World Without You
Characters ©Masashi Kishimoto
Story ©pipoooy12
warning: typo, OOC, and many more.
happy reading!
Aku tak tahu mengapa Sand terlihat begitu membenciku, padahal kami berdua jarang sekali berbicara. Mungkin dia iri karena aku mendapat undangan langsung untuk bergabung dengan para penjaga.
Ya, mungkin saja.
Mengingat dia begitu berambisi untuk menjadi tentara yang memegang banyak senjata dan bertarung membela kebenaran.
Lagipula aku tidak pernah tertarik dengan senjata. Apa bagusnya mereka?
Apa yang hebat dari melukai dan membunuh orang lain hanya untuk melindungi dirimu sendiri?
Aka masih setengah jalan, dan Sand telah berhasil membuatku naik pitam. Kualihkan pandanganku pada Aka, "Jika kujawab iya, lalu apa yang akan kau lakukan?" Aku bicara pada Sand, namun tak memandangnya sama sekali, dan berjalan mendekat pada Aka seakan Sand tak ada disana; tak terlihat.
Terkadang kita tidak harus lari dari masalah, kita menghadapinya, melawan arus yang dibuatnya.
Aka tersenyum simpul, membalas senyumku. Matanya menatapku penuh pertanyaan, seperti 'Hei, kau tak seramah ini sebelumnya, apa ada?' Atau, 'Aku tahu senyummu tak tulus, nona pengajar.' Namun ketika melihat Sand, semua pertanyaannya seakan lenyap. Ia menelan semuanya sendiri, tak mengatakan apapun padaku.
"Kau tak bertugas malam ini?" Aku memulai percakapan ramah-tamahku dengannya.
Ia mengangguk, "Ya, malam ini aku dan Nine tidak bertugas. Kami takkan bisa bekerja dengan baik setelah 2 hari tanpa tidur."
"2 hari?" Mataku membulat. Kemarahan yang tadi kurasakan membakar jantungku kini telah mereda, berganti rasa penasaran dan geli.
"Nine biasanya tidur siang seperti kelelawar, tapi beberapa hari belakangan ini ia sibuk juga pada siang hari. Kupikir karena itulah ia minta libur." Aka meletakan jarinya di dagu, mencoba mengingat sesuatu.
"Ah, iya. Nine menitipkan pesan untukmu. Ia mengundangmu datang ke latihan rutin para penjaga besok setelah latihan wajibmu, ia bilang latihan itu baik untuk meningkatkan kemampuanmu." Tatto dikedua pipinya berwarna merah bata tua, dari jarak dekat, terlihat seperti darah yang memang sengaja dioleskan disana.
"Aku tak pernah berminat untuk meningkatkan kemampuan bertarung atau apapun itu, aku putri seorang pengajar dan aku tak pernah membayangkan diriku memiliki pekerjaan lain, selain pengajar. Katakan pada Nine aku takkan datang." Mataku beralih pada Sand, ia hanya berdiri membatu beberapa meter di sampingku, menatap sepatunya, salah tingkah.
"Hmm.. Kalau begitu kurasa kau harus mengatakannya sendiri pada Nine. Apartment-ku terletak agak jauh dari condominium miliknya. Yah.. kau tahu, gaji kami berbeda. Hahaha.." Aka tertawa.
Sebenarnya aku tak tahu tentang hal tersebut, jadi aku hanya tersenyum gugup sambil mengusap tengkukku. "Aku.. tidak tahu dimana Nine tinggal."
"Apa? Kau tak tahu?" Aka melotot, seakan aku adalah orang paling ketinggalan zaman. "Dia tinggal disana, El." Dia menunjuk gedung baru disebelah gedung apartment yang lama.
Gedung baru itu sangat megah, dengan pilar pilar besi tinggi yang berjajar mengelilinginya dan balkon balkon kaca yang berkilauan diterpa sinar matahari sore. Sebelumnya kukira bangunan itu hanya boleh ditempati para guru guru kami, dan peneliti. Tingginya sekitar 50 lantai.
