Plak

Plak

Pemuda bersurai hitam itu menampar kecil pipinya berulang kali. Wajahnya masih bersemu merah. Begitu juga dengan kedua telinganya.

Ia kemudian mendengus kecil. Seolah merasa percuma akan tindakannya barusan. Perkataan sang butler itu terus saja terngiang-ngiang di kepalanya. Seolah tak mau pergi, meski pemuda itu berusaha membuangnya sejauh mungkin.

"..kau, akan menjadi milikku."

"..menjadi milikku."

"...milikku..."

Krtak

"Ini bukan cinta! Tidak mungkin aku menyukai—apalagi jatuh cinta padanya! Ini bukan cinta! Bukan cinta! BUKAN CINTAAAA!"


.

.

.

Mr. Butler

.

.

Disclaimer: Semua yang ada di sini, mutlak milik Tuhan Yang Maha Kuasa

.

Rated: T (plus plus plus)

.

Genre: Romance, Humor(?)

.

Casts: Wu Yi Fan (Kris) + Huang Zi Tao (Tao), slight other EXO members

.

Warnings: Shounen-ai, BL, Boys Love, ManXMan, Typo, Misstypo, Weird, Strange, and so'on

.

NB:

Tidak suka dengan hal-hal yang saya sebutkan di atas?

Yo wis, nggak apa-apa ^^

.

Happy reading

.

.

Chapter - 4

.

.

Enjoy!

.

.

.


Huang Zi Tao kemudian membuka lebar kedua matanya. Menatap takjub—sekaligus bingung saat ia telah memasuki ruangan pavilliun milik Joonmyun yang terpampang jelas di depan matanya. Ruangan yang Zi Tao pijak sekarang ini tampak sangat mewah, sangat berkelas, dan sangat-sangat-sangat besar sekali.

Dasar, holang kaya.

Sekarang dia jadi lupa dimana letak kamar yang akan digunakannya sebagai tempat tidur nanti kan?

"Err, kalau tidak salah. Ke arah sini."

Tap

Tap

"Err, bukan. Pasti yang di sebelah sini."

Tap

"Tidak, tidak. Kata Joonmyun-hyung kamarku ada di lantai dua kan?"

Tap

Tap

"Eh? Atau lantai tiga ya?

Tap

"Huweeee, kamar tidurku dimanaaaa?"

Puk

Zi Tao sontak tersentak kaget, ketika ia merasakan sebuah tangan mendarat dengan empuknya di bahu kirinya. Ia hampir saja menjerit keras, sebelum pemuda si pemilik tangan itu menunjuk sebuah tangga yang mengarah ke atas.

"Kamarmu ada di atas. Bersama Kris-hyung."

"M-Minseok-hyung? Kau mengejutkanku.."

"Hehehehe, maaf maaf.."

Pemuda yang dipanggil Minseok tadi menyeringai kecil, dan kembali menepuk-nepuk bahu Zi Tao keras.

"Aku keluar dulu ya? Mau jalan-jalan sebentar. Kau mandilah dulu Zi Tao, Jacuzzi-nya keren loh!"

Si pemuda berpipi bakpau itu kemudian berlari keluar, meninggalkan sosok Zi Tao yang terdiam memandangnya.

"Mandi ya?" pemuda dengan kantung mata yang tebal itu menarik nafas panjang, sebelum melanjutkan kata-katanya lagi. "Kenapa aku tidak mengajaknya mandi bersamaku terlebih dahulu? Aku kan benci mandi di tempat asing."

.

.

:: - ::

.

.

"Lu?"

Dipanggil seperti itu, pemuda bernama asli Xi Lu Han itu menolehkan kepalanya cepat. Dan balas memandang pemuda yang berusia jauh dibawahnya itu dengan kedua alis bertaut. Tak menyadari jika pemuda berambut kecokelatan itu tengah mencemaskan keadaannya saat ini.

Luhan kemudian menghirup oksigen keras-keras, masih menatap Sehun yang juga memandangnya bingung.

"Ada apa?"

Si pemuda berambut kecokelatan kini bertanya sekali lagi, dan kali ini jauh lebih lembut. Ia kemudian duduk bersimpuh di hadapan Luhan, dan menggenggam jemari pemuda itu.

"Kenapa kau bilang kalau ini berbahaya? Siapa yang sedang dalam bahaya? Zi Tao?" lanjutnya kemudian, membuat Luhan yang sekarang memandang kekasihnya itu bingung.

