Dislaimer : " I don't own all the characters in here. they are belong to them selves. this story inspired by Lexi Xu's novels. i make no money from this, so please don't sue me"

.

.

.

-PARK JIHOON-

Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah, bukan hanya sekolah biasa tapi SMA. Itu berarti aku akan segera memasuki masa SMA, masa yang kata mayoritas orang adalah masa-masa yang terindah dan tidak akan pernah terlupakan dan tergantikan oleh apapun. Sedikit banyak aku merasa bersemangat memulai hari ini, karena selain alasan diatas ini pertama kalinya aku bersekolah di Korea. Kalian pasti bertanya sebelum ini memangnya aku bersekolah dimana? Aku mengenyam pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama ku di Boston, Inggris. Dan kali ini aku ngeyel untuk bersekolah di negeri kelahiranku ini. Meski ini artinya aku harus bersembunyi. Itu untuk cerita lain waktu saja.

Aku diantar pagi-pagi oleh supir keluargaku ke sekolah, karena aku tidak ingin memulai hari dengan berlari-lari menuju gerbang yang hampir di tutup. Aku memasuki kawasan sekolah yang masih sepi, hanya ada beberapa siswa siswi yang telah tiba. Mungkin mereka seperti aku yang tidak sabar untuk memulai hari sebagai siswa SMA. Aku menuju papan pengumuman untuk melihat dimana kelas sementaraku. Setelah menemukannya aku segera memasuki kelas, ada dua siswi yang sudah berada di dalam kelas. Pertama gadis berambut pendek yang sedang bermain handphone di meja tengah, lalu seorang siswi berambut panjang yang sedang menunduk membaca buku dimeja pojok. Aku berhenti melangkah ketika melihat gadis di pojok itu. Mengingat begitu banyak cerita hantu tentang sekolah ini, aku takut bahwa gadis itu ternyata juga contoh nyatanya. Tapi ketika melihat gadis itu mendongak untuk melihatku yang terdiam di pintu masuk, aku menjadi sedikit tenang karena wajahnya ternyata tak sepucat mayat. Lalu segera melangkahkan kakiku ke bangku pojok lain yang masih tersisa.

Tak lama siswa siswi mulai berdatangan dan mengisi kelas. Seingatku akan ada dua puluh siswa mengisi kelas ini. Kelas yang semula sepi kini mulai berisik orang-orang berbicara dan bercanda. Ada beberapa siswa yang sepertinya berasal dari sekolah yang sama dan kini menjadi teman sekelas lagi, ada yang saling berkenalan dan mencoba untuk mengakrabkan diri satu sama lain. Tentu saja tidak ada yang mencoba mengajakku berkenalan dan aku tidak berinisiatif untuk mengakrabkan diri. Begini lebih baik.

Tidak lama kemudian bel berbunyi dan ada kakak kelas yang menghampiri kelas kami untuk menyuruh kami segera mengikuti upacara penyambutan di lapangan. Aku mengikuti serombongan gadis di kelasku yang berjalan ke lapangan dengan berisik dan tertawa yang mungkin bagi mereka terdengar imut dan manis, tapi sungguh aku ingin sekali mencekik mereka karena suara mereka yang menjadi sumber polusi suara itu.

Aku berbaris tepat di belakang barisan siswa-siswa, mencoba mengikuti upacara pertamaku dengan khidmat. Tapi sayangnya, matahari hari ini sedang bersemangat memancarkan sinarnya, baru lima belas menit dan kepalaku sudah terasa pening. Tiba-tiba kurasakan tak sepanas tadi, aku mendongak dan melihat sebuah punggung siswa berambut kecokelatan didepanku. Kulihat dia menghalau sinar matahari yang mengarah padaku dengan tubuh menjulangnya. Rambut dan tengkuknya nampak basah karena keringat.

'Apakah dia sengaja? Tadi bayangannya tidak melindungiku? Ah sudahlah. Aku saja yang terlalu GR'

Kutundukkan kembali kepalaku, namun kali ini merasa adem karena bayangan cowok jangkung tadi. Lalu tiba-tiba ada orang yang berbisik menyuruhku geser.

