Hyunnie present :
.
.
.
.
.
2017
.
.
.
.
.
MAFIA'S SISTER
.
.
.
.
.
CHAPTER 03
"KETEMU"
.
.
.
.
.
Cast :
Jaehyun NCT
Taeyong NCT
Jeno Lee NCT
Jaemin NCT
Chanyeol Park EXO
Baekhyun Byun EXO
Sehun Oh EXO
Luhan
Kyuhyun Cho Super Junior
Genre : Romantic , action , school life.
Rate : T
Summary : Hanya berisi kisah kehidupan sekolah keempat gadis yang berbeda latar belakang, Taeyong, Jaemin, Baekhyun, Luhan. Mereka bertemu dengan keempat laki-laki ditingkat terakhir mereka sekolah. Disitu semuanya terungkap dengan jelas. Pengkhianatan, persahabatan, percintaan dan banyak lagi.
Disclaimer : Nama-nama tersebut hanya dipinjam untuk kebutuhan cerita ini. Tidak ada maksud tertentu yang terselubung. Jika ada kesamaan cerita, itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.
.
.
.
.
.
WARN!
It is GS Fanfiction.
GS! Taeyong , Luhan , Baekhyun , Jaemin.
Jika ada pertambahan pemain, akan ditambahkan disetiap chapter.
DON'T LIKE! DON'T READ!
IT'S SO SIMPLE AS MY LIFE!
...
Sehun berjalan dengan hati-hati disebuah gedung bernuansa gelap. Belum lagi, diluar gedung tersebut, telah keluar Bulan dari sana. Berhenti sebentar untuk memikirkan sebuah cara, "Kita bisa melalukan apa yang anda pikirkan, tuan." kata Kyuhyun dari belakang. Sehun menyandarkan tubuhnya di dinding gedung tersebut. Bagaimanapun juga mereka telah berada ditingkat teratas, lantai 3.
"Apa yang membuatmu yakin, Kyu?" tanya Sehun pada tangan kanannya, bagaimanapun juga hanya ada mereka disini. Kyuhyun mengangguk mantap dan berbisik, "Aku mendengar kabar bahwa putrinya menyukaimu, tuan. Dan, putrinya akan berada dikamar tersebut. Sekarang." Kata Kyuhyun sembari menunjuk pada sebuah kamar.
Sehun menggeleng keras, "Tidak, Kyu. Kita tidak bisa melakukan ini." Kata Sehun dengan kukuh pada pendiriannya. Kyuhyun menggeleng keras, 'Bisa-bisanya, dia bersih keras denganku seperti ini.' Batin Kyuhyun. Kyuhyun menepuk keras bahu Sehun, tidak peduli jika Sehun akan menegurnya, karna, berani melakukan hal tersebut, "Tuan, lakukan hal yang menurut anda benar. Saya hanya memberi saran." Kata Kyuhyun dan memilih untuk mengalah.
Sehun mengangguk paham dan berkata, "Kau mau ikut, Kyu?" tanya pria tersebut. Kyuhyun menggeleng. "Aku akan berjaga-jaga disekitar ΕΊ, Tuan." Jawab Kyuhyun dan Sehun hanya mengangguk. 'Ada baiknya juga, sih.' Batin Sehun. Sehun berjalan dengan perlahan-lahan kemudian, mengecek sekitarnya, berwaspada pada sekitarnya. Memang tidak ada orang.
KRIET
Sehun berusaha untuk tidak membuka pintu yang diincar oleh mereka agar tidak mengeluarkan suara yang menurutnya, akan mengagalkan rencananya. Lampu tidur yang terpasang disudut kamar menerangi kamar tersebut. Sehun dapat melihat seorang gadis tertidur disebuah sofa panjang.
Berusaha untuk mengedarkan matanya lagi, 'Gotcha!' batin Sehun dan berjalan dengan pelan menuju ke sebuah meja kantor. Membukanya dengan pelan, menarik sebuah map dan berjalan keluar kamar tersebut. Niatnya sih begitu... kalau saja...