"Tidak, bukan Zi Tao. Tapi aku Oh Sehun! Aku!"

Mendengar teriakan Luhan, Sehun mengerutkan keningnya. Dan mulai melepaskan genggaman tangannya pada pemuda tersebut.

"Kenapa kau berbicara seperti itu?"

Luhan mulai bangkit berdiri dari posisinya tadi, dan berjalan perlahan sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

"Keberadaan butler baru itu sungguh membahayakan posisiku Sehun-ah. Huang-sajangnim tidak pernah memberitahuku apa-apa perihal Zi Tao yang memiliki penjaga baru. Padahal biasanya Huang-sajangnim selalu berkonsultasi kepadaku terlebih dahulu sebelum beliau bertindak. Apa jangan-jangan..."

Pemuda berdarah Cina dengan marga "Xi" itu tampak sengaja menggantungkan kata-katanya. Berusaha membuat Sehun menebak sendiri apa kelanjutan kata-katanya tadi.

"Jangan-jangan apa?" tapi sayangnya Sehun malah balik bertanya. Membuat Luhan sedikit kesal juga karena Sehun tak bereaksi seperti apa yang ia harapkan.

Dengan sebal Luhan-pun segera menarik kerah kemeja yang pemuda bersurai cokelat itu kenakan, dan kembali berteriak keras tepat di depan wajah Sehun.

"JANGAN-JANGAN HUANG-SAJANGNIM MAU MENGGANTIKAN POSISIKU SEBAGAI ASISTEN PRIBADINYA DENGAN ORANG BERNAMA KRIS-KRIS ITU! INI BAHAYA KAAAAN?"

"Uhuk!" Sehun terbatuk keras, merasa sesak karena Luhan terlalu erat mencengkeram kerah pakaiannya.

Luhan-pun segera melepaskan cengkeramannya, kaget karena sepertinya ia tak menyadari jika ia hampir saja mencekik kekasihnya sendiri. Pemuda itu kemudian berjalan mondar-mandir di dalam kamar Sehun, sembari menjambak rambutnya seperti orang frustasi.

"Bagaimana ini Sehun-ah? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku singkirkan saja orang bernama Kris itu?" Luhan bertanya dengan nada gundah, membuat Sehun terkikik geli.

"Jangan berlebihan Lu. Huang-ahjusshi tak mungkin menggantikan posisimu sebagai asistennya. Kris-sshi hanya ditugaskan sebagai penjaga Zi Tao-hyung selama ia tinggal di Mokpo. Tidak lebih."

Sehun berkata dengan nada kalem, berusaha menenangkan Luhan yang masih terjebak dengan segala macam pikiran aneh akibat kehadiran orang baru di kehidupan bos-nya itu.

"Lalu kenapa Huang-sajangnim tidak mau berkonsultasi denganku terlebih dahulu kalau ia mau mencarikan anaknya seorang butler baru?" semprot Luhan lagi. Merasa belum puas dengan kata-kata Sehun.

Sehun tampak mengerutkan keningnya lagi. Mencoba mencari jawaban yang tepat agar kekasihnya itu tidak terlalu paranoid karena takut posisinya sebagai asisten akan direbut oleh seseorang.

"Hm, mungkin karena urusan mencari butler bukan termasuk urusan kantor. Jadi ia tidak membicarakannya denganmu terlebih dahulu. Lagipula ia mencarikan butler untuk anak semata wayangnya, tentu ia ingin memilih butler terbaik menurut versinya sendiri. Jadi meskipun kau itu asisten pribadi beliau, kau tidak berhak untuk mencampuri urusan keluarga orang lain."

Luhan terperangah kaget. Tidak menyangka jika kekasihnya yang masih bocah itu bisa berkata sebijaksana itu kepadanya. Ia jadi tersenyum sendiri dalam hati, sedikit mengagumi kemampuan Sehun yang mungkin suatu saat nanti akan menjadi pasangan hidupnya kelak.

"Kau mengerti kan Lu?"

"Baiklah, mungkin kau ada benarnya juga.."

Sehun tersenyum senang, akhirnya kekasihnya itu bisa mengerti juga.

"..tapi aku masih penasaran dengan butler baru Zi Tao itu. Jadi jangan kaget kalau aku akan menyelidikinya suatu saat nanti." ketus Luhan selanjutnya. Menyebabkan Sehun menepuk dahinya keras, tak paham dengan jalan pikiran kekasihnya ini.

