.

Last

.

Jungkook x Taehyung

.

[KOOKV]

Chapter 4

.

99% isinya lenguhan, selamat menikmati.


Jungkook si tukang mabuk. Kemarin sore teler lagi di kursi taman istana ditemani Kim Namjoon, seorang anak penasihat raja yang ditugaskan untuk mendampingi dan menjadi penasihat Pangeran Jungkook.

Padahal masih pukul lima sore, si pangeran sudah mulai berbicara melantur tentang banyak hal. Seperti kekeringan yang melanda daerah pesisir sampai berdebat siapa yang duluan ada, telur atau ayam.

Untungnya Namjoon sudah kenal lama dengan Jungkook. Umurnya hanya berbeda dua tahun. Mereka berdua sudah berteman sejak kecil. Satu bangku sekolah dari sekolah dasar hingga menengah atas. Jadi sudah hafal tabiat satu sama lain.

"Kau tah-u hyung? Kemarin aku pergi berkuda melewati danau. Lalu kau tahu?"

"Tidak."

"Yasudah. Memang ya di dunia ini tidak ada yang mengerti a-ku.." Namjoon menghela nafas. Kemudian menenggak tehnya lamat-lamat. Sudah kesekian kali Jungkook berkata kalimat itu.

Tiba-tiba saja Jungkook menjatuhkan kepalanya. Merengek-rengek serta meraung seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen.

"Hyung aku hik mau…" Jungkook mengecilkan suaranya. Namjoon mengernyitkan kedua alisnya.

"Anda ingin apa pangeran?"

"Aku mau Te-yuung~"

"Apa?" Namjoon mendekatkan telinganya kesamping wajah Jungkook yang menidurkan kepalanya diatas meja.

"Teyung hyuung.. Te-yung…" katanya sambil menunjuk-nunjuk taman. Namjoon melihat kesekeliling taman. Tidak ada siapa-siapa selain suara-suara yang ditimbulkan oleh pohon dan daun yang bergesekan ditiup angin. Pikiran Namjoon melayang kemana-mana. Pikirnya Jungkook menunjuk-nunjuk sesuatu yang telah berbeda alam. Lantas ia bergidik merinding.

"Astaga, kau benar-benar menakutiku sekarang Jungkook." Setelahnya Namjoon membawa Jungkook kembali ke kamarnya.

Sepanjang jalan Jungkook hanya berbicara tentang Teyung ini dan Teyung itu.

"Teyung sayaang~ Teyung cintaku kembalilah kepadaku…" Teriak Jungkook berulang kali saat diantar Namjoon menuju kamarnya. Namjoon jadi malu sendiri ketika ada pelayan atau seseorang yang pangkatnya lebih dari dia melewati serta menyapanya dan Pangeran Jungkook.

"Aish, Jungkook bisa tidak sih kau tutup mulutmu itu!"

"Tutupi mulutku dengan bibir ranum manismu itu Teyung…" Namjoon menoleh kearah Jungkook. Melihatnya dengan jijik dan meringis.

"Hm? Kau ingin aku ci-um ya? Sini sini.." Jungkook kemudian memonyong-monyongkan bibirnya, mengarahkan kearah Namjoon. Namjoon semakin bergidik ngeri, menggunakan telapak tangannya untuk menjauhkan wajah Jungkook darinya.

"Kau gila ya Jungkook. Astaga tuhan tolong henti- Selamat sore Taehyungku yang manis." Wajah Namjoon berubah drastis setelah melihat Taehyung yang sedang membawa ember berisi pakaian bersih yang baru saja dia angkat dari belakang.

"Selamat sore Tuan Namjoon.." balas Taehyung melipat senyum.

"Apa kau sudah makan? Kalau belum nanti kamu bisa sakit. Kalau kamu sakit aku akan sedih sekali Tae.."

Taehyung tertawa tersipu.

"Sudah tuan, Taehyung sudah makan." Jawab Taehyung sopan. Jungkook menghentikan upayanya untuk mencium Namjoon. Sekarang perhatiannya tertuju pada Taehyung. Wajahnya merah akibat kebanyakan menenggak alkohol. Kedua matanya sayup-sayup menatap Taehyung yang berdiri dan sama sepertinya sedang menatap balik kepada Jungkook.

Jungkook malu. Membuang wajahnya ke sembarang arah. Kemana saja asal tidak kearah Taehyung. Pipi Taehyungpun juga ikut sedikit mengembang.

"Ah benar juga! Taehyung bisakah kau membantuku mengurus si pangeran manja ini? Aku rasa akan lebih ringan kalau kau ikut membantuku juga."

Taehyung melongo. Bingung harus jawab apa.

"U-hm maaf tuan, aku masih harus mengerjaka-"

"Ah kau kemarilah. Bawakan cucian ini ketempat semestinya. Ayo Tae." Taehyung mengumpat dalam hati. Dirinya masih belum siap untuk kembali berinteraksi dengan Jungkook setelah kejadian itu.

Cucian Taehyung kini berpindah tangan kepada seorang pelayan lainnya yang kebetulan lewat melewati ketiga pemuda. Pelayan itupun menatap Taehyung dengan tatapan yang seperti biasa, sirik karena Taehyung dekat dengan banyak orang semenjak kepindahannya.

