Udaranya dingin sekali.

Ini masih pukul lima pagi dan Tokyo baru saja selesai memuntahkan tangisannya. Aroma petrichor masih tercium kuat, membuat indera penciumanku merasa betah. Namun suasana dingin yang menusuk tulang membuatku ingin cepat-cepat masuk ke apartemen dan menyalakan heater.

"Kau seharusnya tidak boleh pergi. Dasar jahat." aku merutuk kepada pria pirang-ku. Pada jam segini, Naruto sudah berada di bandara, sudah siap dengan satu koper besar dan tas selempang kecil. Kelihatan tampan walau tak menghilangkan kesan konyolnya.

"Maaf, Sakura. Tapi Kaa-san membutuhkanku untuk merawat Otou-san. Dia tidak bisa mengurus Karin dan merawat Otou-san sendirian." Naruto menatapku dengan sorot terharu, matanya berkaca, membuat penglihatanku sesaat memburam.

Uzumaki Karin adalah adik perempuan Naruto yang baru berusia tujuh tahun. Gadis kecil dengan rambut merah menyala itu sudah menggunakan kacamata di usia belianya. Sedangkan ayah Naruto, Minato-oji-san, pria itu tiba-tiba terserang flu, membuat Ibu Naruto, Kushina-oba-san, merasa kerepotan mengurus keduanya. Aku tidak terlalu dekat dengan mereka karena mereka sekarang tinggal jauh di pelosok Jepang, dan aku di ibukotanya. Oji-san dan Oba-san adalah pemilik beberapa perusahaan berbasis komputer terbesar di Tokyo.

"Kau bisa mengajakku." aku tetap merajuk, menatapnya kesal dan menyilangkan tangan didepan dada.

Naruto menghela napas pelan, maju selangkah dan mengusap lembut rambut sepunggungku. Matanya yang sebiru langit menatapku hangat, membuatku merasa tenang dalam sekejap. Naruto bisa sedewasa ini dalam kondisi tertentu. Dia sebenarnya memang bisa diandalkan.

"Aku tidak mau membuat Paman Kizashi dan Bibi Mebuki merasa khawatir. Aku tidak bisa berjanji berat dengan membawamu pulang pergi dalam jarak yang jauh, Sakura."

Akhirnya aku memilih mengalah. Mendongak dan tak bisa menahan senyum ketika melihat sorot memelasnya. "Dasar ceroboh."

Naruto tersenyum, lalu menarikku kedalam pelukan panjang. "Kau harus hati-hati saat aku tak ada, ya. Katakan padaku kalau teme kurang ajar padamu."

Aku tergelak pelan, memukul ringan punggungnya. "Kau juga jangan kebanyakan melirik gadis lain. Jangan coba-coba dengan gadis lain, Pirang. Aku akan memotong masa depanmu kalau kau mengkhianati gadis bermata bulan itu."

"Jangan bersetubuh dengan Sasuke tanpa ijinku, ya." bisik pria itu membalasku, sangat pelan di telingaku, walau aku yakin takkan ada yang mendengarnya karena suasana bandara yang mulai ramai.

Aku bersemu. Mendelik dan mencubit pinggangnya dengan cubitan mautku, membuatnya melepaskan pelukan dan menghancurkan suasana penuh haru ini. "Baka." makiku, berkacak pinggang.

Naruto terkekeh, masih mengusap-usap pinggangnya yang tadi kucubit. "Aku tahu kau tertarik padanya. Dia itu berbahaya, Pink. Dia terlalu kelam untukmu."

Perkataannya membuatku termangu bingung. "Apa maksudmu?"

Naruto tergelak keras kali ini. "Oh, ayolah, Sakura, kau tidak mungkin tidak tahu tentang perjalanan dan reputasi seorang Uchiha Sasuke, kan?"

Jantungku berdebar terlalu keras, mataku memicing tajam kearah Naruto, membuat tawa pria itu lenyap tak berbekas. Rautnya serius, membuat perasaan aneh menyeruak ke dalam dadaku. "Kau benar-benar tidak tahu, Sakura?"

Aku mengangguk cepat, menggigit bibir bawahku. "Katakan, Naruto."

