I'm Regret Luhan! Chapter 3
Main Cast : Oh Sehun, Luhan, Jessica Jung, Oh Sehan dll.
Genre: sad, family, angst, romance gagal.
Rating M
Hola...Author is back.
Saya kembali dengan ff ini.
Makasih untuk yang udah baca dan review. Bagi yang tidak suka dengan ff ini silahkan menepi.
Saya hanya sekedar menyalurkan ide dan imajinasi saya didalam ff ini jadi NO BASH
HAPPY READING
CHAPTER 3
Seperti biasa, Luhan selalu menemani Sehan bermain. Kini dirinya dan Sehan tengah bermain diruang tamu. Sesekali Luhan akan menghoda Sehan dan berakhir dengan mereka yang tertawa bersama. Kebahagiaan yang sederhana bukan meskipun tanpa kemewahan dan tanpa kesempurnaan yang tidak mereka miliki.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu menghentikan aktifitas mereka.
"Oh..sepertinya ada tamu. Tapi siapa yang datang? tumben sekali ada tamu."
Luhan mengerut bingung.
"Amu..? iapa?" (tamu? siapa?)
"Entah, mama juga tidak tau. Sebentar ya Sehannie mama buka pintu dulu"
Luhan beranjak menuju pintu dan melihat siapa yang datang.
Setelah pintu itu terbuka dari Luhan menatap seorang wanita cantik yang didepanya ini.
Luhan mengamati penampilan wanita itu dari atas sampai bawah. "Cantik, Kulit putih, Rambut bergelombang indah,memakai baju bagu, dan wangi" kesan Luhan ketika melihat wanita itu untuk pertama kali.
Sementara wanita itu yang tak lain adalah Jessica Jung menatap Luhan dengan aneh. "Kenapa dia? mengapa melihatku seperti itu.
Oh iya. Aku lupa kalau dia ini perempuan bodoh, pasti bingung melihat perempuan cantik sepertiku"
"Ehkm..."
Jessica berdehem pelan guna menyadarkan Luhan.
Seketika Luhanpun tersadar dari lamunanya. Pandanganya mendongak menatap Jessica.
"Nugu nde?"
Jessica mengulurkan tanganya kepada Luhan.
"Perkenalkan aku Jessica Jung teman Sehun"
Luhan menatap uluran tangan putih itu, ia menerima uluran tangan Jessica, menjabat tangan itu pelan. Halus, tak seperti tanganya.
"Mengapa kau bengong lagi? Kau tak mau mempersilahkan tamu mu masuk?"
Tanya Jessica dengan gaya bicara seanggun mungkin.
Jessica menatap Luhan dari atas sampai bawah, jadi seperti ini bentuk seorang Luhan. Perempuan bodoh dan miskin yang dicintai Sehun itu. Ck sungguh mengerika .
"Ah..ne silahkan masuk jessica-shi"
Luhan mempersilahkan Jessica masuk. Mereka duduk dikursi tuangan yang sempit itu.
Pandangan Jessica menatap sekeliling rumah itu. Sempit, kotor,bau.
"Sempit ya, panas" Jessica mengibaskan tanganya didepan wajahnya yang terasa gerah.
"Ne..?"
"Ah sudah lupakan"
Luhan hanya mengangguk mengerti.
"Oh.. jadi ini Sehan? anakmu yang idiot itu?"
Jessica menatap Sehun yang juga menatapnya. Melihat Luhan yang hanya diam saja ia pun tersadar.
"ups..aku salah bicara ya? maksudku sangat mirip denganmu"
Jessica tersenyum palsu. Menatap jijik kearah Luhan dan Sehan bergantian.
"tapi menurutku dia lebih mirip sehun
Ujar Luhan dengan polosnya berusaha membantah ucapan Jessica.
"ahh iya..iya..terserah. Aku tak perduli"
Luhan termenung sejenak. Sebenarnya siapa perempuan ini? mengapa tiba-tiba datang kerumahnya? apa dia benar teman Sehun? tapi Sehun tak pernah bilang kalau dia mempunyai teman bernama Jessica, dari penampilanya dia sepertinya dari kelas atas. Atau jangan-jangan.
Luhan menggeleng pelan berusaha menghilangkan pemikiran negative nya tentang Sehun.
"eum..ah iya aku belum mengambil minuman untukmu, sebentar Jessica-shi.."
Baru saja Luhan hendak berdiri namun suara Jessica menghentikanya.
"Ah tidak usah Luhan, aku kesini hanya ingin mengatakan sesuatu padamu"
"nde?"
"Aku tidak ingin berbasa basi, kau pasti...tidak percayakan kalau aku hanya teman Sehun?"
