Sebuah taman bermain yang sangat terkenal di Amerika terlihat ramai. Banyak pengunjung yang datang. Maklum saja, ini hari libur. Pantas bagi mereka menghabiskan waktu bersama keluarga, teman ataupun kekasih. Begitu juga dengan sepasang kekasih yang kini mengantri untuk naik bianglala. Raut bahagia tidak luput dari wajah mereka. Sesekali, canda tawa terdengar. Membuat beberapa orang sekitar mereka hanya menggeleng maklum melihat tingkah mereka.

Sepuluh menit menunggu, akhirnya giliran mereka yang naik bianglala. Suatu keberuntungan bagi mereka, sebab bisa naik di saat matahari mulai terbenam. Mereka bisa berciuman dengan latar belakang sunset. Wajah sang gadis seketika merona merah saat memikirkan hal itu.

Harapan mereka terkabul. Bianglala yang mereka naiki, tepat berhenti di bagian paling atas. Dari sini, gedung-gedung pencakar langit terlihat jelas. Sungguh pemandangan yang sangat indah.

"Naruto-kun."

Si pemuda yang bernama Naruto segera menoleh. Sebuah senyum lembut di berikan saat melihat gadis-nya merona. "Ya, Hime?"

"Aku...mencintai mu." Ucapnya singkat, namun, bermakna. Rona pipi terlihat menghiasi wajah putih itu.

Tersenyum lebar, Naruto mencium dahi gadis itu dan berucap. "Aku juga sangat mencintai mu, Hime."

"KYAAA..."

Tubuh tinggi itu tersentak dari lamunannya saat mendengar suara teriakan. Dia merasa ada yang tidak beres saat melihat kepanikan yang melanda pengunjung taman bermain. Dia lalu melihat bianglala yang ada di hadapannya. Ia bisa melihat duo Uchiha yang berada di puncak, sedang memandang kereta yang tidak begitu jauh dari mereka. Dia juga bisa melihat, bagaimana paniknya Satsuki menunjuk kereta itu.

"Kapten!" Panggil salah satu rekan Naruto, Sasori.

"Apa yang terjadi?" Tanyanya penuh tekanan.

"Tidak ada masalah apapun yang terjadi pada duo Uchiha, Kapten. Yang bermasalah adalah kereta yang ada di dekat mereka. Sepertinya terjadi sesuatu yang membuat mereka panik." Jelasnya sembari memandang bianglala yang di maksud.

Geraman rendah terdengar. "Segera cari tahu, Sasori. Aku sangat tidak ingin melihat kepanikan pengunjung, hingga bisa membuat penjagaan kita kepada Uchiha berkurang." Perintahnya tajam.

"Baik, Kapten."

Naruto kembali menatap bianglala itu saat rekannya telah pergi. Wajahnya memang tenang melihat kejadian di depannya. Namun, jika lebih di teliti lagi, ada sebuah kekalutan dari matanya. "Ku mohon, jangan lagi." Bisiknya lirih.

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Narusasu, dan mungkin akan bertambah

Rated : Masih T cyiinnnnnn

Warning : YAOI, OOC, banyak typo disana sini, gaje abal, alur kecepatan, dll.

.

The Promise

.

KRAK!

Naruto dan kekasihnya kaget. Suara itu terdengar jelas di telinga mereka. Dengan segera mereka bergerak mencari tahu dari mana asalnya.

"KYYAAA!"

Mata mereka membola melihat kejadian di depan mereka. Kereta yang ada di sebelah mereka terlihat miring. Naruto bisa melihat salah satu pengait besi terlepas hingga membuat kereta itu tidak seimbang.

"Na-naru..."

Naruto menoleh ke samping. Wajah kekasihnya terlihat pucat dan ketakutan. "Ada apa, Hime?"

"Lihat ke sana." Bisik gadis itu pelan dengan suara yang bergetar.

Tanpa basa-basi lagi, Naruto segera melihat ke arah yang di tunjuk kekasihnya. Terlihat seorang remaja yang bergelantungan di pintu kereta dengan seorang anak kecil di dekapannya.

"Bagaimana ini, Naruto-kun?" Tanya gadis itu panik.

Naruto berpikir keras. Bantuan akan lama datang. Sepasang saudara itu –menurutnya- akan segera jatuh, jika tidak di tolong. Dia lalu memandang ke bawah. Tinggi bianglala ini mencapai 40 meter. Mereka berdua akan mati seketika jika terjatuh.

"Hime." Panggil Naruto pelan.

"Ya."

"Tetaplah di sini." Ucapnya singkat sembari membuka pintu kereta.

Wajah putih kebingungan. "Kau mau kemana?" Dan sedetik kemudian, wajah itu kembali panik. "Jangan bilang...kau mau ke sana seorang diri?"

Naruto meneliti beberapa tiang penyangga yang cocok sebagai pijakan. "Aku tidak bisa membiarkan mereka terlalu lama di sana."

"Tapi, kau bisa jatuh nanti?"

Senyum tipis pun di tampilkan Naruto untuk kekasihnya. "Percayalah. Aku akan baik-baik saja."

.

.

.

KRAK!

Suara mengerikan itu kembali terdengar, juga kembali membuat Naruto tersadar dari ingatan masa lalunya. Dia lalu menatap ke tempat Uchiha kembar berada dan seketika matanya melebar kaget. Di sana, dimana seharusnya ada Uchiha Sasuke berada pada posisi yang aman, kini sudah keluar dari kereta dan bergeser perlahan ke arah kereta di bawahnya.

"Si Bodoh itu..." Geram Naruto kesal. Dia segera mendekati petugas bianglala dan bertanya. "Apa kau punya tali?"

"Hah?"

Dengan tak sabar, Naruto mencengkram kerah kemeja penjaga tersebut. "Aku bilang, apa kau punya tali, Brengsek?!" Tanyanya penuh tekanan.

Dengan wajah pucat pasi, si penjaga segera mengambil tali yang di inginkan Naruto. Dia lalu menyerahkannya pada Naruto. "Hanya tali ini yang kami punya." Ucap si penjaga cepat.

"Ini sudah cukup." Balas Naruto sembari mengikat tali jenis nilon itu di tubuhnya. Dia kembali menoleh kepada penjaga yang masih memandangnya ketakutan. "Apa kau sudah memanggil bantuan?"