.

.

:: - ::

.

.

Menurut perkataan Minseok—dan kalau Zi Tao sendiri tidak salah tebak—sekarang ini Zi Tao telah berada di depan sebuah bilah pintu dengan kenop yang berbentuk seperti bola berwarna emas mencolok, yang diduga sebagai kamar tidurnya.

Dengan ragu-ragu ia mulai mengulurkan tangannya ke depan, dan membuka kenop pintu tersebut secara perlahan.

Dan ia bersyukur rupanya ia tak salah kamar. Pasalnya di dalam kamar tadi, ia menemukan sosok Kris yang bertelanjang dada, hendak mengenakan kaus yang pria blonde itu pegang.

"Oh, aku baru saja akan menyusulmu dan menyuruhmu mandi." ujar pria itu pelan, sembari mengenakan kaus berwarna hitam itu ke badannya.

Zi Tao yang masih berdiri di ambang pintu hanya terperangah melihat sosok Kris. Di dalam balutan kaus ketat itu, ia seperti melihat Kris 'lain', Kris yang berbeda dengan kesehariannya saat pria itu bertugas menjadi butler-nya.

Badan pria itu tegap, dan gagah. Dadanya membusung, dan bentuk perutnya yang kotak-kotak terlihat samar karena kaus ketat itu sudah menyelimuti seluruh bagian atas tubuhnya. Rambutnya berwarna pirang gelap karena masih basah, dan tampak berantakan. Wajahnya tampan, seperti biasa. Meskipun mulai tampak beberapa garis halus yang menunjukkan bahwa usianya semakin bertambah tiap harinya. Menunjukkan kalau dia jauh lebih dewasa, dan jauh lebih matang daripada Zi Tao.

Bibir kemerahan pria itu kemudian melengkung ke atas tipis sekali, membuat Zi Tao tak yakin ia sedang tersenyum atau sedang menyeringai sekarang.

"Kenapa memandangku seperti itu?"

Zi Tao tersentak kaget, dan langsung mengalihkan pandangannya dari Kris. Ia mulai melangkah pelan memasuki kamar, setelah menutup pintunya tentu saja.

"Err, kau sudah mandi ya?" Zi Tao bertanya pelan, membuat Kris yang mulai sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk, mengangguk singkat.

"Baru saja selesai."

Zi Tao menggigit bagian bawah bibirnya kecil, merasa jika kedatangannya ke kamar ini sedikit terlambat.

"Sebaiknya kau segera mandi, sebentar lagi gelap. Aku sudah menyiapkan air hangatnya untukmu."

Mendengar perintah sang butler, Zi Tao semakin menggigit bibirnya kuat. Tubuhnya tak bergeming se-inchipun dari tempatnya. Membuat sang butler itu kemudian memandang sang anak asuhnya heran.

"Kenapa tidak segera mandi?"

Zi Tao kembali tersentak kaget, dan menatap pria tampan di hadapannya dengan wajah yang mulai memerah.

"Um, aku—sebenarnya tidak terbiasa mandi di tempat yang baru kulihat. Aku sedikit takut—kalau kau menyuruhku mandi seorang diri di dalam sana."

Pemuda dengan nama keluarga Huang itu segera menundukkan kepalanya. Terlalu malu untuk melihat reaksi Kris yang sekarang ini tengah mengulum senyum geli.

"Dasar. Kenapa tidak bilang dari tadi?"

Sebelah tangan pria itu mulai terulur, dan mengusap helaian hitam Zi Tao pelan.

"Kalau begitu masuklah terlebih dahulu. Aku akan menyusulmu beberapa saat nanti."

Pemuda Huang itu segera menganggukkan kepalanya senang. Akhirnya ia berhasil menemukan seseorang untuk menemaninya mandi. Zi Tao pun segera melangkahkan kakinya kembali, menuju ke arah lemari. Ia mengambil sebuah bathrobe berwarna putih yang terlipat rapi di dalam sana, dan mulai memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut.

Begitu memasuki kamar mandi. Zi Tao kembali dibuat kagum. Kamar mandi itu terlihat sangat mewah, ukuran ruangannya pun tampak besar, sama besarnya dengan kamar yang digunakannya untuk tidur.

Di sudut kamar mandi yang di dominasi warna biru pucat itu terdapat sebuah Jacuzzi mewah berisikan air yang berbuih dan mengeluarkan aroma seperti campuran lavender dan madu. Aroma yang sangat menenangkan. Cocok untuk orang yang ingin berelaksasi.

