Chapter #4
.
Disclaimer
Apapun yang tertulis disini hanya fiksi belaka. Penulis tidak bermaksud untuk mencemarkan nama EXO dan tokoh lainnya. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian nyata, maka itu murni ketidaksengajaan penulis.
Terdapat adegan dewasa. Diharapkan pembaca bijak dan tidak dibawah usia 17 tahun.
Warning
Cerita ini hanya fiksi semata, segala yang tertulis hanya untuk tujuan semata.
Note
Cerita ini terinspirasi dari Sugar Daddy yang sempat trending di Twitter. Penulis tidak bermaksud apapun dan sekali lagi ini merupakan hiburan semata.
Perhatikan
Sugar daddy adalah istilah slang untuk menyebut pria yang menawarkan dukungan finansial maupun materiil kepada seseorang yang lebih muda.
Sugar daddy merupakan sebutan untuk pria dewasa kaya yang menghabiskan uangnya demi membelanjakan kekasih maupun simpanannya berbagai barang. Kekasih atau simpanan tersebut biasanya berusia jauh lebih muda.
Last
Segala tulisan dari cerita ini merupakan fiksi penulis berdasarkan tagar yang sempat trending di twitter. Penulis tidak bermaksud apapun. Maksud dari tulisan ini hanya untuk hiburan semata.
Selamat membaca.
.
.
Tubuh Baekhyun lemas, wajahnya memucat sedang Chanyeol mematung dan mulutnya bergerak mulai menyebut nama Baekhyun.
"Baekhyun? Baekhyun!" Pria itu mengguncang tubuh Baekhyun—panik. Keringat mulai membahasi dan dengan segara mengenakan pakaiannya kemudian menggendong Baekhyun untuk membawanya ke mobil.
Dengan kecepatan penuh Chanyeol menyetir dan melewati semua pengendara dengan menginjak gas tanpa ampun. Pria itu terus menoleh pada Baekhyun yang masih menutup matanya disebelah.
Memastikan ia baik-baik saja, padahal tidak.
"Bertahanlah Baekhyun..."
.
.
Beruntung, Chanyeol bertindak cepat dan segera membawa Baekhyun ke rumah sakit.
Tidak ada diagnosa mengerikan yang akan membahayakan seperti yang dipikiran Chanyeol sejak Baekhyun menutup matanya.
Pria mungil itu hanya kelelahan. Dokter mengatakan akibat tekanan terus menerus pada tubuhnya membuat seluruh tenaganya terkuras habis.
Dan Chanyeol menyesali semuanya.
Merenung dan menundukkan kepalanya. Bertanya pada dirinya mengapa bisa dia sebodoh itu menyakiti Baekhyun dan lihat, sekarang anak itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Salah siapa?
Park Chanyeol.
.
.
Sayangnya, Chanyeol belum bisa mengunjungi Baekhyun dan ia marah akan itu, kepada seorang perawat yang kemudian menjelaskan bahwa mereka perlu melakukan beberapa pengobatan akibat robekan dan lecet di dubur Baekhyun.
Semua karena seks brutal Chanyeol terhadap remaja belia yang ia lakukan tadi.
Chanyeol mengatakan untuk melakukan segala upaya terbaik dan berapapun biayanya akan ia bayar asal bisa bertemu dengannya.
Perawat itu mengangguk kemudian melenggang pergi.
Chanyeol mendesah frustasi dan mengacak rambutnya.
Pria itu sangat kacau setelah sadar semua perlakuannya pada Baekhyun.
Tak lama, ponselnya berdering. Chanyeol mencoba untuk tidak mengangkatnya tapi suara menjengkelkan itu terus berputar hingga akhirnya ia mengalah.
Ternyata itu telepon dari kakaknya, Yoora.
Sial...
Dengan keterpaksaan, Chanyeol mengangkat telepon itu dengan malas.
"Sampai kapan kau mau meninggalkan anakmu, Chanyeol?"
Benar saja. Kata sialnya berguna saat ini.
"Anak?" Chanyeol balas bertanya.
Yoora disana mendecih, "Ya. Selamat, kau menjadi seorang Ayah."
Kedua bola mata Chanyeol membesar. Jantungnya berdegup kencang dan hampir saja ia menjatuhkan rahangnya ke lantai.
"Oh." Jawabnya singkat. Tak ada kata-kata yang bisa ia ungkapkan sedang Yoora terus mendecih kesal padanya diujung sana.
"Dengar," Yoora melanjutkan. "terserah apa yang akan kau lakukan. Tapi tolong, anak itu adalah anakmu. Tanggung jawabmu, kau tahu?" Yoora begitu muaknya dengan Chanyeol yang hanya menerpa nafasnya dan ia benci itu.
"Dimana jalang itu?"
"Chanyeol, berhenti menyebutnya Jalang!" Yoora berteriak dan Chanyeol mengakhiri panggilan.
Si tinggi itu duduk di depan ruang Unit Gawat Darurat. Mengacak rambutnya dan menundukkan kepalanya.
Dunia seolah tak berpihak padanya dan mengapa begitu banyak cobaan yang harus ia hadapi.
"Wali Byun Baekhyun, silahkan masuk." Seorang perawat keluar dan Chanyeol reflek menoleh kemudian bangkit.
Dilihatnya wajah cantik itu terbaring lemah. Bibir merah mudanya memucat. Tangan lentik kurusnya lemah tak berdaya.
Seolah semua yang ia katakan kemarin adalah omong kosong belaka.
Untuk tidak merasa takut dan meyakini Baekhyun bahwa semua baik-baik saja.
