HUNHAN FOREVER! HUNHAN FOR LIVE!

.
HUNHAN GIVE AWAY CHALLENGE!

.

.

xiugarbaby (formerly Aruna Wu)

presents

.

"E.N.D"

.

HunHan

.

GS – Rated M – Family Life – Hurt/Comfort – Drama – Angst

.

.

.

.

Happy Reading! ^^

.

.

.

Chanyeol menggendong Jaehun di pundaknya sementara Jaehan berjalan diantara Baekhyun dan Chanyeol seraya menggenggam tangan keduanya. Mereka baru saja selesai menonton drama musikal, Jaehun dan Jaehan tak henti – hentinya menceritakan bagian foavorit mereka dalam cerita. Bocah kembar itu nampak mengulang kembali cerita yang mereka tonton dari awal hingga akhir, namun yang menarik bagi seorang Byun Baekhyun bukanlah bagaimana HunHan kecil menceritakan itu secara menggebu – gebu. Bagi Baekhyun itu adalah hal yang lumrah jika anak – anak akan bereaksi seperti itu setelah mengalami sesuatu atau kejadian menarik. Yang kini membuat gadis cantik itu tersenyum tanpa henti adalah bagaimana cara seorang Park Chanyeol menimpali cerita HunHan kecil. Bahkan pria tampan bertelinga lebar itu mau bersuka rela jadi penjahatnya dan HunHan jadi cowboy kerennya.

"Ohooo…. Kau tidak bisa mengalahkanku Mr. Oh Jaehan! Aku sudah menangkap Komplotanmu, lihat ini" ujar Chanyeol dengan suara beratnya yang menggelegar, dan itu terlihat cocok untuk suara seorang penjahat. Chanyeol menjadikan Jaehun yang duduk di bahunya sebagai sandera, komplotan si cowboy.

"Beraninya Ajhusi menangkap hyungku! Kalau begitu hadapi aku!" Jaehan menghadap pada Chanyeol dengan kedua tangannya membentuk pistol

"Jaehan-ah… tembak hidung penjahat ini… aku sudah memegang kedua tangannya!" pekik Jaehun yang kini memegang erat tangan Chanyeol

"Bang! Bang! Bang!" Jaehan mulai menembak Chanyeol degan pistol tangannya dan itu membuat Chanyeol pura – pura panik

"Oh tidak… aku butuh bantuan… aku butuh bantuan…" Chanyeol masih dengan acara pura – pura panik yang mambuat HunHan semakin meledak dalam tawa mereka.

"Sudah… cukup, kita lanjutkan nanti lagi mainnya, sekarang ayo kita makan malam dulu. Ini sudah sangat lewat dari jam makan malam HunHan"

Baekhyun menghentikan drama tambahan itu dengan senyum manisnya. Dan permintaan itu langsung dituruti oleh ketiganya tanpa ada bantahan apapun.

"Byun seonsaeng… Dimana Appa?" Jaehun bertanya setelah mereka berempat duduk manis di sebuah restoran tradisional Korea yang menyediakan makanan berbahan organik

"Appa kalian sedang berada di Incheon. Ajhusi mengirim Appa kalian kesana karena misi penting yang sangat rahasia" Chanyeol menjawab sambil sedikit berbisik.

"Misi rahasia? Bukankah Appa seorang tukang bangunan? Kenapa punya misi rahasia?" Jaehan yang gagal fokus malah bertanya dengan polosnya

"Mwo? Tukang bangunan? Sehun? Bahahahahaha"

"Appa kalian ada tugas mendesak di kantor, maka dari itu dia menitipkan kalian bersama kami… tidak apa – apa kan?" kali ini Baekhyun yang bertanya, eyesmile manis gadis itu menatap HunHan secara bergantian

"Tidak apa – apa Seonsaengnim…" jawab Jaehun dengan senyum tipis mirip senyum Luhan dan kembarannya di sisi lain mengangguk penuh antusias.

Drrrt… Drrrt…

"Ah… Appa kalian menelpon, sebentar ya…"

Suasana jadi hening saat Chanyeol mulai menyapa Sehun di seberang sana.

"Anak – anak sangat suka dramanya, sekarang kami sedang makan malam. Sup Iga sapi korea dengan potongan sayuran segar yang direbus dengan kaldu gingseng dan rempah – rempah…"

"Okay – okay… aku percaya padamu dan Baekhyun… tapi, Chanyeol-ah… sepertinya aku tidak bisa kembali ke Seoul sekarang juga… ada hujan badai disini dan… sesuatu terjadi"

"Sesuatu? Kau tidak apa – apa kan?" kini Chanyeol berbisik, berharap agar HunHan tidak mendengar pertanyaannya

"Aku baik… aku akan menginap di kantor malam ini. Bisakah…..ng…. bisakah aku titip anak – anakku dan… Baekhyun?"

"Tentu saja kawan… kau bisa mempercayakan mereka padaku, apa kau benar – benar baik – baik saja?"

"Mmm… aku baik Yeol, sangat baik… bisa kau berikan ponselmu pada Baekhyun?"

"Okay…. Baek, Sehun ingin bicara denganmu"

Chanyeol menyerahkan ponselnya pada Baekhyun dan gadis itu tampak bingung saat menerimanya

"Halo, Sehun..?"

"Baek, maaf hari ini aku tidak bisa pulang… ada hujan badai di sini dan terlalu bahaya jika aku menembusnya. Aku akan pulang besok pagi. Bisa aku titip anak – anak padamu kan? Chanyeol akan mengantarmu pulang…."

"Baiklah… tapi, mereka harus pulang ke mana?"

"Mmmm… bawa saja mereka ke rumah kita, biarkan mereka tidur di kamarku"

"Sampai Luhan pulang?"

"Tidak… aku rasa Luhan juga tidak akan pulang cepat malam ini… aku sudah mendapatkan ijinnya untuk membawa anak – anak ke rumah."

"Okay…. Aku akan melakukannya, ng… Sehun-ah…"

"Ya?"

"Apa sesuatu terjadi? Kau terdengar tidak begitu baik…"

"Sesuatu memang terjadi, tapi aku baik – baik saja Baek… aku… titip HunHan padamu"

"Mmm.. aku akan menjaga mereka, kau mau bicara pada mereka?"

"Ah? Baek… bisakah kau menjelaskannya pada mereka? Aku harus melakukan sesuatu saat ini"

"Ya… Baiklah, jaga dirimu… aku akan menjaga anak – anak"

"Terima kasih Baek, sampaikan salamku untuk mereka dan Chanyeol"

.

Sehun menutup ponselnya dan membalikkan badan dimana sebuah pintu toilet pribadi di ruangan Sehun baru saja terbuka. Luhan keluar dengan rambut basah dan kemeja kebesaran milik Sehun. Beruntung Sehun sempat meninggalkan satu stel pakaian lengkap dengan jas dan dasi di ruangannya.

Sementara Sehun sendiri tidak memakai apapun di badannya, atau sebut saja topless, dia hanya mengenakan celana bahan yang sebenarnya adalah bawahan dari kemeja yang Luhan kenakan. Mereka membagi dua pakaian kering milik Sehun itu.

"Kau merasa lebih baik?" Sehun menyapa Luhan yang terlihat canggung saat ini

"Mmm… jauh lebih baik," jawab wanita itu dengan senyum lemah

Sehun mengajak Luhan keluar dari ruangannya, ruang kerja Sehun tidak begitu nyaman untuk situasi seperti ini karena di sana hanya ada drafting machine, komputer, scanner, berbagai macam pensil, alat gambar, penggaris, berbagai macam alat ukur, buku – buku desain, blue print roll dan segala macam yang arsitek butuhkan untuk bekerja. Tidak begitu nyaman untuk beristirahat disana.

"Kau tidak kedinginan?" lirih Luhan ketika kaki jenjangnya mengikuti Sehun keluar ruangan

"Badanku punya toleransi yang baik terhadap suhu dingin, duduk lah…"

Sehun mempersilahkan Luhan duduk di salah satu sofa kantor. Kantor Sehun dan Chanyeol tidak terlalu besar. Mereka beruda hanya menyewa satu lantai di sebuah gedung perkantoran. Lantai itu terdiri dari 4 ruang kecil dan satu ruang luas yang didesain nyaman untuk client mereka, di ruangan itu juga ada beberapa meja yang di tempati oleh rekanan Sehun dan Chanyeol, dan di dekat pantry terdapat sebuah meja billiard yang sering dimainkan oleh mereka saat jam istirahat, meja itu adalah ide dan milik Chanyeol. Dari ke empat ruangan kecil yang berjajar di sisi kiri lantai itu, satu ruang digunakan oleh Sehun, satu lagi digunakan oleh Chanyeol, ruangan lain adalah ruangan rapat dan yang terakhir adalah ruang perlatan.

"Minum ini…"

Sehun menyerahkan secangkir susu hangat untuk Luhan, dan pria itu kemudian duduk di sisi meja Billiard tepat di hadapan Luhan.

"berapa banyak wine yang kau minum?"

Luhan kaget dengan pertanyaan Sehun, pipinya kembali memerah dibalik helaian rambut hitamnya yang basah

"Tidak banyak…"

"Jangan minum lagi, kau tidak bisa minum minuman seperti itu…" Sehun mencoba memberi peringatan dengan tatapan tajamnya yang kemudian tenggelam dalam cangkir susu hangatnya sendiri.

"Dan kenapa kau bisa ada di sana? Bukankah seharusnya kau bertemu dengan kedua orang tua Yifan?" Sehun bertanya lagi, kali ini wajahnya dipenuhi dengan rasa penasaran

"Aku tidak jadi bertemu degan mereka… dan… sesuatu terjadi" ucap wanita itu berusaha bersikap sebiasa mungkin

"Sesuatu terjadi… Apa dia melakukan sesuatu padamu?"

Luhan diam tak bergeming, wanit itu hanya menatap cangkir susu hangat di tangannya.

"Ah… Bagaimana dengan anak – anak?" Luhan mengalihkan pembicaraan dengan segera

"Mereka ada di tangan yang aman, Baekhyun dan Chanyeol bisa menangani mereka dengan baik"

"Tapi… mereka kan belum tau…"

"Belum tau bagaimana HunHan?"

Luhan terdiam, jemari lentiknya mempererat genggaman pada cangkir susu yang hangat di tangannya. Sementara Sehun meletakkan cangkirnya sendiri yang sudah kosong begitu saja.

"Jangan terlalu khawatir, belajarlah untuk percaya pada orang lain… mereka tidak mungkin menyakiti anak – anak kita" ucap Sehun dengan nada tenang

"Tapi cuaca sedang buruk, Jaehun bisa demam kapan saja di saat seperti ini, Jaehan juga bisa rewel, anak itu takut petir… aku tidak yakin mereka bisa menangani itu semua."

"Aku percaya pada mereka,"

"Kau tidak mengerti Sehun, mereka butuh pengawasan yang lebih ketat… mereka butuh orang yang mengerti akan keadaan mereka…"

"Orang yang mengerti keadaan mereka seperti Yifan?"

