BORNEAN BOY
Chapter 3
Main Cast :
Meanie
Genre :
Humor, Romance and Friendship, AU!
Summary :
Kim Mingyu seorang mahasiswa jurusan biologi semester kedua, pergi ke indonesia untuk penelitian tugas akhirnya, bertemu dengan seorang bornean boy. "Apa itu o-rang-ngu-tan?" - Kim Mingyu.
READY?
HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
Writer : Hansollee
Hujan kembali mengguyur daerah tempat tinggal Wonwoo, sudah setengah jam Wonwoo dan Nathan duduk di tengah-tengah gubuk bersama orangutan yang mengelilingi mereka. Nathan terlihat agak risih tapi tidak peduli karena ia kedinginan. Di tambah ia hanya memakai kaos putih bertuliskan Youth di balut kemeja kotak-kotak merahnya yang sama sekali tidak membantu menghilangkan hawa dingin yang semakin menjadi.
Wonwoo tentu saja menyadari itu, Nathan itu tidak kuat udara dingin tapi dia bisa apa? Dia saja hanya pakai hoodie biru langitnya dan dia tidak membawa jaket atau mantel karena ia kira hari ini pasti akan cerah.
Tolong jangan ada yang berpikiran atau berusul Wonwoo memeluknya!
Nathan menghela nafas lega saat gun memeluknya, Nathan balas memeluk sembari memejamkan matanya, mulutnya sedikit terbuka dengan suara dengungan keluar dari mulutnya.
YA TUHAN MENGGEMASKAN SEKALI! Batin Wonwoo menjerit, sembari mengepalkan kedua tangannya di saku hoodienya.
"Nathan"
Tak di jawab, mungkin Nathan terlalu menikmati kehangatan gun yang juga sama-sama menyandar nyaman di dada Nathan. Berbagi kehangatan tak masalah. Tapi, sebaiknya mereka pulang karena hari sudah mulai sore dan lagi, cuaca mendung seperti ini akan membuat mereka sulit untuk melewati jalanan setapak.
"Ayo bangun, kita harus pulang. Nanti bahaya kalau kita tidak cepat pulang, jalanan akan gelap" kata Wonwoo seraya menarik kedua tangan gun yang masih bergelayut manja di bahu Nathan. Yang lebih pendek membuka matanya perlahan, mengerjab lucu dan SUMPAH DEMI APAPUN WONWOO INGIN SEKALI MENCUBITNYA!
Ekhm, dengan jarak sedekat ini, Wonwoo semakin sulit mengendalikan kedua tangannya, dengan cepat ia menarik gun menjauh dari Nathan lalu menarik pemuda itu keluar gubuk.
"Nathan pegang payungmu"
"Iya iya..", Nathan memegang payung birunya lalu menguap, ia mengantuk dan ingin cepat-cepat tidur di kasur empuknya. Wonwoo mengunci gubuk istananya lalu menarik tangan Nathan yang bebas.
Menuju jalanan yang sangat licin dan banyaknya kubangan air membuat Wonwoo harus 2x lebih hati-hati, salah melangkah sedikit saja, ia bisa jatuh ke jurang. Nathan yang berada di belakangnya tampak terlihat acuh walau sesekali ia tersentak saat hendak melangkah. Tak di duga Nathan terpleset saat mereka melewati turunan jalan. Wonwoo langsung berbalik badan dan menolongnya, memarahinya lalu kembali menggandeng tangannya dan itu sungguh membuat Wonwoo merasa sangat kerepotan. Nathan bergumam maaf sembari meringis.
Dan mereka terjebak di keheningan, waktu menunjukkan pukul 6 sore ketika Wonwoo melihat seseorang yang ia kenal sedang mengunci Green House di sebelah utara.
"Hai Wonu?!" teriak seseorang itu. Wonwoo tersenyum lalu membungkuk, Nathan hanya diam melihat seseorang itu. "Ya Paman!"
"Paman duluan ya!"
"Ya Paman! Hati-hati!"
Teriakan keduanya bersahutan, Wonwoo balas melambaikan tangannya saat sang Paman hilang di tikungan jalan.
"Wonu, Paman itu pemilik kebun strawberry kan?"
"Ya"
Mata Nathan berbinar antusias. "Bagaimana kalau besok kita kesana?!" ujar Nathan sembari menunjuk Green House milik Pamannya.
Wonwoo diam sesaat. Setelahnya mengangguk dengan senyum manisnya. "Boleh"
Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
.