Tidak ada pilihan akhirnya Taehyung mengintil dibelakang Namjoon yang tengah membawa Jungkook. Namjoon bingung. Setelah ada Taehyung, Jungkook menutup mulutnya rapat-rapat. Sama seperti Taehyung yang hanya diam menatap ujung sepatu usangnya.

Namjoon terlebih dahulu memberikan kode kepada kedua penjaga berbadan besi yang berjaga didepan pintu agar membolehkan Taehyung ikut masuk. Kemudian penjaga tersebut mengangguk dan membukakan pintu besar itu kepada mereka bertiga.

Taehyung gugup. Pertama kalinya masuk kedalam kamar seorang yang tak lama lagi akan menjadi raja agung. Sekaligus salah tingkah, Taehyung melepas kedua sepatunya didepan pintu dan menampakkan kedua kaus kaki putih buluk dan sudah bolong dibagian ibu jari.

Namjoon membanting Jungkook keatas kasur. Kemudian Namjoon membuka jas hitam yang dikenakannya kemudian menggantungnya disebuah kursi.

Dan tak mengejutkan lagi, kamar Jungkook sangatlah megah kalau dibandingkan dengan ruangan Taehyung yang ukurannya hanya sepetak. Di dalam kamar tersebut terdapat sebuah ranjang yang berukuran sangat besar. Kalau bagi Taehyung sih cukup untuk keluarganya tidur dalam satu kasur.

Dulu cita-cita Taehyung ingin jadi arsitek. Oleh karena itu, ia begitu mengagumi struktural istana ini. Begitu pula saat ini, saat memasuki kamar pangeran Jungkook. Kamar Jungkook didominasi warna broken white dan warna emas. Seluruh furnitur yang menggunakan kain hampir pula seluruhnya dibuat dengan bahan satin. Taehyung berani bertaruh tentang seberapa lembut serta empuknya kasur tersebut.

Namjoon melangkah menuju jendela kemudian menggeser sebuah hordeng besar sampai benar-benar menutupi redupnya cahaya matahari masuk kedalam.

Setelahnya ia berbalik dan mendapati Taehyung yang tengah terperangah menatap langit-langit kamar yang dilukis seperti langit sungguhan. Kedua manik sewarna biji kakao tersebut terbuka lebar dan begitu berbinar. Kedua pipi Taehyung merekah.

Bahkan Taehyung sendiri tak sadar. Kalau dia justru lebih menawan dibandingkan seluruh mahakarya yang terdapat didalam kamar ini maupun penjuru istana.

Namjoon tersenyum. Kemudian melepas dasi yang terlampau terlalu ketat di lehernya.

"Kau tampaknya begitu menyukai kamar ini hm, Taehyung?" Taehyung mengalihkan pandangannya kepada Namjoon yang kini telah melepas sepatu yang dipakai oleh Jungkook.

Taehyung mengangguk riang. Kemudian kembali tersadar ke dunia nyata, mengganti ekspresi wajahnya kembali datar. Namjoon tertawa.

"Tak perlu terlalu kaku seperti itu padaku tae.. Dan oh astaga, apa sepatumu tertinggal saat menjelajahi ruang tadi?" Namjoon tertawa terbahak bahak.

Taehyung tersipu malu. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus.

"A-aku lepaskan diluar sana tuan.. Hamba takut kalau dipakai nanti akan buat lantainya jadi kotor.."

Namjoon tertawa lagi sambil melepas jas berwarna marun milik Jungkook.

"Tidak apa-apa Taehyung.. Lain kali dipakai saja, tidak akan membuat lantainya kotor kok.. Kau tenang saja." Taehyung mengangguk mengerti. Sekarang ia bertambah malu ditambah canggung.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Salah satu penjaga yang menggunakan pakaian besi masuk.

"Mohon maaf tuan Kim, ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan anda." Katanya monoton. Namjoon menaikkan kedua alisnya lantas mengangguk.

"Ah Taehyung.. Sepertinya aku harus pergi, sisanya aku serahkan kepada kau ya..."

Sebelum Taehyung berkata Namjoon sudah terlebih dahulu pergi melesat keluar pintu kamar.

Si pelayan menghela nafas berat. Kemudian beranjak menjalankan tugasnya. Dia bingung, apalagi yang harus dikerjakan? Sepatu sudah dilepas, jas juga sudah. Apa Taehyung harus melepas kemeja serta celananya juga, kemudian menggantinya dengan piyama?

Taehyung berjalan mendekati kasur dan Jungkook. Menatap pemuda berparas tampan yang tengah tak sadarkan diri diatas kasur empuknya.

Dilihat darimanapun juga, Jungkook memang sangatlah tampan. Rahangnya tegas dan tajam, kulitnya putih terawat seperti layaknya keturunan keturunan bangsawan lainnya.

Lantas Taehyung menaikkan lengan kemejanya. Membandingkan dirinya dengan sang pangeran.

'Asem...'

Kulit Taehyung sebenarnya tidak begitu gosong, namun jika dibandingkan dengan Jungkook tentu perbedaannya sangatlah kontras. Bak gula merah dengan gula pasir. Cepat-cepat Taehyung kembalikan lengan kemejanya seperti semula.

