Maafkan aku.

Aku memandang ke arah sebuah catatan yang mendampingi puluhan chocolate cupcake, yang dikirim ke rumah sakit beberapa menit yang lalu.

Sudah sangat jelas dari mana semua ini berasal.

Dia mengirimkan chocolate cupcake yang cantik, didekorasi dengan indah ini kepada semua orang, bukan cuma kepadaku saja. Ini semua cukup untuk para pasien, para staff... well, bahkan untuk semua orang tua pasien.

"Apa yang telah dia lakukan?" Hyomin bertanya di belakangku dan aku memutar tubuhku.

"Berhentilah membaca sesuatu dari balik punggungku!"

Dia tertawa dan mengambil sebuah cupcake, mencium aromanya, dan kemudian menggigitnya. "Apa yang telah dia lakukan?" Dia mengulangi pertanyaannya.

"Dia membuatku marah."

"Kapan?"

"Kemarin malam." Aku mengambil sebuah cupcake dan menggigitnya. Mmm... ini lezat sekali.

"Mau meletakkan ini di ruang tunggu?" Hyomin bertanya sambil menjilati ujung jarinya.

"Ya, orang-orang dapat menikmatinya hari ini, meskipun aku berpikir ini tidak akan bertahan lama." Aku menyeringai dan mendorong sebuah kereta penuh dengan coklat yang lezat itu ke aula.

"Kau tahu, seharusnya dia memberimu satu cupcake saja," Hyomin berbisik di sebelahku, sambil memeriksa jari-jarinya.

"Aku tahu." Dia benar-benar pria yang manis.

"Mmm hmm."

"Hentikan. Aku mengerti. Dia baik, tapi dia kemarin mengacau, jadi itu wajar bagiku untuk marah padanya, ok?"

"Ok." Hyomin mengangkat kedua tangannya ke atas seperti mengisyaratkan "Aku menyerah" dan mengambil coklat sekali lagi. "Ini sangat lezat."

"Ya, aku rasa saat itu dia benar-benar mendengarkan anak-anak saat mereka mengatakan aku menyukai coklat."

"Ya, kurasa dia memang mendengarkannya saat itu." Hyomin merespon dengan sebuah senyuman.

"Ada coklat di gigimu," aku bergumam dan mengambil sebuah cupcake untuk diriku sendiri.

Aku menataa cupcake-cupcake yang ada di sebuah meja panjang yang ada di ruang tunggu dan mengeluarkan teleponku.

Lezat. Aku menekan tombol kirim dan kemudian menggigit bibirku. Mungkin seharusnya tadi aku kirim dengan kata-kata yang lebih panjang, tapi dia memang pantas mendapatkan perlakuanku ini.

Ya, kau lezat.

Dia merespon balik begitu cepat, dan aku tertawa. Tiba-tiba saja teleponku berbunyi, bintang football muncul di layar yang menunjukkan siapa yang menelponku.

"Hei," aku menjawab.

"Hei," dia merespon dengan lembut. "Aku ingin mendengar suaramu, dan ini juga jauh lebih cepat daripada SMS. Sekarang kami hendak naik pesawat menuju ke Busan untuk pertandingan di hari Minggu nanti."

"Oh, minggu ini pertandingan tandang ya?" Aku bertanya, ada kekecewaan yang terdengar di dalam suaraku. Dia akan berada di luar kota akhir minggu ini.

Itu tidak masalah, aku bekerja di akhir minggu ini.

"Ya, kami akan kembali Minggu malam. Dengar Baekhyun, maafkan aku mengenai kemarin malam. Aku seharusnya tahu kalau kemarin akan menjadi malam yang gila, tapi aku benar-benar hanya ingin membawamu ke tempat yang menjual burger yang enak."

"Ya, seharusnya kau tahu mengenai itu." Aku menyetujuinya.

"Apa aku sudah benar-benar mengacaukan segalanya, atau kau masih mau memberiku kesempatan memperbaikinya?"

Aku menggigit bibirku dan memejamkan mataku. Sialan, apa yang luar biasa pada pria ini sehingga sulit bagiku untuk mengatakan tidak padanya?

"Lain kali, aku yang memilih tempatnya." Aku merespon dan aku bisa mendengar desah kelegaan darinya.

"Setuju. Jadi, kemana aku harus membawamu di kencan kedua nanti?"

"Uh, mari kita pikirkan mengenai kencan yang pertama terlebih dahulu."

"Kita sudah melalui kencan pertama," dia menggeram, membuatku tersenyum.

"Tidak, belum. Kau tidak mengantarkan aku pulang dan kau membuatku marah. Jadi itu tidak dihitung."

"Brengsek," dia bergumam dan aku bisa membayangkan dia mengacak-acak rambutnya karena frustasi. "Kau bisa membunuhku, honey."

"Bagaimana itu?" Aku bertanya dan aku kembali membuka bungkus sebuah chocolate cupcake. Ya Tuhan, aku bisa menambah berat badan empat setengah kilogram hari ini.

"Tunggu sebentar," dia menjauhkan teleponnya dari mulutnya dan memanggil seseorang, "Hei! aku akan segera kembali."

"Apa yang kau lakukan?" Aku bertanya.

"Mencari tempat yang lebih sunyi," dia bergumam dan aku bisa mendengar dia berjalan. Sebuah pintu terbuka dan kemudian menutup lagi. "Seperti kataku tadi, kau bisa membunuhku karena aku benar-benar ingin merasakan dirimu, di semua tempat."

Aku berhenti mengunyah coklat yang ada di dalam mulutku dan menelan dengan susah payah. "Maaf?" Aku berbisik.

