"Mmn.. " Jungkook memejamkan mata.

Kim Taehyung menciumnya!

Sepanjang yang pemuda Jeon ingat, ini adalah ciuman pertamanya dengan sang kekasih. Ciuman pertama Jeon Jungkook!

Dan ciuman itu dilakukan di depan Kim Seokjin yang memekik tertahan dan Kim Namjoon yang memijit pelipis kepalanya gara-gara kelakuan tak terduga sang adik.

.

"Sweet Lie"

Disclaimer: Each name mentioned in this fiction is owned by the rightful person who belongs to God, themselves, and their family. I own nothing except the unrequited-love feelings toward Kim Taehyung.

This story belongs to me

Genre: Romance (I'm no good at deciding genre, pardon)

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Other casts: Kim Namjoon x Kim Seokjin

Park Jimin x Min Yoongi

Jung Hoseok

Rated: T

Warning: ga jelas, typo dan sebagainya.

Ambigu

I love Taehyung.

.

.

Part IV: The Loved One(s)

Hari Senin setelah akhir pekan di rumah keluarga Kim, Jeon Jungkook datang mepet sekali sebelum dosen masuk ke kelasnya. Sengaja. Ia bahkan sempat adu argumen dengan Kim Taehyung melalui sambungan telefon pukul enam tadi. Taehyung ngotot ingin Jungkook berangkat bersamanya yang harus masuk kelas jam pertama, yaitu jam setengah delapan pagi, sementara Jungkook baru masuk kelas pukul sembilan. Minggu-minggu sebelumnya, pemuda bergigi kelinci itu pasti meng-iya-kan dengan senang hati. Menunggu di kantin atau perpustakaan sendirian sebelum masuk kelas bukan menjadi masalah asalkan paginya dia bisa memandang dengan puas wajah tampan Taehyung yang sedang mengemudi sambil ngobrol santai dengannya.

Tapi hari ini berbeda.

Sangat berbeda.

Alasannya adalah karena sebuah foto yang diunggahnya semalam. Demi apapun, foto itu benar-benar Jungkook sendiri yang meng-upload, bukan pemilik resmi akun kim_taemvan apalagi pemilik akun chimothiejimyang mengubah username-nya menjadi j_minswag setelah tahu akun instagran senior Min adalah min_swaggi. Jungkook berani bersumpah, dia hanya ingin mengunggah fotonya bersama 'teman baru', yaitu Seokjin hyung. Tapi ternyata fotonya menjadi viral di kalangan kampus terutama di jurusan Sastra.

Padahal itu hanya foto sederhana; foto selca dirinya dengan Kim Seokjin di sebelah kirinya. Keduanya tengah ber-duck face, setengah tersenyum sehingga wajah mereka terlihat sangat manis. Foto tersebut benar-benar akan menjadi sangat biasa saja kalau tidak ada lengan Kim Taehyung yang memeluk leher Jungkook dari belakang, kepalanya bertumpu pada pundak kanan kekasihnya sambil tersenyum lebar. Sementara di sebelah Jin ada Namjoon yang terlihat dari samping, menyandarkan kepalanya di pundak sang istri sambil memejamkan mata.

Seingatnya, caption yang diberikan Jungkook pun biasa saja. 'Happy, happy weekend fellas. Gn.'

Kekasihnya pun memberikan respon yang 'wajar', untuk kategori seorang Kim Taehyung.

Kim_taemvan: Tbh, I was about to eat those bun cheeks of yours, but I'm sure jin_dan_joon will gimme death glare and burn my cars in front of my eyes. Kkk~ Nite baby, sleep tight

Jung_biscuit: omo kim_taemvan … is that Jin hyung's acc?

Detik berikutnya, akun itu mem-follow Jungkook, lalu tanpa diminta, Jungkook mem-follow back. Setelahnya, Jungkook ketiduran. Tanpa ia ketahui, percakapan di kolom komentarnya terus berlanjut.

Kim_taemvan: Jin hyung dan suaminya. Apa kita juga harus membuat akun bersama jung_biscuit ?

Jin_dan_joon: go to bed kim_taemvan. You have to attend my class in the 1st period.

Kim_taemvan: Namjoon hyung jin_dan_joon ? Kenapa harus kau yang pegang akunnya di saat-saat begini?

Jin_dan_joon: late = minus for Ur score kim_taemvan

Kim_taemvan: get it! I'm sleepin' ! jin_dan_joon

Dan setelahnya, banyak komentar yang masuk, banyak likes, bahkan shares, dan jumlah pengikut jung_biscuit bertambah.