"Oh Sehun, pemimpin mafia terbesar di kota Seoul. Kenapa anda berada di kandang serigala?" tanya seorang pria yang sekitar berumur 38 tahun bernama Kim Youngwoon. Sehun menghela nafas dengan senyum meremehkan, lalu terkekeh pelan, "Apa yang kau ketawakan, idiot? Dan lagi, map kuning itu, letakkan dilantai sekarang."
Sehun berbicara, "Keluar dari sini, bawa mobilku yang terpakir ditempat biasanya, sedangkan motormu, letakkan saja, aku akan mengendarainya, jaga Taeyong,.. ." Semakin lama, suara Sehun semakin pelan, hingga tak dapat didengar. Kemudian, ia beralih pada Youngwoon. "Sepertinya aku tertangkap, Mr. Kim. Oke, ini mapnya, bisa lepaskan aku?" tanya Sehun sembari meletakkan map kuning yang diinginkan oleh pesuruhnya. "Kau boleh keluar,... Dalam bentuk mayat." Kata Youngwoon dengan senyuman miring. Sehun tersenyum remeh.
Sehun berjalan ke jendela terdekat, "Bagaimana jika itu adalah dirimu,... Mr. Kim?" kata namja tersebut dengan senyuman miring dan langsung membuka jendela tersebut, melompat keluar tanpa mempedulikan Youngwoon yang menggertakkan bibirnya.
HUP
Sehun yang melakukan aksi terjun dari lantai teratas rumah tersebut, segera berlari ke motornya Kyuhyun, "Hancurkan rumah itu, sekarang!" kata Sehun pada suatu benda yang terpasang dibelakang telinganya dimana tersambung dengan Kyuhyun yang tengah menyetir untuk pulang ke rumah.
"Baik, tuan." Kata Kyuhyun dengan tenang dan menekan tombol merah yang langsung membawa bencana pada rumah yang sekarang telah terbakar habis. Sehun menyeringai seram dan meringis kesakitan, karna, tergores oleh jaring yang dipasang oleh Youngwoon. Ia memang berhasil terlepas dari Youngwoon dan jaring yang diikat dari dinding runah sampai ke pohon yang ditanam oleh pria tua itu, tapi, etap ada ada luka disekujur tubuhnya.
...
Luhan keluar dari rumah dengan suasana hati buruk. Terlalu buruk malahan, ayolah, Luhan baru saja ingin tidur, namun, si eomma tercinta tidak membiarkan Luhan untuk tidur dengan mudah. "LUHAN! PERGI KE SUPERMARKET DAN BELI SNACK YANG BANYAK! EOMMA MAU NONTON VOICE! PALLI!" Kira-kira begitulah teriakan eomma-nya yang cukup membuatnya sweatdrop seketika.
"Ngebangunin orang yang mau tidur hanya untuk beli snack demi nonton Voice? Yang benar saja, eomma jahat." Kata Luhan sambil mengerucutkan bibirnya dengan imut, rambutnya yang panjang ia ikat ekor kuda dan masuk ke sebuah supermarket.
Luhan berjalan disepanjang rak-rak makanan ringan yang berjejer dengan rapi, "Kira-kira eomma suka yang mana, ya? Yang ini atau yang ini?" tanya gadis tersebut, kemudian hanya mengangkat bahunya, dan memasukkan kedua snacj tersebut kedalam troli. Luhan menerka-nerka, kemudian tersenyum geli membayangkan sesuatu, ia memasukkan minuman soda, beberapa snack tanpa melihat merk dan harga yang tertera. Ia tidak peduli sama sekali.
Luhan membawa semua belanjaan tersebut ke kasir dan membayar semua dengan lancar. "Gomawo." Kata Luhan dengan senyuman manis.
KRIET
Seorang namja berjalan dengan penampilan yang kacau, ia tidak mempedulikan sekitar, berjalan masuk melewati Luhan dan si kasir.
Luhan menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan dan tersenyum bahagia seperti telah menemukan sesuatu, "Agasshi, tolong ambilkan itu padaku, berapa harganya?" tanya Luhan dengan senyum penuh arti.
Luhan berjalan kearah seorang namja duduk dengan semangkuk mie. Namja tersebut terlihat acuh, tidak menatap Luhan sama sekali. Luhan terduduk disebelahnya, tanpa basa-basi, ia menarik lengan namja tersebut.