Luhan sedikit mengaga setelah tebakan Sehun, dan wanita itu mengangguk mantap.

"Yifan adalah dokternya Jaehun, tentu saja aku percaya dia bisa menjaga anak – anak dengan baik. Yifan mengerti bagaimana harus menangani mereka. Bahkan disaat kita tidak tau apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Jaehun, dia bisa melakukannya. Yifan tidak mungkin mencelakakan anak – anak, dia bahkan menyembuhkan Jaehun kita"

Suasana jadi hening sesaat, sebenarnya Sehun sudah sangat ingin meledakkan amarahnya. Tapi saat ini dia berhadapan dengan Luhan. Orang yang dulu pernah Sehun sakiti. Sehun tak mau menyakiti Luhan lebih banyak lagi, terlebih karena kata – kata yang akan dia ucapkan.

"Dan aku adalah ayah mereka. HunHan adalah darah dagingku, Lu. Haaah… Kau selalu percaya pada Yifan, tapi kenapa kau tidak pernah percaya padaku?"

Luhan kembali terdiam. Sehun berhasil menyudutkannya kali ini, Luhan memang tidak bisa menyangkal karena itulah kenyataannya. Luhan sering sekali meragukan Sehun, bahkan wanita cantik itu dapat dikatakan tidak pernah percaya bahwa Sehun bisa menjaga anak – anak mereka. Padahal Oh Sehun jelas – jelas adalah ayah kandung dari kedua buah hatinya sendiri.

"Aku punya naluri yang kuat untuk menjaga mereka" wanita cantik itu kembali berkilah

"Memang benar Lu, seorang ibu memilik naluri dan ikatan batin yang lebih kuat pada anak – anaknya. Tapi bukan berarti seorang ayah sama sekali tidak memiliki naluri dan ikatan batin apapun. Aku adalah ayah mereka, aku juga bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Aku bisa mengerti apa yang mereka inginkan dan aku sangat menyayangi mereka. Bisakah kau tidak meragukan aku untuk itu?"

Mendengar semua kata – kata Sehun membuat kepala Luhan berdenyut, wanita itu sebenarnya juga ikut menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri.

"Aku…. Aku mungkin gagal untuk bisa jadi suami yang baik. Ya, aku bersalah untuk hal itu, Lu. Tapi tidak untuk yang satu ini, sekali lagi aku katakana bahwa aku tidak mau gagal menjadi seorang ayah, aku ingin selalu mengusahakan yang terbaik untuk mereka,

Sehun menggantung kalimatnya, masih mencoba menahan emosi untuk tidak membentak Luhan atau meninggikan suaranya. Setelah Sehun yakin bahwa dia mampu menyampaikan kalimat selanjutnya tanpa menyakiti Luhan, duda tampan itu kembali berkata,

"tapi… kenapa kau tidak bisa percaya padaku sekali saja… kau lebih mendengar apa kata Yifan, kau lebih percaya apa yang dibilang Yifan, kau lebih setuju dengan cara – cara Yifan. Memangnya Yifan siapa? Dia bukan siapa – siapa untuk anak – anak kita, dia hanya seorang dokter yang kebetulan adalah kekasihmu. Lalu apa menurutmu darahku yang mengalir dalam tubuh HunHan itu semuanya omong kosong?"

"Sehun… aku…"

"Aku hanya butuh kepercayaanmu Lu, setidaknya untuk ada bersama HunHan… setidaknya jangan ragukan aku di hadapan orang lain. Itu benar – benar menyakiti perasaan dan harga diriku sebagai seorang ayah,"

"AKU TAKUT, SEHUN! AKU TAKUT!"

Luhan memekik keras seiring dengan cangkir susunya yang jatuh ke lantai. Untung saja cangkir itu sudah kosong dan tidak pecah, hanya bunyinya saja yang nyaring dan membuat keduanya kaget. Sehun menegakkan tubuhnya saat dia melihat bahu Luhan mulai bergetar, kedua tangan Luhan menjambak rambut basah sebahu yang tergerai tanpa dosa.

Sehun terpaku pada posisinya saat ini, Luhan menangis, tangisan yang sama seperti saat mereka bertengkar dulu. Tak usah dipertanyakan lagi apa yang dirasakan Oh Sehun kali ini. Melihat Luhan menangis, sama saja seperti dia bersuka rela membenamkan pisau tajam ke jantungnya. Sehun lalu menunduk di hadapan Luhan. Tangan lebarnya dia gunakan untuk mendekap Luhan dalam pelukannya. Tanpa Sehun duga Luhan malah semakin menangis. Sehun menuruti nalurinya untuk memper erat pelukan itu, mengusap lembut kepala belakangnya sambil sesekali mencium pucuk kepala wanita itu. Posisi itu bertahan cukup lama, hingga Luhan sendiri yang memutuskan untuk melepaskan peleukan Sehun.

Luhan menyeka air matanya dengan jemari bergetar, kedua mata rusa itu masih tertunduk dan tak berani menatap Sehun. Kepala Luhan rasanya semakin berat dan dadanya berdegup kencang, semakin berdegup rasanya semakin sakit. Ujung kaki dan tangan Luhan terasa semakin kaku tertusuk hawa dingin. Air mata Luhan masih terus berjatuhan meskipun jemari lentik yang dingin dan bergetar miliknya masih terus berusaha menyingkirkan setiap tetes yang keluar.

Sehun masih berlutut di hadapan Luhan, wajahnya sejajar dengan wajah sang mantan istri. Pria itu hanya bisa menatap mantan istrinya yang menangis ketakutan dalam keterdiaman. Oh apa bisa Sehun lakukan disaat seperti itu? Bahkan Sehun sendiri kenapa bisa Luhan jadi seperti ini, pria itu tidak tau apa yang terjadi pada wanita yang paling dia sayangi. Sehun tetap diam di hadapan Luhan, mencoba mengerti situasi Luhan, menunggu Luhan mau melihatnya lagi.

"Aku sangat ketakutan, Oh Sehun… setiap detik dalam hidupku aku selalu ketakutan. Sejak aku melihat dua garis merah pada alat tes kehamilan yang aku gunakan dulu, sejak aku ditendang keluar dari rumahku sendiri, sejak semua orang mentertawakanku karena keadaanku, aku selalu ketakutan. Aku kehilangan semuanya, aku kehilangan keluargaku, aku kehilangan masa depanku, aku bahkan kehilangan diriku sendiri sejak saat itu."

Luhan kembali menyeka air matanya, kali ini dengan sedikit kasar. Kedua mata rusa itu masih tak mau menatap pria di depannya. Dia masih berusaha untuk memuntahkan semua sakit hati dan ketakutan yang selama dia pendam sendiri.

"Bahkan saat kita berdua telah menikah, aku takut hidup denganmu, aku memang mencintaimu dan aku tau kau memang mencintaiku saat itu… tapi tetap saja aku masih ketakutan. Aku takut perasaanmu akan berubah, aku takut kau meninggalkanku begitu saja, aku takut menghadapi semuanya sendirian, aku bahkan takut pada janin yang ada dalam tubuhku saat itu, aku takut aku tidak bisa menjadi ibu yang baik, aku takut aku tidak bisa memberikan mereka yang terbaik, aku takut menyakiti mereka, aku takut melakukan sesuatu yang salah pada mereka. Aku sangat takut akan semua itu"

Luhan kembali terisak dan menepuk dadanya, sementara Sehun masih diam dan mendengarkan. Jika yang dihadapan Luhan saat ini adalah Oh Sehun di usianya yang ke 20, mereka berdua pasti sudah saling ribut adu mulut untuk menjadi yang paling menderita. Tapi tidak, saat ini Oh Sehun adalah Oh Sehun di usianya yang ke 25. Pria itu sudah cukup dewasa untuk tau caranya mendengarkan. Dan itulah yang dia lakukan saat ini.

"Dan ketika HunHan lahir… ketakutanku semakin besar, Oh Sehun. Apalagi ketika aku tau sesuatu yang buruk terjadi pada salah satu anak kita. Aku semakin takut. Aku takut kehilangan mereka, aku takut tidak mampu mengerti apa yang mereka rasakan. Dokter bilang ada kesalahan pada jantung salah satu dari anakku dan dia bisa meninggal kapan saja. Aku takut sekali Oh Sehun… aku takut setiap saat Jaehun demam, aku takut setiap saat Jaehun kembali collaps, aku takut saat Jaehan juga ikut sakit. Aku takut saat semua itu terjadi dan kau tidak ada disisiku…."

Luhan menjeda kalimatnya, wanita itu tampak kehabisan napas karena menahan isakan dan sakit dalam dadanya. Sehun mengambil tangan Luhan yang sedari tadi memukul – mukul dadanya sendiri, menggenggam tangan itu dengan penuh kelembutan. Sehun pun mengusap titik – titik keringat di kening Luhan yang basah dengan satu tangannya yang bebas.

"Dan hari itu, saat aku melihatmu bersama perempuan itu dan semenjak kejadian Jaehun hampir meninggalkan kita semua saat itu. Aku merasa bahwa semua ketakutanku akan jadi nyata. Dan itu terbukti ketika kau menghadapkanku pada surat perceraian. Saat itu sudah mulai gila. Jaehun sedang sekarat di ICU, Jaehan terbaring lemah karena tipes di ruang rawat dan aku datang membawa surat itu padaku. Saat itu ketakutanku kehilanganmu dan HunHan lebih besar dariapada aku takut akan kematian. Tapi bodohnya aku, aku juga terlalu takut untuk memintamu tetap tinggal, aku terlalu takut untuk menahanmu, aku terlalu takut untuk memohon kehadiranmu disampingku, aku terlalu takut untuk menghentikan perceraian kita, aku bahkan sangat takut karena aku tak bisa lagi melihatmu!"

Napas Luhan semakin tersengal, satu tangan Luhan yang ada di genggaman Sehun mencengkram erat tangan lebar sang mantan suami. Sehun dapat merasakan tangan Luhan basah, dingin dan bergetar. Wanita itu tidak dalam keadaan baik – baik saja.

Disisi lain Sehun seperti ditampar berulang kali. Dengan bodohnya dia baru tau apa yang Luhan rasakan saat itu, dia sama sekali tidak membayangkan Luhannya jadi seperti itu. Ternyata dibalik keegoisan dan kebekuan sikapnya dulu, Luhan menyimpan banyak sekali ketakutan dan trauma dalam dirinya. Sehun berulang kali mengutuk diri sendiri atas kebodohannya yang tak pernah peka akan semua yang dirasakan Luhan.

"Lalu setelah kau pergi meninggalkanku bersama HunHan, kau berharap aku bersikap seperti apa, Oh Sehun?"

Kali ini kedua mata Luhan menatap lekat – lekat kearah Sehun. Mata rusa yang biasanya cantik berbinar kini terlihat menyedihkan dan sembab. Sorot dua mata Luhan bagaikan mata pedang tajam yang menusuk tepat ke jantungnya.