Jungkook berani bersumpah dia hanya membaca beberapa komentar dari sekian banyak yang ditinggalkan di fotonya, namun itu sudah cukup membuatnya yakin kalau dia telah membuat dirinya sendiri semakin 'terkenal'. dan pemuda Jeon itu sungguh tidak menyukainya.

J_minswag:OMG apa itu Dosen Kim? Kenapa bisa berfoto dengan jung_biscuit ? siapa yang di sebelah Jungkook ?

Min_swaggi: Dosen Kim itu kakaknya kim_taemvan yg di sebelah Jungkook itu istrinya Namjoon hyung j_minswag

Ibarat foto yang diunggah Jungkook adalah sebuah senapan siap tembak, penjelasan Min Yoongi menjadi trigger dari viral-nya foto yang diunggah Jungkook. Bahkan si pemilik akun sampai pusing membaca komentar di pagi harinya.

Jungkook langsung menghubungi Taehyung dan memintanya untuk tidak menjemput Jungkook pagi ini. Alasannya karena Jeon muda tidak mau menjadi pusat perhatian sendirian saat kekasihnya ada kelas. Awalnya Tae menolak tegas, tapi saat dia mendengar suara Bunny manisnya yang mulai bergetar, pemuda yang dua tahun lebih tua itu langsung setuju. Bagaimanapun dia paham bahwa Jungkook belum terbisa menjadi pusat perhatian.

Sebenarnya bukan itu alasan Jungkook tidak mau dijemput Taehyung hari ini.

Dosen Kim sudah menikaaah?

Omo… pantas saja Taehyung sering tidur di kelas manapun seenaknya. Ternyata dia punya 'koneksi'

Taehyung mendapat gen pintar darinya

Jungkook si mhs teladan semakin akrab dengan dosen. Perfect!

Mereka manis sekali

Aaa… patah hati

Jgn bilang Kim Taehyung selalu dapat bocoran soal.

Dan sekarang Jungkook juga bisa dapat

Dan masih banyak komentar serupa. Jungkook sebenarnya tidak terlalu peduli kepada komentar yang terarah padanya. Tapi untuk komentar yang tertuju untuk kekasihnya, Jungkook tidak bisa untuk tidak peduli. Apalagi beberapa komentar menuduh itu… dia takut bertemu Taehyung. Dia takut Taehyung akan marah dan menyalahkannya karena dia dengan seenaknya mengunggah foto itu tanpa izin. Apalagi nama dosen Kim ikut terbawa-bawa. Bagaimana kalau kakak kandung Taehyung itu membencinya?

Jeon Jungkook benar-benar takut.

"Kook, kau ingin berada di kelas sampai perang dunia ketiga sekesai?"

Jeon muda mengerjab-ngerjabkan matanya, menyadari bahwa kelasnya selesai tanpa sedikitpun materi yang masuk ke kepalanya. Jungkook bahkan tidak tahu sedang mengikuti mata kuliah apa.

"Hei!" Jimin kembali memanggilnya, kali ini sambil menyenggol lengan Jungkook yang langsung mendelik kesal ke arahnya.

"Aku mendengarmu, Jimin."

Yang disebut namanya hanya mendengus sambil mengamati temannya yang memasukkan modul dan pulpen ke dalam tas. Setelahnya mereka berjalan bersama ke kantin. Kalau diamati lagi, sebenarnya Park Jimin yang lebih banyak mengoceh tentang mata kuliah yang baru saja mereka ikuti, sedangkan Jungkook menanggapi seperlunya sambil menunduk menghindari tatapan siapapun di sepangjang lorong menuju kantin.

"Chim hyung…" gumam yang lebih muda memotong ucapan Jimin. Seakan mengerti kalau sahabatnya ingin mengatakan sesuatu, Jimin langsung diam sambil memperhatikan.

"Umm.. apa Taetae hyung akan marah?"

Jimin mengeryitkan dahi. Dia benar-benar tidak paham dengan apa yang Jungkook katakan. Seingatnya, Taehyung dan Yoongi memang selalu menunggu mereka di kantin saat tidak ada kuliah, begitupun sebaliknya. Dan kalaupun mereka terlambat datang ke kantin, yang biasanya akan ngomel adalah Min Yoongi, bukan Kim Taehyung.

"Kenapa Tae sunbae harus marah?"

Jungkook menarik nafas panjang, ia sempat melirik Jimin sebelum kembali fokus ke ujung sepatunya. "Kau baca komentar di foto yang ku-upload semalam? Beberapa menuduh Taetae hyung menadapat bocoran soal dari dosen Kim."

