WARNING: DLDR, TYPO, Gaje, Alur berantakan, Bahasa kacau, cerita suka-suka auth, nggak ada judul gamenya, dll
Disclaimer Naruto : Masashi Kishimoto
Di game online pasti ada yang berpacaran di game, istilah lainnya couples. Banyak yang jatuh cinta sungguhan karenanya. Aku Haruno Sakura, hanya menganggap game online hanya sebuah game, tidak lebih.
JUST GAME
"Aku takut anak ini nyasar."
"Kaa-san."
Aku memandang mereka berdua secara bergantian. Sang ibu hanya terkikik geli setelah menggoda anaknya yang –aku lihat- memiliki harga diri tinggi. Dan sang anak hanya memutar bola matanya. Beberapa saat mata kami bertemu –aku dan Sasuke, aku tersenyum dipaksakan kearahnya lalu membuang pandanganku kearah lain.
"Ngomong-ngomong," aku menengok ke arah Mikoto-baasan.
"Ya?" tanyaku sopan.
"Sakura-chan sudah SMA? Setauku di dekat SMP 1 hanya ada SMA." Tanyanya dengan lembut. Aku tersenyum ramah memperlihat gigi putihku.
"Iya, aku sudah SMA. Sekolahnya bukan berdekatan lagi, tapi bersebelahan, Baa-san." Jelasku singkat. Mikoto-baasan tersenyum sumringah. Dan aku dibuat bingung karenanya. Aku hanya merasa ada sesuatu dibalik senyumannya itu. Dan itu membuat senyumnya terkesan horror.
"Ah, kebetulan sekali. Aku titip Sasuke ya!" ujarnya yang semakin membuatku bingung.
"Sasuke, nanti jangan lupa mengambil jadwal juga bukumu ya. Sakura, tolong saat menyebrang nanti pegangi Sasuke ya. Maaf aku harus kedalam, banyak yang harus dirapihkan." Dan wanita paruh baya itu pun ngacir kedalam melepas tanggung jawabnya sebagai ibu yang seharusnya mengantar anaknya mengurus sekolah barunya, bukannya orang asing yang baru saja dikenalnya. Aku sweatdrop seketika.
"Kaa-san!" Sasuke menggerutu. Entah karena ibunya menyuruhku mendampinginya saat menyebrang (agak memalukan memang), atau karena ibunya main memutuskan dan pergi begitu saja? Entah lah, hanya dia dan Tuhan yang tau. Dan… sepertinya aku belum meng-iya-kan permintaan wanita tersebut. Aku hanya bisa meringis.
"Err… Ayo Sasuke-san."ajakku canggung.
Sudah lima menit kami berjalan kearah sekolah dan hanya diisi keheningan diantara kami berdua. Sebenarnya tidak hening-hening amat karena minggu pagi ini cukup ramai. Tapi hanya kami berdua lah yang mengheningkan (?) diri. Oke, aku merasa sulit untuk mengakrabkan diri dengan Sasuke. Dia anak terlihat seperti anak pendiam dan, err sok cool –boleh kubilang begitu? Dan pastinya jika aku mengajaknya bicara pasti dia akan menjawab seadanya tanpa menanyai balik. Lagipula Sasuke hanya mengekoriku dibelakang.
Kami baru saja keluar dari area perumahan, dan sekarang sudah berada di jalan yang lebih besar dan lebih ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang. Aku berhenti berjalan saat ingin menyebrang, lampu lalulintas kendaraan masih hijau dan lampu tanda menyebrang masih merah. Aku mengingat perkataan Mikoto-baasan tadi, mengenai 'menuntun Sasuke saat menyebrang', mungkin itu hanya candaan. Tidak mungkin 'kan anak seusia Sasuke tidak bisa menyebrang? Hahaha ayolah.
Tak lama kemudian lampu lalulintas itupun menjadi merah, dan tanda menyebrang sudah berubah menjadi hijau. Seketika orang-orang yang menunggu ingin menyebrang berbondong-bondong berjalan melewati zebra cross termasuk aku. Namun ditengah jalan saat menyebrang, aku merasa ekorku –maksudku, Sasuke tidak mengekoriku. Aku mengedarkan pandanganku dengan liar mencari sosok anak laki dengan bentuk rambut agak mencolok itu ditengah kerumunan orang yang menyebrang. Dan aku menemukannya, tapi tidak ditengah-tengah kerumunan orang yang menyebrang. Dia tidak menyebrang, dia diam berdiri disana, diujung penyebrangan dan hanya memandangku.
