SHINJUKU RISA PRESENTS

Alice Wa Maid- Sama!
Chapter 4

~It's Raining!~

Disclaimer: Jun Mochizuki

ERR!
(E
njoy, Read, Review!)

1..

2..

3..

ACTION!

"Hoaaaahhmm..." Tanpa merasa bersalah, Alice menguap terang-terangan ketika guru Sastra sedang mengajar di depan kelas. Oh, tidak hanya Alice. Beberapa murid yang lain juga ikut menguap, bahkan ada juga beberapa murid yang matanya tak bisa diajak berkompromi, mengakibatkan mereka tertidur pulas di atas meja dan lembaran-lenaran kertas buku tulis.

Entah kenapa, pelajaran sastra sudah dicap menjadi pelajaran paling membosankan oleh murid-murid di kelas ini. Tak terkecuali sang ketua OSIS, Oz Vessalius.

Sebenarnya, pelajaran sastra atau seni berbahasa itu cukup menyenangkan. Hanya saja, tergantung cara guru mengemas pelajarannya.

Siapakah yang tidak bosan, mengantuk, dan madesu bila sang guru hanya sibuk menulis catatan, catatan, dan catatan, sekali lagi, catatan di papan tulis?

Karena bosan terus menyalin catatan dari guru sastra yang banyaknya mencapai 5 paragraf, Oz iseng merobek halaman tengah buku tulisnya, menulis sebuah surat, kemudian dilipatnya kertas itu membentuk mainan pesawat, dan melemparkannya ke arah Alice.

TUK!

"Aw!" Alice berteriak keras ketika sebuah mainan pesawat kertas menabrak kepalanya, dan berhasil mengundang perhatian guru dan beberapa murid. Alice yang sesaat jadi pusat perhatian karena berteriak ketika pelajjaran berlangsung, hanya cengegesan dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada seraya berkata, "Maaf."

Setelah sang guru membalikkan badannya kembali ke papan tulis, Alice meraih mainan pesawat kertas itu dari bawah kakinya. Ia buka lipatan demi lipatan pesawat mainan itu, lalu membaca pesannya.

Alice, aku bosan.

Alice meraih pulpennya, lalu menulis jawaban surat itu di bawah laci, agar tidak kepergok guru.

Diremasnya kertas itu hingga bentuknya tidak beraturan lagi, lalu dengan sigap dan tanpa sepengetahuan guru, ia melemparkannya pada Oz.

Singkatnya, isi surat mereka adalah,

Oz: Alice, aku bosan.Alice: Terus? Apa aku peduli dengan kebosananmu?Oz: Ck. Kau harus peduli, aku majikannmu. Hei, besok kan hari Sabtu. Sore ini mau jalan-jalan bersamaku, tidak?Alice: Majikan? Siapa lo? Ga kenal gua! (kidding)
Oh, jadi Sabtu ini kau tidak kembali ke Mansion? Jalan-jalan? MAU! Hm..aku agak sedikit curiga. Tujuannmu mengajakku berjalan-jalan apa?
Oz: Gua? Gua Oz Vessalius. Salam kenal!
Aku bosan di Mansion -_-"
Di Mansion, Yang bisa kulakukan hanya makan, tidur, melamun, membaca, ah.. pokoknya sangat tidak atraktif.
Jangan curiga begitu! Ini hanya sebagai bentuk terima kasih yang kemarin, hehe..

Alice: Terima kasih? OH IYA! Holy Knight yang kau pinjamkan, baru kubaca setengahnya, kukembalikan hari Senin, ya?

Oz: Holy Knight? No prob, dibalikin tahun depan juga tidak apa-apa. Jadi ikut, ya? Tujuan jalan-jalan masih kurahasiakan, hehe :P

Alice: Apa! Beri tahu dulu mau kemana!

Oz: Iya-iya..hari ini kita ke..

KRIIIIIING! Bel pulang telah menjerit, menebarkan senyum lega pada seluruh siswa Latowidge. Mereka berhamburan menuju Asrama. Ada yang berkemas-kemas untuk kembali ke Mansion masing-masing, ada yang bermain voli di lapangan, ada juga yang hanya bersantai di Asrama.

Berbeda dengan kedua orang ini. Sesuai janji yang telah mereka buat dikelas, sore ini mereka akan berjalan-jalan. Hanya berdua saja.

