THE LOVE I'VE NEVER IMAGINED

Disclaimer: Masashi Kishimoto

This Fic : Sava Kaladze's

Summary:

Haruno Sakura sudah mencintai Uchiha Sasuke sejak pertama kali ia melihatnya...dan seumur hidup ia hanya berniat pemuda itu. Mungkinkah ia jatuh cinta lagi pada pemuda lain?

Chapter 4

Rumah Sakit Konoha.

Ini sudah hari ketiga Sakura menjalani rutinitasnya dengan Uchiha Itachi di kamar perawatan yang ditempati khusus oleh pemuda yang sedang terbaring koma tersebut.

Sakura sedang berusaha mengobati luka dalam paru-paru Itachi dengan mengalirkan chakra murni dari kedua belah tangannya. Gadis berambut merah muda itu menyentuh dada bidang pemuda dengan perlahan. Energi hangat perlahan menyerbak dari kedua tangan mungil kunoichi muda itu. Energi penyembuhan yang akan membuat orang yang sakit akan sembuh dengan perlahan.

Setelah mengalirkan chakra selama hampir setengah jam, Sakura mulai merasa lelah menderanya. Oleh sebab itu, ia menghentikan aktivitasnya itu untuk sementara.

Sakura beranjak ke kamar mandi dan kembali dengan baskom air di tangannya. Ia harus membersihkan tubuh Uchiha Itachi. Tidak harus memandikannya sih, paling tidak mengelapnya dengan kain basah.

Sakura menghela nafas dalam-dalam dan berusaha menetralisir mulas aneh yang ia rasa di perutnya setiap kali ia mulai membuka pakaian Itachi. Ini adalah bentuk keprofesionalan Sakura terhadap tugasnya. Suka atau tidak, ia harus melakukan hal itu. Andai saja Itachi masih memiliki orang tua atau paling tidak saudara dekat, ia pastinya bisa menghindarkan diri dari tugas seberat ini. Tapi apa boleh buat, Itachi sebatang kara di dunia ini. Adik satu-satunya, Sasuke tidak tahu di mana keberadaannya saat ini.

"Itachi san, aku bersihkan badanmu ya, maaf kalau aku mengganggu tidurmu,"Sakura tersenyum menggoda. Ini adalah salah satu kebiasaan barunya sejak merawat Itachi.

Ia selalu ngobrol dengan Itachi.

"Meski sedang tidur, tapi pasti ada saja debu yang menempel di badan, Itachi san. Harus tetap dibersihkan tiap hari,'ujar Sakura seraya mengelap dada dan tangan Itachi dengan kain basah.

"Itachi san, kau dikenal sebagai jenius di klan Uchiha kan ya? Apa tidak pernah merasa terbebani dengan predikat itu? Kalau aku jadi kau, aku pasti merasa tidak nyaman. Apa enaknya selalu jadi orang yang diandalkan? Kau pasti kehilangan banyak kebebasan dan dari cerita orang-orang tentangmu yang menjabat kapten ANBU saat umurmu 12 tahun, pastilah kau tidak banyak bermain di masa kecilmu dulu, bukan begitu?"

Itachi tak menjawab sedikit pun. Hanya diam saja.

Sakura tak peduli. Lebih baik ia terus saja berbicara, lumayan juga daripada sepi di dalam kamar itu.

"itachi san, boleh aku katakan satu hal? Ini hanya pendapatku saja ya? Terlepas dari perbuatanmu yang sangat jahat dan kejam itu, menurutku kau...sangat tampan." Sakura terkikik sesaat.

Ia melirik wajah Itachi yang penuh kedamaian.

"Kau mirip sekali dengan Sasuke. Mirip sekali, Itachi san. Dan kau tahu, aku mencintai Sasuke..."suara Sakura mulai lirih.

Mendadak hatinya merasa murung. Setiap mengingat Sasuke, pastilah rasa sedih yang ia rasakan. Gadis itu menghentikan tangannya yang sedari tadi sibuk mengelap tubuh Itachi.

"Itachi san, apa Sasuke pernah sedikit saja menyukaiku? Sekian lama aku tumbuh besar dengannya, sama sekali aku tidak pernah mendengarnya mengatakan ia suka padaku, atau menunjukkan perasaannya padaku, seperti Naruto misalnya. Bukankah kalau kau suka seseorang, sedikiiitt saja kau pastinya akan memberi tanda-tanda khusus bahwa kau suka kan?"

Sakura menghela nafas lagi,"Kau pernah suka dengan seorang gadis tidak, Itachi san?"

Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Itachi.

"Apa menurutmu, aku bisa disukai pemuda seperti Sasuke?"

Tetap saja Itachi tidak mau menjawab.

Sakura mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha menahan airmata yang siap tumpah dari kedua belah mata indahnya yang hijau. Ia terlalu merindukan Sasuke, terlalu menginginkan Sasuke mencintainya.

