Akhirnya chapter 3 bisa diupdate~! :D :D
Makasih banyak buat para readers yang mau nyempetin waktunya buat baca fanfic receh ini dan bahkan meninggalkan komentar-komentar berharga kalian
rangeralone, Yuuki Asuna41, Park RinHyun-Uchiha, daunlontar, Rimm
Review kalian itu semangatku buat ngelanjutin ff ini lho
.
.
.
Hari iminggu, hari dimana anak-anak harus melakukan rutinitas wajib mereka, membersihkan panti asuhan tempat mereka tingggal. Sebenarnya daripada menyebut tempat ini sebagai panti asuhan, mereka lebih suka menyebut ini rumah mereka. Karena disinilah mereka tinggal dan dibesarkan, dan disnilah mereka bisa merasakan sekaligus memberikan kasih sayang layaknya keluarga satu sama lain. Mereka keluarga, teman, dan terkadang menjadi seperti orangtua bagi satu sama lain. Ibu mereka –ibu pengurus panti asuhan- adalah orang biasa, ibu mereka memiliki kedai kecil yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Ibu mereka memang jarang di rumah, tapi walaupun begitu mereka tetap masih bisa mendapatkan hak mereka sekaligus mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu.
Mark, penghuni tertua di rumah ini baru saja terbangun dari tidurnya. Ia berjalan sempoyongan menuju kamar mandi dan melakukan rutinitas bangun tidurnya. Setelah semua selesai, ia mulai berjalan ke tempat penyimpanan barang untuk mengambil alat kebersihan. Jiwanya yang belum sepenuhnya terkumpul, membuatnya tersentak kaget ketika mendapati Jeno yang sudah berdiri di depan pintu tempat penyimpanan dengan senyuman lebar yang membuat matanya terlihat seperti menghilang.
"astaga, Jeno-ya! Kau mengagetkan hyung!" Mark mengelus dadanya.
"hehe..maaf, hyung"
"mana yang lainnya? belum bangun?"
"Renjun dan Chenle sedang menyirami tanaman, Donghyuck sedang memotong rumput, sedangkan Jaemin dan Jisung sepertinya belum bangun" jelas Jeno.
Mark mendengus kesal, dua bocah manja itu memang pemalas. Mereka akan bangun tengah hari jika tidak segera dibangunkan. "kau letakkan alat-alat itu di depan, setelah itu tolong bangunkan Jisung ya? Biar hyung yang membangunkan Jaemin"
Jeno mengangguk, "arrasseo, hyung"
Sesuai dengan perintah Mark, Jeno meletakkan peralatan yang ia pegang di halaman dan kemudian bergegas membangunkan Jisung. Jeno masuk ke kamar Jisung, yang juga menjadi kamar Renjun dan Chenle. Hanya saja dua orang lainnya sudah bangun dan menyisakan bocah berwajah polos yang masih bergelung dibalik selimutnya. Jeno tersenyum, adiknya benar-benar menggemaskan.
"Jisung-ah, ayo bangun. Kita harus melakukan tugas mingguan kita" ia menepuk lengan Jisung pelan.
Jisung menggeliat pelan ketika merasakan panas dilengannya, ia mulai membuka matanya perlahan.
"hyungie~" panggil Jisung manja, ia mengucek matanya imut, membuat Jeno gemas dan mencubit pipinya.
"tangan hyung panas!" Jisung menarik wajahnya dari tangan Jeno.
Jeno mengernyit. Ah iya, ia memang sedikit demam sejak tadi malam.
"hyung sakit?" tanya Jisung. Jeno menggeleng.
"aniya, hyung tidak sakit kok, cuacanya saja yang terlalu panas..hehe. Cepat bangun dan cuci muka, lalu segera ke halaman untuk membantu hyungdeul lainnya ya?" pesan Jeno sebelum keluar dari kamar Jisung, tidak lupa ia mengacak rambut adiknya itu dengan sayang.
Jisung mengangguk dan segera melakukan apa yang Jeno perintahkan.
