Water and oil © Dini Amanda a.k.a LavenMick Amanda

Naruto © Masashi Kishimoto

Warn: abal, Typo, Gaje, NejiIno, Ooc maybe

Enjoy!

.

Yamanaka Ino. Yamanaka Ino.

Apa kabarnya? Yamanaka Ino.

"Agh!" racaunya kembali mengacak rambut. Neji –nama pemuda itu. Ia mengacak rambutnya semalaman akibat nama yang terus berputar diotaknya. Futon yang semula tertata rapi dan siap untuk dipakai itu kini telah tak jelas lagi posisinya. Sangat berantakan. Sangat tidak mencerminkan sifat Hyuuga dengan harga diri yang tinggi.

Garis bawahi kalimat terakhir.

Sangat tidak mencerminkan sifat Hyuuga dengan harga diri yang tinggi.

"Kau... adalah hal baru yang kudapatkan. Kau, adalah hal baru yang harus kujaga"

.Dia.

Oh tuhan, bagaimana cara membuat Hyuuga ini kembali normal?

Matanya, hidungnya, rambutnya, senyumannya... Membuat Neji sangat tidak karuan.

Hembusan nafasnya, suara yang indah, bibir yang menggoda...

Baiklah, coret kata terakhir.

Bibir yang menggoda...

'APA YANG KAU PIKIRKAN, HAH?!' inner Neji berteriak. Salahkan otak mesumnya –ralat- otak jeniusnya yang tak bisa menghentikan pemikiran tentang Yamanaka Ino. Sejurus kemudian lamunannya terpecah akibat suara pintu yang menyelamatkannya dari pikiran otak jeniusnya tentang INO.

Tok...Tok...

"Neji-nii? Apa kau sudah bangun? Aku membuatkan teh untukmu" ujar seorang gadis dengan suara yang sangat lembut. Neji lalu melihat keluar jendela, menyadari ternyata sang surya telah menguasai langit pagi. Oh, Yamanaka itu benar-benar mengisi otak Neji hingga bahkan Neji melewatkan waktu istirahatnya.

"Masuklah, Hinata" ujar Neji. Pintu pun terbuka menampilkan sepupunya dengan balutan kimono berwarna cream bercorak bunga-bunga berwarna ungu lembut sedang menuju kearahnya sambil membawa nampan berisi dua gelas teh ocha kesukaanya. Lalu meletakan nampan itu didepan futon Neji sambil mengambil posisi duduk di depan Neji.

"Nii-san, kau tak mengganti bajumu dengan pakaian tidur?" tanya Hinata melirik tubuh Neji yang masih terbalut seragam Jounin –tanpa rompi hijaunya.

"Aku terlalu lelah sampai melupakan untuk mengganti baju, Hinata." Jawab Neji. Sufiks –sama tak lagi ditambahkannya, mengingat klannya kini sudah menghapus status Souke dan Bunke.

"Jika begitu... kenapa ada mata panda di mata nii-san?"

JDEEER!

Bumi, telanlah sang Hyuuga tampan bermata panda ini

"Emh... entahlah" ujar Neji buntu.

"Ada apa kau mengunjungiku pagi-pagi, Hinata?" tanya Neji mengambil ocha-nya. Mengalihkan pembicaraan.

"Engh... ano... tadi malam aku mendengarkan pembicaraan ayah dengan para tetua di ruang tamu" ujar Hinata pada sepupunya itu. Yang mendengar hanya berhenti menghisap ocha-nya.

"Tentang apa?" tanya Neji. Setelah mendengarkan penjelasan dari adik sepupunya, mata Neji membulat sempurna

"Apa?"

.

Warna biru yang bersih dari kapas menjadi tema unik pada langit hari ini. Tampak sang Jounin sekaligus medic-nin sedang memeriksa kondisi temannya yang belum sadarkan diri dirumah sakit Konoha. Rambutnya yang mencolok pun ikut bergoyang kesana kemari mengikuti langkah sang Kunoichi yang menyuntikan jarum suntik pada botol obat yang lalu menyuntikkannya kedalam selang infusnya. Ino –gadis yang masih tak sadarkan diri itu semakin pucat dengan rambutnya yang kini jauh lebih pendek menambah kesan pucat si pemilik manik biru yang masih terhalangi kelopak matanya.

"Sakura, bagaimana keadaannya?" tanya seorang pemuda yang juga baru datang dan bersender di samping pintu yang sudah sepenuhnya tertutup itu.

