Male or Female?
Chapter four
By BerryNa
.
.
.
Baekhyun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar hotel yang telah di siapkan untuknya dan juga teman sekamarnya. Tadinya ia ingin mencari teman sekamarnya itu agar mereka dapat saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu. Namun, ia terlalu lelah dalam perjalanan tadi. Jadi ia memutuskan untuk langsung pergi ke kamarnya saja dan istirahat sampai malam.
Lalu dua jam kemudian, seorang pria yang terlihat seumuran dengannya itu, memasuki kamarnya dengan koper yang ia seret di belakangnya. Pria itu sangat imut, Baekhyun sampai gemas melihatnya.
Baekhyun tersenyum lebar, "Halo, aku Byun Baekhyun." pria yang lain pun turut tersenyum atas keramahan Baekhyun kepadanya. "Aku Park Jihoon."
Jihoon menyeret kopernya menuju ranjang tempat tidur yang lain (setiap kamar ada 2 ranjang untuk peserta). "Kau dari SMA Ilsam?" tanya Baekhyun setelah melihat seragam yang dipakai Jihoon. Jihoon pun mengangguk mengiyakan.
"Kalau kau?"
"Namdong." Jihoon langsung menoleh dengan cepat, "SMA internasional yang sangat mahal itu? Wah," ucapnya takjub.
Baekhyun hanya terkekeh kecil mendengarnya, "Kau baru saja sampai, ya?" tanya Baekhyun sembari mengubah posisinya menjadi berhadapan langsung dengan Jihoon yang langsung merapikan beberapa pasang bajunya di dalam koper, dan akan memindahkannya ke lemari.
Jihoon mengangguk lelah, "Tepat sekali. Pesawatku delay. Kalau kau pasti sudah sampai sore tadi, bukan?" Baekhyun mengangguk mengiyakannya.
Beberapa saat setelahnya, suasana menjadi sangat hening karena Baekhyun bingung untuk topik pembicaraan mereka selanjutnya. Begitu pun dengan Jihoon yang sibuk sendiri dengan pakaiannya.
Suasana hening itu pun pecah saat perut milik Jihoon yang berbunyi lumayan keras karena lapar. Wajah Jihoon langsung memerah malu saat Baekhyun meliriknya. Baekhyun tertawa, membuat Jihoon semakin malu dibuatnya.
Baekhyun pun bangkit dari posisinya. Lalu ia mengambil jaketnya yang ada di dalam lemarinya. "Ayo kita cari makanan di luar. Kebetulan aku juga lapar,"
Jihoon menggigit bibirnya, lalu bangkit dari duduknya sembari meraih jaketnya yang tergeletak di ranjangnya. Namun beberapa detik kemudian, ponsel milik Jihoon berbunyi, tanda ada telpon masuk.
Jihoon melirik Baekhyun yang juga sedang memperhatikannya di ambang pintu kamar mereka. Baekhyun pun memberi aba-aba agar Jihoon mengangkat telponnya saja dan ia akan menunggunya di lantai dasar hotel. Lalu Baekhyun pergi meninggalkannya lebih dulu.
Setelah memastikan Baekhyun benar-benar pergi, Jihoon langsung mengangkat telefon yang ternyata dari kakak sepupunya, Park Chanyeol.
"Halo, hy—"
"KAU PERGI KE LUAR NEGERI TANPA MEMBERITAHUKU, PARK JIHOON? DASAR ADIK DURHAKA!"
Jihoon refleks menjauhkan telinganya dari ponselnya karena teriakan membahana Chanyeol. Jihoon meringis lalu meminta maaf padanya.
"Aku lupa, hyung. Tadi aku juga ingin meneleponmu—"
"Tapi kenyataannya aku yang meneleponmu duluan!" ujarnya dengan nada dengki.
Jihoon menghela nafasnya. Chanyeol memang seseorang yang menyebalkan untuknya. Karena setiap apapun pergerakannya yang jauh dari pria itu, ia harus segera melaporkannya selengkap mungkin. Ibu berkata kalau Chanyeol seperti itu karena pria itu sangat menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri. Namun Jihoon malah beranggapan lain. Chanyeol malah seperti sosok yang sangat terobsesi padanya.
Setelah beberapa alasan yang ia berikan kepada Chanyeol, pria dewasa yang sedang berada di Korea itu sudah tidak marah-marah lagi kepadanya. Chanyeol pun mulai bertanya-tanya seputar olimpiadenya itu.
Bahkan saat tau kalau Jihoon adalah satu-satunya perwakilan dari sekolahnya, Chanyeol menjadi sangat khawatir dan berencana menyusulnya ke Singapura besok pagi. Jihoon tentu saja langsung mengelaknya secepat mungkin.