Saat keduanya berjalan beriringan melewati padang rumput dan kebun jagung yang tingginya hampir menyamai Nathan di dekat sungai, Wonwoo menghentikan langkahnya, menatap Nathan yang juga menatapnya. "Ada apa?" tanya Nathan sedikit mendongak. Beban tubuhnya ia tumpu di kaki kirinya, matanya menatap Wonwoo sayu.
"Kamu pegang senter saja, aku yang pegang payungnya. Kamu kelihatan mengantuk sekali" saran Wonwoo sembari menukar barang yang di bawa mereka. Nathan hanya mengangguk menyetujui. Lalu keduanya kembali melangkah -berjalan pelan karena Nathan masih merasakan denyutan sakit di bagian mata kaki kanannya.
Tetesan air hujan terganti dinginnya angin yang menerpa tubuh mereka, Nathan bergidig merasakan hembusan angin yang sangat menusuk kulitnya. Sejauh matanya memandang hanya ada pepohonan dan suara derasnya air sungai maupun suara burung dan hewan lainnya. Mereka sudah berada dekat dengan wilayah perkampungan, tapi entah kenapa Nathan merasakan takut, sedangkan Wonwoo hanya diam menatap lurus ke depan meski sesekali menghela nafasnya karena terlalu lelah mengurusi orangutan hari ini. Ia kesal mengingat sejak pagi Sorin maupun para Sukarelawan yang katanya akan datang siang ini untuk membahas 4 mahasiswa korea itu, mendadak membatalkan perjanjian akibat salah satunya lupa membawa berkas mereka dari kota.
"Wonu"
"Hng"
"Aku takut", sontak Wonwoo menoleh dengan picingan matanya yang membuat Nathan gugup. "Kamu takut? Buat apa? Kita sebentar lagi sampai kok"
"Kamu sih diem aja! Kan aku takut, mana kakiku agak sakit karena terpleset tadi" ujar Nathan setengah merengut, mampu membuat Wonwoo terkekeh kecil.
"Nanti aku obati tiba di rumah", Nathan mengangguk meng'iya'kan.
Ia kembali menatap jalanan setapak yang di terangi oleh lampu senter yang Nathan arahkan.
Sebenarnya Wonwoo juga luar biasa kedinginan karena posisi tubuhnya yang setengah keluar dari payung. Ia tak masalah kehujanan, asalkan sahabat lucunya tak kehujanan dan berakhir ia yang harus merawat anak majikan ayahnya ini seminggu ke depan.
Nathan itu manja.
"Wonu"
Nathan memanggil Wonwoo saat keduanya tiba di depan rumah keluarga Jeon. Terlihat Dino keluar dari rumahnya dengan menjijing paperbag putih, Wonwoo mengernyit melihat itu. "Wonu! Dengar aku tidak sih?!"
"Eh apa?", Wonwoo memutar kepalanya ke kiri. Sangat jelas raut wajah Nathan kesal bukan main. Sementara Dino yang berada di depan pagar besi rumahnya hanya diam menatap mereka.
"Aku menginap di rumahmu saja ya? Ini kan sudah hampir malam, aku takut pulang"
"Tidak!"
"Wonu~ izinkan ya?!" rengek Nathan setelah menutup payungnya. Mimik wajahnya berganti sedih, dan siapa yang tahan akan itu?
Dino tersenyum samar, lalu berdeham. "Eum, Kak"
Mereka berdua menoleh. "Oh Dino! Kamu mau kemana? Kok keluar?", Nathan mendekat ke arah Dino.
"Ada tugas kelompok, aku mau ke rumah Mingming" jawab Dino, tangannya sibuk memainkan tali paperbag-nya.
"Sore-sore begini?" tanya Wonwoo kebingungan, melirik isi paperbag adiknya. Yang entah itu apa isinya.
Sebenarnya Dino hanya berpura-pura, niat awalnya sih ingin memberikan cokelat ke Nathan, tapi tak apalah bisa lain waktu. Dan mungkin ia masih bisa menginap di rumah nenek atau bibinya saja tak masalah.
"Dan aku akan menginap di rumah bibi, kan dekat dengan rumah Mingming" kata Dino seraya mengangguk meyakinkan tatapan Wonwoo yang menyelidik.
Rintikan hujan kembali turun, Nathan memukul lengan Wonwoo sembari membuka pagar rumah keluarga Jeon. "Ayo Wonu! Udah mau hujan lagi nih!", Nathan tersenyum manis ketika Dino menatapnya lalu menepuk kepala Dino pelan. "Belajar yang rajin, hati-hati di jalan! Dah!"
