Kebahagiaan mu
By: Miftha Zoldyck
.
.
.
Disclaimer:Naruto milik masashi Khisimoto
Rate T
Genre: Hurt/comfort,Romance
Pair : naruhina
Warning : Typo,OOC,dan banyak kesalahan lainnya
Hohohhhhh Yo Minna-san. Lagi, Miftha update. Gimana? Enjoy gak sama cerita yang Miftha buat ini. Harapan Miftha sih enjoy. Makasih, makasih, makasih karena udah mau baca cerita ini. Kyaaa... Miftha jadi seneng karena masih ada yang baca cerita ini. Okeyyy,
.
Reading
n
Enjoy
.
.
.
Melihat Hinata yang datang ke kelas Naruto bukanlah hal yang aneh lagi semenjak beberapa hari belakangan ini dan yang dilakukannya masih tidak ada yang berubah, yaitu mengantarkan bento buatan Hanabi untuk Naruto. Sekali, dua kali, tida kalipun Naruto tetap menerima bento buatan Hanabi itu. Tapi, hanya satu yang selalu ditunggunya. Apalagi jika bukan bento buatan Hinata. Memang benar menunggu itu tidaklah enak, karena itu Naruto memutuskan untuk berhenti menunggu dan meminta secara langsung pada Hinata agar dibuatkan bento.
Gugup memang yang dirasakan Naruto ketika akan mengatakan keluhannya itu, tapi mau bagaimana lagi. Jika dia tidak juga mengatakannya, dia tidak akan pernah dibuatkan bento oleh Hinata.
"Hinata." Panggil Naruto ketika Hinata akan meninggalkan kelasnya. Tidak hanya Hinata yang melihat ke arahnya tapi, semua teman-temannya juga melihat ke arah gadis itu. Hinata yang dipanggil kembali berjalan mendekati Naruto. Dia memiringkan kepalanya ketika Naruto tidak juga memulai berbicara.
Setelah sekali tarikan nafas, Naruto mulai menatap Hinata tepat pada manik lavendernya. "Hinata, apa kau tidak pernah memiliki niat untuk membuatkanku bento. Kenapa selalu Hanabi yang membuatkanku bento. Sungguh, aku merasa aneh dengan ini. Bukankah kau yang akan menjadi tunanganku tapi kenapa selalu Hanabi yang membuatkanku bento." Ketika mengatakan itu Naruto langsung berdiri menghadap Hinata.
"Eh," hanya itu yang keluar dari bibir Hinata. Bingung harus menjawab apa pada pertanyaan Naruto tersebut.
'Tidak tahukah kau Naruto-kun jika yang selalu membuatkanmu bento itu adalah aku. Tapi, aku selalu merasa malu jika mengatakan kebenaran tentang bento itu adalah masakanku.' Batin Hinata menciut.
"Eh?"
"Gomen, aku hanya merasa janggal pada panggilanmu itu. Biasanya kau akan memanggilku dengan suffix-chan. Hmm, apa kau marah karena aku tidak pernah membuatkanmu bento?" Tanya Hinata to the point yang langsung membuat Naruto meringis pelan menyadari kesalahannya. "Ti-tidak, maaf. Bukan maksudku memanggilmu tanpa suffix-chan." Naruto menggaruk tengkuknya yang diyakini Hinata pasti tidaklah gatal.
"Kalau boleh jujur, bento yang selalu kubawakan itu adalah masakaanku. Maaf karena mengatakan padamu jika itu adalah buatan Hana-chan..." Hinata menjeda perkataannya dan melihat tepat ke arah manik shappire milik lelaki itu. Terlihat ada kebahagiaan di mata itu saat dia mengatakan jika bento itu adalah buatan Hinata. "... dan, aku membuatkanmu bento karena paksaan kaa-chan. Kalau begitu aku permisi dulu." Lanjutan dari perkataan Hinata tadi langsung menurunkan bahu Naruto. Setelah Hinata pergi dari kelas Naruto, sorakan-sorakan mengejek langsung menimpa Naruto. Siapa lagi yang melakukannya jika bukan Kiba, Ino, dan Sakura. Kalau Sasuke dan Shikamaru hanya mengguman baka.
'Jahatnya kau Hinata-chan. Arghhh, kenapa rasanya sakit sekali ketika kau menjatuhkan kebahagianku secara tiba-tiba.' Lirih Naruto dalam hatinya. Tidak menghiraukan teman-temannya, Naruto mulai memakan bento yang dibuatkan Hinata. Setidaknya, bento itu adalah buatan Hinata walaupun dengan paksaan. Pikir Naruto sambil menikmati bento itu.
.
.
.