"Masih tak sadarkan diri. Dia pun belum menunjukan tanda-tanda kemajuan" ujar gadis yang dipanggil Sakura itu. Pemuda berambut raven itu hanya menghembuskan napasnya berat

Kriiieeek...

"Eh? Neji-san?" ujar Sakura sedikit terkejut melihat siapa yang datang.

"Aku ingin bicara denganmu, Sasuke" ujar Neji tanpa basa-basi. Sakura yang mengerti akan situasi ini segera keluar dari ruangan itu dan menutup pintu, pergi entah kemana.

"Tumben sekali kau ingin bicara padaku..." ujar Sasuke yang mendekat kearah ranjang Ino, lalu duduk di pinggir ranjang Ino. Neji pun duduk disalah satu kursi yang menghadap ke Sasuke disamping ranjang Ino.

"Langsung saja. Para tetua dan Kakashi-sama juga pamanku menjodohkanku dengan Hinata." Ujar Neji dengan lantang. Sasuke menatap Neji tak percaya

"Apa katamu?" tanya Sasuke.

"Kurasa aku tak bisa mengabulkan permohonanmu." Ujar Neji menutup kelopak matanya sejenak. Lalu ia tegak dan mendekat kearah Sasuke seraya berkata;

"Maaf, Sasuke" ujar Neji menepuk bahu Sasuke yang melemas. Lalu Neji berjalan menuju jendela dan menyebarkan pandangannya dipenjuru rumah sakit.

"Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan" ucap Sasuke menatap wajah Ino yang masih lemas. Sungguh; sebenarnya sang Uchiha itu sangat menyayangi pemilik kelopak biru muda itu dengan tulus sebelum ia memutuskan memilikinya hanya membuat gadis berambut blonde itu mungkin merasa tidak bahagia –pikirnya

Tunggu!

Menyayangi?

SEORANG UCHIHA MENYAYANGI YAMANAKA INO?!

Apa yang terjadi pada sang Uchiha muda ini? Sejak kapan ia bisa menyayangi seorang Yamanaka yang lemah itu? Apa itu pengaruh mata Rinengan yang baru ia dapatkan? Atau jangan-jangan itu efek samping pada mata Sharinggan yang ditanamkan Itachi –sang kakak? Oh atau itu akibat penggunaan Chidori yang berlebihan? Ada apa dengan Uchiha ini?

ADA APA DENGAN UCHIHA SASUKE?!

Oh, mari kita lihat kebelakang, saat ia sedang menjalankan misi bersama gadis yang tengah terbaring lemah dihadapannya ini.

.

Flashback

.

"Benarkah? Biarkan aku mengeceknya terlebih dahulu. Mohon bantuannya" ujar Ino. Saat Ino turun dari pagar pembatas itu, Sasuke membuat Ino membeku seketika

"Kenapa kau tak menggunakan shinteshin dari awal?" tanya Sasuke. Ino pun berusaha keras memikirkan jawabannya.

"Bukankah misi ini butuh kerja sama tim? Bukan hanya aku saja yang berkerja. Namun satu tim harus berkerja dengan baik." Ujar Ino. Lalu ia membentuk segel ditangannya. "Shinteshin no jutsu" seketika, tubuh Ino pun ambruk yang segera ditangkap Sasuke. Sasuke pun berjongkok, menopang kepala Ino dipahanya. Sedangkan badan Ino terkulai lemas yang langsung menyentuh lantai semen.

Sasuke pun menatap wajah Ino dengan intens. Wajahnya yang sangat mirip dengan manekin itu, hidungnya yang mancung, rambut blondie-nya yang sangat halus, dan pipinya yang sedikit merona. Bulan sabit malam itu pun memberikan sedikit penerangan pada Uchiha muda ini, untuk dapat menikmati seseorang yang ia anggap sangat spesial dari jarak dekat.

"Uchiha?" oh demi dewa Neptunus, ia benci suara yang membuat aktivitas menyenangkannya ini terganggu.

"Apa?" tanya Sasuke garang. Pemilik suara itu pun menarik dirinya mendekati tempat Sasuke dan Ino.

"Kau sedang apa bersama Yamanaka?" tanya Neji melihat Sasuke.

"Bukan urusanmu" ujar Sasuke mengangkat tubuh Ino dengan tangan kanannya yang menahan kepala Ino dan tangan kirinya mengangkat kedua lutut Ino, sehingga posisi mereka kali ini seperti seseorang pengantin yang baru saja menikah dan sedang menggendong pasangannya.