"Jalan-jalan! Jalan-jalan! Asyik! Ayo, Oz! Aku tidak bisa menunggu!" Pekik Alice sambil menarik-narik jas Oz, seperti anak kecil yang merengek kepada ayahnya untuk dibelikan sebuah balon.

"SSSST! Pelankan suaramu! Jangan sampai orang-orang tahu." Oz membekap mulut Alice, menghentikannya untuk bersorak kegirangan. Alice hanya tersipu, merasa malu karena sempat terlihat 'norak' di depan Oz.

"Kutunggu di depan jalan setapak, ya?"

Dengan tergesa-gesa, Oz pergi meninggalkan kelas, juga meninggalkan Alice sendirian. Alice hanya mendesah kesal. Sebenarnya, ia sudah lumrah dengan kebiasaan kontraktor-nya ini, meninggalkan orang tanpa sebab, dan suka muncul dengan tiba-tiba.

Sepeninggal Oz, Alice kemudian beranjak pergi menuju satu tempat, tempat yang sudah dijanjikan.

Jalan setapak.

Jalan setapak yang terletak beberapa meter dari ruang lingkup area Latowidge. Tak mempunyai nama, namun ratusan kisah tertoreh di jalan setapak ini. Dari kisah pertemuan dan perpisahan sepasang kekasih, sampai pembunuhan tragis. Semuanya telah disaksikan oleh Jalan setapak. Namun, jalan setapak ini hanya bisa diam membisu, tak bisa menangis terharu ketika menyaksikan bertemunya sepasang kekasih, ataupun menjerit ketakutan melihat pembunuhan di jalan setapak ini. Sekali lagi, dia hanya bisa membisu.

Tak terasa, kini Alice sudah berada di luar area Latowidge, atau tepatnya, di Jalan setapak.

Diantara rimbunnya padang ilalang yang tumbuh di kanan-kiri jalan setapak, Alice menangkap bayangan seorang pemuda yang melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Tanpa ba bi bu lagi, Alice langsung berlari menuju Oz. Dari kejauhan, ia bisa melihat Oz membawa sesuatu, SEPEDA!

"Naiklah, Alice! Pegangan yang kuat, ya!" Kata Oz sambil menaiki sepedanya, dan memberi isyarat kepada Alice untuk membonceng di belakang. Dengan senang hati, Alice menaiki dua pijakan yang yang terletak di kedua sisi roda, dan berpegangan pada pundak Oz.

Perlahan, Oz mulai mengayuh pedal sepeda, dan sepeda pun mulai berjalan, ke arah 'tempat yang telah dijanjikan'.

'Pundak Oz tegap, ya?' gumam Alice di sela-sela kegiatannya menikmati semilir angin yang berlalu seiring pergerakan sepeda. Beberapa petani kebun teh yang baru pulang dari kebun pun menatap dengan iri kebersamaan Oz dan Alice, mengingatkan pada masa muda mereka yang telah berlalu.

Oz terus mengayuh sepedanya, dan hamparan padang ilalang itu telah tiada, digantikan panorama kebun teh dengan latar pegunungan yangg menjulang dengan indah. Alice tidak pernah melihat area perkebunan teh sedekat ini. Biasanya, ia melihat kebun teh milik perusahaan besar ternama di negeri Sabrie ini hanya dari atas menara sekolah, atau dari kalender.

"Alice, kau senang, tidak?" Tanya Oz.
"Tentu saja! Aku sangat beruntung bisa mengenal orang sepertimu!"

Alice, sadarkah kalau ucapanmu membuat wajah Oz memerah?
Terkadang, kata-kata indah terucap dari mulut Alice, dan jika ditanya balik, Alice pasti berkata, "Eh? Memangnya aku berkata seperti itu?".

Panorama kebun teh berangsur-angsur lenyap, dan mereka mulai memasuki sebuah area reboisasi milik pemerintah. Pohon-pohon yang tumbuh di area reboisasi ini sudah cukup tinggi, tinggal menunggu beberapa tahun lagi sebelum area ini benar-benar menjadi sebuah hutan.

5 menit setelah melewati papan pembatas area reboisasi, Oz menghentikan sepedanya di depan sebuah undakan batu yang curam.

"Oz, kita sudah sampai?" Tanya Alice sambil menurunkan kakinya dari pijakan sepeda.
"Ya. Kita sudah sampai! Ikut aku, Alice!" Oz menaiki undakan batu kecil yang menyerupai anak tangga, mengulurkan tangannya pada Alice untuk mempermudah gadis ini menaiki undakan yang curam dan rawan tergelincir. Alice sendiri pun tidak tahu, undakan itu menuju kemana. Oz hanya memberitahu kalau ia akan membawanya 'ke area reboisasi'.