Setelah mencuci muka, Jisung keluar dari rumahnya dan menyusul hyungdeulnya di halaman belakang setelah sebelumnya menyapa Mark dan Jaemin yang sedang memasak di dapur. Sepertinya Ibu mereka berangkat pagi-pagi sekali, karena Jisung sudah tidak melihat Ibu mereka di rumah.
Jisung mengernyit ketika melihat suasana di halaman belakang. Tidak ada yang istimewa, ada hyung chinanya –Renjun dan Chenle- sedang menyapu, dan Donghyuk serta Jeno yang sedang memberikan pupuk pada tanaman. Tetapi ada yang aneh, cuacanya, tidak seperti yang Jeno katakan tadi. Cuacanya mendung, tidak ada panas sama sekali, bahkan mataharipun sepertinya enggan menampakkan dirinya. Tentu saja, ini kan musim gugur, mana ada cuaca-yang-terlalu-panas seperti yang dikatakan Jeno tadi.
Jisung merenggut, ia mulai menyadari kalau Jeno membohonginya.
"Jisung-ah! jangan hanya berdiri disitu, ayo kemari dan bantu kami" teriak Chenle, Jisung tidak menggubris. Ia malah berjalan ke arah Jeno dan menjinjitkan kakinya untuk menyentuh dahi Jeno.
"panas!" pekik Jisung, membuat Donghyuk yang berada di dekat Jeno menjadi kaget, begitu pula dengan Renjun dan Chenle. Jeno pun juga tidak kalah kagetnya dengan saudaranya yang lain. Tubuh hyung tersayangnya benar-benar panas.
"Jisung-ah, apa yang kau lakukan?"tanya Jeno pelan, suaranya terdengar serak di telinga Jisung.
"hyung, kau membohongiku! bukan cuacanya yang panas, tapi hyung yang panas" Jisung menatap Jeno sebal.
"kau sakit, Jeno-ya?" Donghyuk mendekati Jeno dan menempelkan tangannya di dahi Jeno. Benar, sepertinya Jeno demam.
"kau demam, Jeno-ya!" seru Donghyuk, dibalas anggukan oleh Jisung.
Jeno tersenyum, bibirnyapun terlihat kering dan wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Ia menyingkirkan tangan Donghyuk dari dahinya dengan pelan.
"aniya, gwaenchana Donghyuk-ah"
"hyung, kau istirahat saja kalau sakit, biar aku yang menggantikan pekerjaanmu. Soal menyapu halaman, biar Chenle dan Jisung yang melakukannya" tawar Renjun yang entah sejak kapan sudah berada di dekatnya, ditanggapi dengan anggukan setuju oleh Donghyuk, Jisung dan Chenle.
Jeno mengangguk, kepalanya memang seperti dihantam palu sejak bangun tidur tadi. Sebenarnya ia merasa tidak enak, tapi sayang tubuhnya tidak bisa berkompromi.
"gomawo, maaf aku tidak bisa membantu hari ini"
"kau bisa membantu minggu depan, akan kuserahkan semua pekerjaanku padamu Jeno-ya..hahaha" canda Donghyuk.
Jisung menggandeng lengan Jeno, bermaksud mengantarnya ke kamar, tapi ditolak secara halus oleh Jeno "kau membantu hyungdeul saja ya, hyung akan ke kamar sendiri"
Walaupun kecewa, tapi Jisung tetap mengangguk patuh.
Baru beberapa langkah untuk menuju kamarnya, sakit di kepala Jeno semakin menjadi. Ia juga merasakan sebuah cairang hangat berbau anyir mengalir dari hidungnya. Jeno menghentikan langkahnya, mengusap hidungnya perlahan. Ia mimisan, lagi. Entah sudah keberapa kalinya dalam bulan ini. Ia ingin bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan darahnya, namun tiba-tiba semuanya tampak berputar dan pandangannya kabur. Jeno kehilangan keseimbangannya, tubuhnya ambruk ke tanah dengan darah yang masih mengalir dai hidungnya.
"Jeno-ya!"
"Hyung!"
Itulah hal terakhir yang ia dengar sebelum semuanya berubah menjadi gelap dan rasa sakit di kepalanya menghilang.
.
.
.