"Ya. Mungkin sebentar lagi sampai."

Naruto mulai mendekati penyangga besi terdekat dan berujar. "Siapkan matras di bawah. Berjaga-jaga kalau ada yang jatuh di antara kami."

"Baik."

.

.

.

Duo Uchiha menatap kereta gantung di depannya dengan kalut. Mereka bisa melihat kereta itu goyang tidak beraturan. Salah satu pengait di atasnya terlihat sedikit longgar. Jika, pengait itu lepas, posisi kereta akan miring. Hal itu bisa membuat orang yang ada di dalam sana harus menjaga keseimbangan jika tidak ingin terjatuh.

"Kita tidak bisa menunggu lama, Nee-chan."

Tubuh Satsuki tersentak saat mendengar ucapan adiknya. Jangan bilang kalau adiknya itu...

Mata onix yang sama dengannya memandang penuh tekad. "Aku akan menolong mereka."

...akan ke sana?

"Kau gila?" Satsuki tidak tahu kalau dia bisa berteriak sekeras itu pada adiknya. Tapi, ada yang lebih penting dari pada hal itu. Adik kesayangannya akan pergi ke kereta sebelah mereka hanya untuk menolong orang-orang yang ada di sana. "Kau bukan seorang pahlawan. Kau bahkan phobia ketinggian. Kekuatan yang mana ingin kau gunakan untuk menolong mereka?" Tanyanya sarkastik. "Biarkan saja orang lain yang menolong. Kau tidak punya cukup kemampuan untuk melakukan hal itu. Kau bukan Naruto."

"Aku memang bukan dia." Bentaknya kesal. Ada perasaan bersalah saat melihat Satsuki terlonjak kaget. Helaan nafas terdengar begitu dia bisa menenangkan diri. "Kenapa kau membandingkan ku dengannya? Apa karena kau suka dengannya?" Tanyanya pelan. "Aku sangat membencinya. Jadi, jangan harap aku akan bangga hanya karena kau membandingkan kami berdua."

"Bukan begitu maksud..."

"Sudahlah, Nee-chan." Potong Sasuke pelan. "Apapun yang terjadi, aku tetap menolong mereka." Ujarnya santai tanpa beban. Seolah-olah ucapannya hanya candaan belaka.

"Bagaimana kalau kau jatuh?"

"Tidak akan, Nee-chan. Aku pergi dulu." Pamitnya sebelum pergi keluar dari kereta.

Satsuki memandang kepergian adiknya dengan kalut. Rasa cemas memenuhi kepalanya.

Bagaimana kalau adiknya jatuh?

Bagaimana kalau adiknya meninggal?

Apa yang akan dia katakan pada kakeknya?

DRRT DRRT DRRT

Satsuki menatap ponselnya bingung lalu menepuk dahinya pelan. "Ya ampun. Kenapa aku baru sadar kalau bawa ponsel?" Tanyanya pada angin. Tanpa menunggu apapun lagi, dia segera membaca pesan yang ternyata dari Ino.

'Tetaplah di sana, Satsuki. Naruto-san sedang berusaha menolong kalian.'

Segaris senyum tipis terpasang di bibirnya. Ada perasaan senang di hatinya saat mengetahui kalau Naruto yang menolong mereka. "Aku berharap pada mu, Naru." Doanya pelan.

.

.

.

Sasuke menatap orang-orang di bawahnya dengan wajah pucat. Kakinya sedikit bergetar begitu merasakan hembusan angin di ketinggian seperti ini. Sesekali matanya terpejam, membayangkan jika dia terjatuh ke bawah. Tapi, dia tidak bisa seperti ini. Ada yang harus di selamatkannya di sana. Setidaknya, dia ingin memastikan keadaan mereka baik-baik saja.

Dia melangkah sedikit demi sedikit menuju kereta itu. Kedua lengannya dengan kuat memeluk pipa penyangga. Dia bisa merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Suara beberapa orang di bawah sana terdengar. Membuat suasana di sekitarnya semakin mencekam.

KRAK!

Sasuke mendengar jelas suara itu. Suaranya terdengar dekat dan memekakkan telinga. Tapi, ada satu hal yang membuatnya bingung. Tidak ada satupun suara teriakan dari dalam kereta yang berusaha di tolongnya itu. Padahal dia sudah dekat dengan kereta itu.

Apa tidak ada orang di dalamnya?

Dia menggeleng. Tidak mungkin penjaga membiarkan satu kereta bianglala kosong. Antrian sangat panjang sewaktu dia naik dengan kakaknya. Dan otomatis, kereta di belakangnya akan langsung di isi begitu pengunjung yang menempati sebelumnya sudah turun. Jadi, ada siapa di dalam sana?

"Apa kalian baik-baik saja?" Teriaknya bertanya. Sesekali matanya berusaha melihat ke dalam kereta.

"Tentu saja aku baik, Idiot!" Balas seseorang di dalam kereta dengan kasar.

Sasuke terkesiap menatap orang yang menjawab pertanyaannya dengan kasar. Rasa penyesalan menguasai dirinya saat tahu siapa yang berusaha di tolongnya. "Kau..."

"Ya, aku. Kau pikir siapa? Hantu?" Nada meremehkan sangat jelas terdengar.

Sebuah dengusan di berikan cuma-cuma oleh pemuda Uchiha itu. "Kalau tahu itu kau, aku tidak akan bersusah payah seperti ini untuk menolong mu." Ujarnya dingin.

Lawan bicaranya terkekeh geli. "Siapa yang menyuruh mu menolong ku? Tidak ada, kan?" Dia memberikan tatapan menghina pada Sasuke. "Bahkan, aku tidak yakin jika tubuh mu bisa bertahan di sana." Sindirnya telak.

Uchiha bungsu itu menggeram marah. "Shukaku, kau memang breng..."

SRETT

"Aaakkkhhhhh..."

Sasuke berteriak ketakutan. Wajah putihnya memucat, membayangkan tubuhnya terhempas ke tanah dan hancur. Dia bisa melihat dengan jelas wajah datar Shukaku yang berubah panik. Jika saja dia bukan dalam posisi seperti ini, dia pasti akan mengejek pemuda itu.