"Aku semakin ketakutan, kau tau? Aku kehilanganmu… Aku sendirian, dan kau pergi begitu saja. Aku takut pada segalanya di dunia ini. Aku membesarkan anak – anak kita dengan semua rasa takutku dan demi Tuhan, Oh Sehun… dimana kau saat aku membutuhkanmu waktu itu? Kenapa kau benar – benar pergi, kenapa kau benar – benar menghilang? Kenapa kau tidak datang lagi? Aku menunggumu, aku berharap kau datang lagi, aku berharap kau kembali lagi pada kami dan semuanya akan baik – baik saja. Tapi kau tetap tak kembali… Lalu apa yang bisa aku lakukan kecuali jadi penakut dan seperti ini, Oh Sehun?! …."

Sejenak hening, entah sejak kapan pipi Sehun kini sudah basah akibat air mata yang jatuh dari mata sipitnya sendiri. Ya, Sehun merasa pantas mendapatkan semua kebencian ini dari Luhan. Dia lah yang meninggalkan wanita itu dengan semua beban kehidupan yang tak ringan, sendirian. Sehun kembali menyalahkan dirinya sendiri untuk semua itu. Lagi – lagi kata seandainya memenuhi kepala Sehun.

Seandainya saja dulu dia bisa lebih bersabar, seandianya saja dulu dia bisa lebih tenang, seandainya dulu dia bisa lebih mengalah, seandainya dulu dia mampu mendengarkan Luhan, seandainya dulu dia mampu berpikir lebih dewasa, seandainya dulu dia bisa lebih kuat dan berani untuk menghadapi kehidupannya, seandainya dulu dia adalah dirinya yang sekarang. Yah… pengecut bernama Oh Sehun itu punya banyak seandainya yang selalu dia sesalkan. Bahkan penyesalan itu sudah mengalir di urat nadinya.

Sehun masih menatap Luhan, kedua mata sembab mereka bertemu. Selama ini dimata Sehun, Luhan adalah seorang wanita yang kuat dan mandiri. Dulu Sehun bahkan bisa jatuh cinta pada Luhan karena wanita itu memiliki sikap dewasa, tangguh dan cerdas, tentu sifat itu juga satu paket dengan keigoisan dan emosi Luhan yang cepat membludak, ah satu lagi… sikap Luhan si pencemburu. Ya, Luhan di usia remajanya adalah gadis yang selalu mendominasi segalanya. Dan Sehun di usia remaja sangat menyukai gadis yang seperti itu.

Tapi hari ini, Sehun baru mengenal sisi lain dari Luhan. Kini seorang Luhan di usianya yang ke 26 di mata Sehun adalah sosok yang begitu lemah, rapuh dan penuh ketakutan. Dan itu membuat apa yang dirasakan Sehun terhadap Luhan selama ini berubah. Jika ulu sampai beberapa saat tadi Sehun mencintai Luhan, maka mulai detik ini, mulai saat Sehun melihat bagaimana Luhan saat ini, hatinya berubah menjadi semakin mencintai wanita itu. Rasa cinta Sehun pada wanita yang telah melahirkan darah dagingnya ke dunia itu menjadi semakin kuat, bahkan keinginan Sehun untuk menjaga, melindungi dan menjadi tumpuan wanita itu semakin bertumbuh hingga ingin sekali rasanya dia merebut kembali Luhan dari Yifan dan menjadikan wanita dihadapannya itu sebagai miliknya lagi dan untuk selamanya.

Sehun perlahan memajukan tubuhnya, satu tangannya dia gunakan untuk merengkuh Luhan ke dalam dekapan dada bidangnya yang polos. Luhan sendiri tak sama sekali menolak pelukan Sehun. Wanita itu bahkan langsung memeluk mantan suaminya dengan erat, seakan mereka sudah berjuta – juta tahun tak bertemu. Kali ini Luhan memeluk Sehun dengan penuh kerinduan, tubuhnya seakan mengadu pada Sehun. Melalui bahasa tubuhnya, Luhan menyampaikan semua keresahan, ketakutan, kerinduan, kelemahan yang dia miliki.

Begitu pula Sehun, Sehun memeluk wanita kesayangannya itu dapan dekapan hangat penuh perlindungan. Pelukan Sehun kali ini seakan ingin meyakinkan Luhan bahwa dia akan melindunginya, dia bisa menjadi pelindung yang kuat untuk sisi rapuhnya. Dan itu memang benar – benar ingin disampaikan Sehun.

Malam ini, ditengah hujan dan badai yang bergemuruh di luar sana. Mereka berdua sama – sama menyerah. Luhan menyerah atas semua keegoisan dan ketakutannya dan Sehun pun menyerah atas sikap pengecutnya selama ini.

"Jangan pergi lagi Oh Sehun… jangan tinggalkan aku lagi… aku tidak bisa berdiri sendiri tanpamu… aku sangat membutuhkanmu, Oh Sehun… aku benar – benar membutuhkanmu…"

Luhan berkata dalam tangisannya yang pecah, pelukannya di tubuh Sehun menguat. Dia menumpahkan semua perasaannnya saat ini, Luhan akhirnya mengatakan apa yang dia sembunyikan selama ini. Dia tidak bisa hidup tannpa Sehun.

"Aku tidak akan pergi lagi, Lu… Aku tidak akan pergi lagi… Aku milikmu, aku milik kalian… aku kembali untukmu, untuk anak – anak kita… maafkan aku Lu… maafkan aku…"

Tubuh Luhan yang bergetar mulai tenang beberapa saat setelah mendengar apa yang Sehun janjikan. Pelukan erat Luhan pun ikut melemas dan ajaibnya, ketakutan dalam diri Luhan sedikit demi sedikit memudar.

"Aku mencintaimu Oh Sehun…"

Luhan menggantung kalimatnya, kalimat yang membuat tubuh Sehun menegang.

"Sejak awal hingga detik ini… aku sangat mencintaimu."

.

.

.

E.N.D
(Ex-Husband Next Door)

.

.

.

Chapter 4: Let's Not Fall in Love, Again!

"Kau tidak akan pernah melupakan cinta pertamamu, karena cinta pertama adalah cinta tanpa syarat yang sesungguhnya! Kau hanya benar - benar jatuh cinta pada cinta pertamamu"

.

.

.

"Mereka sudah tidur?"

Chanyeol mengintip dari balik pintu dan mata bulatnya nampak penasaran.

"Baru saja" jawab Baekhyun dengan suara sangat lembut agar tidak membangunkan sikembar yang kini terbarig nyeyak di tempat tidur sang ayah.

Chanyeol masuk ke kamar Sehun dan menatap satu persatu putra sahabatnya itu. Senyum lembut menghiasi wajah tampan dengan kening sexy –menurut Baekhyun– itu, dan saat tersenyum sebuah dimple kecil tercipta di pipi tirusnya. Chanyeol bahkan terlihat sama imutnya dengan HunHan kecil jika pria itu tersenyum –lagi lagi menurut Baekhyun–.

"Boom! Kau memperhatikanku ya…"

Chanyeol tiba – tiba mengalihkan pandangannya dari HunHan ke Baekhyun dan itu berhasil membuat pipi Baekhyun memerah.

"Ti… tidak… euwh… untuk apa aku memperhatikanmu?" Baekhyun mencoba bersikap cool, namun pipinya yang memerah meruntuhkan itu semua.

Kegugupan dan gaya sok cool itu terlihat manis di mata Chanyeol, pria itu pun refleks mencubit pipi Baekhyun sangking gemasnya lalu dia kembali tersenyum, senyum yang sukses membuat gadis imut dihadapannya ini juga ikut tersenyum.

DEG

Jantung Chanyeol mulai berdegup kencang, seketika semuanya melambat dan senyum Baekhyun di hadapannya seperti sebuah gerakan slow motion di film. Sejenak kepala Chanyeol rasanya kosong, matanya hanya mampu memandang Baekhyun dan itu membuat dadanya berdegup semakin kencang. Bahkan rasanya kini Chanyeol kekurangan oksigen, entahlah, tiba – tiba dia merasa susah bernapas dan ada kupu – kupu menggelitik di perutnya.

Pria itu terpesona pada Baekhyun, senyum dan pipi merona Baekhyun terutama. Namun sedetik kemudian, sesosok bernama akal sehat menyadarkan pria bermarga Park itu.

"Dia adalah calon istri sahabatmu, Park Chanyeol… dia adalah calon istrinya Oh Sehun! Apa kau gila?"

Suara dikepala Chanyeol menyadarkan pria itu bersamaan dengan Baekhyun yang memanggil namanya.

"Kau baik – baik saja?" tanya gadis itu

"Ah ya… aku baik… sangat baik…" jawab Chanyeol yang langsung jadi gugup

"Ayo kita keluar, sembari menunggu hujan reda kau mau secangkir kopi atau coklat panas?" tawar Baekhyun

"Kopi… aku mau kopi…"

Baekhyun tersenyum lagi, dan dada Chanyeol berdenyut lagi. Entah kenapa setiap ada tawaran minum dari Baekhyun pria itu selalu menjawab kopi sebagai pilihannya. Padahal kenyataannya, Chanyeol tidak suka minum kopi.

"HunHan sangat menyenangkan, mustahil ada orang yang tidak menyukai mereka" ujar Chanyeol sesaat setelah Baekhyun duduk di hadapannya.

Baekhyun dan Chanyeol kini berada di ruang santai, menikmati kopi dan gemericik suara hujan.

"Menurutmu begitu?" Baekhyun menimpali pernyataan Chanyeol dengan pertanyaan.

"Ya… tentu saja, Jaehun sangat pintar dan dia juga manis sementara Jaehan begitu energic dan penuh semangat. Sehun dan Luhan beruntung punya mereka…"

Senyum Chanyeol yang lembar seketika mengerut ketika dia sadar bahwa lawan bicaranya adalah Baekhyun, calon istri Sehun.

"Dan kau juga" tambah Chanyeol segera.

"Ya… mereka memang terlihat lucu dan menyenangkan, tapi sebenarnya mereka itu sangat menyedihkan" Baekhyun menyesap kopinya sendiri setelah mengatakan itu, meninggalkan tanda tanya besar di kepala Chanyeol

"Maksudnya?"

"Coba kau perhatikan kepribadian mereka, mereka adalah anak – anak yang terluka. Mereka tumbuh di lingkungan yang berat, lingkungan yang memaksa mereka menjadi anak – anak yang tidak biasa."

Baekhyun melipat bibirnya kemudian, sementara Chanyeol mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.

"Oh Jaehun, usianya baru 7 tahun… ya, sebentar lagi 8 tahun. Tapi tidakkah kau merasa dia sedikit lebih dewasa daripada usianya?" tanya Baekhyun lembut, Chanyeol langsung berpikir, pria itu mengingat kembali memorinya ketika dia bersama Jaehun.

Betul kata Baekhyun, Jaehun terlalu dewasa untuk anak seusianya. Anak itu juga terkadang bisa jadi lebih dewasa dari pada orang dewasa itu sendiri.

"Dan Oh Jaehan… dia hanya beberapa menit lebih muda dari Jaehun. Tapi dia memiliki sifat yang berbanding jauh dari kakaknya. Jaehan adalah seorang pencari perhatian. Dia bersikap lebih hiperaktif daripada anak seusianya, itu karena dia ingin dilihat."