Kim-eomoni, begitulah orang-orang di sekitar lingkungannya memanggilnya. Ia adalah sosok wanita hebat yang telah membesarkan ke-7 bocah laki-laki yang tampan dan manis di panti tersebut. Wanita itu harus mendadak pulang ke rumah dan menutup kedainya ketika Chenle tiba-tiba datang ke kedai dan memberitahunya kalau Jeno tiba-tiba pingsan disertai mimisan. Jika saja itu hanya pingsan biasa ia tidak mungkin sepanik ini, tapi ini pingsan disertai mimisan. Jeno bukanlah anak yang lemah, jika saja ia kelelahan biasanya paling parah hanya demam dan tidak sampai pingsan. Tapi kali ini aneh, Jeno pingsan bahkan sampai mimisan. Dan seingatnya ini bukan pertama kalinya bocah itu mimisan, terakhir kali Jeno juga mimisan ketika sedang membantunya di kedai dan jangan lupakan wajahnya yang pucat saat itu.
Wanita paruh baya itu sekarang duduk di sisi kasur Jeno, menatap putranya yang masih terlelap dengan wajah yang begitu pucat dan masih terdapat bercak darah di sekitar hidungnya. Nyonya Kim mengalihkan pandangannya pada meja kecil disamping tempat tidur Jeno, dan meringis melihat air di baskom yang begitu merah.
Apakah itu darah Jeno?
Sebanyak itukah?
Nyonya Kim bergidik ngeri.
Tepat ketika tangannya terangkat untuk mengelus kepala Jeno, mata sipit bocah itu terbuka. Sorot matanya terlihat lemah, tetapi bocah itu masih mampu menarik bibir keringnya untuk tersenyum.
"kau sudah bangun? Mana yang sakit,eoh? Katakan pada eomma" tanya nyonya Kim lembut. Jeno menggeleng lemah dan mengulas senyuman tipis.
"besok kita periksakan ke rumah sakit ya? Eomma sangat mengkhwatirkanmu" tawar nyonya Kim.
"aniyo, eomma. Aku hanya kelelahan" jawab Jeno, suaranya terdengar lebih serak dari sebelumnya.
"eomma mengkhawatirkanmu, Jeno-ya. Kau mimisan banyak sekali tadi" Mark yang baru saja masuk ke kamar tiba-tba angkat suara.
"kau dengar itu? Lagipula bukan kali ini eomma melihatmu mimisan, kau juga pernah mimisan ketika membantu eomma di kedai. Kita ke rumah sakit besok ya?"
Jeno terdiam, ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia harus pingsan segala sih?
Kau sungguh merepotkan, Jeno.
"turuti perkataan eomma, Jeno-ya. Kami semua sangat mengkhawatirkanmu, bahkan Jisung tidak berhenti menangis karena melihatmu pingsan tadi" Mark membujuk Jeno.
Bocah itu pasrah, dan akhirnya iapun mengangguk. Ia memang merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Akhir-akhir ini ia merasa lebih mudah lelah, terkadang kepalanya terasa sakit seperti dihantam palu. Bukan hanya kepalanya, tulang belakangnya juga terkadang terasa nyeri dan ia juga mimisan tanpa sebab. Dan jangan lupakan lebam kebiruan yang terkadang muncul tanpa sebab di beberapa bagian tubuhnya.
"mianhae, aku sudah menyusahkan eomma dan saudara-saudaraku lainnya" ucap Jeno lirih.
"tidak, sayang. Kami keluargamu, tidak ada kata 'menyusahkan' di dalam sebuah keluarga. Jadi jangan berpikir seperti itu lagi,arasseo?" Jeno hanya mampu mengangguk, air mata terlihat sudah menggenang di matanya.
"sekarang tidurlah, kau harus lebih banyak istirahat" nyonya Kim mengecup kening Jeno dan kemudian Mark, setelah itu ia keluar dari kamar putranya. Menyisakan Mark yang kini sudah siap berbaring di tempat tidurnya.
"gomawo, Mark hyung" ucap Jeno.