"Sasuke-san!" Aku melihat kearah lampu lalulintas diujung sana, lampunya menyala warna kuning. Seketika aku berlari kembali kearah Sasuke sebelum lampu kembali hijau. Dan aku sampai diujung zebra cross sedetik sebelum lampu benar-benar berwarna hijau.
"Kenapa kamu diam saja?!" tanyaku kesal, ini hampir membunuhku kau tau?
"Kau tak ingat pesan ibuku?" Tanya balik Sasuke.
"Hah?" aku membelakan mataku seketika. Jadi Sasuke benar-benar tidak bisa menyebrang?
"Hn. Kau tidak pikun, bukan?" Sasuke menyindirku terdengar dari nada biaranya. Dan disaat begini dia masih bisa menyindirku? Seharusnya dia yang merasa malu karena tidak bisa menyebrang. Atau dia malah membanggakan dirinya? 'Heii~aku sudah SMP masih saja tidak bisa menyebrang, dan aku bangga!' Ck, jangan bercanda!
"Hhh~" Aku langsung menggenggam pergelangan tangan Sasuke untuk menuntunnya. Tapi anak ini malah menepis tanganku dan… dia menggenggam telapak tanganku? Bukan saja menggenggam, dia juga menyelipkan jari-jarinya diantara jari-jariku. He-hei, sebegitu takutnya kah sampai harus menggenggam tanganku erat-erat? Aku menatapnya bingung dan dia hanya menatap lurus kedepan dengan ekspresi datar.
Lampu kembali merah dan aku langsung melangkah melewati zebra cross dengan sedikit menarik Sasuke. Dan Sasuke hanya mengikuti tarikanku dengan pasrah seperti menggantungkan hidupnya padaku di tengah-tengah kerumunan orang yang menyebrang.
Saat sampai diujung penyebrangan, aku mengisyaratkan Sasuke agar segera melepaskan tanganku. Aku mengangkat –ehem tangan kami yang saling berpautan sejajar dengan wajahnya, aku tersenyum sambil menurunkan sebelah alis mataku. Bukannya melepaskan ganggamannya, dia malah menarik turun tangan kami berdua. Tentu saja aku kaget, maksudnya apa? Dia tidak mau melepaskan genggamannya atau bagaimana? Kami telah berhasil menyebrangi jalan raya yang tidak begitu berbahaya itu.
"H-Hei, kita sudah menyebrang, bukan?" Aku merutuki diriku sendiri karena pertanyaan yang aku lemparkan kepada Sasuke. Tentu saja kami sudah menyebrang, nenek-nenek sedang kayang yang melihat kami menyebrang pun tau itu. Dan Sasuke hanya mengangkat kedua bahunya tak mau tau dengan wajah datar, dan itu terkesan aneh asal kalian tau.
Aku menarik tanganku agar terlepas darinya. Tapi tangan Sasuke juga jadi ikut tertarik.
"Hhhh… Kenapa?" tanyaku pasrah. Anak ini benar-benar tidak mau melepaskan tangannya. Bahkan aku sudah merasakan tanganku –atau mungkin tangan Sasuke sudah berkeringat.
"Aku takut tersesat, ini tepat yang asing bagiku… Sakura-nee." Aku kembali terbelak. Sasuke yang sedari kemarin memasang wajah datar tanpa ekspresi yang terkesan cool, kini memperlihatkan wajah memelasnya. Kuulangi sekali lagi saudara-saudara sebangsa dan setanah air, WAJAH MEMELAS! Aku tidak menyangka anak yang kupikir dingin sedingin es, dan datar sedatar tembok bisa menunjukan ekspresi seperti itu? Bahkan Gaara kekasih Matsuri yang juga bisa dibilang dingin itu pun tidak pernah menunjukan ekspresi itu. Walaupun terhadap kekasihnya sendiri, itu yang kutau dari Matsuri. Matsuri pernah cerita bahwa ekspresi lain dari kedatarannya Gaara adalah 'Blushing malu-malu', Matsuri menyebutnya begitu.