Pemuda Park terbahak tepat saat mereka memasuki area kantin, sukses membuat beberapa mahasiswa menatap mereka berdua heran. Jimin tidak peduli, dia malah mengacak gemas rambut kecoklatan Jungkook hingga berantakan.

"Mana mungkin dia marah gara-gara hal seperti itu." ia kembali tertawa, kali ini berhenti mengacak surai pemuda yang lebih muda darinya saat radarnya menangkap kecemburuan dari pemuda bersurai abu-silver di ujung kantin. "Percaya padaku, dia senang saat kau mengunggah fotomu bersamanya dan keluarganya."

"Tapi komentar itu…" kalimat Jungkook menggantung ragu. Dia benar-benar tidak mau mendapat nilai buruk di mata kekasihnya karena Jungkook benar-benar sudah sangat sangat sangat menyukai, bahkan mencintai Kim Taehyung.

"Aku akan menraktir makan siangmu selama satu tahun kalau sampai dia marah." bisiknya beberapa langkah sebelum sampai di meja yang ditempati kedua seniornya. Mau tidak mau, nada bicara Park muda yang terdengar percaya diri membuat Jungkook menyunggingkan senyum lega.

"Kookie Bunny…" ucap Taehyung begitu pemuda bersurai 'mangkok' kecoklatan duduk di samping senior Kim. Lengannya luwes memeluk pinggang yang lebih muda, lalu mengecup singkat pipi menggemaskan Jungkook, membuatnya merona malu.

"Hyungie!" pekik Jungkook tertahan, mengingatkan bahwa mereka berada di tempat umum.

Jimin mendengus kesal sementara Yoongi memutar bola matanya.

"Kau pernah dengar kalau virus bisa menyebar dengan sangat cepat, Tae?"

Taehyung tampak bingung, namun tetap mengangguk menanggapi pemuda berkulit susu yang menatapnya serius. Yoongi memajukan tubuhnya, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri seolah memastikan tidak akan ada yang mendengarnya bicara selain dua junior dan satu alien di hadapannya.

Ketiga lainnya yang menempati meja itu ikut memajukan wajahnya, menatap Yoongi tak kalah serius.

"Kebiasaanmu mencium dan memeluk Jungkook itu…"

Taehyung mulai mengeryitkan dahinya. Apakah itu bisa menularkan virus berbahaya? Tapi Taehyung saja tidak memiliki penyakit aneh-aneh, bagaimana ada virus yang dia tularkan?

"Kebiasaan itu bisa menyebar seperti virus. Bagaimana kalau aku dan Jimin tertular dan ingin mencium Jungkook?"

Jimin terdengar menahan tawanya, sementara Taehyung menatapnya horor.

"Bagaimana kalau seisi kampus tertular dan ingin memeluk Jungkook dan mencium pipinya?" Yoongi masih memasang wajah seriusnya. "Kau harus mengucapkan selamat tinggal pada pipi gembul kekasihmu dan wajahnya yang imut itu."

Jimin berdehem keras saat Yoongi menyelesaikan kalimatnya, ia lalu berucap. "Tae sunbae… kurasa aku mulai tertular virus."

Tangan pemuda Park terulur menyentuh beberapa helai rambut Jungkook, Taehyung langsung menepisnya lalu memeluk protektif sang kekasih.

Min Yoongi terbahak, diikuti tawa Park Jimin yang pecah memenuhi kantin. Mereka seolah tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang menatap keheranan.

"Brengsek! Jauh-jauh dari kekasihku!" Taehyung menggeram. Bukannya takut Jimin malah semakin menjadi dengan berusaha mencubit pipi maknae mereka yang masih bengong kebingungan.

"H -hyung, ada apa? Kenapa tertawa?" Jeon muda memasang wajah blank dengan sempurna, matanya mengerjab kosong.

"Astaga, Kookie… kubilang berhenti mencuri keahlianku memasang blank expression."

Dan tawa menggelegar semakin keras, kali ini diikuti erangan protes Jungkook yang kedua pipinya ditarik gemas oleh senior Kim.

"Mereka hanya bercanda, sayang." Taehyung menguselkan pipinya ke pipi Jeon muda. "Katanya mereka, juga seisi kampus bisa ikut-ikutan melakukan ini kalau terus-terusan melihatku melakukannya."

Taehyung mengecup lembut pelipis Jungkook, membuatnya mengeryitkan dahi sambil menatap Taehyung dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Tapi aku maunya dicium Taetae hyung… aku tidak mau yang lain."

Ucapan polos Jeon Jungkook sukses membuat Jimin bersiul jahil, Yoongi berdehem keras, sementara Kim Taehyung bersemu, namun langsung memeluk erat yang paling muda untuk menyembunyikan pipinya yang menunjukkan warna kemerahan yang kelewat samar.