Chanyeol kembali berpikir setelah Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, dan apa yang dikatakan Baekhyun benar. Jaehan memang lebih aktif dari Jaehun, tapi terkadang anak itu aktifnya keterlaluan. Seperti mencari – cari perhatian orang disekitarnya.

"Anak – anak yang orang tuanya berpisah memang akan mengalami masa – masa lebih sulit daripada anak – anak lain pada umumnya. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih ekstrim dan tidak seperti biasanya. Apalagi HunHan kecil, orang tua mereka bercerai di usia mereka yang masih sangat muda. Mereka terlanjur tumbuh dalam kondisi yang tidak sempurna, aku tidak menyalahkan Sehun atau Luhan. Tapi tetap saja, HunHan adalah korban dari apa yang terjadi pada orang tuanya"

Baekhyun menghela napas panjang dan menyamankan posisi duduknya. Disisi lain mata Chanyeol seperti terbuka. Selama ini dia hanya melihat HunHan seperti anak lain yang lucu dan pintar, terlepas dari orang tua mereka yang berpisah, HunHan selalu terlihat baik – baik saja. Tapi setelah dia mendengar apa yang Baekhyun katakan tentang HunHan barusan, pria tampan itu langsung merasa iba. Tidak sepantasnya anak – anak secerdas dan selucu itu menghadapi semua yang mereka dapatkan di usia yang sangat muda.

"Aku… tidak begitu mengerti tentang anak – anak, tapi setelah memikirkan apa yang kau bilang… aku setuju padamu, Baekhyun-ssi"

"Aku sudah menganggap HunHan sebagai anakku sendiri, aku sangat menyayangi mereka. Mereka adalah darah daging dari sahabatku sendiri. Tapi tetap saja, seberapapun aku menyayangi mereka, posisiku di mata dan hati mereka tidak akan pernah lebih dari sosok seorang Byun seonsaeng. Sama halnya dengan Yifan, dia mungkin menyayangi HunHan seperti aku. Dan seberapapun dekatnya anak – anak dengan dia, itu tetap tidak mengubah cara pandang mereka terhadap Yifan. Selamanya mereka akan menganggap Yifan sebagai teman ibunya yang kebetulan adalah dokter yang mengobati Jaehun"

Chanyeol diam, dia mencoba memikirkan semua kalimat Baekhyun barusan. Pemikiran – pemikiran Baekhyun terhadap HunHan kali ini membuat Chanyeol semakin kagum pada sosok gadis mungil di hadapannya itu.

"Selamanya Ayah mereka hanyalah Oh Sehun, dan selamanya ibu mereka hanyalah Luhan. Meskipun aku menikah dengan Sehun atau Luhan menikah dengan Yifan. Dan jika itu benar terjadi maka… aku akan punya andil untuk menciptakan tekanan baru pada perasaan dan pikiran mereka. Aku akan jadi sosok asing yang datang dan menjadi ibu baru bagi mereka. Mereka tidak pernah mengharapkan itu. Kehidupan mereka hanya akan semakin semu dan … mereka akan semakin tertekan"

"Lalu apa yang bisa kita perbuat untuk mencegah itu semua?"

"Hanya ada satu cara, Sehun dan Luhan harus bersatu kembali dan membangun dari awal rumah tangga mereka"

Pernyataan terakhir Baekhyun membuat Chanyeol mengerutkan kening. Mana ada seorang calon istri yang menginginkan kekasihnya untuk kembali bersatu dengan sang mantan? Chanyeol sedikit horror mendengarnya.

"Tapi itu tidak mungkin…"

Chanyeol menghembuskan napas beratnya, entah karena kecewa atau lega.

"Sehun dan Luhan sudah punya kehidupan sendiri sekarang. Sehun bersamaku dan Luhan bersama Yifan. Aku jadi merasa amat sangat jahat"

Baekhyun tersenyum getir menatap cangkir kopinya yang sisa setengah.

"Kalau kau tidak mau jadi orang jahat, ya jangan menikah dengan Sehun…"

Baekhyun terlihat kaget dengan apa yang Chanyeol katakan barusan, gadis itu tersenyum makin getir lalu berkata

"Tidak bisa. Aku tidak bisa menghentikan pernikahan kami."

"Baekhyun-ah… maaf jika aku lancang, setauku… Sehun sangat mencintai Luhan… apa kau tau itu?"

Chanyeol bertanya dengan ekspresi yang sangat tidak nyaman, tapi pria itu memang selalu tetap pada pendiriannya, dia akan bertanya jika dia penasaran. Chanyeol tidak akan pernah mau menebar prasangka. Apalagi prasangka buruk.

"Aku tau… aku tau betul jika Sehun sangat mencintai Luhan" balas Baekhyun enteng.

Mata Chanyeol membulat, pria itu makin tidak mengerti dan penasaran dengan sosok Baekhyun sebenarnya.

"Luhan adalah cinta pertamanya Sehun. Dan cinta pertama itu susah untuk dilupakan. Bukan karena Luhan cantik atau Luhan baik atau Luhan adalah ibu dari anak – anaknya, tapi… cinta pertama selalu punya alasan untuk dicintai"

Chanyeol takjub, bagaimana Baekhyun bisa dengan entengnya menceritakan itu semua. Padahal kan itu adalah kisah cinta suaminya dan sang mantan istri.

"Kau tau apa alasan itu?"

Chanyeol menggeleng cepat

"Kau tidak akan pernah melupakan cinta pertamamu, karena cinta pertama adalah cinta tanpa syarat yang sesungguhnya! Kau hanya benar - benar jatuh cinta pada cinta pertamamu"

.

.

Luhan duduk di meja Billiard sambil memeluk satu stick Billiard di tangannya. Wanita cantik itu nampak sangat manis di dalam kemeja Sehun, apalagi setelah rambutnya mengering. Luhan sangat manis.

TAK

Sehun menyodok satu bola putih di atas meja yang memantul dan mendorong masuk angka 3 ke dalam lubang.

"Uaaaah…" Luhan menepuk tangannya dan tersenyum melihat permainan Sehun.

"Jangan bertepuk tangan, sebentar lagi kau kalah…" ujar Sehun degan seringai sombong di wajahnya

"Kau mau menyerang bola yang mana?" Luhan turun dari pinggiran meja billiard dan menatap meja hijau itu dengan seksama. Hanya tinggal bola dengan angka 9 dan 7 yang belum masuk.

"Tujuh" jawab Sehun mantap.

Luhan kemudian berjalan menuju ke lubang yang paling dekat dengan bola berangka tujuh. Wanita itu menunduk dan memperhatikan letak bolanya, "Ini tidak akan masuk… bola Sembilan saja" Luhan nampak meremehkan lelaki di hadapannya

"Jangan meremehkanku, itu akan ku buat masuk"

"Jika tidak masuk?"

"Jika tidak masuk artinya itu giliranmu"

"Tidak mau, aku mau kau yang memasukkan semua bolanya"

"Lalu?"

"Lalu setelah itu tidak ada bola lagi di meja ini"

"Jadi kau sudah tidak sabar, mmm?"

Sehun kembali menyeringai kearah Luhan, dan seringaian itu dibalas senyum manis dan mata sayu Luhan. Hanya ada lampu diatas meja billiard yang menyala, seluruh ruangan kantor itu dibiarkan gelap gulita. Sinar terang lampu itu malah membuat Luhan nampak seperti bidadari surga bagi Sehun.

"Aku ngantuk sekali, Oh Sehun…"

"ahahahhaa… baiklah… kita tidur…"

Beberapa saat yang lalu, setelah suasana menjadi lebih baik dan tangis mereka berdua mengering. Sehun dan Luhan memang memutuskan untuk tidur, tapi Sofa yang ada semuanya terlalu sempit untuk mereka. Bahkan untuk Luhan yang tubuhnya bisa dibilang lebih kecil dari Sehun, rasanya tidak muat. Lalu daripada tubuh mereka sakit semua, bukankah lebih baik mencari tempat yang lebih nyaman untuk tidur?

Meja billard milik Chanyeol jawabannya. Seandainya udara tidak sedingin ini, Lantaipun tak masalah untuk ditiduri, tapi tetap saja, Sehun tidak yakin lantai di kantornya sendiri dalam keadaan bersih atau bagaiamana. Namun dasarnya memang sudah jahil, Sehun dan Luhan malah sepakat bertanding billiard untuk membersihkan bola bola yang ada di atas meja itu. Yang menang akan dapat jas Sehun sebagai selimut.

"Tapi masih sisa dua bola lagi, sayang kalau permainannya dihentikan"

"Jadi kau mau aku meneruskannya? Kau tidak lelah?"

"Tidak… bukankah aku yang meninginkan ini dari awal?"

Ya, permainan itu memang ide Luhan dan sialnya Sehun setuju.

"Baiklah… kita lanjutkan" Sehun langsung menunduk dan memasang posisi untuk menyodok bola nomor tujuh, tepat di hadapan Luhan.

TAK

"Aaaah…" / "Eunggggh…."

Sehun dan Luhan sama – sama melenguh ketika bola nomor tujuh malah memantul.

"Sudah ku bilangkan, itu tidak akan masuk" Luhan mempoutkan bibirnya dan dibalas senyum oleh Sehun

"Giliranmu Lu.."

"Andwae… aku sudah kehilangan tenaga.."

"Jadi kau mengaku kalah?"

Luhan melipat bibirnya sambil berpikir, "tidak…" ujarnya.

"Bantu aku melakukan ini, Hun-ah"

Sehun mengangkat satu alisnya guna mempertanyakan maksud Luhan

"Bantu aku seperti kau mengajariku main billiard dulu"

Sehun terlihat sedikit berpikir namun akhirnya dia menyetujui juga permintaan Luhan. Sehun kemudian mengambil posisi di belakang Luhan dan menggenggam tangan Luhan yang memegang stick. Luhan kemudian merundukkan tubuhnya, memposisikan stick itu untuk menyodok bola putih. Dibelakang Luhan, Sehun ikut merundukkan tubuhnya. Punggung Luhan kini menempel dengan dada Sehun, bahkan posisi pinggul Luhan sedikit bersentuhan dengan area pribadi Sehun.

"Kau mau menyerang yang mana?" tanya Sehun tepat ditelinga Luhan, entah disengaja atau tidak, pria itu berbisik dan membuat Luhan merasakan getaran hasrat di sekujur tubuhnya. Suara dan hembusan napas Sehun yang menerpa tengkuk dan telinganya menggetarkan sekujur tubuh Luhan.

"Sembilanhh.." Luhan pun menjawab dengan suara yang sedikit rendah, jangan lupakan tambahan desis dibelakangnya.

"Nomor tujuh lebih berpeluang… serang saja itu.."

Tubuh Luhan sedikit bergerak dan tanpa sengaja pinggul wanita itu menggesek sesuatu didalam celana Sehun yang makin terasa sesak.

"Aaah?"

Sial, kenapa Luhan harus bertanya dengan suara seambigu itu. Sehun mencoba menahan degupan abstrak di dadanya lalu berusaha keras untuk tidak mengerang.

