"Daylight"

Disclaimer : The story belongs to Summer Plum. Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka.

Genre : Romance, Action

Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook

Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min

Rated : M

Warning : Top!Kim Taehyung x Bottom!Jeon Jungkook

YAOI, BoyxBoy, dan sejenisnya

M-Preg

Typo everywhere

Chapter 4

"Telepon aku begitu kau sampai di rumah"

"Tentu saja, oppa. Aku akan langsung mengabarimu nanti"

"Baiklah. Kemari"

Dan dua insan yang berada dalam sebuah ikatan hubungan itu saling berpeluk erat dan mengecup bibir satu sama lain. Keduanya seperti tersiram oleh seember lem yang membuat kedua tubuhnya tak dapat menjauh. Semakin merekat kuat.

Semakin meremat perasaan Jungkook.

Maka dengan sekuat tenaga ia mengalihkan pandangannya, menghindari tontonan yang memanaskan hatinya.

Netranya beralih menjelajah ruang dan benda di sekitarnya. Saat ini ia berada di ruang makan rumah calon pasangannya.

Pasangan apa, dia saja sudah punya calon pendamping hidup sendiri.

Lebih tepatnya rumah calon ayah dari bayi yang akan di kandungnya.

Ugh, itu lebih mengerikan. Bahkan aku saja belum hamil, bagaimana bisa menyebutnya calon ayah dari bayiku?

Entah apapun Taehyung di matanya, yang terpenting saat ini adalah menghindari pasangan kasmaran yang akan berpisah itu dan melakukan sesuatu yang lebih produktif.

Di dorong oleh motivasi yang kuat agar segera menjauh dari love bird mengesalkan itu, Jungkook bangkit dari duduknya dan memberesi semua piring dan gelas kotor bekas makan siang mereka bertiga. Dengan lihainya pemuda bergigi kelinci itu menumpuk beberapa piring menjadi satu gunungan dengan semua sumpit, sendok, dan gelas di puncaknya dan mengangkatnya dengan mantap. Ia membawa tumpukan benda kotor itu ke dalam bak cuci piring.

Ia mendengus jijik kala mendengar desah dari satu-satunya wanita yang berada di ruangan itu.

Kenapa belum pergi juga sih? Batinnya kesal.

Bukannya mengucap perpisahan dan keluar, mereka berdua malah asyik mencumbu tepat di balik punggungnya.

Dengan hati yang kesal, ia menarik napas dalam-dalam menetralkan kegaduhan perasaannya. Setelah di rasa mulai tenang, ia beralih mengambil sepasang sarung tangan cuci berwarna merah muda cerah dan mulai membersihkan kotoran di gundukan piring itu.

Toh aku juga ikut makan, dan wanita itu sudah memasak dengan hebat.

Ya, sekali lagi Jungkook mengakui kebolehan Joy dalam mengolah bahan pangan. Masakannya benar-benar luar biasa. Bayangan Jungkook, masakan itu setara dengan makanan di restaurant mahal yang hanya bisa ia lihat dari luarnya saja. Membuat dirinya semakin menciut.

Bukan, bukan berarti ia tak bisa memasak karena demi dewa, Jungkook telah di latih memasak selama bertahun oleh sang kakak. Kebetulan hobby kakaknya memasak, dan hal itu sedikit banyak menular padanya. Biasanya ia selalu merasa menang dalam hal perdapuran. Menurutnya, miliknya tak bisa di bilang tak enak. Tangannya seperti punya rasa dalam setiap racikan yang ia buat.

Namun tidak hari ini. Dia merasa di kalahkan oleh hidangan fantastis dari gadis berdada besar itu.

Oh, sepertinya Jungkook punya panggilan baru untuk calon pasangan Taehyung itu.

Gadis berdada besar...

Dan pinggul yang ramping, dan S Line body, dan senyum merekah, dan wajah cantik jelita...

Aarrghh.

Jungkook semakin gila jika membandingkan dirinya dengan si pemikat itu.

"Hey, kenapa kau mencucinya"

Gumaman bernada rendah dari arah belakang sukses membuat sebuah piring meluncur jatuh dari tangannya. Untung saja benda itu tidak pecah karena jarak tangan ke bak cucinya yang tak terlalu jauh.

"Ah, aku hanya risih melihat piring bekas makananku tergeletak begitu saja" bualnya.