"Dengan posisi seperti itu, kau bisa membuat Sakura menghancurkan rumah ini dengan sekali tendang" komentar Neji.

"Kau cemburu?" tanya Sasuke tersenyum sinis

"Tidak." Jawab Neji tenang. Ia menyilangkan tangannya didada.

"Dengar. Aku lelah dengan kita yang saling mengejek. Menurutku, itu sangat tidak elit" ujar Neji menutup matanya.

"Lalu?" tanya Sasuke.

"Mari saling berdamai" ujar Neji.

"Baik. Tapi aku punya satu permintaan untuk itu" ujar Sasuke menatap Ino yang dalam gendongannya. Neji pun menatap Sasuke penuh tanda tanya.

"Tolong jaga Ino" ujar Sasuke. Neji pun mau tak mau mengangguk. Lagipula, Neji juga merasa nyaman saat berada didekat Ino.

"Baiklah"

.

End of flashback

.

7 bulan kemudian

"Sasuke-kun... bagaimana ini? Sudah tujuh bulan Ino koma... dan ia tak menunjukan tanda-tanda bahwa ia akan sadar" ujar Ino menatap nanar sahabatnya itu. Sedangkan yang diajak berbicara hanya menggeleng pelan, buntu. seseorang lainnya hanya terdiam memikirkan solusi terbaik.

"Baiklah kita tunggu sampai lusa. Jika ia tidak sadar, maka kita harus melepas-"

"Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu, Tsunade-sama!" ujar Sakura menangis. Sasuke pun yang sedang berada disamping Sakura hanya berusaha menenangkan Sakura.

"Tapi Sakura... Jika kita tetap memasangkan infus dan selang oksigen... itu belum tentu menjamin bahwa Ino akan sadar" ujar Tsunade tegas. Isak Sakura pun makin jelas terdengar diruangan berisi empat orang itu.

"Sakura... belajarlah untuk mengikhlaskannya." Ujar Tsunade berlalu. Tak lama setelah Tsunade keluar, sepasang suami-istripun masuk dalam ruangan berbau obat-obatan itu.

"Neji... Hinata..." panggil Sakura yang masih sesenggukan. Nejipun mendekat keranjang Ino, bersebrangan dengan Sasuke dan Sakura. Sedangkan Hinata, hanya mendekat sambil memegangi perutnya yang sedikit membesar, sambil mengekor pada sang suami

"Apa kabar Sakura-chan?" tanya Hinata memegangi ujung lengan kimono ungunya.

"Baik, Hinata-chan. Bagaimana dengan kondisimu?" tanya Sakura berusaha tersenyum, setelah mengelap air matanya.

"Sama sepertimu, Sakura-chan" ujar Hinata balas senyum. "Ino-chan sendiri... bagaimana?" tanya Hinata takut-takut.

"Dia... akan segera sadar." Ujar Sakura optimis. Pandangan sendu Sasuke pun tertuju kearah manik Ino yang masih tertutup kelopak matanya.

"Syukurlah" ucap Hinata mengelus dadanya.

"Apa sudah ada tanda-tanda baik dari Ino, Sakura?" tanya Neji angkat bicara. Senyum yang semula merekah diwajah Sakura itupun memudar. Ia menggeleng pelan.

"Aku merasa sangat bersalah. Demi kita semua, dia jadi seperti ini" ujar Neji. Hinata pun memeluk Neji dari samping.

"Demi kau, Hyuuga!" desis Sasuke tajam. Sakura pun melongo melihat sifat Sasuke –suaminya yang aneh.

"Sudahlah... Neji-kun... Sasuke-san... jangan bertengkar!" ujar Hinata melerai mereka.

"Jika Ino mati... ini semua salahmu." Ujar Sasuke tajam. Ia menarik Sakura keluar. Neji pun hanya menghembuskan nafasnya.

"Mati kau!"

"Bukankah seorang ketua tim harus melindungi rekannya?"

Kata-kata Ino terus berdengung-dengung dalam pendengaran Neji. Terus berputar dalam pikirannya. Bagaimana Ino yang mengorbankan nyawa untuknya, bagaimana Ino tak peduli akan kesehatannya...

Bagaimana perasaan khusus itu tumbuh tanpa disadari Neji.

Hinata yang mengerti bagaimana perasaan kacau Neji pun hanya diam memeluk Neji. Tangannya menenggelamkan kepala Neji di lehernya. Tak terasa, Hinatapun merasakan bahwa lehernya basah. Mengerti akan keadaan, Hinata pun mengelus pelan punggung Neji.