"Aku sekamar dengan siswa lain, hyung. Kau tak usah berlebihan." dengus Jihoon kemudian.
Di sisi lain, Chanyeol mendelik ke arah ponselnya. "Aku tidak berlebihan. Hanya khawatir dengan dirimu yang bahkan tidak pernah ke luar negeri!" Jihoon memutar kedua bola matanya, malas.
"Sekarang kirimkan fotomu dengan teman sekamarmu itu kepadaku sekarang. Dan kuanggap kau tidak berbohong padaku." Jihoon mendelik. Seperti yang sudah ia katakan sebelumnya, Park Chanyeol adalah orang yang menyebalkan.
Jihoon menepuk dahinya, merasa putus asa. "Hyung, sekarang ia sedang tidak di kamar. Kami berencana akan makan di luar malam ini. Ia sudah pergi lebih dulu tadi karena kau meneleponku."
Chanyeol menukikkan sebelah alisnya, "Jangan menipuku, Jihoon."
Jihoon mengerutkan alisnya, kesal. "YAK! Memangnya kapan aku pernah menipumu, hah?!" jawabnya.
Chanyeol mendecak. Memang, sih, Jihoon tak pernah sekalipun berkata bohong kepadanya.
"Siapa nama teman sekamarmu itu?"
"Hyung, demi Tuhan—"
Chanyeol melirik mendelik ke arah ponselnya,"Aku tidak berlebihan! Memangnya kalau aku bertanya namanya saja pun salah?"
Jihoon menjauhkan telefonnya sebentar, lalu ia berteriak tanpa suara untuk mengutarakan kekesalannya. Setelahnya ia menarik nafasnya untuk menenangkan dirinya.
"Namanya Byun Baekhyun dari SMA Internasional Namdong."
.
Di sisi lain, Chanyeol hanya mendengar;
"Namanya By—Tuut tuut.."
Chanyeol melirik ponselnya kembali sembari mengernyit heran. Lalu beberapa saat kemudian ia sadar kalau kuota internetnya habis.
Chanyeol menggeram kesal lalu berteriak memanggil kakaknya, Yoora. "YAK! YOORA! KAU MEMAKAI KUOTA PONSELKU LAGI TANPA IZIN KEPADAKU!"
Yoora yang berada di lantai atas pun langsung membalasnya, "MAAF ADIKKU SAYANG! HAHAHAHA!"
Saat Chanyeol ingin naik ke lantai atas untuk memberi kakaknya itu perhitungan. Ibu datang dengan semangkuk kimchi kesukaannya di tangannya.
"Duduk, Chanyeol."
Chanyeol memelas, "Tapi, Bu…" Ibu menatapnya kesal, dan Chanyeol tak bisa melawannya lagi.
.
Kembali lagi ke sisi Jihoon dan Baekhyun yang sudah sampai ke restoran tempat pilihan Baekhyun. Itu karena Jihoon sama sekali tak mengenal negara dengan patung berkepala singa itu, berbanding terbalik dengan Baekhyun yang hampir tiga kali ke negara ini.
"Maaf kalau aku merepotkanmu, Baekhyun." Ucap Jihoon saat Baekhyun selesai memesan. Jihoon pun tidak terlalu menguasai bahasa Inggrisnya seperti Baekhyun.
Baekhyun tertawa ringan, "Tidak apa-apa. Kau teman sekamarku, wajar jika aku melakukan hal kecil seperti ini."
"Jadi, tadi siapa yang meneleponmu? Maaf kalau aku lancang, namun kau kelihatan kesal tadi." ujar Baekhyun.
Jihoon menyadarkan tubuhnya pada kursi, "Kakak sepupuku, Park Chanyeol."
Baekhyun membulatkan matanya saat mendengar nama yang ia kenal, "Park Chanyeol? Maksudmu, pria yang memiliki café eskrim di pinggir jalan Seoul?"
"Ya, itu dia. Kau mengenalnya?" Jihoon sampai menegakkan tubuhnya kembali karena terkejut dengan respon Baekhyun yang mengenali Chanyeol.
Baekhyun mengangguk, "Tentu saja. Aku menyukai pria itu." Jihoon mengernyit heran dengan perasaan aneh. Melihat respon Jihoon yang seperti itu, Baekhyun tahu kalau anak itu menangkap hal yang berbeda dengannya.
"Bukan menyukai yang seperti itu. Maksudku, aku menyukai pria itu karena ia sangat ramah padaku dan suka memberiku bonus setiap datang ke café miliknya." Jihoon menghela nafasnya dan Baekhyun tersenyum kecil melihatnya.