"Benarkah?" Tanyaku sambil memandangi bagunan tersebut. "Lantai berapa?"
"Dilantai 16, tapi kau harus membawa id card jika mau masuk kesana. Para peneliti bekerja dilantai paling atas, mereka tak suka berbagi gedung dengan orang asing." Entah mengapa Aka selalu terdengar seperti seseorang yang sedang bercanda. Nada bicaranya tak pernah serius. "Kau bisa pinjam milikku, dan kembalikan besok. Ok?" Ia menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam dengan garis kuning padaku. Kartu itu dilapisi card holder bening keras, dengan penjepit dibagian belakangnya.
"Uh.. baiklah." Aku menerima kartu itu dari tangannya.
"Apa dia temanmu?" Aka menunjuk Sand dengan dagunya. Kelihatannya Aka tak terlalu menyukai Sand, sama seperti aku.
Sand melonjak, "Oh, uh.. mm, ya-ya, i-iya.. aku temannya."
Aku tahu Sand gugup, aku mengerti, aku mengerti bagaimana rasanya, ketika kau berhadapan dengan para penjaga yang pemberani, dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Ketika kau tak berani, tak cukup berani bahkan untuk menegakan kepalamu didepan mereka. Dulu aku mengalaminya, saat pertama kali masuk ke sekolah ini.
Para penjaga memang memiliki aura berbeda yang membuat mereka dapat dengan mudah dikenali, bahkan tanpa senjata dipinggang dan pakaian hitam mereka. Mereka memiliki wibawa, mereka terlihat kuat dan tegas.
Aka menekan bibir atas dan bawahnya, membuatnya terlihat hanya seperti sebuah garis. "Yah, sayang sekali kau menolak ajakan Nine." Suaranya melemah, "Padahal jika kau mendaftar sebagai penjaga, kami akan memiliki pasangan untuk Nine. Ya.. kau tahu, namamu Eleven, dan dia Nine, Eleven, Nine, Eleven, Nine, kalian terdengar cocok. Pasangan angka."
Aku terdiam.
Mungkin kelemahan para penjaga terletak pada batas yang sangat tipis antara semua gaya hidup nekat mereka, dengan keidiotan.
Paling tidak sekarang aku tahu mengapa Aka memiliki senyum yang sangat lebar.
Bel berbunyi, memberikan tanda bahwa sore hari telah berakhir, dan jam malam akan segera dimulai. "Ups. Kalian harus kembali ke asrama, anak anak. Jangan sampai zombie menangkap dan memakan otak kalian!" Aka mencoba membuat wajah seram, aku tak dapat menahan senyumku. Ia lalu tersenyum ketika melihatku tersenyum.
"Sampai jumpa." Aku berbalik, melambaikan tangan padanya, seperti apa yang selalu ayahku lakukan ketika bertemu atau berpisah dengan seseorang.
Sesaat aku lupa. Aku lupa Sand ada disana, lupa bahwa dia telah mendengar semua percakapan antara aku dan Aka, sampai mataku bertemu dengan pupil hijau terangnya, dan membuatku menyadari kehadirannya, rasa iri menguar dari tatapannya, Ia menatapku seakan aku bisa mati hanya dengan satu tatapan.
Aku hanya tersenyum padanya.
.
.
.
World Without You
.
.
.
"Kau lama sekali, El." Pink mengerucutkan bibir, wajahnya cemberut. "Ada seseorang yang datang tadi.." Ia memelankan suaranya.
Aku mengerutkan keningku, mata lavenderku bertemu dengan emeraldnya. Sesaat, aku teringat pada mata Sand yang tajam itu. "Siapa? Siapa yang datang?" Tanyaku penasaran.
Pink menangkupkan kedua telapak tangannya pada sebelah kupingku, lalu berbisik, "Aku tak kenal dia, tapi dia mencarimu. Dia bilang namanya Karin, terlihat seperti seorang penjaga, namun ia tak membawa senjata tadi.."