"Aku ingin perlahan-lahan menelanjangimu dan merasakan setiap inci dari tubuhmu. Aku ingin kau menggeliat-geliat dan basah."

"Misi berhasil," Aku bergumam dan kemudian menampar mulutku sendiri saat dia tertawa.

"Aku ingin bertemu denganmu hari Minggu malam."

"Aku bekerja di hari Minggu malam. Aku mendapat giliran dua belas jam kerja di malam hari pada akhir minggu nanti. Aku baru selesai bekerja jam dua pagi."

"Apa kau sering bekerja di shift itu?" dia bertanya dengan suara pelan dan aku mengerutkan dahi mendengar perbedaan dalam nada suaranya.

"Ini adalah rotasi. Kami bekerja di semua shift. Tapi aku hanya bekerja dua belas jam kerja selama tiga hari, jadi ini tidaklah terlalu buruk."

"Jadi, biar aku luruskan sekali lagi. Kau pulang tengah malam ke sebuah rumah di Seoul bagian utara yang tidak memiliki sistem keamanan?" Suaranya terdengar tajam, dan perutku terasa kaku karena mendengarnya.

"Itu bukan masalah besar, Chanyeol."

"Aku akan memasang sistem keamanan di rumahmu pada hari Senin." Suaranya terdengar tegas.

"Tidak, kau tidak perlu." Apa gerangan ini?

"Ya, aku perlu. Jangan membantah mengenai hal ini, Baekhyun. Aku sering bepergian, aku harus memastikan keamananmu."

"Chanyeol, kita baru saja melewati satu kali kencan..."

"A-ha! Jadi itu memang sebuah kencan." Dia berteriak kegirangan.

"Jangan merubah arah pembicaraan. Kau tidak perlu memasang apapun di rumahku. Aku baik-baik saja."

"Akan kita lihat nanti."

"Apa itu 'akan kita lihat nanti' yang berarti aku harus diam dan kau akan tetap melakukannya?" Aku bertanya karena ingin tahu.

"Ya. Keamananmu bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan. Kalau kau harus pulang di tengah malam sendirian. Aku harus yakin bahwa dirimu aman."

"Chanyeol, aku..."

"Aku harus pergi," dia memotong kalimatku, dan aku langsung kecewa, bukan karena harus kehilangan dirinya yang menyenangkan dan suaranya yang riang, namun juga karena aku tidak akan melihat dia lagi sampai akhir minggu nanti. "Apa kau akan menonton pertandinganku di hari Minggu nanti?" dia bertanya, suaranya melembut.

"Pertandingan di pagi hari atau siang hari?" Aku bertanya.

"Siang."

"Ya, aku biasanya melihat pertandingan bersama anak-anak. Aku akan melihatnya sambil melakukan pekerjaanku."

"Ok, perhatikan saat pergantian babak. Aku akan pastikan aku berada di kamera saat kami meninggalkan lapangan, dan aku akan katakan hai."

"Serius?"

"Ya, lihat saja aku."

"Ok. Semoga perjalananmu lancar."

"Jaga dirimu, sweetheart. Aku akan SMS kalau aku sempat."

"Ok, bye."

"Sampai nanti."

Dan dia pergi.

ooOoo

.

.

"TIDAK TIDAK TIDAK!" Hyuko berteriak dari tempatnya berada, di sofa yang terbuat dari kulit yang berada di ruang tunggu. Ini adalah hari Minggu siang. Ada puluhan pasien, orang tua, dan beberapa staff yang sedang beristirahat, dan semua mata yang ada menempel ke arah televisi raksasa yang ada di sini, menonton pertandingan football.

Anak-anak mengenakan seragam tim yang mereka dapatkan minggu lalu dari kunjungan para pemain football itu. Chanyeol mengirimkan banyak makanan kemari siang ini, sandwich, keripik, popcorn dan soda.

Ada apa dengan pria ini dan makanan?

Jadi semua orang mengunyah makanan dan menikmati jalannya pertandingan. Dan ini tidak seperti ruang tunggu di rumah sakit, namun lebih mirip seperti ruang keluarga pada musim Super Bowl.

Anak-anak senang dengan suasana yang normal seperti ini, dan aku tidak sabar untuk berterima kasih pada Chanyeol akan hal ini.

Semua orang menggeram saat Chanyeol dijegal di tengah lapangan dan aku hanya bisa menahan nafas sampai dia bisa kembali berdiri dan berjalan dengan mantap kembali ke arah rekan satu timnya.

Ya Tuhan, aku tidak tahan melihat dia dijegal lagi.

Bagaimana bisa dia tidak cedera?

Dan ini sudah memasuki pertengahan pertandingan, dan tim Chanyeol dalam posisi menang, dua puluh satu melawan tujuh. Mataku tertempel di layar televisi, melihat dengan seksama untuk mencari tahu pesan yang akan disampaikan Chanyeol kepadaku, dan tentu saja, tepat sebelum iklan komersial muncul, dia nampak di layar televisi. Rambutnya basah karena keringat dan menempel di dahinya, wajahnya kotor, dan dia bernafas dengan berat karena kelelahan, tapi dia tersenyum ke arah kamera dan menyentuhkan jari telunjuknya ke hidungnya, kemudian menunjuk ke arah kamera dan seakan mulutnya mengatakan "merindukanmu."

Well, sial, dia manis sekali.

Tanpa berpikir dua kali, aku langsung mengeluarkan teleponku dan mengirimkan pesan kepadanya.

Aku juga merindukanmu, bintang football.

ooOoo

.

.

"Nona Byun?"

