Tiga hari pasca kami putus, hidupku masih tenang. Namun hari selanjutnya, aku hanya bisa tenang di toilet perempuan dan di rumahku. Bahkan tak jarang dia juga merusuh di rumahku, untung saja dia tak merusuh di toilet perempuan. Dia benar-benar menggila tanpa sebab.

Crazy Ex Boyfriend

.

.

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Warning : Alternative Universe, Out of Character, misstypo, nista, etc. Don't Like eh? Don't Read!

.

.


Sakura's PoV

Aku melirik Sasuke yang duduk di pinggir kasurku sambil menjambak rambutnya. Apa-apaan dia itu? Datang ke rumah tanpa mengabari terlebih dahulu. Dan parahnya lagi, Mama masih menganggap kami berpacaran. Jadilah, Ia bisa leluasa memasuki kamarku atas izin Mama. Seharusnya, kalaupun kami masih berbacaran, Sasuke tetap saja tidak boleh memasuki kamarku seperti ini.

Hell! Aku seorang gadis dan dia lelaki yang entah normal entah tidak.

Melihatnya masih terus seperti itu, akhirnya aku berseru, "Sasuke! Apa sih, masalahmu? Kalau tidak ada yang penting, pergi sana!" Aku memutar kursi belajarku, menghadap ke arahnya.

Dia mendengus. "Seharusnya aku yang bertanya apa masalahmu? Kau ... ish, si panda itu siapamu?" Sasuke mengacak rambutnya, kemudian berdiri mendekatiku. Aku berjengit terkejut saat tiba-tiba dia mendorong kursiku hingga terbentur meja belajar. Tangannya diletakkan di pinggir meja belajar. Membuatku terkurung di antara kedua tangannya.

Tu-tungga ... posisi ini sangat, sangat, sangat TIDAK SEHAT. Yah, walaupun aku tidak melawan dan malah menatap wajah tampannya dengan saksama, seperti dia menatapku. Alis yang tidak terlalu tebal, mata dengan manik hitam tajam, hidung mancung, pipi tirus, bibir kissable, dan ... telinga bertindiknya. Ha? Telinga bertindik?

Refleks, aku langsung memegang telinga sebelah kanannya. Ya, hanya sebelah kanan. "Sa-Sasuke? Sejak kapan kau memakai tindik seperti ini?"

"Lihat lah, bahkan kau baru menyadari ini. Terlalu sibuk dengan si merah, eh?" cibirnya.

"Sasuke! kau ini mengapa? Siapa yang kau sebut 'si merah'? Gaara?" Aku mencoba keluar dari kukungan tangannya.

Sasuke tidak mengacuhkan perkataanku dan semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku. Aku yang tidak tahu harus melakukan apa langsung menutup mataku, ketika hidung kami hampir bertemu. Siapa pun tolong aku...

'Kriet...'

"Saku-chan?"

"Ga-Gaara-kun?!"

Sasuke mendengus. "Cih, menggelikan. 'Saku-chan?' kalian sangat menggelikan." Sasuke menjauh dariku.

Gaara mendekat ke arah kami berdua. Dia menatap remeh Sasuke. "Ada si Uchiha bengal ini, rupanya."

"Ck, selalu saja seperti ini." gerutuku.

Sasuke langsung mengambil tasnya yang terletak di samping tempat tidur dan pergi keluar kamar tanpa mengucapkan apa-apa. Aku langsung berteriak, "JANGAN LUPA LEPAS TINDIKAN DI KUPINGMU ITU!"


~Crazy Ex Boyfriend~


Decitan ayunan terdengar pelan di taman yang sepi ini. Tempat pertama aku dan Sasuke berkencan. "Pacar barumu itu tidak marah kalau kau mengajakku ke sini?" tanyanya.

Tatapanku tertuju pada tindik yang berada di telinga sebelah kanan Sasuke. "Kau belum melepas tindikan itu."

"Terserahku, ini bukan urusanmu. Urus saja pacar merahmu itu."

Kami berdua menatap langit hari Minggu yang cerah. Tanganku terjulur ke atas dengan telapak tangan yang dibuka untuk menghalangi sinar matahari. Aku tersenyum melihat tanganku menjadi bersinar jika dilihat dari samping.

Menghela napas, aku berdiri. "Ya sudah, aku pulang. Maaf membuang waktumu. Dah," ucapku, kemudian pergi meninggalkannya.

"Ah iya," Aku berbalik kembali. "Gaara itu sepupuku, bukan pacarku." Kemudian membisik dari jauh, "Aku tahu kau cemburu." Dan aku memberikannya wink, sebelum benar-benar pergi meninggalkannya.

Flashback

Gaara menatapku dan mengangkat bahunya, begitu Sasuke pergi. "Dia itu siapamu?"