Si pria yang menjadi bahan lamunan di kepalanya itu tertawa ringan. "Hajima. Letakkan saja. Aku punya pembantu yang mengurusi segala hal semacam ini"

Dengan santainya pria itu menarik tangan Jungkook dari guyuran air dan meletakkan piring yang sedang di bilasnya. Ia membantu Jungkook melepaskan sarung tangan merah muda tanpa mengabaikan tangannya sendiri menjadi basah.

"Aku bisa sendiri—"

"Menurutlah" potongnya, membuat Jungkook menutup rapat mulutnya. Entah bagaimana deep voice itu selalu menjadikannya patuh akan titah sang pria. "Akan ku tunjukkan kamarmu"

Sekali lagi, seolah ia terbiasa melakukan hal itu, ia menarik tangan Jungkook meninggalkan ruang makan. Tangannya tak menggenggam, hanya melingkarkan jemarinya di pergelangan tangan Jungkook.

Mereka melangkahkan kaki menapaki lantai indah berwarna abu-abu yang mengeluarkan bunyi ketukan sepatu. Jungkook mengagumi rumah ini. Menurutnya, Taehyung benar-benar memiliki selera yang bagus.

Di setiap dinding yang ia lewati, selalu tergantung lukisan-lukisan yang Jungkook tak tahu dimana letak bagusnya, tetapi memancarkan aura artistik nan elegan. Pemilihan warna dindingpun terbilang cukup berkelas. Taehyung mewarnainya dengan perpaduan dimgray dan cornsilk yang cantik dan misterius secara bersamaan.

Kedua orang itu berbelok ke kanan dan berhenti di balik sebuah pintu berwarna gading yang tertutup rapat. Taehyung merogoh sesuatu dari dalam saku celana bahan yang ia kenakan dan menarik keluar sebuah silver key pipih. Jungkook memperhatikan dengan gugup bagaimana pria itu memasukkan anak kunci ke lubangnya dan memutarnya sebanyak 2 kali hingga pintu di buka lebar.

Mulut kecilnya menganga lebar. Ia sangat terkejut dengan apa yang terbentang di hadapannya.

Sebuah kamar yang berukuran jauh lebih besar di banding keseluruhan rumahnya memenuhi pandangannya. Yang membuatnya begitu kaget adalah, semua barang-barang disana penuh dengan warna merah dan hitam.

Hitam

dan

Merah.

Warna kesukaannya.

Ranjang berukuran king size yang di balut dengan seprai merah maroon, meja rias dengan ornamen ukiran berwarna merah dan hitam, lemari pakaian merah dengan handlenya yang berwarna hitam, dan sebuah jam dinding berbentuk karakter lucu yang juga berwarna merah hitam.

Semuanya begitu indah.

"Wow.." ia hanya bisa menggumam tanpa kata. Ia berjalan masuk dan duduk di atas ranjangnya. Tangannya mengusap ke seprai berbahan satin yang begitu halus. Belum lagi empuknya kasur itu seakan mengundang dirinya untuk segera merebahkan diri secepat mungkin. Jauh berbeda dengan miliknya yang kasar dan dingin.

"Kau suka warna merah bukan?"

Jungkook mengangguk lambat-lambat. "Bagaimana kau bisa tahu?"

Pemuda bermarga Kim tak langsung menjawabnya. Ia hanya menampilkan senyum sekilasnya dan berjalan hingga tepat di depan Jungkook.

"Ini kamarmu. Gunakan semaumu. Kau boleh menghiasnya sesukamu. Kau bahkan bisa memintaku untuk mengganti warna atau tata letak kamar ini, bila perlu"

"Baiklah" gumam Jungkook. Ia sudah jatuh hati pada kamar ini, tak mungkin ia meminta Taehyung agar mengganti segala sesuatu tentangnya.

"Pintu itu" Taehyung menunjuk ke arah belakang Jungkook yang langsung di ekori oleh pemuda bergigi kelinci itu. "adalah kamar mandi. Ada toilet, shower, bathtub, dan segalanya. Kau hanya tinggal memakainya dan beri tahu padaku jika ada yang kurang"

Jungkok mengangguk lagi.

"Di dalam lemari itu juga sudah ada pakaian yang bisa kau pakai sehari-hari"

Kembali Jungkook mengangguk.