"Neji-kun... Ino-chan pasti akan sembuh. Percayalah..." ujar Hinata menenangkan Neji. Tangan Neji pun memeluk pinggang istrinya.

"Aku sangat merepotkan, bukan?" ucap Neji berusaha tenang.

.

July, 23.

"Selamat ulang tahun yang ke dua puluh lima, Sasuke-kun!" ujar Sakura menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna biru. Sasuke pun tersenyum menerima kotak itu

"Arigatou, Sakura" ujar Sasuke mengecup kening Sakura. Mereka tengah duduk diruang tamu rumah mereka. Namun baru saja mereka bersantai, ada seseorang mengetuk pintu rumah mereka.

"Permisi. Sakura-sama, anda dipanggil Tsunade-sama ke rumah sakit" ujar seorang Ninja.

"Baiklah, aku segera kesana" ujar Sakura. Setelah ninja itu berlalu, Sakura pun menutup pintu dan segera mengganti seragamnya.

"Sasuke-kun, Tsunade-sama memanggilku. Aku pergi dulu, ya?" ujar Sakura

"Perlu kutemani, Sakura?" tawar Sasuke. Sakura pun mengangguk. Mengingat usia kandungan Sakura yang masih sangat muda –dua minggu tak jarang Sakura menjadi manja tiba-tiba. Seperti sekarang.

Setelah Sasuke berganti baju –Kaos hitam panjang dan celana panjang, mereka pun segera bergegas. Pikiran Sakura pun kacau seketika ketika mengingat ucapan Tsunade tempo hari.

"Baiklah kita tunggu sampai lusa. Jika ia tidak sadar, maka kita harus melepas-"

"Sasuke-kun! Ayo cepat!" ujar Sakura menambah kecepatan langkahnya. Ia pun menarik tangan Sasuke.

"Kenapa, Sakura?" tanya Sasuke bingung.

"Kau tak ingat kata-kata Tsunade-sama?" tanya Sakura.

"Tapi setidaknya perhatikan kesehatanmu, Sakura" ujar Sasuke. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah sakit Konoha

Sesampainya dirumah sakit Konoha mereka pun bergegas menuju kamar Ino dilantai dua. Saat membuka pintu kamar Ino, ternyata benar dugaan Sakura. Tsunade ada disana bersama Shizune dan...

"Ino-chan! Kau sudah sadar!" ucap Sakura yang setengah berlari menghampiri ranjang Ino. Ino pun tersenyum. Senyumnya tampak sangat pucat kala itu.

"Sakura-chan... kau gendut" ucap Ino yang merasakan perubahan Sakura saat sedang memeluknya.

"Sudah kubilang, kau akan sadar, iya kan?" ucap Sakura kegirangan melihat sahabatnya yang duduk diranjangnya itu. Selang infus dan selang oksigen masih menempel pada tubuhnya. Alat pendeteksi jantung yang menemel pada jarinya masih bekerja dengan baik, menghasilkan suara yang membuat Sakura sangat cemas sebelumnya.

"Begitulah" ujar Ino. Ia lalu mengelus surai emasnya dengan tangannya yang kosong dari jarum infus dan alat pendeteksi jantung.

"Ino, rambutmu... "ujar Sakura tercengang ketika melihat rambut Ino yang lebih pendek. Panjangnya mungkin dua setengah jengkal dari puncak kepalanya.

"Aku meminta bantuan Shizune-san untuk memotong rambutku. Aku bosan dengan rambut yang terlalu panjang" ujar Ino tersenyum. Heningpun menguasai ruangan itu

"Bagaimana keadaan janinmu, Sakura?" tanya Shizune yang membuka suara. Tsunade menyiapkan suntikan vitamin dan obat. Setelah itu, ia menyuntikan cairan itu keselang infus Ino.

"Eh Sakura-chan? Kau hamil?" ujar Ino bingung. Sakura bergeming antara malu dan bingung, bagaimana cara menjawab pertanyaan karibnya.

"Sudah berapa lama aku tidur?" tanya Ino lagi

"Kau... sudah koma selama tujuh bulan lebih, Ino" ujar Tsunade menjelaskan.

"Sedangkan kami sudah menikah... saat kau koma" ujar Sasuke angkat suara.

"Begitukah? Ah! Senang mendengarnya!" ujar Ino tersenyum tulus.