Namja tersebut terkejut sebentar, kemudian, menarik tangannya dengan kasar hanya saja semua itu tidak membuat Luhan menyerah, ia menarik tangan tersebut lagi dengan kekuatan yang lebih besar, hanya untuk jaga-jaga jika namja yang sama sekali tidak ia kenal menarik kembali tangannya. "Lukamu harus diobati, jika tidak maka akan menjadi sebuah infeksi." Kata Luhan dengan cekatan mengobati luka ditangan namja tersebut dengan sebuah obat biru dan membalutnya dengan plester.
Namja tersebut hanya menatap Luhan tanpa berkata apapun, gadis tersebut tampak bahagia ketika bisa mengobati lukanya, "Naneun Luhan imnida, Neo?" tanya Luhan setelah selesai mengobati luka yang cukup parah.
"Sehun." Kata namja tersebut yang rupanya adalah Sehun dengan singkat. Luhan mengangguk paham. Luhan terbelalak karna ingat tentang sesuatu, "Sehun-ssi, aku pamit dulu. Aku ada sesuatu yang perlu diurus. Annyeong." Kata Luhan dengan senyuman manis, membawa kantong palstik tersebut dan menghilang dibalik pintu supermarket.
Sehun tersenyum tipis, "Menarik.".
.
.
.
Luhan masuk kedalam rumah dengan wajah yang penuh bulir-bulir keringat. Meletakkan kantong plastik tersebut diatas meja tanpa mempedulikan kondisi akhir kantong tersebut. "Lulu, kenapa baru sekarang sampainya? Drama udah jalan setengah tahu." Kata eomma yang merengut kesal pada anak perempuan semata wayangnya.
"Tadi ada kesalahan teknis, eomma. Eomma, minta ini sama ini, ne? Annyeong~~~" kata Luhan sambil mengambil minuman kaleng dan sebungkus snack. Sebelum eommanya berkata-kata lagi, gadis tersebut segera menuju ke kamar pribadinya.
KRIET
Luhan segera membuka pintu kamar dan menyandarkan tubuhnya dikasur empuk. Luhan merogoh ponselnya kemudian membuka bungkusaan snack. Menekan beberapa tombol yang ada diponselnya.
'Girls, ada cogan lewat!'
Kira-kira begitulah isi dari pesan yang dikirim oleh Luhan digrup chat mereka. Sambil menunggu, mulutnya mengunyah makanan yang terletak dimeja nakas.
TRING! LINE!
'Jinjja? Nuguya?' -TY Lee
'Nugu?' -Jaeminnie
'Ada deh. Besok Luhan ceritain. Hanya saja, tuh cogan keknya suka berkelahi atau hal yabg menantang.' -Luhan
'Cogan? Luhan bisa suka sama cogan juga ya?' -Baekkie
'Byun Baekhyun jahat. Luhan juga cewek yang menyukai cogan. Luhan gak bisa diginiin.' -Luhan
'Haha... Canda, bae. Jangan nangis. Kalo tuh cogan gak mau sama Luhan. Operin aja sama Baekkie. Baekkie rela.' -Baekkie
'Baek, inget yang disana.' -TY Lee
'Baek, inget yang disana (2)' -Jaeminnie
'Baek, inget yang disana (3)' -Luhan
'Sialan, pada copy paste semua. Kreatif dong.' -TY Lee
'Arra. Arra. Baek inget yang menjadi sebangku lu sekarang ini.' -Jaeminnie
'Anjir, iya, iya, gue inget sama dia. Tapi, dianya gak respon. Eottheokhae?' -Baekkie
'Curhatnya nanti aja, Baekkie. Inget besok ujian Matematika. Belajar sana. Ms. Kwon akan membunuhmu jika kau remedial. Curhatnya ketika Cinderella menjadi tinkerbell.' -Jaeminnie
'Sama aja gak akan curhat dong -_-' -Baekkie
Luhan terkikik geli membaca semua chat yang dikirim oleh teman-temannya. Ia segera berlari kecil ke meja belajarnya, membuka buku matematika yang setebal kamus hingga jam 1 pagi. Derita pelajar.