"Ta-tapi 'kan-"
"Biarkan seperti ini ya?" Tanya Sasuke masih dengan wajah memelas. Aku terkesima, jelas. Wajahnya begitu, err i-imut.
"B-baik lah."
Aku merasakan pipiku terasa geli dan panas entah karena apa. Tapi, aku menyerah kali ini. Wajah memelasnya benar-benar membuatku luluh. Jangan salahkan aku yang mudah luluh dengan tatapan memelasnya itu, salahkan dia yang punya wajah tampan! Hei, aku hanya mengakui dia itu tampan tidak salah, kan'? Kalau aku mengatainya jelek, barulah aku bersalah.
"Kemana arahnya?" tanya Sasuke yang telah menghilangkan wajah memelasnya digantikan dengan wajah datar nan dinginnya. Sekarang aku mengerti, wajah memelasnya itu hanya topeng yang berbahaya.
Aku menunduk pasrah, sambil menunjuk ke arah kanan. Detik berikutnya aku merasa tertarik kearah yang baru saja kutunjuk. Aku memilih menunduk daripada memperhatikan jalan. Karena aku dapat merasakan berpasang-pasang mata melirik kami dan bisikan-bisikan setan beberapa orang yang kami lewati. Ada yang memuji betapa rupawannya Sasuke, ada yang mencibirku karena dianggap tidak cocok berjalan bersama Sasuke. Ck, tak perlu bisik-bisik begitu, bisikan kalian sangat terdengar jelas dan itu membuat bisikan kalian sangat percuma. Tapi ada juga seorang wanita seksi yang tanpa tau malu terang-terangan merayu Sasuke yang masih SMP dan menyuruhnya meninggalkan aku. Aku sih senang-senang saja jika Sasuke meninggalkan aku disini, lalu dengan makmurnya aku pergi ke toko DVD. Tapi sayang, jika itu benar terjadi Sasuke akan hilang di tengah kota yang asing baginya. Bukan hanya itu, 'masa depannya' yang indah dipastikan juga akan hilang jika dia pergi dengan wanita tadi. Kalian pasti mengerti maksudku. Tapi itu tidak mungkin terjadi, lihat saja genggaman tangannya yang tidak kunjung mengendur itu.
"Hhh…" dan untuk kesekian kalinya aku menghela napas.
"Eit! Aku tidak perlu masuk kedalam, 'kan?" tanyaku sambil menarik Sasuke yang akan membawaku ke dalam SMP 1 itu. Kami baru tiba didepan SMP 1 Konoha, dan Sasuke terus menggenggam tanganku ketika ia ingin masuk ke wilayah sekolah tersebut. Itu berarti aku juga ikut masuk, 'kan? Tidak-tidak! Walaupun aku sudah SMA dan bisa dibilang senpai mereka, tapi aku tidak mau masuk ke sekolah lain selain sekolah yang pernah aku singgahi. Pandangan dari penghuni sekolah yang seakan bertanya 'Siapa dia?' akan sangat menggangguku. Walaupun ini hari libur, pasti ada murid yang datang entah untuk apa.
"Kalau kau tidak ikut, kau pasti kabur." Ujarnya santai nan sotoy(sok tau). Siapa bilang aku mau kabur? Aku mau ke toko DVD lalu pergi berbelanja, kemudian pulang.
"Tidak, aku tidak mau kabur." Jawabku kalem.
"Nanti kau akan meninggalkanku." Ujarnya lagi. Dan kali ini aku hanya diam lalu menunjukan senyum tiga jariku sambil menengglengkan kepalaku kesamping. Dan dia memandangku dengan tatapan jangan-pergi-atau-mati miliknya.
"Yaa yaaa, aku akan- haah~ menunggu disini." Aku menundukan kepala memandang jari-jariku yang bermain-main digenggaman Sasuke meminta dilepas. Demi apapun, tanganku terasa sangat lembab.