Namun ada satu pertanyaan penting yang masih mengganjal di kepalanya.

"Lalu.." Jungkook menggigit bibir bawahnya ragu-ragu. Ia masih sangsi dan malu akan menanyakannya atau tidak.

"Lalu apa?"

Sial bagi Jungkook.

Taehyung menyambung pertanyaannya dengan nada manis. Seolah-olah ia menanyakan mau permen rasa cokelat atau rasa strawberry kepada balita.

Jantungnya berdegup tak karuan.

"Dimana kau akan tidur?"

.

.

.

Decit pintu itu sedikit membuat sosok yang berdiri di kegelapan menolehkan kepalanya ke belakang. Sosok yang sedari tadi memperhatikan dari balik kaca tipis yang menjadi penghalang antara dirinya dan sosok dalam ruangan tersebut menyunggingkan senyum simpul. Ia merasa puas dengan pemandangan di depan matanya.

Orang itu bahkan tak mempedulikan jerit kesakitan dari lima orang pemuda dalam ruangan itu. Matanya fokus menerawang, memandang sejauh yang bisa ia pandang, lalu kemudian bertepuk tangan kecil sebagai apresiasi atas kerja keras mereka yang ia sebut sebagai anak buah.

"Kerja bagus" ia bergumam kecil dan meninggalkan ruang pengap nan gelap itu.

Dari arah belakangnya, langkah kaki kecil menggema dan sebuah panggilan di lontarkan padanya.

"Tuan Lee!"

Hanya dia.

Hanya sosok pria bertubuh kecil itu yang dengan berani memanggil Sang Maha Segalanya itu dengan tenang. Hanya ia yang dengan santainya melenggang mengekori Sang Dewan Tertinggi itu dengan gagah berani. Hanya ia yang bisa membuat pemilik negara itu menghentikan langkah dan membalikkan badannya guna mencari tahu apa yang pemuda itu butuhkan sehingga ia memanggilnya di kala ia berjalan.

"Iya" jawab Dewan Tertinggi itu.

"Saya ingin memberikan laporan tentang perbatasan Timur dan Utara" ucap pemuda tampan itu. Lalu dia menambahkan, "Semua laporan tentang apa yang mereka lakukan dan rencanakan telah tertulis di sana. Tuan Lee hanya perlu memberikan perintah selanjutnya bagi para Guardian yang menjaga daerah perbatasan. Saya akan menyampaikan hal itu pada mereka"

Dengan mantap pemuda itu menyerahkan stopmap putih tebal kepada atasannya dan membungkuk hormat.

"Bagus" jawab Tuan Lee singkat. Ia menerima stopmap itu tanpa melihat isinya sedikitpun. Kilat ketegasan di matanya seketika melunak kala melihat pemuda yang berdiri dengan senapan di tangannya.

"Ku rasa kau tidak ada tugas jaga malam ini" ujarnya. "Pulanglah ke rumah. Eomma menyiapkan makan malam spesial untuk merayakan ulang tahun kakakmu"

Pemuda di depannya itu tersenyum simpul dan mengangguk pelan.

"Aku akan pulang dalam 3 jam" ucapnya dengan senyum terkembang. "Abeoji"

Sosok yang di panggil sebagai ayah itu mengangguk sekali dan mengusap lembut kepala pemuda itu.

"Bagus. Appa sangat merindukanmu"

Hanya sedetik setelah Dewan Tertinggi itu berucap, ia segera menarik tangannya dan melenggang pergi meninggalkan pemuda itu sendiri.

Selalu seperti itu.

.

.

.

Jungkook meraba-raba badannya.

Sekali lagi ia menyentuh piama yang melekat di tubuhnya.

Pakaian berbahan sutera itu begitu halus dan lembut. Ia seperti di lingkupi oleh kapas. Belum lagi warna merah dan hitam yang menghiasinya, ia begitu jatuh hati dengan apa yang di pakainya.

Setelah bersikeras menolak menggunakan piama pemberian Taehyung, ia tak dapat menolak untuk kedua kalinya. Taehyung benar-benar bersikeras memintanya menggunakan segala yang sudah di sediakan. Jungkook bukannya tidak suka, ia hanya merasa rikuh, dan tak ingin di anggap sebagai golongan manusia yang mendambakan harta saja. Tapi tetap, ia tak bisa memungkiri jika ia harus terbiasa dengan hal ini.