Byurr

Zi Tao mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu, dan mulai memasuki Jacuzzi tersebut setelah ia membilas tubuhnya sebentar dengan air hangat.

Blup

Blup

Terlihat pemuda bersurai hitam kelam itu mulai bermain-main dengan busa yang bercampur dengan air tersebut, dan meniupnya perlahan sehingga kamar mandi itu penuh dengan gelembung-gelembung kecil yang berasal dari tangan Zi Tao.

Cklek

Zi Tao kontan menolehkan kepalanya kaget, dan mendapati sang butler telah memasuki kamar mandi lengkap dengan selembar handuk yang melingkar apik di pinggangnya.

Pria itu kembali bertelanjang dada, membuat Zi Tao bisa dengan jelas melihat secara langsung bagian tubuh yang menurutnya sangat menggoda itu.

"Kenapa kau melepaskan bajumu lagi?" tanya Zi Tao pelan, dan kemudian menenggelamkan separuh wajahnya di dalam busa. Berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang sudah pasti merona.

Kris diam tak menjawab. Ia kemudian segera membuka kaitan handuknya, dan membilas tubuhnya menggunakan air hangat yang keluar dari shower. Zi Tao yang terkejut akan aksi Kris barusan sontak semakin menenggelamkan wajahnya, seolah ia tidak pernah melihat pemandangan menggiurkan tadi.

Byurr

Air di dalam Jacuzzi itu perlahan mulai naik ke atas, menandakan jika ada orang lain lagi yang memasukinya. Zi Tao yang mendengar bunyi luberan air segera mengangkat kepalanya, dan memandang Kris—yang sudah duduk santai di depannya—dengan wajah yang sewarna kepiting rebus.

"K—kenapa kau masuk ke sini juga? Kau kan sudah mandi tadi!" ucap Zi Tao keras, hampir seperti berteriak. Dahinya berkedut kesal, saat Kris justru hanya memasang wajah cuek, seperti tak peduli dengan sentakan Zi Tao tadi.

"Kau sendiri kan yang bilang kalau kau takut mandi di tempat asing?" tanya Kris kemudian, dengan alis tebalnya yang bertaut.

Zi Tao mendelikkan kedua matanya, terkejut. Sepertinya sang pengasuh ini salah paham dengan kata-katanya tadi.

"Aku sebenarnya hanya menyuruhmu untuk menemaniku saat aku mandi. Bukannya mengajakmu mandi bersama! Dasar mesum!" balas Zi Tao tak mau kalah.

Kris yang mendengar penuturan Zi Tao itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya kecil. Dan menganggap kalau ini hanya kesalah-pahaman semata.

"Well, aku sudah terlanjur ikut berendam bersamamu. Jadi mau bagaimana lagi?" tanya Kris sekali lagi, membuat Zi Tao semakin berkedut sebal.

"Ya keluar dari dalam sini tentu saja? Apalagi memang?"

Zi Tao mengacungkan telunjuknya ke samping. Seolah mengusir Kris dan menyuruh pria berambut pirang itu agar keluar dari dalam Jacuzzi. Sedang Kris yang diusir, hanya menarik sebelah sudut bibirnya ke atas. Membentuk sebuah seringaian seksi di mata Zi Tao.

"Yakin menyuruhku keluar?"

Kris kemudian memajukan sedikit tubuhnya hingga tepat berada di depan wajah Zi Tao, dan semakin memperlebar seringaiannya. Membuat si pemuda panda di hadapannya itu hanya bisa meneguk ludahnya paksa, dan menggulirkan kedua bola matanya ke sembarang arah. Menghindari tatapan maut yang dilontarkan Kris.

"Te-tentu saja. Kenapa memangnya?"

Pias wajah manis Zi Tao mulai kembali merona merah. Bisa Kris dengar dengan jelas jika saat ini jantung pemuda itu berdetak sangat kencang. Dan entah kenapa ia sangat menyukai kondisi majikannya itu sekarang.

"Kau tidak takut—"

Kris kembali menyorongkan tubuhnya ke depan. Membuat wajahnya kini hampir saja menempel pada wajah Zi Tao sendiri. Bibirnya pun kini berada sangat dekat dengan sebelah daun telinga Zi Tao. Membuatnya leluasa untuk membisikkan kata-kata pada pemuda tersebut.

"—dengan hantu yang menghuni kamar mandi?"