"Aku janji." Ucapku lagi untuk meyakinkannya. Janji harus ditepati. Meskipun aku harus mengundur waktu untuk menonton DVD Doraemon yang akan kubeli nanti.
"Hn." Entahlah dia bergumam apa, tapi yang kuketahui itu artinya 'iya', karena setelah itu dia melepaskan genggamannya lalu pergi kedalam sekolah. Ha~ leganya~ akhirnya telapak tanganku bisa bernapas kembali. Telapak tanganku sangat lembab dan merah, dan sedikit keram.
Sambil mengibas-ngibaskan tanganku, aku merogoh kantung celanaku dan mengambil handphoneku dari sana. Aku melihat ada dua pesan yang masuk. Yang satu pesan spam dari operator, dan yang satu lagi dari… Pein. Pesan itu sampai sekitar setengah jam yang lalu. Aku dan Pein memang sering saling mengiri pesan. Jika sudah kirim-kiriman begini, kami tidak akan selesai sampai malam hari, sampai akhirnya salah satu dari kami mengundurkan diri untuk tidur.
From: Pein
Subject:
Ohayou Sakura~:D
Aku tersenyum membaca pesan singkatnya itu. Walaupun hanya ucapan selamat pagi tapi itu sudah cukup membuat mood-ku membaik. Bukan hanya itu, tiap pesan yang ia kirim pun memberikan rasa bahagia tersendiri bagiku seperti gadis yang sedang jatuh cinta. E-eh, apa mungkin aku menyukainya? E-engga engga engga, kami 'kan baru sekali bertemu, tapi banyak mengobrol.
To: Pein
Subject: (reply)-
Ohayou Pein :D
Maaf baru bales ._.
SEND!
Tidak perlu menunggu lama, handphoneku pun bergetar menandakan adanya pesan yang masuk. Dengan sedikit antusias, aku membaca pesan darinya.
Aku pun menunggu Sasuke sambil sms-an dengan Pein. Pertanyaan-pertanyaan ringan seperti, Lagi apa? Sudah makan? Sudah mandi? Dan sebagainya pun sudah biasa. Percakapan kami tidak begitu penting sih, malah ngga penting. Tapi ini sangat mengasyikan.
"Udahan sms-annya?"
"Uwaa!" aku reflek menjauh dari seseorang yang tiba-tiba mengagetkanku.
"Sa-Sasuke-san?"
Aku reflek menjauh dari orang yang sudah mengganggu acaraku karena kaget. Aku memasukan handphoneku kedalam saku dengan tiba-tiba seperti habis ketahuan melihat yang tidak pantas dilihat (apaan?). Dan orang itu hanya berdiri sambil menatapku dengan pandangan aneh.
"Ngapain?" tanyanya datar. Pertanyaan kayak gitu membuatku terlihat bodoh dimatanya. Mungkin dia akan curiga denganku yang bersikap aneh ini.
Aku menggeleng cepat sambil mengatur kembali ekspresi kagetku ke ekspresi normal. Aku memperhatikan Sasuke yang bembawa sebuah kantong cukup besar di tangan kirinya.
"Sasuke-san ngapain?" Aaakh! Bodoh! Ngapain pake nanya kayak gitu segala sih. Aku membuang muka kearah lain setelah aku menyadari telah melontarkan pertanyaan yang jelas-jelas dengan hanya melihatnya saja aku sudah tau jawabannya. Kecuali kalau aku memang bodoh.
"Eh.. Ekhm maksudku... Udahan urusannya?" ralatku canggung dan tanpa menatapnya sedikitpun. Malu lah, harga diri sudah seperti diinjak-injak diri sendiri. Ok, itu lebay.
"Hn." gumamnya yang lagi-lagi tak aku mengerti. Mungkin itu bukan lagi gumaman, udah jadi kosa kata baginya. Aku harus membiasakan diri sepertinya.
"Kalau sudah, aku harus berbelanja. Berarti kamu ikut ya?" tanyaku yang mungkin seperti meminta izin itu.
"Aku pulang. Aku bisa sendiri." jawabnya datar sambil berlalu melewatiku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, lalu mengejarnya
"Loh bukannya kau tidak hapal jalan di sini?" tanyaku setelah berhasil menyamai langkahnya.