Hanya satu yang di harapkannya saat ini. Satu orang yang tidak hanya di bencinya, tapi, juga sangat di butuhkannya saat ini. "Naru..." Bisiknya lirih sembari memejamkan mata.

SRET

PLUK

"Kau adalah Uchiha idiot pertama yang ku temui."

.

.

.

Naruto melangkah dengan hati-hati menuju bianglala paling atas. Dia bisa melihat Sasuke sudah dekat dengan kereta yang bermasalah dan berbicara dengan seseorang yang berada di sana.

Tiba-tiba...

SRETT

"Aaakkkhhhhh..."

Iris shappier itu melebar saat melihat Sasuke yang mulai jatuh. Dan dengan refleks terlatih miliknya, dia bisa menangkap Sasuke dengan cepat dan memeluknya.

"Kau adalah Uchiha idiot pertama yang ku temui."

Kelopak mata putih itu yang sempat terpejam, kini terbuka lebar. Iris indah itu memandang intens sosok yang memeluknya erat. Wajahnya yang sempat ketakutan, sekarang berubah lega. Dia langsung mendekap kencang Naruto. Seolah takut sosok itu akan pergi darinya.

Naruto yang merasakan tubuh di pelukannya bergetar, hanya menghela nafas pelan. Dia tidak tahu apa yang harus di ucapkannya untuk menghibur Sasuke. Dia tidak pernah menghibur orang sebelumnya.

"Naruto-san!"

Naruto mendongakkan kepalanya saat mendengar panggilan dari salah satu rekannya, yang ternyata terperangkap di dalam kereta tadi. "Ya."

"Apa kalian baik-baik saja?"

Pria bersurai pirang itu mengangguk. "Kami baik-baik saja, Shukaku." Balasnya. "Sebaiknya kau perhatikan diri mu dulu. Kereta itu sepertinya hampir terlepas."

"Ha'i, Naruto-san."

Naruto menatap surai raven milik Sasuke yang masih memeluknya dengan erat. "Kita akan turun. Pegangan yang erat." Tukasnya datar.

Naruto terkesiap mendapatkan reaksi yang tidak biasanya dari Sasuke. Pemuda itu bukan hanya memeluknya, tapi, ikut melingkarkan kakinya ke pinggang Naruto. Dia bisa merasakan hembusan nafas hangat Sasuke yang memburu di lehernya. Dengan pelan, di elusnya punggung Sasuke dan berujar. "Tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja."

Sasuke mengangkat kepalanya dan menatap Naruto.

Shappier dan onix langsung menyapa.

Entah kenapa, sang Uchiha bisa merasakan ada sebuah keyakinan di sana. Dia bisa merasakan ada kelembutan di sana. Dan entah kenapa, dia bisa merasakan sebuah desiran lembut di hatinya.

Sasuke tahu kalau dia harus percaya pada si pirang. Sasuke tahu kalau Naruto tidak akan meninggalkannya. Sasuke juga tahu kalau dia...tidak akan bisa berpaling darinya. Apalagi, saat melihat senyuman lembut di sana. Senyuman tipis menenangkan.

Dan tanpa berucap sepatah kata apapun, Sasuke mengeratkan pelukannya. Membuat si pirang yakin, jika si Uchiha tidak akan melepaskannya sedikitpun. Dia lalu bersandar pada tiang penyangga di belakangnya dan mengikat tubuh Sasuke dengan tali yang tersisa agar tidak jatuh. Kemudian dia mencengkram kuat pipa penyangga bianglala dan mulai melangkah hati-hati menuruni wahana itu.

Tanpa mengetahui, ada sepasang mata onix yang memandang sendu mereka.

.

.

.

Awalnya dia merasa cemas saat melihat adiknya mendekati kereta itu perlahan. Di susul sweatdrop besar, karena melihat sang adik bertengkar entah dengan siapa di sana, yang dengan jelas terlihat dari posisinya –yang sungguh sangat tidak ingin di ketahuinya.

Ekspresinya berubah panik seketika saat melihat sang adik hilang kendali dan terjatuh. Tapi, perasaan lega segera menghampiri, begitu melihat sang kapten berhasil mendapatkan adiknya.

Namun, kenapa setelah itu hanya ada sesak di dadanya?

Kenapa hatinya berdenyut sakit saat melihat mereka berdua berpelukan?

Kenapa jiwanya terasa remuk saat melihat mereka saling memandang penuh cinta di sana?

Kepala bersurai raven panjang itu menggeleng cepat, seperti ada yang menggerakan.

Kenapa dia?

Apa yang terjadi padanya?

Kenapa dia berpikiran seperti itu?

Mereka berdua sesama pria, tentu tidak mungkin seperti apa yang tersirat di pikirannya barusan.

Lagi pula, dua sosok itu adalah adiknya dan kapten. Mereka sering bertengkar karena masalah sepele. Hanya ada perasaan benci di hati mereka.

Benar, kan?

Apa yang di katakannya tadi adalah hal benar, bukan?

Tapi, kenapa matanya memanas?

Kenapa ada perasaan takut?

Apa yang harus di takuti?

Sadarlah, itu hanya imajinasi mu saja. Kau terlalu paranoid akan hal itu. Hal yang kau pikirkan hanya mimpi semata.

Benarkan?

Lalu, apakah senyum lembut itu adalah mimpi?

.

.

.

Shukaku tidak tahu, kenapa kesialan selalu senang menghampirinya. Setelah dia mendapatkan tugas yang sangat berat –baginya tugas menyamar menjadi siswa amat sangat menyusahkan- kini dia mendapatkan yang lebih parah dari itu.

Awalnya dia sangat senang.

Sangat. Senang. Sekali.

Bahkan dia rela menekankan kata perkata untuk menggambarkan kesenangannya.

Setelah mengawasi duo Uchiha yang sangat menyebalkan, dia bisa bersantai sejenak melepas penat yang menghampiri ketika mendengar perintah dari kaptennya untuk mengikuti duo Uchiha ke taman bermain. Dan dia di perbolehkan bermain, asalkan di dalam wahana itu ada salah satu Uchiha.

Dia sampai mengejek ketiga temannya yang di perintahkan untuk mengawasi Uchiha tanpa ikut bermain. Rasa bahagianya bertambah lagi saat melihat raut cemberut di wajah temannya. 'Haha...rasakan kalian.' Batinnya sadis.