"kau haru tetap sehat, Jeno-ya. Hanya kau yang bisa kupercaya untuk menjaga dongsaengdeul lainnya" suara Mark terdengar bergetar, seperti menahan tangis. Hyung satu-satunya ini memang sedikit cengeng.
"masih ada Donghyuk dan Jaemin, hyung. Kau bisa mempercayai mereka juga"
Mark yang sepertinya sudah tidak mampu membuka matanya lagi hanya bisa menjawab dengan mata tertutup, "kalian adalah keluargaku, aku menyayangi kalian dan tidak ingin kehilangan satupun dari kalian" nada tulus terdengar begitu jelas dari kalimatnya.
Ucapan Mark sukses membuat air mata Jeno mengalir. "arrasseo,hyung. Aku pun begitu, aku menyayangi kalian semua melebihi diriku sendiri" suara Jeno terdengar bergetar.
Sebenarnya bukan apa-apa, hanya sebuah kalimat sederhana yang terucap dari bocah-bocah yang bahkan usianya belum genap 20 tahun. Tapi kata-kata itu begitu menyentuh, membuat hati siapapun yang mendengarkannya akan tersentuh dan menjadi hangat. Itulah yang dirasakan nyonya Kim yang tidak sengaja mendengar percakapan putranya. Senyum merekah di bibir keriputnya, air mata haru juga mengalir dari matanya. Ia mengusap air matanya sebelum pergi dari tempatnya berdiri dan kemudian bergerak untuk memeriksa putra-putranya yang lain.
.
.
.
Lorong-lorong itu ramai, banyak orang yang berlalu-lalang, tapi entah kenapa suasananya terasa mencekam bagi Jeno. Ia tidak pernah suka yang namanya rumah sakit, sekalipun ia tidak pernah suka. Melihat begitu banyak orang yang sakit selalu membuat hati Jeno tidak nyaman, dan juga bau rumah sakit itu begitu menyengat dan memuakkan. Tempat ini benar-benar mengerikan.
Nyonya Kim menggandeng tangan Jeno dan mengajak bocah itu memasuki sebuah ruangan dokter. Seorang dokter muda dengan tag nama –Park Jungsoo- tersenyum hangat pada mereka yang baru saja memasuki ruangan tersebut dan mempersilahkan mereka duduk.
"cha! Siapa namamu bocah tampan?" tanya dokter itu ramah.
"Lee Jeno imnida" dokter itu tersenyum
"jadi siapa yang sakit, nyonya?" dokter itu ganti menatap nyonya Kim.
"putraku, seonsaengnim. Sudah dua kali aku melihatnya mimisan, dan bahkan kemarin ia mimisan hingga pingsan" adu nyonya Kim dengan nada khawatir.
Donghae kini menatap Jeno, "jadi kau yang sakit bocah tampan?". Jeno mengangguk kaku, ia sedikit tidak nyaman dengan panggilan seperti itu.
"hyung akan mengajukan beberapa pertanyaan, kau jawab yang jujur ya?"
Jeno mengernyit "hyung?"
Jungsoo tertawa, "hahahaha. panggil saja aku hyung Jeno-ya, aku belum terlalu tua asal kau tau. Sekarang jawab pertanyaan hyung dengan jujur ya?" Jeno mengangguk lagi.
"sudah berapa kali kau mimisan?"
Pertama ketika sedang belajar, ketika pelajaran olahraga dua kali, ketika membantu ibunya di kedai, ketika sedang dalam perjalanan menjemput Jisung dan kemarin sebelum dia pingsan. Sepertinya hanya itu yang diingat Jeno.
"sepertinya sudah lebih dari 5 kali, seonsaengnim" jawab Jeno ragu.
"hyung, Jeno-ya, panggil hyung saja. Dan jangan ragu-ragu ketika menjawab, anggap saja kau sedang bercerita pada hyungmu" sekali lagi, Jungsoo memberikan senyum ramahnya.
"apa darah yang keluar banyak?" Jeno mengangguk menanggapi pertanyaan Jungsoo.
"apa kepala atau tulang belakangmu sering terasa nyeri akhir-akhir ini?"