Hinata menghentikan langkahnya ketika beberapa siswi berdiri dengan angkuhnya di depannya. Dia hanya menatap para siswi itu dengan sorot datar. "Hyuga, jauhi Naruto-kun!" Perintah dari salah satu gadis pirang tidak membuat Hinata menghilangkan wajah datarnya dan itu masih berlaku ketika siswi berambut merah sebahu mulai menarik surai indigonya. Meringis memang, tetapi Hinata tetap tidak melawan masih membiarkan gadis berambut sebahu itu menariknya ke dalam sebuah gudang.
"Apa yang kau mau Shion, Karin?" Tanya Hinata dengan nada datar. Mendengar nada bicara Hinata yang tidak ada ketakutan semakin membuat geram siswi yang dipanggil Shion dan Karin tadi. "Kuingatkan sekali lagi, jauhi Naruto. Kurasa kau bisa meminta orang tuamu untuk membatalakan perjodohan kalian atau kau akan merasakan hal yang lebih sakit dari ini." Ancam Karin dengan penuh penekanan. Setelah itu mereka berdua mulai keluar dari gudang itu, menutup pintunya dan membiarkan gudang itu menjadi gelap gulita.
Hinata melebarkan matanya ketika dia ditinggalkan dalam suatu ruangan yang sangat gelap. Martanya mulai memanas, dadanya mulai sesak. Phobianya, dia phobia pada ruangan gelap dan sunyi. Dadanya semakin sesak saat air matanya mulai merembas keluar dari manik lavendernya. Tubuhnya meringkuk ketakutan, yang dibutuhkannya saat ini hanyalah cahaya, mataharinya.
.
.
.
Naruto menatap aneh seorang siswi nerd yang tengah terengah-engah habis berlari. "Na-mikaze-san, Ano... Enghh." Naruto masih menunggu siswi nerd itu melanjutkan perkataannya dan hal itu dilakukan juga oleh teman-temannya. Sakura yang merasa geram karena siswi itu mulai memegang bahunya, "kau ingin mengatakan apa?" Tanyanya dengan lembut.
"Na-mikaze-san, Ano... Hyuga-san." Mendengar nama Hyuga Naruto mulai berdiri dari duduknya dan mulai menggantikan Sakura memegang bahu siswi itu.
"Ada apa dengan Hinata-chan?" Tanya Naruto dengan nada panik.
"Hy-hyuga-san, gudang. Dia dikunci di gudang. Dia..." Tanpa menunggu lanjutan siswi itu, Naruto langsung berlari menuju gudang. Ingatan tentang perkataan ibu Hinata langsung memenuhi pikirannya.
'Naruto, kaa-san hanya ingin mengatakan padamu jika Hinata memiliki phobia pada gelap dan kesunyian. Jadi, kaa-san minta padamu untuk menjaganya.'
'Hinata-chan, tunggu aku.' Batin Naruto.
.
.
.
Dada Hinata semakin sesak, pikiran tentang masa lalunya kembali memenuhi benaknya. Suara tetap tidak mau keluar dari bibirnya walaupun dia telah berusaha untuk berteriak. Sebelum matanya benar-benar tertutup, secercah cahaya dan panggilan pada namanya terihat dan terdengar.
Naruto memeluk tubuh Hinata yang sudah tidak sadarkan diri. Terus dipeluknya tubuh mungil itu. Menahan rasa sakit karena telah membiarkan gadisnya itu terluka.
"Naruto, cepat bawa Hinata ke rumah sakit!" Perintah dari Sakura langsung diiyakan oleh Naruto. Dibawanya Hinata ke dalam gendongan bridal stylenya, semua mata tertuju padanya.
Ada yang aneh pada Naruto dikala para murid melihatnya, tidak ada lagi senyuman secerah matahi di wajahnya. Yang terlihat hanyalah wajah datar dan dingin dengan sorot mata penuh marah. Naruto menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Sasuke dan Shikamaru, "cari siapa yang telah melakukan ini." Setelah mengatakan itu Naruto kembali berjalan membawa Hinata menuju rumah sakit.
.
.
.
Naruto menundukkan kepalanya, duduk dengan lemas di kursi tunggu. Tidak disangkanya Hinata akan masuk ke dalam UGD karena itu. Di dalam hati hanya perkataan mengutuk dirinya dan orang yang telah melakukan ini yang selalu keluar.
'Akan kubuat kalian yang melakukan ini lebih parah dengan apa yang terjadi pada Hinata-chan.'
.
.
.
Tbc...
.
Terima kasih pada semuanya yang telah membaca KEBAHAGIANMU. Dan kepada yang telah merevew. Untuk balasannya, Miftha ucapkan terima kasih banyak. See ya, next chap.
.
Arigatou gozaimasu
.
RnR
.
Jaa ne
Salam
Miftha