Tapi, itu tadi.

Sekarang dia sangat kewalahan menjaga keseimbangan di kereta bianglala yang hampir lepas dari pengaitnya. Segala rutukan yang ada di kepalanya keluar tanpa sensor. Tidak seharusnya dia berada di sini. Dia seharusnya sedang duduk-duduk santai di bawah pohon rindang dengan di temani sekaleng jus dan semilir angin. Memandang orang-orang yang berlalu lalang setelah berpuas hati mengikuti Uchiha sulung bermain.

Oh, crap!

Bagaimana dia bisa lupa alasan naik kereta sialan ini. Apalagi kalau bukan mengikuti duo Uchiha naik bianglala. Ya, ya, ya. Kepatuhannya pada sang kapten membuahkan sebuah masalah. Tapi, kalau tidak patuh...dia bisa di mutilasi sang kapten.

"Lebih baik begini, dari pada di mutilasi olehnya." Ucapnya miris. "Aku masih mau menikmati hidup dan menikah dengan wanita idaman ku." Lanjutnya lagi mengkhayalkan yang tidak-tidak.

Sesungguhnya Shukaku tidak sadar. Mau jatuh dari ketinggian ataupun di mutilasi oleh Naruto. Keduanya sama-sama menghilangkan khayalannya tentang menikah dan menikmati hidup. Poor, Shukaku.

"Apa kalian baik-baik saja?"

Tubuhnya tersentak kaget saat mendengar teriakan dari arah luar. Dia sangat mengenal suara ini. Suara dari seorang pemuda yang di jaganya. Suara dari Uchiha Sasuke.

Dia lantas menolehkan kepalanya ke arah luar. Matanya seketika melebar saat melihat pemandangan di depannya. Seorang Uchiha Sasuke, sedang berdiri di luar dengan muka pucat dan tubuh gemetaran. 'Apa yang di lakukan si idiot itu?' Pikirnya kesal.

"Tentu saja aku baik, Idiot!" Balasnya kasar.

Dia bisa melihat Sasuke kaget mendengar ucapannya. Atau...suaranya. entahlah. Tapi, yang pasti, dia bisa melihat raut wajah Sasuke berubah.

"Kau..."

Shukaku mendengus kasar. Apa dia tidak bisa melihat siapa itu seorang Shukaku?

"Ya, aku. Kau pikir siapa? Hantu?" Nada meremehkan di berikan olehnya.

Hell!

Sebentar lagi dia juga mati kalau jatuh ke bawah. Yeah, selamat tinggal kehidupan nyata. Dan selamat datang kehidupan hantu.

"Kalau tahu itu kau, aku tidak akan bersusah payah seperti ini untuk menolong mu."

'Uchiha satu ini niat menolong atau tidak? Muka sudah pucat seperti itu saja mau bersikap sombong.' Pikir Shukaku kesal. "Siapa yang menyuruh mu menolong ku? Tidak ada, kan?" Dia memberikan tatapan menghina pada Sasuke. "Bahkan, aku tidak yakin jika tubuh mu bisa bertahan di sana." Sindirnya telak.

Shukaku bisa melihat wajah pucat itu mulai memerah. Bisa di pastikan si bungsu Uchiha itu mulai marah. "Shukaku, kau memang breng..."

SRETT

"Aaakkkhhhhh..."

Mata Shukaku melebar kaget. Selayaknya menonton sebuah film yang ada adegan slow motion-nya. Dia juga bisa melihat Sasuke tergelincir dan jatuh dengan pelan. Seolah ada sebuah remote control yang mengatur jatuhnya si bungsu Uchiha dari bianglala.

Tapi, wajahnya seketika lega saat melihat sang kapten dengan sigap menangkap tubuh kecil Sasuke. Mendekapnya erat, seolah takut sang kekasih akan pergi meninggalkannya.

Shukaku menggeleng dengan kuat. Dia bisa merasakan lehernya hampir terlepas akibat kuatnya gelengan kepala yang di lakukan olehnya.

Apa yang baru saja di pikirkannya? Kapten? kekasih? Uchiha?

Jangan konyol. Mana mungkin kaptennya bisa menjadi kekasih dari Uchiha bungsu. Yang ada, perang dunia ketiga tidak akan dapat di hindari. Lagi pula, kaptennya yang kaku itu, mana mengerti tentang cinta. Pacaran saja tidak pernah.

Andai saja Shukaku tahu kalau sang kapten lebih berpengalaman di bandingkan dia. Ck...ck...ck...

Shukaku kembali menoleh ke bawah. Dia bisa melihat sang kapten berusaha menenangkan si bungsu Uchiha yang di pastikan sangat ketakutan. Oh yeah, siapa yang tidak takut jatuh ke bawah? Mati jatuh dengan tubuh hancur sungguh sangat tidak mengenakan. 'Tuhan. Pastikan aku mati hanya saat banyak wanita seksi dan cantik ada di sekitar ku.' Batinnya meringis pilu.

OMG!

Hampir jatuh saja, doanya yang aneh-aneh.

Apa dia tidak sadar? Banyak wanita cantik di bawah sana. Seandainya dia bisa berbicara dengan Tuhan. Maka Dia akan menjawab.

Ya, Shukaku. Di bawah sana banyak wanita yang sesuai harapan mu.

"Apa yang aku pikirkan? Seharusnya aku khawatir dengan Kapten dan Sasuke." Ucapnya sembari menepuk dahinya.

"Naruto-san!" Panggilnya setelah sadar dari kebodohannya.

Sang Kapten mendongakkan kepalanya saat mendengar panggilan dari Shukaku yang masih bertahan menjaga keseimbangan tubuhnya. "Ya."

"Apa kalian baik-baik saja?" Tanyanya pura-pura khawatir. Padahal dalam hati berharap sang kapten tergelincir dan terkilir. Lalu dia bisa santai tanpa beban dalam tugasnya.

Khe, dasar ayam berselimut ramen.

"Kami baik-baik saja, Shukaku." Balasnya. "Sebaiknya kau perhatikan diri mu dulu. Kereta itu sepertinya hampir terlepas."

"Ha'i, Naruto-san." Balas Shukaku sembari kembali ke posisinya semula.