...
Luhan menunggu dihalte bis dekat rumahnya untuk ke sekolah. Sesekali salah satu kakinya mengayun kesegala arah. "Ck. Kenapa lama sekali?" tanya Luhan dalam hati sambil bibirnya dikerucutin imut. Matanya melihat kesebuah jalan, berharap bus yang biasa ia tumpangi akan muncul dan membawanya ke sekolah. Namun, bukannya busa, malahan ia melihat sebuah mobil mewah terhenti didepannya.
"Eoh? Nuguya?" tanya Luhan yang terkejut, hal itu akan semakin membuat jantungnya berdetak lebih cepat dan semakin terkejut, jika seseorang yang berada didalam menurunkan kaca mobilnya.
Lee Taeyong, gadis tersebut hanya tersenyum lima jari yang duduk dikursi penumpang kepada Luhan. Bukan, bukan kehadiran Taeyong, untuk apa ia terkejut pada Taeyong yang notebanenya adalah sahabatnya sendiri. Ia terkejut yang ada dikursi pengemudi. "Neo?!" pekik Luhan sambil menunjuk-nunjuk wajah pengemudi.
"Masuk, Luhan." Kata pengemudi tersebut yang rupanya Sehun. Luhan belum mau bererak dari sana.
"Masuklah, gadis obat biru." Kata Sehun yang berusaha lembut pada sahabat adiknya ini. Lagi-lagi, Luhan tidak merespon perintah Sehun, yang cukup membuat namja tersebut menjadi geram sendiri.
Sehun sedikit memukul stir mobilnya, "Merepotkan." Desis Sehun dan keluar dari mobil.
SRET
Sehun menggendong Luhan bridal style, Luhan belum merespon apa-apa, Taeyong yang melihat juga terkejut, namun, dengan cepat, ia bertingkah seperti tidak terjadi apapun. Seolah semuanya normal. Sehun membuka pintu mobil belakang dan mendudukkan Luhan disana. Setelah itu, ia kembali kedepan dan membawa Taeyong dan Luhan ke sekolah.
"Jangan bertingkah seolah Yongie terbiasa melihat itu semua." Kata Sehun pada adiknya. Taeyong menatap oppa-nya dengan tatapan bingung. "Oppa tahu, Yongie pasti bingung atas kelakuan oppa tadi, tapi, salahkan Luhan yang tidak mau masuk kedalam mobil daritadi." Sambung Sehun sambil tetap berkonsentrasi mengemudi. Taeyong menggeleng, "Aniya, oppa. Tapi, bagaimana oppa tahu kalau itu adalah Luhan? Setahuku, aku tidak pernah bercerita tentang Luhan dan sahabatku yang lain." Kata Taeyong. Sehun mengangkat bahunya.
"Luhan. Dia kemarin mengobati lukaku di supermarket. Ia mengatakan bahwa itu bisa infeksi, setelah itu, ia memperkenalkan dirinya pada oppa." Kata Sehun sambil melihat kebelakang dimaba Luhan yang lebih memilih menatap keluar daripada mendengar pembicaraan mereka.
"Jadi, yang dibilang cogan oleh Luhannie adalah Oppa?" tanya Taeyong. Sehun memasang tampang bingung. "Kemarin, ia mengatakan digrup chat bahwa ia berbicara dengan seorang cogan yang ia obati." Kata Taeyong yang cukup membuat Sehung menyeringai iblis.
Taeyong merinding, "Kurasa, gosip bahwa oppa adalah titisan iblis ada benarnya juga." Kata Taeyong dan pas setelah itu, mereka telah sampai disekolah.
"Oppa, aku pergi dulu, annyeong." Kata Taeyong pada Sehun sembari melambaikan tangannya dengan semangat masuk kesekolah.
Sehun menatap Luhan lewat kaca yang ada, "Lu, tidak berencana mau kesekolah? Atau mau kusekap dirumahku?" tanya Sehun yang sekarang cukup membuat Luhan tersadar dan segera keluar dari mobil tanpa mengeluarkan satu katapun.
Sehun tersenyum miring, "Kurasa, dia adalah yang selama ini kucari." Kemudian Sehun melajukan mobilnya kembali kerumah.