Tubuh Luhan menengang ketika mendengar penuturan Jessica. Mengapa perempuan ini bisa tau apa yang ia pikirkan. Entah mengapa perasaanya semakin tak nyaman sekarang. Semoga setelah ini tidak akan terjadi apa-apa.
"Jika bukan hanya teman lalu...apa hubunganmu dengan Sehun, Jessica shi?"
Jessica menyeringai dan mulai menunjukkan sikap angkuhnya pada Luhan.
"Aku Jessica jung, Mantan tunangan dari seorang lelaki yang telah kau rebut."
Mata Luhan membola tak percaya. Apa? mantan tunangan? Bagaimana bisa?
"Singkat cerita ya Luhan, Aku dan Sehun sudah bertunangan cukup lama bahkan kami merencanakan pernikahan setelah Sehun menyelesaikan pendidikanya."
"Kau tau Luhan? dulu kami saling mencintai, tapi setelah kau datang. Kau menghancurkan segalanya, kau merebut sehun dariku Luhan."
"Dia mengatakan cinta pada orang asing yang baru saja ia temui dan memutuskan pertunangan kami begitu saja. heuh...bahkan..dia rela melepaskan segalanya hanya untuk menikahi perempuan yang tak tau asal usulnya seperti dirimu"
Luhan diam terpaku. Tak tau harus berbicara apa. Benarkah apa yang baru saja ia dengar? Sehun pernah punya mantan tunangan? tapi dulu Sehun bilang tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun selain dengannya. Sehun berbohong?.
"Aku benci karena dia lebih memilih perempuan sepertimu dari pada aku. 5 tahun aku sempat kehilanganya, tapi kini aku bersyukur karna bisa bertemu denganya kembali. Bahkan hubungan kami sekarang bukan hanya sekedar teman bahkan beberapa minggu terakhir ini kami sering menghabiskan waktu bersama, jalan-jalan bersama, bersenang-senang, bahkan seharian ia bisa tidur diapartement ku Luhan haha..."
Jessica tertawa mengejek ke arah Luhan. Tanpa rasa bersalah sedikitpun ia meceritakan semuanya pada Luhan tanpa memperdulikan perasaan wanita itu.
"Aku kasihan pada Sehun. Dia itu seorang pangeran, ia punya segalanya, harta dan kedudukan sebagai pewaris utama, namun dia harus menghabiskan sisa hidupnya dengan perempuan sepertimu digubuk reot ini."
"Pantas, selama ini dia selalu mengeluh dengan ku kalau dia tak bahagia dan hidupnya semakin susah karena harus mengurus anak idiot seperti Sehan"
"CUKUP JESSICA SHI...KAU BOLEH MENGHINAKU TAPI JANGAN MENGATAI SEHAN SEPERTI ITU"
Luhan berteriak marah kearah Jessica, hatinya sungguh sakit bila ada seseorang yang menyinggung ketidak sempurnaan anaknya. Sehan tak tau apa-apa dan tak pantan Jessca menyebutnya seperti itu.
"ups...tapi mengapa kau musti marah saat aku menyebut dia idiot karna itu memang kenyataanya Luhan"
Luhan menatap marah pada Jessica yang semakin berbicara yang bukan-bukan. Ini masalah mereka mengapa harus melibatkan Sehan juga?
"Jika kau kesini hanya ingin mengatakan itu sebaiknya kau pulang saja Jessica shi. Aku tau apa yang kau maksud dari perkataanmu tadi. Kau ingin aku melepas Sehun untuk mu kan? tapi maaf Jessica shi aku tak akan pernah melakukan itu. Sehun suamiku, dia mencintai kami dan selamanya akan begitu"
Luhan berbicara penuh keyakinan, berusaha meyakinkan Jessica dan dirinya sendiri kalau Sehun memang mencintainya dan tak akan berpaling darinya apapun yang terjadi sekalipun yang dikatakan Jessica itu benar.
Ia mengenal Sehun, ia tau betul sampai kapanpun Sehun tak aka menghianatinya. Sehun tak pernah menunjukka kalau ia menyesal ataupun ingin meninggalkanya, pasti Jessica mengarang cerita. Iya pasti itu.
"kau mengusirku? dasar miskin sombong.Sebelum aku pergi aku cuma mau bilang kalau...aku masih mencintai Sehun. Ah aniya..maksudku kami, aku dan Sehun masih saling mencintai jadi ku mohon jika kau mau melihat Sehun bahagia relakan Sehun untukku dan kembalikan dia pada keluarganya, pada kehidupan semulanya. Berhenti menyiksa Sehun dengan menyuruhnya untuk hidup susah sepertimu. Karna Sehun punya kehidupan yang jauh lebih baik lagi dari ini. kau tau sepertinya...Sehun mulai bosah atau bahkan menyesal hidup denganmu"
"Pembohong..kau pembohong Jessica, Sehun tak mungkin seperti itu. Hentikan semua omong kosongmu itu"
Luhan menggeram marah. Tanganya mengepal erat berusaha menahan luapan emosi agar tak meledak-ledak memingat ada Sehan disisinya.