Jungkook sudah mandi, sudah berganti pakaian, dan sekarang ia bingung harus melakukan apa.

Mereka sudah makan malam, sudah membicarakan mengenai pakaian, sudah mengitari seluruh rumah dan halamannya, dan sekarang sudah pukul 11 malam.

Semakin larut semakin membuatnya kalut.

Bukannya Jungkook menunggu Taehyung yang sekarang entah berada dimana, namun ia begitu gugup dan bingung.

Tujuan dari acara ini adalah penyerahan anak kepada pemerintah, maka dari itu ia harus berhasil hamil, dan itu artinya mereka harus melakukan pembuahan...

Jungkook belum siap.

Demi apapun itu, pemuda berusia 20 tahun itu merasa sangat sangat tidak siap.

Ia tak bisa membayangkan tubuhnya di kungkung dan di jamah oleh Taehyung dengan jemari panjangnya...

Aargghh.

Apa yang harus ia lakukan?

"Kau disini rupanya"

Jungkook terlonjak mendapati pemuda yang tengah di lamunkannya masuk ke dalam kamar. Ia berdehem ringan dan mengangguk.

"Aku menunggumu"

Jungkook menampar bibirnya yang asal berujar. Ia dan segala keceplosannya terkadang membuatnya jengkel pada dirinya sendiri.

"Ah.. Tidak.. Maksudku, aku.. Umm—"

Taehyung terkekeh melihat calon pasangannya yang saat ini terlihat begitu gugup.

"Kau begitu polos, Kook. Menggemaskan"

Blush.

Pipi Jungkook terasa hangat.

Buruk bagi jantungnya yang berdegup semakin kencang.

"Bukan itu maksudku. Aku hanya.. ah, kau tahulah. Aku.. umm... tak tahu harus melakukan apa"

Taehyung tertawa lepas kali ini. Ia meletakkan kantong belanjaan di meja kamar itu dan berjalan mendekati pemudanya.

Dengan santainya ia mendudukkan dirinya di sebelah Jungkook yang saat ini tengah membulatkan kedua bola matanya. Tangannya terulur begitu saja dan mengusap pipi pemuda bermarga Jeon dengan lembut dan penuh kehati-hatian.

"Pipimu merah, jika kau ingin tahu"

Jungkook menundukkan pandangannya, tak berani menatap hazel yang secara misterius dapat membuatnya kesulitan bernapas.

"Pernahkah kau berkencan?"

Jemari lentik yang semula menyentuh lembut pipinya kini turun dan beralih pada bibir tipis pemuda Jeon. Taehyung mengusap belah mungil itu dengan gerakan lambat yang membuat lutut Jungkook terasa tak bertulang.

"Aku tak ada waktu untuk berkencan" Jawab Jungkook nyaris berbisik. Ia masih tak berani mendongakkan kepalanya barang satu sentipun.

Berniat menggoda pertahanan pemuda di sebelahnya, Taehyung mendekatkan wajahnya lagi pada Jungkook dan menghirup aroma sabun yang begitu menyegarkan indera penciumannya. Aroma Jungkook entah mengapa seolah membangkitkan sesuatu dari dalam tubuh Taehyung. Sesuatu yang membuatnya sejenak melupakan kekasihnya yang kini tak lagi seatap.

"Jadi kau belum pernah—" ia semakin merapatkan tubuhnya pada pemuda bergigi kelinci itu. "—bercumbu dengan siapapun sebelumnya?"

Jemari itu menyentuh pelan dagu Jungkook dan mengangkatnya sehingga kedua pasang netra itu saling beradu.

Ia lemah.

Jungkook lemah akan tatapan tajam Taehyung.

"Jadi bibirmu itu—" hidungnya kini menyentuh hidung mancung calon pasangannya. Menggeseknya perlahan. "—belum pernah di kecup siapapun?"

Sungguh, Taehyung tak perlu mendapatkan jawaban yang telah ia ketahui. Jungkook, pemudanya itu menatap takut-takut wajahnya yang tak lagi jauh dari Jungkook begitu kaku dan tegang, dan entah mengapa Taehyung menyukainya. Menyukai bagaimana ia dapat dengan mudahnya memojokkan kelinci manis itu.

"Bolehkah aku jadi yang pertama bagimu?"