Aku meringis. "Hanya mantan pacarku."

"Kenapa kau tidak memberitahuku sedari awal?!" Dia tampak sangat terkejut.

"Kau tidak bertanya." Hanya itu yang bisa kujawab.

Gaara menatapku tidak percaya. "Kau ini ..." Dia menggeram gemas dan mengacak rambutku. "Aku rasa Uchiha ayam itu cemburu."

Aku mengerjap. "Ce-cemburu? Tidak mungkin."

"Kenapa tidak mungkin? Dia belum mengetahui kalau aku adalah sepupumu 'kan?" Gaara menyeringai.

"Tetap saja tidak mungkin." Pipiku terasa panas.

"Kau masih menyukainya ya?"

Flashback end


~Crazy Ex Boyfriend~


Normal PoV

Gaara merangkul Sakura dengan akrab, sepanjang mereka berjalan menuju kelas. Tampak tak peduli dengan berbagai tatapan menilai orang. Mata jade Gaara langsung mengarah ke pemuda tampan yang berasal dari klan Uchiha itu, begitu memasuki kelas.

"Hn, Ohayou Sakura," sapa Sasuke seperti biasa—dengan seringai menyebalkan.

Tanda persimpangan empat seperti di anime-anime muncul di kening Gaara, saat melihat Sasuke dengan begitu santainya menyapa Sakura. Tidak cemburu lagi, eh?

"Hm, ohayou Sasukentang busuk," balas Sakura malas-malasan.

Gaara duduk di bangkunya dan memandang ke belakang, ke arah Sasuke dan Sakura yang sekarang tengah mengobrol ringan. Sedikit rasa kesal muncul di hati Gaara, saat tidak bisa melihat raut wajah kesal si Uchiha ayam itu. Padahal begitu tahu kalau Sasuke dan Sakura itu adalah mantan kekasih—yang bisa dibilang masih saling mencintai, Gaara ingin sedikit membuat panas suasana dengan membuat Sasuke cemburu.

Dan apa yang didapatinya pagi ini? Sasuke dengan santai mengobrol dan menjahili Sakura seperti biasa.

"Sakura," panggil Sasuke.

"Hm?" Sakura menoleh rada tak ikhlas.

Sasuke berdehem dan Sakura memutar matanya. "Sebelumnya kau pernah duduk di tempat dudukku ini ya?"

Sakura mengangguk. "Ya, saat pertama masuk kelas sebelas ini aku duduk di situ. Ada apa?"

"Bukan apa-apa, kok."

"Ih ... serius!"

Sasuke menggeleng. "Bukan apa-apa," katanya kalem.

Sakura yang geram dengan Sasuke pun, sontak mendekat dan mencubit gemas perut Sasuke. "Kasih tahu, gak?!"

"Lah, aku yang nanyak, mengapa kau yang kepo?" Sasuke mendengus geli.

"SASUKENTANG BUSUUUUK!" Dan bahkan teriakan pertama Sakura di pagi hari pun harus karena Sasuke.


~Crazy Ex Boyfriend~


Sakura PoV

Seorang gadis manis berambut cokelat dengan malu-malu mengintip ke dalam kelas kami saat jam istirahat ini. Aku dan Sasuke yang sedang memakan bekal bersama—tunggu, bersama? BERSAMA?! Aku melirik Sasuke yang sedang menyendok nasi goreng dari bekal yang kubawa—ya, aku berbagi bekal dengannya. Kemudian ia menyodorkannya ke depan mulutku—bermaksud menyuapiku.

Aku merengut. "Apa-apaan kau?"

Sasuke mengangkat bahu. "Tentu saja menyuapimu."

Aku mengangkat sendok yang ada di tanganku. "Lebih baik kau makan saja. Aku bisa makan sendiri. Kau lihat ini?" Aku mengambil satu sendok nasi beserta lauk dan memakannya di depan Sasuke dengan jelas.

"Memang, kau bisa makan sendiri. Tapi tidak dengan benar," Tangan Sasuke mengusap ujung mulutku. "Berlepotan," ucapnya.

"Sasu—"

"A-ano ... summimasen. Apakah ini kelas Gaara?"

Aku dan Sasuke menoleh ke arah pintu kelas. Dan gadis manis yang sempat terlupakan tadi masih berdiri di sana sambil bertanya dengan pelan. Aku yakin, sedari tadi tidak ada yang menyahut, bahkan menoleh. Lihat saja, murid yang tinggal di kelas saat jam istirahat sekarang ini. Hanya murid weird dan nerd lah yang memilih untuk tinggal di kelas saat jam istirahat dan sibuk dengan dunianya sendiri. Jadi, bahkan segerombol orang berisik berantam pun mereka tidak akan mendongak hanya untuk sekadar melihat.