"Kalau begitu, selamat ya, Jidat! Kau akan jadi calon Ibu! Selamat juga untuk Sasuke-san! Jadilah kepala keluarga yang baik!" ucap Ino mengepalkan tangannya didepan dada, tanda bahwa ia tengah menyemangati kedua sejoli muda itu.

"Tentu saja, Ino-pig! Arigatou!" ucap Sakura tersenyum girang, menampilkan deret giginya. Sasuke hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Ino.

"Arigatou, Ino" ujar Sasuke tenang. Jauh dalam hatinya, ia merasakan sakit yang begitu dalam. Namun ia tetap menahannya.

"Sama-sama..." ujar Ino. Lalu Tsunade dan Shizune pun pergi dengan alasan ingin mengerjakan pekerjaan yang lain. Tinggalah mereka bertiga dalam ruangan itu.

"Sasuke... ponimu sepertiku saja... menutupi mata Rinenggan-mu, kan?" celoteh Ino.

"Iya." Respon Sasuke pendek.

"Oh Sakura... aku tak sabar ingin melihat anakmu nanti!" ujar Ino.

"Masih lama, pig" ujar Sakura sweatdrop. Ino hanya terkekeh pelan.

"Oh iya, kalian harus jadi orang tua yang baik ya! Anak-anak sangat haus perhatian,lho!" ujar Ino berkacak pinggang. Lalu ia menampilkan senyum dengan deret giginya, berusaha menutupi mukanya yang pucat.

"Tentu saja pig. Tak usah meragukanku" ucap Sakura sombong. Sasuke tersenyum kecil melihat Ino dan Sakura.

Oh! Gadis pirang itu lupa satu hal.

"Neji mana?" tanya Ino sambil berusaha menyembunyikan rona merahnya.

"Disini." Ujar Neji tiba-tiba datang membawa Hinata.

"Ah Neji!" ujar Ino tersenyum.

"Senang melihatmu sudah baikkan, Ino-chan" ujar Hinata menyapa Ino.

"Oh ada Hinata-chan—Kau hamil juga Hinata-chan!" ujar Ino terkejut.

"Ah... Ano... Ino-chan" ujar Hinata malu

"Ne..ne... kau sudah berhasil mendapatkan Naruto, ya?" ujar Ino jahil. Seketika pandangan Sasuke, Neji, dan Hinata jadi murung.

"Mereka sudah menikah, Ino. Neji dan Hinata menikah satu bulan setelah kau koma." ujar Sakura dengan hati-hati

"Eh?" ujar Ino bingung. Lalu ia cemberut, mengerucutkan bibirnya.

"Jadi aku yang belum menikah? Ah kalian curang! Kalian mendahuluiku" ujar Ino berpura-pura. Dalam batinnya, ia menangis. Ia berusaha menyembunyikan semua kesedihannya. Lalu ia tertawa seraya berkata "Hahaha, aku bercanda. Semoga kalian langgeng yaa!~" ujar Ino terkekeh. Sakura pun tertawa, diikuti Sasuke dan Neji yang tersenyum, dan Hinata yang merona malu.

Hyuuga Neji.

Dia yang Ino cintai.

Harapannya pun sirna seketika. Untuk bisa bersamanya.

"Kau itu yang terlalu lama tidur, pig" ucap Sakura bercanda. Ino kembali tertawa besama Sakura dan Hinata. Dua manusia lainnya hanya tersenyum kecil. Sekejap kemudian, Ino mencengkram dadanya saat ia merasakan nyeri yang hebat. Tampaknya bekas tusukan katana Orochimaru tak pulih dengan baik.

"Ino, kau tak apa?" tanya Sasuke khawatir. Sakurapun langsung membantu Ino berbaring dan mengalirkan chakra medisnya. Sakura mengernyit tak mengerti, setahu Sakura, Ino tak mempunyai riwayat penyakit jantung atau sejenisnya. Mungkin ini luka didadanya, batin Sakura

"Neji, Hinata... jadilah orangtua yang baik. Aku akan mendoakan kebahagiaan kalian" ujar Ino lemah. Suara pendeteksi jantung itu pun semakin berdetak cepat. Ino menutup matanya sambil menahan nyeri.

"Sasuke-kun, cepat panggil Tsunade-sama!" ujar Sakura. Air matanya menggenang di pelupuk matanya. Suara alat pendeteksi jantung itu kembali normal, namun semakin lama semakin pelan.

Tiiit... Tiiit... Tiiit...

Braak!

"Sakura, biar aku yang tangani" ujar Tsunade setengah berlari dan segera mengalirkan chakra ninjutsu-nya.