"Ya." Dengan suara parau aku menjawabnya dan memandang pria itu dari mataku yang masih mengantuk. Dia berdiri di teras rumahku, dalam sebuah pakaian seragam, dan membawa sebuah papan yang berisi catatan. Aku menyentuh rambutku dan mengerutkan dahi. "Jam berapa ini?"

"Jam sepuluh pagi, ma'am."

Brengsek, ini masih pagi.

"Ada apa?" Aku bertanya dan berharap mendapatkan secangkir kopi.

"Saya dari jasa instalasi keamanan rumah. Saya mendapatkan perintah untuk memasang sistem keamanan di rumah anda." Dia tersenyum sopan dan aku cemberut.

"Aku tidak meminta itu."

"Saya tahu, Tuan Park yang melakukannya."

"Bagaimana kau bisa tahu?" aku bertanya.

"Karena saya adalah pemilik dari perusahaan ini, Nona. Beliau meminta saya melakukan ini sendiri."

Aku mendesah dalam-dalam dan meletakkan dahiku di pintu. Aku rasa tidak ada jalan keluar dari masalah ini.

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan?" Aku bertanya, menyerah dan membiarkan semua ini terjadi.

"Hampir seharian penuh. Ini adalah sistem keamanan yang komplit."

"Berapa banyak tagihan bulanan yang akan kudapatkan?" Aku bertanya dan memikirkan sesuatu di dalam kepalaku. Aku bisa memotong kabelnya.

"Ini sudah dibayarkan untuk satu tahun kedepan," dia merespon saat dia membuat catatan di papan catatan miliknya.

"Serius?"

"Ya, bisakah saya memulainya?"

"Silahkan. Aku akan mandi, lalu aku akan siap jika kau memiliki pertanyaan."

"Itu tidak akan menjadi masalah, karena saya akan memulainya dari bagian depan."

Aku berjalan kembali ke kamar tidurku dan melemparkan diri ke atas tempat tidurku. Kuambil telepon genggamku dan menekan nomor telepon Chanyeol.

"Hai, cantik," dia berbisik.

"Kenapa kau berbisik?" aku merespon dengan bisikan juga.

"Karena kami sedang melihat rekaman pertandingan kemarin. Kenapa kau berbisik?" aku bisa mendengar ada senyuman dalam suaranya dan itu membuatku tersenyum juga.

"Karena kau berbisik."

"Apa pria dari jasa keamanan itu sudah datang?"

"Ya, maniak yang suka mengontrol, dia sudah datang."

Chanyeol terkekeh dengan suara pelan. "Bagus, aku mempercayainya, dia sudah memasang banyak sistem keamanan, di semua rumah anggota keluargaku dan bahkan di tempat bisnis mereka."

"Ok. Kenapa kau harus mengirim dia sepagi ini?"

"Ini sudah jam sepuluh, sweetheart."

"Aku baru bisa naik ke tempat tidur jam empat pagi," aku mengingatkan dia.

"Maafkan aku. Aku lupa mengenai hal itu."

"Tidak masalah. Lagipula aku juga tidak ingin tidur seharian penuh." Aku bangkit dari atas tempat tidurku dan berjalan ke arah shower.

"Aku akan membiarkanmu kembali ke rekaman pertandinganmu."

"Ok. Apa kau besok libur?"

"Ya."

"Aku harus melatih di pagi hari, mungkin sampai siang, tapi setelah itu aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu sepanjang hari."

Ya Tuhan, suara bisikannya itu begitu seksi.

"Tentu saja, apa yang kau miliki di kepalamu itu?"

"Kau akan mengetahuinya besok. Aku akan menjemputmu siang hari."

Dia menutup teleponnya dan aku mandi air panas, lama sekali. Mandi ini membuat rasa kantuk hilang dan menyegarkanku kembali. Aku mengenakan sebuah pakaian tanpa lengan berwarna hitam yang mengembang dan sedikit longgar dan kemudian berjalan menuju dapur, membuka laptopku di atas meja dapur. Saat menunggu laptopku menyala, aku membuat kopi.

Terima kasih Tuhan atas kopinya.

Aku mendengar suara bor dan melihat para pria dari jasa keamanan itu menggemparkan rumahku, satu di depan dan satu di belakang. Saat mereka bekerja, aku memutuskan juga melakukan sedikit pekerjaan, membaca email yang masuk, facebook dan tagihan-tagihan, sambil menyalakan radio internet di stasiun favoritku.

Saat para pekerja dari jasa keamanan rumah itu selesai bekerja, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, aku sudah mengejar ketinggalanku di kehidupan sosialku yang ada di dunia maya, email, membuat beberapa panggilan telepon dan aku sadar bahwa aku bangkrut. Well, lagipula memang akan segera bangkrut, saat aku mengirimkan cek kepada Yijin.

Aku diberitahu mengenai cara kerja alarm rumahku, bagaimana mematikannya, memasang kode keamanan, dan bagaimana memanggil bantuan. Itu sangat mengerikan.

Bukan pemikiran mengenai kemungkinan aku akan dirampok, tapi mengenai berapa banyak langkah yang harus kulakukan untuk menjalankan sistem keamanan sialan ini.

Akhirnya, pada saat aku sudah bisa menyendiri, aku mengenakan sandal japit milikku dan berjalan-jalan di sekitar rumahku. Aku tidak tahu kenapa Chanyeol begitu khawatir mengenai keamananku. Tetangga rumahku tidaklah terlalu buruk. Mereka adalah masyarakat Seoul kelas menengah, kelas rata-rata. Kenyataannya, hampir seluruh pekerja di sub divisi rumah sakit tinggal di daerah ini. Beberapa memang di kondo, dan sebagian besar adalah mereka yang masih single atau pasangan yang tidak memiliki anak. Seluruh rumah di daerah ini adalah rumah untuk keluarga, rumah-rumah yang dibangun secara serempak oleh pengembang, dan dibangun kira-kira lima tahun yang lalu.