Untuk apa Karin mencariku? Karin, gadis yang mengenakan kacamata dan berambut merah itu.. "Lalu apa yang kau katakan padanya?" Tanyaku pada Pink.
"Mm" bibir tipisnya ia rapatkan, "Kau sedang ke toilet." Kulihat kedua alisnya naik, bahunyapun begitu. "Ada yang salah?"
Cepat cepat aku tersenyum, "Tidak, tidak ada yang salah. Aku akan menemuinya besok, kau tak perlu khawatir." Pink tersenyum, membalas senyumanku. Tapi bukan untuk mengakhiri percakapan kita. "Kau makin lama makin terlihat seperti salah satu dari mereka, El." Ia mengalihkan matanya dariku, menatap kasurku, lalu jendela. Menerawang jauh, tetap dengan senyum dibibirnya, "Kau seperti percikan api diantara lilin yang mati.." Seorang penjaga melintas diseberang sana, melewati jendela demi jendela. "Dan aku mulai merasa kau akan lebih baik jika bersama mereka, paling tidak kau takkan mati sia sia."
Kami tertawa.
Takkan mati sia sia katanya.
Lalu bagaimana dengan mati mengenaskan? Atau mati sebagai idiot? Apa dia pernah memikirkannya?
.
.
.
World Without You
.
.
.
ding dong
Aku memencet bel pintu condominium bernomor 16 didepanku.
ding dong
ding dong
.
.
Entahlah, mungkin ini masih terlalu pagi untuk mengunjungi tempat tinggal seseorang. Kurasa aku lebih baik kembali lagi nanti siang.
"Siapa?" Sebuah suara pria terdengar dari lingkaran super kecil di sebelah kiri pintu.
Oh! Itu suara Nine!
"Ni-Nine.. ini aku, Eleven." Jawabku.
Disebelah lingkaran kecil speaker, terdapat sebuah lingkaran kamera. Betapa bodohnya aku, aku berdiri didepan pintu sejak tadi dan tidak menyadari kalau aku seharusnya berdiri di depan kamera.
Wajahku terasa panas.
"Hn, tunggu sebentar."
Sebentar. Aku bahkan belum sempat menarik nafas, dan Nine sudah berada didepanku.
Apa dia berlari, atau dia memang sedang berada didekat pintu?
Rambut ravennya sedikit basah, dan ada handuk kecil dibahunya. Kaos yang dikenakannya basah. Sangat basah.
"Masuklah, dan maaf jika bau keringatku sedikit mengganggu." Nine menghembuskan nafas keras, seakan sudah beberapa detik menahan nafas.
Tuhan, aku ingin meleleh saat ini juga.
"Um.. El? Ada masalah? Apa.. keringatku begitu bau?" Ia langsung sibuk mengendus endus kaosnya.
piip
Pintu condo Nine tertutup. Kini, aku benar benar berada DI DALAM tempat tinggal seorang pria.
"Hn.. duduklah dulu." ia menyuruhku duduk disofa kulit hitam dekat balkon, lalu berbalik dan membuka kaosnya.
IA..
MEMBUKA KAOSNYA.
"Ni-Nine!" Teriakku, spontan.
"Huh?" Ia berbalik lagi kepadaku, dengan telanjang dada.
Mungkin sekarang wajahku sudah lebih merah dari tomat. Nine hanya menatapku bingung.
.
1 detik,
.
2 detik,
.
3 detik,
.
"Hoahh!" Teriaknya tiba tiba. "Hoah! Gomen! Gomen!" Nine berlari masuk kekamarnya secepat kilat.
Tuhan, kupikir Nine yang penuh dengan peluh adalah mahkluk yang paling seksi hingga beberapa menit yang lalu. Namun, namun..
Kini aku tahu top-less Nine adalah alat pembuat mimisan yang terbaik.
T
B
C