Tiiiiit...

Alat pendeteksi jantung itu berbunyi dengan datar.

Air mata Sakura pun jatuh satu persatu.

Tsunade menghentikan pengobatannya. Lalu ia menutup matanya sambil menahan kesedihan hokage ke lima itu.

"Pada hari ini, Konoha kehilangan satu kunoichi berbakat kita" ujar Tsunade menghadap Sakura sambil menutup mata.

"Tidak! Ino! Bangun lah! Bangunlah Ino!" ujar Sakura menggoncang-goncang tubuh Ino yang tak lagi bernyawa.

"Neji-kun..." ujar Hinata menatap Neji ia hanya menutup matanya

.

20 tahun yang lalu...

"Kau siapa?" tanya seorang anak berambut pirang pendek. Rambut pirangnya berterbangan dimainkan oleh angin musim semi. Wajah imutnya pun mendongak, menatap bocah laki-laki yang tegak didepannya.

"Neji. Kau?" tanya bocah laki-laki itu balik. Anak perempuan yang duduk itu tegak dan menyodoran setangkai bunga lavender yang baru saja ia cabut dari padang bunga lavender itu. "Aku Ino. Salam kenal, Neji! Semoga kita bisa jadi teman baik" ujar Ino tersenyum, menampilkan deretan giginya yang putih.

Ino? Ternyata namanya Ino. Dia cantik...

.

Jauh. Jauh sebelum ia menjadi gennin konoha. Jauh sebelum dia menjalani ujian Chuunin. Jauh sebelum ia menjadi anggota tim-nya untuk menjalankan misi. Jauh sebelum pemuda Uchiha itu mengatakan permintaannya. Jauh sebelum semuanya terungkap...

Dia, Neji—

—sudah menyukai Yamanaka Ino.

Rintik hujan pun turun membasahi rumput hijau dipemakaman, menyambut jiwa murni untuk kembali ke pangkuan-Nya. Yamanaka Ino, sang kunoichi muda yang sangat berbakat. Tuhan telah menjemputnya pulang. Segerombolan ninja berbaju hitam memberikan penghormatan terakhir, sebagai tanda bentuk terima kasih atas pengabdiannya terhadap desa, atas keberaniannya dan tanggung jawabnya menjalankan misi dan melindungi para rekannya. Tidak hanya mereka, namun awan pun turut menangis melepas kepergian gadis bermanik biru tersebut. Doa terbaik yang mereka panjatkan adalah : Semoga Yamanaka Ino mendapat tempat terbaik disisinya.

.

Sudah kukatakan. Air dan minyak tidak akan pernah bersatu untuk menjadi suatu zat yang baru. Namun, air dan minyak akan selalu berdampingan, sampai nantinya mereka akan pudar dan menghilang. Entah Air, atau si Minyak.

.

END.

.

HUAHH MINNA-SAN!

Maafkan laven yang hiatus tiba-tiba... tanpa bilang-bilang #digampar

Ampun minna-san, laven harus menjalankan UAS, jadi alhasil gabisa update selama dua minggu (lebih oi,lebih)

Ano, Inonya mati, huhuhuhu #nangis kejeng

Tentang SasuIno scene Cuma dikit, karena Laven ingat Ini kan NejiIno, bukan SasuIno #dibakar

Tapi tenang minna-san! Laven sudah menyiapkan fic ItaIno dan SasuIno, jadi jangan khawatir.

Wokeh, mari kita balas Review! (Cuma 3 :v)

Inuzukarei15 : Ngehehe, gaakarinnya dikit banget :') | Sasunya bukan peduli minna, tapi Sasunya itu sayang ama Ino #ciee | Maaf Minna, SasuInonya dikit, mengingat ini fic NejiIno. Tapi Laven sedang menyiapkan ItaIno dan SasuIno fic, untuk merayakan selesainya laven menjalankan US (?) BANZAII! :D |

Syalala lala : Ngehehe, gitu deh kalo akang Neji cemburu. Tapu mengingat Neji sudah meninggal di anime, membuat laven jadi garuk tembok (?) | Iya minna rencananya sih laven pengen nyoba buat GaaKarin, hehehe #baruRencana U.U | Entah kenapa, Ino tiba" kuat ngelawan paman ular #dibakar | yaps chp 4 menjadi chapter terakhir untuk Water and Oil.

Special Thanks for

Khamay Uchiha, and all readers.

Akhir kata, Read and review please?

Salam manis,

Dini Amanda a.k.a LavenMick Amanda