Inspektur Kim Taehyung melanjutkan kembali inspeksinya terhadap sang terdakwa Jeon Jungkook.

Kedua belah bibir Jungkook sedikit terbuka. Kalau diperhatikan terus bibir Jungkook berukuran kecil. Maksudnya tak sesemok dan tak semerah punya dirinya. Dadanya kembali berdegup tak beraturan. Pikirannya kembali melayang kepada ingatan hari-hari kemarin. Tentang bagaimana bibir yang terlihat 'tak berdaya' tersebut melahap habis bibirnya sampai membengkak pun berdarah.

Pipi Taehyung memerah. Dalam dirinya, Taehyung menolak keras bahwa dia menikmati ciuman yang diberikan oleh Jungkook.

Namun jauh di relung hati Taehyung mengakui bahwa Jungkook memanglah seseorang yang pandai dalam urusan berciuman.

Taehyung menggigit bibir bawahnya.

Taehyung tidak tahu bahwa berciuman ternyata sebegitu nikmatnya.

Taehyung tidak tahu seberapa persen bagian dari dirinya kala malam itu ingin lari. Terdapat hasrat dalam tubuhnya pingin terus dijamah oleh sang pangeran. Namun tentu tidak menggunakan embel embel kekerasan.

Tanpa sadar, kini tubuhnya selalu bereaksi ketika memikirkan kejadian malam itu. Cepat-cepat Taehyung usir pikiran-pikiran penuh dosa tersebut dari kepalanya.

Kembali lagi ke pekerjaan awal. Bagaimana caranya agar-

Taehyung kaget. Pangeran membuka kedua matanya. Menatap Taehyung sayu. Taehyung hanya mendelik sambil menautkan kedua alisnya.

"Taehyung...?" Jungkook mengucek mata sebelah kiri lalu mendudukkan dirinya.

Taehyung semakin mendelik. Kemudian mundur selangkah. Nafasnya tertahan. Masih tidak berkata apa apa. Dengan sekejap dirinya ditarik. Kembali mendekam dibawah cengkeraman si pangeran tampan yang entahlah sudah sadar atau belum.

"Taehyung..." Tercium aroma anggur yang cukup kuat dari Jungkook. Taehyung selalu mati kutu. Selalu jatuh pada lubang yang sama. Selalu gemetaran ketika berada dibawah Jungkook. Kedua matanya sudah berkilat ingin menangis (lagi)

Telapak tangan Jungkook bergerak meraih pipi gembul Taehyung.

Jungkook mengelus pipi Taehyung dengan penuh sayang. Kedua mata Jungkook memancarkan rasa bersalah yang begitu dalam.

"Taehyung.. Apa sebegitu menakutkannya aku bagimu..?" Taehyung masih terus diam. Takut salah ingin menjawab. Dia putuskan untuk jujur dan menganggukkan kepalanya.

"Aku… aku begitu tenggelam dalam pesonamu sejak pertama kali kulihat kau berdiri di ujung barisan. Kupikir aku hanya jatuh kepada keelokan paras serta tubuhmu. Namun setelah aku dapatkan apa yang selama ini aku pikir aku inginkan, aku menyadari bahwa kau tak pantas diperlakukan seperti itu."

Kedua matanya menatap mata obsidian Jungkook. Sibuk mencari tentang kebenaran atas apa yang telah dikatakan olehnya.

"Kau sangatlah menawan sayang. Kedua matamu yang selalu memancarkan kehangatan tak pernah gagal menghanyutkanku, begitu pula dengan bibir ranum merahmu itu yang selalu ingin ku cumbui. Kau begitu manis, sampai-sampai aku benar-benar buta hanya ingin memilikimu sendiri saja. Kupikir dengan berhasil menidurimu malam itu, aku berhasil membuatmu tunduk. Seperti yang aku lakukan kepada wanita-wanita sebelumnya." Jungkook terus membelai pipi Taehyung terlampau begitu lembut. Taehyung luluh dan hanyut dalam sentuhan serta kata-kata manis Jungkook.

"Tetapi lihatlah aku sekarang. Aku selalu memikirkanmu saat sedang menenggak alkohol. Aku tak bisa mengeluarkanmu, menghapus senyummu dari pikiranku. Melupakan sapaan hangat yang pernah kau berikan padaku saat itu, saat aku tertangkap basah tengah menguntitmu di taman belakang. Kau masih ingatkan?"

"Seluruh rasa ego dan tamak hilang sudah setelah aku melihatmu menangis menyebut-nyebut nama si panglima pendek itu. Hatiku terasa hancur berkeping-keping saat melihat kau mengeluarkan airmata dari kedua bola mata indahmu itu. Semua ini baru bagiku Taehyung. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Bahkan kepada mantan kekasihku yang kupikir teramat aku cintai. Saat itu aku menyadari kalau aku ingin melindungimu, aku tidak mau kau terluka lagi."

Taehyung menutup kedua matanya, mencoba mengerti dan memahami seluruh pernyataan yang dikeluarkan Jungkook. Jujur, Taehyung agak terkejut dengan Jungkook yang berada diatasnya sekarang. Jungkook terasa jauh lebih dewasa seperti bertahun tahun lebih tua diatasnya. Caranya dia membelai rambut serta wajahnya, maupun intonasi bicara yang begitu terdengar menenangkan. Membuat Taehyung terasa nyaman sekali.