"Terserah kau mau bilang aku bohong atau apapun itu kalau kau masih tak percaya tanyakan sendiri pada suamimu itu, emm...tapi aku tak yakin Sehun akan pulang malam ini. Karna kau tau? dia tengah menikmati semua yang aku berikan."
"Cupuk.Jika aku tidak menghormatimu sebagai tamuku aku pastikan wajah cantikmu itu akan aku cakar-cakar Jessica shi"
Mendengar ancaman Luhan, Jessica berpura-pura menunjukkan ekspresi takutnya.
"ohh..benarkah? kau menakutkan Luhan. Selain miskin dan tidak berpendidikan kau ini juga otak kriminal ya"
"ck..ya sudahlah aku pergi dulu. Gerah juga lama-lama disini. Bye"
Selepas Jessica keluar dari rumahnya. Pertahanan Luhan runtuh seketika.Tubuhnya merosok dilantai ubin itu air matanya mulai mengalir perlahan, ia menutup mulutnya tak percaya. Benarkah? benarkah apa yang dikatakan Jessica tadi?.
Hatinya berdenyut sakit ketika secara terang-terangan Jessica mengatakan kalau dia mencintai Sehun yang berstatus suaminya.
" ama...ais..ama aan ais.."(eomma nangis, eomma jangan nangis)
Sehan berjongkok didepan sang ibu menggerakkan tangan mungil itu untuk mengusap air mata sang ibu.
" ehan dih maa..."(Sehan sedih ma)
Sehan berhamburan memeluk tubuh sang ibu, mencoba sedikit menghilangkan rasa sedih yang ibunya alami. Mungkin jika ia terlahir sebagai anak normal ia akan memaki perempuan yang telah membuat ibunya menangis dan bersedih seperti ini.
Luhan balas memeluk Sehan erat. Mencoba meredan emosinya dan mensugesti dirinya sendiri agar kembali tenang.
"Tidak sayang, mama tidak apa-apa. Maafin mama ya sudah membuat Sehan jadi ikut sedih"
Luhan mengusap pelan surai hitam sang anak dan dapat pula ia rasakan sang anak mengangguk pelan, merespon ucapanya.
"Ehan dih..aoo ama dih.." Sehan sedih kalau, eomma sedih"
"Tidak, eomma janji, mulai hari ini eomma tak akan nangis dan tak akan bersedih lagi karena...Eomma punya Seha yang selalu buat eomma bahagia."
Luhan mengusap air matanya kasar dan mencoba memberikan senyuman kepada sang anak untuk meyakinkan.
"peluk eomma sayang"
Luhan merentangkan tanganya kearah Sehan, sementara sang anak memperhatikan gerak sang ibu dengan seksama. Mengerti kalau sang ibu ingin dipeluk lagi dengan semangat tubuh kecil itu menubruk ibunya kencang, hampir saja Luhan terjungkal kebelakang kalau ia tak sigap menjaga keseimbanganya.
"eomma sayang Sehan. Apapun yang terjadi nanti. Eomma tetap sayang Sehan "
KLIK
CKLEK
Terdengar suara pintu apartement terbuka. Jessica orang itu melangkah masuk kedalam setelah sebelumnya mengganti sepatu dengan sendal rumah.
Yeoja cantik itu berjalan dengan santai kearah ruang TV dan ia tersenyum ketika melihat Sehun disana.
"Serius sekali"
Sehun menoleh kesumber suara dan menemukan Jessica berdiri dengan bersender di dinding.
"Eoh kau sudah pulang? dari mana saja ?"
Tanganya menepuk pelan shofa disebelahnya mengisyaratkan Jessica untuk mendekat.
"Ada sedikit urusan. Tapi itu tidak terlalu penting."
"Oh..."
Jessica memperhatikan Sehun yang tengah sibuk menonton acara tv itu dengan seksama. Gadis miskin itu pasti akan mengadu kalau dia baru saja datang kerumahnya dan mengataka semua yang ia kataka tadi pada Sehun. Jessica menyeringai licik, ia yakin malam ini pasti akan ada peperangan yang mengharukan sekaligus menyenangkan.
"Sehunna.."
Jessica memanggil Sehun pelan.
"Ne?"
"Kau...yakin tidak ingin seperti dulu? ah.maksudku kembali ke kehidupanmu yang sesungguhnya?"
Air muka Sehun sekejap berubah ketika mengerti arah pembicaraan Jessica.
"ck..kumohon jess..ayolah jangan membahas ini lagi..aku"
"Tapi aku sebagai sahabat tak tega melihatmu seperti ini sehun"
Jessica mulai memainkan sandiwara didepan Sehun. Menghasut pikiran Sehun dengan wajah memelas.