Lidah Jungkook kelu. Tubuhnyapun kaku. Ia kesulitan meraih oksigen dan lagi sekujur tubuhnya meremang. Sensasi dari lontaran pertanyaan itu membuat inderanya kehilangan kemampuan.

Jungkook sulit mengakuinya, tapi ia sedikit terbawa oleh deep voice yang Taehyung lantunkan di ruang tertutup itu dimana hanya ada mereka dan hawa nafsu yang menyelimuti keduanya.

Sadar jika Jungkooknya akan tetap diam tak bergeming, Taehyung mengambil keputusan saat itu juga.

Tangannya meraih tengkuk Jungkook yang terasa hangat. Sentuhan kulit ke kulit itu membuat pemudanya sedikit terlonjak. Dengan gerakan selembut sutera yang di kenakan calon pasangannya, ia menarik dan memiringkan wajah Jungkook, mendekatkan bibirnya.

Kala kedua belah indera pengucap itu bertemu, Jungkook seketika lupa dimana ia berpijak.

Taehyung mengecupnya dengan lembut, hangat, dan tanpa paksaan. Semuanya bergerak secara naluriah dan alami. Tak ada tuntutan dalam kecupannya.

Jungkook memejamkan kedua matanya dan larut dalam kehangatan yang di salurkan lelakinya.

Tangannya dengan malu-malu dan setengah meragu menekan dada Taehyung. Bukan menolaknya, tidak juga ingin menghentikan ciumannya. Ia hanya tak tahu harus merespon seperti apa.

Sementara Taehyung yang seolah mendapatkan lampu hijau dari Jungkook, dengan perlahan mendorong tubuh pemuda itu hingga mereka berdua terjatuh ke atas ranjang.

Taehyung melepaskan bibirnya dari Jungkook dan menatap tajam pemuda yang berbaring di bawahnya.

"Apa yang kau—"

"Aku akan memilikimu malam ini, Kook"

Jungkook menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya berselimut kabut tipis yang membuatnya tak bisa melihat apapun selain ke dalam netra indah Taehyungnya.

Pemuda bermarga Kim itu menundukkan tubuhnya lebih rendah lagi dan mengecup pucuk hidung Jungkook. Kecupan kecil itu beralih ke kelopak mata kiri, kanan, pipi, dagu, dan berakhir di bibirnya lagi. Kali ini Taehyung bahkan memberanikan diri melumat bibir bawah Jungkook yang menggodanya sedari tadi.

Tangan halusnya mengelus lembut pinggang Jungkook dan sedikit demi sedikit menyingkap atasan piama yang di kenakannya.

"Uhmm, Tae..."

Rintihan bernada rendah itu semakin membuat Taehyung kehilangan kesadarannya. Ia semakin kuat menyesap bibir manis itu bergantian atas dan bawah, tanpa ada seinchipun terlewat oleh salivanya.

"Kau begitu manis, Jungkook" gumamnya di antara pagutan. Tangannya meremas pinggul pemuda yang terkungkung di bawahnya dengan pelan.

"Ahh..."

Taehyung memperhatikan bagaimana pemuda di bawahnya itu menggeliat. Ia tersenyum kecil dan beralih menyesap leher jenjang seputih susu milik Jungkook. Giginya ia gesekkan diantara collar bone Jungkook. Ia menggigitnya, menciptakan sebuah tanda kepemilikan disana.

"Taehyung.. Ahh..."

Tubuh Jungkook yang menegang itu di usap Taehyung. Tangannya menjalar dari pinggul dan turun ke pahanya. Tanpa sadar, kedua kaki Jungkook saling di jauhkan oleh Taehyung. Pemuda itu menyentuh lembut paha bagian dalam calon pasangannya, membuat Jungkook mengerang dan meremas seprai merah maroon yang mereka tiduri.

Masih mencumbu leher mulus yang kini di hiasi dengan bercak merah di beberapa tempat, Taehyung menarik turun celana piama Jungkook. Ia bahkan menggunakan kakinya untuk menurunkan celana itu sementara tangannya meraba dada datar pemudanya.

Celana itu turun hingga sebatas mata kaki saat Jungkook menjerit menahan geli kala nipplenya di remas dan di tarik main-main oleh Taehyung.

"Tae.. Ahh... Hentikan..."