"Aku mencoba mengumpulkan keberanian dan baru sekarang aku dapat mengutarakannya kepadamu. Aku sungguh menyukaimu Kim Taehyung.." Jungkook mencium pucuk hidung Taehyung, tempat dimana tahi lalat imutnya bersemayam. Pipi Taehyung memerah.

"Aku ingin meminta maaf atas seluruh perlakuanku yang sangatlah bejat itu. Aku berhari-hari memikirkan bagaimana bisa aku melakukan tindakan yang sebegitu bocah dan sembrono itu." Jungkook kembali memancarkan wajah bersalah. Hati Taehyung sudah terlanjur luluh sejak awal sebetulnya. Taehyung menggelengkan kepalanya.

"Tidak pangeran.. Aku sudah memaafkanmu sejak lalu."

"Seperti yang aku kira, hatimu tak kalah baiknya dengan budimu. Dan kau tak perlu memaksakan untuk mengembalikan perasaanku. Aku tahu kau butuh waktu dan aku tidak mau memaksamu lagi."

Taehyung kira Jungkook hanyalah bocah kemarin sore yang begitu dimanjakan oleh orangtuanya sehingga tidak bisa apa-apa. Yang hanya tahu cara bergaul baik di ranjang maupun di lingkungan. Atau seorang anak manja yang tahunya hanya berfoya-foya. Nampaknya dugaannya salah besar.

Taehyung hanya mengangguk dan tersenyum malu-malu.

"Baiklah Tae," Jungkook kembali ke posisi awal. Sudah tidak lagi membelenggu Taehyung dibawahnya. Taehyung bengong. Kemudian bangkit dari ranjang dan berdiri tak jauh dari posisi Jungkook.

"Kau boleh pergi dari sini."

"Tapi tuan na-"

"Aku tidak apa-apa Tae sayang.. Aku mungkin hanya perlu sedikit tidur. Kau tak perlu khawatir." Taehyung baru sadar sedari tadi Jungkook memanggilnya dengan sebutan sayang. Pipinya kembali merekah karena panggilan barunya itu.

"Kenapa sayang, Kau begitu menyukai panggilan barumu hm?" dada Taehyung semakin berdegup kencang dikala Jungkook bangkit dari ranjang dan berjalan mendekatinya. Kemudian meraih dagunya. Taehyung refleks menutup kedua matanya.

"A-ah tuan! Saya rasa s-saya harus lekas peergi bertemu dengan Jin hyung! Kalau begitu aku pamit. Sampai jumpa!" Taehyung melesat kabur dari kamar. Jungkook terkekeh.

"Kau sungguh membuatku gila Taehyung.." katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dengan begitu, senja kembali tenggelam pulang dengan tenang.

Sepanjang jalan Namjoon berpikir apakah Teyung dan Taehyung adalah orang yang sama.


"Hei apa kau sudah tahu? Kemarin aku lihat Taehyung masuk ke kamar Pangeran Jungkook."

"Apa?! Yang benar saja! Masa sih kau lihat si dungu itu masuk kedalam sana.. Apa menurutmu dia berhasil menggoda Jungkook?"

"Kau tahukan Pangeran Jungkook itu tampannya seperti apa. Mana mungkin Jungkook kepincut oleh si Taehyung itu. Lagipula dia juga laki-lakikan dan Jungkook tak mungkin punya selera serendah itu. Aku yakin sebentar lagi raja akan menjodohkannya dengan seorang putri cantik dari negari sebelah."

"Yah aku sih rela, bahkan sangat ikhlas kalau dapat menjadi salah satu haremnya Jungkook."

Taehyung mengangguk-angguk mendengarkan beberapa pelayan yang sedang menggibahkan dia. Pelayan-pelayan tersebut tak sadar dengan kehadiran Taehyung yang sedari tadi ikut mendengarkan di sebelah mereka.

Salah satu dari mereka (akhirnya) menyadari keberadaan Taehyung.

"Yuk kita pindah. Disini terasa panas sekali, seperti ada setannya." Yang lainnya menyadari isyarat yang telah diberikan salah satu temannya itu. Kemudian beranjak pergi meninggalkan Taehyung sendirian tanpa menoleh kebelakang.

Taehyung melempar kain lap kedalam ember yang berisi air dibawahnya dengan kesal.

"Tolol, memangnya kenapa kalau Tuan Jungkook suka sama aku! Lihat saja kalian para ular, aku pastikan kalian mendapat ganjarannya karena telah membicarakanku dan Tuan Jungkook!" Taehyung marah-marah sendiri. Tangannya terus bergerak mengelap kaca jendela di lorong istana. Entah sejak kapan memaki menjadi salah satu hobi yang sangat digemari Taehyung. Taehyung merasa sangat lega dan senang setelah memaki dan berkata kasar.

Lalu tak lama kemudian lewatlah Jung Hoseok, musuh sekaligus teman Taehyung yang suka menyuruh Taehyung membersihkan kandang kuda selagi dia pergi mengapel ke rumah kekasihnya.

Hoseok menepuk bokong Taehyung keras. Sampai menimbulkan bunyi. Taehyung terlonjak langsung berdiri tegak dan kaku. Lantas ia menoleh dengan ekspresi garang.