"Tujuhh, Lu…"

"Kau suka sekali menyerang nomor tujuh"

"Karena itu nomor kesukaanmu…"

"Lucky number 7, jadi kau suka menyerangku?"

Luhan memalingkan wajahnya ke sisi kanan dan,

CHUP

Bibirya tepat menyentuh bibir Sehun, cerdiknya pria itu tak mau buang kesempatan untuk mencuri sebuah kecupan dari Luhan.

CHUP

Nampaknya Luhan tidak mau kalah, wanita itu meraih lagi bibir tipis Sehun dan mengecupnya. Mereka berdua akhirnya saling mengecup dan lama kelamaan kecupan itu berubah menjadi lumatan – lumatan panas yang basah. Luhan membalikkan tubuhnya menghadap Sehun tanpa melepaskan pagutan bibir mereka. Dengan sigap Sehun pun meraih pinggang Luhan dan mengangkat tubuh ramping itu ke sisi meja billiard.

Luhan kini terduduk di pinggir meja, kedua tangannya dia angkat dan lingkarkan di tengkuk Sehun seiring dengan lidah Sehun yang menjulur ke dalam rongga mulut Luhan, saling menyesap dan menjilat bibir satu sama lain. Tangan Sehun, menuruti naluri kelakilakiannya untuk meraba punggung mulus luhan hingga ke tengkuk. Sentuhan lembut tangan Sehun membuat tubuh Luhan semakin meremang, hingga secara refleks Luhan membuka kedua kakinya dan melingkarkan kaki jenjang itu di pinggul Sehun.

Bugh

Pelukan kaki Luhan di pinggulnya membuat kaki Sehun juga refleks maju satu langkah ke depan, mempertemukan monster buas didalam celananya dengan pangkal paha Luhan.

"Ngghhh" Luhan meloloskan satu lenguhan yang mengundang Sehun untuk berbuat lebih. Tangan kanan Sehun beralih ke area depan tubuh Luhan dan merabanya.

Damn! Luhan tidak memakai bra. Sehun baru tau itu, rupanya kemeja Sehun yang Luhan pakai berhasil menyembunyikan payudara sintal Luhan yang kini Sehun remas seirama dengan ciuman mereka yang semakin panas dan jemari Luhan yang mulai mengacak acak rambut Sehun.

Payudara Luhan mengencang, kedua tangan Sehun pun akhirnya beralih ke depan dan meremas kedua organ tubuh Luhan paling favorit bagi Sehun itu secara bersamaan. Tubuh Luhan mulai bereasi, cengkraman kakinya semakin mengerat dan itu makin mendekatkan kejantanan Sehun dengan area kewanitaan Luhan, menempelkan penisnya semakin dekat ke belahan vagina Luhan yang juga tak tertutupi oleh apapun. Selama ini Luhan ternyata hanya menenakan kemeja Sehun saja.

Sehun melepaskan tautan bibirnya pada bibir Luhan, berpindah ke ceruk Leher putih dan wangi wanita itu. Sehun perlahan mulai menjilati daun telinga Luhan kemudian menyesapnya seperti mengemut permen lemon kesukaannya.

"Nggghhhh" Luhan melenguh lagi, lenguhan itu berhasil membuat Sehun menginginkan yang lebih dan lebih lagi dari tubuh mantan istrinya itu.

Tangan Luhan merosot turun ke dada Sehun, jemari lentiknya meraba dada bidang Sehun. Luhan dapat merasakan bahwa tubuh Sehun yang dia jamah sekarang berbeda dengan tubuh Sehun yang dia jamah dulu. Dulu Sehun hanyalah seorang pria kurus jangkung dengan bahu yang lebar. Tapi sekarang, Sehun memiliki otot dada dan perut yang mengagumkan. Setidaknya itu berhasil membuat Luhan semakin haus akan belaian Sehun.

Perlahan Sehun mengangkat tubuh Luhan dan membaringkannya diatas meja billiard. Tak satu pun dari Sehun maupun Luhan peduli akan tiga bola yang masih menyebar di beberapa titik meja itu.

SREEK

Sehun merobek kemejanya yang Luhan kenakan, dalam situasi seperti ini membuka kancing baju satu persatu bukanlah pilihan yang tepat.

"aaaahh…"

Luhan kembali mendesah begitu sehun meraup putting susunya dan memainkan putting itu dengan lidahnya. Kenikmatan mulai menjalar disekujur tubuh Luhan. Wanita itu mengangkat dadanya ingin merasakan kenikmatan itu lebih banyak lagi. Kedua kaki Luhan terbuka lebar dan tertekuk diatas meja, membuat kejantanan Sehun dengan leluasa menghimpit area prifatnya.

Tangan Sehun terus bekerja, tangan kanannya meremas payudara kanan Luhan sementara lidahnya masih terus bermain dengan payudara kiri wanita itu. Satu tangan kanan Sehun turun ke bawah, sehun menempelkan jari tangahnya diantara dua bibir vagina Luhan.

Basah. Luhan sudah basah. Perlahan jemari Sehun mulai bermain di bibir vagina Luhan, dimulai dengan gerakan lembut membentuk pola lingkaran sambil sesekali menekannya di beberapa area tertentu. Semakin lama gerakan tangan Sehun semakin cepat, tubuh Luhan juga bereaksi akibat pergerakan Sehun disana. Lenguhan dan desahan dari bibir manis Luhan memecah kesunyian bagai alunan merdu yang memacu libido Sehun untuk memberi kenikmatan yang lebih dan lebih.

Srieet. Set.

Diluar kontrol Sehun, Luhan ternyata sudah berhasil membuka pengait dan resleting celana kain Sehun. Bahkan kini jari lentik itu mulai mengusap – usap kejantanannya.

"Enggghhhh…"

Kali ini Sehun yang melenguh, kejantanannya dicengkarm, dielus dan diremas lembut oleh jari jemari Luhan. Semakin lama Sehun semakin tegang, hasrat untuk segera menggagahi wanita dibawahnya ini semakin tak terbendung.

"Heii… kauuhh… nakalh.. Luuuh…"

Sehun sedikit terengah karena kenikmatan yang Luhan berikan.

"Kauuh duluanh… yang memulaaiihnya… Hun-aaaah.." Luhan menimpali Sehun dengan kalimat pendek penuh desahan yang sayang sekali malah membuat Sehun samakin ingin untuk menerobos lubang kenikmatan yang ada diantara paha Luhan.

"Aaaakhhh…"

Luhan memekik saat satu jari Sehun masuk ke dalam Luhan, dibawah sana sudah cukup basah.

"Hunaah…"

Luhan memanggil nama Sehun lagi dengan desahan manis bibirnya.

"Kauh sukaah?" Sehun bertanya dan Luhan menganggukkan kepala untuk menjawabnya.

Mata Luhan terpejam, menikmati jari Sehun yang bergerak didalam sana. Sehun akui, dinding vagina Luhan terasa sempit dan menggigit. Saraf – saraf dijarinya terus mengirimkan sinyal kepada kejantanannya yang sudah mengeras, Sehun merindukan remasan dan himpitan Luhan yang basah dang hangat didalam sana.

"Sehuuuuunnnhhhh….."

Luhan kembali mendesahkan nama pria yang dicintainya itu ketika Sehun memasukkan satu lagi jarinya ke dalam.

Chup. Chup. Chup. Chup.

Sehun mengecup dada, leher hingga bibir manis Luhan lalu melumatnya perlahan dengan tujuan mengalihkan rasa nyeri Luhan disana, tentu saja berhasil karena bibir Sehun adalah candu bagi Luhan.

Luhan tak mau kalah, tangannya dengan sigap menurunkan celana Sehun hingga kepaha kemudian menggenggam kejantanan Sehun yang sudah siap untuk dipuaskan. Perlahan Luhan memijat dan mengelus pangkal batang kejantanan Sehun, memberikan sensasi panas dan nikmat sekaligus.

"Luuuh…." Sehun melenguh ditengah ciumannya,

Menerima reaksi yang baik dari Sehun, Luhan pun akhirnya mulai menaik turunkan tangannya secara perlahan. Tangan Luhan saja terasa begitu nikmat bagi batang kejantanan Sehun, apalagi jika dia memasukkannya ke dalam sana dan merasakan remasan dinding vagina hangat Luhan.

"Aaaah… Sehunhhh… aaaah…"

Tubuh ramping dengan dada sintal Luhan mulai menggelinjang, kedua payu dara Luhan mengeras seiring dengan desahan wanita itu. Ya… Luhan hampir mencapai klimaksnya yang pertama. Tak mau membuat Luhan tersiksa, Sehun mempercepat gerakan jarinya didalam sana, memancing gairah wanita itu untuk segera mengeluarkan kenikmatannya.

"Oooohhh… Seeeh… Huuunnnhhh…"

"Yeah baby…"

"Akuuhh.. meh… Akuhh mencintaimuuuhhh… aaah…"

Dua jari Sehun didalam sana terasa hangat, Luhan sudah keluar… Napas Luhan naik dan turun, merasakan sisa kenikmatan yang diberikan Sehun lewat permainan jarinya yang lihai.

"Katakan…"

Sehun berbisik kepada Luhan, "katakana sekali lagi…"

Luhan mencoba menatap mata Sehun yang menatapnya tajam tepat diatasnya, wanita itu terlebih dahulu menstabilkan napasnya yang masih tersengal.

"Aku mencintaimu, Oh Sehun…" ucap Luhan akhirnya

"Sekali lagi…"

Luhan tersenyum lalu menakupkan kedua tangannya di kedua rahang tegas Sehun, "Aku mencintaimu… Oh Sehun"

Sehun tersenyum begitu Luhan mengatakannya juga dengan Senyuman. Sehun menindih tubuh Luhan dan memeluk wanita itu penuh dengan kasih sayang.

Chup. Chup. Chup. Chup.

Sehun menciumi setiap wajah Luhan yang dia rindukan. Dan wanita itu menunggu… menunggu apa yang Sehun lakukan selanjutnya.

Sehun mengangkat tubuhnya dari Luhan, kakinya merangkak turun dan berdiri menginjak lantai yang dingin.

Sriet…

Sehun menaikan lagi celana kainnya dan meresletingnya kembali. Luhan mengertukan kening karena dia tidak mengerti. Sehun kemudian menutup kemeja yang Luhan kenakan dan merebahkan jasnya diatas tubuh Luhan seperti selimut.

Sehun kemudian merapikan rambut Luhan yang kembali lepek karena keringat,

Chup

Sekali lagi Sehun mengecup kening Luhan, cukup lama kali ini sampai akhirnya Sehun berkata "Aku juga sangaaaat mencintaimu, Luhan"

Sehun tersenyum, namun Luhan masih tidak mengerti. "Aku pikir kita akan melakukannya.." ujar Luhan dengan suara parau

Dengan senyum lembutnya Sehun mengusap pipi Luhan dan menjawab, "Tidak… aku tidak akan melakukan apapun yang lebih jauh dari ini"

"Kenapa Hun-ah…?"

"Karena aku mencintaimu…."