Setelah Nathan pergi, Dino tetap memandangnya, tak mengelak bahwa ia begitu menyukai senyuman anak keturunan Jepang itu. Tidak menyadari Wonwoo yang terus memperhatikannya sejak tadi. "Dino"
"Aku pergi hyung, takut kehujanan, dah.." ujar Dino cepat. Tersenyum tipis lalu pergi -berlari cepat dengan memegang erat paperbag-nya.
Wonwoo terdiam melihat sikap adiknya. Dan ia tersadar akan satu hal, Dino berbeda hari ini -ah mungkin sejak hampir setahun yang lalu. Dino mulai menunjukkan sisi aslinya, di balik senyum dan ketenangannya.
"Kamu seharusnya tidak perlu melakukan ini" lirih Wonwoo.
Dan setelah Wonwoo mengucapkan itu, hujan kembali turun.
Segera Wonwoo masuk, mengunci pagarnya, melirik jalan yang di lalui adiknya kemudian memasuki rumahnya. Sore menjelang malam itu, Wonwoo merasa bersalah kepada adiknya.
Brak!
Brak!
"DEMI TUHAN AKU MEMBENCIMU CHOI!"
"HANSOL SIALAN!"
"ASTAGA! LIMA MENIT LAGI! CEPATLAH SEDIKIT!"
"YAK TUNGGU AKU!"
"HEY KALIAN! HATI-HATI!"
Itulah kalimat yang terdengar saat keempat -tidak tambahan Seungcheol yang mengantar mereka ke bandara. Kelima orang itu turun dari mobil dengan tergesa-gesa, sampai Seungkwan menabrak orang-orangpun di hiraukannya. Ia sibuk mengumpati Hansol yang kelewat warasnya itu.
Keempatnya berhenti sejenak di tengah-tengah bandara. Berbalik lalu melambai ke arah Seungcheol yang masih terdiam di ambang pintu bandara.
"KABARI AKU JIKA SUDAH SAMPAI!"
"YA HYUNG! TERIMAKASIH!"
"AKU MENYAYANGIMU HYUNG! BYE!"
Seungcheol menghela nafas lega. Menatap keempat punggung yang menjadi objek matanya dengan senyuman di wajahnya. "Astaga, ini benar-benar melelahkan sekaligus konyol. Cukup menghibur" gumamnya sembari menggelengkan kepalanya, ia terkekeh kemudian lalu berbalik meninggalkan bandara.
.
Kini mereka sedang Check In tiket pesawat mereka, begitupun dengan yang lain. Yang bertujuan sama dengan mereka. Dan bagus sekali mereka kebagian mengantri paling akhir -sepertinya.
"Aku benar-benar membencimu Choi" desis Seokmin. Mingyu yang di belakangnya hanya diam mengatur nafasnya yang memburu. 'Ini adalah hal terkonyol yang pernah aku lakukan' batin Mingyu, ia kembali menggeret kopernya saat satu-persatu calon penumpang pergi memasuki terminal bandara dengan terburu-buru.
Tentu saja.
Pengumuman pesawat tujuan Indonesia (bagian kalimantan) sudah di umumkan sejak 2 menit yang lalu.
Seokmin berbaris yang paling depan dari mereka berempat, dengan kesal setelahnya ia kembali berlari memasuki terminal bandara, selanjutnya Mingyu yang agak kesusahan karena membawa banyak barang. Lalu Hansol kemudian Seungkwan yang terlihat sudah kelelahan.
"Hansol tunggu!"
Hansol yang mendengar teriakan Seungkwan berbalik. Lalu mengulurkan tangan kanannya, "Ayo cepat! Sebentar lagi pesawat akan lepas landas!"
Seungkwan menerima uluran tangan Hansol, "Itu salahmu sendiri bodoh! Ku pastikan hahh.. Mingyu akan mencincangmu untuk hah.." ujarnya sembari berlari. Ia kesusahan membawa boneka Teddy Bear sekaligus kopernya yang berat bukan main. Hansol hanya meringis pelan, lalu keduanya memasuki pesawat dan benar mereka penumpang terakhir yang masuk.
Kekehan kecil terdengar di dalam sebuah mobil pribadi berwarna hitam yang kini sedang berhenti di lampu jalan yang berubah merah, memandang ke jalanan yang mulai lengang.
