Possession (Doll Alive)
.
Story Belong to me, DeathSugar
.
Enjoy and happy reading~
.
Sehun seharusnya tidak datang ke tempat bar-bar dengan penerangan minim dan juga dengan bau alkohol yang menyengat serta sentuhan para wanita malam yang menjijikan hanya untuk menghilangkan penatnya. Seharusnya. Namun Sehun tidak memiliki alasan yang jelas untuk kemudian menuruti keinginan absurdnya itu untuk datang ke sebuah club malam di daerah Beijing dan berakhir Sehun yang harus melihat tatapan-tatapan lapar perempuan disana.
"Hai tampan.. mau ikut denganku?"
"Kau menjijikan. Jangan sentuh aku." Jawan Sehun santai tanpa berniat untuk melirik sedikitpun.
Melangkahkan kakinya lebih dalam, Sehun bisa melihat lautan manusia yang terlihat sedang menggoyangkan tubuhnya dengan suara musik yang dimainkan sang DJ. Menusuk indra pendengarannya ditambah dengan suara tawa para wanita yang terlihat senang ketika tangan para lelaki menyentuhnya.
Menjijikan, batin Sehun.
Sehun langkahkan lagi kakinya menuju meja bartender sebelum akhirnya ia menemukan sekumpulan laki-laki dan perempuan yang terlihat seperti menonton sesuatu. Sehun tidak bisa melihat pasti apa yang terjadi disana sebelum akhirnya ia melihat siluet dari seseorang yang tengah mabuk. Sehun semakin mendekat kesana, mencoba membelah kumpulan manusia itu dan bisa mendengar seorang wanita bertanya pada temannya yang lain dengan, 'dia mirip dengan Luhan, bukan?'
Luhan?
Menatap punggung sempit itu dengan kepalanya yang coba ia angkat yang justru terlihat seperti seorang yang menggoda, memamerkan siluet sempurna wajahnya, memamerkan leher jenjangnya yang siap untuk di tandai itu. seorang wanita memekik saat ia mengambil gambar sosok itu dari belakang dan kemudian Sehun melihat laki-laki dengan kemeja berwarna gelap yang selanjutnya duduk disamping si mungil yang kini meletakkan kepalanya di meja marmer; dia tidak lagi bisa menahan berat tubuhnya, benar-benar sudah terlalu mabuk.
Sehun menyipit saat ia melihat tangan laki-laki tak dikenal itu ingin menyentuh paha si mungil itu sebelum akhirnya Sehun melangkahkan kakinya untuk mendekat. Mengambil tangan itu dan mencengkeramnya—hampir memelintir—dengan memasang wajah merendahkan dan siap untuk membunuh jika laki-laki itu berani menyentuh si mungil itu barang seujung rambut pun.
"Aku… minta maaf."
Dan Sehun tidak memperdulikan itu. Ia lebih memilih untuk melepas long coat miliknya sendiri untuk ia kenakan pada si mungil itu. menutupi kepalanya hingga sebatas pinggang. Sehun tanpa sadar tersenyum saat ia mendapati kenyataan bahwa Luhan itu benar-benar mungil atau Sehun yang terlalu tumbuh pesat?
Menatap tubuh mungil yang tenggelam di dalam long coat-nya itu, Sehun kemudian mengendongnya. Membuat wajah si mungil itu tidak terlihat dan hanya mengintip dibalik lengan long coat Sehun yang menutupi sebagian wajahnya itu. Sehun tersenyum tanpa sadar –lagi- saat ia melihat wajah yang terlihat begitu tenang itu.
Sehun melakukan itu untuk kepentingannya. Ia ingat jika tadi siang Victoria mengatakan tentang model yang akan menjadi model untuk hotelnya di Nanjing dan Sehun hanya ingin menjaga itu. ia tidak ingin hotelnya tercemar hanya karena memakai model yang kedapatan mabuk di bar dan hampir mengalami pelecehan seksual.
Sehun bisa merasakan si mungil yang menggeliat mencari kenyaman di dadanya dan sesekali bergumam tidak jelas dan berkahir ia yang tertidur dengan pulas.
Sehun jadi berfikir tentang apa yang membuatnya bisa melakukan ini. Luhan—model yang sekarang berada di gendongannya itu—selalu berhasil membuat Sehun kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Membuatnya harus berfikir tentang apa yang bisa model manis itu lakukan padanya—yang sebenarnya Luhan tidak melakukan apapun—dan berhasil membuat Sehun merasakan perasaan asing dan itu memuncak ketika ia melihat si mungil itu kemarin di restoran prancis untuk makan siang.