"Itachi san, boleh aku pinjam bahumu sebentar?" tanya gadis itu parau.

Ia lalu menyandarkan kepalanya ke bahu telanjang Itachi dan mulai terisak menyesali perasaannya pada Sasuke. Menyesali kepergian Sasuke. Menyesali betapa sulitnya ia melupakan Sasuke.

Itachi hanya terdiam.

Itupun saja sudah cukup buat Sakura.

...

...

...

Hutan tempat latihan para Chunin.

Naruto dan Sai sibuk berkejaran-kejaran sambil melempar kunai ke arah target-target yang dipasang Kakashi sensei di semua tempat tersembunyi di dalam hutan kecil tempat mereka biasa latihan. Naruto selalu agresif seperti biasanya. Sai yang biasanya tenang dalam bersikap, juga bergerak tak kalah lincah melompati satu dahan ke dahan lainnya seraya melempari kunai tepat ke arah sasaran.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk melakukannya. Berkat kelincahan dan ketepatan dalam melempar ke sasaran, sesi latihan siang itu dapat diselesaikan dengan sangat cepat.

Naruto terengah-engah setelah melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Ia mengatur nafasnya dan agak heran karena Sai tidak terlihat selelah dia.

"Sai,kau tidak cape?"

Sai—mantan ANBU Root yang berwajah tanpa ekspresi adalah sosok ninja pengganti posisi Sasuke di tim 7. Sai cukup tampan dan kalau dilihat sekilas, agak mirip Sasuke. Meski mirip, namun Sai tidak sedingin Sasuke. Itu terbukti dari kegemarannya melukis yang ditopang oleh bakat. Hebatnya lagi, ninjutsunya juga berasal dari bakatnya sebagai seorang pelukis handal.

"Tidak terlalu, Naruto. Latihan ANBU biasanya lebih berat dari ini,"jawab Sai dengan tenangnya.

Kakashi sensei yang sedari tadi memperhatikan jalannya latihan dua orang anak didiknya itu langsung lompat dari atas pohon. Ada buku icha-icha paradise volume terakhir di tangannya—bacaan umur 21 tahun ke atas. Seisi Konoha sudah tahu bahwa itu adalah bacaan wajib Kakashi, meski demikian Naruto dan Sai tidak pernah habis pikir kenapa guru mereka itu suka sekali menghabiskan waktu dengan membaca buku model begitu.

"Kalian sudah terlalu tua untuk berlatih seperti itu,"katanya dengan nada malas seperti biasanya.

"Cari keringat sedikit tidak masalah kan Kakashi Sensei?"Naruto menunjukkan seringaian khasnya.

"Tidak apa-apa sih, tapi apa kalian tidak ada misi khusus dari Tsunade sama?"

Sai menggeleng,"Tidak ada, Kakashi Sensei. Sakura sedang dalam misi khusus dan Tsunade shishou sepertinya masih fokus dalam mencari tahu kemana perginya Uchiha Sasuke."

Kakashi melirik Naruto. Benar saja, demi mendengar nama Sasuke disebut, wajah Naruto langsung berubah serius.

"Untuk apa Sasuke kembali, kalau ia pergi lagi ya Sensei?"tanya Naruto dengan suara agak parau,"Aku sungguh ingin ia kembali lagi. Aku ingin bertarung lagi dengannya, membuktikan siapa yang lebih kuat."

Kakashi mendehem. Anak ini tidak pernah berubah, katanya membatin, selalu tidak mau kalah dari Sasuke, padahal sekarang sudah bukan anak-anak lagi. Itulah uniknya Naruto. Persahabatannya dengan Sasuke yang sudah lama mengkhianati Konoha, tetaplah penting untuknya dan dijadikannya sebagai semangat untuk terus berusaha menjadi ninja yang kuat.

"Sakura chan sibuk ya, Sai? Misi apa yang khusus diserahkan Tsunade shisou padanya?"tanya Naruto tiba-tiba menyadari bahwa sudah lebih dari seminggu ia tidak melihat Sakura berkeliaran.

Kakashi—yang kembali sibuk dengan Icha-icha Paradise—untuk sesaat mengalihkan perhatian. Suaranya yang mendayu-dayu terdengar malas,"Sakura ditugasi tugas khusus mengobati Uchiha Itachi sampai sembuh, Naruto."

Naruto terbelalak lebar,"Uchiha Itachi? Penjahat itu ada di sini?"

"Ya. Sasuke yang membawanya kemari."

"Tapi Sensei...bagaimana mungkin itu terjadi? Sasuke kan mencari Itachi untuk membunuhnya! Aku tidak percaya dia membawa kakaknya kemari! Itachi itu kan buronan."

Sai mengangguk,"Tapi memang Sasuke yang membawa Itachi kemari, Naruto. Laporan penjaga gerbang menerangkan seperti itu. Mereka yang membawa Sasuke dan Itachi yang pingsan ke Rumah Sakit, tapi kemudian Sasuke langsung menghilang."