'Duh, disuruh geser kemana lagi sih? Udah pas gini njiir' dumelku dalam hati lalu kutolehkan kepaku dengan kesal. Tapi begitu mendapati wajah cewek yang cukup galak, segera kuganti ekspresiku dengan ekspresi ketakutan. Sebuah respon yang pasti didapatkan cewek tadi dengan tatapannya yang mengancam itu.

Aku mendumel dalam hati karena kembali kepanasan dan tidak lagi terlindung dari bayang cowok itu.

'Hah~ panas-panasan lagi deh'

Aku melirik cewek disebelahku. Dia sebenarnya memiliki wajah yang cantik seandainya rambutnya tidak secepak itu dan dandanannya tidak selebor seperti ini. Matanya cukup lebar meski tidak memilik double eyelid, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan berwarna peach alami, pipi tirusnya yang menjadi idaman setiap gadis Korea saat ini tidak seperti pipiku yang senantiasa chubby sejak aku lahir, juga diperlengkap dengan dagu nya yang lancip. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing dan tinggi semampai benar-benar idaman. Tapi sayangnya dia tidak mempedulikan penampilannya sama sekali, dari tempatku berdiri saja aku bisa tahu pasti bahwa dia tidak mencuci dan menyeterika seragamnya. Bau baju baru masih tercium. Menarik sekali gadis ini.

Lagi-lagi aku merasa tidak sepanas tadi. Ketika aku mendongakkan kepala dan melihat tubuh jangkung cowok itu lagi-lagi melindungiku dari kejamnya sengatan sang surya. Kali ini aku bisa melihat wajah cowok itu karena dia sedikit menoleh ke belakang. Tatapan mata yang tajam. Hidung yang mancung. Bibir penuh berwarna pink itu. Kombinasi wajah yang tidak bisa tidak membuat orang lain terpana karena keindahannya.

.

.

.

Setelah upacara penyambutan usai aku segera kembali ke kelas, ingin ngadem dengan segera. Tapi ketika hendak menuju ke bangkuku ada yang menarik tanganku. Tiga orang cewek yang dari gayanya sudah bisa kutebak apa mau mereka.

"Astaga. Lihat siapa yang masuk ke kelas kita?" tanya si cewek yang bername tag Jung Chaeyon. Kedua temannya tertawa meski aku tak tahu apa yang lucu dari perkataan Chaeyon ini.

"Dari name tag nya sih Park Jihoon, Chae" jawab Lee Siyeon.

"Oh, yang ranking dua itu Chae" si Joo Kyulkyung ikut bicara.

"Bodo amat soal ranking nggak penting! Yang gue bingung orang macam dia bisa sekelas sama kita? Please deh kelas kita tuh isinya gue Jung Chaeyon, Putri CEO HI Media Group, Lai Kuanlin pewaris Chunghwa Telecom, Kang Daniel pewaris Kang Hotel. Nah, elo? Siapa? Gue yakin lo Cuma anak beasiswa" Jung Chaeyon kembali berkata dengan nada penuh penghinaan.

Aku memilih diam dan menunduk, menyembunyikan tawaku yang ingin keluar. Ah, andaikan elo tahu Jung Chaeyon.

"Tapi Chae, kan gosipnya pewaris Hanyang Group masuk SMA 101 tahun ini" kata Joo Kyulkyung.

"Dan lo pikir karena cewek ini marganya Park, lo jadi berpikir dia ada hubungannya ada Hanyang Group?" Lee Siyeon menimpali.

Jung Chaeyon tertawa remeh mendengar obrolan kedua temannya.

"Duh Kyung, jutaan orang bermarga Park di Korea ini. Apa mereka semua juga ada hubungannya sama Hanyang?" Chaeyon tertawa dengan kikikannya itu, aku hampir saja refleks mengorek telingaku tapi berhasil kutahan hasratku itu.

"Terus si cewek cupu ini? pewaris Hanyang?" Chaeyon kembali mendekatiku yang masih menunduk. "kalian liat nggak girls, potongan rambutnya aja udah out of date banget"dia berujar lantang sambil memainkan rambutku dengan tangannya.