Sehun bahkan bisa tahu jika perempuan yang berteriak itu adalah Luhan. Sehun bahkan bisa tahu hanya dengan melihat wajahnya dari arah samping. Itu adalah hal gila yang pernah ia lakukan.
Adalah sesuatu yang langkabagi Sehun untuk hafal wajah seseorang secara utuh, untuk setiap pahatan wajahnya dan membuat Sehun menyimpan itu dengan baik di otaknya. Menyipan tentang bagaimana sempurna-nya seorang Luhan.
Pertemuan mereka selalu terjadi dengan tidak disengaja dan justru kebetulan atau ketidaksengajaan itu membuat Sehun merasa aneh dan tidak bisa ia mengerti. Sehun tidak menyukai model manis itu, tidak. Dia juga tidak mencintainya. Sehun tidak percaya cinta.. tapi Sehun sadar ia tertarik. Hanya tertarik dan ingin memiliki tapi tidak untuk mencintai tanpa harus terikat dengan hubungan apapun.
Membuka pintu mobilnya dengan susah payah tanpa harus membuat Luhan terjatuh dari gendongannya dan kemudian meletakkan Luhan dijok samping kemudi. Sehun menyusul di kursi sebelahnya. Berdecak kesal ketika ia hampir lupa untuk menggunakan seatbelt untuk Luhan.
Mendekatkan tubuhnya, Sehun bisa melihat dengan jelas setiap pahatan pada wajah sempurna milik Luhan. Wajah mungilnya dengan hidung mungil bangir itu, bulu mata lentik, garis rahang yang terlihat halus dan juga bibir mungil yang menggoda itu. bibir itu sedikit terbuka dengan dua gigi depannya yang mengintip. Mengemaskan sekali pikir Sehun. Seperti bayi.
Dari jarak sedekat ini Sehun bisa mencium bau si mungil yang terasa menenangkan. Bau Luhan seperti bayi; selalu mengundang siapapun ingin menghirup dan menciumnya. Tak terkecuali Sehun.
Sehun tanpa sadar menelan ludahnya sendiri, merasakan dadanya berdesir dan perasaan aneh itu datang lagi. Matanya terkunci pada satu sosok yang kini tengah tidur dihadapannya itu. mendekatkan bibirnya semakin dekat kearah bibir si mungil itu tanpa sadar dan mengecupnya lembut.
Manis seperti lelehan coklat yang memabukkan.
Menjauhkan bibirnya dari sana dan Sehun baru saja menyadari kebodohannya. Ia baru saja mencium bibir model manis itu. dan ia menyukai rasa bibir yang manis itu. membuang nafasnya berat, Sehun ambil ponselnya dan kemudian menghubungi seorang yang tidak ingin ia lihat wajahnya;
Kris Wu.
"Sepupu mabuk. Dan ambil dia di apartemenku sekarang!"
Sehun akan menambahkan Luhan kedalam daftar orang yang harus ia jauhi mulai detik ini!
.
Menggeliat dalam tidurnya, Luhan merasa kepalanya terasa begitu pusing dan berat. Matanya terasa berat dan tebal dengan mulut yang terasa begitu terasa asam. Memegang kepalanya dan memijitnya pelan. Luhan menatap dinding-dinding kamar yang berwarna biru muda itu, ini benar kamarnya tapi bukankah semalam ia ke club?
Mengingat tentang kejadian semalam dan hasilnya nihil. Luhan tidak menemukan ingatan tentang semalam karena yang ia ingat; ia hanya datang ke club, meminta sebuah koktail kadar rendah dan ia tidak mengingat apapun lagi setelahnya.
"Luhan? Kau sudah bangun?"
Menatap Xian yang baru saja masuk dan membawa sarapan pagi dan juga susu hangat yang langsung menusuk indra penciumannya. Membuat Luhan meringis kearah Xian dan dibalas gerutuan kesal dari si mungil puppy itu.
"Apa yang ada dipikiranmu saat kau mabuk semalam, ha?!" marah Xian. Si mungil puppy itu duduk disamping Luhan dan menyodorkan segelas air jahe hangat yang dicampur madu kearah Luhan.
Luhan nyengir, meminum air jahe itu dengan takut karena wajah Xian yang terlihat begitu menyeramkan, "Maafkan aku Xian. Aku hanya ingin membuang sedikit penat."