"Hn. Aku tau jalan pulang."
"Lalu bagaimana dengan menyebrang?" aku menunggu beberapa saat untuk mendengar jawabannya. Dia berhenti melangkah, begitu juga aku. Dia menoleh kearahku. Mata onyxnya menatap tepat di pupil mataku.
"Tentu aku bisa." Sasuke menyeringai sebelum akhirnya meninggalkan aku. Namun dia berhenti dan menengok kebelakang, kearahku.
"Oh iya, lain kali kalau menguap tutup mulutmu. Jaa." Sasuke benar-benar meninggalkanku.
Aku mematung setelah mendengar penuturan darinya. Pandanganku menatap punggungnya yang semakin menjauh lalu menghilang ketika dia berbelok. Bukannya Sasuke tidak bisa menyebrang? Bahkan tadi dia memegangiku seperti anak kecil yang takut tertinggal dari orang tuanya. Tapi kenapa dia bilang dia bisa? Lalu maksud dari seringainya itu? Apa aku dipermainkan? Dipermainkan? Dan kenapa dia perlu membahas tentang pagi ini?!
"Rese!" gumamku kesal. Dan setelah itu, sepanjang jalan menuju pasar aku terus menggerutu diiringi tatapan seram dari orang-orang yang aku lewati.
SENIN PAGI
Aku benci senin pagi ini, hari dimana kesibukan dimulai setelah libur. Pagi dimana Sasori-nii tidak bisa mengantarku kesekolah karena ada reuni dari teman-teman SMA-nya. Dan pagi dimana aku harus bertemu dengan dia! Tetangga baruku yang menjengkelkan. Aku tidak sengaja bertemu dengannya setelah melewati rumahnya dan saat itu dia baru saja keluar dengan seragamnya yang tidak dipakai dengan benar.
Blazer yang warnanya senada dengan rambutnya hanya diletakan dipundaknya, kemeja yang tidak dimasukan dan kancing bagian atas dibiarkan terbuka. Juga dasi yang mengendur.
Blush.
Apa yang terjadi pada pipiku?! Aku tidak terpesona, sumpah! Dengan pakaian yang mencerminkan bahwa dia itu bad boy, aku saja sudah malas. Yah walaupun dia terlihat errr keren, tapi aku hanya memujinya, tidak bermaksud apa-apa. Percayalah!
Aku membuang wajahku setelah mata kami bertemu beberapa saat. Aku sadar Sasuke berjalan dibelakangku. Maka dari itu aku mempercepat langkahku agar bisa berjarak agak jauh darinya. Tapi tetap saja, kami bertemu lagi saat di penyebrangan. Aku merutuki si lampu merah ini yang terlalu cepat menyala. Lalu kusadari Sasuke sudah berdiri disebelahku tanpa menoleh kearahku dan dia hanya menatap lurus kedepan.
"O-ohayou Sasuke-san." sapaku sopan. Untuk menghormatinya sebagai tetangga baruku. Aku harus menjaga imej keluargaku, atau lebih tepatnya diriku sendiri.
"Hn." jawabnya singkat. Aku sudah menganggap itu adalah kosa kata, bukan gumaman lagi sejak kemarin. Walaupun aku tidak mengerti maksudnya. Setidaknya aku mengerti bahwa itu adalah respon kalau dia masih bisa bersuara.
Setelah itu tidak ada percakapan lagi diantara kami. Lampu merah pun menyala hijau, aku buru-buru menyebrang meninggalkan Sasuke yang juga menyebrang –ternyata dia benar-benar bisa menyebrang. Selama dijalan menuju sekolah, aku sesekali memainkan handphoneku sambil bersenandung kecil.
Puk
"Sa-ku-ra~" aku menengok kearah seseorang yang menepuk pundakku sambil memanggil namaku.
"I-no-pig." sapaku balik sambil mengejeknya karena masih kesal dengan kejadian sabtu kemarin. Kalian ingat?
"Jidatmu semakin hari semakin lebar saja." ucap Ino dengan perempatan di dahinya. Dia mendorong jidatku dengan telunjuknya secara tiba-tiba membuatku kaget dan berhenti berjalan. Ino terus berjalan meninggalkanku sambil memain-mainkan rambut blonde-nya dengan bangga dan dengan gaya genit, mengejekku. Aku berlari kearahnya yang sudah berada di depan sana.