"Kupikir kau sudah bersiap membunuhku Tae."

"Ya. Sekarang juga akan kubunuh kau, muka kuda." Taehyung mencubit pinggang Hoseok dengan kuat. Membuat Hoseok menjerit-jerit meminta ampun kepada Taehyung. Suara teriakan melengking khas Hoseok mengisi lorong istana pagi hari ini.

"Astaga tuhan, maafkan aku Yang Mulia Kim Taehyung yang sangatlah baik hati. Hamba janji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi." Kata Hoseok hampir menangis karena cubitan dari Kim Taehyung. Akhirnya Taehyung lepaskan cubitannya pada pinggang Hoseok.

Hoseok memanglah tak kenal lelah dalam menggoda Taehyung. Sesaat setelah itu, setelah pingganggnya sudah tak terasa begitu sakit, Hoseok kembali melakukan aksinya.

"Aku berbohong Taehyung jelek. Akan aku adukan perbuatanmu itu pada Jin hyung!" kata Hoseok sebelum berlari kabur dari Taehyung. Taehyung kesal sekali. Ingin rasanya ia benar-benar membunuh Hoseok.

"Ya,ya adukan saja pada Jin hyung. Dasar memangnya kau pikir kau tidak lebih jelek daripada aku!" Teriak Taehyung.

Tepat setelah Taehyung beradu mulut dengan Hoseok, dari ujung koridor terlihatlah Jungkook yang sedang berjalan dan menggandeng seorang gadis yang begitu mungil dibandingkan dengan Jungkook. Rambutnya panjang bergelombang sampai sikut. Tubuhnya begitu feminim dibalut dengan gaun yang sama mewah dan elegannya dengan wanita itu. Cantik sekali dan yang lebih terpenting sangat sepadan dengan Jungkook.

Jungkook juga terlihat tak kalah menawan dengan gadis itu. Tubuhnya dibalut dengan setelan jas hitam serta bawahan mewah. Poni rambut dibelah tengah. Telinganya menampakkan beberapa tindikan. Tampan sekali seperti biasa.

Dibelakangnya ada Ayahnya Jungkook dengan ayahnya gadis itu.

Taehyung lantas menundukkan kepalanya dalam-dalam. Selalu merasa paling kecil ketika kaum bangsawan tersebut lewat. Tangannya gugup memainkan jari satu sama lain.

Tampaknya Jungkook tidak menyadari keberadaan Taehyung. Atau memang sengaja pura-pura tidak lihat. Membuat Taehyung merasa lega diikuti rasa sesak di dadanya.

Samar-samar Taehyung mendengar beberapa gombalan-gombalan yang dikeluarkan oleh Jungkook kepada gadis itu.

"Kau sangatlah cantik noona, aku tidak heran banyak lelaki yang memujamu."

"Aku yakin merekapun tak akan berani menolakmu noona.."

"Tentu aku akan terus menemanimu tuan putri, bahkan saat kau kembali pergi ke langit.."

Taehyung diam ingin muntah. Kalau dipikir-pikir benar juga omongan para ular tadi. Taehyung tidaklah pantas bagi Jungkook. Begitu pula sebaliknya.

"Dasar buaya darat, kemarin bilang suka sekarang merayu wanita lain. Lihat saja kau, akan kubalas perbuatanmu itu!" Taehyung menghela nafas. Sumpek sekali rasanya.

"Hei Taehyung, jangan diam saja seperti kambing congek! Cepat kesini bantu aku membawakan piring-piring ini ke taman belakang. Raja dan pangeran ingin sarapan dengan tamunya." Teriak ibu kepala yang sedang membawa piring-piring di tangannya. Diikuti beberapa pelayan lain yang membawa perlengkapan untuk sarapan.

Taehyung mengangguk pelan menyamperi rombongan pelayan tersebut.

Hari ini istana kedatangan tamu istimewa. Raja Lee datang beserta anak gadisnya bernama Lee Ji Eun dengan maksud ingin membicarakan tentang nasib kedua anaknya. Atau bisa dibilang ingin membicarakan pernikahan yang akan dilangsungkan beberapa bulan kedepan. Raja Lee bilang, tidak usah pakai pertunangan segala. Langsung saja menikah dan memiliki keturunan.

Lalu setelah menikah nanti, tiba saatnya Pangeran Jungkook mengganti gelarnya menjadi Yang Mulia Raja Jungkook. Saatnya Jungkook dikenalkan dengan calon yang akan menjadi istrinya.

Jungkook dengan Ji Eun sudah kenal lama sebetulnya. Mereka berdua sudah kenal saat Jungkook berusia 12 tahun. Saat Raja Choi pertama kali berkunjung ke istana dengan anak gadisnya yang berumur 17 tahun.

Ji Eun lebih tua lima tahun dari Jungkook. Tetapi itu bukanlah suatu masalah yang besar. Terlebih bukankah itu semua juga cocok dengan sifat Jungkook yang selalu ingin dimanja dan kekanak-kanakan?

Dengan senyum menawan terplester di wajahnya, Jungkook menarikkan kursi untuk Ji Eun duduk. Dibalasnya lagi dengan gumaman 'makasih' oleh Ji Eun dan senyuman yang tak kalah menawan. Sungguh pasangan yang sangat serasi.