Ponsel pintarnya yang sejak tadi ia tempelkan ke telinga kanannya sedikit ia jauhkan. Lalu ia berkata; "God! Wajah mereka berempat membuatku gemas bukan main! Hahahaha.. Apalagi Seokmin, kau tahu sayang? Mereka sangat heboh saat turun dari mobil, ya ampun perutku!" ujarnya dengan tertawa yang lebih keras -untuk seseorang di ujung sambungan telfonnya, saat lampu berganti ke hijau ia kembali menjalankan mobilnya.
"..."
"Iya benar-", matanya menatap bingung ke arah benda di kursi penumpang melalui kaca spion mobilnya. Telingannya masih mendengarkan suara di seberang sana. "Hng... Sebentar sayang", Seungcheol menepikan mobilnya ke parkiran khusus. Lalu mengambil benda yang sempat membuatnya penasaran. Di ambilnya kotak berukuran sedang itu, lalu di bukanya perlahan. Ponselnya kembali ia tempelkan, dan tawanya meledak melihat isi kotak tersebut.
"Fakta yang lucu, aku pikir Seungkwan akan histeris dan Hansol akan susah menenangkannya"
"..."
"Hansol membawa ponselnya", sekuat tenaga Seungcheol menahan tawanya tidak sampai batas oktaf tertinggi.
"..."
"Yang lain meninggalkan ponsel mereka, hahahahaha!"
Ya benar,
Hansol kewalahan menenangkan Seungkwan dan -Seokmin juga Mingyu di pesawat di tengah-tengah awan sana. Seokmin merusuh -mengganggu penumpang yang sedang tidur. Tapi Seokmin mengabaikan dan terus menggeledah isi tasnya yang berada di bagasi kabin pesawat.
Sampai 2 orang pramugari menghampirinya tapi di abaikan.
"Ada yang bisa kami bantu Tuan?" tanya pramugari berjam tangan putih.
Tidak ada respon.
"Tolong Tuan segera duduk, bisa bahaya jika anda terus berdiri" kata salah satu pramugari dengan rambut berwarna merah maroon. Para penumpang yang lain terus menatap ke arah mereka, Hansol semakin kesal di buatnya dan Seungkwan yang tidak bisa diam di sampingnya mengoceh; 'Ponselku.. Ponselku Hansol! Tidak ada! Bagaimana aku menghubungi orangtuaku nanti?!', menjadikan amarahnya semakin memuncak.
"Aduh tenanglah kalian semua! Hik..", seperti sedang di bicarakan ia cegukan tiba-tiba. Sedangkan Seungkwan-Seokmin kembali ribut, karena mencari kotak yang berisi ponsel mereka. Mingyu hanya diam duduk di sebelah Seokmin, memijat pelipisnya yang semakin pusing.
Hansol menyerah. "As-hik-taga.. SEUNGCHEOL HYUNG!" berteriak sekeras-kerasnya.
Mereka berakhir di tatap sinis oleh penumpang lain.
Srakk Srakk
"Ya ampun! Di mana sih?!"
Nathan mengernyit bingung dalam kantuknya, mata sipitnya perlahan terbuka, melenguh sejenak merasa terganggu dalam tidurnya. Ia menoleh ke samping dan tak mendapati Wonwoo, lalu ia pun mendudukkan dirinya menatap kesekeliling dan ia melihat seseorang sedang berjongkok di bawah kolong meja.
"Wonu"
Duk!
"Aduh!"
Wonwoo mengusap kepalanya sendiri lalu keluar dari kolong meja. Ia memutar pandangannya ke Nathan, "Oh maaf, apa aku terlalu berisik?"
Nathan justru semakin bingung Wonwoo malah bertanya. Apa yang di lakukan Wonwoo malam-malam begini? Nathan melihat jam dinding di kamar Wonwoo.
23:40 WITA.
"Wonu, memangnya ada apa? Kenapa gak tidur?" suara Nathan begitu pelan dan serak khas seorang baru bangun tidur, dan Wonwoo samar-samar mendengarnya. Melirik sahabatnya di bawah penerangan minim -karena lampu kamar Wonwoo begitu redup. Wonwoo membuang nafas kasar, tadi ia terbangun karena kepikiran 4 mahasiswa korea yang akan datang besok, lagi ia lupa mengecek data yang baru datang saat Wonwoo selesai makan malam. Tapi Wonwoo tidak bisa tanpa kacamatanya. Ia lupa meletakkannya di mana, karena jika besok pagi tidak keburu. Para sukarelawan dari Samboja lestari dan Ketua BOS Foundation -begitupun Sorin akan datang tepat pukul 9 pagi.