Baru Jimin ingin membuka mulutnya untuk menggoda pasangan alien-bayi di hadapannya, ponsel Taehyung berbunyi nyaring.

Berdecah kesal, Tae mengambil ponselnya, lalu menautkan alis saat melihat deretan nomor yang berjajar rapi tanpa nama. Tangannya bergerak malas menyentuh ikon warna hijau, lalu menempelkannya ke telinga.

"Halo." Gumam Taehyung singkat, ia diam beberapa saat, lalu memasang ekspresi keheranan. "Siapa? Maaf aku tidak mendengarnya dengan jelas."

Yoongi memperhatikan wajah teman sekelasnya, samar-samar dia melihat perubahan ekspresi Taehyung walau samar. Sementara Jimin mengambil kesempatan dengan mencomot makan siang senior Min.

"Ohh, Ire -" Taehyung terdiam beberapa detik, mata tajamnya melirik Yoongi, lalu beralih ke Jungkook. Tangannya dengan cekatan menjauhkan ponselnya sebelum bicara dengan suara lirih.

"Siapa hyung?" gumam Jungkook cepat sebelum Taehyung sempat mengatakan sesuatu. Kalau boleh jujur, ada sedikit perasaan tidak enak saat melihat kekasihnya sedikit gelisah ketika menerima panggilan itu.

"Sebentar ya, aku harus mengangkat ini. Kau habiskan makanan yang sudah kupesankan." Tae tersenyum, tangannya yang bebas menyentuh kepala Jungkook sebelum mengecup singkat pipinya, lalu pergi begitu saja tanpa mendapat persetujuan dari bunny kesayangannya.

Jungkook cemberut mengaduk makanannya.

"Kook?"

Jungkook mendongak, menatap Jimin yang melayangkan sorot keheranan. "Hyungie tidak pernah pergi saat mengangkat telfon. Itu tadi siapa…"

Pertanyaan dengan nada menggantungnya lebih terarah kepada dirinya sendiri. Jimin tentu saja mengabaikan. Toh, dia tidak tahu harus menanggapi apa. Mau menjawab asal juga tidak bisa.

"Mungkin teman lama." ucap Yoongi santai sambil menyeruput jus strawberry. Ia terkekeh saat bibir Jungkook terlihat mengerucut kesal karena ditinggal hyung kesayangannya, atau lebih tepatnya, cemburu dengan seseorang yang mungkin adalah teman lama pemuda Kim.

Beberapa saat mereka habiskan dalam diam, sesekali Jimin membuat suara namun diabaikan Yoongi sementara Jungkook masih sibuk dengan 'kecemburuannya'. Dan akhirnya Taehyung kembali. Ia langsung duduk di sebelah Jungkook tanpa mengucapkan apapun, tangannya telulur merangkul pundak kekasihnya, lalu menyandarkan kepalanya.

"Siapa, hyung?"

"Teman lama."

Jeon muda semakin mem-pout saat mendengar jawaban singkat senior Kim sama persis seperti tebakan gebetan-nya Jimin.

Menyebalkan.

"Dia menghubungimu, Tae? Kudengar dia akan kemba -"

"Hyung." Kim Taehyung memotong ucapan Yoongi cepat. "Aku tidak ingin membicarakannya."

Yoongi memilih diam dan menginjak ringan kaki Park Jimin saat dia melihat juniornya hendak bertanya. Dengan sangat terpaksa, Jimin makan dalam diam sambil merengut. Jeon muda yang merasakan aura berbeda dari sang kekasih pun memilih bungkam. Ia ingat terakhir kali Kim Taehyung berekspresi seperti itu adalah saat mereka membahas alasan Jungkook bertelanjang bulat dan tidur seranjang dengan pemuda yang kini berstatus sebagai kekasihnya.

Jeon Jungkook tidak suka saat kekasihnya merasa kesal.

"Seniorku, dia di tingkat akhir saat aku masuk ke fakultas ini. Katanya dia baru saja kembali setelah menyelesaikan kuliah S2 nya di Amerika. Dulu kami satu club, dia mengajakku, Yoongi hyung, Namjoon hyung dan beberapa lainnya untuk berkumpul."

Jungkook menoleh, mendapati wajah Tae yang menatapnya sambil tersenyum.

"Kalau cemberut, kadar manismu turun 38 persen." tangan kecoklatan bungsu Kim terulur menarik gemas pipi kekasihnya. Bukannya protes, Jungkook malah terkekeh sambil memeluk sunbae kesayangannya.

Ternyata Taehyung peduli.