Ini jelas bukanlah perumahan kumuh.

Tapi kalau memang ini membantu dia bisa tidur nyenyak, terserah.

Ini sudah menjelang akhir musim panas di Seoul, namun masih cukup hangat. Tidak ada awan menggantung di langit yang biru, dan daun-daun yang ada di pohon-pohon baru saja akan berubah warna menjadi kuning. Sebelum kami menyadarinya, mereka tiba-tiba sudah berubah warna menjadi merah dan berguguran, membuat pohon-pohon menjadi gundul.

Aku menyapa tetanggaku dan menyeberang jalan untuk kembali ke rumahku, dan melihat Chanyeol duduk di tangga teras rumahku, sikunya berada di atas celana jins yang dia kenakan, bagian atasnya adalah kaos Nike warna hitam dan kaca mata hitam merk Oakley. Aku tidak bisa melihat ke dalam matanya, tapi mulutnya membentuk sebuah senyuman kecil dan aku bisa merasakan kalau dia memandangiku saat aku menuju ke arahnya.

Saat aku semakin dekat dengan dia, aku sengaja sedikit menggoyangkan pinggangku saat berjalan, menikmati saat pakaian yang kukenakan mengembang di sekitar pahaku, dan aku tersenyum padanya.

"Aku pikir kau akan menjemputku besok siang." Aku meletakkan kedua tanganku di pinggang dan mencoba terlihat tegas, namun gagal. Aku sangat senang saat melihat dia datang kemari setelah perjalanan panjangnya dari Busan.

"Iya. Tapi aku memutuskan untuk mampir sekarang, dan memastikan bahwa sistem keamanannya berjalan dengan baik." Dia meraih tanganku dan menarikku untuk duduk di atas pangkuannya. Aku menjerit karena terkejut dan kemudian tertawa saat melingkarkan lenganku di lehernya.

"Apa cuma itu saja alasannya?" Aku tersenyum padanya dan melepaskan kaca mata hitam Oakley itu. Mata bulatnya terlihat gembira dan panas.

"Aku perlu untuk melihatmu," dia berbisik dan memelukku dengan erat, menenggelamkan wajahnya di leherku dan bernafas disana.

Ya Tuhan, dia begitu nikmat.

"Aku merindukanmu," dia berbisik dan mencium pipiku, kemudian menarik dirinya sedikit ke belakang dan menatap mataku sekali lagi. "Bagaimana kabarmu?"

"Baik-baik saja. Akhir pekan yang sangat sibuk, diantara pertandingan football dan kiriman makanan dan hal-hal yang sangat mengganggu yang biasa kami sebut sebagai pasien." Aku tertawa dan mengulurkan tanganku ke arah rambutnya yang berwarna pirang gelap itu. Rambut itu terasa begitu lembut, dan aku melakukannya sekali lagi. "Serius, terima kasih, untuk semua yang kau lakukan pada anak-anak, dan padaku, akhir minggu kemarin. Itu melebihi dari apapun yang pernah kami harapkan."

"Jadi kau menonton pertandingan itu? Atau cuma sampai setengah pertandingan saja?" Dia tersenyum, tapi aku bisa melihat ada harapan bahwa aku melihat keseluruhan pertandingan, melihat dia dan mendukungnya dan merasa bangga akan dirinya.

Dan memang seperti itu yang terjadi.

"Aku melihat hampir secara keseluruhan, ya. Aku harus menutupi mataku saat kau dijegal. Aku benci bagian itu. Dan terima kasih untuk pertengahan pertandingan itu. Itu keren sekali." Aku tertawa.

"Sama-sama." Dia menyingkirkan rambutku ke belakang bahuku dan tiba-tiba saja dia terlihat serius.

"Apa ada yang salah?"

"Tidak ada." Dia menggelengkan kepalanya dan tertawa kepadaku sekali lagi. "Aku membawa pizza."

"Aku tidak akan pernah menolak pria yang membawa pizza." Aku menggeliat dari pangkuannya untuk membuka pintu, kemudian masuk ke dalam rumah.

"Sialan, kenapa alarm rumahmu tidak dipasang?"

ooOoo

.

.

Aku berbalik dan memelototinya, dan berkacak pinggang. "Aku hanya keluar selama lima belas menit, Chanyeol. Di tengah sinar matahari. Sial, kenapa kau harus sedemikian paniknya?"

"Maukah kau, Demi Tuhan, menyalakan alarm sialan itu ketika kau meninggalkan rumah?" Kata-katanya terukur, dan jelas sekali dia sedang berusaha dengan amat sangat keras untuk tenang.

"Bolehkah aku tetap meninggalkannya dalam keadaan mati saat aku memeriksan surat-surat?" Aku bertanya dengan nada sarkastis.

Dia mengatupkan bibirnya seakan dia sedang berpikir keras, dasar si sok pintar.

"Ya."

"Gee, terimakasih. Sekarang, berikan padaku pizza itu sebelum aku melemparmu keluar karena telah bersikap sok perintah."

Dia menyeringai, memegang pizzanya jauh dari jangkauanku, dan menutup pintu di belakangnya serta menguncinya. "Apakah kodemu?"

"Bagaimana jika kaulah orang yang sedang berusaha aku hindari?" Aku bertanya dengan sebuah seringai genit. Dia menaikkan salah satu alisnya sambil menanti sebuah jawaban. "Tampilan wajah seperti itu tidak mempan padaku."

"Aku tidak akan membagi pizzamu jika kau tidak memberitahuku."