Sejenak hening, Luhan dan Sehun terdiam dengan mata saling menatap. Luhan sudah mulai berpikir macam – macam seperti Sehun sudah tidak menginginkannya lagi, atau Sehun hanya bermain – main dengannya. Dan Sehun tau Luhan masih tidak mengerti apa maksudnya, akhirnya pria itu menjelaskan.

"Seorang laki – laki tidak mungkin merusak wanitanya jika dia benar – benar mencintai wanita itu…. Aku sudah pernah merusakmu dulu, dan aku tidak mau itu terulang. Saat ini aku benar – benar mencintaimu, dan aku ingin menjagamu, memastikan kau aman, tenang dan bahagia bersamaku. Bukannya aku tidak mau melakukannya, aku mau… bahkan aku sangat menginginkanmu. Tapi aku tidak mau mengulang sejarah buruk kita. Mulai saat ini aku akan mencintaimu dengan baik, memperlakukanmu selayaknya wanita yang akan aku lindungi dengan seluruh jiwa ragaku. Karena aku, benar – benar mencintaimu, Luhan."

Mata rusa Luhan berair mendengar apa yang Sehun katakan. Kata – kata yang mampu menusuk hatinya dengan kebahagiaan. Membuat dirinya merasa aman dan terlindungi. Rasa aman dan terlindungi yang tidak pernah Luhan dapatkan sebelumnya dari seorang Oh Sehun yang dulu.

"Kau tidurlah… aku akan menyelesaikan urusanku di toilet"

"Nggahahahaha… kau yakin tidak butuh bantuan?" goda Luhan

"Tidak sayang, terimakasih… tidurlah… selamat malam,"

"mmm…"

.

.

"Baju itu terlihat lebih baik jika kau yang mengenakannya dariapada Sehun"

Baekhyun mengomentari piama Sehun yang Chanyeol kenakan saat ini. Rupanya badai bergerak dari Incheon ke Seoul. Larangan bepergian telah dikirimkan oleh pemerintah untuk wilayah Seoul dan sekitarnya. Dan karena ini sudah larut malam, Chanyeol pun memutuskan untuk menginap di rumah itu.

"Aku memang lebih keren dari Oh Sehun" ujar Chanyeol dengan penuh kebanggaan.

"Kau tidurlah di kamarku, aku akan tidur bersama anak – anak. Sayang sekali kami punya kamar tamu tapi kamar itu malah terisi penuh oleh buku – bukuku"

Baekhyun tersenyum imut sambil mengusap poninya, mempersilahkan Chanyeol untuk masuk ke dalam kamar yang dia gunakan. Kamar yang bahkan Sehun sekalipun tak pernah masuk ke dalamnya, ah, pernah sekali, itupun karena lampu kamar itu yang harus diganti.

"Okay… kalau begitu… selaman malam Baekhyun-ssi"

"Baekhyun! Panggil saja Baekhyun, jangan terlalu formal"

"Oh Baiklah, Baekhyun… good night!"

"Good night, Chanyeol"

Chanyeol masuk ke dalam kamar Baekhyun, kamar bernuansa soft orange segar berpadu dengan warna cream. Sangat manis seperti Baekhyun. Chanyeol mengabsen setiap sudut kamar itu, dan senyum tak henti hentinya merekah dari wajahnya.

Chanyeol mengambil satu foto Baekhyun saat masih kecil, dan Chanyeol tak perlu menemui para normal untuk mencari tau siapa bocah sipit di sebelah Baekhyun. Itu sudah pasti Oh Sehun.

"Kalian terlihat sangat manis berdua" ucap Chanyeol dengan hati yang terasa berat.

"Tidak… tidak boleh… kau tidak boleh menyukai Baekhyun… sadarlah Park Chanyeol! Dari miliaran wanita di muka bumi ini, kenapa kau malah menyukai dia… tidak, ini tidak boleh terjadi… Baekhyun akan menikah dengan Sehun. Ya…"

Chanyeol mendoktrin pikirannya sendiri, mencoba menghilangkan naluri ketertarikan alami dalam dirinya.

Ktalk!

Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Chanyeol segera melihat pesan itu, pesan dari Baekhyun.

From: Byun Baekhyun

Ada lampu kunang – kunang di kamarku,
Jika kau tidak bisa tidur dengan cahaya,
kau boleh mematikannya, cabut saja kabel yang
berwarna putih di balik meja nakas.
Dan… maaf kalau tempat tidurku terlalu sempit
jika kau merasa tidak nyaman atau membutuhkan sesuatu
katakana saja padaku,
Selamat malam, Chanyeol

Chanyeol selesai membaca pesan itu kemudian langsung merebahkan tubuh janggkungnya di atas tempat tidur ukuran single beraroma citrus itu.

"Aaaakh… bahkan dia sangat baik dan perhatian. Dimana lagi aku bisa menemukan gadis seperti ini…. Kenapa gadis baik seperti Baekhyun bertemu denganku disaat dia sudah ada yang memiliki… aaaarggghhh… aku bisa gila…"

Chanyeol menendang nendang udara sangking kesalnya lalu mematikan lampu utama dan… lampu kunang – kungang yang Baekhyun maksud tadi langsung menyala.

"Eomma… bahkan gadis ini sangat imut… aaah… eothokhae eomma… aku menyukainyaaa…."

.

.

Luhan terbangun di sebuah kamar bernuansa coklat yang cukup rapi. Selimut disebelahnya sudah terkuak seperti seseorang yang tidur disana semalam telah lebih dulu bangun darinya. Seingat Luhan kemarin dia tertidur di meja billiard di kantor Sehun. Tapi… ini kamar siapa? Dimana dia sekarang?

Luhan baru saja mau beranjak dari tempat tidur dan wanita itu sadar jika kini dia mengenakan piama berwarna biru malam yang lagi – lagi kebesaran di tubuhnya. Luhan mengerutkan kening sambil menyebar pandangannya ke seluruh isi kamar sampai mata rusanya tertuju pada satu foto berbingkai cukup besar yang terpasang diatas TV Plasma 42 Inch di kamar itu.

Foto itu adalah foto yang dia dan Sehun ambil ketika HunHan berulang tahun yang pertama. Mereka berempat sama – sama mengenakan Hanbok dan itu terlihat sangat imut. Sehun duduk memangku Jaehan dan Luhan disebelahnya memangku Jaehun. Sebuah pemandangan indah yang membuat hati Luhan disapa kehangatan dipagi hari.

"Hei Lu… kau sudah bangun?"

Sehun muncul dari balik sebuah pintu, pria itu mengunakan kaos dan celana panjang santai yang terlihat bagus di tubuhnya.

"Sehun-ah…"

Luhan berlari ke arah Sehun lalu

GREB

Dia memeluk mantan suaminya.

"Selamat pagi sayang… aku baru saja mencuci dan mengeringkan baju kita semalam" uajr Sehun setelah mengecup singkat pucuk kepala Luhan.

"Ini dimana?"

"Ah… ini apartemenku, aku tinggal disini semenjak…. Yah… aku pergi… dari… rumah waktu itu"

Luhan tersenyum, wanita itu memandang lagi foto yang terpajang di kamar itu, "Aku suka foto itu" sambutnya

"Ya… aku juga suka, makanya aku memajangnya disana. Setiap saat aku rindu kalian.. aku melihat foto itu lagi"

"Sehunku memang manis sekali,"

Sehun terkekeh pelan lalu mengusap lembut kepala Luhan, "Bagaimana kalau kau mandi dulu, biar aku siapkan sarapan untukmu…"

"Sehun-ah… berhentilah bersikap sangat manis, kau membuatku merasa sangat beruntung dicintai olehmu jika kau terus seperti ini."

"Syukurlah jika kau merasa seperti itu. Jja… itu kamar mandinya, silahkan mandi Nyonya Oh…"

"Kau bilang apa?"

"Mandi!"

"Bukan… kau menyebutku apa?"

"Nyonya Oh, ada yang salah?"

"Oh Sehun! Jangan buat aku lupa jika kita berdua sudah bercerai!"

"Hehehehehehe…. Kemarin juga kau sudah lupa, iya kan?"

"OH SEHUN!"

Luhan pura – pura marah dengan mendelikkan matanya, namun Sehun tak peduli, dia malah membalikkan tubuh Luhan mengarah ke kamar mandi lalu berkata,

"Nyonya Oh… mandi!"

Persis dengan nada yang sama ketika Sehun meminta HunHan kecil untuk mandi.

.

Telur mata sapi, sosis, roti panggang dan tumis wortel dan buncis serta susu coklat, terhidang cantik di meja makan minimalis apartemen itu. Luhan tersenyum sangat bahagia melihat itu semua, dia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Rasanya dia seperti menjadi tokoh wanita beruntung dalam dongeng yang sering dia bacakan untuk HunHan. Bahkan wanita itu merasakan betapa romantisnya lelaki yang 5 tahun lalu menceraikannya itu, Morning Breakfast by Oh Sehun.

"Kau terlihat segar sayang, silakan duduk"

Sehun menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Luhan duduk, Luhan sudah rapi kembali dengan mengenakan baju yang dia kenakan semalam.

"Apa itu?" tanya Luhan ketika Sehun membuka sebuah kertas berwarna biru dengan banyak garis dan angka di dalamnya

"Blue print salah satu Vila yang aku kerjakan. Kemarin investronya memaksa rapat pagi ini, tapi tadi pagi mereka membatalkan rapat itu ke jadwal semula. Lusa sore." Jawab Sehun santai.

"Hmmm… aku seorang arsitek, aku sering membuatkan rumah untuk orang lain. Tapi aku belum pernah membuat rumahku sendiri" kata Sehun lagi

"Kalau begitu sama denganku, aku seorang desainer, aku sering membuatkan baju pengantin untuk orang lain, tapi aku sendiri belum pernah memakai baju pengantin" Luhan tersenyum tipis setelah itu

Ya, begitulah kenyataannya. Dulu Sehun dan Luhan memang menikah, tetapi tak ada altar, tak ada bunga, tak ada gaun pengantin dan tak ada undangan yang datang. Sehun dan Luhan hanya menikah di catatan sipil. Mereka hanya menikah diatas kertas.

Luhan meneguk susu coklat di gelasnya dan kembali menatap Sehun yang serius dengan urusannya. Luhan tersenyum, Sehun terlihat sangat tampan jika dia sedang serius seperti itu. Alis tebalnya yang tegas, bibir tipis dan hidung mancung yang pas dengan rahangnya. Sehun sangat tampan.

"Anak – anak sudah mandi dan sekarang mereka sedang belajar membuat Hanwoo burger bersama Baekhyun"

"Ah… anak – anak suka burger, dan juga Baekhyun"

Sehun mengangkat wajahnya dari Blue Print lalu menatap Luhan dengan penuh pertanyaan

"Ya… anak – anak sangat menyukai Baekhyun. Baekhyun sangat pintar bergaul dengan anak – anak, aku akui dia mampu menjaga HunHan dengan baik… hanya saja aku sedikit cemburu dan takut padanya. Cemburu jika HunHan akan lebih menyukai Baekhyun daripada aku, dan takut jika Baekhyun hanya baik untuk kedok semata"

Sehun menarik satu sudut bibirnya keatas. Pria itu menggulung kembali Blue printnya dan menyamankan posisi duduknya kembali.