Xian mendesah, mengelus dada dengan jawaban Luhan yang tidak masuk akal itu, "Kau tahu.. aku bahkan sudah seperti orang gila mencarimu sampai malam dan akhirnya Kris menghubungiku dan menemukanmu tidak sadarkan diri karena mabuk. Dan kau tahu siapa yang membawamu dari club?"
"Kris?" Jawab Luhan yang sebenarnya adalah pertanyaan juga.
Xian menggeleng, "Bukan! Oh Sehun membawamu ke apartemennya sebelum akhirnya menunggu Kris datang."
"Oh Sehun? Orang yang waktu itu?"
Xian menangguk. "Kau bahkan muntah di apartemennya." Lirik Xian, "Kau harus minta maaf pada Oh Sehun, Luhan."
"Haruskah?"
"Ya. Harus! Dan nanti malam kau akan makan malam dengannya."
Luhan melotot kaget, hampir membuka bibirnya untuk protes namun Xian lebih dulu memotong, "Kita akan malam dengan Victoria. Jangan khawatir aku juga ikut."
Luhan mendesah lega. Luhan bahkan tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika dia hanya akan malam berdua dengan Oh Sehun.
"Xian.. ngomong-ngomong makan malam ini dalam rangka apa?"
Xian menoleh saat ia mengoleskan selai coklat diatas roti panggangnya, "Kau tidak tahu?" Luhan menggeleng, "Hotel yang akan mengontrakmu itu adalah hasil kerjasama dari Oh Sehun dan juga Baba-mu."
.
Luhan menelan ludahnya dengan kasar saat ia sampai di tempat pemotretan dengan tatapan semua orang yang mengarah padanya sesekali berbisik. Luhan merasa tidak nyaman saat mereka menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
"Bou Xian.. apa aku salah kostum?"
Xian menggeleng, "Tidak. Kau terlihat cantik—maksudku manis seperti biasa."
"Tapi mereka menatapku dengan tatapan aneh."
"Mungkin cuma perasaanmu saja, Lu."
Luhan abaikan semua tatapan itu dan memilih fokus untuk make up-nya. Duduk di depan kaca rias dan seorang make up artist datang dan tersenyum kearahnya. Sang make up artist siap memoles wajah manisnya, memberinya fondation yang kemudian dilapisi dengan bedak tipis. Selesai dengan bagian wajah dan kemudian fokus untuk bagian mata Luhan. Memberikan garis eyeliner berwarna hitam tipis di bagian atas.
Selesai dengan make up-nya Luhan kemudian mengganti bajunya dengan kostum yang telah disiapkan dan ia langsung melakukan pemotretan. Mengikuti arahan dari sang photographer untuk melakukan pose. Luhan terlihat berbeda dengan balutan kemeja putih tipis berlengan panjang kebesaran dengan rambut berwarna coklat madu itu yang terlihat lebih panjang dan tidak teratur. Tidak dengan make up tebal dan juga eyeliner tebal.
Luhan terlihat memukau dan terlihat begitu rapuh. Sama seperti tema hari ini. Angel fallen.
Luhan duduk dengan kaki yang ditekuk—Luhan hanya menggunakan celana pendek lima centi meter dibawah pantatnya—dan memperlihatkan lekukan kaki mulusnya. Tangannya memeluk kakinya dengan kepala yang menunduk dalam. Setelah mendengar suara dari sang photographer Luhan mengangkat kepalanya, menatap tepat kearah lensa kamera—itu membuat sang photographer bahkan harus menahan nafasnya beberapa detik saat ia menatap mata berwarna ash grey yang seakan mendekapnya dan itu benar-benar memikat.
Satu sesi selesai dan Luhan harus mengganti kostumnya karena setelah ini ia harus melakukan pemotertan out door dan cuaca sore ini begitu cerah walau sudah hampir menunjukkan pukul lima sore hari. Matahari sudah hampir tenggelam dengan warna jingga yang meretak dan itu adalah yang photographer inginkan. Sunset sore hari.
Mengenggam kopi hangatnya setelah mereka sampai di lokasi, Luhan kemudian meneguk kopi hangat itu. Membiarkan seorang make up artist itu merapikan kembali penampilannya. Selesai dengan itu, Luhan kemudian harus bersiap.
Ngomong-ngomong, Luhan sudah berganti dengan kostum baru. Luhan menggunakan sweater lengan panjang –yang hampir menutupi seluruh tangannya dan hanya menyisakan jari-jari lentiknya yang mengintip- berwarna putih kebesaran dengan pola abstrak berwarna hitam. Luhan berbinar ketika ia melihat sekumpulan merpati disana dan itu harus memaksanya untuk tersenyum saat mendekat di kelompok merpati itu. tidak menyadari jika beberapa kamera sudah mengambil gambarnya secara candid.