"ne, hyung. Terkadang kepalaku sangat sakit seperti dihantam palu, dan punggungku juga terkadang nyeri"
Nyonya Kim tersentak kaget. Benarkah yang Jeno katakan? Kenapa selama ini Jeno tidak pernah bercerita apapun padanya tentang rasa sakit yang dialaminya? Nyonya Kim merutuki dirinya yang terlalu sibuk di kedai hingga tidak memperhatikan putra-putranya.
"kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada eomma, sayang?" tanya nyonya Kim sedih.
Jeno menunduk "aku tidak ingin membuat eomma dan saudara-saudaraku lainnya khawatir. Mianhaeyo, eomma"
"Jeno-ya, bisakah kau sedikit memajukan tubuhmu?" pinta Jungsoo. Meskipun bingung, Jeno tetap melakukan apa yang Jungsoo perintahkan. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Jungsoo.
Jungsoo meraba sekitar leher Jeno, beberapa kecurigaan akan kondisi Jeno sedang memenuhi pikirannya saat ini. Dan tepat ketika ia menemukan sebuah benjolan kecil di sekitar leher Jeno, hatinya terasa miris.
"apakah benjolan ini sakit ketika kutekan seperti ini?" Jungsoo menekan benjolan disekitar leher Jeno. Jeno menggeleng. Ia sendiri bahkan tidak tahu kalau ada benjolan itu dilehernya.
"nyonya, sepertinya kita harus melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi putra anda" nada Jungsoo terdengar serius, membuat Nyonya Kim dan Jeno menjadi takut.
"ada apa, seonsaengnim? Apakah terjadi sesuatu pada Jeno?" tanya nyonya Kim dengan penuh keekhawatiran.
"saya belum bisa memastikannya, nyonya. Kita harus melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kebenarannya. Pemeriksaannya tidak lama, nanti setelah 3 jam hasilnya sudah bisa diambil"
Nyonya Kim mengangguk setuju.
"Jeno-ya, kau siap-siap ya" Jeno hanya bisa mengangguk menanggapi pertanyaan Jungsoo, pikirannya sedang tak karuan saat ini.
Setelah berganti baju, ia dijemput oleh beberapa perawat dan diajak memasuki sebuah ruangan yang entah apa itu namanya. Ada beberapa alat-alat canggih yang tidak ia mengerti di dalam ruangan tersebut, andaikan saja ibunya diijinkan untuk menemaninya masuk, ia pasti tidak akan setakut ini. Para perawat itu memintanya untuk berbaring dan Jungsoo mengambil sampel darahnya dengan jarum suntik, membuatnya mengernyit sakit ketika jarum suntik itu menembus kullit lengannya. Setelah itu Jungsoo memintanya untuk berbaring menyamping. Ketika melihat apa yang sedang Jungsoo pegang membuatnya ketakutan, sebuah jarum suntik panjang dengan jarum yang tebal dan besar.
Jungsoo yang merasakan ketakutan Jeno, mengelus punggung bocah itu.
"akan sedikit sakit, kau tahan ya" Jeno mengangguk. Semoga tidak sesakit yang ia bayangkan.
"eungh.." Jeno mengerang tertahan ketika jarum itu mulai menembus kulit punggungnya, tangannya mencengkeram sprei dengan erat. Sakit, sakit sekali, rasanya ingin berteriak, tapi mulutnya terasa seperti terkunci. Hanya erangan-erangan kecil yang keluar dari mulutnya.
Setelah sekitar 15 menit proses menyakitkan itu berakhir. Tubuhnya menjadi lemas karena menahan sakit, wajah yang sebelumnya pucat kini menjadi semakin pucat.
"jika kau lelah kau boleh tidur disini, lagipula masih ada waktu 3 jam hingga hasil pemeriksaanmu keluar" Jungsoo mengelus kepala Jeno.
Ingin sekali Jeno keluar dan menemui ibunya, tapi tubuhnya terasa begitu lemas dan punggunya nyeri karena proses tadi. Jadi ia memilih untuk mengangguk dan kemudian memejamkan matanya. Dalam hati ia berdoa, berdoa agar semua baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang terjadi padanya.
.
.
.
See you in next chapter