"Aduh! Aku lupa di mana menaruhnya! Aissh!", Wonwoo mengacak rambutnya lalu kembali membuka laci atau meja bahkan kasurnya yang masih di tempati Nathan yang setengah sadar -untuk mencari benda paling berharganya itu. Nathan menatap Wonwoo bingung saat melempari semua pakaiannya di lemari tapi tak sampai membuat kegaduhan. Ia pun berniat membantu, menanyakan kembali apa yang menjadi penyebab Wonwoo terbangun di tengah malam.
"Wonu, ini sudah malam. Apa tidak bisa besok saja mencarinya?"
Wonwoo terdiam, menolehkan kepalanya. "Tidak"
Seketika mata Nathan terbuka seutuhnya mendengar ucapan dingin Wonwoo.
"Memangnya apa yang kamu cari?" tanya Nathan sembari mengatur pencahayaan lampu kamar Wonwoo. Yeah, hebat bukan penerangan di kamar Wonwoo bisa di atur. Nathan bahkan memaksa Ayahnya memasangkan lampu seperti Wonwoo di kamarnya. "Lihat, semuanya berantakan Wonu. Sudahlah kita istirahat saja" ujar Nathan seraya duduk di ujung kasur Wonwoo.
Lantas Wonwoo berbalik menghadap tepat di depan Nathan. Menatap pemuda lebih tua satu bulan dengannya itu kesal.
"Apa masalahmu ini kamarku! Sekalipun aku membakar kamarku, tidak ada hubungannya denganmu! Kalau mau tidur, tidur saja! Lagipula aku tidap memerlukan bantuanmu!" kata Wonwoo dengan nada sedikit meninggi.
Nathan membeku, matanya terpaku ke arah Wonwoo yang kini sedang mengacak-acak lemarinya, lalu ke meja belajarnya. Nathan menggigit bibir bawahnya saat Wonwoo meliriknya tajam lalu menutup pintu lemarinya kencang.
"Lebih baik kamu tidur saja, aku mau pergi", kemudian melangkah keluar kamar yang langsung mendapati Ayah dan Ibunya yang terdiam di depan pintu kamar mereka.
"Ibu"
Kedua orangtuanya menatap Wonwoo bingung, karena sejak tadi mereka mendengar suara berisik dari kamar anaknya. Mereka memutuskan untuk keluar dan mengecek keadaan di kamar Wonwoo. Dan seperti sekarang; "Ada apa Wonu? Ini sudah tengah malam, kenapa belum tidur?"
"Wonu maafkan aku", Nathan keluar kamar Wonwoo dengan menundukkan kepalanya. Melihat itu Wonwoo hanya menghela nafas pelan. Ia menatap kedua orangtuanya.
"Aku lupa meletakkan kacamataku di mana Ibu, sedangkan aku harus memeriksa data 4 mahasiswa itu. Dan besok pagi akan ada rapat di pusat rehabilitasi, aku tidak bisa menjelaskan jika aku saja belum membaca data mereka" terang Wonwoo. Ia sama sekali tidak berniat membangunkan kedua orangtuanya, tapi hal ini sangat penting. Malu jika ia besok tidak bisa menjelaskan kenapa dan ada apa 4 mahasiswa korea itu datang kemari. Apalagi ada pujaan hatinya di sana.
Ibu dan Ayahnya mengangguk mengerti. Ayahnya mendekat, "Lalu kau mau kemana sekarang?"
Wonwoo terdiam sesaat, menatap Ayahnya.
"Aku akan ke gubuk"
"Wonu itu bahaya! Kau bahkan sering bilang di hutan banyak ular, anjing, babi hutan dan-"
"Aku bisa menjaga diriku sendiri" potong Wonwoo ketika Nathan berucap yang sangat jelas sekali terdengar khawatir.
"Wonu" rengek Nathan.
"Ibu, Ayah aku izin pergi", Wonwoo meminta izin kepada kedua orangtuanya. Nathan merengut di sampingnya.
"Baiklah hati-hati, apa perlu di temani Ayah?"
Nathan mendongak, matanya membelalak. "AKU TEMANI! AYO!"
Yang satu ini susah di tolak, jika tidak di pastikan ancamannya akan membuat Wonwoo kembali bersalah.
"Kalau tidak, aku akan bilang ke Ayah kalau-"
"T-Tuan muda boleh ikut.. Ya silahkan"
Wonwoo memutar bola matanya malas. "Iya iya"
Kan?
"Kalau begitu, aku pergi bu, yah.."
Wonwoo mengambil senter di meja.
"Hmm, hati-hati" kata Ibunya.