"GYYYAAAAA!"

Refleks saat mendengar kata "hantu" yang keluar dari belah bibir Kris, membuat Zi Tao langsung menjerit kencang dan sukses membuat tubuh Kris hampir terjungkal akibat efek yang berasal dari suara teriakan Zi Tao mampu membuat telinganya menjadi ngilu.

Greb

Kris hampir saja memarahi pemuda di hadapannya itu. Tapi sayangnya, niatnya tadi ia tunda karena si pemuda Huang sudah terlebih dahulu berhambur ke arahnya dan memeluk tubuhnya erat sekali.

"He—hei, ada apa?"

Kris bertanya bingung. Saat tubuh pemuda yang berada di pelukannya itu sedikit bergetar. Ia kemudian mengulurkan tangannya ke depan, menyusuri punggung telanjang si pemuda yang masih memeluknya, dan mengusap punggungnya pelan.

"Ja—jangan pernah, menakutiku, hiks. Seperti itu lagi, hiks. Aku—hiks, aku benci hantu."

Kris menghentikan kegiatannya mengusap punggung pemuda itu sejenak saat mendengar sebuah isakan kecil mulai terdengar dari bibir Zi Tao. Ia tidak pernah tahu, kalau pemuda itu sebegitu takutnya dengan makhluk yang bernama "hantu".

"M—maaf, aku tidak bermaksud menakutimu tadi.." Kris kembali mengusap pelan punggung Zi Tao, menenangkan pemuda tersebut. Dan balas memeluk tubuhnya.

"Kkk~"

Tubuh mungil Zi Tao kembali bergetar, tapi kali ini jauh lebih hebat dari yang pertama. Kris yang cemas dengan kondisi pemuda itu-pun semakin mengeratkan pelukannya tadi, sembari mengucapkan kata "maaf" yang terdengar sangat lembut.

"Hei, sudahlah.."

"Puh! Hahahahahahahaha!"

Kris mengerutkan dahinya bingung. Tak mengerti kenapa pemuda di dekapannya ini malah ganti tertawa dengan terbahak-bahak.

"Harusnya—harusnya kau melihat tampang bodohmu itu saat meminta maaf tadi! Itu menggelikan, hahahahaha.." ujar Zi Tao yang saat itu tiba-tiba tawanya langsung meledak keras.

Si pemuda Huang segera melepaskan tubuhnya dari pelukan Kris. Dan memandang pria bersurai pirang gelap di depannya itu dengan tatapan geli. Tak menyadari jika Kris sekarang memandangnya sengit. Merasa dibodohi.

"Hahahahaha—hei, jangan memandangku seperti itu. Hihihi, aku tadi bercanda tahu!" Zi Tao kembali terkekeh, dan membuat matanya itu kontan menyipit.

"Kau—berani-beraninya membohongiku! RASAKAN INI!"

Zi Tao yang masih tergelak tidak tahu kalau kedua tangan Kris sudah terulur ke arahnya, dan langsung menyentuh bagian kulit tubuhnya yang sensitif. Bocah Huang itu kembali tergelak, bahkan jauh lebih keras karena merasa geli dengan tangan Kris yang menggelitiki tubuhnya.

"Hahahahha—ampun! Aduh, hentikan, hahahaha.."

Kris tak tinggal diam. Dia tetap menyentuh area pinggang ramping Zi Tao yang terasa licin akibat terkena air sabun lebih brutal. Ia tidak marah, hanya kesal karena semenjak hidup dengan pemuda bersurai gelap itu dirinya seolah-olah selalu jadi bahan lelucon.

"Berhenti mempermainkanku, bocah panda.."

Kris mendesis lirih, tepat di depan telinga Zi Tao. Membuat si empunya telinga hanya bisa bergidik geli, dan langsung menolehkan kepalanya cepat.

Kedua mata mereka berdua kontan bertemu.

Hitam, dan cokelat keemasan.

Keping mata Zi Tao mengerjap pelan, sedikit kagum dengan pemandangan wajah rupawan di hadapannya. Kedua alis tebal Kris terlihat menukik ke bawah. Memasang ekspresi galak. Tapi tak menyurutkan kadar ketampanan yang dimiliki butler si bocah Huang itu.

Wajah Zi Tao memanas. Kala ia menyadari jarak antara wajahnya dan wajah sang pengasuh itu hampir tak terhitung.

Terlalu dekat, bahkan nafas mereka sudah saling beradu.