.
.
.
Taeyong berjalan dikoridor dengan perasaan bahagia, 'Oppa pasti sangat menyukai Luhan. Jika tidak, ia tidak mungkin melakukan itu semua.' Batin Taeyong sambil memasuki kelasnya, kemudian memasang wajah memelas, 'Oppa mendapatkan apa yang ia sukai, tapi, aku mendapatkan Jung Jaehyun yang sama sekali mengganggu kehidupan damaiku.' Sambung Taeyong dalam hati. Taeyong duduk dibangkunya dan mendengar lagu dari earphonenya.
SRET
Taeyong yang tadinya memdengar lagu dengan mata tertutup segera membuka sepesang matanya dan menatap sipelaku dengan tajam yang dibalas dengan sebuah senyuman tampan oleh Jaehyun. "Jung..." panggil Taeyong dengan nada geram, yang dipanggil hanya menatapnya dengan tatapan tak berdosa.
"Ada apa, Yongie?" tanya Jaehyun sambil meletakkan kepalanya ditelapak tangan yang tersambung dengan lengan yang bersender nyaman dimeja. Taeyong ingin memarahi si namja tampan yang sayangnya kurang peka, "Kembalikan earphoneku, Jung." Kata Taeyong dengan nada dingin nan mengancam. Jaehyun menggeleng.
"Tidak sebelum kau berjanji padaku, Yongie." Kata Jaehyun yang dibalas dengan tatapan menusuk dari gadis itu. "Tidak berat kok. Aku hanya meminta Yongie, untuk datang ke pertandingan basket siang nanti. Setelah itu, kau bebas." Sambung Jaehyun dengan senyuman miring. Taeyong mengerucutkan bibirnya lucu, yang cukup membuat Jaehyun tergoda untuk mengecup bibir itu.
"Jangan bertingkah imut, Yong. Sebelum kau kehilangan keperawanan bibirmu." Kata Jaehyun dengan nada jahil. Sebuah perempatan jalan singgah dikepala Taeyong, "Jangan berbicara seenak jidatmu, Jung." Kata Taeyong setelah menepuk kepala namja itu dengan sebuah buku Matematika yang cukup tebal. Jaehyun mengaduh, "Dimana?" tanya Taeyong dengan dingin yang disambut dengan senyuman hangat.
.
.
.
"Di aula, ingat nanti siang."
Jaemin yang menatap tingkah sahabat dengan namja baru tersebut dengan penuh senyuman. Tatapannya pada mereka berdua terputus ketika ada seseorang yang duduk disampingnya.
"Annyeong, Jeno-ah." Kata Jaemin dengan senyuman lembut. Jeno hanya membalas dengan senyum lalu duduk disebelahnya, Jeno menatap buku yang tergeletak dimeja tak berdaya, terus menatap Jaemin, seolah meminta gadis itu untuk membaca dirinya. "Jaemin-ah," panggil Jeno, yang dipanggil hanya menatap Jaemin dengan tatapan, 'Ada apa?'. Jeno menggeleng, "Apa kau sudah bisa ujian hari ini?" tanya Jeno, Jaemin menggeleng, "Ayolah, Jeno. Siapapun tahu, kalau Na Jaemin sangat lemah dalam hal berhitung." Ngeluh Jaemin yang cukup membuat Jeno terkikik geli dan mengusap rambut Jaemin.
DEG
Jaemin terbeku sebentar atas sikap Jeno yang selalu membuatnya jatuh dan semakin jatuh dalam pesonanya. "Ya sudah, mana yang Jaeminnie tidak mengerti? Jeno ajarin." Kata Jeno dengan senyuman tampan yang cukup membuat jantung Jaemin berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Jae... Jaemin?" panggil Jeno sambil mengayunkan tangannya didepan wajah Jaemin yang masih mematung.