Lalu mereka terlibat beberapa percakapan kecil sampai makanan mereka datang. Itu pun dominan tentang kakak sepupunya itu saja. Setelah mendengar semua cerita yang Baekhyun sampaikan padanya tentang Chanyeo, dari awal pertemuan mereka yang diluar dugaan, Jihoon hanya terpusat memikirkan satu hal yang selalu ia ingat;
Seorang Park Chanyeol tak pernah seramah itu pada orang yang baru saja dikenalnya.
"Apa-apaan ini, hyung?" ujarnya dalam hati sambil menatap juga mengamati Baekhyun yang sedang menikmati makanan pesanannya.
.
Keesokan paginya di Korea…
Jongin datang cukup pagi ke apartemen milik Chanyeol. Pria itu juga membawa sekotak kardus besar di pelukannya. Wajahnya pun sudah kelihatan sangat lelah karena harus membawa kardus yang berat itu ke lantai 18.
Jongin meletakkan kardusnya di depan pintu. Lalu ia mengetuk pintu apartemen Chanyeol dengan cukup lama, ia tak mendapatkan respon sama sekali dari pria besar itu. Lalu ia memutuskan untuk menelponnya, karena ia menduga kalau Chanyeol pasti berada di atas ranjangnya dan terlelap dengan mimpi indahnya.
"Ada apa pagi-pagi begini, Jongtan?"
Namun dugaannya lenyap begitu saja saat mendengar suara Chanyeol yang terdengar segar di pagi hari seperti ini. Bukan karena ia menyukainya, namun ini berarti, Chanyeol sudah bangun dari tidurnya. Dan pria itu sengaja tidak membukakan pintu untuknya.
"Whoa, bung. Suaramu segar sekali. Cepat bukakan pintu apartemenmu! Aku sudah menunggu seperti orang bodoh di sini selama 15 menit, untuk orang yang bahkan sudah bangun di dalam apartemennya," ucapnya sarkas. Chanyeol di seberang sana hanya mendelik mendengarnya.
"Aku tidak sedang di apartemen, bodoh. Aku di rumah Ibu. Lagipula, kau sedang mau apa di apartemenku pagi-pagi sekali?" lalu Chanyeol menguap dan meminum secangkir madunya yang sudah ia buat sebelumnya.
Jongin ber-oh ria. Lalu melirik kardusnya, "Aku ingin menitipkan anak-anakku padamu. Kyungsoo menyuruhku membuangnya, hanya saja aku tahu kalau ada seseorang yang akan membutuhkannya. Jadi aku ke sini diam-diam tanpa sepengetahuannya. Seharusnya kau merasa senang, sih." jelasnya kemudian. Dan Chanyeol tidak perlu bertanya tentang anak-anak itu. Tentu saja itu video mesum milik Jongin.
Chanyeol menghela nafasnya sembari memutar kedua bola matanya, "Terserah. Kau minta saja kunci cadangan apartemenku pada Hans." Jongin mendengus. Lalu beberapa saat kemudian, seseorang di sebelah apartemen Chanyeol, keluar dengan sekantung sampah besar.
"Oh, Jongin? Datang pagi sekali kau," ucap pria itu, Hans.
Jongin pun mengucap syukur saat Hans lah orang yang saat ini ia butuhkan muncul tepat di saat yang dibutuhkan. "Hans! Bung! Berikan padaku kunci cadangan apartemen Chanyeol. Aku sedang sangaaat membutuhkannya."
Hans mengernyit, "Chanyeol tidak ada di apartemen?" Jongin mengangguk mengiyakan. Lalu Hans pergi ke dalam apartemennya lagi dan memberikan kunci apartemen Chanyeol kepadanya.
"Terima kasih, Bro!" lalu ia segera mengangkut kardusnya kembali dan bergegas masuk ke dalam apartemen Chanyeol.
Sedangkan Hans diam di tempatnya dengan heran, "Berarti, siapa yang membuka jendela kamar Chanyeol kemarin malam?"
Berpikir sebentar, lalu ia mengendikkan bahunya dan berjalan untuk membuang sampahnya yang sempat ia lupakan.
.
Jongin meletakkan kardus miliknya di atas meja kamar Chanyeol. Lalu ia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, memutuskan untuk beristirahat sebentar.
Setelah 15 menit lamanya, ia pun langsung membuka kardus miliknya. Dan mengeluarkannya. Setelahnya ia menarik dengan asal kardus lain yang berada di bawah tempat tidur Chanyeol.
Saat ia ingin membuka tali merah yang mengikat kardus itu, seseorang datang ke kamar. Membuat Jongin tersentak di posisinya.
"Yoora noona?!" ucap Jongin tak percaya. Ia kira apartemen ini benar-benar kosong karena Chanyeol ada di rumah Ibu. Tapi ternyata Yoora bermalam di sini.
Yoora melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan mendelik ke arahnya, "Apa ini, Nini? Kau sedang menyembunyikan anak-anakmu lagi dari Kyungsoo?" Jongin panik, peluhnya pun mulai bermunculan.