"aku tau selama ini kau sudah sangat menderita, buktinya kau menikmati saja apa yang belakangan ini aku berikan untukmu bahkan kau lebih banyak menghabiskan waktu bersama ku, di apartementku, aku yakin kalau sekarang ini kau mulai menginginkan menjadi seperti dulu? kau menyesal kan sehun? kau menyesal kan hidup dengan istri miskin mu itu dan anak idiotmu itu?"
"TUTUP MULUTMU JESSICA. JANGAN PERNAH KAU HINA MEREKA SEPERTI ITU"
Teriak Sehun marah. Akhir-akhir ini ia memang banyak menghabiskan waktu dengan mantan tunanganya ini, mereka semakin dekat malah tapi buka berarti dia bebas menghina anak dan istrinya seperti itu.
"Ck..oke oke..aku minta maaf. Aku salah bicara."
Jessica memegang pundak Sehun yang tegang berusaha meredam emosi lelaki itu.
"Tapi kapanpun kau mau kembali seperti dulu aku siap membantumu"
Sehun menepis kasar tangan Jessica dipundaknya. Mengerti kalau Sehun masih marah ia pun mencoba mencari cara lain untuk menghilangkan emosi pria didepanya ini.
Jessica melihat Sehun berdiri dan mengambil jaketnya disamping Shofa.
"Kau mau pulang?"
"Ya.."
"Bagaimana kalau kita minum dulu?"
Gerakan tangan Sehun yang hendak memakai jaket terhenti ketika Jessica berbicara.
"ayolah Sehun, anggap saja ini sebagai pertemuan kita yang terakhir, karna aku yakin setelah ini kita pasti jarang ketemu. Kau akan sibuk dengan keluargamu. mau ya?"
Pinta Jessica dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
Sehun menghembuskan nafas kasar dan mengangguk mengiyakan.
Mereka menghabiskan waktu untuk minum. Dan sepertinya rencana Jessica berhasil untuk mencegah lelaki itu untuk pulang. Lihatlah lelaki didepanya ini telah mabuk berat dan minum banyak sekali bahkan dalam kondisi mabuk saja dia masih menyebut nama Luhan. ck menyebalkan. Ia berencara menahan Sehun disini setidaknya ia akan menahan Sehun disini sampai besok pagi.
Biarlah si Luhan bodoh itu kebingungan mencari suaminya yang tak pulang.
malam sudah sangat larut, namun Luhan masih setia duduk didepan teras kecil rumahnya sambil sesekali menggosok kedua telapak tanganya untuk menghalau rasa dingin. Suasana sudah sepi hanya suara-suara hewan kecil yang terdengar bersahutan.
"Ini sudah hampir pagi mengapa kau tak juga pulang Sehunnie?"
gumam Luhan syarat akan kekhawatiran yang berlebih.
"apa semua yang dikatakan Jessica siang tadi itu benar? bahkan kau tak juga pulang Sehun. Padahal ini sudah sangat larut. Kau tak pernah seperti ini sebelumnya. Ada apa denganmu Sehunna?"
Ia masih masih memikirkan semua perkataan Jessica siang tadi. Jessica mantan tunangan Sehun?
tapi yang paling membuat hatinya sakit adalah ketika Jessica bilang kalau Sehun menyesal hidup denganya . Sehun bosan hidup miskin denganya? apa semua itu benar? Sehun membohonginya, ia tidak bekerja tapi berdua bersama Jessica diapartement perempuan itu. Jika bena Sehun begitu berarti benar, Sehun membohonginya.
Mengingat itu semua Luhan jadi teringat akan tingkah aneh Sehun akhir-akhit ini, Berangkat pagi tanpa sarapan, pulang hampir larut malam, membawa barang-barang mahal yang entah darimana suaminya itu dapatkan. Serta Sehun yang agak temprament akhir-akhir ini.
Bahkan Sehan sang anak selalu merengek hanya untuk bisa bermain dengan ayahnya seperti biasanya. Namun selalu menolak dengan beribu alasan.
Ia jadi terfikir. Apa Sehun menyesal memilihnya dan hidup serba susah denganya?. Jika itu memang benar berarti dia lah yang telah merusak kehidupan Sehun. Jika diperhatikan Jessica itu memang cantik, kaya, dari keluarga berpendidikan. Tidak seperti dirinya, jangankan harta keluarga saja dia tak punya. Perbedaan dirinya dan Jessica memang sangat jauh antara bumi dan langit. Apa Sehun meyesal telah memilihnya dan ingin kembali pada mantan tunanganya itu?
Hari mulai beranjak pagi, sinar matahari sedikit demi sedikit mulai menerobos masuk melalui jendela kamar apartement mewah itu. Sehun, lelaki itu bangun dengan memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Ia semalam mabuk dan..