Benar yang di katakan Naruto. Seharusnya dia lebih memperhatikan kondisinya yang sekarang di antara hidup dan mati. Kenapa dia malah perhatian pada kapten kampret penindas orang? Coba dia yang menjadi kapten. Tentu dia tidak akan dalam kondisi seperti ini.

Hanya ada satu jawaban, Shukaku. Takdir.

.

.

.

Sasori dan Nagato menatap ke atas bianglala dengan wajah gusar. Sesekali salah satu dari mereka melihat gerbang taman bermain. Memastikan kalau pemadam kebakaran segera tiba.

"Ck! Kenapa mereka lama sekali munculnya?" Tanya Nagato tidak sabaran. Dia menatap Sasori yang sibuk melihat ponselnya.

"Aku sudah mengabari mereka. Berharap saja mereka cepat sampai."

"Tap..."

"Apa yang di lakukan Sasuke, Shika? Apa dia mau mati?"

Suara panik seorang pemuda memotong ucapan Nagato. Duo red hair itu menoleh ke asal suara. tidak begitu jauh dari mereka, berkumpul teman sekolah Uchiha kembar yang ikut ke taman bermain. Mereka juga bisa melihat wajah panik pengunjung sembari menunjuk ke atas.

Di dorong oleh rasa penasaran yang kuat. Mereka berdua segera menoleh ke atas. Raut wajah mereka seketika berubah keras melihat apa yang di lakukan Uchiha bungsu di atas sana.

"Apa dia bodoh?!" Nagato bertanya gusar. Dia tidak habis pikir melihat tingkah Sasuke yang berani melangkah menuju kereta yang bermasalah itu.

"Bukannya dia memang bodoh." Jawab Sasori cuek. Dia menggelengkan kepalanya, lalu menepuk pundak lebar Nagato. "Hukuman sudah menunggu kita, Nagato." Ujarnya dengan bibir menekuk.

Nagato mengernyitkan alisnya. "Apa maks..."

"Aku akan menghukum kalian jika lengah."

"Oh, shit!" Makinya penuh suka rela saat ingat ucapan kapten mereka. "Sasori, kita harus..."

"Aku sudah menghubungi Raido, kalau kau mau tahu." Sahutnya dengan seringai bangga. Seolah-olah dia sudah memenangkan lotre milyaran yen. Matanya menatap Nagato yang memasang wajah aneh. "Mereka sedang menuju kantor wahana ini. Siapa tahu mereka menyimpan matras yang bisa di gunakan untuk saat darurat." Lanjutnya lagi seraya berpaling ke arah bianglala. "Dan hentikan wajah menjijikan mu itu, Nagato. Sungguh aku malu punya partner jelek seperti mu."

Nagato mendecih sinis. Dia hampir saja memukul kepala Sasori, jika tidak mendengar teriakan tertahan dari pengunjung.

"Nagato, lihat ke atas." Bisik Sasori pelan. Bersyukur Nagato mempunyai telinga yang tajam hingga dapat mendengar bisikan Sasori.

"ASTAGA!" Teriak Nagato kaget. Matanya melotot memandang dua sosok yang masih bergantungan di bianglala. Bagaimana mungkin dia tidak bersikap seperti itu, jika melihat Sasuke sekarang ada di dalam pelukan Naruto. "Sungguh Kapten mencari kesempatan dalam kesempitan." Ucapnya tidak percaya.

BUGH

"Ugh, sakit, Sasori Baka." Ringis Nagato mengusap surai merahnya.

Sasori menatap Nagato kesal. "Kenapa di antara adegan di atas, yang kau ucapkan malah kata-kata itu?" Geramnya menahan nafsu untuk menguliti Nagato.

Nagato mendelik sinis. "Apalagi yang harus ku katakan? Memang kenyataannya, Kapten memeluk erat Sasuke. Dan sekarang lihat ke sana." Tunjuknya antusias. "Mereka berpelukan erat. Seperti sepasang kekasih yang..."

DUAK

"Ittai..." Ringis pria itu lagi. Kali ini, dengan tidak berperasaan, Sasori menendang tulang kering kakinya dengan kuat. "Apa yang kau lakukan, Sialan?!"

"Apa kau tidak sadar, jarak antara Sasuke yang tadi ada di dekat kereta bermasalah itu dengan Kapten?"

Nagato menaikan alisnya. Otaknya berpikir dengan cepat. Dan tidak butuh lama, raut wajah itu berubah. "Kau benar." Jawabnya singkat.

"Hanya segitu jawaban mu?"

Anggukan polos di berikan Nagato.

Desahan keluar dari wajah pria yang satunya. "Setelah misi ini selesai, aku ingin Kapten menggantikan posisi mu dengan Deidara."

"Hey! Kau..."

"Nagato. Sasori"

Panggilan itu mengalihkan perhatian mereka. Sosok Raido yang berlari bersama anggota yang lainnya terlihat mendekat.

"Apa kau mendapatkannya?" Tanya Sasori tidak sabaran.

Raido terlihat mengatur nafasnya sebelum menjawab. "Sudah. Tapi, kami hanya mendapatkan tiga matras dan satu trampolin. Apa itu cukup?'

Decakan kasar keluar dari bibir tipis Sasori. "Itu tidak akan cukup. Mereka sedang berada di ketinggian lebih dari sepuluh meter. Sebuah trampolin dan tiga matras tidak akan menahan tubuh mereka saat terjun nanti."

"Setidaknya kita berusaha." Balas seorang pria penuh tindikan. Dia bersama tim-nya mendekati kelompok Sasori sembari membawa beberapa kardus besar.

"Pain? Sedang apa kau di sini?"Tanya Nagato bingung. "Bukankah kau di perintahkan Kapten berjaga di ruang pengawas? Dan...sejak kapan kau pakai kacamata?"

Sebelum menjawab pertanyaan Nagato, pria yang ternyata Pain, menyuruh anggotanya membawa kardus beserta matras dan trampolin ke bianglala dan meletakannya tepat di bawah Naruto dan Sasuke. "Aku dengan cepat menyuruh anggota yang lain membawa beberapa kardus yang ada di gudang. Setidaknya mengurangi cidera yang terjadi pada mereka. Ruang kontrol tidak ku tinggalkan begitu saja. Aku sudah menghubungkannya dengan kacamata yang baru ku ciptakan." Jawabnya sekaligus dengan nada bangga.