"Memerasku dengan pizza?" Aku mencibirnya. Dia menyeringai dan mengendikkan bahunya, dan pada saat ini dia sangat menawan, dengan senang hati aku akan memberitahunya golongan darahku, nomor jaminan sosial bahkan nama gadis nenekku, jika saja aku mengetahuinya. "Baiklah. Satu dua tiga empat."

"Kodemu adalah satu dua tiga empat?" tanyanya sembari terbahak.

"Aku akan mengingatnya."

Dia menggelengkan kepalanya dan mengarahkanku menuju dapur, masih memegang pizza diatas kepalanya.

"Bersediakah kau menjelaskan padaku mengapa kau amat bersikukuh mengenai alarm? Aku tidak pernah mendengar ada masalah di lingkungan ini. Disini sangat aman." Aku membuntutinya dan menarik turun piring dari rak untuk makanan kami.

Dia melayangkan pandangan ke sekeliling dapurku yang mungil dan menyeringai. "Disini terlihat berbeda dalam keadaan terang."

Ah ya, terakhir kalinya dia kemari, aku sedang mabuk berat dan dia harus mengurusku.

"Aku menyukai dapur ini," timpalnya.

Aku memandang berkeliling ruangannya dan menyeringai. Dapur inilah yang menggerakkanku untuk membeli rumah ini. Dapurnya terbuka mengarah ke ruang keluarga, memiliki meja dapur terbuat dari batu granit berwarna terang dan lemari dapur yang terbuat dari kayu berwarna terang juga, menimbulkan efek dapur yang cerah dan ceria.

"Terima kasih. Sekarang katakanlah, Park."

Chanyeol menghela nafas dan meletakkan pizza diatas dua piring, kemudian dia menyerahkan milikku.

"Bir?" tanya Chanyeol.

"Di dalam kulkas."

Dia mengeluarkan dua bir, membuka penutupnya dan menuntunku ke ruang keluarga. Aku duduk diatas sofa dan dia di lantai, menyandarkan dirinya pada sofa. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya di kakiku.

"Aku tahu aku terdengar sangat mengatur mengenai alarm, Baekhyun. Namun, itu sangat penting bagiku karena seiring dengan berkembangnya hubungan kita, orang-orang akan berusaha mendekatimu. Media, penggemar yang aneh, orang-orang dengan keingintahuan yang mengerikan. Dan seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku banyak bepergian, dan aku tidak tinggal disini bersamamu, jadi aku tidak bisa ada disini sepanjang waktu untuk melindungimu." Dia mengambil jeda untuk makan dan mengerutkan dahinya ketika dia berpikir.

Aku hanya membisu kehilangan kata-kata. Seiring dengan berkembangnya hubungan kita? Aku terpaku seperti orang tolol pada kalimat itu.

"Hubungan apa?" tanyaku, kebingungan. "Kita baru saling mengenal satu sama lain selama tiga menit. Kita bahkan belum memiliki satu kencan utuh."

Rahang Chanyeol membuka dan dia berkedip dengan cepat, lalu mengertakan rahangnya dan menatap tajam padaku.

"Apakah, tepatnya, menurut pikiranmu yang sedang berusaha aku kejar disini, Baekhyun? Jika aku hanya ingin menidurimu lalu kutinggalkan, aku akan segera mundur segera setelah kau menolakku di pesta pertunangan adikku." Dia menggelengkan kepalanya dan mendorong pizzanya menjauh.

"Aku hanya…" aku memulai, tapi dia menyelaku, tidak mendengarkan aku.

"Ya, ini memang terlalu awal, tapi sial Baekhyun, semua yang kupikirkan hanyalah tentangmu. Kau telah memerangkapku. Aku ingin mempelajari tubuhmu. Aku ingin tahu bagaimana rasanya tenggelam didalammu." Dia menelan ludah susah payah dan begitu pula aku saat aku mengapitkan kedua belah pahaku dan merasakan diriku menjadi basah.

"Namun aku pun ingin tahu apa yang bisa membuatmu tertawa. Apa yang menyebabkanmu marah. Apa yang kau sukai. Aku hanya ingin mempelajari semua hal mengenai dirimu. Kau ada didalam benakku, dan aku sudah lama sekali tidak merasakan hal seperti ini. Tuhan, aku tidak pernah memberikan pesan untuk wanita setiap aku bertanding, astaga."

Dia nampak benar-benar bingung dan aku meluluh, hanya sedikit. Bergerak cepat? Sedikit. Namun dia ingin aku aman, dan aku dapat menghargai hal itu.

Kami memiliki hubungan. Huh.

"Aku juga ingin mengenalmu," aku berkata dengan lirih dan tersenyum bahagia.

"Jadi," dia melanjutkan dan menengadah untuk memandangku dengan sorot serius pada mata coklat kehitamannya. "Kumohon, bersabarlah terhadapku, dan selalu nyalakan alarm sialan itu ketika kau pergi, dan ketika kau didalam rumah sendirian."

"Oke," Aku mengangkat bahu seakan itu bukan masalah, dan melanjutkan memakan pizza.

"Kau tidak akan mendebatnya?"

"Tidak, kenapa harus kudebat? Itu hanya alarm. Namun aku tidak suka diperintah harus begini begitu, jadi selalu diskusikanlah semuanya padaku, oke?"

Chanyeol tersenyum simpul dan menyingkirkan kedua piring kosong kami kesamping. Dia menaikkan tubuhnya keatas sofa, lengannya melentur dengan penuh keseksian dan aku hanya bisa duduk bersandar dan menontonnya bergerak.

Dia hanya sangat seksi

Mendadak, dia menarikku kedalam rengkuhan lengannya, menempatkan diriku menempel padanya, mencium puncak kepalaku dan menyambar pengontrol televisiku.