"Rambutnya bagus!" aku menjambak rambut pirang panjangnya yang terkuncir itu sambil terus berlari kearah sekolah.
"Sakit, baka!" Ino mengejarku. Mata birunya memelototiku embuatku tertawa bahagia. Memang aku yang memulai mengatainya, tapi dia sudah membalasku dua kali. Pertama dia mengatai jidatku yang katanya semakin lebar, kedua dia mendorong dahiku seenak jidatnya. Aku rasa itu adil jika aku balas menjambaknya.
"Itu impas! Haha!" Ujarku sedikit berteriak.
Aku melihat Hinata sedang berjalan sendirian. Santai dan tenang. Tapi itu tidak akan lama.
"Hinata!" Panggilku. Hinata berhenti lalu membalik badannya. Dia tersenyum padaku sambil melambaikan tangan. Aku pun langsung menyambarnya.
"Ohay-" ucapan Hinata terputus ketika aku bersembunyi dibelakangnya sambil memegangi pundaknya.
"Jidat, jangan melibatkan Hinata." Ino sudah ada tepat didepan Hinata. Aku menjulurkan lidahku kearah Ino.
"Ugh! Kubalas kau!"
"Waa!"
"Kyaa!" Aku memutar badan Hinata agar tetap menjadi tamengku, itu membuatnya menjerit kaget. Beberapa orang yang lewat memperhatikan tingkah kami yang lebih pantas dibilang seperti anak SD.
Aku terus menghindar dari Ino dan menjadikan Hinata sebagai penghalang kami. Namun gerakanku berhenti ketika mataku tak sengaja melihat Sasuke masuk ke sekolah barunya. Dia berjalan dengan santai diiringi bisik-bisik dari para siswa-siswi sekolah tersebut. Dan kebanyakan yang berbisik-bisik adalah kaum hawa dengan wajah tertarik dan memerah. Baru saja masuk dia sudah memiliki banyak penggemar.
Duk
"Aw!" Aku mengaduh kesakitan sambil mengusap kepalaku ketika ada sesuatu yang menghantamnya, lebih tepatnya menjitak. Dan seketika lamunanku pun buyar.
"Kena!" Seru Ino yang ternyata adalah sang penjitak. Aku menoleh kearahnya dengan sebal. Aku mengangkat tanganku bersiap-siap membalas jitakannya itu.
"S-sudah-sudah. Kalian ini, se-sebentar lagi bel berbunyi." Suara lembut Hinata menginterupsi kegiatan kami. Aku pun mengurungkan niatku untuk menjitak kepala kuning Ino. Haah Hinata~ seharusnya kau tidak selembut ini agar aku bisa membalas Ino.
"Kerjakan dulu soal-soal ini. Jika tidak ada yang mengerti, jangan sungkan bertanya."
Aku melirik kearah Iruka-sensei setelah mendengar penuturannya, lalu kembali terpaku pada soal-soal matematika yang tertera pada papan tulis. Tidak ada yang menyahutinya karena sebagian murid dikelasku sudah sibuk memikirkan jawaban dari soal yang diberikan Iruka-sensei. Sebagian lagi melakukan kegiatan lain, ada yang mengobrol, pacaran, main handphone, dan bermimpi. Palingan dimenit-menit terakhir pelajaran mereka sudah sibuk kesana-kemari untuk menyalin jawaban.
Aku menggelengkan kepalaku melihat kelakuan teman-teman sekelasku itu, lalu kembali menyalin soal-soal itu ke buku tulisku sebelum akhirnya mengerjakannya. Sesekali aku meminjam hapusan milik Hinata untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang kutulis. Kulihat Hinata berdiri, dia berjalan kearah Iruka-sensei sambil membawa bukunya. Aku terus memperhatikan Hinata yang sepertinya akan menanyakan soal yang dianggapnya sulit.