Naruto melirik Sai dengan sedikit sebal,"Kau tahu lebih banyak info dari pada aku, Sai. Menyebalkan."

"Itu karena kau lebih sering menghabiskan waktu di kedai Ichiraku daripada berlatih dengan rekan-rekan chunin, Naruto,"sahut Sai tanpa ekspresi.

Naruto mencibir ke arah Sai.

"Kenapa harus Sakura yang ditugaskan merawat Itachi, Sensei? Apa tidak ada yang lain? Maksudku...Sakura kan bukan satu-satunya medic nin di Konoha,"Naruto masih terdengar sebal.

"Apa ada medic nin terampil selain Tsunade sama, Shizune san dan Sakura? Sakura ditugaskan Tsunade sama karena ia yakin, Sakura mampu menyembuhkan Itachi. Itachi harus sembuh karena ialah kunci kita menuju Akatsuki,"jawab Kakashi dengan nada yang lebih serius.

"Separah itukah?"

"Dia koma."

Ada kebimbangan yang terpancar dari wajah Naruto,"Apa Sasuke yang membuatnya koma? Lalu kenapa ia membawanya kemari? Apa Sakura chan bisa menyembuhkannya?"

Kakashi dan Sai saling berpandangan sesaat.

"Kita tak akan tahu jawaban atas pertanyaanmu, sampai Sakura bisa membangunkan Itachi dari tidur panjangnya,Naruto. Berdoa sajalah agar Sakura berhasil."

Kakashi lalu kembali menenggelamkan wajahnya di balik buku Icha-icha paradisenya.

Naruto mengarahkan pandangan ke arah langit. Ia sungguh penasaran dan khawatir akan kenyataan bahwa Sakura, gadis kesayangannya harus menyembuhkan penjahat kelas S yang sangat ditakuti di jagad ninja. Ia percaya akan kemampuan Sakura sebagai medic nin dan kunoichi karena ia tahu betapa kuatnya Sakura, akan tetapi tetap saja rasa cemas yang menghinggapi hatinya tidak kunjung menghilang.

"Sakura oh Sakura..."bisiknya sangat lirih.

...

...

...

Rumah Sakit Konoha.

Sakura menenteng seikat bunga mawar putih di tangan kanannya. Bunga yang masih segar itu baru saja dibelinya di toko bunga Yamanaka. Kebetulan pada saat dia tiba di toko, bunga-bunga yang masih segar baru saja datang. Semuanya terlihat indah dan ada banyak jenis bunga yang ditawarkan Ino.

Semuanya indah. Semuanya cantik. Semuanya berwarna. Semuanya menawan. Semuanya menggoda.

Tapi hanya satu bunga yang sangat cocok untuk Itachi.

Mawar putih.

Hanya mawar putih yang menggambarkan kondisi Itachi saat ini.

Lemah, suci dan rapuh.

Sakura meletakkan ikatan bunga mawar putih tersebut ke dalam jambangan yang terletak di atas meja kecil di samping dipan Itachi. Jambangan yang sebelumnya sudah diisi air itu terlihat sangat indah dengan bunga mawar putih yang mengesankan kesederhanaan itu.

Sakura lalu melirik Itachi.

"Ohayou Itachi san. Aku bawakan bunga mawar untukmu. Kau suka? Aku sengaja memilih mawar putih untukmu, karena rasanya bunga ini sangat sederhana. Seperti dirimu kah, Itachi san?"

Sakura tersenyum saat ia melihat wajah Itachi yang seakan-akan tersenyum dalam tidurnya. Wajah Itachi sangat mengingatkannya pada wajah Sasuke. Diri Sasuke seakan-akan hadir dalam diri Itachi, meski ia hanya bisa terdiam tak berdaya seperti ini.

Kunoichi muda itu lalu menarik nafas dalam-dalam, menyiapkan chakra di tangannya dan perlahan melakukan lagi aktivitasnya yang sudah ia lakukan setiap hari selama 10 hari terakhir ini.

Sakura menempelkan telapak tangannya pada dada Itachi dan memusatkan pikirannya pada kekuatan penyembuhan dalam dirinya ke tubuh Itachi.

Gadis itu tidak sadar bahwa detak jantung pemuda yang tdak sadarkan diri itu, mendadak berdetak lebih cepat dari biasanya.

End of this chapter.

Author's note: maaf yaa belum bisa memberikan chapter yang panjang. Agak susah menemukan ide side story dari fic ini, karena sebenarnya aku mau fokus ke cerita utamanya...

Thanks for all the reviewers di chapter 3:

Aya na rifai

Riichan luvhiru

D'lampion

Fuyuzakura hime

Nakamura kumiko chan

My sweet Zangetsuichigo13 hehehehehe...