Taehyung berwajah masam berjaga di sekitaran areal sarapan pagi hari ini. Menonton seseorang yang kemarin memberikan pengakuan kepadanya tentang seberapa indahnya seorang Kim Taehyung ini dan itu.

'"Kau sangat menawan Kim Taehyung", endas mu!' Taehyung dalam hati.

Taehyung bersebelahan dengan Jin si koki istana.

"Hei bocah, bisakah kau sehari saja tidak bertengkar dengan Hoseok?" Bisik Jin memasang wajah tersenyum dan tak memalingkan wajahnya dari meja makan.

"Apasih?! Justru dia itu yang selalu memulainya duluan! Kalau saja dia tak memukuli bokongku seperti itu aku tak akan mencubitnya. Lagipula dia juga yang terlalu berlebihan." Bisik Taehyung tak kalah kencang.

"Dan satu lagi aku bukanlah bocah!" Dibalas helaan nafas oleh Jin.

"Terserah kalian saj- Ah benar sekali tuan, yang itu dibuat oleh daging yang sangat segar!" Jin menghampiri Raja Lee yang duduk tak jauh dari posisi Taehyung dan Jin.

Taehyung bengong menatap kesembarang arah dengan wajah datar sedatar pantat panci. Tak mau melihat kedua insan yang bagi Taehyung sedang merayu satu sama lain. Seperti sedang nonton opera sabun picisan yang suka ditonton oleh ibu kepala beserta pelayan lainnya. Terkadang Taehyung suka ikutan nonton sih.

'Dasar pembohong! Mentang-mentang tampan jadi bisa berbuat sesu-'

"Aku mau dilayani oleh yang berambut mahoni." Kata Raja Lee dengan santai. Membuat seluruh yang ada disana menoleh. Mengerti siapa yang dimaksud, siapa lagi kalau bukan Kim Taehyung. Satu-satunya yang memiliki rambut berwarna mahoni di tempat kejadian dengan maniknya yang berwarna tak jauh dari helaiannya.

Taehyung langsung tersadar dan kedua maniknya membesar. Terkejut atas permintaan sang raja. Tak mau membuat lama menunggu, Taehyung langsung memasang senyum lebar diwajahnya yang terlampau lebar melangkah kesamping sang raja yang umurnya mungkin baru berkepala 4.

Raja Jeon kembali melanjutkan santapan paginya sambil berbicara kepada Ji Eun. Tidak begitu tertarik dengan kejadian yang terjadi barusan.

"Siapa namamu manis?" Raja Lee menatap Taehyung dari tempat duduknya.

"Taehyung tuan. Kim Taehyung." jawab Taehyung singkat.

"Manis sekali kedengarannya sama seperti yang punya nama." Goda Raja Lee sambil menyeringai. Taehyung menuangkan teh kedalam cangkir.

"Terima kasih sayang.." kata Raja Lee sambil menepuk serta meremas pantat semok Taehyung. Taehyung kembali kaku. Kemudian tersenyum dengan sangat tidak ikhlas dan mengangguk.

Jungkook sedari tadi telah memperhatikan keduanya. Nafasnya tak beratur menahan amarah melihat Taehyungnya dipegang-pegang seperti itu. Dia kemudian mengetuk jarinya tak sabaran. Berkali-kali dia mengatur nafasnya agar kembali stabil namun tak kunjung berhasil.

"Uhm Jungkook, nanti malam maukah kau mengantarku berkeliling?" Jungkook diam saja mengacangi tuan putri. Sekarang tangan Taehyung sedang dielus kemudian dikecup. Gerakan mata serta gerak-gerik Raja Lee yang tidak sopan benar-benar membuat Jungkook semakin gerah.

Dan Taehyung pun terlihat sangat tidak nyaman. Namun masih tetap tersenyum dan menanggapi Raja Choi demi kelangsungan hidupnya. Lagipula dimata awam, pelayan memanglah sangat rendah derajatnya. Boleh dipelakukan seenak jidat.

"Jungkook…?" nafsu makan serta kesabaran Jungkook telah hilang. Dipikirannya hanya ada Kim Taehyung saja. Jungkook menggertakkan giginya kesal pula karena Ji Eun yang mengganggunya terus.

"Mohon maaf tuan putri. Kurasa aku kurang enak badan. Aku mohon izin untuk kembali ke kamar duluan." Jungkook melesat pergi meninggalkan areal taman. Semua yang ada disana terkejut dengan perlakuan Jungkook. Raja Jeon hanya menggelengkan kepalanya pasrah dengan kelakuan anak sematawayangnya.

Namun sesaat setelah kepergian dia, yang lain menyusul pergi.

"Sampai nanti manis." Kata terakhir yang diucapkan Raja Choi kepada Taehyung sebelum mengikuti putrinya dari belakang. Disusul pula oleh Raja Jeon yang mengatakan terima kasih sebelum ikut pergi.

"Sampai nanti pak tua. Kuharap hidupmu sengsara." Kata Jin yang juga tak terima dengan perlakuan Raja Lee kepada Taehyung. Taehyung tertawa sambil ikut merapihkan meja.