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku dibarengi tawa.

"Menonton TV."

"Kenapa?"

"Karena kau tidak memperbolehkanku untuk bercinta denganmu, jadi bagaimanapun juga aku harus mengalihkan perhatianku."

Sialan.

Aku menatap Chanyeol dengan mulut ternganga. "Kecuali kalau kau mengubah pikiranmu mengenai aturan tiga kali kencan?"

"Apakah kau merubah acara pizza dan menonton TV ini menjadi sebuah kencan?" Tanyaku, tiba-tiba penuh harapan.

"Kau memperhatikan." Chanyeol mencium hidungku dan tersenyum dengan padaku.

"Kalau begitu tidak, aku belum mengubah pemikiranku." Aku duduk bersandar padanya dan menyaksikannya mengganti-ganti saluran. Ketika dia sampai di saluran film dan menyadari bahwa semuanya diblokir, dia menatapku sambil merengut.

"Tidak ada saluran film?"

"Tidak ada."

"Kenapa?"

"Untuk saluran-saluran tersebut mereka membebankan biaya yang amat mahal dan aku pun jarang menontonnya. Aku cukup pergi ke tempat penyewaan film kalau aku sedang mood."

"Hmm, oke." Tangannya bergerak secara ritmis naik turun mengelus sisi tubuhku, dengan perlahan membelaiku melalui gaunku. Lenganku melingkari pinggangnya yang ramping, dan aku amat sangat ingin merasakan kulit lembutnya, jadi aku angkat ujung kausnya yang halus dan meluncurkan tanganku diatas otot perutnya yang terpahat. Dia menarik napas dan perutnya menegang, namun ketika dia telah terbiasa dengan sentuhanku, dia menghembuskan napas dan mencium puncak kepalaku.

Aku tersenyum puas saat kurasakan dia mengangkat ujung gaunku dan menyelipkan tangannya di bawah gaunku, membelai kulit di sepanjang pahaku.

Astaga, rasanya nikmat.

Aku menghela napas dan meneruskan menyentuhnya, menikmati kulitnya, cara napasnya tersentak ketika titik gelinya teraba olehku. Aku merasakan dia mengerenyit ketika aku menyentuh salah satu rusuknya dan aku mengerutkan dahiku padanya.

"Apakah itu terasa sakit?"

"Sedikit," wajahnya tenang dan dia tidak menjelaskan lebih lanjut. Aku mengerakkan lagi tanganku perlahan-lahan diatas rusuknya dan dia meringis.

"Sedikit, enak saja." Aku naik ke pangkuannya dan menarik kausnya keatas agar aku dapat melihat rusuknya dan sangat yakin, disana terdapat memar berwarna ungu gelap. "Minggu?" aku bertanya.

"Yeah. Bukan masalah besar."

Aku memelototinya dan melihat kearah memar itu lagi. "Aku tidak menyukainya."

"Aku pun demikian, sweetheart," dia tertawa dan menarikku kembali kepadanya.

"Apakah ini sering terjadi?"

"Baekhyun, aku ditubruk oleh sekumpulan pria seberat tiga ratus pound. Tentu saja aku akan selalu mengalami benjol dan memar. Aku akan bertahan hidup."

Aku memberenggut lagi dan menunduk menatap dadanya, tidak mengatakan apa-apa. Aku benci pemikiran bahwa dia terluka.

Dia mengangkat kepalaku dengan menggunakan jarinya pada daguku dan tersenyum lembut padaku. "Aku baik-baik saja."

Aku menyusuri jemariku menuruni pipi halusnya. Dia memejamkan matanya saat dia bersandar pada sentuhanku, kemudian dia mencium telapak tanganku, dan memakuku dengan mata coklat kehitaman itu.

"Aku akan menciummu," Chanyeol berbisik.

"Memang sudah saatnya," Aku balas berbisik. Chanyeol menyeringai dan mencium keningku, turun ke hidungku, dan mendaratkan bibir itu pada bibirku, mengistirahatkannya disana, hanya sedetik lalu dia mulai bergerak. Bibir yang menakjubkan itu menggigit pelan bibirku, dan akhirnya lidahnya membelai bibir bawahku dan dengan santai bercinta dengan bibirku, menari dan berputar, dengan lembut menjelajahiku.

Ciuman ini sangat berbeda dengan ciumannya saat di pesta. Ini sangat intim dan lembut. Aku menyukai kedua sisi dirinya, dan tidak sabar untuk mengenal dirinya.

Aku mendorong jemariku kedalam rambutnya dan mendesah puas ketika dia melanjutkan serangan lembut pada mulutku.

Dia sedikit menarik diri, bernapas dengan susah payah, matanya berapi-api. "Aku sama sekali tidak berkeberatan menciumi bibirmu seharian."

"Aku pun tidak keberatan," gumamku dan menyeringai kepadanya.

"Aku benci aturanmu, tahukah kau?"

"Aku juga agak membencinya saat ini," aku mengaku dan terkekeh.

"Kau layak." Dia menelusuri buku jarinya menuruni pipiku. "Hey, apa yang terjadi dengan helaian merah muda?"

Aku mengerutkan dahi pada pergantian pokok pembicaraan, tidak paham akan maksudnya lalu aku mengingatnya; rambutku. "Itu tidak permanen. Semacam kapur untuk rambut yang dapat kugunakan untuk mewarnai rambutku dam bisa dicuci."

"Oh, keren." Tangannya meluncur naik ke pahaku lagi, di bawah gaunku dan aku menghela napas. Ketika dia tiba di pinggangku, matanya melebar dengan sorot keterkejutan. "Kau tidak mengenakan celana dalam?"