Naruto mengusap wajahnya frustasi. "Tak ada waktu untuk membicarakannya. Sebentar lagi aku harus take off. Tapi kurasa kau bisa mencari semuanya di internet." Lalu tanpa banyak bicara, pria itu memelukku hangat dan melambaikan tangan, berjalan kearah armada terbesar disana.

Meninggalkan aku dan sejuta pikiran liar di otakku. Aku kebingungan setengah mati. Aku penasaran setengah mati. Dan aku takut setengah mati. Mungkin beberapa detik lagi aku akan mati depresi hanya karena perkataan Naruto yang penuh selubung misteri. Aku tak yakin kalau aku akan baik-baik-saja setelah aku mencari semuanya di internet.

"Kau tampak bingung."

Aku tersentak kaget saat mendengar suara datar penuh intimidasi itu. Berbalik badan dan menemukan seorang pria berbalut kemeja navy yang dua kancing teratasnya tak terpasang. Masih tampak sesempurna itu dan se sensual itu. Menyorotku dengan sorot bersahabat walau raut wajahnya terlampau datar. Aku menegang. Keringat dingin menetes dari keningku. Disaat seperti ini aku masih bisa berpikir kalau Tuhan sedang bahagia ketika menciptakannya. Pesona bungsu Uchiha ini sangat berbahaya.

"A-aku baik-baik saja." aku berusaha menyungging senyum senatural mungkin, tak yakin kalau itu akan berhasil. Tenggorokanku terasa tercekat sesuatu yang menyakitkan.

Kening Sasuke berkerut, tampak tidak puas dengan jawabanku. "Kau sedang berbohong." tembaknya langsung, membuatku mati kutu seketika.

Aku mengalihkan pandang. "Aku harus pulang. Kau bisa datang jam sembilan. Permisi." jawabku tanpa menatap obsidiannya.

Saat aku akan melangkah pergi dari hadapan Sasuke, pria itu mencekal lenganku. Membuat langkahku terhenti, dan nafasku nyaris terhenti juga. "Apa kau baik-baik saja, Sakura?"

Astaga.

Aku bahkan masih bisa mengagumi kesan seksi dalam suara rendahnya ketika ia menyebut namaku.

Aku sudah gila.

Saat aku menatap sekilas kearah wajahnya yang menatapku khawatir, aku merasa tersentuh. Sedikit. Namun aku memilih melepaskan cekalan tangannya.

"Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh tidur sedikit lebih lama, Sasuke." aku menyungging senyum tipis, menahan nafas ketika mengatakannya, lalu benar-benar pergi dari hadapannya.

Around You

-Chapter 4 : Crap

*Uchiha Sasuke - Haruno Sakura

Kishomoto-sensei

• uchihakaelynna

Satu bulan yang lalu, Sasuke dikabarkan keluar dari hotel dengan seorang model wanita papan atas pada tengah malam. Beberapa hari setelahnya pria itu tertangkap kamera sedang berciuman dengan wanita pengusaha kosmetik terbesar kedua di Jepang di sudut pantai. Dua minggu lalu, Sasuke sempat masuk surat kabar karena pertengkarannya dengan seorang aktris majalah dewasa kaya raya dipinggir restoran ternama. Dan tiga hari setelahnya pria itu sudah menggandeng model pirang dari luar negeri saat grand opening salah satu hotelnya.

Mataku membelalak tak percaya setelah selesai membaca belasan artikel dalam waktu dua jam ini. Rasa perih pada mataku kuabaikan, pikiranku lebih terfokus pada fakta-fakta tak masuk akal didalamnya.

Sasuke adalah playboy kelas berat. Dia adalah CEO perusahaan properti yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan Naruto. Perusahaan nomor satu di Asia, mungkin? Ah, tidak. Aku bisa membaca kalau usaha propertinya juga sudah merambah Bulgaria, Amerika, California dan bahkan Forks. Pewaris tunggal Uchiha Corp karena kakaknya memilih menjalankan usahanya sendiri dari nol, tak mau ikut campur tangan bisnis yang menyangkut keluarganya.

Diusianya yang kutaksir masih 18 tahun, pria itu sudah memegang semua kendali klan Uchiha. Kecerdasannya yang tergolong diatas rata-rata menjadi nilai plus dalam segala keberhasilannya. Para wanita akan dengan senang hati melebarkan paha mereka untuknya.

Sasuke memang sesempurna itu.