Mata duo red hair itu melebar kaget. "Jangan katakan kalau kau..."

"Tentu saja. Memangnya hanya Shukaku yang bisa bermain. Aku juga bisa."

Nagato dan Sasori saling pandang. Tubuh mereka mendadak lesu mendengar ucapan Pain. "Kau tidak setia kawan, Pain." Ujar mereka bersamaan dengan nada minta di kasihani.

Sedangkan Pain, dia pergi tanpa merasa kasihan dengan dua temannya.

Oh, poor, kalian berdua.

.

.

.

Teman-teman duo Uchiha menatap panik ke atas. Sesekali teriakan kecil terdengar dari arah mereka. Apalagi baru saja terjadi hal yang sangat membahayakan keselamatan teman mereka.

"Mendokusei." Shikamaru menatap datar dua sosok yang sedang berusaha turun ke bawah. "Baru kali ini aku melihat seorang Uchiha yang bertindak nekat." Ujarnya masih menatap Naruto dan Sasuke. Dia menggelengkan kepalanya pelan, membayangkan kejadian yang membuat semua orang menahan nafas. "Dia tidak memikirkan tindakannya yang menyusahkan orang lain. Dia mengingatkan ku akan Harry Potter dari asrama Gryffindor. Tipikal orang yang bertindak tanpa pikir panjang."

Ino dan Sakura yang mendengar ucapan Shikamaru menggeram marah. Mereka tidak terima begitu saja idola yang selalu mereka banggakan di hina sedemikian rupa.

Namun, belum sempat mereka membalas perkataan si pemalas itu. Kiba sudah menyela terlebih dahulu. "Apa maksud mu, Rusa?" Tanya pemuda itu penasaran. Tatapannya sesekali teralih antara Shikamaru dan NaruSasu.

Pemuda pemalas itu melirik Kiba. "Dia seharusnya tahu, kalau melakukan hal itu berbahaya. Tapi..."

"Ck! Bukan itu, Shika." Kiba melotot kesal. Sedangkan Shikamaru mendengus malas.

"Lalu apa, Puppy?" Menguap dengan cueknya. Shikamaru kembali menatap atas.

Kiba memutar bola matanya. Merasa bosan melihat tingkah absurd temannya. "Maksud ku Harry Potter dan Gripin..." Kiba mengetuk dagunya. Berusaha mengingat ucapan Shikamaru sebelumnya.

"Gryffindor?"

Pemuda penyuka anjing itu menjentikan jarinya. "Aha. Yang it..."

PLAK

"...Aduh..." Kiba merintih sakit. Tangannya mengusap kepalanya dengan kuat. Delikan marah segera terarah pada sang pelaku pemukulan. "Apa yang kau lakukan, Ino Pig?!" Bentaknya kasar.

"Apa, apa, apa, apa. Di antara perkataan tidak penting Shikamaru, kenapa yang kau tanyakan malah itu?" Kiba mendengus mendengar ocehan gadis di depannya. "Kau seharusnya peduli dengan Sasuke-kun. Nyawanya benar-benar terancam. Dan kau malah memusingkan Harry Potter." Gadis pirang itu menggeplak keras kepala Kiba lagi saat melihat pemuda itu mencibir. "Apa kau tidak peduli pada teman mu itu?"

"Kau sudah memukul ku dua kali. Kau pikir enak di pukul." Gerutu Kiba masih dengan tangan yang mengelus kepalanya.

Sakura mengacungkan kepalan tangannya. "Kalau kau sibuk menggerutu, kali ini yang berhadapan dengan kepala mu adalah tangan ku." Ancamnya dengan sadis. Kiba hanya bisa mengangguk pasrah. Takut kena hajar Sakura yang terkenal dengan kekuatan setannya.

'Dasar perempuan gila.' Hina Kiba dalam hati.

Sedangkan Shikamaru hanya menatap bosan tingkah ketiga temannya itu. 'Ternyata ada yang lebih absurd dari ku.' Batinnya bangga.

Tenang saja, Shika. Kalian berempat memang absurd.

.

.

.

Sasuke masih memeluk erat pria yang sedang berusaha turun dari bianglala. Kelopak putih yang tadinya terpejam, kini terbuka. Memandang gedung-gedung pencakar langit yang terlihat dari posisinya yang sekarang, perkebunan dan bahkan gunung Fuji. Udara yang sedikit dingin dan phobianya akan ketinggian, tidak membuatnya berpaling dari pemandangan tersebut. "Indah." Bisiknya dengan senyuman lembut.

Bisikan itu di dengar oleh Naruto. Dia melirik sekilas surai raven yang ada di sisi kepalanya. "Apa?" Tanyanya balas berbisik. Seolah takut suaranya dapat di dengar orang lain.

"Aku baru tahu kalau ada pemandangan yang sangat indah jika di lihat dari ketinggian." Naruto mendengus menanggapi ucapan Sasuke. "Seandainya saja aku tidak phobia, aku akan terus ke sini. Menikmati setiap pemandangan yang telah ku lewati selama bertahun-tahun."

Tangan kokoh itu mencengkram tiang yang tidak begitu jauh darinya. Kakinya dengan cermat mencari pijakan. "Aku baru tahu kau mempunyai phobia. Setidaknya, kau terlihat normal sekarang." Komentarnya santai dengan nada menghina.

CTAK

Dahi putih itu mengkerut dalam saat mendengar nada hinaan dari Naruto. Tangannya yang tadi memeluk leher Naruto di lepas dan menarik surai pirang yang ternyata lembut tersebut.

"Hei!" Seru Naruto saat merasakan surainya di tarik kasar.

Sasuke menyeringai dengan tangan tetap menarik surai itu. "Salah kau sendiri. Tidak seharusnya kau menghina ucapan ku."

"Hentikan, Sasuke. Kalau tidak kita akan jatuh."

SRET

WUSH

"Aaaaakkhhhhh!"

"Sasuke!"

"Kapten."

"Otouto."

BRUGH

.

.

.

Kelopak putih itu terbuka pelan. Menampilkan iris onix yang sangat indah. Rintihan pelan mulai terdengar, di iringi tangan kanan yang bergerak ke arah kepala.

"Sasuke?"