"Aku memang jarang mengenakannya," aku mengendikkan bahu.

"Jadi, tanpa piyama dan tanpa celana dalam." Dia menelan ludah susah payah, mengatupkan matanya kuat-kuat, dan mengutuk dibawah napasnya. Tangannya terhenti pada pinggangku seakan dia takut untuk menggerakannya.

Mungkin peraturanku memang bodoh.

Mungkin tidak apa-apa melangar peraturan itu, hanya untuk sekali ini saja. Dia telah memberitahuku bahwa dia ingin mengejar sesuatu lebih dari hanya sekedar hubungan seks bersamaku, dan bukankah itulah inti dari peraturannya?

Dia membuka matanya dan menatapku, dan tersenyum lembut. Aku menyisirkan jemariku melalui rambutnya, kemudian menangkup tengkuknya dan menariknya turun kepadaku. Aku menggosok hidungnya dan menciumnya dengan tulus.

"Sentuh aku," bisikku.

Dia menyelipkan sehelai rambut ke belakang telingaku dan menghela napas dalam-dalam.

"Aku tidak akan mampu berhenti."

"Jadi jangan berhenti." Aku menyeringai padanya dan dia menatapku tajam, membuatku tertawa.

"Kau tidak bisa mengubah aturannya, Baekhyun."

"Kenapa tidak? Bagaimanapun juga itu adalah aturanku."

"Karena, setelahnya kau akan membenciku." Tangannya mengepal di pinggangku selama sedetik, dan kemudian meluncur turun lagi ke pahaku.

Oke, dia akan bersikap seperti pria terhormat. Sial.

"Chanyeol," ujarku lirih dan menciumnya lagi.

"Yeah."

"Aku sungguh-sungguh menginginkanku untuk menyentuhku." Astaga, tolong sentuhlah aku.

Dalam satu gerakan besar dan mulus, tangannya merayap menaiki pahaku, melewati bokongku, ke punggungku dan kembali turun lagi. Aku menggeram dan mendorong tanganku dibawah kausnya, menjalarkan tanganku diatas kulitnya yang halus dan hangat.

"Bolehkah aku melepaskan gaunmu?" tanya Chanyeol.

"Ya, silahkan."

Sekarang suasana di ruang keluarga gelap, cahaya hanya berasal dari sinar televisi yang diheningkan. Dia duduk tegak dan membantuku berdiri didepannya, mencengkeram ujung keliman gaunku dan menariknya lepas melewati kepalaku dan melemparkannya ke lantai. Dia menghirup napas dalam-dalam dan mata coklat kehitamannya membara saat dia memandangku naik turun dari rambutku, turun ke payudaraku yang ditutupi oleh bra hitam, pubisku yang diwax, dan mata itu kembali keatas dan menemukan mataku.

"Lepaskan bramu," gumamnya.

Aku mematuhinya dan melemparkan bra itu keatas gaun.

"Demi Tuhan, Baekhyun, kau cantik."

Aku menyeringai padanya dan mendadak dia menarikku ke pangkuannya dan menangkup kedua payudaraku menggunakan telapak tangannya saat dia menciumiku habis-habisan. Aku menelusuri otot di bahunya dengan satu tangan dan menguburkan tangan yang satu lagi pada rambutnya dan memeluknya erat ketika tangannya menjelajah diatas tubuhku yang sensitif.

Oh Tuhan, tangannya terasa sangat nikmat!

Akhirnya, dia menelusuri ciuman di sepanjang rahangku dan melewati leherku dimana dia memberikan perhatian-ekstra spesial saat tangannya membelai dengan oh-sangat-perlahan kearah bawah.

"Aku tahu kau terasa nikmat, dan aku pun tahu kau terlihat fantastis, namun kau melampaui setiap fantasi yang pernah kumiliki mengenai dirimu, sweetheart."

"Aku ingin melihatmu," ujarku lirih, tapi dia menggelengkan kepalanya dan berdecak.

"Belum saatnya. Ini semua tentangmu, honey."

Aku mulai memprotes, namun kemudian jemari ajaib itu menggelincir turun melewati pubisku dan menemukan intiku dan semua yang ada pada Chanyeol, jari, napasnya, bahkan jantungnya, membeku.

"Apa ini?" Dia mundur dan menatapku terpana.

Oh, itu.

"Itu adalah sebuah tindikan," balasku dan mencondongkan badanku untuk menciumnya lagi tapi dia mundur dan matanya terpicing.

"Clitmu ditindik?" tanyanya penasaran.

"Tidak, secara teknis adalah kulit penutup klitorisku yang ditindik."

"Sial, aku harus melihatnya." Chanyeol berdiri secara sembrono dengan aku yang berada di lengannya, dan ketika aku berpikir akhirnya dia akan membawaku naik ke kamar tidurku, dia membaringkanku dengan lembut di sofa. Dia mematikan TV, tapi menyalakan sebuah lampu dan berlutut di lantai di samping kepalaku.

"Kau menakjubkan, kau tahu itu kan?" Dia menciumku pelan, dengan lembut menggoda lidahku dengan lidahnya, dan kemudian menggigit ringan menuju ke rahangku lagi, ke telingaku dan turun menuju leherku ke tulang selangkaku.

"Chanyeol," aku mencengkeram kausnya dalam kepalan tanganku dan berusaha menariknya melewati kepala Chanyeol tapi dia mundur.

"Honey, aku tidak bisa telanjang." Dia menelan dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa. Kita akan menghormati aturan tiga kali kencanmu, namun aku mau sedikit mengeksplorasimu. Apakah oke?"

