Len

Sekolah hari ini cukup memuaskan menurutku. Masukan-masukan Haruyama-sensei benar-benar membuat hatiku nyaman. Tehnya pun berbeda dari teh buatan ibu. Berguling-guling dikasur setelah pulang sekolah memang menyenangkan.

"GUK!"

"MINAAA! Ayo sini sini!"

Mina menjilati wajahku. Ah, dirumah memang nyaman. Bermain bersama Mina, apalagi membaca novel. Novel? NOVELKU?!

Aku meletakkan Mina dilantai, lalu menyambar tas yang kubawa kesekolah. Aku tidak merasa memasukkan buku itu kemari. Tapi aku yakin membacanya saat istirahat sekolah. TIDAK ADA?! Kemana? Kemana novelku?

AH! Ruang konsultasi! Jam 4 kurang 15, apa sensei masih disekolah ya? Aku harus kembali secepatnya! Bodohnya diriku!

Setelah mengganti seragamku dengan baju casual, aku segera mengayuh sepedaku kencang ke sekolah. Syukurlah gerbang belum ditutup. Hm? Mobil? Kepala sekolah belum pulang ya?

"Araa~ araa~ Rin-chan! Ada apa?" tanya paman penjaga sekolah.

"Ada barangku tertinggal di ruang konsultasi. Haruyama-sensei sudah pulang, paman?"

"Belum, mungkin dia masih diruangannya."

"terimakasih banyak, paman!" aku segera memarkir sepeda di tempat penyimpanan sepeda. Kemudian segera menaiki tangga. Ruang konsultasi ada di lantai tiga, sama dengan ruang kelasku. Saat kulewati ruang kepala sekolah, ruangan itu kosong. Lalu itu mobil siapa?

Sampailah ditikungan tepat dimana aku tadi bertabrakan dengan sensei. He? Siapa itu? Aku menghentikan langkahku. Cowok berambut kuning yang diikat rambutnya kebelakang memakai seragam lain berdiri di depan ruang konsultasi. Apa kenalan sensei? Ah! Dia memegang novelku yang kucari! Bagaimana ini? Ngg? Aduuh! Dewi Haru! Tolong aku!

Angin berhembus pelan. Pasir yang masuk lewat jendela koridor yang terbuka membuat mataku perih. "uuh." CELAKA! AKU BERSUARA!

Pandangan mataku kabur. Perihnya mata membuat air mataku keluar begitu saja. Aku melihat... dia mendekat. Astaga! Seandainya pandanganku tidak kabur seperti ini, aku pasti segera berlari. Jangan! Jangan dekati aku!

"Kau tak apa?" tanyanya.

Suaranya dekat sekali. Aku menutup mataku karena perih. Tapi bisa kurasakan dia berdiri di hadapanku. "perih.."

"Diam sebentar." Tangan kirinya menyentuh wajahku. "Bisa pegang ini?" dia memberikan buku untuk kupegang, lalu ia membuka mata kananku dengan tangan kirinya.

"hah? Hei mau apa kkk..."

Dia meniup mata kananku. Kemudian mata kiriku. Dia mengeluarkan sapu tangan, lalu melepaskan tangan kanannya dari wajahku. "pakai ini."

OH! RASANYA AKU AKAN MELEDAK! Dewi Haru.. apa maksud dari ini semua?! Aku mengambil sapu tangan cowok itu lalu kugunakan untuk mengusap sisa air mata. Sudah tidak perih lagi. Pandanganku normal kembali.

"debu atau pasir yang masuk ke mata berbahaya, lho. Hati-hati lain kali, ya!" ucapnya ramah. "ngg.. maaf kalau aku tiba-tiba.."

Astaga! Pipinya merah. Beginikah kalau cowok merasa malu? "Aku Rin Kagamine." Aku tersenyum padanya.

"Jadi kau yang bernama Rin Kagamine! Aku diperintahkan oleh sensei dari ruangan itu untuk mengembalikan ngg...dimana bukunya?"

"Maksudmu ini?" aku menunjukan buku yang sedari tadi kupegang.

"Ah, ya itu! Kalau begitu, tugasku selesai."

"Terimakasih...ngg...apa kau anak pindahan dari China itu?"

"Kau tahu soal itu?"

"ya, Haruyama-sensei yang bilang."

"Haruyama-sensei?"

"aa, maksudku guru yang tadi memerintahkanmu untuk mengembalikan ini padaku."

"hoo, namanya Haruyama-sensei..."

"Begitulah."

"ngg...kalau begitu aku permisi, Kagamine. Aku harus segera pulang."

"Aku mengerti. Aku kemari juga hanya ingin mencari novel ini. Ja, sampai besok." Aku menunduk, lalu berbalik arah menuruni tangga.

"Kagamine!" panggilnya.

"Ya, Len?"

"Len?" dia terdiam. "Hahahahahahaha!"

Hah? Ada apa ini?! Aku naik kembali dan kudekati dia. "HEI! KAU INI KENAPA?!"

"Astaga..baru pertama kali ada yang memanggil namaku tanpa "i" seperti itu. Lucu sekali!" dia masih tertawa.

AAAAAHH! MALU SEKALI! Mungkin sensei tertawa juga sewaktu aku memanggil nama Lien menjadi Len, ya! Dewi Haru! Kenapa kau tidak mengingatkanku! "Cih! Lagipula ini Jepang, bukan China, bodoh!"

"Ya..ya tak apa. Kau ini lugu sekali! Khusus untukmu, kau boleh memanggilku dengan Len. Hahahahaha."

"Jangan menghinaku!"

Dia menghentikan tawanya. "Aku tidak menghinamu, Kagamine. Aku sudah dengar tentangmu dari sensei. Soal rumor dan gosip yang melenceng soalmu. Aku menyesal mendengarnya."

SENSEI BODOH! Kenapa cerita pada orang ini?! Memalukan. "Ah, tak apa. Aku berusaha melupakannya."

"Kau gadis yang tegar. Aku harus belajar banyak darimu. Semoga besok kita bisa satu kelas, ya. Aku mau jadi temanmu." Dia tersenyum. "sebagai hadiah, aku akan menggunakan nama Len selama bersekolah disini."

"Kau menghinaku, Lien!"

"Len! Pokoknya Len! Aku jadi suka nama itu!" senyum jailnya memancar. Jelas jelas dia menghinaku.

"Terserah! Aku mau pulang!"

"Sampai besok, Rin-chan! Oh, ya! Bawa novel itu kesekolah besok ya. Sempat kubaca sinopsisnya tadi, aku tertarik untuk membacanya."

Aku mengangguk. Lalu menuruni tangga. Dadaku sesak. Kenapa ya? Aku memalingkan wajah dan menatap Len diatas. Dia tersenyum padaku. uwah! Uwah! Apakah.. apakah itu senyum cowok sebenarnya? Ma..manis sekali! Len...

Aku berlari menuruni tangga. Aku tak ingin wajahku dilihat oleh siapapun! Saat ini, aku yakin wajahku tak enak dipandang karena malu! Dewi Haru... semoga saja Len bisa satu kelas denganku!