Merekapun keluar rumah, Wonwoo sedikit mengerang dalam hati melihat Nathan terkantuk-kantuk, beberapa langkah keluar rumah bahkan belum sampai pagar rumahnya. Ia jadi kasihan, tapi ya dasar Nathan itu keras kepala.
Wonwoo memperhatikan Nathan di sampingnya. "Nathan"
"Hmm.. Aku tidak mengantuk kok Wonu, ini sudah terbuka" ujar Nathan menunjuk kedua matanya, pipinya menggembung lucu dan jangan salahkan Wonwoo untuk tidak menarik tangannya dengan gemas. Karena saking tak tahannya.
Yeah, menggandeng tangan Nathan.
"Jam berapa sekarang?"
Keempatnya berbaris di terminal bandara setelah keluar dari pesawat dengan wajah blank dan sedikit terbengong. Posisi dari kanan-ke-kiri; Seokmin, Seungkwan, Mingyu dan Hansol. Menatap keseluruh bandara bak orang kampung pergi ke kota hanya dengan sepasang sendal swallow dan pakaian kucel yang mereka pakai.
Tentu.
Mereka sudah sampai 20 menit yang lalu, dan Hansol pikir mereka akan sampai pagi di sini. Di Indonesia, pulau kalimantan tepatnya di Bandara SAMS Sepinggan, Balikpapan.
Seokmin, Seungkwan, Mingyu kompak menoleh ke Hansol yang sedang memasang headphone hitam bertuliskan SHURE. Lalu memilih lagunya, setelahnya ia berucap; "Ayo kita ke bagian perbelanjaan, aku lapar", memasukkan gadgetnya ke saku jaketnya lalu menggeret kopernya.
Dan ketiga orang di belakangnya hanya memandangnya dengan pandangan cengo.
"Aku bertanya", Mingyu mendengus sebelum mengikuti Hansol yang kembali membuatnya kesal.
Seokmin menggelengkan kepalanya. "Ayo Seungkwan! Hey! Jangan memasang wajah sedih, setidaknya Hansol membawa barang elektroniknya. Kita bisa meminjam padanya. Ayo!" ujarnya sembari menarik Seungkwan yang hanya diam dengan tampang sedihnya.
.
"Hansol-ah"
"Hmm?"
Terakhir kali ia percaya kepada Hansol itu saat ulangtahun ke 17-nya, berjanji memberikannya Single breasted suit tapi sampai sekarang tak di berikan. Hingga ia sadar, semua yang Hansol katakan atau lakukan di anggap santai dan hanya bermain-main.
"Tunggu", Mingyu menarik bahu Hansol yang hendak mengambil kaleng soda di Showcase. "Hansol, aku yakin kau mengerti. Maksudku; memangnya kau mengerti semua yang ada di sini?"
Hansol menatapnya bingung. "Hah?", mengalungkan headphonenya lalu menunduk untuk mengambil kaleng soda yang sedari tadi terlihat mengundangnya. "Aku tidak mengerti apa maksudmu Mingyu, jangan berputar-putar"
"Kau jelas mengerti dan berhenti berpura-pura!"
Hansol terdiam. Dengan kepala menunduk hampir menyentuhkan bibirnya ke kaleng, tapi ucapan Mingyu mampu menghentikannya.
Seokmin dan Seungkwan yang sedang duduk menikmati teh hangat menatap keduanya khawatir. Pasalnya, Mingyu bisa saja bertindak lebih jika sedang emosi. Tidak. Mereka semua emosi, namun Hansol lebih ringan. Dan masalah ini akan berlanjut kalau-kalau keempatnya tidak ada yang mau mengalah.
Masalahnya mungkin sedikit sepele. Tidak ada alat komunikasi untuk mereka bertiga, apalagi Seungkwan begitu histeris dan menangis di pesawat. Mingyu sebagai ketua kelompok tentu cemas dan panik; Ia berusaha tenang menghadapi ini dan sudah di wanti-wanti olehnya sejak awal. Tak terduga memang.
Mingyu berpikir lain soal Hansol begitu santai dengan tugas mereka kali ini. Sebelum-sebelumnya Hansol memang paling disiplin dan selalu di utamakan untuk hal ini, dan Mingyu tidak bodoh karenanya.