Taehyung tak mendengarkannya. Ia malah membuang celana malang itu dan menjalarkan tangannya di sepanjang kaki jenjang Jungkook yang tak tertutupi apapun selain sebuah briefs putih yang sepertinya tak lama lagi juga akan bergabung dengan celana piamanya.

"Jungkook ah, kau begitu indah..."

Jungkook hendak menjerit lagi kala dadanya di gerayangi tangan nakal Taehyung sebelum calon pasangannya itu membungkamnya dengan ciuman.

Pemuda yang lebih tua itu menelan jeritan tertahan yang lebih muda dengan lumatan dan gigitan ringan di bibir atasnya. Jungkook masih meliukkan tubuhnya kala tangannya meremat nakal kedua nipple sang sub. Lututnya menahan pergerakan lawannya yang membuat miliknya secara tak sengaja bergesekan dengan milik Jungkook.

"Shit" umpatnya. Melihat subnya terengah dengan bibir membengkak dan hickey di sekujur lehernya membuat miliknya di bawah sana mulai bangun dan menyesakkannya. Belum lagi bulu mata lentik Jungkook yang membuka dan menutup sayu, memandangnya dengan tatapan penuh kepasrahan, seolah memintanya untuk kembali datang dan menjamah.

Jungkook sungguh nyaris menggila akibat perlakuan tak senonoh yang di dapatkannya. Yang lebih parahnya, ia malah mendesah kala pria itu mencumbunya dengan penuh hasrat. Ia bahkan membiarkan bagian bawahnya di telanjangi begitu saja tanpa ada perlawanan.

Jungkook mengeraskan hatinya. Ia harus melakukan sesuatu atau dirinya tak akan selamat malam hari ini.

Maka saat Taehyung kembali mencumbu leher dan kini turun ke dadanya, Jungkook mencoba melawan hawa nafsunya dan mengembalikan akal sehatnya ke tempat semula.

"Taehyung.. Uhh.. Hentikan.."

Ia menggigit bibir bawahnya menahan desahan lain yang nyaris keluar kala calon pasangannya itu sedikit mengoyak atasannya agar terbuka, memperlihatkan dua belah tonjolan kecil yang menggoda Taehyung untuk di jilat.

"Aku belum... Ahh... Aku tidak—"

"Sstt.. Tenanglah, Kook"

"Tapi aku tidak... Uhmm—"

Jungkook melempar kepalanya ke belakang dan meremat seprai kuat-kuat. Matanya tak ingin menatap nipplenya yang kini berada dalam kuluman bibir Taehyung. Ia tak sanggup.

"Aww... Jangan, Tae..."

Jungkook menarik napasnya kala tangan Taehyung hendak menurunkan satu-satunya pelindung kesejatiannya. Tubuh Jungkook meronta dan ia menggeleng sekuat tenaga.

"Tidak. Stop... Jangan buka.."

Taehyung menulikan pendengarannya.

Pemuda Jeon menggeram kesal dan dengan segenap kekuatan yang masih tersisa, ia mendorong tubuh Taehyung kuat-kuat.

Ia mengembalikan briefnya yang telah turun sebatas paha. Napas Jungkook memburu, jantungnya meletup, dan tubuhnya terbakar. Ia nyaris tak bisa menahan hasratnya, tapi ia belum siap.

Jungkook belum siap untuk percintaan pertamanya.

Bukan seperti ini yang ia mau. Bukan dengan hubungan samar-samar yang ia harap. Ia ingin segalanya jelas, tentang siapa dirinya bagi pasangannya dan kejelasan tentang hatinya. Jungkook tak mau dengan cerita seperti ini ia memulainya.

"Taehyung aku tidak bisa. Aku belum siap" ucapnya terbata. Netranya menatap dengan takut pada Taehyung yang terduduk di depannya. Matanya memanas. Ia begitu ingin menangis saat ini.

"Aku belum siap melayanimu. Maafkan aku"

Dengan secepat kilat ia bangkit dan meraih celananya yang teronggok di lantai, dan meninggalkan Taehyung sendiri dengan hasrat yang tersendat.

.

.

.

TBC

.

.

.

Pyuhhh...

Tae yang tegang sepertinya sedikit menyenangkan :D

Terus baca dan review ya. Love u all as always guys.

Follow IG : summer_plum (double underscores)