Sasuke menatap sang ibu dan menggeleng perlahan.
"Itu benar." jawab Sasuke tenang. Tangannya kembali meremas jemari Hinata yang basah oleh keringat dingin. Senyum dibibirnya kembali mngembang dan menatap gadis itu lembut.
Cih! Dasar aktor.
"Kiba kun asistenku, merupakan teman satu kampus Hinata. Karena satu - dua hal dia meminta bantuan Hinata untuk membantuku. Namun justru itulah yang membuat kami bisa saling mengenal."
Hiashi menatap murka kearah Hinata, "Kau seorang putri Hyuuga, bekerja sambilan?! Apa selama ini uang jajanmu kurang, Hinata?"
"A.. Ayah.. Ananda..", Hinata menatap ayahnya berkaca – kaca. Baru kali ini dia melihat ayahnya begitu marah.
Melihat Hinata terpojok, Sasuke mencoba ikut menengahi.
"Ayah.."
"JANGAN PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN 'AYAH', UCHIHA MUDA! Aku belum merasa telah mengakui hubungan yang kalian sebutkan tadi..", kecam Hiashi.
"Baiklah, Hyuuga sama..", Sasuke tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. Dia harus mengalah dan tetap berkepala dingin.
"Tidakkah anda merasa tuduhan anda tadi sangat menyakitkan? Semestinya sebagai ayah Hinata, Hyuuga sama pasti mengetahui betapa lembut hati putri anda ini..", ucap Sasuke dengan nada sedih.
"Saya yakin, Hinata hanya ingin menolong Kiba, tidak lebih. Dan.. Sikap down to earth itulah yang membuat saya jatuh cinta padanya." Sasuke mengelus puncak kepala Hinata dengan penuh kasih, sementara Hinata hanya tertunduk malu, "Dan lagi.. Saya menjalin hubungan tanpa pernah tahu latar belakang Hinata.."
"Ayah.." Hinata kembali menundukkan kepalanya untuk memohon maaf, "ma.. Maafkan aku karena telah membuat ayah cemas. Tapi aku saat ini telah dewasa. Aku tahu mana yang baik dan buruk. Aku berjanji tidak akan mengecewakan ayah.. Sungguh.."
Hiashi menatap putrinya lalu menarik nafas panjang, dia tidak menemukan satupun kebohongan di kedua bola mata putri kesayangannya.
"Hyuuga san.. Putra kami mungkin tidak sepadan bila dibandingkan dengan putri anda.. namun tidakkah kejam bila memisahkan mereka?", Bujuk Fugaku.
"Saya telah bersama Sasuke semenjak dia anak – anak, mungkin Sasuke terkesan dingin dan acuh, namun sebenarnya itu karena dia tidak bisa mengungkapkan semua yang ada dikepalanya dengan baik.." Naruto terkekeh saat Sasuke mendelik kearahnya, 'Kau sebenarnya dipihak siapa Jii san?'
"Tapi aku bisa menjamin.. Sasuke akan menjaga Hinata..", lanjut lelaki itu tak lupa menampilkan senyum khasnya.
"Aku percaya pada Hinata. Tapi Belum denganmu, Uchiha muda. Intinya saat ini aku belum mengakui hubungan kalian." Hiashi kembali melipatkedua tangannya dan memasukkannya kedalam lengan kimono.
"Sekali saja.. Aku mendengar kabar yang tidak mengenakkan tentang putriku. Aku tidak akan segan untuk segera memisahkan kalian. Dan kau Hinata.. Kau akan keluar dari tempatmu kuliah dan melanjutkan keluar negri."
Semua orang menghembuskan nafas lega, terutama Sasuke dan Hinata. Penggunaan kata 'Belum' pada hubungan Sasuke dan Hinata, menandakan Hiashi mau memberikan kesempatan pada pemuda itu untuk menjalin hubungan dengan putrinya.
"Saya akan membahagiakan Hinata, ayah.. karena itu ijinkan saya meminta putri anda sebagai calon pendamping hidupku..", Sasuke berojigi dan mengucapkan kalimatnya dengan mantap hingga membuat perempatan imajiner mencuat di kepala Hiashi.
"Jangan besar kepala dulu, bocah!"
Yah.. Lawanmu sepertinya memang Doughter complex, Sasuke.
.
.
THE ACTOR
.
.
Setelah Hiashi meninggalkan manshion utama keluarga Uchiha, seluruh orang yang ada diruangan itu langsung menarik nafas pajang dan memasang wajah lelah. Entah mengapa tadi suasana diruangan tempat mereka berkumpul terasa begitu berat dan penat.
"Hime chan.." Panggil Itachi yang sedang menyandarkan kepalanya dengan lunglai disandaran sofa, "adakah hal lain lagi yang belum kami ketahui tentangmu?"
Hinata nyengir kuda, "Hehehehe.. Tidak ada Uchiha san."
Mikoto yang sedari tadi menempel pada Fugaku pun tampak lelah, "Entah mengapa rasanya lebih berat menghadapi ayah Hinata, dari pada dulu saat mama menghadapi kakek Madara untuk melamar papa kalian. Culik saja Hinata, dan ajak kawin lari. Dulu mama berhasil dengan cara itu."