Naik, naik, dan terus naik. Undakan ini ternyata jalan menuju puncak sebuah bukit. Alice baru menyadarinya ketika melihat sebuah pohon besar tumbuh tak jauh dari undakan yang ia naiki sekarang. Semakin jauh ia menaiki undakan, semakin terlihat tinggi pohon itu.

Belum sampai di puncaknya, tiba-tiba Oz membalikkan badanya, lalu berkata,
"Tutup matamu, Alice. Ini perintah."

Dengan perasaan enggan, takut, dan penasaran, Alice menutup matanya. Sedetik kemudian, ia merasakan tangan seseorang merangkulnya, menuntunnya berjalan, entah kemana.
Samar, ia bisa merasakan cahaya silau dan hangat yang menembus kulit matanya.

"Buka matamu, Alice.."

Alice menundukkan kepalanya, dan membuka kelopak matanya perlahan. Yang dilihatnya pertama kali adalah, Rumput. Rumput yang hijau, tak berembun. Ia mulai menaikkan kepalanya, mencoba menatap kedepan. Dan..

"KEJUTAN!"

Oh, inilah yang Oz maksud. Sebuah tanda terima kasih. Alice sempat berhenti bernafas sesaat ketika terkejut melihat sebuah pemandangan yang tersuguh di depan matanya. Pemandangan yang sama dengan kalender gantung miliknya. Kini, Alice benar-benar bisa melihat yang aslinya, jauh..jauh lebih indah daripada yang di kalender.

Dari puncak bukit ini, Alice dapat melihat hamparan kebun teh yang terlihat seperti karpet hijau, gedung sekolah Latowidge yang berdiri kokoh dengan menara-menara pencakar langitnya, tidak lupa, view pegunungan yang melengkapi panorama indah seperti ini.

TES!

Setetes air jatuh di hidung Oz. Ia menengadahkan tangannya, lalu mendongak ke atas, ke arah langit. Tak ada 5 detik, telapak tangannya sudah diserbu oleh ribuan titik air yang jatuh dari langit.

"Alice, hujan! Ayo kita berteduh di pohon!" Ujar Oz.
Alice mendecih kesal, mencoba memarahi sang langit mendung yang merusak momen-momen indah seperti ini.

ZRAAAASSSSSHHH..

Hening.

Entah kenapa, sejak mereka mulai berteduh di pohon, keduanya jadi saling berdiam diri. Alice termenung, mendengarkan irama rintik hujan yang turun dari langit dengan derasnya. Oz yang sedari tadi hanya bengong memperhatikan semut yang berlalu-lalang di sela-sela rumput, akhirnya berinisiatif untuk membuka pembicaraan.

"Kapan kau terakhir bermain hujan-hujanan, Alice?"
"Tidak pernah.." Jawab Alice tanpa mengarahkan wajahnya ke Oz. Tidak pernah bermain hujan-hujanan? Oh, ini memunculkan satu ide baru di otak Oz.

"Kalau begitu, kau harus mencobanya sekarang!"
Oz menggenggam tangan Alice, menariknya keluar agar bisa merasakan sendiri betapa menyenangkan menantang derasnya air hujan. Awalnya, Alice marah dan kesal karena Oz telah membuat pakaiannya basah, karena kesal, ia ingin menghajar Oz. Namun, yang ingin dihajar malah berlari gesit menghindari amukan Alice.

Mereka terus bermain kejar-kejaran di tengah derasnya hujan, hingga perasaan marah itu perlahan-lahan lenyap, hanyut bersama jutaan tetesan air yang jatuh dari langit.

Pada akhirnya, mereka saling tertawa lepas, berlari-lari dengan riang, bahkan sempat menari-nari dengan gembira di bawah naungan awan mendung yang terus mencurahkan air hujannya ke bumi. PLUK! Sehelai daun basah jatuh dan menempel di kening Alice.

"Alice, ada daun di kening.."

BLAAARRR!

"KYAAA!" karena kaget, Alice menghambur ke pelukan Oz. Oz yang awalnya terkejut, tiba-tiba tersenyum melihat Alice yang menggigil ketakutan di pelukannya. Ia tak menyangka, gadis kasar, tomboy, dan bertempramen buruk ini takut terhadap petir.