"Anu… Noona…"
Yoora melangkah mendekat, lalu melirik anak-anak milik Jongin yang tidak bisa dibilang sedikit. "Tuhan… Ibu pasti akan marah jika melihatnya," Jongin langsung menatap Yoora dengan memelas.
Ibu yang Yoora maksud kali ini adalah Ibunya Jongin. Mereka memang sudah menganggap satu sama lain seperti saudara. Jadi jangan heran jika tidak ada satupun dari mereka memanggil Ibu yang lain dengan sebutan Bibi.
"Noona… Kumohon tolonglah aku sekali ini saja," ucapnya penuh memohon. Yoora tampak berpikir beberapa saat, setelahnya wanita umur 27 itu menyeringai.
"Baiklah, tapi dengan syarat kalau kau harus membersihkan apartemen ini setelahnya, lalu membelikan sarapan pagi." Jongin tanpa basa-basi pun mengangguk mengiyakan.
Setelah itu, Yoora bukannya keluar dari kamar, malah mendudukkan dirinya di atas tempat tidur sembari memperhatikan anak-anak Jongin. Jongin menatap Yoora heran, karena tak biasanya wanita itu peduli hal seperti ini. Bahkan cenderung menjauhinya.
"Noona mau menontonnya?" ledek Jongin yang kemudian di hadiahi jitakan keras di atas kepalanya.
Yoora menatapnya tajam, "Aku tidak akan pernah menonton hal kotor seperti kalian. Aku terlalu suci untuk ini."
Lalu ia menatap Jongin, "Aku hanya penasaran kenapa kalian senang sekali menyimpan dan menontonnya. Mesum sekali," ucap Yoora tajam.
Jongin pun dengan kesal menjawabnya, "Kami tidak mesum, noona. Yang mesum itu jika mereka mempraktekkannya pada orang lain secara langsung." jawabnya percaya diri yang membuat Yoora mendengus mendengarnya.
"Katakan itu pada seseorang yang sudah melakukan hal-hal aneh pada kekasihnya sampai ia tidak bisa berjalan normal dua bulan yang lalu." ucap Yoora ringan.
Jongin merengek mendengarnya, "Noona, sudah kukatakan berapa kali jika Kyungsoo seperti itu karena ia jatuh di kamar mandi,"
Yoora menangguk paham, "Ya, ya. Katakan juga pada seorang pria mungil yang terdapat kissmark di lehernya, lusa kemarin." namun tetap saja wanita itu meledeknya. Yah, Yoora memang tidak membenci hubungan gay, ia malah cenderung mendukung perbedaan. Karena setiap orang memiliki perbedaan, begitu menurutnya.
"Bisakah kita hentikan percakapan ini?" ucapnya putus asa.
Yoora tertawa atas kekalahan Jongin, "Kau yang memulainya duluan,"
Jongin pun kembali melepas ikatan yang ada di kardus milik Chanyeol. Karena biasanya ia akan menyimpannya di salah satu kardus itu. Namun ia lupa miliknya dimana karena banyak sekali kardus di bawah tempat tidurnya. Jadi ia memilihnya dengan asal saja. Toh, ini sama-sama milik Chanyeol.
Saat ia ingin membukanya, ponsel Jongin berdering. Nama Chanyeol tertulis di layar ponselnya.
"Ada apa?"
"JANGAN SEKALI-KALI KAU MEMBUKA KARDUS TALI MERAH MILIKKU! MILIKMU ADA DI ATAS LEMARI!"
Jongin mengernyit lalu meraih tali merah yang dimaksud Chanyeol. "Ah, maaf, bung. Tapi aku sudah—"
"Jongin…"
Jongin melirik Yoora yang menatap kardus milik Chanyeol dengan pandangan yang sulit diartikan. Jongin bertanya kenapa. Yoora pun langsung mengambil salah satu anak milik Chanyeol dan menunjukkannya pada Jongin.
"I-ini… film gay?"
Jongin terkejut melihatnya. Ia sampai mengabaikan teriakan membahana Chanyeol di ponselnya. Ia menatap Yoora terkejut sekaligus bingung.
Apa-apaan lagi ini, Park Chanyeol?!
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Wkwk wkwk
Gimana gimana? Sesuai ekspetasi ga?
Sebenernya ini gue nulis juga dengan ide yang ada aja. Jadi maaf ya kalo gak memuaskan. Karena sesungguhnya ini adalah cerita pertama yang gue nulis dengan sungguh-sungguh wkwkw.
Reviewnya jangan lupa yak, apalagi kalo ada kesalahan kata atau dll dll, lopelopee. Muah muahh:*
Terimakasyiiiiiiii