Matanya terbelalak ketika ia ingat apa yang terjadi semalam.
Ia berniat pulang kerumahnya namun Jessica mengajaknya minum terlebih dahulu, ia mabuk berat dan...astaga apa yang telah ia lakukan. Ia tak pulang semalaman. Pasti Luhan khawatir.
CKLEK
Suara pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Jessica yang keluar dari sana dengan hanya menggunakan jubah mandinya. Rambutnya basah terbungkus rapi oleh handuk dikepalanya.
"kau sudah bangun?"
Sehun tak menjawab, ia mengapati penampilan jessica dengan seksama. Mengerti dengan apa yang difikitkan lelaki tampan itu Jessica berjalan dan duduk disamping Sehun.
"Tenanglah sehun, tak terjadi apa-apa semalam. Kau mabuk, dan aku hanya berusaha memindahkan mu dikamarku lalu kita tidur bersama..ah maksudku hanya tidur tak lebih. Percayalah"
"Aku harus pulang."
"Ne pulanglah. Jika kau nanti atau kapanpun itu beruba pikiran temui aku saja Oke?"
Ujar Jessica. Jari lentiknya itu sedikit merapikan baju yang berantaka.
"Aku pulang"
Sehun berlalu begitu saja. Berusaha untuk tidak terpancing oleh omongan Jessica.
Luhan selesai menyiapkan sarapan, ini sudah pukul 8 pagi tapi Sehun belum juga pulang. Semalaman suntuk ia menunggu Sehun pulang hingga jam 3 pagi ia lelah menunggu karena rasa mengantuk yang teramat. Ketika ia bangun pagi pun bagian ranjang disisinya pun masih kosong hanya Sehan yang terlelap disana.
Anak itupun sama, masih terus menanyakan keberadaan sang ayah. Mungkin Sehan merasa kangen karena tak bertemu sang ayah selama 1 hari kemarin.
"Hoek..hoek.."
Luhan berjongkok didepan closet kamar mandi, masih berusaha memuntahkan semua isi perutnya pagi ini.
Mungkin mulai sekarang Luhan harus terbiasa dengan kebiasaan barunya ini. Morning sickness selama beberapa bulan kedepan.
"Hoek...uughh..hoek.."
pagi ini perutnya sangat mual sekali, kepalanya pusing berkunang-kunang.
Setelah dirasa mualnya mereda Luhan membasuh bibirnya dengan air kran. Dan berniat keluar kamar mandi dengan tubuh yang masih terasa lemas.
Didepan pintu kamar mandi ia bisa melihat kepala Sehan menyembul mengintip kegiatanya yang sedang muntah tadi. Wajah kecil itu menatap ibunya denga rasa iba, tanpa tau apa yang harus dilakukan untuk sang ibu.
Luhan menuju pintu kamar mandi dan berjongkok mensejajarkan dirinya dengan sang anak.
"Eomma tak apa"
Jawab luhan mengerti akan kekawatiran dimata sang anaknya.
CKLEK
Luhan menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Sehun masuk dengan jaket yang terselampir dibahunya.
"AP..PA..."
Teriak Sehan dengan semangat ketika melihat sosok yang dirindukan ada didepanya.
Langkah kaki Sehun berhenti seketika saat mendengar pekikan Sehan.
Wajahnya menatap Luhan dan Sehan bergantian tanpa ada niatan untuk menyapa mereka.
Sementara itu Luhan yang mendapatkan tatapan datar dari Sehun hanya bisa menundukkan wajahnya berbeda dengan Sehan yang memasang senyum lebar, bahkan tangan kecil itu terjulur meminta Sehun menggendongnya.
"Appa lelah Sehan.Dan jangan berteriak seperti tadi itu tidak sopan"
Ketika mengucapkan "tidak sopan" mata Sehun melirik kearah Luhan.
"Ap..pa...ndong.. "(appa gendong)
" ndong..ehan ap..pa..angen ap..pa"(gendong, Sehan kangen appa)
Sehun mengacak rambutnya frustasi dan menggeram marah.
"KAU INI BICARA APA HAH? BICARALAH SEPERTI ORANG NORMAL BODOH."
Untuk pertama kalinya Sehun membentak Sehan. Luhan menatap hal itu tak percaya. Semalaman suaminya tak pulang dan setelah pulang ia membentak anaknya yang hanya meminta digendong.
"Sehun"
"Kau sudah besar Sehan, jangan terus-terusan meminta gendong. Belajarlah mandiri bocah"
"Sehun..apa yang.."