"Alice, jangan takut, kau aman." Oz mengelus kepala Alice layaknya mengelus kepala Snowdrop, salah satu kucing peliharaan Mansionnya.*A/N -Alice: Author geblek! Gua bukan binatang! –taboked*

Ketika tangan Oz mengelus lembut kepalanya, Alice merasakan sesuatu. Sesuatu yang pernah ia rasakan dulu, lama sekali.

Alice meregangkan pelukannya, lalu menatap ke arah Oz yang suatu kebetulan, juga tengah menatap ke arah Alice. Untuk beberapa saat, mereka saling berpandangan, menyelami satu sama lain. Seakan-akan mata merekalah kini yang berbicara, dan mengisyaratkan suatu perasaan yang terpendam antara Oz dan Alice.

Tangan Oz yang tadinya memeluk erat Alice, kini meregang, dan turun sampai ke pinggang Alice.
Oz tak bisa berfikir apa-apa lagi. Akal sehatnya sudah diperbudak suatu perasaan, perasaan cinta yang tak berbatas. Tak ada lagi kata-kata yang bisa mengungkapkannya.

Benar..

Saat kata-kata tak lagi mampu untuk mengungkapkannya, tubuhlah yang berbicara.

Oz mendekatkan mukanya ke arah Alice. Ia tahu ini salah, namun..perasaan ini tak dapat dibendung lagi. Alice mengerti apa yang akan Oz lakukan. Wajahnya memerah, tapi kali ini, ia tidak berontak seperti biasanya.

"A-Alice?" Tanya Oz tergagap-gagap. Ia menghentikannya sejenak ketika melihat ekspresi malu dari Alice. Alice memalingkan wajahnya yang memerah dari pandangan Oz. Ia tidak ingin Oz melihatnya seperti ini. *A/N: Author: Tapi, Oz sudah terlanjur melihatnya! Alice: apa? Tidaaak!*

"Alice..bolehkah a-aku.." Oz menunduk, meminta izin pada Alice yang masih memalingkan wajahnya.

'Kumohon jawablah iya! Kumohon jawablah iya!' Batin Oz.

Alice diam membisu, wajahnya masih memerah. Ia sedang berfikir. Namun, otaknya tak bisa diajak kompromi. Otaknya tak bisa berfikir lagi, seolah-olah membeku. Tubuhnya mati rasa, ia tak bisa merasakan lagi dinginnya udara saat hujan. Apakah Alice sakit?

Alice melingkarkan kedua tangannya ke leher Oz. Dan sekali lagi, menatap Oz dengan perasaan malu, sebelum akhirnya..

Ia mengangguk.

Tubuh Oz serasa melayang, melayang bersama kebahagiaan yang amat-sangat. Ia menghela nafasnya, lalu melanjutkan kembali hal yang sempat ditundanya tadi.

8 senti..
Oz dapat melihat seuntai senyum tipis terukir di wajah Alice, menambah elok paras gadis ini.

6 senti..
Alice mulai memejamkan matanya, merasakan hembusan nafas Oz yang semakin mendekat..

4 senti..
Oz memiringkan kepalanya sedikit, agar hidungnya tidak menabrak hidung Alice..

3 senti..
Alice benar-benar tak bisa merasakan apa-apa lagi. Tubuhnya kaku, mati rasa, otaknya seperti membeku, ia merasa setengah nyawanya sudah keluar dari tubuh.

1 senti..

BRUK!

Alice ambruk di bahu Oz. Wajahnya pucat, tangannya dingin. Hipotermianya kambuh.

'Yaah! Padahal tinggal sedikit lagi!' omel Oz dalam hati. Oz mendecih kesal, lalu menggotong Alice yang pingsan, membawanya berteduh kembali di bawah pohon hingga hujan reda. Dan jadilah, Oz gagal mencium Alice karena kebodohannya sendiri, mengajak Alice bermain hujan-hujanan sampai hipotermianya kambuh.

TEBECE, next chap around 30th March 2011

Gyaa! Shinju nggak bisa bikin adegan berciuman yang pas! Oke, Shinju sadar semakin kesana, fict ini makin gaje! Dan chapter kemaren itu nyaris jadi hentai O_Q
Dan di chap ini, Alice cuma dapet 1 perintaaaaaaah! Argh, betapa dudulnya saya DX
Ya-yaudah..Review? *bow!*