Semua mata langsung tertuju pada Mikoto dan Fugaku dengan pandangan cengo. Sementara yang dipandang cuma cengengesan dan saling mencubit mesra. Sasuke dan Itachi langsung memalingkan muka, eneg!
"Eem.. untunglah akting Uchiha san berhasil.." Kata Hinata mencoba mencairkan suasana.
"Sampai waktunya tiba, aku akan mencoba membujuk ayah.. untuk sementara mungkin akan merepotkan anda, Uchiha san.."
Hinata merasa keki sekaligus bingung karena sekarang semua orang diruagan itu menatapnya dalam diam. Apa dirinya telah mengatakan hal yang salah?
"Kau kira aku tadi hanya berakting, Hinata?"Tanya Sasuke.
Tiba - tiba hawa dingin menguar dari tubuh pemuda itu.
"Eh?" Hinata mengerjapkan matanya bingung.
"80% kalimatku tadi adalah benar.." Sasuke mencondongkan tubuhnya, mengurung gadis mungil itu diantara kedua tangannya hingga tubuhnya melesak kedalam busa sofa.
"80%?", Hinata masih mengerjapkan matanya sementara dalam otaknya masih terus menampilkan kotak imajiner dengan tulisan 'Loading'.
"Yah.. kecuali kalimat "aku terpesona pada keanggunan sifatmu", yang lain adalah BE-NAR!" Sasuke semakin merapatkan tubuhnya dan menatap bibir manis Hinata.
"Ter.. masuk...", Hinata masih belum menyadari posisi tubuhnya yang semakin rendah dalam kungkungan Sasuke.
"Termasuk keinginanku untuk merubah margamu, tuan putri.." Bisik Sasuke seduktif, "jadi berhentilah memanggilku dengan Uchiha karena itu juga akan menjadi namamu!"
Hei! Itu tadi lamaran atau perintah?
"Atau... kau ingin ku hukum?" Sasuke menyerigai jahil.
"Hu.. Hukum.." Hinata mengernyitkan alisnya.
"Satu kecupan untuk setiap nama Uchiha yang muncul dari bibir ranummu.."
Hinata dengan reflek segera menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Cih! Apa segitu tidak maunya ku cium?" Rajuk Sasuke memasang wajah cemberut.
Menyadari telah melakukan kesalahan, Hinata segera menangkup wajah Sasuke dengan lembut, membuat pemuda emo didepannya itu kini menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
.
"Eerr.. lalu karin bagaimana?"
.
Well, yang barusan itu jelas bukan suara Sasuke maupun Hinata. Namun suara itu juga menyadarkan sejoli itu kalau saat ini mereka tidak hanya sedang berdua.
Semua mata kini menatap Naruto termasuk Fugaku yang tengah nonton live action anaknya sambil makan popcorn.
.
"AAAARGH! TIDAAAAAAAKK!"
.
Oke! Itu tadi jelas juga bukan suara Sasuke, melainkan suara pemuda tampan berwajah keriput yang kini sedang mengerang disamping Mikoto yang tertawa pongah.
"Kau membuatku kalah taruhan Naruto Jii san!" Bentak Itachi tidak terima.
Mikoto menggerakkan telunjuknya kebawah dan menatap Itachi dengan pandangan meremehkan, "Kasiaaaaaan.. Kubilang juga apa, Sasuke pasti gagal mencium Hinata. Cih! Apanya yang playboy."
Sasuke dan Hinata swetdrop seketika.
Perempatan siku – siku imajiner segera bermunculan dikepala Sasuke sementara Hinata sudah pingsan karena malu sedari tadi.
"Hei.. lalu Karin bagaimana?" Ulang Naruto tanpa ada seorangpun yang mau memperhatikan.
.
.
Seorang gadis berambut merah dan berkacamata tampak duduk disebuah mobil sedan berwarna hitam yang diparkir tak jauh dari manshion Uchiha.
Mulutnya sesekali tampak menggumam tak jelas sambil terus mengunyah burger merk Mekdodol ditangan kanan, sementara tangan lainnya sibuk memegang teropong.
"Karin San.. Sudah malam.. ayo kita pulang.." Bujuk lelaki dengan wajah penuh coretan ala pemain kabuki disampingnya.
"Kau diamlah, Kankuro.. tidakkah kau bisa melihat aku sibuk mengawasi masa depanku?"
Pria bernama Kankuro itu lalu menghela nafas panjang, "Masa depanmu akan berantakan kalau kau besok tidak bisa menjalani syuting dengan baik karena kurang tidur.."
"Cis! Itu kan tugasmu sebagai manajerku, Baka!"
Kankuro mengendikkan bahu keatas, dia sudah cukup hafal dengan kelakuan artis binaannya ini. Cukup biarkan dia berdelusi sebentar dan dia akan kembali menjadi Karin yang manis. Namun sepertinya anggapan Kankuro akan salah kali ini. Karena bagi Karin, Sasuke bukan hanya sekedar cinta kilat tapi juga sudah menjadi obsesinya.
"Sasuke Kuuuuuuun.. Lihat saja.. aku akan menyingkirkan itik kampung itu dari sisimu.. aku akan menyadarkanmu bahwa hanya Karin ini yang pantas bagimu.."
#Bersambung...