"Diam kau Luhan, jangan terus-terusan memanjakan anakmu itu. Biarkan saja dia agar belajar mandiri. Dia itu sudah besar, tapi masih saja kekanakan Bahkan diumurnya yang ke 5 saja dia tak bisa membuang air kecil sendiri tanpa bantuan orang lain"
Sakit, hati Luhan sungguh sakit mendengar ucapan Sehun. Secara tidak sengaja suaminya ini telah mengungkit-ungkit ketidak normalan anaknya sendiri kan?
"Jika kau marah padaku, lampiaskanlah padaku Sehun. Tapi jangan kau juga menyakiti Sehan. Apa kau sadar? secara tidak langsung kau telah menyinggung tentang ketidak normalanya. Kau..tega kau Sehun"
"Alah sudahlah, kepalaku semakin pusing mendengar celotetanmu"
Sehun mengabaikan perkataan Luhan, ia berjalan menuju kamar.
Sementara itu sosok Sehan, menatap sang ayah dengan rasa takut. Bukan karena ia sakit hati karena ayahnya memarahinya karna jujur ia tak paham dengan apa yang ayahnya ucapkan barusan. Yang ia takutkan adalah ketika melihat mata ayahnya itu melotot dan wajah nya yang juga memerah.
Luhan masuk kedalam kamar, pandanganya menyapu keseluruh ruangan kecil tanpa jendela itu. Disudut ruangan bisa ia lihat Sehun sepertinya tengah sibuk berbicara dengan seseorang melalui sambungan telfon.
Ia berjalan untuk lebih dekat lagi dengan Sehun yang memunggunginya. Sepertinya Sehun sangat serius dengan lawan bicaranya sampai tak menyadari kalau Luhan ada disana.
Cukup lama Luhan menunggu hingga tubuh tegap itu berbalik dan hampir menubruk dirinya.
Sehun terkejut ketika membalikkan tubuhnya dan mendapati Luhan berada hadapanya.
"Ada apa?"
Luhan menunduk takut ketika mendengar dana tak mengenakkan dari Sehun.
"aku..sudah menyiapkan makanan untukmu. Kau pasti lapar."
Bukan menjawab, Sehun justru berbalik dan menjatuhkan diri diatas karus lipat yang keras itu. kembali sibuk dingan ponselnya.
"Em...baiklah. Mungkin kau belum lapar."
"Sehun ada...yang ingin aku katakan padamu"
Luhan meremas ujung bajunya dengan gugup. Seletah mendengar ini apa Sehun nanti akan senang dan luluh tak sekaku ini.
"Sehun..aku..kita akan punya anak lagi. Maksudku..aku hamil"
Mendengar itu sontak saja Sehun berdiri, dan menatap Luhan dengan ekspresi yang sulit diatrikan.
Luhan jadi bertambah gugup ketika melihat reaksi yang diberikan suaminya itu. Sungguh ia tak bisa menebak ekspresi Sehun saat ini.
"Kau...senangkan?"
"Apa? Hamil? kau hamil?"
"Iya Sehun. Kita akan punya anak lagi dan Sehan akan punya adik"
"Heuh...Hamil lagi? Apa itu berarti aku akan punya anak lagi? anak yang mungkin saja akan terlahir seperti sebelumnya?"
"Sehun..apa maksudmu"
"Cobaan apalagi ini tuhan. Setelah satu anakku itu tak normal apa kau juga akan memberikanku anak yang bernasip sama seperti dia"
Luhan menatap Sehun tak percaya. Ia sungguh terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apa yang kau katakan Sehun? dia itu anakmu mengapa kau tega berbicara seperti itu padanya Sehun."
"Cukup Luhan, aku sudah muak dengan semua ini. Aku miskin dan tuhan akan jauh membuat hidupku lebih menderita lagi dengan kehadiran bayi itu nanti."
"Jadi kau mulai menyesal dengan keputusanmu 5 tahun lalu? oleh karna itu kau ingin kembali kepada mantan tunanganmu dan hidup kaya seperti dulu?"
Sehun terperangah ketika Luhan menyinggung tentang matan tunanganya. Jessica, dari mana Luhan tau tentang itu?
"Darimana kau tau tentang itu?"
"Jadi benar semua itu?"
Luhan menatap nanar kearah Sehun. Matanya kini mulai memerah.
"Ya aku memang berhubungan lagi denganya, aku memang banyak menghabiskan waktu denganya. Karna kau tau apa? dia bisa memberiku apa yang aku mau. Bukan kehidupan susah seperti ini"
"5 tahun aku mencoba sabar, tapi apa nyatanya? Tuhan justru memberikanku beban yang bertubi-tubi. Mulai dari anak yang cacat hingga hutang dimana-mana."