"Taehyung kau pergilah ke kamar pangeran. Tanyakan apa yang dibutuhkan olehnya. Begitupula dengan tamu-tamu yang hadir tadi." Kata ibu kepala sambil beberes meja. Taehyung mengangguk dan langsung pergi menuju kamar Jungkook.

Kedua penjaga berbadan besi sedang tidak ada. Taehyung mengetuk pintu besar kamar Jungkook.

Tok tok.

Tidak ada sahutan dari dalam kamar.

Lantas langsung saja dia masuk ke dalam kamar tersebut.

Terlihatlah Jungkook yang sedang berkutat dengan kertas-kertas di meja kerjanya. Decitan pintu membuat Jungkook menoleh kearah pintu. Terdapat Kim Taehyung yang sedang membatu di depan pintu sambil memasang wajah kaku.

"Taehyung? ada apa kemari." Jungkook mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas yang ada di mejanya.

"A-anu.."

"Anu?"

"I-bu kepala menyuruhku kesini untuk menanyakan apa yang sedang tuan butuhkan.." Taehyung selalu berbicara gagap ketika gugup.

Jungkook kembali meleleh setelah melihat tingkah manis dari Taehyungnya. Dia kemudian memanggil si pelayan untuk maju mendekat.

"Kemarilah…" Jungkook sambil menepuk-nepuk pahanya. Taehyung ragu-ragu mengangguk. Terdapat semburat merah di pipinya.

Taehyung mendudukkan bokong sintalnya di paha Jungkook.

"Yang aku butuhkan sudah ada di pangkuanku. Aku tidak butuh apa-apa selain dirimu." Taehyung memerah. Jungkook meraih pinggang ramping Taehyung dengan tangannya. Semakin mempersempit jarak diantara kedua belah pihak. Taehyung reflek menempatkan kedua lengan ke bahu Jungkook.

"Aku kesal sekali kepada kakek-kakek itu yang seenaknya menyentuhmu. Benci sekali aku melihatnya." Jungkook mencium serta menghirup aroma dari kesayangannya. Aroma vanilla menyeruak masuk kedalam hidung Jungkook.

"Maafkan aku tuan.." kata Taehyung dengan suara pelan.

"Tidak Tae, ini bukan salahmu." Jungkook semakin menenggelamkan dirinya pada leher Kim Taehyung. Taehyung memiringkan kepalanya membuat akses yang lebih mudah untuk jungkook.

Tangan Taehyung lagi-lagi bergerak refleks membelai rambut Jungkook dengan lembut. Sang pangeran tersenyum. Namun tiba-tiba menarik dirinya. Taehyung menatap Jungkook kebingungan.

"Hyung, aku mau cium." Sudah tak terhitung berapa kali pipi taehyung bersemu merah hari ini. Kedua alisnya naik. Pangeran Jungkook baru saja memanggilnya dengan sebutan hyung. Jantungnya semakin berdegup kencang dikala sadar Jungkook meminta untuk dicium.

"D-dimana?" Jungkook menyeringai. Melihat wajah salah tingkahnya Taehyung.

"Disini boleh?" Jungkook menggunakan ibu jarinya untuk meraba bibir tebal Taehyung. Jantung begitu keras berdebar. Serasa akan keluar kapanpun yang dia mau. Taehyung mengangguk.

Jungkook bahagia sekali. Rasanya hidup sangatlah indah apabila ada Taehyung di sampingnya.

Jungkook terus menatapi bibir Taehyung. Terlihat begitu menawan dan menggoda. Kalau diizinkan dia bakalan membabat terus bibir ranum itu setiap hari dengan senang hati.

Jungkook mengecup bibir Taehyung lembut. Taehyung menautkan kedua lengannya kembali di leher Jungkook.

Keduanya bergerak dalam tempo yang lambat. Seperti benar-benar ingin menikmati rasa dan sensasi dari seluruh bagian dari bibir masing-masing. Begitu sensual, seperti yang disukai Taehyung.

Akibat tak terbiasa berciuman, Taehyung kalah telak. Jungkook memegang kendali penuh. Tangan Taehyung tak bisa diam terus meremas rambut Jungkook. Pun Jungkook menyukai rasa yang ditimbulkan akibat remasan tersebut.

Sedangkan Jungkook melampiaskannya dengan meremas dua bongkahan milik Taehyung.

Lama kelamaan ciuman mereka berubah menjadi begitu nafsu. Jungkook terus melumat bibir taehyung tak henti sama seperti tangannya yang terus bergerak dalam meremas kedua bokong sintal Taehyung.

Taehyung melengkungkan tubuhnya. Tidak sadar bokongnya terus bergerak menggesek kemaluan Jungkook yang dirasa telah mengeras. Membuat si empu mengerang.

Taehyung memiringkan kepalanya. Membuka pintu masuk untuk Jungkook menjelajah lebih dalam.

Jungkook mendominasi mulut Taehyung. Suara kecapan mengisi satu ruang. Tangan Jungkook beralih dari bokong menuju dua tonjolan yang berada di dada Taehyung. Meraba puting sebelah kiri yang telah mengeras dari luar kain kemeja usang taehyung.

"Ahh tuan.." desah Taehyung disela sesi ciuman panasnya.