"Ah! Ne? Ini. Aku tidak mengerti ini." Kata Jaemin sambil menyodorkan buku matematikan pada namja tersebut. Jeno dengan senang hati mengajarkan Jaemin, dimana yang satu tidak berkonsentrasi dan lebih mengabaikan ocehan Jeno, serta meredam jantungnya disana. 'Kalau begini setiap harinya, jantung gue akan bermasalah.' Batin Jaemin dengan wajah yang berseri-seri. Siapa yang tidak akan tersenyum jika seseorang yang ia sukai rela mengajarnya, walaupun, ia telah mengatakan bahwa ia buruk dibidang itu?"
Sementara itu, ditempat Chanyeol dan Baekhyun, hanya ada keheningan, "Chan..." panggil Baekhyun takut-takut. Chanyeol hanya diam sambil menatap Baekhyun, meminta sambungannya melalui ekspresi yang ia pajang.
Baekhyun diam sebentar, kedu jari telunjuknya saling memutar satu sama lain, kebiasaan Baekhyun saat dalam ketakutan, "Kenapa kemarin malam kau tidak datang, eomma menunggumu semalam?" tanya Baekhyun yang menatap Chanyeol takut. "Aku sibuk." Balas Chanyeol singkat, Baekhyun meringis, 'Aku tahu kau pergi kemana semalam, Chan. Kau lebih mementingkan acara kencanmu dengan yeoja sialan itu, dibandingkan dengan permintaan calon mertuamu sendiri.' Batin Baekhyun. Baekhyun tersenyum getir saat mengingat dimana Chanyeol dan dirinya pertama kali bertemu.
Baekhyun hanya duduk dengan kepala yang menatap meja makan dengan perasaan gugup, berada diantara eomma dan appa disituasi sekarang ini, cukup membuatnya bingung. "Eomma..."panggil Baekhyun dengan pelan, beruntung sang eomma mendengarnya "Ne, Baekkie. Waeyo?" tanya sang eomma. Baekkie menatap sang eomma dengan tatapan memohon.
"Eomma, apa ini harus dilakukan? Apa Baekkie harus melakukan ini?" tanya Baekhyun, eomma hanya tersenyum dan lebih memilih untuk mengelus rambut anaknya. "Mianhae." Hanya satu kata cukup membuat Baekhyun mengerti semuanya. Ini wajib dilakukan oleh gadis tersebut.
Sepasang suami istri datang dengan wajah yang bahagia, "Mr. Byun, Mrs. Byun, maaf jika anda menunggu lama." Kata seorang wanita feminim. Sontak saja, eommanya Baekhyun dan sang appa segera bangkit dan memberi hormat, hal itu juga dilakukan oleh Baekhyun. "Gwenchana, kami juga baru sampai." Balas eommanya Baekhyun. Wanita tersebut hanya tersenyum anggun dan menatap Baekhyun.
"Jadi, ini Baekhyun?" tanya wanita tersebut.
Baekhyun segera bangkit dari bangkunya dan membungkuk hormat, "Annyeong, Mr. Park, Mrs. Park, naneun Byun Baekhyun imnida." Kata Baekhyun dengan senyuman tipis, kemudian duduk kembali. 'Ini sungguh aneh, aku sama sekali tidak menyukai perjodohan ini.' Batin Baekhyun yang memutar kedua jari telunjuknya.
"Neomu neomu kwiyowo... Chanyeol sungguh beruntung mendapat Baekkie." Kata Mrs. Park yang merupakan wanita tersebut. Mrs. Park tampak menyenggol namja yang sedari tadi kurang diperhatikan.
"Annyeong, Mr and Mrs. Byun. Naneun Park Chanyeol imnida." Kata Chanyeol dengan singkat kemudian langsung duduk dengan wajah dingin.
"Chanyeol juga tampan. Mereka bisa berteman dulu, sebelum menjalani sebuah pertunangan." Kata eommanya Baekhyun yang cukup membuat Baekhyun terkejut.
'MWO?! PERTUNANGAN? DENGAN SI WAKIL KETUA KELAS? MIMPI APA AKU SEMALAM?' Pekik Baekhyun dalam hati. Chanyeol hanya kembali bangkit sembari mengeluarkan balasan singakt seperti terimakasih atas pujiannya.