"Seharusnya dari dulu aku sudah hidup enak, tak perlu melakukan pekerjaan yang menjijikkan seperti ini, menjadi kuli, tukang parkir bahkan dihina orang sana sini karna aku miskin"
"Aku baru sadar ternyata aku telah menyia-nyiakan hidupku yang mewah hanya demi wanita sepertimu, tak berguna. Aku menyesal mengabaikan ucapan keluargaku. Meninggalkan mereka dan rela dicoreng dari daftar kelurga hanya demi si bodoh sepertimu, aku menyesal karna lebih memilihmu daripada keluargaku sendiri"
"Jadi kau malu karena telah memilihku Tuan Oh? Kau mau menikahi aku? seorang perempuan biasa, dari lingkungan miskin yang tak jelas asal usulnya ini? jawab Tuan Oh?"
"ya aku malu..kau mau apa hah? aku malu memiliki istri bodoh sepertimu, jikq sekarang aku boleh memilih aku lebih memilih Jessica yang jauh lebih sempurna dan lebih menarik dibandingkan dirimu"
"Bukan mengurangi beban,kau malah menambah bebanku saja"
Hati Luhan seperti teriris-iris ketika mendengar perkataan Sehun yang terdengar sangat menyayat hatinya. Jadi benar Sehun...menyesal. Jika sudah begini Luhan bisa apa. Memang benar apa kata keluarga Sehun dulu. Sehun tak tulus memilihnya ia hanya dibutakan oleh cinta sesaat karna pada akhirnya Sehun akan meninggalkanya.
Kau bodoh Luhan, kau bodoh.
"Dan sekarang kau bilang kau hamil lagi? heuh... Hutang 5 tahun lalu saja belum lunas bahkan semakin menggunung, apalagi dengan kehadiran bayi itu? Harus berapa banyak lagi aku harus menghutang Luhan? Kau pikir dengan aku yang hanya bekerja serabutan mampu melunasi hutang sebanyak itu? Tak bisakah kau sedikit meringankan bebanku Lu? Bukan tambah memperparah seperti ini. "
"AKU MALU LU, AKU MALU KEPADA SEMUA ORANG, HIDUP MISKIN TINGGAL DI TEMPAT BAU DAN KUMUH SEPERTI INI DENGAN ANAK CACAT DAN HUTANG DIMANA-MANA. AKU MALU LU, AKU MUAK"
Sehum berteriak marah tepat didepan wajah Luhan.
Sementara itu Luhan kini semakin terisak keras. Sungguh masih tak percaya dengan apa Sehun katakan. Tenyata Sehun sangat menderita hidup denganya seperti ini. Ini salahnya, andai saja dulu ia tak menerima lamaran Sehun dan menuruti perkataan Eomma Sehun untuk pergi jauh dari kehidupanya. Pasti semuanya tak akan seperti ini. Sehun tak akan masuk lebih jauh oleh kehidupanya. Sehun akan hidup tenang tanpa harus hidup susah denganya. Sehun tak akan malu dengan keadaanya yang seperti ini, apalagi Sehun sudah terang-terangan jika ia malu memiliki Sehan yang tak sempurna.
"Maaf...maafkan aku Sehunna"
Luhan terisak pelan. Tak tau lagi harus berkata apa pada Sehun. Mungkin disini dirinyalah yang patut disalahkan.
Sehun masih terengah-engah akibat luapa emosinya yang meledak-ledak. Ia menatap Luhan tanpa rasa kasihan.
Keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.
5 tahun lebih mereka bersama dan hampir tak pernah ada pertengkaran diantara mereka. Namun mengapa ketika salah satu dari mereka mengungkapkan segala keluh kesahnya selama ini justru kenyataan pahitlah yang justru pasangan lainya dapatkan.
"Kau...menyesal.."
"Aku...tak memaksamu untuk memilihku, bahkan dulu jika kau meninggalkanku begitu sajapun aku rela Sehun. Karna dari awal aku sadar siapa diriku ini. 5 tahun bersama aku pikir kau bahagia hidup bersama ku tapi ternyata kau mengingatkanku kembali siapa aku sebenarnya Sehun, sekarang kau justru menegaskan bahwa aku tak pantas denganmu.Kenapa kau tak mengingatkan siapa aku sejak dulu saja Sehun? kenapa kau tak mengatakanya dari dulu saja Sehun? mengapa kau baru mengatakanya sekarang Kalau kau menyesal? Kau membuatku seperti orang jahat Sehun yang merusak kehidupan orang lain, kau membuatku merasa bersalah karena telah menyeretmu dalam kehidupan seperti ini Sehun"
Runtuh sudah pertahanan Luhan. Ia menjatuhkan tubuhnya dilantai ubin yang dingin itu.
Air matanya tak henti mengalir, badanya bergetar hebat karena tangisanya.
Sehun berjalan keluar meninggalkan Luhan yang masih terisak. Ia butuh ketenangan, dan bukan ditempat ini.