"Luhan.. bersiap, oke?" laki-laki dengan kacamata itu megintruksi, "lakukan se-natural mungkin."
Luhan menangguk. Melihat kumpulan merpati yang kemudian mengerubunginya saat ia mendekat dan beberapa dari mereka terbang. Luhan tertawa tanpa sadar ketika menatap beberapa merpati yang terbang keatas itu dengan mata yang berbinar. Membuat beberapa dari kru bahkan Xian memekik gemas. Xian sudah memotret Luhan dan siap meng-apload-nya ke weibo. Para penggemar pasti akan senang dengan ini.
Senja sore hari, sekumpulan merpati dan juga Luhan adalah pemandangan yang indah. Belum lagi senyum manis dan mata yang terlihat teduh itu.
Begitu memikat dan menjerat.
Bahkan untuk laki-laki yang berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan itu. Itu adalah Sehun yang berdiri disamping Victoria yang tersenyum penuh kemenangan.
"Masih mau menolak menggunakan Luhan sebagai model hotelmu?" Victoria semakin tersenyum menang, "Jangan terpikat olehnya, Tuan Oh. Pesona Luhan bisa membuatmu bertekuk lutut."
Sehun hanya melirik Victoria melalui ekor matanya dan itu justru membuat Victoria tertawa pelan. "Aku bilang yang sesungguhnya. Jangan terpikat pada pesona rusa kecil kami. Karena jika kau jatuh... kau akan kehilangan kontrol atas dirimu sendiri."
Mengabaikan omong kosong Victoria tadi, Sehun lebih memilih untuk pergi.
.
"Kenapa hanya ada dirimu sendiri?!"
Sehun menatap sinis sosok mungil yang kini menatapnya dengan tatapan kaget itu dan buru-buru berdiri dan memberi salam untuknya.
"Selamat malam Tuan Oh. Xian ke toilet sebentar tadi. Dan Victoria akan sedikit telat. Tapi Xian membawa surat kontraknya kok." Jawab Luhan kikuk.
Sehun duduk tepat dihadapan Luhan dengan tatapan sinis tidak bersahabat. Membuat Luhan takut dan canggung. Luhan bahkan harus beberapa kali menyamankan posisi duduknya. Tapi sesinis apapun Sehun saat ini, yang Luhan tidak bisa berbohong jika;
Sehun tampan sekali, batin Luhan menjerit.
Sehun terlihat begitu tampan dengan setelan jas yang tidak tidak dikancingkan itu. jas itu memiliki bagian bawah yang panjang bahkan sampai diatas lutut Sehun (Luhan bahkan bingung harus menyebut itu jas atau long coat) dengan kemeja berwarna maroon dan satu kancing atas yang terbuka. Bahu yang tegap dan lebar itu terlihat begitu kokoh. Pahatan wajah yang sempurna itu membuat Luhan harus mengontrol detak jantungnya sendiri. Membuat Luhan seperti digelitik.
Sementara Luhan hanya menggunakan setelan biasa saja. Kemeja hitam dan celana hitam dari brand terkenal. Luhan tidak sempat pulang setelah pemotretannya molor—karena tiba-tiba wartawan datang dan bertanya tentang laki-laki yang ada di foto tempo hari di lobi kantor milik Victoria—dan membuat Luhan harus susah payah untuk bisa keluar tanpa harus di kerubungi oleh pertanyaan-pertanyaan dari mereka. Sejujurnya itu membuat Luhan takut.
Suasana diantara mereka berdua terasa begitu canggung. Luhan bahkan mengumpat dalam hati karena Victoria tidak kunjung datang dan Xian yang lama sekali di toilet.
"Terima kasih telah mengantarku pulang saat aku mabuk.." kata Luhan memulai percakapan. Ia ingin membunuh kecanggungan yang ada diantara mereka.
"Hm."
"aku minta maaf karena aku muntah di apartemenmu."
"Ya."
"Kau marah?" tanya Luhan dengan menggingit bibirnya takut, "Maafkan aku.."
Sehun mendengus. Membuat sebuah senyuman tipis yang ketara sekali dipaksakan, "lupakan saja." Jawab Sehun dengan wajah datar, "Kalau kau tidak kuat minum jangan mabuk lagi."