"..atau kau, akan merasakan akibatnya."

Zi Tao kembali tersentak kaget, ketika sang butler malah memajukan wajahnya mendekat. Membuka bibirnya yang merah merekah. Dan meraih bibir putera semata wayang tuan Huang kemudian.

Iris hitam Zi Tao lagi-lagi mendelik, dan kali ini lebih lebar. Ia tak bisa melakukan apa-apa saat Kris mulai berani mengecup bibirnya dalam. Lalu melumatnya perlahan. Dan membawa Zi Tao seolah terbang ke awang-awang.

"K—Kris, mmph!"

Zi Tao masih tak menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Namun sayang, rupanya Kris malah terlihat memejamkan kedua matanya, sibuk menikmati ciumannya bersama Zi Tao.

Cup

Cup

Bocah Huang itu kemudian pasrah, dan ikut memejamkan keduanya secara perlahan. Menyembunyikan iris black pearl-nya yang terlihat sayu. Ia bahkan mulai mengulurkan tangannya, merengkuh leher jenjang Kris yang tersaji di hadapannya.

Zi Tao mendongakkan kepalanya ke atas, balas menciumi bibir sang butler.

Sudah terlanjur, begitu pikirnya.

Lagipula hanya dengan Kris seorang Zi Tao berani melakukannya sejauh ini. Hanya seorang Kris, yang mampu membuat Zi Tao menjadi senyaman ini.

Ciuman mereka lalu terlepas, secara perlahan. Tubuh Zi Tao merosot jatuh, ke dalam pelukan Kris. Pipinya merona merah, sangat terlihat dengan jelas. Begitu juga dengan jantungnya yang berdetak sangat kencang.

Bocah itu ingin menjauh, dan melepaskan diri. Tapi tak bisa, karena Kris sudah mendekapnya erat.

"Lepas.." Zi Tao meminta dengan suara lirih. Hampir tidak terdengar.

Namun yang dirasakannya malah pelukan di tubuhnya itu semakin erat. Seolah Kris tak mengijinkannya untuk pergi.

"Lepaskan aku, Kris."

"Tidak mau."

Zi Tao mengerutkan alisnya. Sebal.

Ia lalu kembali mendongakkan kepalanya, dan menatap galak sang butler yang kini tengah menyeringai kecil.

"Kau tahu—"

"—untuk ukuran seorang butler, kau sangat kurang ajar kepada majikanmu."

"Oh, aku sangat tersanjung dengan pujianmu barusan. Tuan Muda Huang."

Kris tersenyum miring, dan semakin memperlebar seringaiannya. Tak menyadari jika anak asuhnya itu sudah menyipitkan kedua matanya marah.

"Tapi aku tahu kau menikmati ciumanku barusan, benar?"

Rona merah yang sewarna dengan apel mulai menjalari wajah Zi Tao sekali lagi. Bocah Huang itu mau tak mau menundukkan kepalanya cepat, menyembunyikan raut wajahnya yang memerah sempurna.

Kris terkekeh geli, dan tanpa sepengetahuan Zi Tao, ia sudah menjulurkan sebelah tangannya di belakang tengkuk pemuda itu lalu menarik lehernya cepat. Si pemuda Huang tak sempat berucap lagi, karena bibir Kris sudah terlebih dahulu mengunci pergerakan bibirnya. Lidah Kris malah sudah terlebih dahulu terulur keluar, dan menjilati permukaan bibir kucing Zi Tao yang terkatup rapat. Seperti sedang meminta ijin.

"Mau melakukan hal yang lebih?"

Tawar Kris dengan nada yang menggoda, membuat Zi Tao kembali merasakan darahnya mulai naik dan menjalari wajahnya.

Meski begitu Kris tetap tahu kalau Zi Tao masih belum memahami kata-katanya.

"Bukankah aku pernah bilang kalau aku ingin mendengar suara teriakanmu—"

"..."

"—saat kita bermain di atas ranjang?" tanya Kris sekali lagi, dan wajah Zi Tao sukses sewarna dengan besi yang terpanggang di atas api. Merah membara.

Dan Zi Tao tak menolak, ketika Kris dengan begitu mudahnya sudah mengangkat tubuhnya keluar dari dalam air. Dan mengajaknya untuk memainkan sesuatu yang—mungkin sedikit lebih panas.

.

.

:: - ::

.

.