Ketika Sehun berjalan Keluar kamar ia mendapati Sehan duduk meringkuk dipojok ruangan, dan ketika mendengar suara lirih yang memanggil namanya itu entah mengapa tubuhnya terasa kaku.
"Ap...pa.."
"DIAM KAU, KALIAN SAMA SAJA MENYUSAHKAN"
Setelah mengucapkan kata-kata kasar itu Sehun benar-benar meninggalkan rumah.
TETTTTT
TEEETTTTT
TEEEETTTT
Terdengar suara bunyi bel apartement yang ditekan secara tak sabaran oleh ditamu membuat Jessica, wanita yang sedang menikmati waktu tidurnya itu terganggu. Dengan terburu-buru pula Jessica keluar dari kamar menuju pintu utama.
CLEK
BREP
Dan ketika ia berhasil membuka pintu tersebut ia langsung disambut pelukan oleh si tamu.
"Sehun?"
Jessica mengerutkan keningnya ketika mendapati Sehun yang datang langsung memeluknya seperti ini. Ada apa? apa ada masalah?.
"Sehun? ada apa? ini sudah malam mengapa kau kemari? kau ada masalah?"
tanya Jessica sembari membalas pelukan Sehun.
"Aku bertengkar denganya Jess, Kau benar mereka semakin lama hanya membuat bebaku bertambah Jess, aku...aku.."
Jessica menyeringai licik ketika mendengar ucapan Sehun. itu tandanya ia berhasil mempengaruhi Sehun. Ini saatnya ia melancarkan aksinya untuk mendapatkan Sehun kembali.
"Tenanglah Sehun, kita bicarakan ini baik-baik heum? ayo masuk. ini sudah malam, sebaiknya kita istirahat dulu kau juga butuh ketenangan Sehun. Ayo"
Jessica menggiring Sehun untuk masuk kedalam apartementnya.
Dan dengan pasrah Sehun mengikutinya.
"Apa masih belum ada kabar tentang keberadaan mereka Jin hye eonni?"
"Maaf, tapi kami masih belum mendapatkan informasi apapun tentang mereka selama 5 tahun ini Hana-ya.."
"Oh tuhan, mengapa jadi seperti ini. Disaat aku mulai menemukan putriku tapi dia malah pergi jauh dariku. Aku bahkan sulit mencarinya. Putriku yang malang"
"Tenanglah Hana, mereka pasti akan kembali, kau pasti bisa bertemu putrimu kembali. Andai saja aku tau ini lebih awal pasti aku tidak akan mengusir Sehun dan membawa putrimu pergi juga Hana-ya, aku pasti akan merestui mereka dan kehidupan mereka pasti tak akan dalam pelarian seperti ini. Oh ya tuhan bagaimana mereka hidup sekarang? Lindungi anak dan menantuku Tuhan aku berdosa pada mereka"
Xi Hana, nama wanita paruh baya itu memeluk wanita paruh baya yang seumuran denganya itu. Mencoba menenangkan sosok yang ternyata adalah besanya itu Oh Jin Hye.
"Maafkan aku Hana, ini semua juga karna salahku"
"Sudahlah eonni, tak ada yang perlu disesali lagi. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Kita doakan saja semoga mereka cepat kembali kepada kita"
"Ya semoga saja"
Xi Hana dan Oh Jin Hye merupakan sahabat karib sejak mereka masih berada di Sekolah menengah pertama. Mereka bersahabat sangat dekat hampir 15 tahun persahabatan mereka tak pernah terpisahkan. Namun pada waktu itu Xi Hana yang menikah dan bersuami orang keturunan Beijing membuatnya harus pergi dan menetap di Beijing bersama sang Suami. Mereka bertemu 3 tahun silam ketika Xi Hana datang dengan kabar bahwa ia kehilangan putrinya yang telah ia lahirkan 23 tahun silam. Dan alangkah terkejutnya Oh Jin Hye ketika Hana menceritakan sosok putrinya yang hilang itu ternyata adalah seorang wanita yang amat dicintai anaknya dan juga sosok yang sangat dibencinya pada waktu itu. Sontak saja penyesalah menghantui Jin Hye, atas apa yang telah ia lakukan pada putri sahabatnya itu. Beribu maaf ia ucapkan sebagai permintaan maafnya dan dengan lapang dada Oh Hana menerima maaf itu yang terpenting hubungan persahabatan mereka tetap terjalin dan anak-anak mereka kembali.
TBC
HAY HAY HAY...
Gimana makin ngacok kah ceritanya?
Masih mau dilanjut?
Jangan lupa tinggalin jejak
Oh ya Author lagi bingung nyari kerja nih doakan ya semoga author cepet dapet kerja. Pusing weehhh nyari kerjaan sekarang susahnya minta ampun. Yang doain author, gue doain masuk surga semua,
Oke deh See you next chapter