Luhan memberengut tidak berniat untuk membuka suara lagi. Bicara dengan laki-laki didepannya itu membuat Luhan merasa seperti bicara dengan tembok. Sehun itu minim ekspresi, tatapan mata yang selalu merendahkan dengan aura mendominasi yang kuat – untuk bagian ini Luhan menyukainya – dan juga dengan suara husky yang membuat Luhan meremang. Luhan jadi membayangkan bagaimana jika Sehun berbisik seduktif di telinganya dan kemudian menjilat belakang telinganya?
Astaga.. apa yang baru saja Luhan pikirkan. Sialan sekali, umpat Luhan.
Luhan sesekali melonggok kearah pintu masuk—mencari keberadaan Victoria yang tidak juga datang. Membuat Luhan harus duduk berdua dengan manusia es seperti Oh Sehun. Tidak ada obrolan basa-basi bahkan untuk membahas tentang apa yang akan Luhan lakukan saat mempromosikan hotel baru itu.
Sementara Sehun sendiri hanya duduk dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Sesekali melihat jam tangan berwarna hitam yang terlihat sangat mahal itu—itu berupa sindiran halus, sebenarnya. Sehun melirik dari ekor matanya saat ia tahu Luhan sesekali mencuri pandang untuk memandangnya dan itu membuat Sehun ingin tersenyum namun ia tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu. itu mungkin akan membuat Luhan berpikir jika Sehun tertarik padanya (walau memang kenyataannya iya!) dan itu akan melukai harga diri seorang Oh Sehun.
Kedua kepala berbeda warna rambut itu menoleh saat suara derap langkah kaki terdengar mendekat, dan menemukan Xian yang datang dengan wajah yang terlihat takut. Xian sesekali menengok kearah belakang dan kemudian menatap Sehun dengan ekspresi takut.
"Xian.. ambil nafas.." Xian melakukan perintah Luhan barusan, "dan buang dengan perlahan," dan membuangnya sesuai instruksi Luhan.
"Ini tidak baik, Han.." menelan ludahnya dengan kasar, "para wartawan sedang berada di depan dan mereka tahu kau bersama dengan Oh Sehun malam ini" Xian melirik Sehun saat menyebut nama Sehun tadi, "mereka bahkan berhasil mengambil gambar kalian. Kita harus pergi dari sini secepatnya."
"Tapi Xian—"
Xian memotong, "Tidak ada tapi-tapian lagi, Luhan!" ujar Xian mantap, "Akan semakin tidak baik jika mereka akan mengerubungimu. Aku tahu kau benci keramaian. Aku tahu kau bahkan bisa lemas hanya karena sederet pertanyaan yang akan mereka ajukan padamu dengan tatapan menyelidik dan seolah menghakimi. Mereka akan bertanya tentang orientasi seksualmu dan mungkin akan mencari tahu tentang latar belakangmu." Xian menatap Luhan tepat kearah manik mata rusa itu. tersenyum dan mengenggam tangan Luhan dengan lembut, "mengerti?"
Luhan menangguk. Wajah manisnya terlihat pucat dan ketara sekali ia tengah ketakutan.
"Tuan Oh Sehun.." Xian memaksakan sebuah senyuman disana, "Aku minta maaf membuat anda terlibat. Kami akan pastikan jika mereka tidak akan mengetahui identitas anda."
Dan kemudian Xian membungkuk dalam—formalitas untuk permintaan maaf—dan kemudian menyeret Luhan menjauh.
Membiarkan Sehun yang menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Membuat Sehun bisa melihat saat Luhan hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Meninggalkan Sehun yang menatap punggung sempit yang terlihat rapuh itu menjauh dan kemudian menghilang.
Sehun hembuskan nafasnya. Ia kembali tidak mengerti dengan perasaan asing yang kembali menelusup masuk kedalam dadanya. Menganggu pikirannya dan memaksanya melakukan hal diluar kehendaknya.
Itulah alasan sebenarnya Sehun ingin menolak untuk usulan Victoria tentang model Hotelnya di Nanjing. karena Sehun merasa dan yakin jika Luhan mampu membuatnya kehilangan kontrol atas dirinya sendiri dan melakukan hal-hal konyol lainnya, salah satunya keinginan untuk memiliki dan melindungi.
.
Luhan harus dengan susah payah keluar dari kerumunan para wartawan yang menggerubutinya seperti sekumpulan semut yang menggerubungi permen. Luhan terdorong kedepan dan ia merasa terhimpit membuatnya merasa sulit untuk bernafas. Luhan bahkan hampir terjatuh saat seseorang mendorongnya dikerumunan para wartawan itu hingga hampir membuat pegangan tangannya pada jemari Xian hampir terlepas.