Teman-temannya yang mendengar ucapan Jung Chaeyon tadi terkikik heboh. Kalau bisa aku malah ingin tertawa lantang di depan muka mereka.

"Lihat, sepatunya juga dong Chae. Itu mah sama sabun mandi lo mahalan sabun lo kali"

"Duh jangan samain sama sabun mandi gue lah. Nggak level"

Aduh sumpah lucu banget sih ini. Perutku bisa sakit karena kelamaan nahan ketawa gini.

Tiba-tiba mereka mengumpat keras dan sontak aku mendongakkan kepalaku dan melihat cewek berambut cepak tadi ternyata menabrak tiga cewek tadi. Cewek tomboy tadi tidak gentar menghadapi Jung Chaeyon dan antek-anteknya, membuat seulas senyum geli lolos dari kedua belah bibirku. Merasa terhibur dengan aksi keempat orang didepanku ini.

Tiba-tiba aku merasa ada sepasang mata yang mengawasiku oleh karena itu kutolehkan kepalaku dan mataku bertemu dengan sepasang manik pekat yang kukenali dari upacara tadi pagi. Bukannya mengalihkan pandangannya karena malu tertangkap basah olehku bahwa dia memperhatikanku, dia justru makin lekat mengamatiku hingga akulah yang mengalah mengalihkan pandanganku dan segera kuhapus senyum yang sempat terlukis dibibirku tanpa bisa kucegah.

Mataku kini bertemu dengan cewek tomboy itu, semoga saja wajahku berhasil menampilkan ekspresi ketakutan, cemas dan kelegaan karena pertolongannya. Lalu tiba-tiba Kakak pembina kami tiba dan membubarkan gerombolan kecil kami. Akhirnya...

.

.

.

Aku senang sekali karena cewek itu memilih duduk disampingku. Jujur saja cewek ini menarik dan membuatku penasaran. Sepertinya dia punya banyak sekali sisi menarik. Aku mencoba mengajaknya berteman dengan mentraktirnya makan siang, meski dia menolak tapi aku yakin dia sebenarnya memang membutuhkan itu.

Lagi-lagi dia mengejutkanku dengan sikapnya yang berani saat Kakak pembina kami itu menegurnya. Dan lebih terkejut lagi ketika mengetahui siapa namanya. WOW. Aku jadi semakin ingin berteman dengannya.

Tapi sayangnya dia dihukum ke perpustakaan sehingga membuatku melewatkan penjelasan Kakak pembina tentang sekolah ini seorang diri.

Hingga bel istirahat berbunyi Ong Seongwu,-nama cewek tomboy itu- belum kembali ke kelas. Karena merasa lapar aku memutuskan untuk ke kantin, siapa tahu saja dia sudah menungguku di kantin. Aku mengamati kantin yang ramai dari balik kacamataku, mencoba mencari tubuh kurus Ong Seongwu antara kerumunan itu.

"OI CULUN!"

Entah kenapa aku menoleh ke arah sumber suara itu, dan ternyata Ong Seongwu duduk di meja yang dekat dengan jendela yang mengarah ke taman. Dia duduk bersama dua siswa yang tidak ku kenal. Jelas bukan dari kelas kami. Aku memutuskan untuk menghampirinya lalu duduk di kursi sampingnya berhadapan dengan dua cowok tadi. Memberikan senyum canggung dan berpura-pura tidak berani membalas pandangan mereka.

"Katanya lo tadi mau traktir gue, jadi nggak?"

"Jadi kok" balasku dengan suara pelan.

"Wah, kita dapat traktiran juga nggak nih?" tanya salah satu cowok yang bergigi gingsul.

"HEH! Dia Cuma mau nraktir gue. Siapa lo?"

"Makanya dong Seongwu kenalin kita. ada cewek manis kok nggak mau ngenalin kita-kita" jawab cowok yang satunya dan memberiku senyum yang terlampau ramah.

Halah dari gayanya aja udah ketebak. Cowok modelan gini tuh yang suka bikin baper anak cewek orang. Lagipula aku nggak baper. Dengan penampilan aku yang culun gini jarang ada cowok yang bakal noleh dua kali pas lihat aku. dan cowok ini, pasti selalu bilang kalimat tadi ke semua cewek yang ditemuinya.