Mr. Byun memberi suara, "Bagaimana jika Park Chanyeol dan Baekkie keluar jalan-jalan? Anggap saja mendekatkan diri masing-masing, walaupun appa tahu, kalian sekelas, tapi, appa tidak yakin kalian pernah menjalin sebuah komunikasi." Baekhyun hanya diam, Chanyeol menatap Baekhyun yang terus menerus menunduk.
"Baekhyun, mari keluar." Kata Chanyeol tanpa ada raut tersenyum sama sekali. Baekhyun terkejut, kemudian hanya mengangguk menyetujui. "See. Mereka terlalu serasi." Komentar Mrs. Park yang diangguki oleh Mrs. Byun. Baekhyun hanya tersipu malu sedangkan Chanyeol lebih memilih untuk memasang wajah datar. Baekhyun masuk kedalam mobil diikuti dengan Chanyeol yang duduk dibagian pengemudi.
"Chanyeol-ssi..." panggil Baekhyun dengan pelan. Chanyeol hanya berdehem untuk membalas.
Baekhyun dengan raut ketakutan, "Kenapa Chanyeol-ssi menerima perjodohan ini? Setahuku, Chanyeol-ssi telah berpacaran dengan Kim Yerin." Tanya Baekhyun. Namun, semuanya hanya dibalas dengan tatapan menusuk dari Chanyeol.
'Kau sudah tahu itu. Jika bukan karna ancaman appa, dia akan mengirim diriku ke Kanada. Aku juga tidak mau melakukan perjodohan bodoh ini.' Batin Chanyeol, kemudian ia melihat sesuatu yang tidak asing lagi dimatanya. Segera saja, Chabyeol menghentikan mobilnya ditepian, "Turun, Baek. Yerin telah menunggu seperti yang kau katakan." Kata Chanyeol tanpa menatap Baekhyun sama sekali. Baekhyun menatap Yerin yang disana, mengerti situasi, ia segera keluar dari mobil tersebut tanpa mengucap sepatah katapun. Ia juga sempat melihat, Chanyeol memperlakukan Yerin dengan romantis. Ia dapat melihat rasa cinta dimata Chanyeol pada gadis beruntung tersebut. 'Kim Yerin sungguh beruntungnya dirimu.' Batin baekhyun kemudian pergi dari sana. Entah kemana.
Baekhyun hanya diam jika mengingat perkenalan mereka, bukannya mereka tidak saling mengenal, hanya saja, mereka tidak ada komunikasi sama sekali. "Chan..." panggil Baekhyun, Chanyeol lagi-lagi hanya menatap gadis yang biasanya periang menjadi diam membeku.
"Kim Yerin mencarimu." Kata Baekhyun dengan pelan. Namun, Chanyeol memilih untuk mengacuhkan Kim Yerin yang terus berharap bahwa Chanyeol akan datang padanya. Yerin meregut kesal, bagaimana tidak? Yerin tidak pernah diabaikan, seumur-umur.
Baekhyun hanya diam, ketika melihat itu semua, ini masih pagi, dan ia tidak mau tertimpa masalah karna ulah Yerin yang kegenitan pada pasangan perjodohan anehnya ini. 'Jangan melihat kemana-mana, lihat saja mereka, Baek.' Batin Baekhyun yang tersenyum melihat tingkah Jaemin yang mematung lucu karna tingkah Jeno. Kemudian, tak lama guru yang bersangkutan segera datang. Ms. Kwon dengan wajah sanggar, sekalipun ia wanita yang mendadak menjadi anggun jika didepan suaminya.
"Yongie, jika ada bantuan katakan saja." Bisik Jaehyun pada sebangkunya yang sudah mode marah dan lebih memilih untuk mengerjakan soal. Jaehyun hanya menggelengkan kepala, dan mengeluarkan ponselnya.
'Bos, target terlalu sulit untuk didekati. Apa ada cara lain?'
'Aku tidak mau tahu, Jung. Intinya, lakukan sesuai perintahku atau jangan harap kau akan melihat matahari terbit keesokkannya.'
TO BE CONTINUE
Annyeong~~~
Mianhae, jika peristiwa ketemunya Luhan dengan Sehun agak aneh, dan beberapa skinship dari mereka yang masih kurang... dan... mianhae jika ada typo yang bertebaran jika ada disana.
- Oh Hyunnie -