Luhan tidak suka jika ia harus dikerumuni dengan sorotan kamera dan juga tatapan mata menyelidik; itu membuat Luhan merasa seperti dihakimi. Belum lagi dengan deretan pertanyaan tentang dirinya dan laki-laki yang mereka maksud itu dan juga foto dirinya yang berada di club dan mabuk dengan laki-laki yang kemudian membawanya pulang.
"Luhan!" Xian panik saat Luhan melepas jari tangannya dan membuatnya hampir terjatuh. Luhan tidak lagi mendengar suara Xian setelahnya karena tiba-tiba pandangannya menjadi buram dan ia mulai ketakutan. Luhan benci sekali dengan kerumunan seperti ini, membuatnya benar-benar tidak nyaman. Luhan bahkan tidak lagi bisa mendengar deratan pertanyaan yang mereka ajukan untuknya.
Luhan ingin menangis dan kakinya terasa begitu lemas. Rasanya begitu berat hingga akhirnya ia merasa seperti terayun dan tidak lagi menapak tanah.
Luhan melihat garis rahang tegas itu. itu adalah Oh Sehun yang menggendongnya dan membuat Luhan bisa mencium bau maskulin milik Sehun yang langsung menusuk indra penciumannya. Sehun menerobos sekumpulan wartawan itu dengan paksa dan kemudian menolongnya. Membawanya dalam dekapan pria tampan itu dan membuat Luhan kemudian mengalungkan tangannya di leher Sehun. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sehun yang terasa begitu nyaman baginya.
Luhan bahkan bisa mendengar detak jantung Sehun di telinganya. Luhan menyukai ini. Membuat Luhan tidak bisa fokus pada apapun disekitarnya karena otaknya memfokuskannya pada Sehun. Aroma maskulin, otot tangan yang terasa begitu kuat saat memegang punggungnya. Luhan merasa begitu terlindungi.
"Sehun..." lirih Luhan.
Sehun tidak memberi jawaban namun tangannya yang menyentuh lengannya terasa lebih tegang dari sebelumnya dengan satu tangannya yang berada di pahanya mengelusnya seakan mengatakan pada Luhan 'kau akan baik-baik saja.'
Mengeratkan pelukannya dileher Sehun semakin kuat dan menyembunyikan wajahnya di dada Sehun, Luhan mencium aroma maskulin yang memenuhi pikirannya tentang Sehun dan itu membuat Luhan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Membuat Luhan berpikir untuk bisa lebih lama dalam pelukan seorang Oh Sehun yang memikat.
Saat itu, aura dominan dari Sehun membuat Luhan ingin Sehun untuk menguasainya.
.
TBC
.
Untuk kinky akan aku usahakan ga vulgar banget atau mungkin kalau ada scene kinky sex-nya akan aku cut dan aku post di blog pribadi aku. Dan mungkin untuk NC masih rada lama. Butuh 1 atau 2 chap lagi. Rasanya aneh lah baru gini aja langsung ena-ena. /eh/ yang nungguin NC jangan kecewa yaa…
Dan lagi, Aku rada ga nyaman sejujurnya sama tulisanku kalau rated M dengan NC (explisit n bondage) didalamnya, aku yakin beberapa reader mungkin masih di bawah umur.. aku ingin mereka tumbuh dengan sebaiknya terutama mentalnya.
Rasanya aku merasa berdosa kalau post ff NC dan mungkin yang baca adek-adek dibawah 18 tahun atau malah ada yang dibawah 15 tahun. aku ga mau ngerusak mereka. Bukannya sok bijak loh ya.. bukan. Aku kepikiran aja soalnya dan itu malah bikin aku ga nyaman. Mana ffn ga ada verificasi umur atau di unscribe kek di aff. Dan ga mau juga dibilang ngerusak moral kayak salah satu repiyu dari guest.
Jadi ada yang berminat untuk part kinky yang mungkin ga bakalan aku publish di sini, silakan PM atau mensyen twitter aku sugarselu atau line (ID : psychoenvy69) aku akan kasih tahu pas update yang ga aku masukin ke sini (kalau jadi loh ya). Tapi kalau males nge-cut-nya nakalan aku post juga. Duh mengingat leon rada labil jiwanya ya. Maklumin aja X'D /dislepet
Terima kasih
With Love,
—DeathSugar