Ternyata Taehyung sangat peka dengan perubahan sikap Jungkook.

"Mereka mulai, kita akan segera menjadi invisible men."

Yoongi mengangguk, menyetujui gumaman pemuda Park di sebelahnya. Kalau boleh jujur, Taehyung dan Jungkook benar-benar terlihat manis saat bersama. Hanya saja, kadang keduanya lupa bahwa Bumi ini tidak hanya ditinggali oleh mereka berdua. Saking kesalnya, Min Yoongi pernah berniat menggemboskan ban mobil Taehyung agar dia sadar bahwa Taehyung plus Jungkook tidak selalu bisa menghadapi dunia hanya berdua saja. Tentu saja rencana itu batal. Alasannya? Senior Min terlalu malas bergerak.

All hail for Min Yoongi's laziness.

"Ahh, hyung, aku harus berfoto bagaimana untuk long sleeves Hoseok hyung?" Jungkook melepas pelukannya. Dia benar-benar butuh saran untuk pose yang akan dia lakukan untuk endorse.

Taehyung terkekeh mengacak surai kecoklatan kekasihnya. Pasalnya, Jungkook benar-benar menggemaskan. Foto biasa saja sudah mampu menjadi pusat gravitasi seorang Kim Taehyung, dia benar-benar tidak perlu terlalu berusaha. "Kau bawa bajunya? Punyaku belum sempat kukeluarkan dari mobil. Bagaimana kalau kita foto bersama?"

Kookie mengangguk bersemangat meng-iya-kan tawaran Taehyung sambil menunjuk tasnya. Lagipula, dia akan merasa sangat canggung jika harus berfoto 'keren' sendirian. Jungkook terbiasa ber-selfie dengan memperlihatkan duck face, mem-pout-kan bibirnya, atau membuat ekspresi lucu lainnya. Dan sepertinya, itu foto yang sangat tidak 'menjual'.

Jeon muda belum menyadari kekuatan aegyo-nya sendiri.

"Tunggu, jangan bilang kalian mendapat tawaan bisnis? Foto promosi dengan imbalan baju gratis?" Yoongi mulai tertarik dengan pembicaraan sepasang kekasih di hadapannya, Taehyung mengangguk.

"Kemarin aku sempat mampir sebelum mengunjungi Namjoon hyung." Taehyung merangkul sambil memainkan telinga kekasihnya yang asyik menyantap makan siangnya. Walau begitu, matanya terfokus pada Min Yoongi. "Tapi aku membayar punya Kookie. Aku tidak mau membiarkan dia memberikan sesuatu untuk kekasihku."

Jimin terkekeh mendengar logika seniornya. "Bukannya baju itu sebagai 'bayaran' untuk foto yang diunggah Jungkook?"

Taehyung tampak berfikir.

"Kalau kau menolak gratisan Jungkook, sama saja kau menolak bayaran untuknya." Yoongi menarik nafas dalam. Teman sekelasnya terkadang memiliki cara berfikir yang sulit dipahami oleh akal sehat manusia. "Hoseok mana mungkin membayar jasa promosi dengan nominal uang, lagipula kau pasti akan menolaknya juga. Diskon khusus, bonus snapback atau aksesoris lain… bukannya itu cara Hoseok 'membayar' kita?"

Wajah pemuda Park memerah menahan tawanya, sementara Taehyung memasang blank expression sempurnanya.

Jungkook terkekeh pelan menyikut perut kekasihnya, "Hyungie jangan melamun."

"Ohh…" Tae mengerjab beberapa kali. "Ah, ya.. begitu ya, hmm.."

Jeon muda yang pertama kali tertawa, diikuti pemuda Park yang menekan perutnya kuat karena sakit saking terpingkalnya.

Dan makan siang mereka dihabiskan dengan Yoongi yang merutuki ke-over protective-an Kim Taehyung hingga ia 'buta', juga Jungkook yang mengatakan bahwa dia 'oke' walau 'tidak dibayar'. Toh, ia tidak merasa seterkenal itu hingga orang-orang tertarik untuk membeli apa yang dia pakai. Jimin yang belum kenal siapa Hoseok beberapa kali bertanya, berakhir dengan diacuhkan bahkan oleh teman 'senasib sepenanggungan -invisible man, just like him', Min Yoongi.

"Pakai milikmu.." gumam Taehyung saat mereka sudah berada di mobilnya, Jungkook mengangguk dan langsung mengganti kaosnya dengan long sleeves yang dia bawa di tas selagi Taehyung memakai miliknya yang sejak kemarin tergeletak di jok belakang. Walau masih canggung, yang lebih muda berusaha untuk tidak memperlihatkannya. Toh, kekasihnya malah sudah pernah melihat Kookie telanjang bulat. Topless sedikit tidak apa kan?