"Err... Sensei..." Suara Hinata yang pelan dan lembut itu memanggil Iruka-sensei itu terdengar sampai telingaku sebelum akhirnya bertanya. Dia menaruh bukunya diatas meja guru, lalu berjongkok dengan lutut menyentuh lantai agar wajahnya nyaris setara dengan meja dan memudahkannya memperhatikan coretan tangan Iruka-sensei dibukunya sambil mendengarkan penjelasan sensei-nya itu.
Aku memperhatikan mereka berdua, mencoba memasang baik-baik telingaku untuk mendengar apa yang Iruka-sensei katakan. Berharap aku mendapatkan penjelasan juga secara tidak langsung. Tapi sebuah suara dengan satu kata tajam menginterupsi acara mengupingku yang sedang asik-asiknya.
"Cih, caper!"
Aku menoleh kebelakang, kearah sang pelaku yang berkata kurang mengenakan itu. Seorang gadis dengan surai hitam dan panjang menatap Hinata dengan senyum sinis diiringi dengan cekikikan dari kedua temannya. Dia Ami, salah satu orang yang tidak menyukai Hinata. Kubilang 'salah satu orang' berarti masih banyak lagi yang kurang menyukai Hinata.
Kurasa aku sudah pernah cerita tentang hal ini. Jika kalian lupa, biar aku ingatkan kembali. Pasang mata kalian baik-baik agar tak ada satu katapun yang terlewat.
Hinata, sahabatku sejak masuk kelas 11 ini. Aku duduk sebangku dengannya secara tidak sengaja karena aku terlambat datang dan hanya kursi disebelahnya lah yang tersisa. Sebenernya ngga kursi dia aja sih, masih ada beberapa kursi kosong. Tapi aku tidak mau duduk sendirian ataupun duduk dengan anak laki-laki nantinya. Hinata, gadis yang pemalu tapi tidak begitu pendiam, dia bisa sangat bawel kepada orang yang sudah sangat dekat dengannya. Hinata akan sangat gugup jika berbicara dengan orang lain, bahkan dia sering tergagap. Hinata anak yang rajin, aku sering mencontek PR darinya(hahaha). Dia juga bukan tipe anak yang banyak tingkah di sekolah. Lalu kenapa dia kurang disukai? Yaa, sikap-sikapnya itulah yang membuat para gadis menganggapnya 'sok imut'. Menggelikan memang, tapi tanpa sadar mereka mengakui Hinata imut 'kan? Dan Ami, dia memang mencoba agar terlihat imut. Terlihat sekali dari caranya yang menata rambutnya yang lurus menjadi bergelombang, atau dengan aksesoris-aksesoris manis di tubuhnya. Jadi siapa yang sok imut?
Aku menghela napas melihat nasib sahabatku yang satu itu. Untung saja saat ini dia sedang serius bertanya pada Iruka-sensei, atau dia akan mendengar perkataan yang dapat menggores hatinya. Hinata itu gadis sensitif sekali.
"A-arigatou Sensei." Aku tersentak ketika mengetahui Hinata sudah selesai dengan 'konsultasi'-nya.
Aku tersenyum kearah Hinata yang bingung melihat aku tersentak tadi. Dan itu membuatnya sedikit memerah.
"A-a-apa sih, Sakura-chan?" Tanyanya sambil menunduk. Aku melebarkan senyumku, bukan, tapi senyumku berganti menjadi menyeringai.
Matsuri sedang ada kelas tambahan saat ini, dan aku terpaksa menunggunya sendirian di kelasku. Aku duduk bersila diatas meja pojok kelas sambil menopang daguku. Tanganku yang satunya memegangi minuman soda kaleng yang baru saja kubeli di kantin. Mataku memperhatikan keluar jendela. Di depan sekolah anak-anak dari sekolahku berhamburan keluar dan juga anak-anak dari SMP sebelah, karena jam pulangnya memang sama. Aku melihat Ino berlari keluar dari gedung sekolah dengan bahagianya, menghampiri seorang pemuda yang duduk diatas motor sport merah. Ino dijemput pacarnya, Sai. Dia memilih pulang duluan dan meninggalkanku sendirian dikelas karena katanya ada kencan dengan pacar tercinta. Setidaknya dia bisa menunggu sebentar saja menemaniku, yang sendirian, kesepian, dan jomblo. Aku iri dengan teman-temanku yang sudah mempunyai kekasih. Mereka sering diantar pulang oleh kekasihnya, atau dijemput jika sekolah mereka berbeda. Aku sering di jemput Nii-chan juga sih, tapi semenjak dia kuliah dia jarang menjemputku. Lagipula Nii-chan menjemputku dengan agak ogah-ogahan.