"Baekhyun tidak seperti itu. Dia adalah gadis yang sangat baik. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Dan anak itu sangat menyayangi HunHan, bukan karena HunHan adalah anak dari sahabatnya tetapi… Baekhyun tau rasanya ada di posisi HunHan"

Sehun menggantung kalimatnya sementara Luhan nampak penasaran.

"Orang tua Baekhyun bercerai saat kami berusia 11 tahun. Dan semenjak itu Baekhyun tinggal berpindah antara Ayah dan Ibunya. Namun setahun kemudian, masing – masing dari Ayah dan Ibunya menikah lagi, sialnya tak satupun dari mereka mau mengajaknya. Byun Baekhyun adalah gadis baik yang nasibnya sangat malang, bahkan kedua orang tuanya benar – benar tidak peduli padanya. Sampai akhirnya kakek Baekhyun mengambil Baekhyun dan mengajaknya pergi jauh dari Korea. Memulai hidup baru, kakek Baekhyun memang sangat menyaynginya. Kakek Baekhyun adalah kakek yang sangat baik dan bijaksana. Nampaknya sifat itu diwariskannya kepada Baekhyun. Hanya kakeknya yang dia punya di dunia ini. Dan sekarang beliau sakit keras. Baekhyun bolak – balik rumah dan rumah sakit setiap dua hari sekali. Kakek Baekhyun kini hidup hanya ditopang oleh alat – alat. Ayah Baekhyun juga beberapa kali menjenguknya, namun mereka seperti orang asing. Baekhyun juga tumbuh tanpa keluarga yang utuh, tapi dia bilang… itu sangat berat"

Luhan menundukkan kepalanya, entahlah dia harus merasa kasihan atau bagaimana pada Baekhyun. Namun disisi lain, Luhan merindukan keluarganya sendiri. Merindukan ayah, ibu dan kakak – kakaknya. 8 tahun sudah dia diusir dari rumah sebagai hukuman atas perbuatannya dulu. Dan tak sekalipun Luhan menjalani hari tanpa merindukan mereka.

"Byun Baekhyun… apa kau benar – benar akan menikahinya?"

Sehun mengangkat wajahnya dan menatap Luhan dengan pandangan datar.

"Apa kau juga akan tetap menikah dengan Yifan?"

Aaah… Yifan. Luhan bahkan sudah melupakan nama itu selama beberapa jam terakhir. Baru saja dia merasakan bunga – bunga layu dalam dirinya kembali berkembang tapi, mendengar nama Yifan disebutkan, entah kenapa Luhan merasa kembali bimbang.

Yifan sudah terlalu baik untuk Luhan selama ini, pria itu bahkan sudah berusaha sekuat tenanganya untuk menjadi yang terbaik baginya dan juga HunHan. Bagaimana bisa Luhan mencampakan orang sebaik Yifan begitu saja.

"Makan sarapannya dulu, baru setelah itu kita kembali ke Seoul dan memikirkannya"

.

.

Jaehan kini sedang membantu Baekhyun untuk mencuci sayuran dan mengupas kentang dengan alat kupas yang aman untuk anak – anak. Sementara Baekhyun dan Jaehun membuat patty isian berger berudua di meja makan. Awalnya Jaehun dan Baekhyun membicarakan tentang cara membentuk patty yang baik, namun tak lama kemudian, satu pertanyaan membuat Baekhyun sedikit kaget

"Kenapa Byun Seonsaeng bisa menyukai appa kami?" tanya Jaehun

Baekhyun berpikir sejenak untuk menemukan jawaban, akhirnya gadis itu menjawab singkat pertanyaan Jaehun.

"Karena appa kalian sangat baik dan tampan"

"Mmmm… apakah aku juga baik dan tampan seperti Appa?"

"Tentu saja sayang, kau adalah anak baik dan tampan… sama seperti appamu"

"Kalau begitu…. Bisakah Byun seonsaeng tidak jadi menikah dengan appa? Biar Appa dengan Eomma saja… dan… jika Byun seonsaeng menyukai pria yang baik dan tampan… aku janji jika aku dewasa nanti… aku akan menikahi Byun seonsaeng."

Bibir Baekhyun mengatup. Apa yang Jaehun katakana barusan membuatnya terkejut sekaligus gemas. Jaehun benar – benar sosok malaikat kecil. Anak itu bahkan memikirkan orang tuanya.

"Benarkah? Benarkah Jaehun mau menikah dengan Byun seonsaeng?" Baekhyun meyakinkan Jaehun

"Ng… asal Byun seonsaeng tidak menikah dengan appa…."

Baekhyun hanya tersenyum sebagai jawaban, gadis itu tak memberikan janji apapun pada mata rusa yang menatapnya saat ini.

TING TONG!

Bell rumah berbunyi dan itu membuat HunHan seketika melompat dari posisi masing – masing dan meninggalkan pekerjaan mereka menuju interkom.

"Itu Appa!" ujar Jaehun.

"HunHan-ah… bukakan pintu untuk Appa, Palli!" Baekhyun tersenyum dari tempat duduknya dan sedetik kemudian HunHan sudah berlari menuju pagar.

.

.

Yifan berdiri di depan rumah Luhan, lelaki itu tau betul password rumah Luhan, tapi setelah dia cek Luhan dan anak – anak tidak di rumah, Yifan sampai pada kesimpulan bahwa mereka pasti pergi ke suatu tempat. Sialnya Ponsel Luhan tidak bisa dihubungi, maka dari itu Yifan merasa lebih baik jika dia menunggu saja disana.

Dan sejam kemudian, Yifan melihat sebuah mobil berwarna putih yang Yifan tau itu adalah mobil Sehun, terparkir dengan baik di depan rumah Sehun. Mata Yifan membulat begitu melihat Luhan turun dari mobil itu, terlebih lagi setelah dia sadar bahwa Luhan masih menggunakan baju yang sama dengan semalam.

"Yifan… kau… disini?" Luhan menyapa Yifan dengan senyum canggung. Beda dengan Sehun yang terlihat tak peduli dan masuk ke dalam rumah.

"Ya… aku disini." Jawab Yifan masih dengan senyum yang coba dia pertahankan

Sementara Sehun mencoba memasukkan password pagar rumahnya sendiri tapi selalu gagal, akhirnya dia memencet bell. Beberapa saat menunggu akhirnya pintu pagar terbuka.

Ceklek

"APPA!" Jaehan berlari dan menubruk tubuh Sehun begitu pagar terbuka diikuti dengan kembarannya yang protes dibelakang,

"Kenapa Appa baru pulang.. kemarin malam appa kemana? Eomma juga tidak pulang"

"Hei…. Jangan bilang kalian mengganti password pintu pagarnya ya…" Sehun mempoutkan bibirnya lucu tapi kedua kembar itu hanya tertawa

"Tidak… tadi pagi Chanyeol Ajhusi yang ganti katanya biar Appa tidak bisa masuk dan pura – pura sudah pulang dari kemarin" Jaehan terkikik geli sementara Jaehun menegok ke rumah sebelah.

Yifan masih bisa mendengar celoteh si kembar dari posisinya.

"Eoh! EOMMA! Jaehan-ah… eomma juga sudah pulang"

Jaehun baru saja mau menghampiri Luhan namun langkahnya terhenti ketika dia melihat Yifan ada di samping ibunya.

"Eomma pulang dengan paman dokter atau dengan appa?" tanya anak itu menatap takut pada Yifan

"Eomma pulang… dengan Appa sayang…" jawab Luhan lembut.

"Jadi Eomma dan Appa semalam keluar bersama? Jadi itu misi rahasia Appa dengan Chanyeol Ajhusi?" Jaehun terlihat bahagia setelah mendengar kenyataannya dan berjalan ke arah sang ibu.

Luhan tidak berani menatap Yifan, dan pria itu juga sama sekali tidak bergeming sampai Sehun datang dengan Jaehan di gendongannya.

"Jaehan-ah… eomma dan appa… semalam pergi bersama" Jaehun mengadukan brita baik itu pada sang adik

"Benarkah?" si bungsu dengan cerianya mengkonfirmasi berita baik itu

"Iya sayang…" jawab Sehun akhirnya.

"Oh, hai paman dokter.. kenapa pagi – pagi paman dokter ada disini?" Jaehan menyapa Yifan dengan senyum sok jagoannya

"Paman ingin bertemu dengan dua jagoan kecil kesayangan paman…"

"Memangnya paman dokter tidak kerja? Kenapa setiap pagi paman datang ke rumah kami?" Jaehan dengan tatapan soknya kembali menginterogasi

"Paman akan bekerja setelah bertemu kalian" Yifan menyematkan senyum imutnya pada anak – anak

"Ng…. bisa aku permisi sebentar… aku mau ganti baju" Luhan menyela pembicaraan itu karena jujur saja dia sudah amat sangat tidak nyaman dengan bajunya sendiri.

"Cepat ganti baju eomma lalu datang ke rumah appa… aku, hyung dan Byun Seonsaeng membuat Hanwoo burger!" Jaehan mengundang sang ibu untuk ke rumah sebelah

"Baiklah sayang… Yifan-ah… aku permisi dulu ya…"

"Oh… okay…"

Yifan tau, Luhan mencoba untuk menghindarinya sementara Sehun kali ini menatapnya dengan sorot mata penuh kemenangan.

"Semalam kalian berdua ada dimana?" tanya Yifan pada Sehun, sementara anak – anak masih menggelayuti tubuh ayahnya, minta diajak main.

"Aku dan Luhan menginap di apartemenku di Incehon. Kami bertemu di jalan dan tidak bisa kembali ke Seoul karena badai" jawab Sehun jujur

"Kenapa kau ada di Incehon?" Yifan menginterogasi lagi

"Ah?... Hyung Aku yakin kau tidak lupa jika kantorku ada di Incheon" balas Sehun masih dengan senyum penuh kemenangannya

Yifan hanya diam, dia tidak mau menunjukkan amarahnya di depan HunHan. Pria yang lebih tinggi dari Sehun itu akhirnya tersenyum dan memasang wajah bersahabatnya kembali.

"Ne… kalau begitu aku permisi, selamat pagi… bye Jagoan"

"Bye paman dokteeerrr"

.

.

Selama beberapa hari ini, Luhan sering sekali menghindari Yifan. Ajakan bertemu Yifan selalu Luhan abaikan, bahkan saat Yifan berkunjung ke rumahpun Luhan terkesan lebih menghindar. Yifan selalu dibiarkan main dengan anak – anak sementara wanita itu sibuk dengan desainnya.

Hari ini Sehun dan Luhan diundang ke sekolah untuk pertemuan guru, orang tua dan satu psikolog anak. Beberapa hari lalu anak – anak di kelas HunHan mengikuti psiko test minat dan bakat. Luhan dan Sehun berangkat bersama pagi ini, tentu dengan HunHan dan juga Baekhyun yang ikut dalam satu mobil. Di dalam mobil HunHan nampak begitu akrab dengan Baekhyun, mereka menyanyi, main tebakan dan melihat pemandangan sekeliling seperti anak sebaya. Luhan yang duduk di sebelah Sehun menatap Baekhyun dengan tatapan iri, namun ketika Sehun menangkap pandangan iri itu Sehun langsung mengalihkan pandangan Luhan.