Serius. Kalau ada yang melihat adegan ini, pasti mereka mengira sepasang pemuda jurusan Sastra itu sedang berbuat macam-macam.

"Nah, kita foto di luar saja. Di dalam terlalu gelap." Taehyung membantu Jungkook merapikan rambutnya. 'Di dalam terlalu gelap' adalah vivid lie yang diucapkan seorang Kim Taehyung. Teknologi kamera miliknya, juga kamera milik kekasihnya mampu menghalau segala kegelapan yang menghalangi mereka dari bidikan front camera. Alasan utama Tae mengajak Jeon muda berfoto di luar adalah karena kursi kemudi dan kursi disampingnya terpaut jarak yang lumayan, dan Tae tidak mungkin menyuruh juniornya duduk di pangkuannya karena stir mobil sialan yang akan menghimpitnya.

Dan mereka berjalan keluar. Taehyung menyuruh Jungkook duduk di kap mobilnya, ia berjalan dua langkah menjauh, lalu mengambil foto dengan lengan kanannya, Tangan kirinya melakukan peace sign, dimana Jungkook juga melakukan tanda yang sama dengan tangan kanannya. Tubuh Taehyung hanya terlihat tiga per empatnya saja di bagian kiri, namun tubuh Jungkook yang sedang duduk terpotret sempurna. Ini akan menjadi foto yang Taehyung upload.

Selanjutnya giliran Jeon muda yang membidik dengan kamera ponselnya. Jungkook berpose dengan wajah dork-nya yang terlihat manis, Taehyung yang pada jepretan pertama terlihat 'bingung' akhirnya mengimbangi pose sang kekasih di foto kedua. Jungkook setuju untuk mengunggah keduanya dengan caption yang saling berhubungan.

Mereka kembali ke dalam mobil lalu melaju menuju apartemen Jungkook setelah mengambil beberapa selca untuk kepentingan peribadi. Bahkan di dalam mobil, Jungkook tidak bisa berhenti mengambil gambar Kim Taehyung. Yang lebih tua jadi harus matu-matian menahan senyum dan rona di pipinya saat kekasih manisnya tertangkap basah bergumam 'hyung sangat tampan' saat melihat hasil foto.

"Aku sudah meng-upload keduanya. Kuharap Hoseok hyung suka." gumam Jungkook saat mereka berhenti di lampu merah. Tae bergumam setuju saat dirinya juga baru selesai mengunggah foto miliknya.

"Kurasa dia akan sangat senang." ucap pemuda Kim mengecup pipi Jungkook sebelum menjalankan kembali mobilnya. Mereka terlibat percakapan ringan sampai tiba di tempat tinggal Jungkook.

"Umm.. mau mampir?"

Taehyung menggeleng. Tangannya dengan cekatan membantu Jeon muda melepas seat belt-nya. "Ada yang harus kuselesaikan. Kurasa aku harus segera pulang."

Jungkook mengangguk sambil tersenyum. "Um.. apa hyung marah? Apa Namjoon hyung marah?"

Kali ini senior Kim mengeryitkan dahi, diam dan menunggu kekasihnya menjelaskan.

"Itu…" Jungkook gugup; ia menundukkan kepalanya dalam. "Komentar di foto yang kuunggah semalam, mereka menuduh hyung dapat bocoran soal, dan.. dan… "

Tae terkekeh, ia menarik dagu sang kekasih, memaksa sepasang onyx menatap hazel miliknya. Perlahan, wajahnya mendekat mengeliminasi jarak antara bibir Jungkook dan bibirnya sendiri.

Kim Taehyung kembali mencium Jeon Jungkook.

Ciuman kedua mereka.

Ciuman kedua Jungkook.

"Mnnwhh…" yang lebih muda tercekat saat lidah Taehyung menyeruak masuk ke mulutnya, lalu menjelajah dan melilit lidahnya di sela lumatan lembut mereka.

Beberapa saat Taehyung memainkan lidahnya sambil menghisap dan mengulum ringan, Jungkook membalas sebisanya sambil berusaha keras agar tidak kehabisan nafas karena jantungnya yang berdetak memburu sungguh menghabiskan tenaga.

Kim Taehyung menyeringai, lalu perlahan menarik lidahnya dan memberi kecupan-kecupan ringan di bibr Jungkook, lalu di selurh wajahnya. "Pelajaran hari ini cukup."

"Ehh?" pemuda Jeon membeo.