Satu kecupan di leher, dan Zi Tao sudah mengerang kecil. Padahal Kris baru saja meletakkan tubuhnya ke atas ranjang, dan menelusuri permukaan kulit pemuda panda itu menggunakan ujung jemarinya. Lumatan di bibir pun lagi-lagi Zi Tao terima. Dan ia hanya bisa kembali ke konteks awal.

Pasrah.

Dan kalau bisa, nikmati saja sekalian.

Ciuman-ciuman kecil kembali mampir di bibir, pipi, dan kedua mata Zi Tao. Bocah itu hanya diam, dan sesekali meremas helaian pirang Kris yang menggelitik wajahnya.

Tapi kemudian—hal yang terjadi setelahnya, sukses membuat kedua makhluk dengan jenis homo sapiens ini mengutuk kesal.

Bagaimana tidak?

Di saat Kris akan mulai menyantap kudapan lezatnya—tentu saja yang dimaksud itu adalah tubuh Zi Tao yang terlentang pasrah di bawah tubuhnya. Ia mendengar—dengan jelas, jika ada seseorang di luar sana. Sedang mengetuk pintu kamar mereka, sedikit brutal.

Kris mendengus, dan kemudian bangkit dari posisinya. Meninggalkan Zi Tao yang masih terengah di atas ranjang. Telanjang, dan hanya tertutupi oleh selembar selimut tipis dengan asal.

Cklek

"Ya?"

Kris bertanya dengan wajah datar. Memandang sesosok bocah bermata bulat sedang menatap tubuhnya yang separuh telanjang dengan tatapan berbinar-binar.

"Waaa, sepertinya aku mengganggu kalian ya?"

Bocah bermarga "Do" itu bertanya riang, dan mencuri-curi lihat dengan melongokkan kepalanya ke dalam kamar. Tapi langsung dihalangi oleh pria berambut emas di hadapannya ini.

"Ada apa Kyungsoo?"

"Ini sudah waktunya makan malam. Kalian turunlah sebentar, setelah itu lanjutkan kegiatan kalian setelah makan. Hihihi.."

Pemuda itu tertawa kecil setelah mengundang Kris dan Zi Tao untuk makan malam. Ia lalu melambaikan tangannya sejenak, dan berlari meninggalkan Kris yang hanya bisa menghela nafas pendek melihat tingkahnya.

Blam

Pria blonde tersebut lalu menutup pintu kamar cukup keras, dan mengoyak helaian rambutnya kesal. Ia dengan cepat menolehkan kepalanya memandang Zi Tao. Yang kini terlihat sibuk dengan bathrobe putih yang sudah menutupi tubuhnya.

"Kau makanlah dulu. Mereka sudah menunggumu." ketus Kris kesal, dan ia segera meraih bathrobe-nya sendiri.

Ia kemudian kembali memasuki kamar mandi, dan hanya menyisakan Zi Tao yang sedang menundukkan kepalanya.

Bohong kalau mereka berdua tidak kecewa.

.

.

:: - ::

.

.

Tak ada yang berani bersuara di ruang makan malam itu. Semua penghuni villa tampak terlihat diam, dan begitu menikmati makan malam mereka dalam damai.

Hanya ada suara dentingan pisau dan garpu yang beradu saat Kyungsoo terlihat sibuk memotong seiris daging di piringnya, dibantu oleh Joonmyun.

Oh, dan tolong jangan abaikan jika ada aura kelam yang keluar dari tubuh seorang pemuda berambut sehitam langit malam.

"Zi Tao.."

Joonmyun, sebagai pemilik villa ini mencoba memanggil si bocah Huang itu dengan pelan. Hendak bertanya kenapa ia bisa bermuka masam sejak ia turun dari kamarnya. Terjadi sesuatu kah? Atau, kurang sesajen—kah dia ini?

Heck—Joonmyun bahkan lupa kalau yang dihadapinya ini adalah bocah yang mirip panda. Bukan makhluk halus atau semacamnya.

"Permisi."

Tiba-tiba dari arah belakang Joonmyun muncul seorang pria paruh baya yang diketahui adalah kepala pelayan di villa ini. Tengah membungkukkan tubuhnya sopan, dan memandang Joonmyun dengan tatapan segan.

"Ada apa ahjusshi?" tanya pemuda yang menjabat sebagai ketua OSIS tersebut, dan memandang salah satu pelayannya bingung.

"Ada telepon tuan muda.." jawab sang pelayan lugas.

"Oh, kalau begitu mana?"