Tangan besar itu meraih tangan lentik yang tergeletak kemudian menggenggamnya erat. Kedua tangannya menggenggam dan ia cium kemudian.
"Kumohon, semua yang ku katakan benar akan kulakukan. Jangan seperti ini, aku..." Chanyeol berhenti dengan kalimatnya. Menahan tetes yang hendak lolos dari pelupuk mata.
Tak lama, tangan Baekhyun yang lainnya bergerak pelan. Chanyeol tersadar dan dengan segera memanggil perawat.
Namun Baekhyun menahannya.
"D-daddy... jangan pergi. Tetap disini..." Suara lemahnya menyapa Chanyeol yang hampir menyerah. Matanya berbinar penuh harapan.
Oh, terima kasih tuhan
"Aku pikir, aku akan kehilangamu, Baekhyun." Chanyeol berucap setelahnya kemudian mengusap rambut Baekhyun lembut.
Anak itu tersenyum. Senyum hangat dan menjalar padanya. Tidak lupa balas menggenggam erat tangannya.
Sejak kapan terakhir kali ia merasakan hal ini. Sudah sangat lama, kira-kira jauh saat dirinya masih bayi.
Mengingat Chanyeol hanya hidup berdua dengan Kakaknya dengan kedua orang tua yang meninggal saat kecelakaan menimpa.
Dua bersaudara itu sedang melakukan karyawisata. Dan tepat saat mereka sampai di depan pintu rumah, dua peti mayat datang dan Chanyeol lah yang menangis paling keras.
Matanya tak tahan menahan seluruh sesak dan membiarkan setidaknya satu tetes lolos. Dia juga manusia.
Tangan Baekhyun begitu halus, hangat. Entah mengapa, Chanyeol merasa tangan dan jari itu terasa sangat pas dengannya.
Memikirkan bagaimana jahatnya dia pada anak tak berdosa ini hingga membuatnya menderita.
Baekhyun melihat Chanyeol yang tersendu. Tangannya merasakan basah air mata. Dengan pelan, Baekhyun mencoba meraih kemudian menyapu tangisnya.
Pria tinggi itu mendongak, menatap yang sedang berbaring dan lihat, mengapa dia harus tersenyum seperti itu?
Chanyeol merasa semakin berdosa.
Dia tak pantas untuk Baekhyun.
.
.
Mereka sampai dirumah setelah tiga hari menginap dengan Chanyeol yang selalu disisinya dan Baekhyun yang selalu merasa sok kuat padahal dia bahkan tak mampu menggenggam tangan Chanyeol.
Pria itu mendorong kursi roda menuju kamar dan kemudian memindahkan Baekhyun di ranjang.
Chanyeol meminta pada Baekhyun untuk menunggu sebentar sedang ia akan pergi guna membeli keperluan makanan mereka.
Tiga hari tak dirumah tanpa seorang maid. Bagaimana bisa kulkas kosong itu akan berisi dengan sendirinya.
Jaraknya tidak terlalu jauh dan bisa di tempuh hanya dengan berjalan kaki memakan waktu sekitar lima menit. Bukan masalah besar karena memang biasanya itu yang ia lakukan.
Masalahnya adalah setiap dia sampai disana, mendadak pikirannya menjadi buntu. Chanyeol benar-benar payah dalam hal berbelanja walaupun ia suka.
Takut akan membuat Baekhyun ketakutan jika membiarkannya sendirian terlalu lama, Chanyeol sembarang mengambil sayuran dan beberapa potong daging.
Saat hendak mengambil sebuah susu, tangannya bertemu tangan lain yang hendak mengambil barang serupa.
"Park.. Chanyeol?"
.
.
Pendatang asing dengan kulit pucat dan alis hitam itu tersenyum mengejek. Chanyeol memutar bola mata—malas.
Mengapa bisa aku berpapasan pada sial satu ini?
"Wah, kau kelihatannya baik-baik saja, hm?" Ucap pria menyebalkan itu dan Chanyeol mendecih halus.
"Apa mau-mu, ha?" Tanya Chanyeol kasar.
Chanyeol membalikkan badannya untuk segara pergi. Tahu jika omong kosong ini terus berlanjut maka takkan ada ujungnya.
"Ku dengar dia sangat cantik." Ucapnya tiba-tiba yang kemudian membuat Chanyeol menoleh bingung dengan maksud perkataan orang tersebut.
"Maksudmu?" Sungguh, Chanyeol bingung dan tak mengerti akan perkataannya.
Pria itu malah mendecih kemudian memutar bola matanya, "Akhirnya aku memiliki keponakan. Selamat. Penismu melakukan tugasnya dengan baik."
Dia berlalu kemudian meraih bawah Chanyeol yang tenang tapi bisa ia rasakan itu sangat menggunung.
Chanyeol menatapnya pergi dengan wajah tak percaya dan penuh tanya.
Mengapa bisa...
Lupakan itu dan mari kembali kerumah karena seseorang sudah menunggu disana.
.
.
Chanyeol menekan tombol sandi pintu rumahnya dengan tenang. Kemudian suara tak asing menyapa gendang telinganya.
"Oh halo, Chanyeol. Mengapa tak memperkenalkan dia padaku?"
Yoora datang berkunjung tanpa sepengetahuannya.
To be continued...
.
.
Sampah :
Klean mantap kalo ngomen wa suka. Semoga konfliknya ga berat ya beb dan tida menyakiti ulu hati kleand. Asik.
Ripiu ya jangan lupa. Kalo lupa aku gratisin kentang.
Makasih, lopyu.
Jangan lupa striming Un Village yak, semua member exu ngehype lo ini.. spesial chap ini aku percepat, sarangek.