Begitu pula dengan nasib gadis ini. Pasti sedari tadi dia dikacangi.

Aku berdiri dan menghampiri gadis itu. Dengan senyum ramah aku menjawab, "Ya, ini kelasnya Sabaku Gaara."

"Bisakah kau memberi ini kepadanya nanti? Saat ia sudah kembali dari kantin." Gadis yang lebih pendek dariku itu memberiku sebuah amplop berwarna pink. Tutupnya sedikit terbuka karena tidak dilengketkan. Aku rasa isinya sebuah surat.

Aku mengambil amplop itu. "Ah ya, tentu. Ahaha, aku tidak tahu kalau Gaara ada penggemarnya juga."

Ia menggaruk tengkuknya dan tertawa putus-putus. "Aha-ahah-ah, engg ... tidak, aku bukan."

"Hm? Benarkah?" Aku tersenyum menggoda.

Ia menggeleng. "... aku harus kembali ke kelas. Terima kasih sudah mau membantuku."

"Ya, sama-sama. Eh, namamu siapa?!" Aku sedikit berteriak. Namun ia terus berlari, sepertinya tak mendengar teriakanku. Ya sudahlah, nanti aku tanya kepada Gaara saja. Toh, di dalam suratnya pasti akan ada nama si penulis. Aku menyimpan amplop itu di laci dan kembali memakan bekalku.

Sasuke yang telah selesai memakan bekal meletakkan sendoknya di tutup kotak bekalku. Aku pun turut menyudahi makanku dan menyimpak kotak bekal di laci meja.

"Jadi, Gaara itu sepupumu 'kan?"

Aku sedikit memiringkan kepalaku, menatap Sasuke. "Ya," jawabku pendek.

Ia tampak mengangguk. "Bagus, kalau begitu. Aku tidak perlu merasa cemburu lagi."

"Apa maksudmu hah, Uchiha?" Aku berdiri saat Gaara datang dengan tatapan tajamnya. Ck, jangan bilang kalau aku harus menengahi mereka lagi.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Apa urusanmu?" Nah kan! Sasuke lagi. Mengapa harus melawan?!

"Kalian sudah bukan sepasang kekasih lagi. Jadi kurasa aku berhak mengurusi urusan yang menyangkutpautkan nama Sakura," ucap Gaara.

Sasuke menyeringai. "Melindunginya sebagai sepupu eh?"

Skak mat!

Gaara menggeram. "Kau—"

"Aa, sudahlah. Kupikir Sakura tidak suka melihat kita bertengkar. Lihat saja wajahnya. Nah, karena aku tahu kalau kau sangat keras kepala jadi tentu kau tidak akan pernah mengalah dan karena aku waras, maka aku memutuskan untuk mengalah. Namun bukan berarti kau menang ya, sepupu over protectif."

Aku berusaha menahan tawaku, mendengar ucapan Sasuke yang sebenarnya sedikit kelewatan. Gaara pasti mengamuk. Jadi sebelum Gaara kembali mengamuk aku angkat bicara—mengalihkan topik, "Ah iya, Gaara! Tadi ada perempuan berwajah manis dengan rambut cokelat memberikan amplop yang kurasa berisi surat kepadaku. Sebentar." Aku mengambil amplop yang berada di laciku dengan sedikit susah payah, kemudian menyodorkan amplop itu ke Gaara.

Gaara tertegun menatap amplop itu. Sedikit kilatan sedih terpancar di matanya, membuatku penasaran. Aku tidak pernah melihat pancaran sedih itu di matanya, sebelumnya.

"Gaara, ada apa?" Aku meraih bahunya, namun ia menepis pelan tanganku dan berlari keluar kelas begitu saja.


.

.

To be Continued

.

.


Author's Note:

Segini dulu ya. Saya belum bisa nulis panjang-panjang. Maaf buat update lama, chapter pendek, dan cerita yang tak sesuai ekspetasi kalian.

Shana Kozumi: Iyaaa xD Crazy Ex Girlfriend yang tayang di Star world, wkwk.

Thanks to:

Yanti Sakura Cherry, CherryAsta, Zarachan, Imahkakoeni, Bang Kise Ganteng, Cherry480, Dolphin, SweeTomato, Shasa Rira, Someandmany, Chrysant Lie, Harika-chan ELF, Ai uchiharunosan, Yuki Mura, Hanazono Yuri, Sakura Uchiha Stivani, KhofitaRenaZalfran, Dianarndraha, Luca Marvell, Uchihaladyharuno, Love Uchiharuno, Filla flow, JungHa-'ySasu, Kurochi Haru, Praha, Kimberchantik, dan Kimberchan.

Makasih juga yang udah fav and alert

Review?