Dan aku baru menyadarinya sekarang, padahal aku sudah berteman dengan Naruto sejak bayi.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan ketika aku mengangkat wajah dari layar laptopku. Masih tersisa satu setengah jam sebelum pria itu sampai ke kediamanku.

Ada rasa kecewa yang timbul begitu saja ketika memikirkan tentang semua fakta mengejutkan yang harus kutelan bulat-bulat pagi ini.

Bagaimana kalau dia hanya menginginkanku hari ini dan bukan besok?

Bagaimana kalau aku akan berakhir sama mengenaskannya dengan boneka-boneka miliknya yang terdahulu?

Bagaimana kalau ketertarikannya benar-benar hanya pada tubuhku dan hanya untuk sesaat?

Bagaimana kalau...--

BRAK!!

Aku nyaris terjengkang ketika suara itu memutus lamunanku, atau bahkan nyaris memutus nyawaku.

Mataku nyaris lepas dari rongganya ketika mendapati pintu apartemenku sudah lepas dari engselnya. Mendapati si pelaku yang saat ini tengah terengah-engah, membuatku ikut merasa gerah juga.

Uchiha Sasuke disana.

Di ambang pintu apartemenku. Berdiri terengah, menatapku tajam. Matanya hanya sempat melirik sedetik pada pintu apartemenku yang terbanting mengenaskan, lalu berjalan melewatinya begitu saja tanpa belas kasihan. "Sebentar lagi petugas akan datang untuk memperbaikinya," ujar pria itu datar, menyadari arti tatapanku.

Aku menatapnya sejenak, lalu memijat pangkal hidungku frustasi. "Biayanya tidak murah, kau tahu. Kau bisa menekan bel, bukan melepas pintuku lalu berkata kalau semuanya akan baik-baik saja, Sasuke."

"Aku yang menanggungnya. Ini kesalahanku. Sekarang kita sudahi topik ini, ada topik yang lebih penting."

Sorot obsidiannya kian menajam, menusuk ke retinaku terlalu dalam membuat tubuhku melemas dibawah tatapannya. Aku meneguk ludah, menyadari dalam hati kalau aura mengintimidasinya menguar sepuluh kali lebih kuat dari biasanya. "A-apa--"

"Kau."

Jari telunjuknya menunjuk kearah wajahku dengan tidak sopan, membuatku nyaris berdecak kalau tidak ingat situasi diantara kami. "Apa yang kulakukan?"

Matanya memicing, menatapku seraya menyeringai kecil. "Pertama, kau menyembunyikan sesuatu tentangku beberapa jam yang lalu. Kedua, kau tidak mendengar bel yang kupencet lebih dari lima kali. Ketiga..."

Seringainya kian lebar ketika menatap kebelakang tubuhku, membuatku langsung meneguk ludah kepayahan. Aku merinding melihat seringainya. Aku basah hanya karena bibirnya yang terangkat sebelah dengan penuh arti tersembunyi.

"... kau penasaran terhadapku."

Crap.

Tubuhku menegang, baru sadar kalau yang dibelakang tubuhku adalah laptopku. Yang masih menampilkan jendela tentang gosip-gosip yang berkaitan dengan bungsu Uchiha ini. Wajahku memanas.

Aku butuh air.

.

Ah, kita ketemu lagi, Minna!Sebenarnya work ini sudah selesai sampai chapter 10 di draft saya. Tapi, saya nggak langsung update cepet buat lihat keantusiasan para readers. Kalau readers makin sepi, saya jadi ragu lagi sama tulisan saya :') Dan saya juga merasa nggak dihargai. Saya mengawali kebiasaan menulis saya dari wattpad...Disana, saya mulai belajar. Tapi disana juga, saya kehilangan kepercayaan diri saya dengan tulisan saya. Yang baca sudah banyak, yang vote bahkan nggak ada seperdelapannya. Sebagai penulis, saya merasa nggak dihargai. Terlebih karena isi kolom komentar sebagian besar hanya promosi tentang cerita lain..Bahkan ada yang menjiplak karya saya..Dan dia followers saya..Yah, setelah maki-maki dia, saya langsung report ceritanya. Habis itu saya block usernya...Engh, kalau saya terkesan arogan, galak, atau apapun itu yang bersifat negatif, saya minta maaf.Saya hanya ingin dihargai.So...Mind to review?Sankyuu.