"Dia memang belajar untuk jadi gurunya anak – anak Lu…" gumam Sehun

Luhan hanya tersenyum lalu meraih tangan Sehun di pipinya, "Arraseo" ucap wanita itu.

.

Pukul 10 lewat 7 menit, Sehun dan Luhan dipanggil masuk ke dalam ruang pertemuan untuk diskusi langsung dengan psikolog yang mengambil test minat bakat itu.

"Annyeonghaseo, Aku Kim Junmyeon… senang bertemu anda Tuan dan Nyonya Oh,"

Seorang psikiater dengan wajah teduh menyapa mereka. Sehun dan Luhan duduk di depan sang psikolog, senyum psikolog itu bahkan seperti menghipnotis sehun dan Luhan untuk ikut tersenyum.

"Jadi… Oh Jaehun dan Oh Jaehan adalah putra kembar anda berdua?" tanya Junmyeon membuka percakapan

"Iya… mereka adalah putra kami" aku Luhan

"Kalian beruntung memiliki dua putra yang sangat cerdas… kita awali dari Oh Jaehun"

Junmyeon mengambil kertas berlabel Jaehun dan menyerahkannya pada Sehun dan Luhan.

"Jaehun memiliki keterbatasan pada kesehatannya, tapi dari test potensi akademiknya… anak ini menunjukkan prestasi kecerdasan yang luar biasa. Terutama dalam hal hitung menghitung dan angka. Dari segi keterampilannya, anak ini punya bakat luar biasa dalam hal menggambar dan juga menganalisa ruang. Anak ini memiliki bakat ayahnya… iya kan tuan Oh… anda adalah arsitek terkenal itu bukan?"

"Ne… terimakasih" Sehun mengucapkannya sambil malu – malu

"Anak ini lebih baik dikembangkan dengan mengikuti tambahan pada kelas matematika, kemampuan dasarnya menunjukkan kalau dia mampu untuk memahami angka lebih baik dari anak biasanya dan mengurangi kelas dengan bidang ilmu yang menggunakan banyak huruf, maksudku…. Jaehun tidak tertarik dengan bacaan… anak itu akan tertekan jika disuruh membaca… dia tipe anak visual… lalu… kita pindah ke… Oh Jaehan.."

"Mm… maaf, kalau boleh tau… apa maksudnya dengan ini…" Luhan menunjuk tulisan tangan di kolom catatan.

"Untuk satu itu kita akan membahasnya nanti… kita bicarakan tentang hasil test Jaehan terlebih dahulu… Oh Jaehan…. Jaehan adalah tipe kinestetik, dia pandai menggunakan tubuhnya dan tidak bisa berhenti bergerak. Anak ini menunjukkan prestasi yang baik di bidang olah raga, terutama karena fisiknya tentu lebih baik dari kembarannya. Dan dari segi keterampilannya, anak ini punya bakat yang cukup unik…. Ide – denya cukup brilian karena dia punya imajinasi yang tinggi. Dia berbakat dalam bercerita dan membuat orang lain percaya pada kata – katanya. Dan… bakat Jaehan lebih baik dikembangkan dengan mengikuti tambahan pada kelas olahraga dan bahasa, kemampuan dasarnya menunjukkan kalau dia mampu untuk bersinar pada kedua aspek tersebut"

Luhan dan Sehun keduanya mengangguk tanda mengerti apa yang harus mereka lakukan. Mereka berdua akan memberikan pelajaran tambahan yang berbeda untuk anak itu, matematika dan menggambar untuk Jaehun, bahasa dan olahraga untuk Jaehan.

"Boleh aku tanya sesuatu pada anda, Tuan dan Nyonya Oh?"

"Ya… silahkan" jawab Luhan dengan senyum terkembang diwajahnya.

"Apa… Sesutu terjadi pada hubungan anda berdua?"

Pertanyaan itu sontak membuat Luhan dan Sehun sedikit canggung. Namun tak lama kemudian, Sehun angkat bicara

"Sebenarnya… kami berdua sudah lama bercerai…"

"Aaah… begitu…"

"Maaf, tapi sebenarnya ada apa?"

Luhan mulai khawatir, ketakutannya mulai menguasainya. Sehun yang menangkap sinyal ketakutan itu langsung menggenggam erat tangan Luhan, menyadarkan wanita itu jika dia ada disana.

"Ada sedikit kelainan pada kedua putra anda… ada beberapa hal yang bisa saya lihat dari penelitian tentang mereka, pertama Oh Jaehun, putra sulung anda memiliki kematangan emosi yang melebihi usianya yang seharusnya. Usianya 7 tahun 11 bulan tetapi kematangan emosinya mencapai di usia 23 tahun. Ini pertanda yang buruk. Anak – anak perlu memiliki tumbuh kembang yang sesuai dengan usianya. Anak berpikir dewasa itu baik, tetapi jika kematangan emosinya sampai jauh melampaui usia seharusnya maka… itu adalah masalah yang perlu diperhatikan."

Junmyeon memberi sedikit senyum untuk menenangkan Sehun dan Luhan, dari ekspresi mereka Junmyeon sudah bisa mengerti bahwa mereka berdua sangat terkejut dengan ini semua.

"Dan untuk Oh Jaehan… dia terlihat ceria dan aktif, kematangan emosinya juga cukup baik untuk anak seusianya. Namun, Jaehan memiliki kelainan pada kepribadiannya yang sangat menghawatirkan. Jaehan… memiliki kehausan akan perhatian yang lebih dari anak – anak lainnya. Jaehan akan cenderung terus menerus mencari perhatian dengan melakukan apapun yang dia anggap bisa memancing perhatian kalian. Entah itu dengan cara positif seperti prestasi yang bagus dan keceriaannya, tapi saya rasa Jaehan juga sering melakukan banyak hal yang negative untuk mendapatkan perhatian kalian. Seperti menghilangkan barang – barangnya, mengganggu kakaknya sendiri dan… sengaja melukai dirinya sendiri."

Junmyeon menghela napas berat untuk meredakan ketegangan lalu dia melanjutkan, "Luka di siku kiri Jaehan… itu didapatkan bukan karena dia jatuh bermain bola, dia sengaja jatuh dari pagar sekolah untuk mendapatkan luka itu. Dia bahkan sudah berbohong untuk menutupinya kan…"

Tangan Luhan kembali bergetar, apa yang dia lakukan pada kedua anaknya. Apakah itu artinya dia telah salah membesarkan HunHan? Mata Luhan sudah mulai berkaca – kaca dan Sehun juga tidak berbeda, dia kembali menyalahkan dirinya untuk yang entah keberapa kalinya.

"Lalu… apa yang sebaiknya kami lakukan?" Sehun bertanya dengan nada yang juga bergetar

"Rehabilitasi kesehatan mental belum terlambat untuk mereka"

.

.

Sehun dan Luhan tidak banyak bicara hari ini, bahkan ketika Jaehun dan Jaehan bertanya banyak hal pada mereka, mereka hanya mampu menjawab seadanya.

"Apa mereka sudah tidur?"

Sehun masuk ke dalam kamar anak – anak dan mendapati Luhan sedang merapikan selimut Jaehan

"Ya, sudah" jawab wanita itu singkat

"Kita perlu bicara Lu…"

"Ya… kita perlu bicara"

.

Sehun dan Luhan duduk berhadapan di meja makan. 30 menit sudah terlewati dan mereka hanya diam tanpa kata. Hanya suara hujan di luar yang memenuhi ruangan.

"Aku… aku harus memberitahu Yifan soal ini, dia pasti bisa membantu.."

"Lu! Bukankah kita sudah sepakat untuk menyelesaikan semua masalah keluarga kita tanpa Yifan… dan Baekhyun?"

Sehun menegaskan suaranya, pria tampan itu selalu kesal tiap mendengar nama Yifan disebutkan.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Kita ikuti saran dari psikolog tadi, kita lakukan rehabilitasi itu untuk anak – anak"

"Anak – anakku tidak gila, Sehun!"

"Tidak.. memang tidak Lu… tapi mereka membutuhkan itu!"

Luhan diam, wanita itu masih tidak bisa menerima jika HunHan membutuhkan bantuan seorang psikolog.

"Memangnya jika Yifan tau, kau pikir dia bisa membantu apa?"

"Dia akan mencarikan jalan untuk kami.."

"Kami…? KAMI?!"

Lagi Sehun merasa disisihkan oleh Luhan, Sehun tak habis pikir kali ini.

"Kau bilang kau percaya padaku Lu, kau bilang kau mencintaiku dan akan menghadapi semua ini bersama.. tapi kenapa lagi – lagi kau meragukanku?"

Bibir Luhan terbuka, ya dia sendiri mepertanyakannya. Ada apa dengan dirinya, kenapa dia begitu cepat berubah?

"Kau juga bilang kau mencintaiku, Oh Sehun… dan beginilah aku…" tegas Luhan.

Sejenak hening dan suara hujan kembali memenuhi ruangan hingga Luhan berkata,

"Kalau begitu jangan mencintai aku lagi, jika kau memang tidak bisa menerima sikapku yang seperti ini"

.

.

.

.

To be continue

.

.

.

Chapter 5: I Need You

"Kembali pada mantanmu memang terkesan seperti membaca buku yang sama. Tapi membaca buku yang sama untuk kedua kalinya membuatmu lebih mengerti akan makna yang ada di dalamnya, daripada hanya membacanya sekali saja."

.

.

.

.

.

.

Annyeonghaseyo! Yo! Yo! Yo!

Rencana Update marathon dirusak oleh dua orang fanboy yang ngirimin VN "Noona Saranghae" ke line. Semalem mau update ini, eh lupa… sampe bangun trus di sekolah liat ada yang ngechat nanyain update marathonnya. T_T

.

So… gimana dengan chapter ini? Ada adegan half ena ena… jujur aku suka deg degan sendiri kalo bikin adegan begitu. Bikin ini aja kemaren aku nyari inspirasinya kemana mana… kayaknya perlu dikirimin VN ambigu dulu biar bisa bagus bikinnya.

.

Di chap ini HunHan gede emang udah ngaku sama perasaan masing – masing. Tapi mereka juga masih ngambang sama kelangsungan hidup mereka. Ada perasaan Yifan dan Bekhyun yang dipertaruhkan. Dan apa itu bagian terakhirnya… Luhan minta Sehun untuk jangan cinta lagi sama dia? Aaaa….

.

Buat yang penasaran apa yang Yifan lakukan pada mereka. Itu akan direfeal di chap 6. Chap terakhir.
So… pantengin aja… masih berencana update marathon kok…kakakakakaka

.

Terimakasih buat yang udah follow, favorite dan review cerita ini. Semoga chapter ini gak mengecewakan kalian.

.

sincerely

-xiugarbaby-