"Kenalan sendiri lah. Punya mulut kan?" balas Seongwu sengit.

"Kenalin manis, gue Joo Haknyeon" kata cowok yang terlalu ramah tadi.

"Park Jihoon" jawabku dengan senyum malu-malu.

Sedangkan cowok bergingsul tadi mengamatiku sesaat lalu memperkenalkan dirinya dengan senyum simpul yang terkesan ramah. Benar-benar ramah yang tulus bukan modus seperti Haknyeon, "Gue Park Woojin"

"Park Jihoon" balasku lagi.

"HEH! Pesenin gue sama Jihoon makanan sana" suruh Seongwu pada kedua orang tadi, membuatku kaget.

"Eh, nggak usah. Gue bisa pesen sendiri kok. Kalo lo mau dipesenin juga biar gue aja" aku berusaha tidak memperkeruh suasana. Kan gawat kalo sampai dua cowok ini tersinggung.

"Udah nggak apa-apa. Mereka ini bawahan gue kok. Lo tenang aja" ucap Seongwu yang membuatku makin heran "Udah sana, pesenin gue sama Jihoon makan!"

Setelah mengucapkan pesananku dan dua cowok tadi pergi aku menatap Seongwu yang duduk sambil mengangkat sebelah kakinya seperti di warung. Duh benar-benar memang cewek ini, nggak ada anggun-anggunnya sama sekali.

"Maksud lo tadi apa sih?"

"Jadi gini ceritanya, gue tadi ketemu mereka lagi malak siswa di koridor belakang di dekat gudang lama yang udah nggak kepake. Kayaknya sih siswa yang dipalak tadi baru balik dari toilet. Jadi deh gue tolongin siswa tadi dan gue hajar tuh dua manusia nggak guna itu"

Oh, pantas aja ada luka kecil di sudut bibir Woojin dan memar yang tidak terlalu kentara di pipi Haknyeon.

"Lo emang punya super hero syndrome gitu ya, Wu?" tanyaku sedikit geli.

"Hahahaha gue kan emang Superman, Hoon. Eh, Supergirl ding. Yang akan menyelamatkan dunia dari segala tindak kejahatan HAHAHAHAHAHA" serunya dengan lantang dan mengangkat tangan kanannya ke udara sedangkan tangan kirinya di depan dada, mirip pose pahlawan bertopeng.

Aku hanya terkekeh geli melihat tingkah konyol Seongwu.

"Terus lo disuruh ke perpustakaan malah keluyuran kemana-mana?"

"Iyalah, udah gila kali kalo gue mau ngedekem di perpustakaan"

Aku mengangguk sudah bisa menebaknya, "Terus mereka berdua itu sama bolosnya kayak lo?"

"Lah, mereka tuh seharusnya Kakak kelas kita. Mereka nggak naik kelas jadi seangkatan kita. Harusnya sih mereka nggak perlu ikut Orientasi Siswa lagi. Tapi namanya juga mau ngerusuh. Untung ketahuan gue. Tenang sekarang udah aman, mereka udah dibawah kendali gue"

"Waah keren" pujiku.

Seongwu otomatis membusungkan dada dengan hidung kembang kempis bangga mendengar pujianku membuatku tertawa geli di dalam hati. Duh, lucu banget ya.

Tiba-tiba suara tawa riuh terdengar dari meja belakang kami. Disana ada beberapa siswa siswi yang nampaknya populer tengah ngobrol seru diselingi dengan tawa heboh. Aku mengenali beberapa dari mereka karena mereka teman sekelasku.

"Dih dasar cowok sok banget! Gedek banget gue sama gayanya" ucap Seongwu kesal.

"HAH?" tanyaku bingung.

"Tuh cowok sok jago banget, ikut campur urusan gue tadi. Sok banget mau ngebelain gue. Tanpa dibelain juga Woojin sama Haknyeon babak belur di tangan gue"

"Loh, bukannya Kuanlin di kelas ya tadi pas lo dihukum?" tanyaku heran.