"Barusan itu latihan ciuman dari Dosen Kim Taehyung. Pelajari baik-baik sebelum kita naik ke level selanjutnya."

Jungkook merona hebat, dia buru-buru keluar dari mobil dengan wajah yang semerah kepiting rebus. Ia meneriakkan 'hati-hati di jalan' sebelum berlari masuk ke apartemen sederhananya.

"Taetae hyung menyebalkan! Menyebalkaaaan!" pekiknya begitu masuk ke kamarnya. Walau terdengar marah, nada bahagia dan rona malu-malu tak bisa dihapuskan dari wajahnya.

Beberapa detik setelah dia mendengar mobil senior Kim menjauh, Jungkook mendapat pesan melalui ponselnya.

.

From: Taetae hyungie

Aku tidak akan marah karena komentar seperti itu, Baby.

Lagipula mereka tidak tahu kalau Namjoon hyung seribu kali lebih galak denganku dibanding dengan mhs lain.

Jangan diambil hati, biarkan saja, nee?

Kau juga tidak boleh mendengar yang jelek-jelek tentangmu.

.

Senyum di pipi Jeon Jungkook sukses mengembang lebar. Tangannya memeluk erat ponselnya sambil berguling di atas kasur sebelum membalas pesan hyungie-nya.

.

.

Sore harinya Jungkook merasa ingin mengunjungi sang kekasih karena sejak pulang tadi, bayang-bayang Kim Taehyung seolah menjadi UFO yang mengelilingi Bumi alias kepalanya. Dia tidak bisa berhenti memikirkan kekasihnya. Berniat tidur siang pun tidak bisa. Entah mengapa hatinya mengatakan bahwa dia harus segera menemui Taehyung dan memeluknya erat.

Jeon Jungkook sedang kasmaran. Dia merindukan Kim Taehyung dan ingin lebih belajar banyak hal.

Maka Jungkook membawa baju yang pernah dipinjamnya, untuk dijadikan alasan buat Jungkook mengunjungi Tae sunbae.. Sweatshirt Nirvana dan celana hitam sudah terlipat rapi di kantong kertas berwarna cokelat, tak lupa Jungkook membawa dompet yang ia masukkan ke kantong celana dan headset yang ia taruh di kantong hoodie abu-abu yang kini dipakainya. Ia sempat mengecek jam di ponsel sebelum memasukkannya ke kantong celana.

Pemuda Jeon sengaja tidak memberi tahu sang kekasih karena berniat memberi kejutan. Well, bagaimanapun dia ingin membuat belahan jiwanya bahagia walau hanya dengan kehadirannya. Jungkook berniat memasakkan makan malam dengan bahan apapun yang ada di kulkas kekasihnya. Kalau tidak, mereka malah bisa berbelanja bersama terlebih dahulu.

Kedengarannya menyenangkan.

Dan disinilah Jeon Jungkook, di dalam lift sebuah apartemen mewah untuk mengunjungi Kim Taehyung. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya dia berada di dalam lift ini. Jungkook nervous, excited, gugup. Benar-benar mirip bocah balita yang akan berangkat untuk piknik pertamanya.

Kaki Jungkook melagkah perlahan saat tiba di lantai yang dituju. Dihirupnya nafas dalam-dalam, lalu dihembuskan perlahan. Jeon muda tidak menyangka, kunjungannya ke apartemen Taehyung tanpa disertai sang kekasih akan sangat mendebarkan.

Tangannya bergetar memencet berl.

Jungkook menunggu dan tidak ada jawaban.

'Apa Taetae hyung sedang mandi?' Jungkook merogoh ponselnya, melirik angka yang tertera di jam digital di sana. 'Pukul empat, tidak biasanya mandi jam segini.'

Ia menekan bel sekali lagi, kali ini lebih tenang.

Tidak ada jawaban, apalgi suara langkah kaki mendekati pintu.

Pemuda Jeon mulai bingung harus bagaimana. Apa dia harus pulang? Tapi dia baru saja sampai. Dan bagaimana kalau Kim Taehyung ternyata ada? Dia sedang tidur di dalam? Atau menunggu saja? Tapi menunggu di luar akan membuatnya terlihat seperti stalker.

Jadi Jungkook memutuskan untuk memencet deretan password yang seingatnya adalah kata sandi apatemen kekasihnya. Lagipula Taetae hyung-nya pernah bilang kalau dia boleh masuk ke aparttemennya kapan saja.

"Permisi…" gumam Jungkook saat melangkah masuk. Ia mengeryit heran ketika mendapati sepatu high heels warna merah di depan pintu masuk. Artinya, Tae ada di rumah, tapi bukan itu masalahnya.