Penglihatannya yang tadi memburam, kini semakin jelas. Dia bisa melihat seorang pria yang sangat di kenalnya sedang berdiri di sisinya dengan raut khawatir. "Kakek." Panggilnya lirih.

Madara tersenyum lega melihat cucu bungsunya baik-baik saja. Dia segera mengambil air putih yang terletak di meja nakas samping ranjang cucunya. "Minumlah. Tenggorokan mu pasti sakit."

Sasuke berusaha duduk dengan bantuan Madara. Dia segera meminum dengan rakus air yang di sodorkan kakeknya. Tenggorokannya memang terasa kering dan sakit.

"Lagi?"

Sasuke menggeleng. "Terima kasih, Kek."

"Sama-sama." Madara tersenyum tipis. Dia meletakan gelas itu dan kembali memandang Sasuke. "Bagaimana perasaan mu? Apa tubuh mu ada yang sakit?"

Pemuda itu menggeleng kembali. "Tidak ada yang sakit, Kek. Hanya sedikit pegal di bagian pinggang." Jawabnya lirih.

"Syukurlah." Sasuke menatap kakeknya yang memejamkan mata. "Kakek pikir akan kehilangan diri mu."

Sasuke tersenyum mendengarnya. Dia lalu mengedarkan pandangannya ke ruangan biru itu yang di yakininya sebagai kamarnya. "Dimana Onee-chan, Kek?" Tanyanya saat tidak melihat sang kakak.

Desahan pelan terdengar. Pria tua yang masih terlihat gagah itu duduk di pinggir ranjang cucunya. "Kakak mu mengunjungi Naruto."

Mata itu melebar panik. "Apa terjadi sesuatu pada Naruto, Kek?"

Madara tertawa melihat kepanikan cucunya. "Kau tenang saja. Dia hanya terkilir di bagian kaki akibat menahan tubuh berat mu saat jatuh." Kekehan itu terdengar lagi melihat Sasuke cemberut. "Dia bahkan langsung menggendong mu ke mobil dan membawa mu ke rumah sakit. Dia khawatir dengan keadaan mu. Padahal kau cuma pingsan waktu itu."

"'Waktu itu'?" Dahi mulus itu mengernyit mendengar ucapan terakhir kakeknya.

"Ya. Kau pingsan selama dua hari. Tubuh mu mengalami traumatis ringan. Kata dokter, bisa jadi itu di sebabkan rasa takut mu saat jatuh. Untuk itulah kami membawa mu pulang dari pada di rawat di sana. Kami tidak ingin kau menjadi incaran wartawan. Mereka tahu ada seorang Uchiha yang bertindak nekat hingga membahayakan nyawanya sendiri." Madara mengerling jahil.

"Kakek." Sasuke cemberut kesal mendengar ejekan kakeknya.

"Syukurlah Naruto menangkap mu. Dia juga memelukmu erat saat terjatuh dari bianglala. Membuat dia harus bed rest selama dua hari." Bibir itu memasang senyum saat melihat cucunya menunduk. Dia tahu cucunya merasa bersalah. "Setelah kau sembuh, temuilah dia."

Sasuke mengangkat kepalanya. "Untuk apa?" Tanyanya dengan bibir tertekuk. "Sudah kewajibannya untuk melindungi ku. Kalau dia terkilir, itu resiko pekerjaan, Kek."

"Kakek tahu." Madara menarik hidung bangir itu. Membuat cucu bungsunya mengerang sakit. "Kakek juga tahu kau selalu bermasalah dengannya." Dia bisa mendengar cucunya mencibir. "Kalau kau menganggap dia mengadu pada Kakek, kau salah besar, Sasuke. Prinsip kerjanya berbeda dari pengawal yang lain. Selagi dia masih bisa mengontrol kalian berdua, dia tidak akan membiarkan Kakek ikut campur dengan pekerjaannya."

Pemuda itu mengernyit. Kalau bukan Naruto, siapa lagi? Apakah Pain, Sasori atau...

"Bukan rekan Naruto." Jawab Madara. Dia seolah tahu apa yang di pikirkan cucunya.

"Lalu siapa?"

"Kakashi yang memberitahu Kakek selama ini tentang kau dan kakak mu." Madara mengacak surai lembut di depannya. "Temui Naruto dan ucapkan terima kasih. Sikapnya memang dingin, tapi, tidak ada orang dingin yang berhati kejam. Jika tidak, dia tidak akan menolong mu. Dia pasti menyuruh rekannya atau pengawal yang lain. Dia tidak mungkin mau repot-repot kalau bukan karena khawatir dengan mu." Senyuman tipis di berikannya pada sang cucu untuk terakhir kalinya. "Istirahatlah." Ciuman ringan mendarat di dahi putih itu.

"Kakek mau kemana?"

"Kakek harus kembali ke Rusia. Urusan di sana belum selesai." Sahutnya sembari beranjak menuju pintu. Dia membuka pintu dan keluar. Tapi, sebelum pintu itu tertutup, Madara memandang cucunya dengan lembut. "Jangan lupa untuk menemui Naruto."

"Iya, Kakek."

"Kalau bisa sekalian kau bawakan ramen untuknya."

Alis hitam pemuda itu terangkat. Dia bingung dengan ucapan terakhir kakeknya. "Ramen?"

Madara mengangguk mengiyakan. "Setahu ku dia menyukai ramen. Mungkin hubungan kalian bisa akrab dengan makanan berlemak itu." Dan dia pun menutup pintu dengan senyuman misteriusnya.

BLAM

Sasuke menatap pintu kamarnya yang tertutup dengan intens. "Ramen."

.

.

.

Satsuki menatap pria pujaannya dengan aneh. "Bukannya kaki mu terkilir?"

Naruto yang masih sibuk dengan kegiatannya hanya melirik.

Gadis itu melotot kesal melihat Naruto tidak menanggapi ucapannya. "Aku bertanya pada mu, Naruto."

Pria itu berhenti sebentar dan merenggangkan tubuhnya. "Kaki ku memang terkilir. Tapi, itu tidak menjadi alasan bagi ku untuk bermalas-malasan."

"Dokter menyuruh mu untuk bed rest."

Naruto mendecih sinis. "Jadi, kau berpikir aku harus berada di kasur ku seperti orang lemah?"

"Aku tidak..."