Ya, namanya Lai Kuanlin. Salah satu cowok yang berada di tengah kerumunan heboh itu. cowok jangkung dengan tatapan mata tajam, hidung mancung, bibir penuh yang kini hanya tersenyum tipis menanggapi teman-temannya bercerita heboh berusaha menarik perhatiannya. Punggung berkeringat cowok itu pula lah yang menyelamatkanku dari terik matahari pagi tadi.

"Kok Kuanlin sih? Yang mana Kuanlin?" tanya Seongwu bingung. "Maksud gue tuh Kang Daniel. Tuh yang tubuhnya segede beruang, yang nyengir nyebelin tuh"

Aku mengamati cowok yang ditunjuk Seongwu. Perawakannya tegap dengan bahunya lebar dan tubuhnya terlihat tebal, tidak selaras dengan wajahnya yang ramah penuh senyum. Kelihatan sekali bahwa cowok itu tipe manusia yang mudah terhibur, matanya menyipit tertutup sempurna ketika tertawa, jangan lupakan kedua gigi kelincinya yang menonjol ketika tertawa.

Cowok tadi menoleh ke arah kami dan tersenyum lebar yang kuyakini diarahkan ke arah Seongwu karena kudengar dengusan kesal dari sampingku. Aku tersenyum tipis hingga Kuanlin yang berada di samping Daniel juga ikut menoleh dan menatapku. Tatapan tajam itu lagi. Tapi kini diiringi dengan senyum yang hanya mengangkat sudut bibirnya namun berhasil membuat lesung pipinya terbit.

"Nih pesanan kalian kanjeng ratu" Woojin dan Haknyeon ternyata sudah kembali ke meja kami.

"Makasih ya" ucapku tulus.

"Duh santai aja kalo sama Abang mah" jawab Haknyeon. Sedangkan Woojin hanya mengangguk dengan senyum tipis.

Seongwu sudah mulai makan dengan antusias. Aku juga mulai memakan jajangmyeonku ketika seporsi ttokbeoki di mangkuk kecil disodorkan kedepanku.

Aku menoleh bingung ke Woojin. Kan aku nggak pesan tteokboki.

"Itu bonus dari bibi Kantin kok. Gue sering dapet bonus gini" jawabnya mengerti arti tatapan bingungku.

"Oh. Kok dikasih ke gue?"

"Lo Cuma pesen jajangmyeon soalnya. Makan aja, biar pipinya tetep gemes" jawabnya santai.

Haknyeon sudah terbatuk-batuk heboh mendengar ucapan Woojin. Aku doain keselek sumpit jjampong nya tahu rasa! Sedangkan Seongwu hanya mengamati kami berdua dari balik mangkok bibimbapnya.

"Yaudah kita makan bareng aja" putusku dan tidak ada jawaban lagi dari mereka semua.

"Btw misi kalian hari ini apa?" tanya Haknyeon membuka obrolan.

Oh iya, aku baru inget tentang tugas menghafal semua panitia MOS.

"Hafalin semua nama panitia MOS. Gue aja nggak tahu jumlahnya berapa" jawab Seongwu.

"Jumlahnya Dua puluh tiga"jawabku teringat Kak Cherry, nama panggilan kakak pembina kelas kami.

"Namanya doang?" tanya Haknyeon.

"Ya sama mukanya lah bege" jawab Seongwu kesal.

"Gue bisa bantuin. Gue kenal semuanya" kata Woojin.

Aku dan Seongwu bertatapan lalu nyengir. Ada untungnya juga punya kenalan siswa yang nggak naik kelas ini hahahaha. Mereka juga lumayan menyenangkan. Sepertinya masa SMA ku juga nggak akan seburuk bayanganku.

.

.

.

TBC

A/N: Finally, I'm here again.. Jadi OSIRIS ini alurnya agak lambat ya dan tiap chapternya mengambil dari sudut pandang salah satu tokoh utamanya.. Terima kasih untuk yang sudah meninggalkan jejak di cerita ini..Masih dan selalu menunggu feedback dari pembaca sekalian. sampai jumpa di chapter selanjutnya.