"Huff…" helaan napas yang keluar dari bibirku sedang mengasihani ke-jomblo-anku ini.
"Sakura? Belom pulang?"
Aku mengalihkan pandanganku dari jendela kearah pintu kelas. Seorang gadis dengan rambut di kuncir empat berdiri di depan kelasku sambil membawa beberapa map dipelukannya.
"Aa… Aku menunggu Matsuri, Temari-senpai." jawabku sambil menggaruk pipiku yang tidak gatal sama sekali, tapi entah kenapa aku ingin sekali menggaruknya. Temari hanya membulatkan bibirnya pertanda mengerti.
"Kalau begitu aku duluan ya, Sakura. Neji bisa memarahiku kalau aku telat rapat lagi." Ucap Temari lalu berlalu pergi dengan berlari. Aku menatap kepergiannya dengan takjub.
Temari adalah wakil ketua OSIS di SMA 27 Konoha ini. Aku mengenalnya saat MOS tahun lalu, dia yang menjadi pembimbing dikelasku untuk tiga hari. Temari itu kakaknya Gaara, pacarnya Matsuri. Temari satu apartemen dengan Matsuri –apa aku sudah pernah bilang soal Matsuri yang tinggal di sebuah apartemen?- jadi, sudah pasti hubungan Gaara dan Matsuri terjadi karena ada campur tangan Temari.
Aku kembali melihat keluar jendela. Mataku langsung menangkap dua anak laki-laki dengan seragam SMP, dan tiga orang gadis berseragam SMA, dan aku mengenali gadis-gadis itu, Ami dan dua pengawalnya. Tunggu, salah satu dari kedua anak lelaki itu sepertinya aku mengenalnya. Itu bukannya Sasuke? Ngapain dia bersama Ami and the geng?
To Be Continued
Haiii. Alrena akhirnya bisa Update juga. Lega akhirnya bisa update walaupun lamaaaa -_- maaf yaa T_T Chapter ini sebenernya udah di ketik 3 kali tapi aku ngga PD T_T jadi semoga ketikan ketiga ini cukup memuaskan kaliaaan~
Karena kelamaan ngga update, jadi rada lupa sama beberapa hal di ceritanya .-.
Gimana chapter 4 ini? Ada yang salah? kadang aku lupa sama sekolahnya, panggilan temen-temen Sakura ke Sakura begitu sebaliknya.
Kalo alurnya gimana? Semoga ngga kecepetan atau kelambatan yaa! ^^v
Untuk soal nama game, aku ngga ngasih namanya soalnya biar kalian sendiri yang ngebayangin game online kesukaan kalian :D biar lebih berasa gitu haha
Yak, bales review dulu~
Guest(1): Makasih ya reviewnya~gimana yang ch4 ini? .-.a
asadiaconaniantaplakers: Waaah iya iyaa! aku juga suka RP-an XD tapi kisah RP-an aku ngga seseru di game :/ tapi ngga beda jauh kan ya kehidupannya? :D makasih udah review~
Helshkia Lei Lipulli: Hehehe maaf ngga bisa cepet T_T gimana ch4nya? :)
uchihyuna: A.. maaf lama update :'/ iya aku juga ngerasa begitu .-. makasih reviewnyaaa X)
Love Foam: Aku juga lupa #duk serius tapi ._. hehe tragedynya belakangan, maaf yaa XD makasih reviewnya~
ria salvani: ngga kok . iya aku ngga marah, malah motivasi aku :D yang chapter ini gimana? ._. ano... aku ngga nemu PM dari kamu .-.a
syah haruna: AAA makasiiiih! X) maaf banget updatenya lamaa. makasih ya reviewnyaa XD
Guest(2): Iya beloom, bagian akhir-akhir gitu deh. wahahah tadinya emang mau pake kata 'copo' tapi kalo yang pake Sasuke kurang cocok .-.a