Hansol menjauhkan kepalanya, mendongak menatap Mingyu dengan polos terkesan kosong. Ia tahu ia salah, sekali saja ia egois, ia yang selalu memaksa mereka ikut, tidak mau bertanggung jawab, tapi ini demi mereka. Demi apapun ia tidak bermaksud membuat Mingyu, Seokmin atau Seungkwan menderita karena ia sendiri tidak tahu harus bagaimana sekarang. Mereka baru sampai, tapi kenapa Mingyu malah mengajaknya berdebat? Apalagi ini di negeri orang.
"Mingyu-ah, tenanglah. Ku mohon mengerti sedikit, ini masih di tempat umum, jangan ke-"
"Kau yang kekanakkan!" bentak Mingyu dengan tatapan tajam yang tak berpaling sedikitpun dari Hansol. Yang di tatap hanya menghela nafas, takut kelepasan juga. Lalu melirik Seokmin yang menghampiri mereka. "Hey sudahlah gyu, jangan marah-marah di sini"
Lalu tatapannya bertemu Seungkwan yang membuang muka. Hansol tersenyum samar.
"JAWAB BODOH!", Mingyu membentak Hansol lalu menarik kerah Hansol.
"YAK! Mingyu-ah!"
Sontak beberapa orang yang masih di sana dan seorang security menghampiri mereka.
"Hey kalian!"
Hansol hanya diam tanpa menatap balik Mingyu, ia sedikit takut sebenarnya. Dan ia sedang lelah akibat jetlag yang membuatnya bertambah pusing mengingat kejadian di pesawat saat perjalanan.
"Brengsek!"
Seokmin berhasil menarik Mingyu yang sedang mengatur nafasnya, mata gelapnya menatap Hansol nyalang. "Mingyu! Mingyu-ah! Dengar, jangan seperti ini lagi. Okay?!" kata Seokmin sembari mencengkram erat kedua lengan Mingyu. Melirik Seokmin lalu menghentakan tangannya. Berlalu meninggalkan mereka.
"Bercandamu tidak lucu, Vernon Chwe"
Setelahnya Hansol mendengar derap langkah kaki keluar terbur-buru, tangannya yang di pegang oleh security kini terlepas dan memberi senyum kepada security itu.
"Tidak apa-apa tuan?"
Hansol mengernyit tak mengerti, melihat raut khawatir dari security itu, Hansol mengartikan sebagai tanda perhatian. Ia mengangguk.
"Ya sudah, saya permisi"
Kemudian security pun pergi meninggalkan mereka yang terjebak oleh keheningan.
"Seokmin-ah"
Seokmin menepuk pundak Hansol. "Kita cari hotel, besok kita lanjutkan perjalanan. Ayo!"
Hansol menahan lengan kanan Seokmin. "Tidak. Kita lanjutkan perjalanan kita"
"Ini sudah malam Hansol!"
Seungkwan membantah. Ini sudah hampir dini hari, tidak mungkin mereka langsung pergi ke tempat tujuan jika tubuh mereka saja masih membutuhkan istirahat. Lalu menggeleng menolak ajakan Hansol.
Sekarang sudah jam 1 dini hari, Hansol berpikir demikian karena alasan yang sangat kuat. "Kita harus pergi sekarang, kalau menunggu besok itu terlalu lama dan kita akan sampai di sana sore hari", Seungkwan mencengkram erat gagang kopernya dengan tatapannya yang tak teralih sedikitpun dari Hansol. "Aku sudah memperkirakan, dari sini ke Samboja lestari tempat yang dekat dengan perkembang biakkan para orangutan berjarak 38 km, dan untuk menuju kesana itu tidak mudah. C'mon guys! Aku juga lelah, tapi kalo setengah-setengah seperti ini yang ada kita akan semakin malas" ujar Hansol panjang lebar.
Suara seseorang mengagetkan mereka.
"Excuse me"
Ketiganya menoleh.
"Ya, ada apa?" kata Hansol.
"Ada titipan dari teman kalian, dia menunggu di depan katanya" ragu seseorang itu, karena tidak terlalu pandai menggunakan bahasa inggris. Ia tersenyum di akhir kalimatnya.
Hansol mengangguk. "Terimakasih"
Seseorang itu mengangguk lalu pergi.
"Mingyu menunggu kita?", Seungkwan berbalik lalu keluar area perbelanjaan dengan tergesa.
"Ingat Hansol, jangan memicu lagi"
"Aku tidak bersalah"
"Mingyu bilang ia sangat mengenal dirimu", Seokmin mengangkat kedua bahunya acuh lalu keluar mengikuti jejak Seungkwan.
Hansol merasa bersalah, tapi tekankan lagi. Ini demi keempatnya.