"Bukan untuk anda tuan muda, tapi untuk tuan muda Huang.."

Sang pelayan itu kemudian menyerahkan sebuah telepon tanpa kabel kepada Zi Tao. Dan kembali membungkukkan tubuhnya sopan ketika bocah panda itu menerima telepon dengan wajah ogah-ogahan.

"Hm, halo?"

"..."

"Hn, arasseo."

"..."

"Baik, aku mengerti."

"..."

"Iya, sampai ketemu."

Dan—pik. Sambungan telepon mereka kemudian terputus.

"Ada apa Zi Tao?"

Kini giliran Jongdae yang memanggil nama Zi Tao, dan menatap teman barunya di sekolah itu bingung. Ia semakin mengerutkan keningnya heran saat Zi Tao hanya melayangkan pandangan matanya ke seberang mejanya, dan menatap sosok pria berambut pirang yang sedang mengunyah potongan daging steak di dalam mulutnya.

"Pernikahan ayahku dipercepat. Besok kita harus pergi ke Seoul, Kris."

Zi Tao berujar pelan, dan memandang butler-nya datar. Sedangkan tangannya sendiri yang tengah menggenggam sebuah pisau, terkepal erat. Seolah ingin meremukkan pisau tersebut.

"Aku mengerti. Kita pulang sekarang juga." balas Kris tak kalah datar, dan segera mengelap sudut-sudut bibirnya menggunakan serbet khusus.

Pria blonde tersebut kontan bangkit berdiri lalu beranjak pergi meninggalkan area ruang makan yang terlihat jauh lebih mencekam.

Ia sudah tahu.

Jika pemuda berambut hitam di depannya tadi tengah menahan isakan tangisnya sekuat tenaga. Menyebabkan ruang makan yang tadinya damai itu langsung gempar. Karena si bocah Huang sudah menangis keras, di pelukan teman-teman barunya.

.

.

:: - ::

.

.

"Besok mereka akan menikah.."

"Aku tahu Kevin."

"..."

"..."

"Kau akan datang?"

"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Kita lihat saja nanti.."

"..."

"Bagaimana dengan panda kecilmu, hm?"

"..."

"..."

"Bukan urusanmu."

"Wah, wah. Sepertinya kau benar-benar menikmati peranmu dengan sangat baik Kevin Li. Kau sudah jatuh dalam pesonanya."

"..."

"Apa dia senikmat itu hm? Kau sudah pernah tidur dengannya kan?"

"Hentikan ocehanmu!"

"..."

"Sudah kubilang kan? Aku akan menghancurkan mereka. Cepat atau lambat."

"Kupegang kata-katamu itu Kevin. Tapi ingat, kau jangan sampai—"

"..."

"—jatuh terlalu dalam."

"..."

"Atau mereka akan berbalik menyerangmu. Dan membuatmu hancur terlebih dahulu."

.

.

.

.

.

:: To Be Continued ::

.

.

[a/n]: Gue kayanya kehabisan kata-kata buat chapter ini *tepar*. Bikinnya kilat, meeen. Ga sempet gue edit lagi. Jadi pasti banyak kalimat yang masih berantakan. Muahahahaha *ketawa laknat*

KrisTao momen udah gue banyakin kan? Full dengan modus dan fanservice banget kan :D? Awas aja kalo masih kaga puas! *sok ngancem* *dibom*

Ahahaha, gue tau, gue tau, KrisTao momennya pasti bikin kalian gigit jari ya? Terus, dalem hati kalian pada jerit-jerit "Dapuk! Kok adegannya ga dilanjutiiin? Kuyang ketje qaqa!" sambil ngebayangin mau mutilasi gue. Iya kan? Iya kan? Hayoloh ngaku! *dimutilasi beneran*

Err, oke gue tau kalo cerita ini fanfic makin lama, makin ngalor-ngidul ga jelas juntrungannya. Jadi kalo kalian pada bingung sama ini epep lenjeh, boleh tanya-tanya sesuka kalian. Tapi jawabannya juga sesuka gue ya? *plak*

Sori banget, buat edisi ini gue ga bisa ngebales review :3 Ga sempet soalnya *alesan*. Chapter depan mungkin bakal gue baleskalo sempet, hahahaha *DORR*

See ya! Sampai jumpa di epep gue yang lain.

Thanks a lot buat yang udah ngerelain waktu berharganya buat ngebaca, bahkan ngereview epep bulukan ini :'))

Thank you guys, YOU ROCK! :*