Siapa yang berkunjung?

Seokjin hyung?

Namjoon hyung?

Tidak mungkin, setahu Jungkook, high heels itu sepatu wanita.

Jantungnya berdebar kencang, dengan buru-buru Jungkook melepas sepatunya. Sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa dia harus berhenti dan pulang saja, setengahnya menjerit dan memaksa ingin tahu siapa yang mengunjungi apartemen kekasihnya.

Samar-samar telinganya menangkap suara yang berasal dari sumber yang berbeda, sedang saling berbicara. Satu suara Kim Taehyung, satu lagi suara seorang wanita.

"Menyingkir, aku harus membukakan pintu." Kim Taehyung.

"Biarkan saja Taee~ kau tidak merindukanku?"

Nafas Jungkook tercekat. Suaranya begitu asing, namun terdengar sangat manja. Siapapun yang mendengarnya pasti bisa menyimpulkan betapa dekatnya hubungan mereka.

Langkah kaki pemuda Jeon terhenti begitu ia memasuki ruang tengah yang langsung menghadap ke sofa yang biasa mereka gunakan untuk menonton televisi.

"H -hyung,,," gumam Jungkook, pupilnya melebar mendapati sang kekasih tengah berbaring di sana. Matanya terasa panas, dadanya sesak.

"Kookie?" Taehyung menjawab tak kalah terkejutnya, tangannya berusaha menyingkirkan sesuatu, atau lebih tepatnya, seseorang yang duduk di pangkuannya.

Mereka terdiam selama beberapa detik sampai suara wanita itu memecahkan segalanya.

"Siapa, Tae?" ia menoleh, menatap heran Jeon Jungkook yang membatu di depan pintu.

Cantik. Sangat cantik.

Dan entah mengapa, melihatnya menyadarkan Jungkook akan posisinya saat ini. Berdiri di depan pintu sambil memandangi sepasang manusia yang sedang dalam posisi sangat intim. Mereka mengenakan pakaian lengkap, memang. Tapi Jungkook bisa melihat kaos kekasihnya yang terlihat berantakan.

Ya. Kekasihnya sedang bermesraan dengan seorang wanita.

Tangannya meremas erat tas kertas berisi pakaian yang dia bawa.

"Ma-maaf…" Jungkook berusaha menahan sesuatu yang siap meluncur dari kedua bola matanya yang memerah. Ia sungguh kesulitan bernafas. "Aku hanya ingin mengembalikan ini…"

Ia menaruh asal tas yang dibawanya, kemudian langsung berbalik, berjalan tergesa lalu memakai asal sepatunya. Jungkook berlari, berlari sambil memegangi dadanya yang sesak. Lift yang harusnya dengan cepat mampu membawanya dengan cepat hingga lantai dasar pun rasanya tidak berfungsi dengan baik.

Jeon Jungkook kembali berlari saat lift berhenti di lantai dasar. Ia terisak beberapa kali, bersamaan dengan air mata yang membasahi pipinya.

Jungkook berhenti di depan pintu keluar, menunggu…

Terjadi perang batin antara dia dan dirinya sendiri. Satu sisi ingin menunggu Taehyung yang menyusulnya, sisi yang lain begitu pengecut dan takut.

Takut kalau Taehyung tidak juga muncul dan memeluknya.

Ia memilih menunggu, mati-matian menahan kakinya yang berkali-kali hampir melangkah meninggalkan tempat itu.

Lima menit… dan Jeon Jungkook masih menunggu.

Sepuluh menit… dan Jungkook mulai meragu. Air mata membasahi pipinya tanpa bisa ia kendalikan. Dadanya kian sesak, oksigen seakan berubah menjadi karbon monoksida yang meracuni pernafasannya.

Lima belas menit… dan sendi-sendi di tubuhnya seakan melemas.

Tiga puluh menit…

Dan Kim Taehyung tidak pernah datang.

.

.

TBC

.

.

SURPRISE!

Maaf untuk keterlambatannya dan JANGAN BUNUH TIGER… ide plotnya gini sejak awal *ketawa nista*

Ohh, ya. Untuk pakaian mereka dan pose foto, biasanya Tiger terinspirasi sama outfit dan foto mereka yg ada di internet, entah selca atau dijepretin orang.

Jadi… selamat menikmati plot twist.

Jangan lupa baca The Boy who Wears White Briefs dan The Role-players. Jangan lupa review juga. Makasih banget yang udah baca dan review dan fav dan follow dan mencintaiku apa adanya.. Oi!

Maafkan segala typo.

.

.

Terakhir,

Reviews Juseyoooooo

I love You