"Sorry"
Semua penghuni mobil terdiam tak bersuara, hanya Mingyu yang sesekali bercakap dengan supir mobil yang mereka kendarai. Yeah, beruntung ia tak lupa membawa cash tambahan untuk menyewa mobil. Tapi Mingyu sering merasa merinding saat melewati jalan bebatuan dan pepohonan yang menulang tinggi, entah dia tidak tahu mereka sedang berada di mana. Ketahuliah tempat ini SANGAT ANGKER - menurutnya. Ia sesekali melirik ketiga temannya yang tertidur lelap. Lalu kembali menatap keluar jendela, kantuknya hilang setelah berdebat dengan Hansol.
Dia tahu tabiat anak itu, pasti Hansol yang merencanakannya. Cerdas, tapi penuh kebodohan yang tak tanggung-tanggung.
Kalau menurut Seungkwan, Hansol kurang waras.
'Sial, tempat macam apa ini? Astaga, aku ingin sekali membunuhnya' batin Mingyu sembari menggigit punggung tangannya. Mencoba menghilangkan kekhawatirannya sendiri.
Ia menatap kamera di pangkuannya. Sesekali ia menggerutu karena duduknya terguncang akibat jalanan dan juga tubuhnya sedikit meriang karena cuaca yang dingin.
Maklumlah perbukitan.
Mingyu menoleh saat mendengar bunyi 'Duk' keras di sebelahnya. Seokmin terbangun sembari mengusap dahinya yang berbentur kaca mobil. Seungkwan yang berada di tengah menggeliat lalu menjatuhkan kepalanya ke pundak Mingyu yang sedang menahan tawanya melihat Seokmin.
"Apa masih lama?" tanya Seungkwan masih di posisi semula.
"Hmm sepertinya"
"Hansol tidur?", Seungkwan membuka matanya. Mingyu terdiam tak menjawab.
Tak mendengar respon Mingyu. Hansol menoleh ke belakang. "Ya kwannie?"
"Hng~ kenapa lama sekali, aku ngantuk. Leherku sakit tahu!"
Ketiganya terkekeh mendengar rengekan Seungkwan, matanya tertutup, pipinya di gembungkan dan tangannya memegang erat boneka Teddy Bear yang tak pernah ia lepas sama sekali.
"Kkk.. 3 jam lagi"
"Maksudmu?" kini Seokmin yang bertanya,
"2 jam lagi kita akan turun dari mobil, dan kita akan jalan lagi menaiki kapal" katanya sembari melihat jam tangannya. Ia melirik Mingyu yang sama sekali tak melihatnya. Tapi ia yakin Mingyu mendengarnya.
"Astaga..", Seokmin menepuk dahinya. Seungkwan kembali tertidur. Dan Mingyu yang kembali berpikir;
'Semoga kami baik-baik saja, lindungi kami' katanya dalam hati, menghela nafas lalu memejamkan matanya.
Ya, semoga saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 3
(SELESAI)
Note : Lama ya? Kena baper kepanjangan guenya :3 AJU NICE! :'v heol! heol! siapin mental dan fisik nanti malam kena BOMB dari pledis xD
(1) Lama: Wonu bikin gue khawatir terus T-T kena WB gue hikkss :') maaf ya
(2) EYD maafkan :'v dan typo masih berlanjut usia (?)
(3) Gak ngefeel, aneh? tambah gaje? T-T MAAF SANGAT! Gue lg baper :'v
(4) Balasan Review :
Arlequeen Kim : Maaf imajinasi saya terlalu berlebihan :'v dan chapter ini belum ketemu wonu ugha :')
DaeMinJae : Kaget? :v maaf, iya seme terunyu xD
zahra9697 : Makasih sarannya cantik :* nanti chap depan tak usahain :D
KimAnita : iya jauh banget :v maksudnya emmm itu nama indonya :D Eungg? gak tau tuh :D
Fujoshimulfan : IYA! IYA! UDAH GAK SABAR MEANIE KETEMU! T^T hehehe... iya makasih
Misharu Rin : Hahahaha :v suka ya eonni? xD nanti kapan-kapan tak selipin ghiie. Om hosh emang imut kok :3
redhoeby93 : errr masalah couple, yang pasti MEANIE dan SEUNGHAN paling jelas :D ya ini udah di lanjut, :*
Asaaya15 : susah menurut gue :D lucunya gak terlalu kok, makasih udah review :*
(5) H-3 lebaran, mohon maaf lahir batin buat yg muslim :)
(6) Closed Book abis lebaran :v next chapter ff ini ugha xD eh semuanya!
Review ?