"Oke," aku berbisik dan dia tersenyum nakal.

"Berbaringlah dan nikmati." Dia memasukkan salah satu putingku kedalam mulutnya dan pada awalnya dihisap dengan lembut lalu sedikit keras, membuatku merintih. Tangannya bergerilya keman-mana. Menyapu rusukku keatas dan kebawah, turun ke pahaku dan naik lagi. Akhirnya, dia mencurahkan perhatian spesial ke putingku yang satu lagi, dia mulai menggigitinya pelan, menghisap dan menggigit disepanjang perjalanannya menuruni perutku saat tangannya meluncur naik di paha bagian dalamku.

"Chanyeol…"

"Shh, tidak apa-apa."

Dia melebarkan kakiku dan duduk diantaranya, hanya menatap pada pusatku, dan mendadak aku menjadi sangat malu.

"Matikan lampunya," suaraku lirih.

Matanya bertemu dengan mataku. Wajahnya diselimuti dengan gairah, matanya bercahaya, dan rahangnya bergemeretak akibat dari dia kencangnya dia menutup rahang.

"Jangan harap," geramnya. "Aku ingin memandangmu. Sial, Baekhyun, kau sangat seksi."

Dia bertopang pada sikunya dan dengan lembut menyentuh tindikanku menggunakan ujung jarinya. Mengakibatkan punggungku melengkung dan napasku terkesiap.

"Sial."

"Berapa lama kau telah memiliki tindikan ini?" Chanyeol bertanya.

"Lima tahun."

"Kenapa," tanya Chanyeol dan mengusapnya lagi dengan ibu jarinya sembari jarinya meluncur menembus labiaku yang basah dan aku melenguh lagi. "Astaga, kau amat basah."

"Dulu aku anggota sebuah band, orang-orang memiliki tindikan, aku tidak ingin tindikan milikku terlihat." Kata-kata itu menghambur dengan super cepat akibat dari apa yang sedang dia lakukan padaku dan dia terkekeh.

"Apakah meningkatkan kenikmatan?" tanyanya dan aku mengumpat lagi saat dia sekilas menyapu barbel kecil itu dan menjadikan clitku membara.

"Bagaimana menurutmu?" Sial, aku tidak bisa berhenti bergerak.

"Tindikannya mungil," komentarnya.

"Itu adalah bagian yang kecil dari tubuhku," Aku mengingatkannya dan menggeliat lagi ketika dia menyapunya sekali lagi dengan jarinya.

Chanyeol mencium pusarku, dan aku mendorong tanganku ke rambutnya. Dia bergerak turun dan dengan lembut membungkuskan bibir luar biasa itu di seputaran clitku serta tindikan metal dan aku pun orgasme tidak berkesudahan, mendorong terhadap mulutnya, mengangkat pinggulku dari sofa. Kedua tangannya menangkupi bokongku dan aku menunggangi orgasmeku, menyentak dan gemetaran, dan tiba-tiba bibirnya bergerak makin kebawah dan lidahnya ada didalamku, kemudian menjilati labiaku, dan memasuki lagi. Itu adalah serangan penuh gaya Chanyeol, dan itu adalah hal yang paling luar biasa yang pernah kualami seumur hidupku.

Dia kembali menenggelamkan lidahnya didalamku dan menarik satu tangan untuk membelai clitku lagi dan kurasakan orgasme yang lain terbangun.

"Ah, hell, babe, aku akan…"

Dia menggeram padaku dan tak tertahankan lagi, orgasme ini sepenuhnya jauh melampaui yang sebelumnya, kalau itu memang memungkinkannya.

Ketika aku kembali sadar, Chanyeol sedang menggigit ringan di sepanjang perjalanannya keatas tubuhku, membelai lembut kulitku, lalu menciumku ringan dan jemarinya turun menyusuri wajahku.

"Sangat manis," gumamnya lagi di bibirku.

Aku dapat merasakan diriku padanya. Aku menggapai ujung kausnya lagi dan mendorong tanganku dibawahnya jadi aku dapat membelai punggung dan rusuknya. Dia menghela napas dalam-dalam dan menempatkan keningnya di keningku, matanya terpejam.

"Sentuhan tanganmu nikmat," lirihnya.

"Begitu pula denganmu. Lepaskan pakaianmu."

Dia menghela napas panjang lagi, mencium keningku dan duduk bertumpu pada tumitnya.

"Aku kira tidak." Dia menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil dengan nada sedih sembari menggosok wajahnya menggunakan tangan. "Aku tidak percaya akan mengatakan hal ini, tapi kupikir sebaiknya aku pergi."

Apa?

Dia mungkin melihat kegusaran di wajahku sebab dia terkekeh lagi dan menciumku dengan cepat.

"Aku akan menjemputmu untuk kencan nomor dua besok sore." Matanya dengan santai meresapi tubuh telanjangku sekali lagi dan Chanyeol menggerutukan kutukan.

"Okay," timpalku, sedikit kurang yakin, dan duduk, menarik turun gaunku melalui kepalaku lalu berdiri saat dia juga bangkit dari lantai.

"Kau luar biasa." Dia menangkup wajahku di tangannya dan mencondongkan tubuhnya kebawah untuk menciumku dengan lembut.

Aku mengarahkannya ke pintu depan, memasukkan kode ke sistem alarm untuk menonaktifkannya dan membukakan pintu untuknya.

"Besok sore," dia mengingatkan, seakan aku akan bisa melupakannya.

"Itu adalah sebuah kencan." Aku melayangkan senyuman malu-malu padanya.

"Nyalakan alarmnya setelah aku pergi." Chanyeol memolototiku, menantangku agar membatahnya dan aku terkikik.

"Yes, sir."