"Dengar kan aku, Uchiha Satsuki." Satsuki terkesiap mendapati pria itu memandangnya dingin lebih dari yang biasa. "Aku yang tahu tubuh ku seperti apa. Bukan dokter-dokter yang di sewa kakek mu." Naruto segera mengambil botol minumannya dan kembali menatap Satsuki. "Jangan pernah berpikir kau bisa mengatur ku hanya karena kedudukan kakek mu. Kau bukan siapa-siapa bagi ku. Cukup kau dengan posisi mu dan aku dengan posisi ku." Lanjutnya dengan datar sembari pergi dari sana.

Satsuki menatap punggung lebar yang mulai menjauh darinya. Air mata perlahan mengalir di pipi mulusnya. "Kenapa kau tidak bisa mencintai ku, seperti aku yang mencintai mu, Naru?"

Bibir itu mengeluarkan isakan pelan. Tanpa menyadari ada sepasang mata tajam yang memandangnya penuh arti.

.

.

.

Shukaku berbaring di kamarnya sembari melamun. Bayangan seorang gadis yang menangis di belakang paviliun mengusiknya sedari tadi. Ada perasaan aneh di dalam dirinya. Dia bahkan tidak tahu apa itu. Yang pasti, dia merasa dadanya seperti tertusuk saat melihat mata itu memerah karena tangis.

Tubuh itu segera berdiri. Menatap jendela kamarnya yang lebar. Dia melangkah perlahan ke sana. Memandang penuh perhatian sosoknya yang terpantul di sana.

SRET

Mata itu seketika terpejam, ketika raut sedih itu kembali muncul. Tangannya yang kokoh pun terangkat. Menyentuh tepat di bagian jantungnya yang berdetak kencang.

Ada apa dengannya?

Kenapa bayang-bayang Satsuki terus menghantuinya?

Dan kenapa jantungnya terus berdetak?

Apa dia punya penyakit jantung?

Atau...

"Tidak, tidak, tidak, Shukaku. Kau tidak boleh jatuh cinta dengan nenek sihir itu." Kepalanya menggeleng cepat. Dia juga bisa merasakan bulu di tangannya meremang saat memikirkan itu. "Bisa jadi samsak tinju tubuh ku kalau punya kekasih seperti dia. Hi..."

Shukaku, Shukaku. Sepertinya secara tidak sadar kau mengakui kalau Satsuki sudah membuat mu jatuh cinta.

.

.

.

Naruto menatap buku agendanya dengan intens. Jari tannya mengelus lembut permukaan sampul coklat itu. "Kau tahu, Hime. Kejadian sepuluh tahun lalu kembali terulang. Bedanya, kau tidak ada di sana. Menatap ku dengan khawatir sembari berdoa pada Tuhan mu. Aku berjuang sendiri. Tapi, itu lebih baik dari pada tersakiti kembali dengan sebuah janji yang tak tertepati. Benar kan, Hime?"

.

.

.

Di waktu yang sama dengan tempat yang berbeda...

Bandara Narita, Tokyo.

Seorang wanita cantik melangkah anggun. Senyum tipis selalu terpatri di bibirnya. Sesekali matanya mengedar ke seluruh penjara. Mencari keberadaan seseorang yang akan mengantarnya ke rumah.

Matanya melebar senang saat mendapati adik sepupunya berlari dengan semangat ke arahnya. Melambaikan tangan tanpa peduli sikapnya menjadi perhatian publik.

BRUGH

Tubuh wanita itu terhuyung saat sang adik menerjangnya dengan pelukan erat. "Hati-hati, Lil Sis." Dekapan itu segera terlepas. Dia menarik ringan pipi gembul adik sepupunya.

"Aduh, Onee-chan. Jangan di tarik."

Kepala dengan surai panjang itu menggeleng. "Kau sudah membuat Nee-chan hampir jatuh. Ini balasan yang tepat untuk gadis nakal seperti mu." Dia lalu melepaskan tangannya dan mendekap tubuh sang adik yang masih meringis menahan sakit. "Tadaima."

Gadis itu tersenyum senang saat mendapati tubuhnya di peluk erat. "Okaeri, Hinata-nee."

.

.

.

TBC...

.

.

Akhirnya selesai juga chapie ini.#NgusapPeluh.

Seharusnya ini update kemaren. Kagak tahunya, Ane di suruh Tante untuk ngupas blewah. Yaelah. Ganggu aja nih, Tante. Tapi, berkat dia juga. Ane bisa menambah sedikit di sana sini. Nikmatin aja ya...

Ane kagak tahu kalau memikirkan cerita selanjutnya sesusah ini. Ane padahal sangat berharap kalau hidup tanpa hiatus. Kagak tahunya, takdir berkata lain. Ya sudahlah.

Tapi, eh, tapi. Sebagai penebus kesalahan Ane. Ane sudah buat banyak fict buat lebaran nanti. Ane harap bisa langsung selesai. But, kita lihat saja nanti.

Nah, selesai cuap-cuap Ane. Jika ada kesalahan dalam penulisan pada fict Ane yang ini. Ane mohon maaf. Ane emang ngerasa gaya penulisan Ane berubah. Tapi, tetaplah Ane minta pendapat ente pada.

Untuk masalahmasa lalu Naruto. Mulai di bahas chapie depan. Untuk Shukaku yang bisa turun dan mulai klepek-klepek ma si galak Satsuki juga sama. Jadi, tetap stay di fict Ane, ya.#Maksa.

Dan untuk masalah balasan riview. Mohon maaf juga kagak bisa balas. Soalnya sudah mepet waktu buka. Tante udah koar-koar aja kayak pembagian sembako. So, lain kali aja Ane balasnya.

.

Thank's To :

Collin Blown YJ, InspiritWoohyunI, Justin Cruellin, Alchemist, Cosmo, Sekikaoru, Dewi15, Xilu, Jasmine DaisynoYuki, Guest 1, YoungChanBiased, Momiji Haru, Narusasu Wookie, Ndah D. Amay, Namie, EthanXel, Guest 2, Sasdistic, AiCinta, Alta0Sapphire, , Naminamifrid, Thywofy, DINDA red-devil24, Tomoyo to Kudo, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Uchiha Iggyland, .12, sivanya anggarada.

.

RnR Please...