Jungkook memutuskan tautan dan membuat benang saliva. Yang harus ditariknya cukup jauh barulah benang tersebut terputus. Sang pangeran menengguk ludah dalam-dalam. Melihat pemandangan yang tak kalah erotis dengan yang sebelumnya.

Wajah Taehyung yang merona, kedua matanya begitu sayu, poninya sudah basah karena keringat pula menempel di kening, kedua belah bibir merah membengkak dan tak lupa baju yang sudah compang camping dirusak oleh Jungkook. Serta dada Taehyung yang mengembang kempis berusaha menstabilkan nafas serta membusung menjiplak kedua puting yang telah ereksi.

Jungkook menyeringai, mengecup singkat bibir yang sudah bengkak. Darisana beralih menggigit telinga Taehyung yang juga sudah memerah.

"Taehyung." Jungkook dengan suara yang lebih rendah dari biasanya. Tangannya kembali beraksi membuka kemeja putih Taehyung. Taehyung mengerang.

"Nghh.. tuan.." Taehyung meremas bahu Jungkook. Pinggulnya terus bergerak tidak nyaman akibat ereksi yang dilanda kemaluannya.

"Panggil namaku." Jungkook menciumi leher Taehyung. Menggigit serta mengisap kulit lembut Taehyung. Menciptakan beberapa gigitan cinta disana serta di bagian tulang selangka. Tangannya sudah berhasil membuka seluruh kancing kemeja Taehyung.

"J-jungkook.." Jungkook kembali menyeringai. Namanya begitu indah didengar ketika diucapkan olehTaehyung.

Sang pangeran kembali mengecup serta mengisap kulit Taehyung. Menciptakan bercak-bercak merah keunguan di dada Taehyung. Yang dikecup tak bisa berbuat banyak selain terus memberikan lenguhan yang membuat Jungkook semakin gila. Melakukan segala cara yang dapat membuat Taehyung menghadiahinya desahan nakal lagi.

Taehyung sangatlah sensitif terhadap sentuhan. Pertama karena dirinya tidak biasa disentuh seperti ini. Apalagi keadaannya sudah binal. Kedua karena yang menyentuh adalah Jungkook. Seolah Taehyung lupa dengan kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu.

"Kau milikku Kim Taehyung. Tidak ada yang boleh menyentuhmu seperti ini selain aku." Jungkook kembali menggigit leher Taehyung. Mempertegas bercakan merah disana yang semakin menggelap. Sengaja melakukan itu agar orang-orang tahu bahwa Kim Taehyung sudah ada yang punya.

Tok tok

Suara ketukan dari belakang pintu. Tapi mohon maaf, kedua insan yang sedang berada di dalam kamar sedang asyik melenguh.

Tok tok

Namjoon memaksa masuk.

"Mmh-h.." Namjoon masuk kedalam. Kedua matanya mendelik terkejut melihat pemandangan yang disuguhkan dihadapannya. Tangan kanannya berada di dada sambil menyebut nama tuhan. Seketika menjadi seseorang yang beriman kepada Yang Kuasa.

Jungkook menyadari ada seseorang yang masuk kedalam kamarnya. Dia mengintip dari balik punggung Taehyung sambil mengecup pundaknya. Menatap tajam sang penasihat yang sedang menatapnya pula dengan tatapan takjub serta dengan wajah yang melongo.

"Astaganaga tuhan! Maafkan aku Yang Mulia Pang-"

Namjoon dilempar sepatu oleh Jungkook dan tepat mengenai wajahnya.


Haloo semua.

Terima kasih sekalii sudah mereview soal update saya yang lama TT_TT saya akan berusaha lebih baik dan lebih cepat lagi mengupdatenyaa begitu pula dengan fic saya yang lain.. saya berharap cerita ini masih bisa dinikmati oleh teman-teman sekalian..

Entah kenapa saya merasa adegan 'panasnya' terlalu cepat terjadi... (masih belum terlalu panas sebetulnya, masih ada yang lebih dari ini ( ͡° ͜ʖ ͡°) dan jujur ini pertama kali saya menulis tentang yang panas panas begini.. mohon maaf kalau dirasa kaku atau tidak begitu jelas penggambarannya karena saya sendiri merasa tersipu(?) sekali saat membayangkan serta menulis adegan iniii)

Saya pernah bilang kalau fic ini hanya sampai 3 ato 4 chapter, tapi ternyata saya terlalu pendek menulis di chapter sebelumnya.. jadi mungkin akan sampai 6 atau 7 chapter (saya kurang pasti juga) Laluu saya kepikiran juga untuk membuat chapter special khusus untuk minyoon, cerita cinta dari sudut pandang jimin dan yoongi. antara panglima pendek dengan seorang budak seks kesayangan raja

Terima kasih banyaak untuk yang masih setia menunggu fic inii untuk update (love) Juga tak lupa teman teman yang sudah mampir serta memberi review,follow dan favourite.. (love) jangan sungkan untuk memberi kritik,saran dan komentar yaa

Ooh yaa satu lagii, saya buat akun wattpad dengan username yang sama, jadenumb. tetapi update di ffn akan selalu saya dahulukan daripada yang di wattpad

Btw, jangan pada kesal ya sama namjoon kkk

Sampai jumpa lagii di chapter selanjutnyaa (love) (love)